JURNAL RUPA VOL 9 NO 2 2024 DOI address: 10. 25124/rupa. Analisis Fenomenologi Penggunaan Perhiasan oleh Perempuan Urban Jakarta Dhyani Widiyanti*1 1 Program Doktor Kajian Budaya. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Indonesia Abstract. Urban women and jewelry may be considered inseparable entities. Employing a phenomenological approach, this study interviewed three urban women as informants to construct meaning linking jewelry ownership, urban culture as elucidated by Keith . , and cultural hybridity according to Tuncer's perspective . The findings of this research indicate that urban women in Jakarta engage in cultural practices through activities associated with collectivity, message conveyance, connectivity, and socially replicable patterns, while also being integral parts of urban culture with activities emphasizing fashion and social norms. Additionally, urban women in Jakarta exhibit social hybridity through intercultural interactions that yield innovative ideas in jewelry The intercultural interactions in question involve various endeavors, including preserving cultural heritage, conveying messages through expression, sustaining within communities, serving as a means of psychological healing, and aspiring to make their designed jewelry products inspirational to many. Keywords: urban women, jewelry, urban culture, cultural hybridity, phenomenology Abstrak. Perempuan urban dan perhiasan dapat dipandang sebagai entitas yang tidak terpisahkan. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, penelitian ini mewawancarai tiga perempuan urban sebagai informan untuk membangun pemaknaan yang mengaitkan kepemilikan perhiasan, budaya urban sebagaimana dijelaskan oleh Keith . , serta hibriditas budaya menurut perspektif Tuncer . Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan urban di Jakarta menjalankan praktik budaya melalui aktivitas yang berkaitan dengan kolektivitas, penyampaian pesan, konektivitas, serta pola-pola yang dapat direplikasi secara sosial, sekaligus menjadi bagian integral dari budaya urban dengan aktivitas yang menekankan pada mode dan norma sosial. Selain itu, perempuan urban di Jakarta memperlihatkan adanya hibriditas sosial melalui interaksi antarbudaya yang melahirkan gagasan-gagasan inovatif dalam pembuatan perhiasan. Interaksi antarbudaya tersebut mencakup berbagai upaya, antara lain pelestarian warisan budaya, penyampaian pesan melalui ekspresi, keberlanjutan dalam komunitas, perhiasan sebagai sarana penyembuhan psikologis, serta aspirasi untuk menjadikan produk perhiasan yang mereka rancang sebagai sumber inspirasi bagi banyak orang. Kata Kunci: perempuan urban, perhiasan, budaya urban, hibriditas budaya, fenomenologi PENDAHULUAN Perempuan urban, terutama yang termasuk ke dalam kategori kelas menengah ke Correspondence address: * Dhyani Widiyanti Email : dhyaniarts@gmail. Address : Universitas Sanata Dharma/ Sanata Dharma University Jl. Affandi Jl. Stm. Mrican. Santren. Caturtunggal. Kec. Depok. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 atas, hampir tidak bisa dilepaskan dari perhiasan. Perhiasan dapat didefinisikan sebagai ragam objek yang diadaptasi untuk ornamen pribadi, yang berharga dalam dirinya sendiri atau dibuat berharga oleh para pengrajin . Perhiasan merujuk pada aksesori yang mencakup kalung, gelang kaki, cincin, gelang, jam tangan, anting-anting, dan sebagainya. Penggunaannya kerap ditujukan untuk kepentingan keagamaan, warisan keluarga, hadiah upacara dan pernikahan, simbol status, serta pilihan investasi . Sementara