PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Penerapan Spiritualitas di Tempat Kerja dan Hubungannya dengan Kepuasan Kerja Martalina Limbong Akademi Keperawatan Surya Nusantara martalinalimbong@gmail Abstract: The application of spirituality in its relationship is very necessary for job satisfaction. Job satisfaction is a significant predictor of organizational commitment. The proportion of hospitals managed by organizations with religious backgrounds is quite large. Religious hospitals commonly use religious values in formulating the values, vision and mission of the organization. The ability to love others and oneself in a meaningful way is evidence of spiritual health. Nurses, as professional health workers, have a great opportunity to provide health services. This is especially in the provision of comprehensive nursing care to help patients meet their basic needs, namely human needs as biopsychosocial and spiritual beings who always respond quickly and responsively to changes in their Nurses cannot ignore the spiritual part that has become an integral part of nurse interactions with patients and fellow employees. The research aim is to determine the relationship between the application of spirituality in the workplace to job satisfaction. This study uses a qualitative method, namely by studying books and looking for sources of literature studies based on research variables derived from an electronic data base, namely Google Scholar or also called library research. The research finding is that there is a correlation between the application of spirituality in the workplace to job satisfaction. Keywords: Spirituality. job satisfaction. religious hospital. Abstrak: Penerapan spiritualitas di tempat hubungannya sangat diperlukan terhadap kepuasan kerja. Kepuasan kerja merupakan prediktor bermakna terhadap komitmen organisasi. Rumah sakit yang dikelola oleh organisasi berlatar agama cukup besar proporsinya. Rumah sakit agama lazim menggunakan nilai-nilai agama dalam merumuskan nilai, visi maupun misi organisasi. Kemampuan untuk mengasihi orang lain dan diri sendiri secara bermakna adalah bukti dari kesehatan spiritualitas. Perawat, sebagai tenaga kesehatan yang professional, berkesempatan besar untuk memberikan pelayanan kesehatan. Hal tersebut, terutama dalam pemberian asuhan keperawatan yang menyeluruh untuk menolong pasien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu kebutuhan manusia sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual yang selalu memberikan respon secara cepat dan tanggap terhadap perubahan kesehatannya. Perawat tidak dapat mengabaikan bagian spiritual yang telah merupakan satu kesatuan dalam interaksi perawat dengan pasien dan sesama karyawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penerapan spiritualitas di tempat kerja terhadap kepuasan kerja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dengan mempelajari buku-buku dan mencari sumber studi literatur berdasarkan pada variabel penelitian yang berasal dari data base elektronik yaitu google scholar atau disebut juga library research. Temuan penelitian adalah terdapat korelasi antara penerapan spiritualitas ditempat kerja terhadap kepuasan kerja. Kata kunci: Spiritualitas. kepuasan kerja. rumah sakit agama. tempat kerja Pendahuluan Kepuasan kerja merupakan prediktor bermakna terhadap komitmen organisasi yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi job turnover perawat di Rumah Sakit. Hasil penelusuran penelitian pada Rumah Sakit berlatar belakang agama menunjukkan tingginya PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 angka job turnover . ebih 5%). Rumah sakit yang dikelola oleh organisasi berlatar agama cukup besar proporsinya. Rumah sakit agama lazim menggunakan nilai-nilai agama