Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan PERSEPSI GURU PAUD TERHADAP PENERAPAN ASESMEN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Email: hilmiahghazali@gmail. com1, nur. indalaillah27@gmail. com2, cerdassiti@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terhadap penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru serta faktor-faktor yang memengaruhi persepsi mereka terhadap asesmen autentik. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap guru PAUD di beberapa institusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki persepsi positif terhadap asesmen autentik sebagai metode penilaian yang holistik dan relevan dengan kebutuhan anak. Namun, kendala seperti keterbatasan waktu, kurangnya pelatihan, dan minimnya dukungan fasilitas menjadi hambatan dalam Faktor pengalaman mengajar, latar belakang pendidikan, dan dukungan institusional ditemukan memengaruhi persepsi guru. Temuan ini menegaskan pentingnya pelatihan berkelanjutan dan dukungan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas penerapan asesmen autentik. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan teori pendidikan holistik dan menawarkan rekomendasi strategis bagi pengembangan asesmen autentik di PAUD. Kata kunci : Asesmen autentik, kendala implementasi, pendidikan holistik, persepsi guru ABSTRACT This study aimed to analyze early childhood education (ECE) teachers' perceptions of authentic assessment in learning. It also explored the challenges they faced and the factors influencing their perceptions. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through interviews, observations, and document reviews involving ECE teachers from various The findings reveal that most teachers hold positive perceptions of authentic assessment, recognizing it as a holistic and relevant evaluation method for children's needs. However, challenges such as time constraints, insufficient training, and limited support facilities hinder its implementation. Factors like teaching experience, educational background, and institutional support significantly shape teachers' perceptions. These findings underscore the importance of continuous professional development and supportive policies to enhance the effectiveness of authentic assessment. This study contributes to strengthening holistic education theories and offers strategic recommendations for improving the implementation of authentic assessment in early childhood education. Keywords: Authentic assessment, implementation challenges, holistic education, teacher PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam membentuk fondasi perkembangan anak secara holistik. Dalam proses pembelajaran PAUD, asesmen menjadi instrumen penting untuk memahami perkembangan anak pada berbagai aspek, seperti kognitif, sosial, emosional, dan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 Salah satu bentuk asesmen yang dianggap sesuai untuk pendidikan anak usia dini adalah asesmen autentik, yang menekankan pada pengamatan langsung terhadap perilaku dan hasil karya anak dalam konteks nyata (Hanifa et al. , 2. Meski demikian, penerapan asesmen autentik di lapangan masih menghadapi berbagai Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 tantangan, terutama terkait dengan persepsi dan kesiapan guru. Asesmen autentik didefinisikan sebagai proses pengumpulan informasi mengenai kemampuan anak melalui kegiatan yang relevan dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari (Ramatni et al. , 2. Berbeda dengan asesmen tradisional, asesmen autentik tidak hanya menilai hasil akhir tetapi juga proses yang dilalui anak (Solihin & Muhlis, 2. Karakteristik asesmen autentik, seperti fleksibilitas dan orientasi pada proses, membuatnya sangat cocok untuk pembelajaran PAUD yang berbasis pengalaman langsung (Parwoto et al. , 2. Namun, penerapan asesmen autentik memerlukan pemahaman yang mendalam dari guru, sehingga persepsi guru menjadi keberhasilan implementasinya. Asesmen autentik telah menjadi salah satu pendekatan evaluasi yang banyak diakui dalam pendidikan, terutama di tingkat PAUD. Wiggins . mendefinisikan asesmen autentik sebagai proses penilaian yang memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kemampuan mereka melalui tugas-tugas yang relevan dan bermakna (Winaryati et al. , n. Dalam konteks PAUD, asesmen ini melibatkan pengamatan langsung, dokumentasi portofolio, dan mencerminkan kehidupan nyata anak (Khaerani et al. , 2. Penelitian oleh Yates dan Oates . menunjukkan bahwa asesmen autentik dapat meningkatkan keterlibatan anak dan membantu guru memahami kebutuhan individual peserta didik secara lebih mendalam (Yates & Oates. Selain itu, teori belajar konstruktivis oleh Piaget dan Vygotsky memberikan landasan kuat bagi penerapan asesmen autentik. Piaget menekankan bahwa anak belajar melalui Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan eksplorasi dan interaksi dengan lingkungan, sementara Vygotsky menggarisbawahi pentingnya interaksi sosial dan scaffolding dalam perkembangan anak (Amini Hasby. Asesmen autentik, yang menilai anak dalam konteks alami mereka, sesuai dengan kedua teori ini karena memungkinkan guru untuk mengamati proses belajar secara Penelitian sebelumnya oleh Tumbel . juga menyatakan bahwa asesmen autentik mendorong perkembangan holistik anak, mencakup aspek kognitif, sosial-emosional, dan motorik, yang merupakan fokus utama pendidikan PAUD (Tumbel, 2. Persepsi guru terhadap asesmen autentik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan dukungan institusi. Guru yang memiliki persepsi positif cenderung lebih mudah mengintegrasikan asesmen autentik dalam pembelajaran (Hadikusumo et al. , 2. Sebaliknya, mendukung dapat menghambat penerapan, meskipun asesmen autentik telah disarankan dalam berbagai kebijakan pendidikan (Wardana, 2. Oleh karena itu, memahami persepsi guru terhadap asesmen autentik menjadi langkah awal yang penting dalam mengidentifikasi kendala yang ada di Masalah utama dalam penerapan asesmen autentik sering kali terkait dengan kendala teknis dan non-teknis yang dihadapi oleh guru. Secara teknis, keterbatasan waktu dan alat penilaian sering menjadi hambatan (Amanda et al. , 2. Di sisi lain, secara non-teknis, kurangnya pelatihan atau pemahaman tentang asesmen autentik turut mempersulit implementasi (Mulyana et al. Kondisi ini semakin kompleks apabila institusi pendidikan belum memberikan dukungan yang memadai bagi guru dalam mengelola proses asesmen autentik. Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 Selain faktor-faktor mempengaruhi persepsi guru terhadap asesmen autentik memerlukan kajian yang lebih mendalam. Faktor personal seperti tingkat pendidikan dan pengalaman, serta faktor eksternal seperti kebijakan institusi dan dukungan dari rekan sejawat, memiliki pengaruh signifikan terhadap cara guru memandang asesmen autentik (Mulyasa. Dengan memahami faktor-faktor ini, diharapkan dapat dirumuskan solusi yang lebih komprehensif untuk mendukung penerapan asesmen autentik di PAUD. Penelitian mengidentifikasi persepsi guru PAUD Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan asesmen Tidak kalah penting, penelitian ini berusaha mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi persepsi guru terhadap penerapan asesmen autentik. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan pengembangan asesmen autentik di PAUD. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini mencakup tiga aspek utama. Pertama, bagaimana persepsi guru PAUD terhadap penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran di PAUD. Kedua, apa saja kendala yang dihadapi oleh guru PAUD dalam menerapkan asesmen autentik. Ketiga, apa saja faktor-faktor yang memengaruhi persepsi guru PAUD terhadap penerapan asesmen autentik. Ketiga rumusan masalah ini akan menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Untuk menjawab rumusan masalah Pendekatan ini dipilih untuk menggali pemahaman mendalam tentang pengalaman dan persepsi guru terkait Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan asesmen autentik. Data akan dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang relevan dengan persepsi dan kendala guru. Penelitian ini memiliki signifikansi praktis dan teoretis. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru PAUD untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam menerapkan asesmen autentik. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur tentang asesmen autentik di PAUD, khususnya dalam konteks persepsi dan implementasi di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini dapat pendidikan anak usia dini yang lebih Dalam upaya mengatasi kendala penerapan asesmen autentik, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, pemerintah, dan Guru membutuhkan pelatihan berkelanjutan untuk memahami konsep dan teknis asesmen autentik secara mendalam. Selain itu, kebijakan pendidikan yang mendukung dan penyediaan sumber daya yang memadai menjadi faktor penting untuk mendorong implementasi asesmen autentik yang lebih efektif. Secara keseluruhan, penelitian ini komprehensif tentang penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran di PAUD. Dengan mengidentifikasi persepsi, kendala, dan faktor-faktor yang memengaruhinya, diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar bagi upaya pengembangan asesmen autentik di tingkat praktis dan kebijakan. Pada akhirnya, asesmen autentik yang diterapkan Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 secara efektif akan mendukung pembelajaran yang lebih bermakna bagi anak usia dini. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk menggali persepsi guru PAUD terhadap penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur. Wawancara semiterstruktur dilakukan dengan guru PAUD yang dipilih menggunakan teknik pengalaman mereka dalam menggunakan asesmen autentik. Observasi dilakukan untuk mengamati langsung bagaimana asesmen autentik diterapkan dalam pembelajaran di kelas, sedangkan studi pembelajaran, hasil asesmen, dan kebijakan sekolah. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru PAUD dari berbagai institusi pendidikan yang mewakili beragam latar belakang, termasuk tingkat pendidikan, pengalaman mengajar, dan jenis lembaga pendidikan di Kota Balikpapan. Data dari wawancara direkam dan ditranskrip untuk menjaga keakuratan informasi, sedangkan data dari observasi dan dokumen dianalisis untuk memperkuat temuan dari Analisis data dilakukan dengan metode analisis tematik, yang melibatkan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, peneliti menyaring informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Penyajian menyusun tema-tema utama terkait persepsi guru, kendala yang dihadapi, dan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan faktor-faktor penerapan asesmen autentik. Hasil analisis kemudian disimpulkan untuk memberikan gambaran yang menyeluruh tentang fenomena yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi guru PAUD terhadap penerapan asesmen autentik, kendala yang mereka hadapi, serta faktorfaktor yang memengaruhi persepsi Berdasarkan observasi, dan studi dokumentasi, diperoleh temuan yang memberikan pengalaman guru dalam menerapkan asesmen autentik di lingkungan PAUD. Untuk memperjelas temuan, data disertai dengan tabel dan penjelasan verbal. Persepsi Guru PAUD terhadap Penerapan Asesmen Autentik Sebagian besar guru PAUD memiliki pemahaman dasar tentang asesmen autentik, meskipun penerapannya masih Mayoritas menyebutkan bahwa asesmen autentik perkembangan anak secara menyeluruh. Namun, beberapa guru merasa kesulitan membedakan asesmen autentik dengan asesmen tradisional. Tabel 1. Pemahaman Guru PAUD terhadap Asesmen Autentik Kategori Memahami dengan baik Memahami Tidak Jumlah Responden Persentase (%) Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Tabel ini menunjukkan tingkat pemahaman guru PAUD tentang asesmen autentik berdasarkan wawancara. Dari 20 guru yang menjadi responden, sebanyak 8 orang . %) menyatakan memahami asesmen autentik dengan baik. Guru dalam kategori ini mampu menjelaskan konsep asesmen autentik, termasuk perbedaan dengan asesmen tradisional, dan memberikan contoh penerapannya. Sebanyak 10 orang . %) memiliki pemahaman sebagian, di mana mereka mengenal konsep asesmen autentik tetapi masih bingung dalam implementasi Sisanya, 2 orang . %), tidak memahami asesmen autentik sama sekali karena kurangnya pelatihan atau paparan terhadap metode ini. Kendala yang Dihadapi Guru dalam Menerapkan Asesmen Autentik Guru kendala utama dalam penerapan asesmen Kendala yang paling sering disebut adalah keterbatasan waktu . %), diikuti oleh kurangnya pelatihan . %), dan minimnya alat bantu asesmen . %). Selain itu, beberapa guru juga kebijakan sekolah sebagai hambatan Tabel ini menggambarkan kendala utama yang dihadapi guru PAUD dalam menerapkan asesmen autentik. Dari wawancara, mayoritas guru . %) menyebut keterbatasan waktu sebagai kendala terbesar, terutama karena pengamatan intensif dan pencatatan yang Sebanyak 60% guru menyatakan kurangnya pelatihan menjadi hambatan, karena mereka belum mendapatkan pembekalan yang memadai tentang metode ini. Selain itu, minimnya alat bantu seperti format penilaian atau panduan asesmen disebutkan oleh 50% Dukungan sekolah yang kurang, seperti kebijakan yang tidak mendukung penerapan asesmen autentik, menjadi kendala bagi 30% responden. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Guru PAUD terhadap Asesmen Autentik Penelitian ini menemukan bahwa memengaruhi persepsi guru terhadap asesmen autentik. Faktor internal meliputi pendidikan terakhir dan pengalaman mengajar, sedangkan faktor eksternal mencakup pelatihan yang diikuti dan dukungan dari institusi pendidikan. Tabel 2. Kendala dalam Penerapan Asesmen Autentik Jumlah Persentase Kategori Responden (%) Keterbatasan Kurangnya Minimnya alat bantu Kurangnya Tabel Faktor-Faktor Mempengaruhi Persepsi Guru PAUD Frekuensi Persentase Faktor Sebutan (%) Pendidikan Pengalaman Pelatihan asesmen autentik Dukungan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 Tabel ini menunjukkan faktor-faktor yang memengaruhi persepsi guru terhadap asesmen autentik. Dari hasil wawancara, sebanyak 12 guru . %) menyatakan bahwa pendidikan terakhir memengaruhi pemahaman mereka, di mana guru dengan latar belakang pendidikan formal di bidang PAUD lebih memahami konsep asesmen autentik dibandingkan yang tidak. Pengalaman mengajar juga disebutkan oleh 50% responden sebagai faktor penting. yang telah lama mengajar lebih mampu melihat relevansi asesmen autentik dalam Pelatihan asesmen autentik menjadi faktor paling dominan, dengan 75% responden menyebutkan bahwa pelatihan membantu mereka memahami dan menerapkan asesmen ini. Dukungan institusi, seperti adanya supervisi atau kebijakan khusus, disebutkan oleh 40% guru sebagai faktor pendukung persepsi yang positif terhadap asesmen autentik. Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan tentang persepsi guru PAUD terhadap penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil memahami bahwa asesmen autentik bermanfaat untuk menilai perkembangan anak secara holistik. Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam praktik karena keterbatasan sumber daya dan pelatihan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dan implementasi di lapangan, yang sejalan dengan temuan Sirinding . bahwa dukungan sistematis dalam penerapannya (Sirinding et al. , 2. Dalam menjawab rumusan masalah pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru PAUD terhadap asesmen autentik bervariasi. Guru yang memiliki pemahaman baik menunjukkan sedangkan yang kurang memahami cenderung menghindarinya. Temuan ini mendukung teori Bandura . tentang self-efficacy, di mana keyakinan individu Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan terhadap kemampuannya memengaruhi adopsi metode baru (Jaha & Ate, 2. Oleh karena itu, pelatihan dan pembimbingan berkelanjutan diperlukan untuk memperkuat persepsi positif guru terhadap asesmen autentik. Terkait kendala yang dihadapi, penelitian ini mengidentifikasi waktu, pelatihan, dan alat bantu sebagai hambatan utama. Kendala ini selaras dengan penelitian Minarti . , yang menemukan bahwa asesmen autentik memerlukan komitmen tinggi dan infrastruktur memadai (Minarti et al. Selain itu, dukungan kebijakan sekolah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi keberhasilan implementasi. Oleh sebab itu, intervensi struktural seperti alokasi waktu tambahan dan penyediaan alat bantu asesmen perlu Faktor pendidikan dan pengalaman mengajar ternyata sangat memengaruhi persepsi guru terhadap asesmen autentik. Guru dengan latar belakang pendidikan formal di bidang PAUD lebih cenderung memahami konsep ini dibandingkan yang Hal ini mendukung temuan Najmi pendidikan formal membekali guru dengan keterampilan konseptual yang lebih baik (Najmi, 2. Dengan pendidikan guru PAUD menjadi agenda penting untuk mendukung penerapan asesmen autentik. Dalam konteks pengalaman mengajar, guru yang memiliki jam terbang tinggi menunjukkan adaptasi lebih baik terhadap asesmen autentik. Mereka memahami gambaran yang lebih akurat tentang Temuan mendukung teori Vygotsky . tentang scaffolding, di mana pengalaman praktis berulang memperkuat kemampuan guru (Saksono et al. , 2. Oleh karena pendampingan intensif dari mentor Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 Pelatihan asesmen autentik menjadi faktor dominan yang memengaruhi keberhasilan implementasi. Guru yang telah mengikuti pelatihan menunjukkan pemahaman dan kemampuan praktik yang lebih baik. Temuan ini konsisten dengan penelitian oleh Handayani . , yang meningkatkan kompetensi profesional guru (Handayani & Dewi, 2. Pelatihan berkelanjutan berbasis praktik nyata menjadi strategi penting untuk memaksimalkan hasil. Dukungan institusi juga memainkan peran signifikan dalam persepsi dan penerapan asesmen autentik. Sekolah yang menyediakan supervisi dan panduan teknis membuat guru lebih percaya diri dalam mengimplementasikan metode ini. Hal Bronfenbrenner . , pendukung mikro dalam ekosistem pendidikan (Astari et al. , 2. Oleh karena itu, keterlibatan manajemen sekolah harus ditingkatkan untuk mendukung inovasi pendidikan. Dalam kaitannya dengan logika temuan, penelitian ini menunjukkan bahwa asesmen autentik memerlukan pendekatan holistik. Guru tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses belajar anak. Hal ini mendukung konsep diperkenalkan oleh Black dan Wiliam . , di mana asesmen menjadi bagian integral dari pembelajaran (Mbato. Oleh karena itu, asesmen autentik harus dirancang sebagai alat yang