Uniter: Jurnal Ekonomi dan Pendidikan Ekonomi Volume 01 Nomor 02 Tahun 2023 https://afeksi. id/journal3/index. php/uniter/index Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Dewi Lisa Afriyanti1. Ahmad Mifdlol Muthohar2 PPIT Al Hikmah. Indonesia lisadewi1808@gmail. com1, mifdhol@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial. Dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi Sebagai Variabel Intervening. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan populasi pada penelitian meiputi 10 dari 35 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). BAZNAS, dan Kemenkeu. Hasil pengujian penelitian ini menunjukkan bahwa: Upah minimum berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan. Belanja bantuan sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan. ZIS berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan. Upah minimum berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan Belanja bantuan sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan Zakat. Infak, dan Sedekah berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan Pertumbuhan Ekonomi mampu menjadi mediator dalam pengaruh Upah minimum terhadap kemiskinan. Pertumbuhan Ekonomi tidak mampu menjadi mediator dalam pengaruh Belanja Bansos terhadap kemiskinan. Pertumbuhan Ekonomi tidak mampu menjadi mediator dalam pengaruh ZIS terhadap kemiskinan. Kata Kunci: Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bansos. ZIS. Kemiskinan. Pertumbuhan Ekonomi PENDAHULUAN Indikator penting keberhasilan Pembangunan suatu negara diantaranya adalah kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi. Untuk mengurangi kemiskinan, setiap negara tentu akan mengupayakan pertumbuhan ekonomi sebaik mungkin. Ketika seseorang atau sekelompok individu tidak mampu memenuhi kebutuhan keuangan mereka untuk mendapatkan kebutuhan hidup yang layak, situasi ini disebut sebagai kemiskinan (Soleh et , 2. Penyelesaian kemiskinan bukanlah Upaya yang sederhana dan mudah, tetapi perlu dilaksanakan perencanaan teratur dan terkoordinasi yang baik melalui penerapan kebijakan tersebut perlu tercermin dalam setiap kebijakan pemerintah dan harus diimplementasikan melalui kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam jangka waktu yang cukup panjang dan berkelanjutan (Mustamin et al. , 2. Kemiskinan di Indonesia ini cukup tinggi di setiap kota dan kabupatennya termasuk di provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data BPS. Jawa Tengah merupakan Provinsi berpenduduk 36,74 juta jiwa dan menempati urutan ketiga, provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia. Pengurangan jumlah penduduk miskin menjadi salah satu program Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening prioritas pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dengan tujuan menurunkan tingkat kemiskinan menjadi di bawah 10 persen pada tahun 2021. Jumlah Penduduk Miskin Jawa Tengah Jumlah 4109,75 3831,44 3743,23 Jumlah Penduduk Miskin Jawa Tengah Jumlah Grafik 1. Jumlah Penduduk Miskin di Jawa Tengah (Sumber: BPS Jawa Tenga. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2018 jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah mengalami penurunan yang lumayan signifikan hingga di tahun 2020 naik kembali di angka yang tidak begitu besar namun kemudian sampai ke tahun 2021 belum juga ada penurunan tidak jauh berbeda dari tahun 2018. Di mana dalam 2018 total penduduk miskin sebesar 3897,2 dan di 2021 penduduk miskin sebesar 4. 109,75. Pada tahun 2022 BPS mencatat kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan jumlah penduduk miskin di kota sebesar 33,92 ribu orang (Antara Jateng/16/01/2. Pemerintah menyadari pengentasan kemiskinan di Indonesia khususnya di Provinsi Jawa Tengah bukanlah suatu hal yang mudah. Sudah berbagai macam hal yang dilakukan pemerintah namun perolehan yang didapat belum juga maksimal. Kemiskinan dapat ditangani dengan peningkatan pendapatan. Bagi penduduk yang berprofesi sebagai karyawan, upah dapat meningkatkan produktivitas. UMP, atau upah minimum provinsi, adalah besaran gaji pokok untuk seluruh daerah dan kabupaten dalam suatu provinsi. Rekomendasi Dewan Pengupahan Provinsi menjadi bahan pertimbangan Gubernur pada saat menetapkan UMP. Menurut Kuncoro perbedaan kualitas sumber daya manusia menjadi akar permasalahan kemiskinan. Tingkat sumber daya manusia yang rendah juga mengakibatkan rendahnya upah dan produktivitas. (Islami & Anis, 2. Pendapatan yang tinggi akan meningkatkan konsumsi dan menjauhkan mereka dari kemiskinan. Upah Minimum Provinsi Jawa Tengah jumlah 1486,065 1605,396 1742,015 1798,979 1813,011 Grafik 2. Data Upah Minimum Jawa Tengah (Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Tenga. Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Berdasarkan pada grafik 2, terbukti upah minimum di Provinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan. Terlihat pada tahun 2018 UMP di Jawa Tengah terbilang 1. hingga pada tahun 2021 terbilang 1. Peningkatan upah ini didasarkan pemerintah dari kebutuhan hidup layak masyarakat yang meningkat pada setiap tahunnya. Semakin meningkat nilai upah minimum akan mendorong minat dari masyarakat untuk bekerja dan berusaha sehingga akan meningkatkan produktivitas dalam wilayah. Hal ini tentu dapat memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi serta mengentaskan kemiskinan di provinsi Jawa Tengah. Selain Upah Minimum Provinsi adapula faktor penting lainnya yang menjadi peran penting dalam mengentaskan kemiskinan yakni belanja bansos. Belanja bansos diharapkan dapat menjadi salah satu upaya yang efektif guna menurunkan angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. Salah satu upaya pemerintah yang termasuk dalam kebijakan fiskal adalah belanja bantuan sosial. Dalam konteks makro kebijakan fiskal diartikan sebagai kebijakan yang berkaitan dengan perpajakan dan anggaran pemerintah (Sumiyarti, 2. Untuk meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan di Jawa Tengah, pemerintah akan menggunakan APBD untuk mengupayakan pendapatan dan mengontrol bagaimana dana tersebut dibelanjakan. Usaha peningkatan pendapatan sangat penting untuk menjaga stabilitas perekonomian rumah tangga di tengah ketidakpastian perekonomian. Untuk itu pemerintah melakukan berbagai macam program salah satunya berupa belanja bantuan sosial. Program bantuan sosial tersebut di antaranya Program Satu Juta Rumah. Progam Keluarga Harapan (PKH). Subsidi bunga untuk usaha mikro dan kecil. Kartu Indonesia Sehat (KIS). Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Kartu Indonesia Pintar (KIP),Kartu Tidak Mampu, dan juga lain Program ini bertujuan guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Tabel 1. Data Anggaran dan Realisasi Anggaran Jawa Tengah (Sumber : Kemenkeu Provinsi Jawa Tenga. Tahun Anggaran Realisasi 571,310. 543,900. 442,330. 543,070,000,000 Dari data pada tabel 1 di atas terlihat dana anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah telah mengalami banyak sekali penyusutan. Dapat disimpulkan bahwa angka kemiskinan di Jawa Tengah telah mengalami pengurangan yang terbilang signifikan. Pada tahun 2018 pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar 538. 000 hingga pada tahun 2021 anggaran yang keluar hanya berada di angka 483. Namun berdasarkan realisasi dana yang ada, penyaluran bantuan sosial belum optimal Pada tahun 2021 tercatat bahwa penyaluran bantuan sosial berupa program PKH sempat terkendalan di wilayah Kabupaten Semarang, kota Semarang. Salatiga, dan Kendal. Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Pada penyaluran PKH tahap II, dari total 2. 200 KPM (Keluarga Penerima Manfaa. KPM yang tidak dapat diproses di Kota Semarang, kemudian untuk KPM BPNT di Kabupaten Semarang pada bulan September ada 4. 250 KPM yang belum tersalurkan (Antara Jateng/4/09/2. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa kendala yang teridentifikasi antara lain e-wallet tidak aktif. KPM meninggal atau bermigrasi, pemblokiran kartu, kartu belum terdistribusi, kesalahan data, buku tabungan belum terdistribusi, dan keterlambatan pencairan Proses penyaluran dana bantuan sosial dengan tepat akan sangat membantu tercapainya tujuan dari pemerintah yaitu kesejahteraan masyarakat. Selain mengupayakan bantuan sosial, pemerintah juga memperhatikan pendistribusian dana zakat, infak, dan sedekah yang dikeluarkan masyarakat. METODE PENELITIAN Studi ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan cara yang dapat digunakan sebagai metode peneliti untuk melakukan penelitian dalam mempelajari populasi dan sampel tertentu. Penelitian kuantitatif menurut (Damanah, 2. Karena penelitian ini menggunakan data sekunder maka tidak terdapat lokasi penelitian. Berdasarkan data yang diperoleh dari web resmi BPS. BAZNAS, dan Kemenkeu dari tahun Provinsi Jawa Tengah menjadi objek dalam penelitian ini yang mencakup 35 kabupaten/kota yang ada di dalamnya. Populasi pada penelitian meiputi 10 dari 35 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). BAZNAS, dan Kemenkeu. Sampel yang dipakai untuk penelitian ini ialah data upah minimum, belanja bantuan sosial. ZIS, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2018-2021, meliputi