http://ejurnal. id/index. php/photon Higiene Sanitasi terhadap Keberadaan Vektor Tikus di RT. RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun 2021 Fikri Arrasit. Denai Wahyuni Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Hang Tuah Pekanbaru Jl. Mustafa Sari No. 05 Tangkerang Selatan *Correspondencee-mail:denaiwahyuni69@htp. Abstract Rat vector is a family of rodents from the order of Rodentia, it is a sharp animal that can cause loss and impact on health, damage to furniture and appliances, food poisoning, so it is necessary to control and prevent rats. This study aims to determine the purity of rat rat infestation in RT. 02 RW. 03 Bantan District. Bengkalis Regency in 2021. This type of research is an effective research with in-depth questions and observations, research informants are key, senior, and supporter informants who are in-depth discussion for information on. Environmental hygiene on the presence of rat vectors in June 2021. The results of the study showed insufficient air / space, garbage cans without lids, drainage lines with no water, and signs of rat infestation inside the house. It is recommended that residents of RT. 02 RW. 03 cleanliness control considering the environmental conditions that are very effective with current health in RT 02 RW. 03 Bantan District. Bengkalis Regency. Keywords: Cleanliness. Higiene sanitary. Rat vector Abstrak Vektor tikus merupakan salah satu famili hewan pengerat dari ordo Rodentia, merupakan hewan vetebrata yang dapat menimbulkan kerugian dan dampak dalam bidang kesehatan, merusak barang dan perabotan, merusak bahan pangan, sehingga di perlukan pengendalian dan pencegahan vektor tikus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui higiene sanitasi terhadap keberadaan vektor tikus di RT 02 RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan observasi, informan peneliti yaitu informan kunci, utama, dan pendukung yang menjadi objek wawancara mendalam untuk mendapatkan informasi higiene sanitasi terhadaap keberadaan vektor tikus penelitian ini di lakukan pada bulan Juni tahun 2021. Hasil penelitian didapatkan ventilasikurang memadai/kurangnya ruang udara, tempat sampah tidak memiliki tutup, saluran pembuangan air limbah tidak kedap air, dan adanya jejak kotoran tikus di rumah. Disarankan agar warga RT. 02 RW. menjaga higiene sanitasi mengingat kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh dengan kesehatan saat ini di RT 02 RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Kata Kunci: Kebersihan. Higiene sanitasi. Vektor tikus Pendahuluan Tikus adalah salah satu famili hewan pengerat dari ordo Rodentia. Spesies tikus yang paling dikenal adalah mencit serta tikus got yang ditemukan hampir di semua negara dan merupakan suatu organisme model yang penting dalam biologi. Tikus yang kehidupannya berhubungan erat dengan kehidupan manusia sering menimbulkan masalah besar bagi kesehatan masyarakat dan berpotensi menyebarkan penyakit. Tikus mudah menyesuaikan diri sehingga dapat bertahan di lingkungan yang selalu Beberapa penyakit yang dapat ditularkan oleh tikus kepada manusia diantaranya Pes. Leptospirosis. Hantan virus. Scrubtyphus. Murne thypus, dan Salmonellosis. Cara penularan penyakit dapat melalui gigitan atau ludah, kotoran dan air kencing, daerah, dan gigitan kutu atau pinjal tikus (Wahyuni et , 2. Tikus merupakan hewan vetebrata yang sangat mudah berasosiasi dengan lingkungan yang Sifat tikus yang selalu membuat runway, sangat jerah terhadap umpan, atau sangat mengenal Ketika manusia terkadang lalai, itulah saat dimana tikus dapat mengubah keadaan lingkungan yang ada sesuai dengan habitatnya. Daerah runway tikus ditandai dengan pelepasan urin dan Tikus sering disebut hewan pengerat. Mampu mengeret bahan baku lain yang ada disekitarnya. Received:26 April2022,Accepted:19 Juni2022 -JurnalPhotonVol. 12No. DOI:https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a CreativeCommonsAttribution-ShareAlike4. 