Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 Available online at: http://e-jurnal. org/index. php/JSMI Jurnal Sistem dan Manajemen Industri ISSN (Prin. 2580-2887 ISSN (Onlin. 2580-2895 Optimalisasi Proses Produksi Celana Panjang Melalui Pendekatan Six Sigma Ali Subhan* Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik. Universitas Suryakancana. Jl. Pasirgede Raya. Bojongherang. Cianjur. Bojongherang. Kec. Cianjur. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat 43216 Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A K Article history: PT. Tainan Enterprises Indonesia cabang Cianjur memproduksi berbagai jenis produk garmen. Salah satu produk yang paling banyak adalah celana Produk yang dihasilkan masih terdapat banyak cacat. Hal ini terlihat dari jumlah produk cacat selama bulan Februari 2015 sampai pertengahan Maret 2015 yang mencapai 509 unit produk dari 10. 138 celana panjang yang Oleh karena itu diperlukan pengendalian kualitas yang tepat untuk mengoptimalkan kualitas produk celana panjang. Metoda penelitian ini menggunakan pendekatan Six Sigma dengan siklus DMAIC (Define. Measure. Analyze. Improvement. Contro. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis cacat produk yang dominan adalah cacat belt loop miring dan cacat jahitan loncat. Faktor-faktor penyebab cacat belt loop miring bersumber dari faktor manusia . perator tidak mengikuti pola dan operator mengalami kelelaha. , faktor mesin . mur mesin sudah tua dan setting mesin kurang sempurn. , faktor material . ahan jarum jahit yang kurang handal dan bahan perlu pemanasan yang tingg. , dan faktor metoda . nformasi mengenai metoda kerja yang masih kuran. Sedangkan faktor-faktor penyebab cacat jahitan loncat bersumber dari faktor manusia . perator kurang teliti dalam memilih jarum jahit dan operator mengalami kelelaha. , faktor mesin . mur mesin yang sudah tua dan tidak ada perawatan mesin secara ruti. , faktor material . ahan jarum jahit kurang handa. , dan faktor metoda . engawasan produksi dan quality control masih lema. Peningkatan kualitas mampu meningkatkan nilai Six sigma dari 3,82 menjadi 4,27. Received: March 03, 2018 Revised: July 20, 2018 Accepted: July 23, 2018 Kata Kunci: Cacat Belt Loop Miring Cacat Jahitan Loncat Kualitas Six Sigma A B S T R A C T Keywords: Oblique Belt Loop Defects Quality Increasing Six Sigma Skid Jump Defects *Corresponding Author Ali Subhan E-mail: alisubhan72@yahoo. PT. Tainan Enterprises Indonesia branch of Cianjur produce various kinds of garment products. One of the most widely product is trousers. The product are still many defects. This is showed from the number of defective products during February 2015 until mid- March 2015 which reached 509 products unit 138 trousers produced. Therefore, appropriate quality control is required to optimize the quality of trousers products. This research method uses Six Sigma approach with DMAIC cycle (Define. Measure. Analyze. Improvement. Contro. Based on the results of the research is known the most dominant type of defect is oblique belt loop and skid jump defects. Factors causing of oblique belt loop defects are sourced from human factors . perator does not follow signs and operators are fatigu. , engine factor . ld machine age and engine setting less than perfec. , material factor . eedle material less reliable and materials need to be heating which is hig. , and the method factor . nformation on working methods is still lackin. While the factors causing of skid jump defects are sourced from human factors . perator is less careful in choosing to sewing needles and operators experience fatigu. , machine factor . ld machine age and no regular machine maintenanc. , material factor . eedle less reliable sewin. , and method factors . roduction supervision and quality control are still wea. Quality Increasing could be can increase the value of Six sigma from 3. 