total 50 data dari 175 data kota/kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Sumber data yang diperoleh untuk penelitian ini berasal dari data yang relevan. Data yang dipakai ialah data sekunder. Teknik Analisis data terdiri antara lain: Uji Stasioneritas. Uji Regresi Data Panel. Uji Asumsi Klasik dan Uji Statistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Stasioneritas Uji ini dijalankan guna melihat apakah data stasioner atau tidak. Uji yang dipakai yaitu uji Unit Root dengan uji Levin. Lin & Chu Test dengan pengambilan keputusan jika data dikatakan stasioner jika prob < 0,05. Berikut hasil pengujian menggunakan tingkatan level: Tabel 3. Uji Stasioneritas tingkat Level No. Variabel Prob* Upah Minimum 0,3384 Belanja Bansos 0,0010 ZIS 0,0302 Kemiskinan 0,8215 Pertumbuhan Ekonomi 0,1097 Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Sesuai tabel 3, pengujian stasioner hasilnya menunjukkan beberapa output dengan probabilitas > 0. 05 sehinnga pengujian dilanjutkan ke tingkat 1st Difference. Berikut di bawah ini hasil pengujiannya: Tabel 4. Uji Stasioneritas tingkat 1st Difference No. Variabel Prob* Upah Minimum 0,0000 Belanja Bansos 0,0000 ZIS 0,0000 Kemiskinan 0,0000 Pertumbuhan Ekonomi 0,0000 Tabel 4 menerangkan keseluruhan output memiliki probability, 0,05 yang artinya keseluruhan variabel telah memenuhi ketentuan stasioner maka dapat dilakukan uji data Uji Regresi Uji Model Regresi Persamaan Kemiskinan Penelitian ini memakai uji regresi berganda yang akan menganalisis ada tidaknya hubungan fungsi antar dua atau lebih variabel bebas ke variabel terkaitnya. Di bawah ini hasil pengujian model regresi: Hasil uji persamaan I variabel X terhadap Y Uji Chow Tabel 5. Uji Chow Regresi Y Dilihat dari nilai cross-section Chi-square 0. 0000 < 0. 05, maka model yang dipilih adalah FEM. Uji Hausman Tabel 6. Uji Hausman Regresi Y Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Berdasarkan tabel 6, nilai Cross-section random menunjukkan angka prob 0. 0000 < 0. sehingga model terpilih adalah FEM. Berikut hasil akhir dari pengujian melalui Fixed Effect Model (FEM): Tabel 7. Hasil Uji Fixed Effect Model (FEM) Hasil dari pengujian model regresi sebagai berikut: Y (Kemiskina. = 1UM 2BB 3ZIS 4PE el Y (Kemiskina. = 16. 37E-07UM -0. 034428BB 9. 64E-11ZIS -0. Dari persamaan ini dapat didefinisikan nilai konstanta pada angka 16. 24135 menunjukkan bahwa variabel UM. BB. ZIS, dan PE jika diasumsikan konstan, maka Kemiskinan (Y) mendapati kenaikan sebesar 16. 24135 satuan. Koefisien Upah Minimum memperoleh hasil 37E-07, jika variabel lain dianggap tetap, setiap kenaikan 1 satuan UP, akan menurunkan Kemiskinan (Y) sebesar 6. 37E-07 satuan. Koefisien Belanja Bansos didapati dengan jumlah 034428, apabila variabel lain dianggap tetap, per kenaikan 1 satuan Belanja Bansos, akan menurunkan Kemiskinan (Y)sebesar 0. 034428 satuan. Koefisien ZIS diperoleh hasil 9. 64E11 dimana jika variable lain dianggap tetap maka setiap kenaikan 1 satuan ZIS, akan menurunkan Kemiskinan (Y) sejumlah 9. 64E-11 satuan. Koefisien Pertumbuhan Ekonomi diperoleh hasil -0. 000283 dimana jika variable lain dianggap tetap maka setiap kenaikan 1 satuan Pertumbuhan Ekonomi, akan menaikkan Kemiskinan (Y) sejumlah -0. 000283 satuan. Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Uji Model Regresi Persamaan Pertumbuhan Ekonomi Uji Chow Tabel 8. Uji Chow Regresi Z Nilai cross-section Chi-square adalah 0. 0000 < 0. 05, sehingga model terpilih yaitu FEM. Uji Hausman Tabel 9. Uji Hausman Regresi Z Sesuai dengan table 9, nilai Cross-section random menunjukkan angka prob 0. 05, sehingga model yang dipilih adalah FEM. Uji Lagrange Multiplier Tabel 10. Uji Lagrange Multiplier Regresi Z Breusch-Pagan yaitu 0. 0000 < 0. 05, dengan demikian model yang dipilih yaitu REM. Hasil pengujian regresi berganda dengan Random Effect Model (REM) adalah: Tabel 11. Hasil Uji Random Effect Model (REM) Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Hasil dari pengujian model regresi sebagai berikut: PE = 1UM 2BB 4ZIS e2 PE =16280. 003623UM -83. 03385BB 1. 49E-07ZIS e2 Dari persamaan diatas dapat didefinisikan nilai konstanta pada angka 16280. 04 menunjukkan bahwa variabel UM. BB, dan ZIS jika diasumsikan konstan, maka Pertumbuhan Ekonomi (Z) mendapati kenaikan sebesar 16280. 04 satuan. Koefisien Upah Minimum memperoleh 003623, jika variabel lain dianggap tetap, setiap kenaikan 1 satuan UP, akan menurunkan Pertumbuhan Ekonomi (Z) sebesar 0. 003623 satuan. Koefisien Belanja Bansos didapati dengan jumlah -83. 