Khatulistiwa Nursing Journal (KNJ) Vol. No. Juli, 2025. Hal. p-ISSN: 2655-772X, e-ISSN: 2798-3897. DOI: 10. 53399/knj. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien Kemoterapi Di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang Maryati A. Barimbing1*. Fepyani T. Feoh2. Maria M. Bayo3 Universitas Citra Bangsa. Kupang. Indonesia maryatibarimbing@gmail. com1*, fepyfeoh@gmail. com2, mariamaktildebayo@gmail. Info Artikel ABSTRAK Submit, 25 Mei 2025 Review, 14 Juli 2025 Diterima, 31 Juli 2025 Latar Belakang: Penderita kanker yang mendapatkan kemoterapi akan mengalami berbagai efek samping kemoterapi. Salah satu yang membuat pasien kemoterapi bertahan adalah dukungan Dukungan keluarga diperlukan agar pasien kemoterapi memiliki resiliensi yang tinggi untuk bertahan dan mampu melewati segala proses kemoterapi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan desain korelasi dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 82 responden serta pengumpulan data menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan Kuesioner dukungan keluarga berdasarkan Friedman. Hasil: Hasil analisa data menggunakan uji statistik Spearman-Rho didapatkan p value=0,001 dan r=0,375 artinya ada hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi pasien kemoterapi, dengan kekuatan hubungan sedang dan arah positif artinya semakin baik dukungan keluarga maka semakin tinggi resiliensi pasien kemoterapi. Kesimpulan: Keluarga pasien kemoterapi diharapkan dapat memberikan dukungan dengan cara memberikan informasi, mendengarkan keluhan-keluhan pasien, memberikan dukungan finansial dan ikut merawat pasien serta selalu memberikan pujian kepada pasien agar meningkatkan resiliensi pasien. Kata Kunci: Dukungan keluarga. Kemoterapi. Resiliensi Keywords: Chemotherapy. Family support. Resilience ABSTRACT Background: Cancer patients undergoing chemotherapy will experience many side effects. One factor that hekps patients survive is family support. Family supports is essential for patients to have high resilience to survive and get through all chemotherapy Objective: This study aimed to determine the relationship between family support and the resilience of chemotherapy patients at RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. Method: This research was a quantitative study using a correlation design with a cross-sectional research design. The sampling technique used was purposive sampling with a sample of 82 Data collection used Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) and family support questionnaires by Friedman. Result: Data analysis using the Spearman-Rho statistical test with p value = 0. 001 and r value = 0. 375 means that there is a relationship between family support and the resilience of chemotherapy patients, with the strength of the relationship being moderate and positive direction means that the better the family support, the higher the resilience of chemotherapy patients. Conclusion: Families can provide support by providing information, listening to patient, providing financial support and participating in caring for patients p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 and always appreciation to patients to increase patient resilience. Khatulistiwa Nursing Journal is licensed under A Creative Commons Attribution 4. 0 International License Copyright A2025 STIKes YARSI Pontianak. All rights reserved PENDAHULUAN World Health Organitation (WHO) menyatakan bahwa pada tahun 2020 di seluruh dunia terdapat 19,2 juta kasus kanker baru, terhitung hampir 10 juta kematian pada tahun 2020. Seperti diketahui, kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia dengan jumlah9,6 juta kematian per tahun. Indonesia menurut catatan Globocan pada tahun 2020, kasus baru kanker sebanyak 314 kasus dengan kematian sebesar 234. 511 orang. Berdasarkan data riskesdas 2018, prevalensi penyakit kanker di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018 sebesar 1,49% atau setara dengan 44. 