dalam merumuskan nilai visi maupun misi organisasi. Meskipun demikian job turnover tercatat masih tinggi. (Mulyono 2. Tingginya jobturnover dipandang dapat merugikan rumah sakit. Kerugian ini terutama dalam perencanaan ketenagaan. Nilai spiritual sangat dekat dengan nilai religious. Rumah sakit yang berlatar belakang agama telah mengadopsi nilai-nilai agama dalam organisasi, meskipun demikian belum ada laporan terkait yang membahas tentang fasilitas spiritual di Rumah sakit tertentu. Literatur telah menunjukkan manfaat spiritualitas terhadap kinerja Oleh sebab itu, pemahaman tentang konsep spiritualitas bagi seluruh tenaga kerja merupakan hal penting. Sebagai salah satu tenaga profesional maka perawat, memiliki sebuah peluang untuk terlibat dalam pelayanan kesehatan dan memiliki peluang dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hal tersebut, terutama dalam perawatan yang menyeluruh dalam menolong pasien untuk memenuhi kebutuhan dasar secara menyeluruh. Pasien sebagai mahluk biospsikososial dan spiritual akan memberikan respon yang cepat dan tepat secara menyeluruh terhadap setiap perubahan status kesehatannya, dimana perawat tidak dapat mengabaikan aspek spiritual yang telah dan akan menjadi bagian utuh dari hubungan perawat dan pasien(Hamid 2. (Van Leeuwen and Cusveller 2. telah melakukan studi komprehensif terhadap literatur spiritual dan memberi tiga domain dalam kompetensi asuhan spiritual. Pertama domains awareness and use of self. Domain ini berisi kompetensi yang menitik-beratkan pada cara perawat berhubungan dengan para pasien. Domain kedua adalah spiritual dimensions of nursing. Isi dari domain ini adalah kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk menangani masalah spiritual dalam setiap tahap proses keperawatan. Domain terakhir adalah assurance of quality and expertise. Domain ini berisi kompetensikompetensi untuk menangani kondisi kontekstual untuk menyediakan spiritual dalam oraganisasi. (Van Leeuwen et al. Kompetensi perawat merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kesuksesan pelayanan yang dimiliki rumah sakit untuk memberikan kepuasan pada pasien dalam memperoleh pelayanan asuhan keperawatan yang maksimal. (Muchson 2. Salah satu kompetensi perawat yang cukup penting adalah kompetensi asuhan spiritual pasien. Kompetensi perawat dalam konteks asuhan spiritual adalah paralel dengan proses keperawatan, yaitu melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, menyusun perencanaan dan intervensi keperawatan serta mengevaluasi kebutuhan spiritual pasien. Pasien sangat mungkin memiliki masalah psikososial atau keadaan yang mengancam status kesehatannya seperti cemas menghadapi operasi, atau hubungan yang kurang mendukung dengan kerabat. Untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatan pasien, perawat sebaiknya memperhatikan semua aspek yang ada dalam diri pasien. Pendekatan holistik memberikan perhatian pada fungsi spiritual pasien yang akan mempengaruhi keadaan sejahtera pasien. Individu dikuatkan melalui AuspiritAy mereka, yang mengakibatkan peralihan ke arah kesejahteraan. Pengaruh spiritualitas terutama sangat penting selama periode sakit. Ketika PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 sakit, kehilangan, atau nyeri mempengaruhi seseorang, energi seseorang tersebut akan menipis, dan spirit orang tersebut akan terpengaruhi. (PERRY and POTTER 2. Setiap individu mencapai tahap perkembangan yang berbeda-beda, bergantung pada karakteristik individual dan interpretasi tentang pengalaman dan pertanyaan dalam kehidupan. Konsep perkembangan spiritualitas ini penting dalam memahami spiritualitas pasien dan bagaimana kematangan spiritualitas perawat mempengaruhi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien, membentuk hubungan, dan kemudian membantu pasien dengan kebutuhan perawatan kesehatannya. (PERRY and POTTER 2. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat hubungan penerapan spiritualitas di tempat kerja terhadap kepuasan kerja. II. Metode Penelitian Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif-analitik, dengan studi kepustakaan . ibrary researc. Pencarian data dilakukan berdasarkan pada variabel yang diteliti berasal dari data base elektronik google scholar. Data data yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber baik literatur atau hasil peneliian ilmiah, dilakukan analisa oleh oleh peneliti terhadap data data yang dinilai relevan dan lebih tepat terhadap hubungan penerapan spiritualitas ditempat kerja terhaadap kepuasan kerja. Hasil dan Pembahasan Pengertian Spiritualitas Kata AuspiritualAy berasal dari bahasa Latin, yang memiliki arti Aunapas atau anginaAy dimana dapat dikonotasikan bahwa spiritual akan memberikan kehidupan dalam esensi manusia(Kozier 2. Spiritual adalah suatu usaha dalam mencari arti kehidupan, tujuan dan panduan dalam menjalani kehidupan bahkan pada orang-orang yang tidak memercayai adanya Tuhan. (George. Ellison, and Larson 2. Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan sang pencipta. (Hamid 2. Spiritualitas adalah inti dari keberadaan seseorang dan biasanya dikonseptualisasikan sebagai pengalaman hubungan personal dengan yang tertinggi . eperti Tuha. atau transendensi diri sendiri. Spiritualitas juga mencakup perasaan dan pikiran yang membawa arti dan tujuan keberadaan manusia atau perjalanan hidup seseorang. Ketika penyakit atau kehilangan menimpa seseorang, hal tersebut dapat mengancam dan menantang proses perkembangan spiritualitas. (PERRY and POTTER 2. Spiritualitas adalah kebutuhan bawaan manusia untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri manusia itu. Istilah Aysesuatu yang lebih besar dari manusiaAy adalah sesuatu yang di luar diri manusia dan menarik perasaan akan diri orang tersebut. Pengertian spiritualitas oleh Wigglesworth ini memiliki dua komponen, yaitu vertikal dan horizontal:(Wigglesworth 2. Komponen vertikal, yaitu sesuatu yang suci, tidak berbatas tempat dan waktu, sebuah kekuatan yang tinggi, sumber, kesadaran yang luar Keinginan untuk berhubungan dengan dan diberi petunjuk oleh sumber ini. Komponen horizontal, yaitu melayani teman-teman manusia dan planet secara keseluruhan. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Komponen vertikal dari Wigglesworth sejalan dengan pengertian spiritualitas dari (Schreurs 2. yang memberikan pengertian spiritualitas sebagai hubungan personal terhadap sosok transenden. Spiritualitas mencakup inner life individu, idealisme, sikap, pemikiran, perasan dan pengharapannya terhadap yang Mutlak. Spiritualitas juga mencakup bagaimana individu mengekspresikan hubungannya dengan sosok transenden tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga sejalan dengan pendapat (Elkin et al. yang mengartikan spiritualitas sebagai suatu cara menjadi dan mengalami sesuatu yang didapat dengan adanya kesadaran terhadap dimensi transenden dan memiliki nilai-nilai yang dapat dikenali melalui melalui diri sendiri, kehidupan, dan apapun yang dipertimbangkan seseorang sebagai Yang Kuasa. Sedangkan komponen horizontal dari Wigglesworth sejalan dengan pengertian spiritualitas dari Fernando . mengatakan bahwa spiritualitas juga bisa tentang perasaan akan tujuan, makna, dan perasaan terhubung dengan orang lain. Pendapat ini tidak memasukkan agama dalam mendefinisikan spiritualitas. Spiritualitas memberi dimensi luas pada pandangan holistik kemanusiaan. Definisi spiritualitas atau dimensi spiritualitas akan unik dan berbeda bagi setiap individu. Definisi individual tentang spiritualitas dipengaruhi oleh