0InternationalLicense http://ejurnal. id/index. php/photon termasuk yang bukan bahan pangannya. Secara biologis tikus memiliki gigi seri yang mengalami pertumbuhan sepanjang hidup. Sifat mengerat gunanya untuk memotong atau memendekkan gigi seri Dibalik semuanya itu, sisa gerekan akan dimanfaatkan untuk dijadikan tempat berlindung . Tikus senang hidup pada areal yang jarang disentuh manusia seperti, pada tempat-tempat gelap, lembab, kotor, tersembunyi, dekat sumber makanan dan sulit dijangkau oleh manusia (Nasir & Hastuti, 2. Tikus juga memberikan dampak besar di bidang kesehatan yang dapat menjadi reservoir beberapa patogen penyebab penyakit pada manusia. Urin dan air liur tikus dapat menyebabkan penyakit Gigitan pinjal yang ada pada tubuh tikus, dapat mengakibatkan penyakit pes. Selain itu, tikus juga dapat menularkan beberapa penyakit lain diantaranya adalah Murnie typhus. Salmonelosis. Richettesial pox. Rabies, danTrichinosis. Jenis penyakit yang ditularkan oleh tikus atau hewan lainya ke manusia dan sebaiknya, secara umum dikenal dengan penyakit zoonosis. Penyakit-penyakit tersebut dapat berakibat fatal bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan berujung pada kematian. Keberadaan tikus di lingkungan manusia dapat mencerminkan sanitasi lingkungannya. Tikus menyukai tempat yang kotor, lembab, dan kurang pencahayaan (Supriyati & Ustiawan, 2. Menurut Kepmenkes No. 829/ SK/VII/1999 rumah sehat harus bebas dari faktor penyakit, salah satunya disebabkan oleh vektor keberadaan tikus. Cara pencegahan timbulnya keberadaan tikus di dalam rumah adalah: menutup celah/ lubang antara atap dengan langit-langit untuk mencegah masuknya tikus ke dalam rumah, ventilasi dipasang kawat kassa . nsect proo. , penataan ruangan yang memiliki celahAecelah dapat menjadi tempat persembunyian tikus, pengelolaan sampah yang berkaitan dengan keberadaan vektor tikus yaitu: membuang langsung sisa makanan keluar rumah untuk menghindari tikus mencari makan, sedangkan saluran pembuangan air limbah yaitu dengan menutup akses masuk tikus baik dari dalam maupun dari luar rumah sehingga tikus tidak dapat masuk ke dalam rumah. Salah satu tanda keberadaan vektor tikus yaitu adanya feses atau kotoran tikus di dalam rumah, bekas gigitan, sarang tikus, dan bahkan di dalam rumah warga. Sehingga perlu dilakukan pengendalian dan penanggulangan agar keberadaan vektor tikus di daerah tersebut berkurang serta dapat membantu menurunkan populasi keberadaan vektor tikus satu tingkat dari sebelumnya agar tidak menimbulkan penyakit pes dan leptospirosis kepada masyarakat (Yulianto & Chandra, 2. Pada Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis dimana salah satu RT, pada beberapa rumah terdapat tanda tanda keberadaan tikus yaitu ditemukannya kotoran tikus di dalam rumah, ditemukannya bekas gigitan tikus, terdapatnya lobang pada kain kasa ventilasi rumah, tempat sampah terbuka, kondisi SPAL yang tidak tertutup, higiene sanitasi yang kurang memadai. Mengingat begitu besarnya kerugian yang dapat ditimbulkan oleh tikus, maka peneliti merasa sangat penting untuk meneliti tentang higiene sanitasi terhadap keberadaan vektor tikus pada RT tersebut. Untuk selanjutnya dilakukan usaha penanggulangan atau pengendalian tikus agar tidak berkembang biak dan bisa menyebabkan penyakit pada masyarakat yang tinggal di rumah tersebut. Berdasarkan informasi yang didapat nantinya sangat diharapkan dapat membantu menentukan strategi dan teknik pengendalian yang akan dilakukan. Saat tikus hadir di dalam dan atau di luar rumah metode yang baik dan aman bagi manusia atau makluk hidup lain pada lingkungan sekitar, menjadi bahan pertimbangan baik dan buruknya bagi peneliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kondisi salah satu RT 02 RW3 di Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis, mengenai ventilasi, tempat sampah, kondisi SPAL, dan keberadaan vektor tikus. Metodologi Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain penelitian deskriptif dilakukan di RT. 02 RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Penelitian in dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2021. Subjek penelitian berjumlah 5 orang yang terdiri dari 1 informan kunci yaitu RW. 03, 3 informan utama yaitu ibu Received:26 April2022,Accepted:19 Juni2022 -JurnalPhotonVol. 12No. DOI:https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a CreativeCommonsAttribution-ShareAlike4. 