itu, perempuan urban secara sederhana dipahami sebagai kaum perempuan yang wilayah aktivitasnya ada di perkotaan. Namun lebih daripada itu, perempuan urban juga dapat didefinisikan sebagai perempuan yang wacana kecantikannya tidak dapat dilepaskan dari konstruksi budaya patriarki. Karena dipengaruhi oleh tatapan laki-laki . ale gaz. itulah, perempuan menjadi sasaran untuk berbagai iklan kecantikan yang menampilkan sosok AuidealAy tubuh perempuan . Dalam istilah lain, perempuan urban adalah perempuan yang dibiarkan terobsesi oleh gaya hidup tertentu atau pada pencitraan yang dikonstruksi oleh media iklan . Di sisi lain, perempuan urban juga berupaya untuk keluar dari kodrat yang telah dikonstruksi sejak lama oleh budaya patriarki seperti keharusan untuk mengerjakan pekerjaan dan mendidik anak. Tugas-tugas semacam itu sudah tidak lagi melekat sebagai suatu keharusan dalam definisi perempuan urban . Dengan demikian, perempuan urban berupaya mendefinisikan ulang perannya lewat aktivitas yang dinamis, mobilitas yang tinggi, sikap konsumtif untuk memenuhi hasrat, serta keinginan untuk terus mengaktualisasikan diri . Melalui pengertian tentang perempuan urban tersebut, dapat diasumsikan bahwa penggunaan perhiasan memiliki alasan sebagai wujud sikap konsumtif, keinginan mengaktualisasikan diri, sekaligus bagian dari gaya hidup tertentu yang bisa jadi dikonstruksi oleh media iklan. Meski demikian, dalam kerangka pemikiran fenomenologi, asumsi semacam itu dapat diletakkan terlebih dahulu dalam tanda kurung . sebagai bentuk penundaan atas makna yang hendak digali. Hal yang menarik bagi penulis terkait fenomena ini adalah kemungkinan bahwa penggunaan perhiasan bagi perempuan urban adalah sebentuk hibriditas budaya. Namun sebelum masuk pada pengertian hibriditas budaya, penting kiranya untuk menjabarkan apa yang dimaksud sebagai budaya, termasuk dalam artian budaya urban. Budaya, menurut E. Casey . , secara etimologis diartikan sebagai Autempat yang ditanamiAy. Lengkapnya. Aumemiliki budaya adalah menghuni tempat dengan cukup intensif untuk mengolahnya, [. ] untuk bertanggung jawab atasnya, meresponsnya. Ay Budaya memang tidak mudah untuk didefinisikan, tetapi elemen yang umumnya muncul saat membahas kebudayaan adalah seputar kolektivitas, penyampaian pesan, keterhubungan . aik secara langsung maupun tidak langsun. , serta pola-pola yang dapat direplikasi secara sosial, karena dikenali dan dihayati oleh para anggotanya. Sementara itu, budaya urban secara harfiah diartikan sebagai budaya yang muncul di perkotaan. Lebih tepatnya, budaya urban adalah budaya yang ditempatkan dan berakar dalam ruang perkotaan. Pembahasan tentang budaya urban tidak bisa luput dari kekuatan histori, politik, dan ekonomi yang saling berhubungan dalam masyarakat perkotaan. Secara lebih spesifik, budaya urban mencerminkan dinamika, kreativitas, dan keragaman kehidupan perkotaan yang melingkupi beraneka aspek seperti seni, musik, mode, kuliner, bahasa, dan norma-norma sosial . Penelitian ini berupaya mengkaji makna penggunaan perhiasan bagi perempuan urban yang berangkat dari pengertian umum dari perempuan urban itu sendiri dan asumsi berkenaan dengan hibriditas budaya. Penggalian makna yang mendalam memungkinkan untuk dilakukan melalui penelitian fenomenologi yang berupaya mengeksplorasi sekaligus mengkonstruksi pengalaman subjek. Subjek yang dimaksud dalam hal ini adalah perempuan urban di Jakarta yang akrab dengan penggunaan perhiasan dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar itu, pertanyaan penelitian ini