782 kasus. Penyakit kanker masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia dan menjadi penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung dan pembuluh Upaya penatalaksanaan penyakit kanker saat ini dilakukan dengan berbagai cara yaitu pembedahan yang diikuti oleh radioterapi, pengobatan dengan tiga kombinasi yaitu operasi, radiasi dan kemoterapi. Kemoterapi merupakan penanganan preparate antineoplastik sebagai upaya untuk membunuh sel-sel tumor dengan mengganggu fungsi dan reproduksi seluler (Kirana, 2. Rangkaian program kemoterapi yang dilakukan secara kontinyu dapat menimbulkan efek samping fisik dan psikologis pada pasien. Efek samping kemoterapi terhadap masalah fisik yang paling sering adalah mual dan muntah, anoreksia, rambut rontok, kerusakan pada sum-sum tulang, neuropati, gangguan gastrointestinal, lemah dan kerusakan kulit. Kemoterapi juga mempengaruhi kehidupan seksual, aktifitas sehari-hari dan pekerjaan. Selain itu, pasien kemoterapi juga dapat mengalami masalah psikologis seperti menolak kemoterapi berikutnya serta lebih memilih pengobatan alternatif. Kemoterapi biasanya harus 6 siklus yang membutuhkan waktu selama 3-6 bulan dan ada juga 12 siklus. Hal tersebut menyebabkan banyak pasien kemoterapi yang tidak bertahan dalam mengikuti siklus kemoterapi. Salah satu yang membuat pasien kemoterapi bertahan adalah dukungan keluarga seperti selalu mengantarnya ke Rumah Sakit untuk kontrol atau memenuhi jadwal kemoterapi, mendampingi dan memberikan semangat selama menjalani proses kemoterapi. Resiliensi diartikan sebagai kemampuan pasien untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukan dan mampu untuk menentukan suatu hal yang baru, termasuk dalam menghadapi penyakit kanker dan tindakan kemoterapi yang dijalani. Beberapa penelitian terkalit resiliensi pada pasien kanker menunjukan bahwa kebanyakan pasien kanker memiliki resiliensi yang kurang terhadap diagnosis kanker dan kemoterapi yang dijalaninya (Nuwa & Utami, 2. Berdasarkan hasil wawancara 5 orang pasien yang menjalani kemoterapi di RSUD Prof. Johannes Kupang didapatkan bahwa dengan efek samping kemoterapi yang begitu banyak, prosesnya yang panjang dan melelahkan, maka kadang untuk melanjutkan ke kemoterapi berikutnya pasien merasa seperti tidak Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 mampu atau tidak sanggup serta khawatir dan cemas karena keluarga kurang mendukung dalam pengobatan ini. Keluarga lebih memilih untuk menggunakan pengobatan alternatif dibandingkan kemoterapi. Ada juga yang tidak mengantar pasien kontrol atau ke RS untuk memenuhi jadwal kemoterapi. Ulfah. Bakhtiar, and Irma . menyatakan bahwa orang yang resilien dapat kembali normal setelah mengalami trauma karena kemampuan mereka untuk dapat mengatur kondisi kognitif emosional dan biologis mereka yang seimbang. Individu yang tidak memiliki resiliensi sulit beradaptasi dengan perubahan, sulit untuk mengatasi keterpurukan yang terjadi dalam hidupnya, tidak bisa mengambil Pasien kemoterapi yang tidak resilien cenderung tidak mengikuti siklus kemoterapi yang sudah ditentukan akibatnya akan mengalami perkembangan kurang baik pada peyakit kankernya. Kurangnya resiliensi ditandai dengan keengganan melanjutkan kemoterapi karena ketidaksiapan secara fisik maupun psikologis akibat efek kemoterapi, memutuskan tidak melanjutkan pengobatan, sehingga pengobatan menjadi tidak tuntas dan keganasan muncul kembali dengan metastasis yang lebih luas yang menyebabkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas (Nurwahyuni, 2. Dilihat dari efek samping dari kemoterapi yang begitu banyak dan prosesnya yang panjang, maka perlu adanya dukungan keluarga agar pasien tersebut dapat bertahan dan mampu melewati segala proses kemoterapi. Dukungan keluarga merupakan suatu support system terbesar yang diperlukan oleh pasien