03385, apabila variabel lain dianggap tetap, per kenaikan 1 satuan Belanja Bansos, akan menurunkan Pertumbuhan Ekonomi (Z) sebesar 83. 03385 satuan. Koefisien ZIS diperoleh hasil 1. 49E-07 dimana jika variable lain dianggap tetap maka setiap kenaikan 1 satuan ZIS, akan menurunkan Pertumbuhan Ekonomi (Z) sejumlah 1. 49E-07 Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji yang bertujuan melihat apakah seluruh komponen dalam model terdistribusi secara normal atau tidak. Pada penelitian uji yang digunakan adalah uji Jarque-Bera. Residual akan terdistribusi normal jika nilai angka sig. > 0. Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Regresi Y (Kemiskina. Gambar 1. Uji Normalitas Persamaan Y Regresi Z (Pertumbuhan Ekonom. Gambar 2. Uji Normalitas Persamaan Z Uji Multikolonieritas Pengujian ini dipakai guna melihat hubungan antar variabel predictor pada model regresi. Pada model regresi yang baik hasil yang diperoleh seharusnya tidak terdapat korelasi antar variabel bebasnya. Regresi Y (Kemiskina. Tabel 12. Uji Multikolonieritas Regresi Y Berdasarkan pada tabel 12, variable Upah Minimum (X. mempunyai angka VIF 211261 < 10, hal tersebut menunjukkan tidak terdapat korelasi. Variabel Belanja Bansos (X. memiliki angka VIF sebesar 1. 184897 < 10 hal tersebut menunjukkan tidak Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening terdapat korelasi. Variabel ZIS (X. memiliki angka VIF sebesar 1. 170784 < 10, hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi. Sedangkan variabel Pertumbuhan Ekonomi (Z) memiliki angka VIF sebesar 1. 236555 < 10 hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat Regresi Z (Pertumbuhan Ekonom. Tabel 13. Uji Multikolonieritas Regresi Z Berdasarkan pada tabel 13, variabel Upah Minimum (X. mempunyai angka VIF 149460 < 10, hal tersebut menunjukkan tidak terdapat korelasi. Variabel Belanja Bansos (X. memiliki angka VIF sebesar 1. 154540 < 10 hal tersebut menunjukkan tidak terdapat korelasi. Variabel ZIS (X. memiliki angka VIF sebesar 1. 005269 < 10, hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi. Uji Heteroskedastisitas Uji ini dipakai dalam rangka melihat apakah didapati perbedaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Pengujian kali ini memakai uji Glejser dengan hasil: Regresi Y (Kemiskina. Tabel 14. Uji Heteroskedastisitas Regresi Y Tabel 14 menjelaskan nilai probability Obs*R-squared > 0. 05 sehingga dalam riset ini tidak terjadi heteroskedastisitas. Regresi Z (Pertumbuhan Ekonom. Tabel 15. Uji Heteroskedastisitas Regresi Z Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Dari tabel 15. menjelaskan bahwa nilai prob Obs*R-squared > 0. 05 dan disimpulkan pada riset ini tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji Autokorelasi Uji untuk mengamati ada tidaknya pengaruh dari varriabel bebas ke varoabel terkait. Pengujian menggunakan uji Durbin Wastson dengan hasil: Regresi Y (Kemiskina. Tabel 16. Uji Autokorelasi Regresi Y Berdasark tabel diatas DW sejumlah . dan dibandingkan dengan nilai DW tabel . 05, n = 50, k = . dL sebesar . dan dU sebesar . ,6. Nilai DW . berada pada rentang dU < DW maka disimpulkan model regresi tidak terdapat Regresi Z (Pertumbuhan Ekonom. Tabel 17. Uji Autokorelasi Regresi Z Berdasar tabel diatas DW sejumlah . dan dibandingkan dengan nilai DW tabel . 05, n = 36, k = . dL sebesar . dan dU sebesar . ,6. Nilai DW . berada pada rentang dU < DW maka disimpulkan model regresi tidak terdapat Uji Statistik Regresi Y (Kemisikina. Koefisien Determinasi (R. Regresi Y Sesuai hasil Regresi persamaan Y diperoleh angka R Square sebesar 0. Maka disimpulkan bahwa variasi variabel bebas mampu menjelaskan variasi variabel bebas sebesar 99,1%, sedangkan 0,09% dijelaskan varisinya oleh variabel lain di luar model. Uji Stimulan (Uji F) Regresi Y Melalui hasil uji regresi Y angka coessicient sebesar 16. 24135 dengan prob f-test sejumlah 00000 < 0. Oleh karena itu disimpulkan jika secara serempak variabel UM. BB. ZIS, dan Pertumbuhan Ekonomi memiliki korelasi positif dan signifikan terhadap Kemiskinan. Uji T (Uji Parsia. Regresi Y Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Uji untuk melihat besarnya hubungan satu variable bebas secara individu dalam menjelaskan variabel terkaitnya. Upah Minimum (UM) Dari pengujian yang dilakukan didapati angka probability sejumlah 0. 15895 > 0. 05 dan coefficient nilainya positif yang berarti variabel UM secara individu berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan, maka H1 ditolak. Belanja Bansos (BB) Hasil uji yang dilakukan menunjukkan probabilitas sebesar 0. 0077 < 0. 