0InternationalLicense http://ejurnal. id/index. php/photon rumah tangga, 1 informan pendukung tenaga kesehatan. Pada kegiatan ini instrument penelitian yang diperlukan dalam pengumpulan data yaitu pedoman wawancara, alat tulis untuk wawancara. Handphone/ tape recorder sebagai alat perekam dan Kamera digital. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data kualitatif dilakukan dengan teknik triangulasi kemudian data analisis dengan cara kualitatif. Hasil dan Pembahasan Gambaran Lokasi Penelitian Keadaan Geografis Wilayah RT. 02 RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis adalah sebuah desa yang terletak sekitar 7 Km dari Ibu Kota Kecamatan Bantan yaitu Selatbaru. Desa ini dibuka oleh nenek moyang dahulu pada tahun 1958, pada tahun 2014 telah menjadi Desa Ulu Pulau karena ada pemekaran desa oleh program pemerintah, luas wilayah Desa Ulu Pulau 28Km2 kemudian desa tersebut memiliki 10 RW Dan 22 RT (Gambar . Gambar 1. Desa Ulu Pulau. Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Kondisi Demografis Jumlah penduduk di RT. 02 RW. 03 Di Desa Ulu Pulau pada tahun 2021 sebanyak 76 jiwa dari 26 KK. Keadaan fisik rumah yang ada di Desa Ulu Pulau kebanyakan rumah panggung. Perkerjaan masyarakat di wilayah RT. 02 RW. 03 diantaranya adalah buruh, petani, pedagang. PNS yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Hasil Wawancara Pada penelitian ini peneliti melakukan wawancara mendalam kepada informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Wawancara mendalam pertama dilakukan kepada informan kunci yaitu 1 orang RW. 03, kepada informan utama yaitu 3 orang ibu rumah tangga, dan informan pendukung 1 orang tenaga kesehatan. Jumlah keseluruhan informan yang di wawancarai adalah 5 orang. Seluruh kegiatan wawancara mendalam yang dilakukan kepada informan tanpa ada paksaan dan dalam kondisi yang bersahabat tanpa menggangu jam kerja dari informan. Wawancara mendalam membahas mengenai higiene sanitasi terhadap keberadaan vektor tikus di RT. 02 RW. 03 Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Hasil Observasi Berdasarkan observasi yang dilakukan dengan mengunakan instrumen penelitian yakni lembar Received:26 April2022,Accepted:19 Juni2022 -JurnalPhotonVol. 12No. DOI:https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a CreativeCommonsAttribution-ShareAlike4. 0InternationalLicense http://ejurnal. id/index. php/photon observasi maka didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 1. Higiene sanitasi terhadap keberadaan vektor tikus di RT. 02 RW. 03 kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Aspek Tidak Ventilasi Memenuhi syarat Oo Tidak nyaman Oo Sampah Terdapat tempat pembuangan sampah di setiap dapur Oo Pengumpulan sampah di setiap sisa-sisa sampah rumah tangga Oo Pemilahan sampah organik dan anorganik oleh ibuk rumah Oo Kondisi SPAL Terbuka Oo Apakah Berbau Oo Apakah memiliki tutup Oo Keberadaan Vektor Tikus Terdapat kotoran tikus Oo Terdapat sarang tikus Oo Sumber: Hasil observasi Ventilasi Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam mengenai ventilasi rumah. Diketahui ventilasi rumah warga RT. 02 RW. 03 masih belum memenuhi syarat. Ventilasi kurang dibandingkan dengan ukuran rumah, sehingga udara dan cahaya tidak masuk secara maksimal dan sirkulasi udara tidak lancar dan pencahayaan kurang. Hai ini menyebabkan kondisi rumah menjadi lembab dan gelap, keadaan yang lembab dan gelap ini sangat di sukai oleh tikus. Ventilasi penting untuk pertukaran udara dalam ruangan sehingga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan dapat terjaga secara optimal. Luas lubang ventilasi tetap minimal 5% luas lantai, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil . isa dibuka dan ditutu. minimal 5% luas lantai. Sehingga jumlahnya 10% luas lantai. Ventilasi udara pada desain rumah sangat penting supaya rumah menjadi nyaman dan dapat menghilangkan hawa panas di dalam rumah dan membuat penghuni rumah betah. Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, disamping sandang dan pangan rumah berfungsi pula sebagai tempat tinggal serta digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup Selain itu rumah juga merupakan pengembangan kehidupan dan tempat berkumpulnya anggota keluarga untuk menghabiskan sebagian besar waktunya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh (Yulianto & Chandra, 2. tentang kondisi fisik rumah dan sisa makanan terhadap keberadaan vektor tikus di Kelurahan Sukajadi Kecamatan Sukajadi kota Pekanbaru, menyatakan bahwa tikus di lingkungan manusia dapat mencerminkan sanitasi lingkungannya. Pada penelitian lain Suprianti dan Ustiawan, tentang keberadaan tikus menyukai tempat yang kotor, lembab dan kurang pencahayaan (Supriyati & Ustiawan, 2. Dalam penelitian Jurniartaha, dkk, faktor-faktor resiko lingkungan pada bangunan rumah yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit antara lain: ventilasi, pencahayaan, kepadatan hunian, ruang tidur, kelembapan ruang, binatang penular penyakit, limbah rumah tangga, sampah serta penghuni dalam rumah (Juniartha. Hadi, & Notes. Yulianto dan Candra . menjelaskan dalam penelitiannya bahwa, kondisi rumah di Kelurahan Sukajadi Kecamatan Sukajadi yang padat penduduk, khususnya di Daerah RT 01 dan RT 02 RW 04 terlihat Received:26 April2022,Accepted:19 Juni2022 -JurnalPhotonVol. 12No. DOI:https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a CreativeCommonsAttribution-ShareAlike4. 0InternationalLicense http://ejurnal. id/index. php/photon dari segi bangunan rumah warga yang sebagian besar jarak antara rumah satu dan lainya berdekatan, lingkungan rumah yang jarang di perhatikan, kondisi saluran pembuangan air limbah yang terbuka. Selain itu, faktor keberadaan tikus di dalam rumah dapat dilihat melalui ventilasi, pencahayaan, kondisi SPAL dan sisa makanan (Yulianto & Chandra, 2. Berdasarkan penelitian Santoso, untuk mencapai kenyamanan termal yang diinginkan perlu dilakukan kontrol atau tindakan adaptif dari penghuni diantaranya dengan mengatur sistem ventilasi, mengatur sirkulasi angin secara mekanik, memberikan tirai pada bagian bangunan yang langsung terkena radiasi matahari bahkan disarankan untuk membuat desain perangkat shading matahari untuk meminimalkan panas radiasi (Santoso, 2. Ventilasi yang sehat haruslah memenuhi syarat yaitu 10% dari luas lantai. Kepadatan penghuni dalam rumah menurut keputusan Kepmenkes RI Nomor. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang peryaratan kesehatan perumahan, satu orang minimal menepati luas rumah 8m2. Kepadatan penghuni diukur dengan membandingkan luas rumah akan meningkatkan suhuruangan yang disebabkan oleh pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan uap air dari pernapasan tersebut. Berdasarkan asumsi peneliti, merujuk pada hasil peneliti yang telah dilakukan, diketahui bahwa keadaan ventilasi di dalam rumah warga belum memiliki standar atau syarat. Menurut peneliti, hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan pemilik rumah yang masih kurang tentang pentingnya ventilasi yang baik. Mengatasi hal itu, para pemilik rumah untuk merubah desain rumah atau menambahkan ventilasinya agar sirkulasi udara bisa terjaga secara optimal. Tempat Pembuangan Sampah Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam diketahui bahwa tempat pembuangan sampah yang ada di rumah warga RT. 02 RW. 03 belum memenuhi syarat dikarenakan tempat sampah yang tersedia di dapur tidak memiliki tutup, dan juga tempat pembuangan sampah tidak dipilah antara sampah organik dan anorganik. Terlihat juga sampah plastik dan sampah sisa makanan dijadikan satu, hal inilah yang akan menimbulkan bau tidak sedap, dan kemunculan bau itulah faktor yang akan mengundang datangnya tikus. Kemudian sampah hasil rumah tangga ini tidak dibuang di tempat semestinya sampah ini dibakar langsung oleh penghuni rumah hal inipun kurang baik bagi kesehatan karena menimbulkan pencemaran udara akibat membakar sampah tersebut. Pada penelitian lain Setyowati dan Mulasari . , pencemaran lingkungan akibat sampah plastik semakin mengkhawatirkan apabila tidak ada usaha mengatasinya. Kurangnya pengetahuan dan perilaku buruk dalam pengelolaan sampah dapat menimbulkan gangguan kesehatan lingkungan (Setyowati & Mulasari, 2. Penelitian Marliani, untuk melihat bentuk impelementasi dari pendidikan