kemoterapi. Semakin tinggi resiliensi seseorang pasien yang menjalani kemoterapi maka kualitas hidupnya semakin meningkat. Sebaliknya semakin rendah resiliensi, maka semakin rendah pula kualitas hidupnya (Afifah, 2. Hal yang dibutuhkan oleh pasien kemoterapi adalah dukungan keluarga berupa dukungan emosional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan informasi. Dukungan keluarga sangat mempengaruhi individu, karena dukungan ini bersifat apa adanya dan memiliki norma yang berlaku tentang kapan sebuah dukungan akan diberikan. Sumber dukungan dapat berupa afeksi, persetujuan, kepemilikan dan keamanan yang dapat melalui orang lain. Pasien kanker sangat membutuhkan dukungan keluarga sehingga kualitas dan cara pandang pasien kanker terhadap kehidupan akan lebih baik serta dapat bertahan dalam situasi yang sulit selama menjalani pengobatan kanker yakni kemoterapi (Merlitha & Oktaviana, 2. Pasien kanker sangat membutuhkan dukungan keluarga sehingga kualitas dan cara pandang pasien kanker terhadap kehidupan akan lebih baik serta dapat bertahan dalam situasi yang sulit selama menjalani kemoterapi. Proses kemoterapi sangatlah tidak mudah bagi seorang pasien kanker. Oleh karena sangat penting dukungan keluarga untuk resiliensi pasien kemoterapi maka perlu adanya tindakan dari kita sebagai perawat seperti melakukan edukasi kepada keluarga pasien tentang pentingnya kemoterapi sehingga keluarga bisa mendukung pasien bertahan dan bisa menyelesaikan siklus kemoterapinya (Komariah. Adriani. Indrayani, & Gartika. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 METODE Desain penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian analitik korelasi dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. Peneliti menggunakan rancangan cross sectional karena peneliti mengukur variabel independen (Dukungan keluarg. dan variabel dependen (Resiliensi pasien kemoterap. dalam waktu yang bersamaan. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah 103 pasien yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien yang sudah menjalani kemoterapi sudah lebih dari 1 kali siklus, bersedia menjadi responden, pasien yang bisa membaca dan menulis. Kriteria eksklusi yaitu Pasien kemoterapi yang sudah mencapai siklus ke 5 atau siklus ke 11 selama proses Perhitungan besar sampel menggunakan rumus slovin (Majdina. Pratikno, & Tripena, 2. dan didapatkan sampel berjumlah 82 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel Variabel independen dalam penelitian ini adalah dukungan keluarga dan variabel dependen adalah resiliensi pasien kemoterapi. Instrumen Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan kuesioner dari masing-masing variabel. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari tiga bagian Data demografi responden Kuesioner ini meliputi nama . , umur, agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan keluarga, sumber pembiayaan, diagnosa medis, stadium kanker, jumlah siklus kemoterapi yang sudah dijalani, ada metastase atau tidak, ada pengobatan lain selain kemoterapi atau tidak. Dukungan Keluarga. Kuesioner diadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Aryani . Kuesioner dukungan keluarga terdiri dari 16 butir pernyataan yang terdiri dari nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16 dan semuanya adalah pernyataan positif. Pernyataan nomor 1-4 mengacu pada parameter dukungan informasional, pernyataan 5-8 mengacu pada parameter dukungan emosional, pernyataan nomor 9-12 mengacu pada parameter dukungan instrumental, pernyataan nomor 13-16 mengacu pada parameter dukungan penghargaan. Kuesioner ini telah diuji validitas dengan rentang 0,670-0,945. Semua r dihitung Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 > r tabel . dan dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas kuesioner dukungan keluarga nilai Cronbach Alpha 0,962 yang berarti reliabel. Resiliensi pasien kemoterapi Resiliensi