fleksibel dan berorientasi proses. Integrasi teori dan praktik dalam asesmen autentik juga menjadi tantangan yang teridentifikasi dalam penelitian ini. Banyak menerjemahkan teori asesmen autentik ke dalam praktik kelas. Temuan ini memperkuat pandangan Gardner . pendekatan dalam asesmen untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan (Jasmine, 2. Oleh sebab itu, panduan dibutuhkan oleh guru. Temuan ini juga mengonfirmasi bahwa persepsi guru terhadap asesmen autentik dipengaruhi oleh faktor internal seperti kepercayaan diri dan motivasi. Guru yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap kemampuan mereka cenderung lebih terbuka terhadap inovasi. Hal ini mendukung teori Herzberg . tentang motivasi kerja, yang menekankan pentingnya faktor intrinsik dalam keberhasilan implementasi (Tritisari. Dengan demikian, upaya untuk membangun kepercayaan diri guru menjadi prioritas. Faktor eksternal seperti dukungan komunitas belajar turut memengaruhi keberhasilan asesmen autentik. Guru yang tergabung dalam kelompok belajar profesional merasa lebih terbantu dalam memahami dan menerapkan metode ini. Hal ini sesuai dengan konsep community of practice oleh Wenger . , di mana kolaborasi antar guru mempercepat proses pembelajaran profesional (Khan et al. Oleh sebab itu, pengembangan kebutuhan mendesak. Temuan ini menunjukkan bahwa asesmen autentik bukan hanya alat evaluasi, tetapi juga strategi pedagogi. Guru yang memahami hal ini mampu mengintegrasikan asesmen autentik ke dalam proses belajar dengan lebih efektif. Konsep ini mendukung pandangan Stiggins . , yang menekankan bahwa asesmen harus memandu pembelajaran, bukan sekadar mengukur hasil (Agustianti et al. , 2. Oleh karena itu, asesmen memfasilitasi pembelajaran anak. Penelitian ini juga menemukan bahwa asesmen autentik dapat memperkuat keterlibatan orang tua dalam proses Guru yang menggunakan asesmen autentik melaporkan komunikasi lebih intensif dengan orang tua terkait perkembangan anak. Hal ini mendukung Hilmiah1. Nur Indalaillah2. Ity Rukayah3 teori Epstein . tentang keterlibatan keluarga dalam pendidikan (Hardiyanti. Oleh sebab itu, asesmen autentik harus dirancang untuk memfasilitasi kolaborasi antara guru dan orang tua. Dari perspektif pengembangan teori, penelitian ini menunjukkan bahwa asesmen autentik dapat menjadi alat untuk membangun kepercayaan antara guru, anak, dan orang tua. Temuan ini memperkuat teori kepercayaan sosial dalam pendidikan oleh Bryk dan Schneider . , yang menyatakan bahwa kepercayaan adalah fondasi untuk kemajuan pendidikan (Warouw et al. Dengan demikian, asesmen autentik bukan hanya teknik evaluasi, tetapi juga alat untuk membangun ekosistem pendidikan yang sehat. Penelitian modifikasi teori asesmen tradisional dengan menekankan pentingnya asesmen autentik sebagai bagian dari proses Guru yang menggunakan asesmen autentik tidak hanya menilai, tetapi juga mendampingi anak untuk mencapai potensi terbaiknya. Temuan ini sejalan dengan prinsip pendidikan humanistik yang menempatkan anak sebagai subjek pembelajaran. Oleh karena itu, asesmen autentik harus dipandang sebagai transformasi dari sekadar evaluasi menjadi strategi pendidikan holistik KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi guru PAUD terhadap penerapan asesmen autentik dalam pembelajaran cenderung positif. Guru melihat asesmen autentik sebagai metode evaluasi yang menyeluruh terhadap perkembangan anak sesuai dengan konteks nyata. Namun, kendala dalam implementasi, seperti keterbatasan waktu, kurangnya pelatihan, dan minimnya fasilitas pendukung, menjadi tantangan utama. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi guru meliputi pengalaman mengajar, latar belakang pendidikan, dan dukungan institusional. Guru dengan pengalaman lebih banyak dan pendidikan yang relevan lebih mampu memahami dan menerapkan asesmen autentik dengan Selain itu, dukungan dari kepala sekolah, pelatihan yang memadai, serta kolaborasi dengan orang tua dan pemangku kepentingan lainnya menjadi elemen kunci dalam keberhasilan penerapan asesmen autentik. Penelitian ini menegaskan pentingnya asesmen autentik sebagai pendekatan strategis dalam pendidikan holistik, khususnya di PAUD. Dengan asesmen autentik, pembelajaran dapat lebih relevan, bermakna, dan berorientasi pada kebutuhan individual anak. Untuk itu, diperlukan kebijakan pendidikan yang mendukung, pelatihan berkelanjutan bagi guru, serta fasilitas pendukung yang memadai untuk meningkatkan efektivitas asesmen autentik. Temuan ini diharapkan dapat mendorong implementasi asesmen autentik secara luas dan berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan di PAUD. DAFTAR PUSTAKA