lingkungan hidup yang berupa pemanfaatan limbah rumah tangga . ampah anorgani. Sampah anorganik sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan karena sampah anorganik terbuat dari sumber alam yang tidak dapat Dengan pendidikan lingkungan hidup yang berkelanjutan maka diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan terhadap semua lapisan masyarakat akan pentingnya sampah organik (Marliani, 2. Berdasarkan penelitian Yogiesti et al. , sampah merupakan konsekuensi dari semua aktifitas yang dilakukan manusia. Apabila tidak terdapat kemampuan masyarakat dalam pengelolaan sampah, akan dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Masalah pengelolaan sampah juga terjadi di Kota Kediri. Timbunan sampah yang selalu bertambah setiap tahunnya, menyebabkan banyak permasalahan terjadi di tempat pembuangan akhir. Pengelolaan sampah sudah dilakukan pemerintah setempat sejak tahuun 2008. Usaha tersebut dengan membangun unit komposter dengan partisipasi masyarakat. Namun pada aplikasinya masyarakat tidak terlibat secara langsung karena mereka beranggapan pengelolaan persampahan ini adalah tanggung jawab pemerintah (Yogiesti et al. , 2. Sampah merupakan suatu barang yang tidak memiliki manfaat lagi bagi penggunanya yang mana merupakan sisa dari hasil kegiatan aktifitas keseharian manusia atau merupakan hasil dari proses alam Received:26 April2022,Accepted:19 Juni2022 -JurnalPhotonVol. 12No. DOI:https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a CreativeCommonsAttribution-ShareAlike4. 0InternationalLicense http://ejurnal. id/index. php/photon yang memiliki bentuk yang padat. Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi syarat Kepmenkes Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 829/Menkes/SK/VII/1999 penyimpanan sampah adalah tempat sementara sebelum sampah dikumpulkan dan di angkat serta dibuang. Adapun syarat tempat sampah yang di anjurkan adalah konstruksi kuat, tidak mudah bocor untuk mencegah berseraknya sampah, tertutup tetapi mudah dibuka, dan mudah diangkat. Berdasarkan asumsi peneliti, merujuk pada hasil peneliti yang dilakukan, diketahui bahwa keadaan tempat pembuangan sampah yang berada di dapur rumah warga tidak memiliki tutup sehingga bisa menimbulkan bau yang tidak sedap, mengundang vektor tikus, hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran dan pengetahuan warga tentang pembuangan sampah yang dinilai sangat penting untuk diperhatikan, karena kalau tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan penyakit bagi manusia dan pencemaran Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) Berdasarkan hasil obeservasi dan wawancara mendalam diketahui bahwa kondisi SPAL yang dimiliki 3 warga RT. 02 RW. 03 belum memenuhi syarat karena tidak memiliki tutup dan juga masih terlihat sisa-sisa makanan di dalam SPAL sehingga akan menimbulkan bau yang akan mengundang vektor tikus. SPAL yang dimiliki warga yang terbuat dari coran batu dan pipa saluran ini berupa tanah galian kemudian dikasih pipa atau semen yang berfungsi untuk membuang air cucian, air bekas mandi, air kotor/bekas Untuk pembuangan air limbah ini pun jarak dari air bersih atau sumur gali minimal 10 meter supaya air bersih tidak tercemar oleh air libah. Menurut Yulianto dan Candra . kondisi SPAL yang tidak memenuhi syarat mempunyai peluang 15 kali beresiko terhadap keberadaan vektor tikus di dalam rumah di bandingkan dengan kondisi SPAL yang memenuhi syarat. OR 995%CI) = 15. Berdasarkan peraturan pembuatan SPAL sesuai Kepmenkes Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 829/Menkes/SK/VII/1999 sebagai berikut: SPAL terbuat dari bahan kedap air . Tidak mencemari sumber air bersih . Tidak menimbulkan genangan air . Tidak menimbulkan Bau . Tidak menjadi tempat perkembang biakan vektor/binatang penggangg Berdasarkan asumsi peneliti, merujuk pada hasil peneliti yang telah dilakukan, diketahui bahwa keadaan SPAL yang dimiliki 3 warga masih belum bagus karena tidak sesuai standar kesehatan yaitu SPAL tidak mimiliki tutup sehingga dijadikan jalan masuknya vektor tikus ke dalam rumah. Keberadaan Vektor Tikus Berdasarkan penelitian di rumah warga RT. 02 RW. 03 bahwa tanda-tanda keberadaan vektor tikus masih terlihat seperti adanya kotoran dan bekas gigitan tikus yang terdapat pada gudang penyimpan barang bekas dan di sekitar rumah. Hal ini karena kurangnya pemeliharaan perilaku sanitasi lingkungan karena tikus mudah beradaptasi dengan lingkungan yang diciptakan manusia. Tikus yang berada di rumah warga merupakan hewan yang aktif pada malam hari sehingga besar aktifitas makananya dilakukan pada malam hari seperti memakan padi hasil panenan warga. Usaha untuk mengendalikan populasi tikus seperti memasang perangkap tikus mematikan jerat jepit dan umpan racun. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan alat perangkap tikus adalah mengenai umpan yang diberikan. Kadang Ae kadang tikus jeli terhadap umpan yang kita pasang, sehingga tikus sudah hapal terhadap umpan yang kita berikan dengan jebakan. Oleh karena itu kita harus memberikan umpan bervariasi agar jebakan tidak mudah di hafal oleh tikus. Cara memasang perangkap ini pun kita harus tahu Received:26 April2022,Accepted:19 Juni2022 -JurnalPhotonVol. 12No. DOI:https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a CreativeCommonsAttribution-ShareAlike4. 0InternationalLicense http://ejurnal. id/index. php/photon dimana tempat yang disukai tikus atau yang biasa di lewati oleh tikus, karena tikus beraktifitas pada malam hari maka sebaiknya perangkap tikus dipasang pada malam hari. Salah satu tanda keberadaan vektor tikus yaitu adanya feses atau kotoran tikus di rumah, bekas gigitan, jejak dan bangkai tikus di sekitar saluran pembuangan air limbah, jalanan, pagar dan bahkan di dalam rumah warga. Menurut penelitian Rika, tikus merupakan hewan rodensia yang mempunyai kebiasaan mengerat. Lokasi sarang tikus biasanya tersembunyi, lembab, tidak tergenang air. Rumah yang tidak rapat tikus dan tidak terawat maka pada titik-titik tertentu akan menjadi sarang tikus. Sarang tikus di luar rumah biasanya berupa lubang dalam tanah, di tempat sampah, dan tempat kotor (Rika et al. , 2. Berdasarkan Penelitian Arianti, dkk, keberadaan tikus dapat menggangu kenyamanan penghuni rumah, aktivitas menjadi terganggu, perkerjaan menjadi tidak sesuai, merusak barang dan perabotan rumah, ada kemukinan makanan dimakan tikus, makanan sisa tikus di makan oleh manusia, sehingga dapat menyebabkan manusia menjadi sakit, penyakit jendela, langit-langit yang tidak rapat tikus sehingga mempermudah masuknya tikus kedalam rumah. Faktor letiga adalah perilaku penghuni rumah dalam membersihkan dapur masih kurang memperhatikan kebersihan dapur, menata tumpukan-tumpukan barang, membersihkan sisa-sisa makanan maupun bahan makanan yang tercecer di dapur dan juga perilaku membuang sampah (Arianti et al. , 2. Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan senjata yang paling baik untuk membasemi tikus secara alami, dibeberapa tempat jumlah tikus sangat tergantung pada banyak tidaknya jumlah makanan, air serta tempat persembunyian. Semakin bertambah populasi tikus, sebaiknya jika makanan berkurang populasi tikus pun ikut berkurang secara cepat (Wahyuni, 2. Berdasarkan Kepmenkes Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 829/Menkes/SK/VII/1999 persyaratan kesehatan perumahan. Rumah harus bebas dari vektor penyakit seperti tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di dalam Berdasarkan asumsi peneliti, merujuk pada hasil peneliti yang telah dilakukan, diketahui bahwa adanya jejak tikus dan kotoran tikus yang ada dirumah warga hal ini bisa diakibatkan kurangnya pemeliharaan perilaku sanitasi lingkungan sehingga tikus mudah beradaptasi dengan lingkungan yang diciptakan itu sendiri. Keberadaan tikus tidak akan membuat warga jadi nyaman dan lingkungan yang sehat. Kesimpulan Sanitasi rumah warga RT. 02 RW. 03 Kecamatan Bantan kabupaten Bengkalis masih belum sesuai standar karena masih memiliki ventilasi tidak memenuhi syarat, pembuangan sampah dalam keadaan terbuka. SPAL tidak memiliki tutup, keberadaan vektor tikus masih terlihat adanya kotoran tikus dan bekas gigitan. Hal ini dikarnakan kurang nya pengetahuan warga tentang hygiene sanitasi terhadap keberadaan vektor tikus dirumah warga dan cara pengendalian vektor tikus. Daftar Pustaka