diukur dengan menggunakan instrument Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang terdiri dari 25 penyataan. Kuesioner ini diambil dari penelitian Aryani . yang terdiri dari 25 pernyataan. Pernyataan nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25 adalah pernyataan positif, sedangkan pernyataan nomor 9 dan nomor 22 adalah pernyataan negatif. Pernyataan nomor 1, 2, 3, 4, 5 mengacu pada parameter meaningfulness, pernyataan nomor 6, 7, 8, 9, 10 mengacu pada parameter equanimity, pernyataan nomor 11, 12, 13, 14, 15 mengacu pada parameter perseverance, pernyataan nomor 16, 17, 18, 19, 20 mengacu pada parameter self-reliance, pernyataan nomor 21, 22, 23, 24, 25 mengacu pada parameter existential aloneness. Kuesioner ini telah diuji validitasnya dengan semua r dihitung > r tabel dengan nilai r hitung 0,679-0,89. Hajil uji reliabilitas resiliensi dengan nilai Cronbach Alpha 0,870 yang berarti sangat reliabel. Pengumpulan Data Pengambilan data dilakukan setelah proses administrasi selesai dan dinyatakan layak untuk melakukan penelitian dan mendapatkan ijin dari direktur RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang serta kepala ruangan yang merawat pasien yang menjalani kemoterapi yaitu Ruangan Mutis. Ruangan Bougenville 1. Ruangan Bougenville 2. Ruangan Asoka. Ruangan Cempaka. Ruangan Kelimutu. Ruangan Edelweis. Berikut langkah-langkah selama proses pengambilan data: Peneliti menentukan responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Setelah responden ditentukan, peneliti memberikan penjelasan kepada responden terkait penelitian yang dilakukan meliputi penelitian yang akan dilakukan, tujuan dan manfaat penelitian. Responden kemudian diberikan informed consent sebagai tanda bersedianya responden untuk mengikuti penelitian. Setelah responden bersedia, selanjutnya peneliti membagikan kuesioner penelitian satu persatu kepada responden. Pada saat penelitian, ada beberapa responden yang bertanya terkait maksud pertanyaan dari penelitian sehingga peneliti perlu mendampingi, namun responden yang sedang menjalani kemoterapi, peneliti membantu dalam pengisian kuesioner sesuai jawaban dari Kemudian peneliti menunggu sampai kuesioner diisi lengkap. Setelah responden mengisi kuesioner, peneliti kemudian mengecek kembali kuesioner, kuesioner yang sudah lengkap terisi kemudian peneliti kumpulkan dan selanjutnya masuk pada proses pengolahan data. Analisa Data Pengelolaan data pada penelitian ini berdasarkan langkah-langkah editing, coding, scoring, tabulating. Analisa data menggunakan bantuan SPSS versi 22. Analisa Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel peneliti. Bentuk analisa univariat di dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel yaitu dukungan keluarga dan resiliensi pasien kemoterapi. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Korelasi Spearman Rank (Rh. Uji ini digunakan untuk mengukur tingkat atau eratnya hubungan antara dua variabel yang berskala ordinal. Dalam penelitian ini menguji hipotesis untuk menentukan hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD prof. Dr. Johannes Kupang. Aturan pembacaan hasil uji spearman: Nilai signifikan/p-value = ada hubungan jika pvalue O0,05 dan tidak ada hubungan jika p-value >0,05. Kelayakan Etik Penelitian ini telah mendapat persetujuan komite etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Citra Bangsa dengan nomor etik 048/EC/KEPK/FK/2023. HASIL Tabel 1 Data Demografi responden di RSUD Prof. DR. Johannes Kupang . Data Demografi Usia Status Perkawinan Pekerjaan Kategori Frekuensi Presentase (%) >65 Total Kawin Tidak kawin Janda/Duda Total Petani PNS Pegawai Swasta IRT Tidak Bekerja Total SLTP SLTA Total Stadium 1 Stadium 2 Stadium 3 Stadium 4 Total Pendidikan Stadium Kanker Sumber: Data Primer, 2023 Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 Berdasarkan tablel di atas didapatkan paling banyak responden berusia 36-45 tahun yaitu 28 orang . 