82 to 4. A 2018 Penerbit UNSERA. All rights reserved Ali Subhan DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 PENDAHULUAN PT. Tainan Enterprises Indonesia cabang Cianjur memproduksi berbagai jenis produk garmen antara lain celana panjang, celana pendek, rok, dan kemeja. Dari keempat jenis produk tersebut, celana panjang merupakan produk yang paling banyak permintaannya. Ada beberapa buyer dari luar negeri yang telah menjadi pelanggan tetap perusahaan antara lain perusahaan Anntaylor. Express. Lativ, dan Talbots. Proses pembuatan celana panjang menggunakan line production system yang menimbulkan banyak kendala produksi ketika terjadi kegagalan dalam satu statsiun kerja karena akan mempengaruhi terhadap statsiun kerja lainnya. Selama bulan Januari 2015, pada produksi line 1 terdapat 223 unit produk cacat dari 5. 200 produk celana panjang yang diproduksi. Sedangkan pada produksi line 3 terdapat 154 unit produk cacat dari 1509 produk celana panjang yang Pada penelitian yang dilakukan pada bulan Februari sampai pertengahan Maret 2015, 138 produk celana panjang untuk Buyer Anntaylor terdapat 509 unit celana panjang yang mengalami kecacatan. Dari hasil pengumpulan data diperoleh informasi awal bahwa pada proses produksi celana panjang terdapat beberapa jenis cacat antara lain cacat bobok . aku belakan. , jahitan loncat . ahitan tidak rata sehingga hasil jahitannya menjadi jaran. , bentuk waistband tidak lurus . inggi renda. , posisi belt loop tidak sama . , dan zipper . Rata-rata prosentase cacat pada produk celana panjang lebih dari 5 %. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi perusahaan ditengah persaingan usaha yang semakin ketat. Sejauh ini perusahaan belum memiliki metode yang tepat dalam mengendalikan kualitas Besarnya prosentase cacat produk sangat variatif antara satu periode dengan periode yang lainnya, juga diantara line production yang satu dengan yang lainnya. Cacat produk lebih banyak diketahui dari barang yang dikembalikan buyer . arang retur. Hal ini akan berdampak pada peningkatan biaya produksi yang disebabkan karena banyaknya jumlah cacat dan memungkinkan hilangnya pelanggan. Selain itu perusahaan harus mengetahui sejauh mana . rocess sehingga perusahaan bisa menetapkan batas mengendalikan tingkat kecacatan yang ada. DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Berdasarkan seharusnya perusahaan menerapkan model mengoptimalkan proses produksi khususnya pada proses produksi celana panjang. Six Sigma sebagai salah satu metode yang paling populer merupakan salah satu alternatif dalam prinsipprinsip pengendalian kualitas yang merupakan terobosan dalam bidang manajemen kualitas . Six Sigma dapat dijadikan ukuran kinerja sistem melakukan peningkatan yang luar biasa dengan terobosan strategi yang aktual. Penggunaan Six Sigma secara konsisten mampu menurunkan cacat produk yang terjadi pada proses produksi . Ae. Komitmen dan keterlibatan manajemen mempunyai peranan yang sangat besar bagi suksesnya penerapan metode Six Sigma . Pengendalian kualitas dengan pendekatan metode Six Sigma diharapkam dapat menurunkan persentase produk cacat dan perusahaan mampu bersaing dengan adanya penghematan pada biaya yang disebabkan oleh cacat produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab cacat yang terjadi pada produk