05 dan coefficient nilainya negatif yang berarti variabel Belanja Bansos secara individu berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja kemiskinan, maka H2 ditolak. ZIS Dari uji yang dilakukan probabilitas ZIS sebesar 0. 0054 < 0. 05 dengan koefisien positif sehingga ditarik kesimpulan bahwa variabel Zakat Infaq Sadakah secara individu berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan, maka H3 diterima. Pertumbuhan Ekonomi (PE) Dari uji yang dilakukan nilai probability menujukkan angka 0. 0021 < 0. 05 dengan coefficient positif sehingga ditarik kesimpulan bahwa variabel Pertumbuhan Ekonnomi secara individu berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan, maka H4 diterima. Regresi Z (Pertumbuhan Ekonom. Koefisien Determinasi (R. Regresi Z Sesuai dengan hasil pengujian pada regresi Z nilai R Square sebesar 0. Disimpulkan jika variasi bebas mampu menjelaskan variasi variabel bebas sebesar 68% sedangkan 32% dijelaskan variasinya oleh variable lain di luar model. Uji Stimulan (Uji F) Regresi Z Dari nilai koefisien sebesar 16280. 04 > 0. 05 dan nilai probability sebesar 0. 05 dimana secara serempak variabel UM. BB . ZIS, berkorelasi positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi signifikan. Uji T (Uji Parsia. Regresi Z Upah Minimum (UM) Hasil uji memperoleh prob sebesar 0. 0000 < 0. 05 dengan koefisien yang positif sehingga pengaruh antara UM terhadap Pertumbuhan Ekonomi, sehingga H6 diterima. Belanja Bansos (BB) Variabel BB memiliki angka probability senilai 0. 0001 < 0. 05 dengan koefisien yang positif sehingga pengaruh antara variabel BB terhadap nilai perusahaan sehingga H7 diterima. ZIS Hasil uji memperoleh probabilitas sejumlah 0. 0134 < 0. 05 dengan koefisien yang positif sehingga pengaruh antara variabel ZIS terhadap Pertumbuhan Ekonomi, sehingga H8 Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Analilsis Jalur Tabel 18. Rangkuman Hasil Regresi Persamaan 1 Regresi Pers. 1 (X ke Y) Variabel Coeffiecient Probability Keterangan 37E-07 Tidak Signifikan Tidak Signifikan ZIS 64E-11 Signifikan Tidak Signifikan R Square : 0. Tabel 19. Rangkuman Hasil Regresi Persamaan 2 Regresi Pers. 2 (X ke Z) Variabel Coeffiecient Probability Keterangan Signifikan Tidak Signifikan ZIS 49E-07 Signifikan R Square : 0. Pada hasil tabel 18 terlihat bahwa R-Square persamaan 1 yaitu 0. Maka nilai dari e1 yaitu: el = Oo1 Ae R2 = Oo1 - 0. 990954 = Oo0. 009046 = 0. Nilai R-Square pada persamaan 2 ialah 0. Maka nilai dari e2 yaitu: e2 = Oo1 Ae R2 = Oo1 - 0. 683516 = Oo0. 316484 = 0. Berikut dibawah hasil perhitungan koefisien jalur: Tabel 4. 16 Hasil Perhitungan Koefisien Jalur (P. Std. Error X ke Z . Std. Error X ke Z Dampak Tidak Langsung 43E-07 -1,01444E-6 64E-11 49E-07 26E-11 80E-08 X ke Y X ke Z Z ke Y (P. (P. 37E-07 Var. (P2 x P. Dampak Total ((P1 (P2Xp. ) Guna melihat besarnya pengaruh mediasi antar variabel maka standard error dari koefisisen indirect effect dapat dijelaskan: Pengaruh UM (X. terhadap Kemiskinan (Y) melalui Pertumbuhan Ekonomi (Z) Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Sp2p3 = Oop32sp22 p22sp32 sp22sp32 = Oo(-0. 43E-. 43E-. 2 = 3,1357E-06 Berdasarkan pengaruh langsung sebesar 6. 37E-07 sedang pengaruh tidak langsung sebesar -1,01E-06 dari hasil kali p2 x p3. Dengan jumlah pengaruh 6. 37E-07 (-1,01E-. = 1,65E-06. Sesuai hasil penghitungan sp2p3 berikutnya dilakukanlah penghitungan t statistik pengaruh mediasi dengan rumus : 1,65EOe06 t = Sp2p3 = 3,1357EOe06 = 5,27E-01 Untuk menghitung t tabel maka dapat menggunakan rumus yaitu: df = n Ae k. df = 50 Ae 3. df = 47. Besarnya t hitung = 5,27E-01 berada di atas nilai t tabel sejumlah 1. 67591 dengan tingkat sig 5%. Sehingga kesimpulannya adalah pertumbuhan ekonomi mampu memediasi pengaruh Upah Minimum terhadap kemiskinan. Pengaruh Belanja Bansos (X. terhadap Kemiskinan (Y) melalui Pertumbuhan Ekonomi (Z) Sp2p3 = Oop32sp22 p22sp32 sp22sp32 = Oo(-0. 2 (-83. 2 = 1590,181279 Berdasarkan pengaruh langsung sejumlah -0. 03442 sedang pengaruh tidak langsung 023249478 dari hasil kali p2 x p3. Dengan jumlah pengaruh -0. 023249478 = -0,011170522. Sesuai hasil penghitungan sp2p3 berikutnya dilakukanlah penghitungan t statistik pengaruh mediasi dengan rumus : Oe0,0111705 t = Sp2p3 = 1590,181279 = -7,02468E-06 Untuk menghitung t tabel maka dapat menggunakan rumus yaitu: df = n Ae k. df = 50 Ae 3. df = 47 Besarnya t hitung = -7,02468E-06 berada di bawah nilai t tabel sebesar 1. dengan tingkat sig 5%. Sehingga kesimpulannya adalah pertumbuhan ekonomi tidak mampu memediasi pengaruh variabel Belanja Bansos terhadap kemiskinan. Pengaruh ZIS (X. terhadap Kemiskinan (Y) melalui Pertumbuhan Ekonomi (Z) Sp2p3 = Oop32sp22 p22sp32 sp22sp32 = Oo(-0. 