akan dirumuskan dalam bentuk sebagai berikut: Bagaimana tinjauan fenomenologi terhadap makna perhiasan bagi perempuan urban Jakarta dalam kaitannya dengan hibriditas budaya? METODE Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif adalah penelitian induktif yang mendorong peneliti untuk mengeksplorasi makna berdasarkan situasi yang diberikan . Penelitian kualitatif umumnya menjalankan teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara terhadap informan yang dipilih dengan kriteria tertentu yang sejalan dengan tujuan penelitian . urposive samplin. Tujuan dari penelitian kualitatif adalah dalam rangka menggambarkan dan menginterpretasi isu atau fenomena secara sistematis dari sudut pandang individu atau populasi yang diteliti . Sementara itu, pendekatan fenomenologi adalah pendekatan yang bertujuan untuk menjelaskan makna, struktur, dan esensi pengalaman hidup seseorang atau sekelompok orang seputar fenomena tertentu . Pengalaman hidup yang hendak digali dalam penelitian ini adalah pengalaman hidup perempuan urban di Jakarta dalam hubungannya dengan penggunaan perhiasan. Perempuan urban Jakarta yang diteliti dipilih terlebih dahulu dengan menggunakan metode sampel purposif melalui kriteria sebagai berikut: Informan dalam penelitian ini berada pada rentang usia 32 hingga 50 tahun, yang dipilih dengan pertimbangan berada pada fase usia matang dan produktif. Produktif dalam konteks penelitian ini merujuk pada kondisi informan yang secara ekonomi telah relatif mapan, memiliki penghasilan tetap atau sumber daya finansial yang memadai, serta memiliki otonomi dalam pengambilan keputusan konsumsi, termasuk dalam memilih dan menggunakan perhiasan. Rentang usia tersebut juga merepresentasikan posisi informan sebagai bagian dari perempuan urban kelas menengah atas yang aktif secara sosial dan kultural, baik melalui jejaring komunitas maupun praktik konsumsi simbolik dalam kehidupan sehari-hari. Informan yang aktif terlibat dalam komunitas perempuan urban kelas menengah atas di Jakarta. Informan yang dalam penampilan kesehariannya, terutama yang berhubungan dengan kelompok atau publik, selalu mengenakan perhiasan. Informan yang bersedia diwawancara dan dapat menjawab perta-nyaan secara Pertimbangan pelibatan komunitas dalam hal ini karena peneliti mengamati bahwa perempuan urban kelas menengah atas hampir selalu berkumpul dalam sebuah komunitas sebagai wadah bersosialisasi dan membangun jejaring bisnis. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan tersebut, terjaring tiga orang informan perempuan urban. Atas kesepakatan dengan subjek penelitian, mereka tidak ingin identitasnya dipublikasikan sehingga disamarkan dengan kode AuCase Study #. Ay Para informan penelitian tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 1. Profil Informan Penelitian Kode Informan Case Study #1 Latar Belakang 47 tahun, arsitek pemilik biro konsultan interior dan arsitektur di daerah Permata Profil Komunitas Komunitas Perempuan Pelestari Budaya. Aktif berkumpul untuk kegiatan Hijau. Jakarta. ibu dari tiga Case Study #2 32 tahun, pemilik biro konsultasi psikologi. memiliki anak. Case Study #3 42 tahun, pemilik galeri seni di Kemang Utara. Jakarta Selatan. ibu dari dua anak. budaya seperti membatik, melukis, menari, serta arisan, dinner party, dan acara amal. Komunitas Perempuan Berkisah. Aktif berkumpul untuk kegiatan arisan, dinner party, olahraga, pameran, dan acara amal. Komunitas Perempuan Berkisah. Aktif berkumpul untuk kegiatan arisan, dinner party, olahraga, pameran, dan acara