celana panjang dan melakukan perbaikan untuk mengurangi cacat produksi yang terjadi. Perbaikan penggunaan Six Sigma dalam menurunkan cacat produk celana panjang. METODE PENELITIAN Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi lapangan. Wawancara dilakukan terhadap direktur perusahaan, manajer produksi, bagian quality control, supervisor dan dan 3 orang operator. Observasi lapangan dilakukan dengan cara mencatat data jumlah produk dan jumlah cacat produksi yang diproduksi dalam kurun waktu tertentu, serta dilakukan pengamatan langsung pada proses produksi yang dilakukan di perusahaan. Pengamatan hanya dilakukan pada proses produksi celana panjang antara bulan Februari sampai dengan pertengahan Maret 2015. Adapun populasi yang diamati dalam penelitian ini adalah produk-produk celana panjang yang dijual kepada Anntylor yang ditemukan mengalami cacat dan tersimpan datanya pada bagian Quality Control. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Six Sigma dengan tahapan proses analisis yaitu Define. Measure. Analyze. Improvement, and Control (DMAIC). Ali Subhan Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 Define (Definis. Tahap ini diawali dengan mendefinisikan masalah-masalah mendefinisikan penyebab-penyebab cacat yang paling potensial . ritical to qualit. , perumusan masalah, dan penetapan tujuan peningkatan Proposi cacat akan menjadi dasar dalam menetapkan tujuan peningkatan kualitas produk celana panjang. dalam menghasilkan produk celana panjang. CTQ dalam penelitian ini terdapat 5 jenis yaitu cacat bobok . aku belakan. , jahitan loncat . ahitan tidak rata sehingga hasil jahitannya menjadi jaran. , bentuk waistband tidak lurus . inggi renda. , posisi belt loop tidak sama . , dan zipper . UCL : Upper Control Limit LCL : Lower Control Limit : rata-rata proporsi kecacatan : jumlah sampel Menganalisis Defect Per Milion Opportunitas (DPMO) perusahaan dan tingkat sigma. Measure (Pengukura. Measure merupakan tahapan pengukuran kinerja saat ini sebagai dasar untuk menganalisa kinerja berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan . Pengukuran dilakukan melalui 2 tahapan analisis dengan melakukan pengambilan sampel produk sebagai berikut : Analisis Peta Kontrol P ( P-Char. Peta kontrol P digunakan untuk atribut yaitu pada sifat-sifat barang yang didasarkan atas proporsi jumlah suatu kejadian seperti diterima atau ditolak akibat proses produksi. Peta Kontrol P dapat membantu pengendalian kualitas produk dan memberi informasi kualitas produk mengenai masih dalam batas kontrol atau ada yang di luar kendali sehingga memerlukan langkah perbaikan . Peta kontrol ini dapat disusun dengan langkah sebagai berikut : Pengambilan populasi dan sampel Populasi yang diambil untuk analisis P-Chart adalah jumlah produk yang dihasilkan dalam kegiatan produksi pada perusahaan. Pemeriksaan menghitung nilai mean. Rumus mencari nilai Oc n : jumlah sampel np : jumlah kecacatan p : rata-rata proporsi kecacatan Analyze (Analisi. Mengidentifikasi penyebab masalah kualitas dengan menggunakan : Diagram Pareto Diagram pareto ini akan membantu untuk memfokuskan pada masalah kerusakan produk yang lebih sering terjadi, yang mengisyaratkan apabila ditangani akan memberikan manfaat yang besar. Pembuatan diagram pareto diawali dengan pembuatan tabel kumulatif cacat produk yang terjadi . Diagram Sebab-akibat Diagram sebab-akibat adalah sebuah alat yang permasalahan kualitas atau penyebab yang mungkin memberikan dampak pada hasil . Diagram ini digunakan sebagai pedoman teknis dari fungsi-fungsi operasional proses produksi untuk memaksimalkan nilai-nilai