26E-. 49E-. 26E-. 80E-. 2 = 1,257E-14 Berdasarkan pengaruh langsung sebesar 9. 64E-11 sedang pengaruh tidak langsung 000417 dari hasil kali p2 x p3. Dengan jumlah pengaruh 9. 64E-11 (-0. = -0,000417. Sesuai hasil penghitungan sp2p3 berikutnya dilakukanlah penghitungan t statistik pengaruh mediasi dengan rumus : Oe0,000417 t = Sp2p3 = 1,257EOe14 = -33174253252 Untuk menghitung t tabel maka dapat menggunakan rumus yaitu: df = n Ae k. df = 36 Ae 4. df = 32. Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Besarnya t hitung = -33174253252 berada di bawah nilai t tabel sebesar 1. dengan tingkat signifikansi 5%. Sehingga kesimpulannya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mampu memediasi pengaruh variabel ZIS terhadap kemiskinan. Pembahasan Pengaruh Upah Minimum terhadap Kemiskinan Variabel Upah Minimum nilai koefisien sejumlah 6. 37E-07UM yang positif dan 1589 >0. 05, artinya upah minimum memiliki pengaruh positif tidak signifikan terhadap kemiskinan sehinga H1 ditolak. Hasil riset tersebut sama dengan penelitian (Qintharah, 2. menyatakan jika Upah minimum berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kemiskinan. Temuan ini menjelaskan bahwa menaikkan upah minimum saja tidak cukup untuk mengangkat masyarakat keluar dari kemiskinan. Kemiskinan ialah persoalan yang kompleks yang mencakup tidak hanya rendahnya tingkat uang dan konsumsi, namun juga buruknya tingkat pendidikan dan kesehatan, serta keinginan seseorang untuk terlibat dalam Pembangunan manusia merupakan salah satu dari beberapa faktor yang harus ditangani dalam upaya pengentasan kemiskinan. Selain menaikkan upah minimum pekerja, masih banyak hal lain yang harus dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan. Pengaruh Belanja bantuan sosial terhadap Kemiskinan Belanja Bansos memiliki koefisien -0. 034428 dan probability 0. 0077 < 0. 05, yang berarti Belanja Bansos berpengaruh negatif signifikan terhadap Kemiskinan sehingga H2 Ridha, . menyatakan bahwa Belanja Bansos memiliki dampak yang cukup merugikan terhadap kemiskinan. Inisiatif bantuan sosial berbasis masyarakat tampaknya tidak mempunyai pengaruh besar terhadap pengentasan kemiskinan. Faktanya, banyak manfaat yang diperoleh warga melalui program bansos tidak digunakan seefisien mungkin guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Jika tren ini terus berlanjut, tujuan utama program bantuan sosial adalah meringankan beban masyarakat miskin yang berpenghasilan rendah guna meningkatkan kesejahteraan, yang tidak dapat dilakukan secara merata. Upaya literasi ekonomi sangat penting agar keluarga yang menerima manfaat bantuan sosial dapat memanfaatkan bantuan yang mereka terima secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Manusia dapat meningkatkan literasi ekonominya dengan mempelajarinya. Manusia dapat memperoleh kesadaran akan literasi ekonomi dengan menyadari bahwa sebagai entitas ekonomi, mereka harus mengelola sumber daya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan hidup yang tidak ada habisnya (Aprillia & Utomo, 2. Dengan demikian. Masyarakat lebih memilih untuk memprioritaskan kebutuhan mendasar di atas kebutuhan sekunder dan tersier dengan cara ini, sehingga menghindari pemborosan dan pada akhirnya meningkatkan tingkat kesejahteraan mereka. Pengaruh ZIS terhadap Kemiskinan Koefisien dari variabel ZIS adalah 9. 64E-11 dengan nilai positif dan probability 0054 < 0. 05 yang berarti variable ZIS memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Kemiskinan sehingga H3 ditolak. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Alifia . yang menyatakan bahwa ZIS berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan. (Pujiyono, 2. menemukan bahwa dampak zakat terhadap kemiskinan melalui penargetan yang sempurna . etepatan sasara. mengungkapkan bahwa dana zakat yang tersedia belum mampu secara lansung merendahkan garis kemiskinan dan jumlah penduduk Hal ini disebabkan karena mustahik menggunakan uang zakat yang sifatnya konsumtif, sehingga pengaruhnya hanya sebatas meningkatkan pendapatan dan daya beli Dalam konteks ini, dana zakat tidak secara langsung mengurangi tingkat kemiskinan, tetapi lebih berfokus pada peningkatan daya beli dan pendapatan mustahik. Sehingga, dampaknya lebih condong untuk meningkatkan pendapatan nasional tanpa mengurangi tingkat kemiskinan, bahkan berpotensi meningkatkan tingkat kemiskinan. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan Variabel Pertumbuhan Ekonomi memiliki koefisien -0. 