amal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara semi terstruktur, dan studi literatur. Observasi dilakukan terhadap berbagai kegiatan komunitas selama tiga sampai enam bulan. Sementara itu, wawancara semi terstruktur dilakukan terhadap masing-masing informan selama minimal satu kali dengan durasi sekitar dua jam. Pertanyaan yang diajukan meliputi tema aktivitas sehari-hari sebagai perempuan urban, kepemilikan perhiasan, aktivitas bersama komunitas, serta pandangan yang dapat ditafsirkan sebagai hibriditas budaya. Terakhir, studi literatur digunakan untuk menganalisis hasil observasi dan wawancara dengan referensi mengenai hibriditas TINJAUAN PUSTAKA Hibriditas Budaya Hibriditas budaya . ultural hybridizatio. , dalam terang pemikiran Stuart Hall, dipandang sebagai Aure-kreasi budaya yang berkelanjutanAy . ontinuous re-creation of cultur. melalui kombinasi dari beraneka kelompok sosial dan kebudayaan, ketimbang berpusat pada satu poros saja . Selain itu. Homi Bhabha menunjuk karakter hibriditas budaya sebagai interaksi antar kultur yang selalu bersalingan dan berujung pada pembedaan dari kultur lainnya . Arjun Appadurai memandang hibriditas budaya sebagai proses perumusan kultur dalam konteks global dan bukan lokal . Lebih lengkapnya, hibriditas budaya adalah fenomena yang muncul ketika budayabudaya yang berbeda bertemu. Dalam proses ini, beraneka gagasan, nilai, norma, bahasa, seni, dan ekspresi budaya lainnya saling berinteraksi dan terlibat satu sama lain. Sebagai hasil dari interaksi ini, elemen-elemen budaya saling mempengaruhi, berubah, dan menciptakan sintesis baru. Meski demikian, proses ini memiliki aspek positif dan negatif. Aspek positifnya, hibriditas budaya meningkatkan pemahaman dan toleransi di antara orang-orang. Selain itu, diharapkan bahwa interaksi antar budaya akan meningkatkan kreativitas dan menghasilkan ide-ide inovatif. Aspek negatifnya, terdapat risiko kehilangan Akibat dari percampuran budaya yang berbeda, beberapa tradisi dan nilai-nilai dapat dilupakan dan dengan demikian hilang. Selain itu, hibridisasi budaya dapat menyebabkan banyak orang kehilangan identitas mereka dan merasa terasing. Selain itu, beberapa orang mungkin memandang hibridisasi budaya sebagai ancaman, yang dapat menyebabkan ketegangan sosial . PEMBAHASAN Sebagai acuan dalam melakukan wawancara, penulis mengambil pendapat Casey . yang mengatakan bahwa elemen yang muncul saat membahas kebudayaan adalah seputar kolektivitas, penyampaian pesan, keterhubungan, dan pola-pola yang dapat direplikasi secara sosial serta pendapat Bhabha . terkait hibriditas budaya. Penulis kemudian menafsirkan kembali elemen-elemen kebudayaan tersebut dalam konteksnya dengan penelitian ini yakni sebagai berikut: Kolektivitas berkaitan dengan aktivitas yang melibatkan relasi antar manusia dalam sebuah kelompok. Kata kunci yang berkaitan dengan elemen ini adalah seputar Aukumpul,Ay Aubareng,Ay Ausama-sama,Ay beserta variasi-variasinya yang relevan. Penyampaian pesan berkaitan dengan aktivitas komunikasi yang cenderung ke arah Kata kunci yang berkaitan dengan elemen ini adalah seputar Aupernyataan,Ay Aupesan,Ay Aumenunjukkan,Ay Auterlihat,Ay beserta variasi-variasinya yang relevan. Keterhubungan berkaitan dengan aktivitas komunikasi yang cenderung ke arah Kata kunci yang berkaitan dengan elemen ini adalah seputar Aukenangan,Ay Aumemori,Ay Auingatan,Ay Austress,Ay Aupenyembuhan,Ay Aupertahanan diri,Ay beserta variasivariasinya yang relevan. Pola-pola yang dapat direplikasi secara sosial berkaitan dengan kegiatan yang diharapkan