kesuksesan tingkat kualitas produk sebuah perusahaan pada waktu bersamaan dengan memperkecil risikorisiko kegagalan. Diagram sebab akibat sebagai dasar pertimbangan untuk melakukan perbaikan yang akan dilakukan. Improvement (Perbaika. Menentukan menetapkan nilai UCL (Upper Control Limit/ batas spesifikasi ata. dan LCL (Lower Control Limit/batas spesifikasi bawa. Improvement merupakan tahap peningkatan performance Sigma dengan cara menganalisa dan melakukan tindakan perbaikan untuk mengurangi kemungkinan cacat produk yang terjadi . , . Improve sebagai solusi yang dirancang sebagai respons terhadap penyebab yang telah teridentifikasi pada tahap analyze . Ali Subhan DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 Control (Pengendalia. Control merupakan tahap peningkatan kualitas dengan memastikan level baru kinerja dalam kondisi standar dan terjaga nilai peningkatannya yang kemudian didokumentasikan sebagai langkah perbaikan untuk kinerja proses Pada membandingkan nilai sigma sebelum dan sesudah perbaikan sebagai dasar evaluasi pengaruh perbaikan yang telah dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data produksi dan data cacat selama bulan Februari sampai pertengahan Maret 2015. Penelitian ini hanya menfokuskan proses produksi celana panjang untuk Buyer Anntaylor. Pengolahan menggunakan tahapan DMAIC Six Sigma. dipasang pada produk celana panjang baru diketahui cacat Measure (Pengukura. Jenis cacat pada produk akhir celana panjang adalah cacat produk tipe atribut. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data proporsi cacat dengan jumlah sample yang tidak Berdasarkan data yang diperoleh maka peta kendali P sesuai untuk mengetahui proses produksi celana panjang masih terkendali secara statistik atau tidak. Berdasarkan hasil pengamatan jumlah produk cacat dari produk-produk yang dijual kepada Buyer Anntaylor selama bulan Februari sampai dengan pertengahan Maret 2015 dapat diperlihatkan peta kontrol p di bawah ini. Peta kendali P Bulan Februari sampai Pertengahan Maret UCL=0,1009 0,10 Define (Definis. Cacat bobok . aku/kantong belakan. terjadi bobok/kantong belakang operator tidak mengikuti pola dan saat proses menjahit berlangsung kain bobok/kantong kanan dan kiri menjadi tidak sama Cacat jahitan loncat . asil jahitan jaran. disebabkan karena ukuran jarum salah, jarum tumpul, dan kurang pelumasan pada mesin jahit, sehingga hasil jahitan menjadi jarang dan tidak memenuhi standar. Cacat bentuk waistband tidak lurus terjadi karena pada saat menjahit ujung waistband operator tidak mengikuti gambar dan saat memasang zipper tidak mengikuti pola sehingga bentuk waistband tidak lurus. Cacat posisi belt loop miring terjadi karena pada saat pemasangan belt loop ke waistband operator tidak mengikuti pola yang sudah ada sehingga menjadi miring dan harus di jahit Cacat zipper macet terjadi karena sebelum dipasang pada celana zipper tidak di periksa terlebih dahulu sehingga setelah DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Proportion 0,08 Berdasarkan hasil pengamatan terdapat lima penyebab cacat paling potensial . ritical to qualit. dalam menghasilkan produk akhir celana panjang, yaitu cacat bobok . aku/kantong belakan. , cacat jahitan loncat . asil jahitan jaran. , cacat bentuk waistband tidak lurus, cacat posisi belt loop tidak sama . , dan cacat zipper macet. 