000283 yang negatif dan 0021 < 0. 05, artinya variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan sehingga H4 diterima. Hasil riset ini sama dengan penelitian Safuridar . yang menyatakan pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi bisa mengakibatkan peningkatan produksi barang, seiring dengan pertambahan jasa dan barang yang dihasilkan, pertumbuhan ini juga diikuti dengan kenaikan jumlah tenaga kerja. Kenaikan angka pekerjaan dapat mengurangi tingkat pengangguran di masyarakat, memberikan peluang bagi individu untuk bekerja, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup. Untuk mengentaskan kemiskinan di Jawa Tengah, pertumbuhan ekonomi yang pesat di wilayah tersebut didukung oleh perluasan industri-industri utama seperti industri pengolahan, perdagangan, transportasi, dan jasa dunia usaha. Melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan, pertumbuhan ekonomi dapat berperan dalam mengatasi permasalahan kemiskinan di wilayah tersebut. Pengaruh Upah Minimum terhadap Pertumbuhhan Ekonomi Upah Minimum mempunyai koefisien positif dengan nilai 0. 003623 dan prob 0000 < 0. 05 yang berarti Upah minimum berpengaruh positif signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi, sehingga H5 diterima. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa PDRB, yang merupakan indicator pertumbuhan ekonomi, ialah salah satu faktor yang mempengaruhi upah minimum. Upah minimum yang ditetapkan setiap tahun bertujuan guna menyesuaikan dengan keadaan ekonomi suatu daerah. PDRB pada ADHK mencerminkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung berdasarkan harga pada satu tahun tertentu. PDRB konstan ialah instrument yang digunakan untuk menilai pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun. PDRB konstan menghitung nilai tambah barang dan jasa dengan menggunakan harga pada tahun dasar yang tetao atau AukonstanAy. Dengan menggunakan PDRB konstan, dapat memisahkan efek pertumbuhan ekonomi murni dari pengaruh perubahan harga, sehingga memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kemajuan ekonomi suatu daerah dari waktu ke waktu. Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening Temuan ini juga sesuai dengan penelitian (Virginanda, 2. yang menjelaskan bahwa UMK memiliki dampak terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Peningkatan UMK dikaitkan dengan perubahan dan pengingkatan dalam pertumbuhan ekonomi, sementara penurunan UMK dapat mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi karena keduanya saling Pengaruh Belanja bantuan sosial terhadap Pertumbuhan Ekonomi Variabel Belanja Bantuan Sosial mempunyai koefisen sebesar -83. 03385 yang nilainya positif dan probability 0. 0001 < 0. 05, yang berarti variabel Belanja Bantuan Sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga H6 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah untuk bantuan sosial tidak memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun hasil yang negatif memiliki pengaruh yang signifikan dalam artian jika adanya penurunan belanja bansos maka akan memperbaiki taraf hidup masyarakat. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian (Deswantoro, 2. yang menjelaskan bahwa salah satu ketegori pengeluaran yang mengalami peningkatan drastis menjelang pemilihan kepala daerah adalah belanja bantuan Pemberian bantuan ini yang dilakukan secara langsung kepada masyarakat dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan sehingga efektivitas pencapaian tujuan belanja bantuan sosial dalam mencapai tujuaan belanja bantuan sosial, yakni peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi rendah. Pengaruh ZIS terhadap Pertumbuhan Ekonomi Variabel ZIS mempunyai koefisien sebesar 1. 49E-07 yang nilainya positif dan 0134 yang berarti variabel ZIS berpengaruh positif signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Sarea . , yang menjelaskan bahwa dana zakat yang meningkat dianggap memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, menjadikan zakat sebagai instrumen keuangan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks ekonomi Islam. Zakat berperan sebagai model alternative yang secara bermakna berkontribusi pada distribusi kekayaan dalam Temuan Suprayitno . juga mendukung hal ini, menyatakan bahwa pembagian zakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dana zakat selain dialokasikan untuk konsumsi, dapat diarahkan untuk mencapai efek jangka panjang yang lebih baik. Hal ini memungkinkan penerima zakat memperoleh pendapatan yang lebih stabil, dengan harapan penerima zakat dapat bertransisi menjadi muzaki (Pembayar Zaka. yang lebih mandiri, mislnya melalui pemberian modal atau pelatihan. Pengaruh Upah minimum terhadap kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi Besarnya t hitung dari hasil perhitungan yaitu sejumlah 5. 