kultur, perkembangan, pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Dimensi spiritual berusaha dalam mempertahankan keseimbangan dan kesesuaian dengan dunia luar, berupaya dalam menjawab dan mendapatkan kekuatan sewaktu dalam menghadapi stres emosional, penyakit biologi, atau kematian, yang merupakan kekuatan yang datangnya dari luar diri manusia itu sendiri (Kozier Meskipun spiritualitas sulit untuk didefinisikan, terdapat dua karakteristik penting tentang spiritualitas yang disetujui oleh sebagian orang: . Spiritualitas adalah kesatuan tema dalam kehidupan kita. Spiritualitas merupakan keadaan hidup. Jika diambil dari definisi fungsionalnya, spiritualitas adalah komitmen tertinggi individu yang merupakan prinsipyang paling komprehensif dari perintah atau nilai final yaitu argument yang sangat kuat yang diberikan untuk pilihan yang dibuat dalam hidup kita (PERRY and POTTER 2. Perkembangan Spiritual Menurut WesterhooffAos ada empat tingkatan perkembangan spiritual berdasarkan kategori umur. Tingkat perkembangan spiritual yang pertama mulai pada usia anak-anak, pada tingkat ini keyakinan yang ada mungkin hanya meniru atau mengikuti ritual orang lain. Tingkat perkembangan spiritual yang kedua terletak pada usia remaja akhir, di mana pada masa ini seseorang sudah mulai pada keinginan akan pencapaian kebutuhan spiritual seperti keinginan atau berdoa kepada sang pencipta, yang berarti sudah mulai membutuhkan pertolongan melalui kepercayaan atau keyakinan. Tingkat perkembangan spiritual yang ketiga terletak pada usia awal dewasa, pada masa ini seseorang akan berfikir rasional dan kepercayaan atau kepercayaan terus dikaitkan dengan rasional. Tingkat perkembangan spiritual yang keempat terletak pada usia pertengahan dewasa, tahap perkembangan ini biasanya diawali dengan semakin tingginya keyakinan diri yang dipertahankan meskipun PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 menghadapi perbedaan keyakinan yang lain dan lebih mengetahui akan keyakinan dirinya. (Hidayat and Uliyah 2. Spiritualitas dimulai ketika anak-anak belajar tentang diri mereka dan hubungan mereka dengan orang lain dan sering memulai konsep tentang ketuhanan atau nilai seperti yang disuguhkan kepada mereka oleh lingkungan rumah mereka atau komunitas religi Remaja sering mempertimbangkan kembali konsep masa kanak-kanak mereka tentang kekuatan spiritual dalam pencarian identitas, mungkin dengan mempertanyakan tentang praktik atau nilai dalam menemukan kekuatan spiritual sebagai motivasi untuk mencari makna hidup yang lebih jelas. (PERRY and POTTER 2. Banyak orang dewasa yang mengalami pertumbuhan spiritual ketika memasuki hubungan yang harmonis. Kemampuan untuk mengasihi orang lain dan diri sendiri secara bermakna adalah bukti dari kesehatan spiritualitas. Sejalan dengan semakin dewasanya seseorang, mereka sering berintrospeksi untuk memperkaya nilai dan konsep ketuhanan yang telah lama dianut dan bermakna. Pada orang tua, sering terarah pada hubungan yang penting dan menyediakan diri mereka bagi orang lain sebagai tugas spiritual. Menetapkan hubungan dengan kehidupan atau nilai adalah salah satu cara mengembangkan spiritualitas. Kesehatan spiritual yang sehat pada lansia adalah sesuatu yang memberikan kedamaian dan penerimaan tentang diri dan hal tersebut sering didasarkan pada hubungan yang harmonis dengan Tuhan. (PERRY and POTTER 2. Penyakit dan kehilangan dapat mengancam dan menantang proses perkembangan Distres spiritual biasanya akan berjalan seiring dengan adanya kesadaran seseorang dalam memaknai yang sedang terjadi, dimana dapat menyebabkan seseorang merasa sendiri dan terpisah dari orang lain. Seseorang dapat mempertanyakan nilai spiritual mereka, mempertanyakan mengenai jalan hidup, tujuan serta sumber makna hidup. (PERRY and POTTER 