0,06 P=0,0502 0,04 0,02 0,00 LCL=0 Sample Tests performed with unequal sample sizes Gambar 1. Peta Kontrol P Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui proses produksi celana panjang yang dijual ke buyer Anntaylor tidak ada yang keluar dari batas atas atau batas bawah peta kontrol yang ada. Dengan demikian, proses produksi untuk buyer Anntaylor telah terkendali secara statistik dan bisa dilanjutkan ke pengukuran Defect Per Milion Opportunitas (DPMO) dan Tingkat Sigma. Dari Tabel 1 diketahui nilai Sigma untuk proses produksi celana panjang yang dijual ke Buyer Anntaylor selama bulan Febuari pertengahan Maret rata-rata 3,83 dengan nilai DPMO 9825. Nilai tersebut jika dikonversikan ke indeks kapabilitas proses . ,83/. yang berarti proses produksi sudah stabil tetapi menghasilkan produk sesuai dengan keinginan pelanggan . Cacat yang terjadi bila tidak ditangani dengan baik mengakibatkan semakin banyak produk cacat dalam proses produksi. Ali Subhan Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 Tabel 1. Perhitungan Nilai Sigma Celana Panjang untuk Buyer Anntaylor Bulan Februari Maret Tanggal Jumlah Produksi Jumlah Cacat CTQ DPMO 10,653 9,404 9,317 Nilai Sigma 3,78 3,83 3,79 3,79 3,78 3,76 3,84 3,84 3,81 3,85 3,78 3,84 3,78 3,91 3,78 3,91 3,85 3,84 3,84 3,85 3,86 3,78 3,80 3,83 3,83 3,86 3,87 3,79 3,84 3,78 3,86 3,85 3,89 3,89 3,76 Rata-rata Nilai Sigma 3,83 Analyze (Analisi. Proses analisis untuk mengetahui penyebab cacat produk celana panjang menggunakan diagram pareto dan diagram sebab akibat. Analisis diagram pareto dan penyebab cacat yang terjadi melibatkan banyak personil mulai dari operator, supervisor, manajer produksi dan manajer yang khusus menangani pengendalian kualitas untuk terjun langsung di lapangan. Hasil pengamatan yang dilakukan pada produk yang dijual kepada buyer Anntaylor menunjukan bahwa selama bulan Februari sampai dengan pertengahan Maret 2015 diketahui dari lima jenis cacat produk yang ada . elt loop miring, jahitan loncat, waistband tidak lurus, cacat bobok dan zipper mace. terdapat dua jenis cacat produk yang paling dominan yaitu cacat belt loop miring dan jahitan loncat sebanyak 129 pcs celana Ali Subhan DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 Analisis penyebab masalah difokuskan pada penyebab cacat belt loop miring dan jahitan loncat dikarenakan kedua jenis cacat ini mempunyai jumlah yang sama selama penelitian Penanganan ini diharapkan mampu mengurangi cacat yang terjadi pada proses produksi celana panjang sehingga mampu meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Percent Cum % Belt Loop Miring Jahitan loncat Waistband Bobok Zipper Macet Percent Pareto Chart Cacat Produksi Celana Panjang Gambar 2. Analisis Diagram Pareto Pemasangan menyebabkan belt loop menjadi miring, sehingga produk akhir yang dihasilkan masuk kedalam kriteria cacat. Berdasarkan analisis cause and effect diagram diketahui beberapa faktor penyebab terjadinya kecacatan belt loop miring pada produk celana panjang, yaitu : Faktor manusia Operator tidak mengikuti tanda atau pola pada waistband, hal ini dapat di sebabkan karena operator kurang Operator mengalami kelelahan sehingga konsentrasinya menurun saat bekerja yang menyebabkan belt loop miring tidak sesuai bentuknya. Faktor mesin Banyaknya jumlah produk yang harus perubahan setting mesin. Selain itu jam kerja mesin yang cukup padat berakibat kepada semakin menurunnya usia teknis mesin sehingga membutuhkan sistem perawatan yang optimal untuk menjaga kondisi mesin agar tetap layak digunakan. Proses setting mesin yang tidak tepat berakibat terjadinya kerusakan mesin yang semakin tinggi sehingga berdampak DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. pada peningkatan jumlah cacat produk. Faktor material Operator kurang teliti dalam mengambil dan menggunakan jarum jahit. Kurangnya penguapan . dapat menyebabkan belt loop melintir, hal ini dapat disebabkan teknisi . agian mesin setrik. tidak memeriksa batas panas yang dibutuhkan. Faktor metode Kurangnya informasi terhadap operator akan menyebabkan adanya salah paham, dalam arti informasi yang diterima operator tidak sesuai dengan yang seharusnya. Jahitan loncat merupakan salah satu jenis kecacatan pada produk celana panjang. Berdasarkan analisis cause and effect diagram diketahui beberapa faktor penyebab terjadinya kecacatan jahitan loncat pada produk celana panjang, yaitu : Faktor manusia Operator kurang teliti dalam pemilihan jarum sehingga jarum tidak sesuai dengan mesin yang akan digunakan. Salah memasang jarum dapat disebabkan karena operator yang kelelahan dalam bekerja sehingga produk yang dihasilkan tidak sesuai ketentuan perusahaan. Faktor mesin Umur mesin yang sudah tua atau melampaui batas pemakaian dapat menghentikan proses produksi, karena mesin mengalami kerusakan sehingga hasil produksi menjadi kurang baik. Sebelum perlengkapan dan kesiapan mesin. Seperti memeriksa sepatu mesin, oli mesin karena apabila mesin sampai macet maka akan berdampak pada operator lain yang dapat memperlambat laju produksi. Faktor material Pemasangan jarum yang salah dapat menyebabkan jahitan loncat sehingga menjadi produk cacat . Keteledoran sepatu pada bahan/kain. Faktor metode Pengawasan tidak menyeluruh yang dilakukan oleh bagian QC (Quality Contro. pada setiap dapat menyebabkan celana Ali Subhan Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 yang di produksi tidak memenuhi standar perusahaan yang telah ditentukan. Improvement (Perbaika. Tahap peningkatan kualitas dengan pendekatan Six Sigma. Setelah diketahui penyebab-penyebab dari masing-masing jenis cacat produk yang paling dominan. Selanjutnya disusun suatu rekomendasi atau usulan tindakan perbaikan secara umum dalam upaya menekan jumlah cacat produk sesuai analisa yang telah dilakukan pada tahapan analyze. Tabel 2 menunjukkan upaya perbaikan kualitas yang telah dilakukan oleh perusahaan akhir bulan Maret 2015 dalam rangka mengurangi cacat belt loop miring. Langkah yang dilakukan antara lain menempatkan operator yang sesuai dengan kompetensinya, pemeriksaan mesin secara berkala, dan memperbaiki sistem informasi sehingga operator paham dengan informasi pekerjaan yang ada. Sedangkan Tabel 3 menunjukan upaya perbaikan kualitas yang telah dilakukan oleh perusahaan akhir bulan Maret 2015 dalam rangka mengurangi cacat jahitan loncat dengan cara pemberian training kembali mengenai prosedur dan tata kerja yang ada untuk menyamakan standar operasional kerja, pemeriksaan secara berkala terhadap peralatan yang digunakan, dan memaksimalkan peran QC selama proses sehingga potensi cacat dapat diketahui secara dini. Tabel 2. Proses Improvement Cacat Belt Loop Miring Unsur Manusia Faktor Penyebab Standar Normal Usulan Tindakan Perbaikan Operator tidak mengikuti Mengikuti tanda yang Memberikan pelatihan kepada tanda yang sudah ada sudah ada operator yang kurang terampil Operator memasang belt Belt loop terpasang rapi Menukar operator yang belum loop miring tidak miring terampil dengan operator yang sudah mahir agar produksi tidak Mesin Jumlah produksi yang Jumlah produksi sesuai Memeriksa jumlah produksi agar melebihi batas kapasitas kapasitas mesin tidak melebihi kapasitas mesin dan secara berkala Setting Material kurang Setting mesin tidak Memeriksa mesin ketika akan digunakan agar setting mesin tidak Kurangnya uap panas Uap panas memenuhi Mengecek yang dihasilkan, sehingga standar yang ditetapkan mesin uapnya, agar menghasilkan hasilnya