oleh subjek untuk bisa dijalankan juga dalam kelompok sosial yang Kata kunci yang berkaitan dengan elemen ini adalah seputar Auditiru,Ay Aumenjadi inspirasi,Ay beserta variasi-variasinya yang relevan. Hibriditas budaya berkaitan dengan proses pertemuan, negosiasi, dan penggabungan antara nilai-nilai tradisional dan praktik kontemporer dalam kehidupan urban. Kata kunci yang berkaitan dengan elemen ini adalah seputar AutradisionalAemodernAy. Aunilai lamaAenilai baru,Ay Audirangkai ulang,Ay Audigabungkan,Ay Audikontekstualkan,Ay Aurelevan dengan kehidupan urban,Ay Aumasa laluAemasa kini,Ay beserta variasi-variasinya yang Setelah melakukan wawancara semi terstruktur, penulis mengelompokkan berbagai jawaban yang mengandung kata kunci yang berhubungan dengan elemen-elemen Hasil pengumpulan data dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Hasil Wawancara Semi-Terstruktur dengan Case Study #1 Kolektivitas Penyampaian Pesan Keterhubungan Pola-Pola yang Dapat Direplikasi Secara Sosial Hibriditas Budaya AuSaya paling suka kumpul-kumpul komunitas itu soalnya bisa curhat segala macem, ngobrolin hobi, dan ngelakuin kegiatan bareng-bareng. Ay AuPerhiasan itu adalah semacam fashion statement, pernyataan tentang gaya kita, prinsip kita, dan sikap kita terhadap sesuatu. Ay AuPerhiasan tuh cara kita mengawetkan memori. Kita punya kenangan apa, jadinya lebih mudah diingat lewat perhiasan, karena perhiasan tuh kan konkret. Ay AuSaya kalau berburu perhiasan kan ke pengrajin lokal ya di pelosok-pelosok, saya pengen supaya apa yang saya lakuin ini ditiru banyak orang. Hobi ya hobi, tapi sambil majuin banyak orang dong. Ay AuDesain perhiasan yang saya pakai itu terinspirasi dari motif tradisional, tapi bentuknya saya minta dibuat lebih modern supaya bisa dipakai ke acara formal atau nongkrong. Buat saya, ini cara nyambungin masa lalu sama gaya hidup Ay Tabel 3. Hasil Wawancara Semi-Terstruktur dengan Case Study #2 Kolektivitas Penyampaian Pesan Keterhubungan AuKumpul bareng komunitas itu asik. Jadinya kita gak sendirian banget. Ada orang-orang yang sama-sama punya hobi mirip. Ay AuLewat perhiasan yang kita pake, orang jadi tahu kita tuh orangnya kaya gimana. Jadi perhiasan itu punya pesan. Ay AuPerhiasan tuh apa ya, pokoknya kalau aku sih jadi salah satu cara meredakan stres. Kan sehari-hari banyak masalah ya, kerjaan, keluarga, atau apalah banyak kecemasan. Saya Pola-Pola yang Dapat Direplikasi Secara Sosial Hibriditas Budaya ngerasa belanja-belanja perhiasan tuh sekaligus healing Ay AuSaya kalau nyari-nyari perhiasan tuh biasanya ke tempat barang antik atau barang bekas. Saya punya prinsip gaya hidup yang sustainable juga sih dan berharap cara berpikir kayak gini ditiru oleh orang lain. Ay AuAku suka perhiasan yang bahannya bekas tapi dirangkai ulang dengan teknik modern. Rasanya ada pertemuan nilai lama, isu lingkungan, dan selera urban masa kini. Ay Tabel 4. Hasil Wawancara Semi-Terstruktur dengan Case Study #3 Kolektivitas Penyampaian Pesan Keterhubungan Pola-Pola yang Dapat Direplikasi Secara Sosial Hibriditas Budaya AuDengan adanya orang-orang yang hobinya sama dalam wadah perkumpulan ini, kita bisa punya jaringan bisnis, relasi, bahkan politik. Selain itu, bisa juga bareng-bareng bikin acara amal. Seru pokoknya. Ay AuPerhiasan kan nunjukin kalau kita itu ikut tren-tren Orang kelihatan update enggaknya salah satunya dari perhiasan yang dia pake. Ay AuAku tuh jujur orangnya banyak kecemasan. Takut ditinggal suami, takut gak punya temen, takut tiba-tiba usaha Banyak banget ketakutan. Jadinya