2. Karakteristik Spiritual Menurut (Hamid 2. terdapat empat karakteristik dari spiritual yakni: kesatu, hubungan diri sendiri. Seseorang yang memiliki spiritual yang baik mengetahui siapa dirinya, apa yang bisa dilakukannya, mempunyai sikap percaya pada diri sendiri, mempunyai ketenangan pikiran, percaya pada masa depan dan harmoni dengan diri sendiri. hubungan dengan alam harmonis. Kita dapat menilai tingkat spiritual seseorang dengan melihat hubungannya dengan alam. Seseorang akan mengetahui tentang iklim, margasatwa, pohon, tanaman, cara berkomunikasi dengan alam, cara melindungi alam dan cara mengabadikan alam apabila memiliki spiritual yang baik. ketiga, hubungan dengan orang lain harmonis. Menciptakan hubungan harmonis dengan orang lain adalah karakteristik pada seseorang yang memiliki spirtual yang baik. Berbagi waktu pengetahuan dan sumber secara timbal balik dengan orang lain, mengasuh anak, mengasuh orang tua, mengasuh orang sakit, mengunjungi orang lain dan melayat ke rumah orang yang meninggal untuk meyakini kehidupan dan kematian adalah cara seseorang yang baik secara spiritual untuk menciptakan hubungan harmonis dengan orang lain. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Komponen Spiritualitas (Elkin et al. melakukan penelitian dengan melibatkan beberapa orang yang mereka anggap memiliki spiritualitas yang berkembang . ighly spiritua. Komponenkomponen tersebut berdasarkan pengalaman dan pengertian pribadi mereka mengenai spiritualitas itu sendiri. Hasil dari penelitian ini mengarahkan (Elkin et al. untuk sampai pada sembilan komponen dari spiritualitas, yaitu: Kesatu. Dimensi transenden. Individu spiritual percaya akan adanya dimensi transenden dari kehidupan. Inti yang mendasar dari komponen ini bisa berupa kepercayaan pada Tuhan atau hal lain yang diakui oleh individu sebagai sosok transenden. Individu bisa jadi menggambarkannya dengan menggunakan istilah yang berbeda, model pemahaman tertentu atau bahkan metafora. Pada intinya penggambaran tersebut akan menerangkan kepercayaannya akan adanya sesuatu yang lebih dari sekedar hal-hal yang kasat mata. Kepercayaan ini akan diiringi dengan rasa perlunya menyesuaikan diri dan menjaga hubungan dengan realitas transenden tersebut. Individu yang spiritual memiliki pengalaman bersentuhan dengan dimensi transenden. Komponen ini sama dengan komponen kesatuan dengan yang transenden dari LaPierre dalam Hill . Kedua. Makna dan tujuan dalam hidup. Individu yang spiritual akan memberi makna dan tujuan hidup. Dari proses pencarian ini, individu mengembangkan pandangan bahwa hidup memiliki makna dan bahwa setiap eksistensi memiliki tujuannya masing- masing. Dasar dan inti dari komponen ini bervariasi namun memiliki kesamaan yaitu bahwa hidup memiliki makna yang dalam dan bahwa eksistensi individu di dunia memiliki tujuan. Komponen ini sama dengan komponen pencarian akan makna hidup dari LaPierre dalam Hill . Ketiga. Misi hidup. Individu menyadari pentingnya memenuhi panggilan, memikul tanggung jawab pada kehidupan secara umum. Pada beberapa orang bahkan mungkin merasa akan adanya takdir yang harus dipenuhi. Pada komponen makna dan tujuan hidup, individu mengembangkan pandangan akan hidup yang didasari akan pemahaman adanya proses pencarian makna dan tujuan. Sementara dalam komponen misi hidup, individu memiliki metamotivasi yang berarti mereka dapat memecah misi hidupnya dalam target-target konkrit dan tergerak untuk memenuhi misi tersebut. Keempat. Kesakralan hidup. Individu yang spiritual mempunyai kemampuan untuk melihat kesakralan dalam semua hal hidup. Pandangan hidup mereka tidak lagi dipisahkan, pakah sakral atau sekuler, suci atau duniawi, namun mereka percaya bahwa semua aspek kehidupan sifatnya suci dan hal-hal sakral dapat juga ditemui dalam