tidak sesuai uap yang memenuhi ketentuan Tidak adanya Jarum memiliki Operator memeriksa jarum yang khusus ketajaman yang sesuai akan digunakan jarum yang digunakan Metode Ali Subhan Informasi yang buruk Informasi yang diberikan Membuat dengan menggunakan dapat diterima operator gambar/pola yang jelas dan mudah dimengerti oleh operator DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 Tabel 3. Proses Improvement Cacat Jahitan Loncat Unsur Manusia Mesin Material Faktor Penyebab Standar Normal Tidak informasi Jarum sesuai dengan khusus mengenai standar tingkat ketajaman yang jarum yang digunakan Memberikan pelatihan khusus mengetahui jenis-jenis jarum yang akan digunakan Operator memasang jarum salah Pemasangan pas dengan mesin Memberikan fasilitas kerja agar operator tidak cepat merasa lelah sehingga konsentrasinya tetap Mesin dalam keadaan Teknisi memeriksa mesin secara rutin agar terhindar dari mesin macet saat digunakan dan operator lebih teliti sebelum dan saat menggunakan mesin Kecepatan dan ketepatan Mesin dalam keadaan mesin berkurang baik saat digunakan Memeriksa dan melakukan servis mesin secara berkala, agar umur ekonomis mesin tidak cepat habis masa pakainya Tekanan sepatu mesin kendor Memberikan pelatihan kepada operator untuk lebih mengetahui cara pemakaian peralatan mesin agar tidak terjadi kesalahan Mesin macet pada Sepatu sesuai pada mesin Pemasangan jarum tidak Jarum Metoda Pengawasan benar dan Memberikan pelatihan kepada memasang peralatan jahit yang tidak QC pengawasan terhadap operator yang sedang kepada semua operator agar tidak Tahap Control Tahap control merupakan tahap analisis terakhir dari program Six Sigma. Pada tahapan ini hasil perbaikan akan dievaluasi dengan parameter nilai Sigma dan langkah-langkah pengendalian agar cacat yang terjadi bisa diminimalisir. Setelah dilakukan proses analisa dan perbaikan Usulan Tindakan Perbaikan DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. selama setengah bulan diperoleh nilai Sigma pada bulan April 2015 sebesar 4,27. Hal ini menunjukkan perbaikan yang dilakukan mampu menurunkan cacat yang terjadi melalui peningkatan hasil nilai Sigma. Nilai Sigma yang diperoleh perlu ditingkatkan lagi untuk menjamin proses bisa berjalan dengan stabil, sesuai dengan yang direncanakan dalam rangka menuju proses yang bebas cacat. Ali Subhan Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 23-32 Tabel 4. Nilai Sigma Sebelum dan Sesudah Perbaikan Nilai Sigma Sebelum Perbaikan 3,82 Sesudah Perbaikan 4,27 Quality Contro. Perbaikan yang dilakukan mampu meningkatkan nilai Sigma dari 3,82 menjadi 4,27. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan mengintegrasikan metode Six Sigma dengan Metode Taguchi atau Design of Experiment untuk mendapatkan hasil yang lebih Langkah-langkah pengendalian yang dapat dilakukan untuk meminimalkan cacat yang terjadi antara lain melakukan perawatan baik perawatan preventif maupun perawatan korektif, melakukan pengawasan terhadap bahan baku sebelum dijahit, melakukan pencatatan jumlah dan ukuran kain atau bahan lainnya, mencatat setiap hari dari masing-masing jenis dan mesin. Hal yang dilakukan oleh karyawan dalam proses produksi adalah melaporkan hasil pencatatan produk cacat berdasarkan jenis cacat produk kepada QC (Quality Contro. dan pada setiap tindakannya akan diprioritaskan pada sumber kegagalan yang menjadi penyebab kegagalan terbanyak. Selain itu bisa dilakukan perbaikan fasilitas kerja yang mendukung kerja operator, peningkatan kualitas operator, dan standarisasi semua peralatan yang digunakan dalam proses produksi celana DAFTAR PUSTAKA