27E-01 > t tabel dengan taraf sig 0. Dikarenakan nilai t hitung > t tabel sehingga disimpulkan bahwasannya Pertumbuhuan Ekonomi mampu menjadi mediator dalam hubungan Upah Minimum terhadap Kemiskinan, maka H8 diterima. Hal ini berarti bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi mampu mempengaruhi hubungan antara upah minimum dengan tingkat kemiskinan. Upah minimum memiliki Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening dampak terhadap perkembangan ekonomi dan dapat memengaruhi tingkat kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekoomi terkait dengan kemampuan upah minimum untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Perubahan dalam pertumbuhan ekonomi memengaruhi hubungan antara penngaruh upah minimum dan penurunan tingkat Hasil temuan ini sesuai dengan penelitian Woyanti . yang menyatakan Pertumbuhan Ekonomi mampu menjadi mediator dalam hubungan Upah minimum terhadap Kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. Semakin tinggi UMP yang ditetapkan, semakin rendah angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. Pengaruh Belanja bantuan sosial terhadap kemiskinan melalui pertumbuhan Besarnya t hitung dari hasil perhitungan yaitu -7. 02468E-06 < t tabel 1. 67591 dengan tingkat signifikansi 5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mampu memediasi pengaruh variabel Belanja Bansos terhadap kemiskinan. Tingkat kemiskinan ialah salah satu yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan ratarata daerah. Tingkat pendapatan semakin tinggi. Semakin besar peluang penyediaan anggaran untuk mengataasi masalah kemiksinan. Alokasi tersebut harus tepat sasaran, jika tidak kemiskinan hanya akan bertambah parah. Adapun hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat mempengaruhi hubungan antara Belanja Bantuan sosial dengan tingkat kemiskinan. Hal ini disebabkan karena belanja bantuan sosial tidak dapat mempengauhi pertumbuhan ekonomi dan tidak dapat berpengaruh terhadap Pengaruh ZIS terhadap kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi Besarnya t hitung dari hasil perhitungan -33174253252 < t tabel 1. 67591 dengan taraf 05. Dikarenakan nilai t hiung < t tabel maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mampu memediasi pengaruh variabel ZIS terhadap kemiskinan, sehingga H10 Hal ini tidak sesuai dengan (Aqbar & Iskandar, 2. yang menyatakan bahwa zakat dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Adapun faktor efek mediasi pertumbuhan ekonomi pada dana ZIS terhadap kemiskinan tidak berpengaruh secara signifikan disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian teori dengan yang terjadi sebenarnya. Menurut Karim . , zakat memiliki pengaruh positif bagi pertumbuhan ekonomi sehingga peningkatan pada dana zakat akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pada kenyataannya, penyaluran dana ZIS mengalami peningkatan akan tetapi pertumbuhan ekonomi cenderung mengalami stagnasi. Bahkan pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan di saat penyaluran dana ZIS memiliki catatan tertinggi ketika pandemi covid-19 melanda Indonesia. Demikian dengan kemiskinan yang juga mengalami kenaikan saat itu. Hal ini menandakan bahwa pandemi covid-19 merupakan kejadian luar biasa yang tidak dapat diprediksi sebelumnya sehingga dalam hal ini pertumbuhan ekonomi tidak dapat memediasi pengaruh dana ZIS terhadap kemiskinan Pengaruh Upah Minimum. Belanja Bantuan Sosial, dan ZIS Terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai Variabel Intervening KESIMPULAN Hasil dari pada yang sudah di dapatkan dari penelitian ini menjelaskan bahwa Hasil pengujian penelitian ini menunjukkan bahwa: Upah minimum berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan. Belanja bantuan sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap ZIS berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan. Upah minimum berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Belanja bantuan sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Zakat. Infak, dan Sedekah berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan Ekonomi mampu menjadi mediator dalam pengaruh Upah minimum terhadap kemiskinan. Pertumbuhan Ekonomi tidak mampu menjadi mediator dalam pengaruh Belanja Bansos terhadap kemiskinan. Pertumbuhan Ekonomi tidak mampu menjadi mediator dalam pengaruh ZIS terhadap DAFTAR PUSTAKA