perhiasan itu semacam coping mechanism, bikin aku lari sebentar dari Ay AuDengan adanya temen-temen komunitas, kami jadikan perhiasan sebagai sarana untuk berkumpul dan beramal pada mereka yang membutuhkan. Saya pengen hal-hal kayak gini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Jangan kira komunitas perempuan urban itu isinya hura-hura aja. Ay AuPerhiasan yang saya pakai sering menggabungkan simbol religius, unsur etnik, dan desain kontemporer. Buat saya itu refleksi hidup saya sekarang: tradisi masih ada, tapi harus relevan dengan dunia urban dan tuntutan sosial hari Ay Dalam pandangan Casey . , proses yang telah dijalankan oleh para perempuan urban tersebut sudah termasuk ke dalam praktik kebudayaan karena telah memenuhi elemen-elemennya. Kemudian mengacu pada pendapat Keith . berkenaan dengan budaya urban, para perempuan urban ini mempraktikkan aktivitas yang berhubungan dengan dinamika, kreativitas, dan keragaman kehidupan perkotaan dengan titik berat pada aspek mode . erhiasan, fashion, dan lain-lai. dan norma-norma sosial . erkomunitas, beramal, dan lain-lai. Dengan demikian, telah tervalidasi bahwa secara garis besar para perempuan urban ini adalah anggota dari kelompok budaya urban karena mempraktikkan nilai-nilai budaya di dalamnya. Dalam kaitannya dengan hibriditas budaya, penulis menilai bahwa pemaknaan mesti berangkat dari hal yang konkrit dan dapat terinderai seperti perilaku atau artefak. Hal-hal terkait perilaku telah diungkapkan secara implisit di dalam wawancara, sehingga analisis akan dilakukan terhadap artefak yang dalam hal ini adalah perhiasan. Penulis berupaya menyelidiki kepemilikan perhiasan dari informan yang sekiranya menggambarkan kepribadian mereka sebagai pelaku atau bagian dari budaya urban dan menemukan keterangan sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Wawancara dan Observasi Terkait Kepemilikan Perhiasan. Sumber gambar: dokumentasi penulis . Kode Informan Visual Perhiasan Keterangan . erdasarkan wawancara dan observas. Perhiasan tersebut dirancang oleh informan sebagai tafsir atas tokoh Annelies dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Case Study #1 Case Study #2 Kalung kesayangan informan yang berisi kutipan dari buku kesayangannya. Jane Eyre karya Charlotte Bronty. Case Study #3 Kalung tersebut dibuat berdasarkan sketsa buatan putri informan sewaktu putrinya tersebut masih SD. Mengacu pada prinsip pendekatan fenomenologi, pengalaman-pengalaman yang diungkapkan oleh informan atau subjek penelitian mesti diterima sebagai data yang sahih. Langkah berikutnya adalah mengkonstruksi makna dari pengalaman tersebut dengan mengacu pada konsep hibriditas budaya. Sebagaimana diungkapkan oleh Tuncer . , hibriditas budaya mengacu pada konsep interaksi antar budaya yang meningkatkan kreativitas dan menghasilkan ide-ide inovatif . Perhiasan yang dihasilkan para informan tersebut dapat dikatakan sebagai hasil kreativitas dan ide-ide inovatif. Hibriditas budaya yang dimaksud tidak bisa terlalu dibuat dikotomis disusun berdasarkan unit-unit budaya yang spesifik karena sifat budaya urban yang berlandaskan ketersalingan antara berbagai unsur yang telah melebur. Atas dasar itu, unsur budaya yang melebur ini dapat mengacu pada hasil wawancara sebagaimana dituliskan pada tabel 2 terkait kolektivitas, penyampaian pesan, keterhubungan, pola-pola yang dapat direplikasi secara sosial, serta tentang hibriditas budaya. Konstruksi makna yang dibangun dalam konteks ini dengan mengacu pada hasil wawancara dan observasi adalah sebagai berikut: Perhiasan