2%), mayoritas responden sudah kawin yaitu 62 orang . ,6%), paling banyak responden adalah ibu rumah tangga berjumlah 33 orang . 2%), Tingkat pendidikan responden paling banyak adalah perguruan tinggi yaitu 31 orang . 8%), paling banyak responden berada pada stadium 2 yaitu 40 orang . 8%). Tabel 2 Distrbusi frekuensi responden berdasarkan dukungan keluarga di RSUD Prof. DR. Johannes Kupang . Dukungan Keluarga Baik Cukup Kurang Total Sumber: Data Primer, 2023 Frekuensi Presentase (%) Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa paling banyak responden memperoleh dukungan keluarga yang baik sebanyak 73 orang . ,0%), dan yang paling sedikit responden mendapatkan dukungan keluarga yang kurang sebanyak 1 orang . ,2%). Tabel 3 Distrbusi frekuensi responden berdasarkan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. DR. Johannes Kupang . Resiliensi Frekuensi Tinggi Cukup Rendah Total Sumber: Data Primer, 2023 Presentase (%) Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa paling banyak responden yang memiliki tingkat resiliensi tinggi sebanyak 73 orang . ,0%), dan yang paling sedikit responden memiliki tingkat resiliensi cukup sebanyak 9 orang . ,0%). Tabel 4 Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien Kemoterapi di RSUD Prof. DR. Johannes Kupang Dukungan Resiliensi Total (N) Keluarga Tinggi Cukup Baik 001 0,370 Cukup Kurang Sumber: Data Primer, 2023 Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa dari 73 orang yang memiliki dukungan keluarga baik, 68 orang di antaranya memiliki resiliensi tinggi sedangkan 5 orang lainya memiliki resiliensi cukup. Dari 8 orang yang memiliki dukungan keluarga cukup, 4 orang di antaranya memiliki resiliensi tinggi sedangkan 4 orang lainnya memiliki resiliensi cukup, sedangkan 1 orang yang memiliki dukungan keluarga yang kurang memiliki resiliensi yang tinggi. Hasil uji statistik menggunakan uji spearman rho diperoleh p value=0,001 . <0,. sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, artinya dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. DR. Johannes Kupang. Koefisien korelasi . didapatkan 0,370 dengan arah positif artinya dukungan keluarga dan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. DR. Johannes Kupang memiliki hubungan sedang. Semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin tinggi pula resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. DR. Johannes Kupang. PEMBAHASAN Nira . menyatakan bahwa dukungan keluarga merupakan salah satu bagian dari dukungan sosial yang terdiri dari dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan penghargaan atau penilaian serta dukungan informatif. Keluarga dapat membantu anggota keluarga mereka yang sakit mencapai kondisi yang lebih baik secara fisik maupun psikologis. Dukungan keluarga yang positif dapat diberikan berupa pemenuhan kebutuhan informasi yang dibutuhkan pasien, dukungan emosional berupa motivasi terhadap apa yang dialami oleh pasien, memberikan dukungan instrumental yang meliputi pemenuhan kebutuhan dan peralatan yang dibutuhkan pasien, serta memberikan dukungan penghargaan terhadap pencapaian pasien dalam menjalani dan kemajuannya menghadapi sebuah Adanya dukungan keluarga dapat membantu pasien dalam melakukan aktivitasnya berkaitan dengan masalah yang dihadapi, pasien merasa dicintai, dapat berbagi beban, mengekspresikan perasaan secara terbuka serta dapat membantu pasien dalam berbagai permasalahan yang terjadi. Adanya dukungan keluarga akan berdampak pada rasa percaya diri pasien dalam menghadapi proses pengobatan penyakitnya (Sudiyanti & Sulastri, 2. Dengan mendapatkan dukungan dari keluarga, maka resiliensi pasien kemoterapi akan tinggi sehingga dapat melewati siklus kemoterapinya. Sejalan dengan pendapat Fransisca and Adhisty . bahwa dukungan keluarga sangat penting dalam memotivasi pasien dalam menjalankan kemoterapi dan seluruh responden yang mendapat dukungan keluarga yang baik memiliki resiliensi yang Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nira . bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan resiliensi penderita kanker payudara dalam menjalani kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang dengan hasil p= 0,000 < a 0,05, artinya ada hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi penderita kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang serta menunjukan tingkat korelasi yang kuat . = 0,. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 dan korelasi positif yang menunjukan hubungan antara kedua variabel yang searah, dengan kata lain semakin baik dukungan keluarga yang diterima seseorang, maka resiliensi akan semakin tinggi. Dukungan keluarga yang didapat berupa penghargaan, keberadaan dan motivasi dapat membantu kondisi psikologis responden untuk tetap semangat dalam menjalani kemoterapi. Seluruh responden yang mendapat dukungan keluarga yang baik memiliki resiliensi yang tinggi. Peneliti berpendapat bahwa dukungan keluarga penting untuk diberikan pada pasien kemoterapi agar resiliensinya meningkat sehingga segala proses dan pengobatan kemoterapi dapat dijalani sampai tuntas. Hal ini dikarenakan efek kemoterapi yang sangat tidak menyenangkan dan proses kemoterapi yang panjang. Di samping itu pula, keluarga merupakan support system terbesar dalam terwujudnya kesehatan yang baik bagi pasien terutama pasien kemoterapi. Dukungan keluarga yang diberikan berupa dukungan informasional seperti mencari informasi tentang kemoterapi di internet atau buku, dukungan emosional terhadap pasien seperti keluarga mampu memberikan rasa nyaman, merasa diperhatikan dan dicintai, memberikan bantuan dalam bentuk semangat daan perhatian sehingga pasien merasa berharga. Selain itu dukungan yang diberikan keluarga juga berupa dukungan instrumental seperti memberikan biaya pengobatan dan transportasi ke rumah sakit. Selain itu juga dukungan keluarga yang diberikan berupa dukungan penilaian seperti memberikan penilaian yang positif terhadap capaian pasien dalam mengatasi efek kemoterapi, mendengarkan keluhan-keluhan terkait efek samping Diharapkan para perawat dan tenaga kesehatan di ruangan kemoterapi dan ruangan-ruangan yang merawat pasien kemoterapi untuk selalu memberikan edukasi dan informasi kepada pasien dan keluarga pasien tentang kanker dan pentingnya kemoterapi serta pentingnya dukungan keluarga dan resiliensi bagi pasien kanker. Diharapkan pasien kemoterapi tetap memiliki resiliensi yang tinggi dalam menjalani setiap proses dan siklus kemoterapi sehingga dapat memberikan hasil yang baik pada tingkat kesembuhan pasien kanker. Untuk keluarga pasien kemoterapi diharapkan dapat memberikan dukungan yang baik dan mempertahankan dukungan yang sudah diberikan kepada pasien kemoterapi dengan cara memberikan informasi terkait kanker dan pengobatan kemoterapi, mendengarkan keluhan-keluhan pasien terkait efek samping kemoterapi, mengantarkan pasien ke rumah sakit dan memberikan biaya serta transportasi untuk pengobatan dan kemoterapi, ikut merawat pasien serta selalu memberikan pujian kepada pasien. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pasien kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang mendapatkan dukungan keluarga yang baik memiliki tingkat resiliensi yang tinggi. Ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan resiliensi pasien Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien KemoterapiA(Barimbin. p-ISSN: 2655-772X e-ISSN: 2798-3897 kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. Semakin baik dukungan keluarga yang diterima seseorang, maka resiliensi akan semakin tinggi. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung, membantu, memberikan masukan dan saran selama proses penelitian. Terimakasih kepada Universitas Citra Bangsa dan RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. REFERENSI