keduniaan. Kelima. Nilai-nilai material. Individu yang spiritual menyadari akan banyaknya sumber kebahagiaan manusia, termasuk pula kebahagiaan yang bersumber dari kepemilikan material. Oleh karena itu, individu yang spiritual menghargai materi seperti kebendaan atau uang namun tidak mencari kepuasaan sejati dari hal-hal material tersebut. Mereka menyadari bahwa kepuasaan dan kebahagiaan hidup datang ditentukan banyaknya kekayaan atau harta Keenam. Altruisme. Individu yang spiritual menyadari bahwa setiap orang memiliki tanggungjawab yang sama untuk menjaga sesamanya manusia. Mereka meyakini bahwa tidak ada manusia yang dapat berdiri sendiri, bahwa umat manusia terikat satu sama lain PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 sehingga bertanggung jawab atas sesamanya. Keyakinan ini sering dipicu oleh kesadaran mereka akan penderitaan orang lain. Nilai humanisme ini diikuti oleh adanya komitmen untuk melakukan tindakan nyata sebagai perwujudan cinta altruistiknya pada sesama. Ketujuh. Idealisme. Individu yang spiritual memiliki kepercayaan kuat pada potensi baik manusia yang dapat diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Memiliki keyakinan bukan saja pada apa yang terlihat sekarang namun juga pada hal baik yang dimungkinkan dari hal itu, pada kondisi ideal yang mungkin dicapai. Mereka percaya bahwa kondisi ideal adalah sesuatu yang sebenarnya mungkin untuk diwujudkan. Kepercayaan ini membuat mereka memiliki komitmen untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik, setidaknya dalam kapasitasnya masing-masing. Kedelapan. Kesadaran akan peristiwa tragis. Individu yang spiritual menyadari akan perlu terjadinya tragedi dalam hidup seperti rasa sakit, penderitaan atau kematian. Tragedi dirasa perlu terjadi agar mereka dapat lebih menghargai hidup itu sendiri dan juga dalam rangka meninjau kembali arah hidup yang ingin dituju. Peristiwa tragis dalam hidup diyakininya sebagai alat yang akan membuat mereka semakin memiliki kesadaran akan eksistensinya dalam hidup. Kesembilan. Buah dari spiritualitas. Komponen terakhir merupakan cerminan atas kedelapan komponen sebelumnya dimana individu mengolah manfaat yang dia peroleh dari pandangan, kepercayaan dan nilai-nilai yang dianutnya. Pada komponen ini individu menilai efek dari spiritualitasnya, dan biasanya digambarkan dengan hubungannya terhadap diri sendiri, sesamanya, lingkunga, kehidupan, dan hal lain yang dipersepsikannya sebagai aspek Komponen-komponen spiritualitas menurut Elkins et. mencakup hubungan seorang individu dengan daya yang melebihi dirinya dan juga dengan orang-orang di Seseorang dengan spiritualitas yang berkembang akan memiliki komponenkomponen di atas. Aspek-Aspek Spiritualitas Menurut (Schreurs 2. spiritualitas terdiri dari tiga aspek yaitu aspek eksistensial, aspek kognitif, dan aspek relasional: kesatu. Aspek eksistensial, dimana seseorang belajar untuk AumematikanAy bagian dari dirinya yang bersifat egosentrik dan defensif. Aktivitas yang dilakukan seseorang pada aspek ini dicirikan oleh proses pencarian jati diri . rue sel. Aspek kognitif, yaitu saat seseorang mencoba untuk menjadi lebih reseptif terhadap realitas transenden. Biasanya dilakukan dengan cara menelaah literatur atau melakukan refleksi atas suatu bacaan spiritual tertentu, melatih kemampuan untuk konsentrasi, juga dengan melepas pola pemikiran kategorial yang telah terbentuk sebelumnya agar dapat mempersepsi secara lebih jernih pengalaman yang terjadi serta melakukan refleksi atas pengalaman tersebut, disebut aspek kognitif karena aktivitas yang dilakukan pada aspek ini merupakan kegiatan pencarian pengetahuan spiritual. Aspek relasional, merupakan tahap kesatuan dimana seseorang merasa bersatu dengan Tuhan . an atau bersatu dengan cinta-Ny. Pada aspek ini seseorang membangun, mempertahankan, dan memperdalam hubungan personalnya dengan Tuhan. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Kompetensi yang Didapat dari Spiritualitas yang Berkembang (Tischler. Biberman, and McKeage 2. mengemukakan terdapat empat kompetensi yang didapat dari spiritualitas yang berkembang, yaitu: kesatu. Kesadaran pribadi . ersonal awarenes. , yaitu bagaimana seseorang mengatur dirinya sendiri, self-awareness, emotional self-awareness, penilaian diri yang positif, harga diri, mandiri, dukungan diri, kompetensi waktu, aktualisasi diri. Keterampilan pribadi . ersonal skill. , yaitu mampu bersikap mandiri, fleksibel, mudah beradaptasi, menunjukkan performa kerja yang baik. Kesadaran sosial . ocial awarenes. , yaitu menunjukkan sikap sosial yang positif, empati, altruism. Keterampilan sosial . ocial skill. yaitu memiliki hubungan yang baik dengan teman kerja dan atasan, menunjukkan sikap terbuka terhadap orang lain . enerima orang bar. , mampu bekerja sama, pengenalan yang baik terhadap nilai positif, baik dalam menanggapi kritikan Hubungan Spiritualitas dan Kepuasan Kerja Sumiati menjelaskan bahwa seseorang atau individu yang mempunyai spiritualitas yang sangat baik dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap pelayanan kesehatan khususnya adalah perawat. (Sumiati et al. Hal ini terjadi karena pengalaman positif akan bercerita kualitas spiritualitas yang dirasakan akan menumpah . pill ove. ke lingkungannya. (Mulyono 2. Mereka memiliki pengalaman pencerahan yang diperoleh dan refleksi kebahagiaanya dilihat dan dirasakan oleh sejawatnya. Temuan bahwa hampir semua struktur kepuasan mempengaruhi kepuasan (Gaertner 1. Kepuasan kerja digambarkan oleh Greenberg dan Baron sebagai sikap positif dan negatif yang dilakukan oleh manusia itu terhadap pekerjaan mereka. Kepuasan kerja adalah kondisi emosional karyawan dengan adanya kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. (Wibowo 2. Kepuasan ini yang memberikan makna pekerjaan pada dirinya sendiri, sedangkan tujuan fasilitas dari penerapan spiritualitas adalah memiliki rasa bermakna dalam (Morin 2. Penelitian Hyde dan Weathing menunjukkan bahwa kehidupan personal individu mempengaruhi perilaku kerjanya. Jadi, memungkinkan sekali seseorang telah memiliki spiritualitas yang tinggi sebelumnya, tanpa difasilitasi oleh organisasi, akan menikmati dan sangat puas dengan pekerjaannya. (Nunes 2. Gunawan dan Setyorini menjelaskan bahwa individu yang memiliki spiritualitas tinggi merasa diri mereka mempunyai ketrampilan sosial yang lebih baik. Rasa percaya tersebut mungkin berkontribusi pada perilaku prososial. (Gunawan and S 2. Konsep spiritualitas sudah terkait dengan perkembangan keperawatan. Oleh karena itu nilai-nilai professional dalam keperawatan sangat dekat dengan spiritualitas. Altruistic love, caring, dan genuiness bernilai spiritual tinggi yang dapat ditemukan di semua pengajaran spiritualitas. Dalam lingkungan praktis, hal ini menciptakan iklim spiritual yang kondusif. (Mulyono 2. Iklim spiritual tersebut dapat mendukung perkembangan spiritualitas yang berdampak pada perilaku (Utomo 2. menegaskan adanya keterkaitan antara spiritualitas dengan perilaku PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 IV. Kesimpulan Penerapan spiritualitas di tempat kerja dan kepuasan kerja perawat maka dapat disimpulkan bahwa penerapan spiritualitas berhubungan dengan kepuasan kerja. Individu yang memiliki spiritualitas dan menerapkannya dalam pekerjaan akan merasa puas dalam pekerjaannya dan individu yang memiliki spiritualitas tinggi merasa diri mereka mempunyai keterampilan sosial yang lebih baik. Rasa percaya tersebut mungkin berkontribusi pada perilaku prososial yang lebih baik, dan dapat meningkatkan kepuasan kerja. Referensi