dimaknai sebagai sarana untuk mengawetkan memori, sebagaimana terlihat pada Case Study #1 yang menyatakan bahwa Auperhiasan tuh cara kita mengawetkan memori. Kita punya kenangan apa, jadinya lebih mudah diingat lewat perhiasan, karena perhiasan tuh kan konkret. Ay Melalui pernyataan tersebut, perhiasan berfungsi sebagai medium material untuk menyimpan ingatan personal, dalam hal ini kesan terhadap tokoh Annelies dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Meski tidak diungkapkan secara eksplisit, upaya serupa juga dilakukan oleh Case Study #2 dan Case Study #3. Case Study #2 menempatkan perhiasan sebagai sarana afektif yang berkaitan dengan pengalaman emosionalnya terhadap novel Jane Eyre karya Charlotte Bronty, yang tercermin dari pernyataannya bahwa perhiasan menjadi sesuatu yang Aupunya kedekatan perasaanAy baginya. Sementara itu. Case Study #3 menjadikan perhiasan sebagai pengikat memori keluarga, khususnya dengan menjadikannya berbasis pada sketsa yang dibuat oleh anaknya. Selain sebagai pengawet memori, perhiasan juga dipahami sebagai cara untuk menunjukkan sikap tertentu. Hal ini diakui oleh seluruh informan. Case Study #1 menegaskan bahwa Auperhiasan itu adalah semacam fashion statement, pernyataan tentang gaya kita, prinsip kita, dan sikap kita terhadap sesuatu,Ay yang menunjukkan bahwa perhiasan berfungsi sebagai medium ekspresi nilai dan identitas personal. Pernyataan serupa juga muncul dari Case Study #2 yang menyatakan bahwa Aulewat perhiasan yang kita pakai, orang jadi tahu kita tuh orangnya kaya gimana,Ay sehingga perhiasan diposisikan sebagai pesan simbolik yang dapat dibaca secara sosial. Sementara itu. Case Study #3 menempatkan perhiasan sebagai sarana untuk menunjukkan kesesuaian dengan norma sosial, khususnya nilai kekeluargaan, melalui pembuatan perhiasan berdasarkan sketsa yang dibuat putrinya. Dalam konteks ini. Case Study #1 dan Case Study #2 lebih menonjolkan selera personal terhadap literatur sastra tertentu, sedangkan Case Study #3 menekankan perhiasan sebagai representasi diri yang selaras dengan norma sosial, sebagaimana sejalan dengan pengertian budaya urban menurut Keith . Perhiasan juga berfungsi sebagai cara untuk tetap eksis di tengah komunitas perempuan urban. Komunitas dipandang sebagai wadah penting bagi keberlangsungan identitas sosial para informan. Case Study #1 menuturkan bahwa Ausaya paling suka kumpul-kumpul komunitas itu soalnya bisa curhat segala macem, ngobrolin hobi, dan ngelakuin kegiatan bareng-bareng,Ay yang menunjukkan bahwa komunitas memberikan ruang kolektivitas dan rasa memiliki. Hal senada diungkapkan oleh Case Study #2 yang menyatakan bahwa Aukumpul bareng komunitas itu asik, jadinya kita gak sendirian banget,Ay serta oleh Case Study #3 yang melihat komunitas sebagai ruang strategis untuk membangun jaringan sosial, bisnis, hingga kegiatan Meskipun tidak ada pernyataan eksplisit yang menyebut eksistensi sebagai tujuan utama, inovasi dan pembaruan perhiasan yang terus dilakukan oleh para informan secara tidak langsung menjadi strategi untuk tetap relevan dan diakui dalam komunitas perempuan urban yang memiliki ketertarikan serupa. Perhiasan juga dimaknai sebagai sarana penyembuhan problem psikologis. Hal ini secara eksplisit disampaikan oleh Case Study #2 yang menyatakan bahwa Auperhiasan tuh jadi salah satu cara meredakan stresA belanja-belanja perhiasan tuh sekaligus healing juga,Ay serta oleh Case Study #3 yang mengakui bahwa Auperhiasan itu semacam coping mechanism, bikin aku lari sebentar dari kenyataan. Ay Pernyataanpernyataan ini menunjukkan bahwa praktik perhiasan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi tekanan kehidupan urban. Kesukaan terhadap perhiasan tersebut perlu direproduksi secara berkelanjutan, sejalan dengan gagasan Hall mengenai Aure-kreasi budaya yang berkelanjutanAy . ontinuous re-creation of cultur. , terutama karena problem psikologis perempuan urban juga bersifat terusmenerus sehingga membutuhkan bentuk rekreasi yang berkelanjutan pula. Terakhir, perhiasan dipandang sebagai sumber inspirasi yang diharapkan dapat ditiru oleh banyak orang, baik melalui jalur berkomunitas maupun jalur individual. Melalui jalur berkomunitas. Case Study #3 menegaskan bahwa Aukami jadikan perhiasan sebagai sarana untuk berkumpul dan beramal pada mereka yang membutuhkan,Ay serta berharap praktik tersebut dapat mengubah pandangan publik terhadap komunitas perempuan urban. Sementara itu, jalur individual terlihat dari pernyataan Case Study #1 yang menyebut bahwa Ausaya pengen supaya apa yang saya lakuin ini ditiru banyak orangA sambil majuin banyak orang,Ay khususnya melalui pemajuan pengrajin lokal, serta dari Case Study #2 yang menekankan gaya hidup berkelanjutan dan harapan agar Aucara berpikir kayak gini ditiru oleh orang lain. Ay Dengan demikian, praktik pembuatan dan penggunaan perhiasan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memuat motif untuk menjadi sumber inspirasi sosial melalui komunitas dan prinsip-prinsip individual. Praktik penggunaan dan pembuatan perhiasan oleh perempuan urban di Jakarta juga memperlihatkan adanya hibriditas budaya, yakni pertemuan dan negosiasi antara nilainilai tradisional, pengalaman personal, serta tuntutan gaya hidup urban kontemporer. Hal ini tampak pada Case Study #1 yang menyatakan bahwa perhiasan yang ia kenakan Auterinspirasi dari motif tradisional, tapi bentuknya dibuat lebih modern supaya bisa dipakai ke acara formal atau nongkrong,Ay yang menunjukkan upaya menghubungkan masa lalu dengan kebutuhan sosial masa kini. Hibriditas serupa juga terlihat pada Case Study #2 yang menuturkan bahwa ia menyukai perhiasan berbahan Aubekas tapi dirangkai ulang dengan teknik modern,Ay sehingga menghadirkan pertemuan antara nilai lama, isu keberlanjutan, dan selera urban masa kini. Sementara itu. Case Study #3 memperlihatkan hibriditas melalui penggabungan Ausimbol religius, unsur etnik, dan desain kontemporer,Ay yang dimaknainya sebagai refleksi kehidupan urban yang tetap berakar pada tradisi namun harus relevan dengan konteks sosial hari ini. Dengan demikian, perhiasan tidak hanya berfungsi sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai ruang artikulasi hibriditas budaya yang merepresentasikan identitas perempuan urban dalam kondisi modernitas yang cair. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perempuan urban di Jakarta menjalankan praktik kebudayaan melalui berbagai aktivitas yang menekankan kolektivitas, penyampaian pesan, keterhubungan, serta pola-pola yang dapat direplikasi secara sosial, sehingga membentuk bagian dari budaya urban yang berfokus pada aspek mode dan norma-norma sosial. Selain itu, perempuan urban tersebut juga merepresentasikan hibriditas sosial melalui interaksi antar budaya yang melahirkan ideide inovatif dalam praktik pembuatan perhiasan, yang dimaknai sebagai upaya mengawetkan memori, menyatakan sikap tertentu, mempertahankan eksistensi dalam komunitas, berfungsi sebagai sarana penyembuhan psikologis, sekaligus menjadi medium inspiratif bagi masyarakat yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA