TEOLOGI INJILI DI INDONESIA DAN USAHA KONTEKSTUALISASINYA DALAM ERA GLOBALISASIA Vincent Tanzil Pendahuluan Sebagai pewaris teologi Injili yang berasal dari negaranegara bagian Barat, teologi Indonesia sering dituduh sebagai teologi yang terlalu terpengaruh dengan pemikiran Barat yang dianggap tidak kontekstual dengan konteks Indonesia. Karena itu berbagai upaya untuk mengkontekstualisasikan teologi yang Indonesiawi seringkali menjadi perdebatan yang hangat baik di antara kaum Ekumenikal dan Injili maupun perdebatan intern dalam kubu masing-masing. Tulisan ini berupaya untuk berkontribusi dalam perdebatan yang sudah ada. Awalnya akan diuraikan mengenai esensi teologi Injili. Setelah itu wajah teologi Injili di Indonesia akan digambarkan, untuk mencari bagaimana teologi Injili mewujudkan dirinya di Indonesia. Metode-metode kontekstualisasi yang ada dijabarkan A Artikel merupakan pemenang pertama Lomba Karya Tulis Teologi STT Amanat Agung 2011 dengan tema AuMencari Wajah Teologi Injili di IndonesiaAy yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa STT Amanat Agung. Jakarta. Jurnal Amanat Agung dan ditanggapi dengan mencoba memberikan batasan-batasan dalam melakukan kontekstualisasi di Indonesia. Selain itu disodorkan juga upaya positif yang bisa diberikan bagi teologi Injili di Indonesia, secara khusus di dalam era globalisasi. Esensi Teologi Injili Mengatakan bahwa seseorang Injili saja tidak cukup. Ini dikarenakan arti dari kata Injili tersebut telah memiliki pergeseran makna yang cukup jauh semenjak kata Injili itu pertama kali digunakan. Sproul menjelaskan bahwa kata Injili berkembang dari Au. One who believes the evangel . he gospe. , . A Protestant . ot a Roman Catholi. , . A fundamentalist . ot a modernis. , . An evangelical . ot a fundamentalis. , . An evangelical Protestant . ot a liberal Protestan. ,Ay belakangan menjadi Au. Left-wing evangelical . vangelism and social actio. , . Right-wing evangelical . vangelism onl. Ay1 Meskipun arti dari kata Injili ini terus berubah, namun para kaum Injili masa ini tetap mengaku bahwa merekalah yang sebenarnya patut disebut Injili sesuai dengan arti kata yang pertama dan dari mula dari kata Injili. Sebagai contoh Alister McGrath mengatakan bahwa. Evangelical is thus the term chosen by evangelicals to refer to themselves, as representing most adequately the central concern of the movement for the safeguarding and articulation of the evangel Ae the good news of God which has been made known and made possible in Jesus Christ. Senada dengan McGrath, penulis Indonesia Yakub B. Susabda juga mengatakan. AuInjili adalah gerakan kaum Protestan yang coba memelihara inti berita Injil yang diberitakan oleh para rasul dan Getting the Gospel Right: The Tie that Binds Evangelical Together (Grand Rapids: Baker, 1. , 35. Alister McGrath Evangelicalism & The Future of Christianity (Downers Grove: InterVarsity Press, 1. , 22. Teologi Injili di Indonesia digariskan ulang oleh para reformator. Panggilan kaum Injili adalah untuk memelihara Aoapostolic faith dan reformational orthodoxy. AoAy3 Dapat dilihat bahwa masing-masing kaum Injili mengaku bahwa mereka adalah pewaris makna sesungguhnya dari kata Injili itu Kaum Injili menyatukan dirinya di bawah beberapa pokok pemikiran yang esensial. John Stott menyebutkan, . The supremacy of Holy Scripture . ecause of its unique inspiratio. , . The majesty of Jesus Christ . he God-man who died as a sacrifice for si. , . The lordship of the Holy Spirit . ho exercises a variety of vital ministrie. , . The necessity of conversion . direct encounter with God effected by God alon. , . The priority of evangelism . itness being an expression of worshi. , . The importance of fellowship . he church being essentially a living community of believer. McGrath menambahkan bahwa selain penekanan doktrinal pada teologi Injili, ditemukan juga kepedulian akan hidup kudus. AuThere is a creative intermingling here of the Reformed emphasis on right doctrine with the Pietist concern for a Aoliving faithAo Ae that is, a personally appropriated and assimilated faith, expressed in such terms as Aoa personal relationship with Christ. AoAy5 Di dalam kaum Injili sendiri ditemukan berbagai macam perumusan pokok-pokok tersebut. 6 Namun seringkali perubahan tersebut hanya mengurangi atau Yakub B. Susabda Kaum Injili: Membangkitkan Kembali Iman Kristiani Ortodoks (Malang: Gandum Mas, 1. , 22. John Stott. Evangelical Truth: a Personal Plea for Unity. Integrity and Faithfulness (Downers Grove: InterVarsity Press, 2. , 23-24. McGrath Evangelicalism, 57. Stott juga mengatakan, dengan dasar Filipi 1:27-30. AuThe evangelical faith reaches beyond belief to it brings with it a multifaceted challenge to live accordinglyAy Evangelical Truth, 111. Beberapa contoh dapat dilihat di McGrath. Evangelicalism, 5556. Timothy R. Phillips and Dennis L. Okholm. A Family of Faith: An Introduction to Evangelical Christianity (Grand Rapids: Baker Academic. Jurnal Amanat Agung menambah dengan tidak signifikan dari apa yang sudah dipaparkan oleh Stott di atas. Penulis sendiri berpendapat bahwa pokok inspirasi dan otoritas Alkitab adalah yang paling penting, karena pokok-pokok berikutnya adalah implikasi dari pokok tersebut. Doktrin Yesus Kristus, pertobatan, dan yang lainnya merupakan hasil dari teologi yang dibangun dengan asumsi Alkitab adalah sumber otoritas primer dalam membentuk teologi. Sekalipun demikian, pada Kenyataannya di antara kaum Injili terdapat penafsiran yang berbedabeda mengenai pokok keabsahan Alkitab. 7 Hal ini terlihat pada kaum Injili . an juga beberapa kaum Ekumenikal yang mengaku bahwa pengakuan mereka adalah Injil. di Indonesia yang akan dibahas pada bagian berikutnya. Namun tepat dikatakan bahwa mereka yang menerima pokok-pokok yang paling hakiki tersebut dapat disebut sebagai kaum Injili. Wajah Teologi Injili di Indonesia Nama Injili di Indonesia bukanlah sesuatu yang asing lagi, karena banyak gereja dan lembaga penginjilan di Indonesia bukan saja mengaku Injili, namun juga menggunakan kata Injili pada nama lembaga atau gereja mereka. Aritonang memberikan gambaran mengenai wajah lembaga Injili di Indonesia seperti demikian: Di antara sekitar 275 organisasi gereja Protestan di Indonesia, ditambah dengan 400-an yayasan, paling kurang setengah Ae kalau bukan semuaAimengaku sebagai gereja dan yayasan yang injili. dalamnya termasuklah sejumlah gereja yang masuk kategori arus 2. , 15-16. untuk kaum Injili di Indonesia: Susabda. Kaum Injili, 12. Chris Marantika. Kaum Injili Indonesia Masa Kini (Surabaya: Yakin, t. ), 12-19. Yakub B. Susabda mengatakan AuPandangan teologi dari setiap denominasi AoInjiliAo tentang keabsahan Alkitab, barangkali merupakan bagian yang paling sulit untuk diseragamkan. Ay Susabda, 36. Jan S. Aritonang. Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 1. , 249. Teologi Injili di Indonesia utama . isalnya GMIM. GMIT. GMIH. GMIST. GKI Irja dsb. ) Ae di mana huruf I merupakan singkatan dari AoInjiliAoAidan juga sebagian besar gereja Pentakostal. Dengan melihat kenyataan ini kita sekaligus disadarkan bahwa istilah Injili mengandung beberapa pengertian dan kerumitan, yang bisaAibahkan seringAimem9 Injili di Indonesia datang langsung dari Amerika . i mana memang tempat lahirnya Injili/Evangelikalisme seperti pengertian ke . dari Sprou. ataupun melalui Eropa . erutama Jerman dan Beland. 10 Sehingga tidak mengherankan apabila kaum Injili di Indonesia seringkali juga memiliki sikap dan perilaku yang mirip dengan kaum Injili di negara asal mereka, secara khusus Amerika. Bersama dengan kaum Injili di tempat asal mereka, kecenderungan untuk sangat kritis terhadap teologi Liberal sangat terlihat, yang mereka sering tujukan kepada kaum Ekumenikal di Indonesia. Ada kecenderungan untuk kritis terhadap kaum Liberal di Indonesia dari kaum Injili, namun faktanya, sebagian besar gereja di Indonesia merupakan gereja yang mengaku Injili atau pun menggunakan nama Injili. Karena itu timbullah pertanyaan mengenai yang manakah di antara gereja-gereja tersebut yang disebut sebagai kaum Liberal. Sebenarnya inilah yang menjadi perdebatan di antara kaum Injili di Indonesia. Seperti pernyataan Aritonang di atas, istilah Injili di Indonesia menjadi lebih ambigu maknanya dan cenderung menimbulkan kebingungan. Theo Kobong mengaku bahwa gereja-gereja di Indonesia beraliran Injili. Ia menyatakan bahwa apabila setiap pengakuan iman dari gereja-gereja dan lembaga yang ada diambil secara harafiah, maka seharusnya tidak perlu ada pertentangan di antara kaum Injili Aritonang. Berbagai Aliran, 227-228. Aritonang, 229-230. Theo Kobong. AuBaik Ini. Maupun Itu: Suatu Upaya Mengatasi Polarisasi antara Kaum AoInjiliAo dan Kaum AoEkumenikal. AoAy PENINJAU XVI-XVII. No. 2 dan No. : 3. Jurnal Amanat Agung dan Liberal di Indonesia. Alasannya adalah bahwa setiap organisasi Kristen di Indonesia juga mencantumkan di dalam anggaran dasar mereka bahwa dasar mereka adalah Alkitab atau firman Allah. Namun hal ini tidak begitu saja disetujui oleh kaum Injili di Indonesia. Sebagai contoh. Susabda, meskipun mengakui bahwa gereja-gereja di Indonesia memang gereja yang Injili, namun ia mempertanyakan apakah gereja-gereja tersebut meyakini apa yang menjadi pernyataan mereka. 13 Kobong sendiri, meskipun mengatakan bahwa dasar gereja-gereja di Indonesia adalah Alkitab, mengakui bahwa di lembaga seperti STT Jakarta juga terkadang terdengar suara-suara Liberal yang baginya hal tersebut adalah lumrah. Daniel Lucas Lukito juga menunjukkan bahwa meskipun Alkitab menjadi dasar pengakuan gereja-gereja Reformed di Indonesia . i mana Reformed merupakan bentuk sebagian besar gereja di Indonesi. , namun ia meragukan apakah hal tersebut sesuai dengan praktek mereka. 15 Hal ini menunjukkan bahwa sering terjadi ketidakkonsistenan antara apa yang diakui oleh gereja dan apa yang benar-benar menjadi keyakinan gereja tersebut, secara khusus dalam memandang Alkitab. Kobong. AuBaik Ini,Ay 6. Ia juga menunjukkan bahwa PGI juga merupakan organisasi yang Injili berdasarkan pengakuan imannya. Kobong, 12. Susabda. Kaum Injili, 6-7. Kobong, 4. Ia berkata. AuBahkan saya pernah mendengar ada seorang dosen teologi, ketika menjadi dosen tamu di sebuah sekolah teologi non-Injili di di Jakarta, ketika ia mengajak para mahasiswanya membuka dan membaca Alkitab, para mahasiswa itu tertawa dan melecehkan Alkitab. Sungguh memprihatinkan di negara kita sudah ada sekolah teologi seperti itu dan saya percaya hal itu sudah ada selama bertahun-tahun. Ay Daniel Lucas Lukito. Au490 Tahun Reformasi: Apakah Sola Scriptura Masih Secara Konsisten Menjadi Pegangan Gereja-Gereja Reformed Masa Kini?Ay VERITAS 8 no. (Oktober 2. : 157. Bandingkan dengan perkataan Theo Kobong. AuKalau PI di Barat di kalangan kaum Injili dikaitkan dengan kesetiaan kepada Firman Allah, maka dapat dikatakan bahwa sulit kita temukan sebuah gereja di Indonesia yang tidak berusaha setia kepada Firman Allah. Ay Kobong, 12. Teologi Injili di Indonesia Perbedaan yang ada di antara kedua kubu ini semakin menajam hingga pada tahun 1970-an ada kesepakatan antara DGI dan YPPI, bahwa YPPI tidak akan mendirikan gereja teristimewa apabila gereja itu terdiri dari anggota-anggota gereja yang sudah Kesepakatan ini tampaknya merupakan akibat dari perpindahan jemaat yang sering terjadi di antara kedua belah pihak yang juga ditandai dengan maraknya gereja-gereja baru didirikan. 16 Di sinilah Eka Darmaputera dalam menyikapi peristiwa-peristiwa ini membedakan antara gereja-gereja Auarus utamaAy . ain-strea. dengan kaum Injili dan Pentakosta atau Kharismatik yang dianggap merupakan penyebab terjadinya ketajaman tersebut. 17 Meskipun secara pengakuan doktrinal tidak banyak yang bisa dipermasalahkan, namun pada kenyataannya kedua belah pihak merasakan adanya polarisasi yang terbentuk antara kedua kubu, menunjukkan bahwa keduanya memang berbeda. Meskipun keadaan yang sengit tersebut belakangan mulai mereda dengan banyaknya kerja sama di antara kedua belah pihak, namun Aritonang memandang hal ini dengan pesimis Kobong, 14. Eka Darmaputera AuMenuju Teologi Kontekstual di IndonesiaAy dalam Konteks Berteologi di Indonesia. Ed. Eka Darmaputera (Jakarta: Gunung Mulia, 1. , 3. AuPerkembangan Pemikiran Teologis di Indonesia, 19601990anAy dalam Bergumul dalam Pengharapan: Buku Penghargaan untuk Pdt. Dr. Eka Darmaputera. Ed. Ferdinand Suleeman, et al. (Jakarta: Gunung Mulia, 2. , 278. Jurnal Amanat Agung Dapat disimpulkan bahwa kaum Injili di Indonesia tidak bisa dibedakan hanya melalui nama gereja atau lembaga saja, bahkan pengakuan iman juga tidak bisa menjamin. Namun jelas bahwa ada pertentangan dan perbedaan pendapat yang terjadi di antara kedua kubu tersebut. Penyelarasan Definisi Kontekstualisasi Definisi AukontekstualisasiAy amat beragam antara sarjana satu dengan yang lainnya. Yakub Tri Handoko membagikannya menjadi dua: Mengenai bagaimana mengkontekstualisasikan Injil dengan praktis bukanlah menjadi bahasan utama dalam makalah ini. Yang diperhatikan adalah soal membangun teologi yang kontekstual dalam aspek yang pertama. Metode Kontekstualisasi di Indonesia Mengenai teologi yang kontekstual di Indonesia, sebenarnya permasalahannya bukan sekadar kepada isi dari teologi itu sendiri, namun lebih kepada metode yang digunakan di dalamnya. Sebab dalam membangun teologi tentu bagaimana memandang Yakub Tri Handoko AuPrinsip Kontekstualisasi dalam Pekabaran Injil YesusAy Metode PI Yesus dalam Artikel Misi http://w. org/content. php?idc=25 . iakses pada Februari 3, 2. , 1. Teologi Injili di Indonesia relasi Injil dengan budaya tempat kontekstualisasi diajukan harus Maksudnya dalam cara memandang titik tolak dalam berteologi. Beberapa yang diajukan adalah untuk memulai dari konteks ketimbang melalui teks. Seperti menurut E. Gerrit Singgih. Maka penelitian teologis tak pernah bisa bersifat abstrak, tetapi bersifat empiris atau minimal bertolak dari hal yang empiris. Hal ini memang sesuai dengan ciri metode berteologi secara kontekstual, yakni bersifat induktif dan bertolak dari konteks sosial20 Patut diingat bahwa memulai dari konteks bukanlah sesuatu yang murni milik Indonesia, namun merupakan pergerakan yang sudah umum di kalangan teolog dunia ketiga. Kevin J. Vanhoozer mengatakan. AuIn turning to context, third world theologians now employ a different handmaiden: not philosophy but the social The key methodological issue is no longer that of the right procedure . ow?) but location . here?) and position . ho?). Ay21 Karena berangkat dari konteks, di mana. AuFor most non-Westerners in the twenty-first century, the burning issue is not metaphysics but poverty,Ay22 maka timbullah pertanyaan akan relevansi pembicaraan seperti dwi-natur dari Kristus dan semacamnya di dalam konteks Asia yang tidak Helenistis. Darmaputera juga mempertanyakan akan konsep Trinitas yang dipandangnya muncul dari alam pemikiran dan konteks budaya Yunani yang sama sekali berbeda dan sulit dicerna oleh budaya serta alam pemikiran Indonesia, namun ia juga tidak Gerrit Singgih AuEvaluasi Teologis dan Inovasi TeologisAy dalam Teologi Operatif: Berteologi Dalam Konteks Kehidupan yang Pluralistik di Indonesia. Asnath N. Natar, et al. (Jakarta: Gunung Mulia, 2. , 17. Kevin J. Vanhoozer AuAoOne Rule to Rule Them All?Ao Theological Method in an Era of World ChristianityAy dalam Globalizing Theology: Belief and Practice in an Era of World Christianity. Craig Ott & Harold A. Netland (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 95. Vanhoozer. Jurnal Amanat Agung memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaannya sendiri. Konsep-konsep yang demikian dianggap tidak relevan. Hal-hal yang filosofis dan universal di dalam teologi dianggap sebagai paradigma kolonialis yang memandang teologi yang dilakukan di Barat sudah pasti benar, sehingga yang perlu dilakukan hanyalah menerjemahkan teologi tersebut ke dalam bahasa lokal. Karena itu bersama dengan para pascamodernis Barat, teologteolog dunia ketiga turut menyetujui bahwa teologi Barat sebenarnya tidaklah lebih dari sekedar teologi AulokalAy25 yang juga memulai dari konteks. Singgih sepakat. Bahkan metode teologi tradisional-konvensional yang bersifat deduktif juga sebenarnya dimulai secara induktif, hanya dalam perkembangannya yang kemudian teologi ini semakin lama semakin normatif dan akhirnya mengambil bentuk deduktif seperti yang dapat kita lihat dalam teologi-teologi dogmatisdoktrinal yang telah dimutlakkan menjadi satu-satunya ajaran gereja yang bersifat denominasional. Hal ini semakin diperkuat dengan teori hermeneutika kontemporer yang menekankan bahwa AuAll interpretation begins with the assumptions, values, beliefs, and experiences that a reader brings to the textAy27 dan oleh karenanya distorsi dalam penafsiran dapat dengan mudah terjadi. Fridolin Ukur juga menekankan bahwa Indonesia sebagai gereja muda sebenarnya menerima bacaan Darmaputera, 12-13. Harold A. Netland. AuGlobalization and Theology TodayAy dalam Globalizing Theology, 21. Vanhoozer, 89. Sikap ini diilustrasikan oleh David K. Clark dengan kisah perjumpaan dengan koleganya yang berasal dari Amerika Latin, di mana kawannya bertanya. AuWhy is itAthat when you talk about our position you call it AoLatin American Theology,Ao but when you talk about your position you simply call it AotheologyAo?Ay . enekanan oleh Clar. David Clark. To Know and Love God (Wheaton Illnois: Crossway, 2. , 99. AuEvaluasi,Ay 16-17. Clark, 107. Teologi Injili di Indonesia teologis dari masyarakat yang sangat maju dan makmur secara sosial-ekonomi, sehingga kacamata yang dipakai adalah kacamata orang berkecukupan. Selain itu sejarah penginjilan di Indonesia sedikit banyak memang menggelitik seseorang untuk menganggap bahwa teologi Barat tidaklah kontekstual dengan Indonesia. Sebagai contoh Johannes Emde dari Waldeck yang memandang kebudayaan Jawa sebagai Iblis, sehingga orang Kristen Jawa pada saat itu harus menanggalkan blangkonnya, harus memakai pantalon . elana panjan. ganti sarung. 29 Tidaklah mengherankan bahwa kebijakan ini mengakibatkan reaksi balik yang tajam terhadap budaya Barat. Tanggapan Kaum Injili Terhadap Kontekstualisasi Teologi di Indonesia Pada bagian ini dibahas bagaimana teologi Injili memandang dan mengkritisi metode kontekstualisasi seperti yang sudah dipaparkan di atas. Pertama, pergerakan Auturn to context,Ay seperti yang sudah dibahas sebelumnya, adalah memulai teologi dari konteks. Hal ini karena memulai teologi secara murni dari Alkitab dianggap tidak memungkinkan. Memang benar bahwa memulai sebuah teologi dengan penafsiran yang tidak terdistorsi sama sekali oleh latar belakang budaya atau konteks dari sang teolog/penafsir tidaklah dimungkinkan. Kacamata hermeneutik seseorang senantiasa dipengaruhi oleh latar belakang penafsir, sehingga mempengaruhi hasil penerjemahan data yang dilakukan dalam membangun teologi dari Alkitab. Akibatnya tidak ada teologi yang netral. Lukito menulis. AuTheology which is isolated from its context until it becomes neutral Fridolin Ukur. AuTeologi KejelataanAy dalam Bergumul, 247-248. Theo Kobong. Injil dan Tongkonan: Inkarnasi. Kontekstualisasi. Transformasi. Theo Kobong dan Th. van den End (Jakarta: Gunung Mulia, 2. , 207. Jurnal Amanat Agung is an ontological impossibility. Theology is never cultureless. It is always related in one way or another with the existing culture. Ay30 Namun hal ini tidak berarti teologi menjadi tidak bisa relevan atau tepat sama sekali. Meskipun perlu diakui bahwa beberapa teks di dalam Alkitab memang sulit untuk ditafsirkan, namun bukan berarti Alkitab menjadi kabur sama sekali sehingga tidak bisa dimengerti. Raja Yosia yang lahir dan dibesarkan di dalam budaya yang penuh penyimpangan dari leluhurnya, ketika menemukan kitab hukum, dalam pembacaannya saja dapat menyadari kesalahan dirinya dan bertobat di hadapan Allah . Raj. 22:3-. Dalam konteks hari ini, studi budaya dan latar belakang dari teksteks Alkitab dapat memberikan kejelasan yang lebih dalam menafsirkan teks Alkitab. Studi ini bisa mengikis subjektivitas latar belakang si penafsir sejauh memungkinkan, meskipun tidak secara tuntas. Metode ini bisa lebih mendekati makna asli dari teks tersebut, sehingga Alkitab yang sama dibaca dalam berbagai budaya yang berbeda akan menghasilkan proposisi kebenaran yang tidak jauh berbeda satu sama lainnya. Mengatakan bahwa latar belakang seseorang mempengaruhi penafsiran bukan berarti penafsiran seseorang tidak bisa tepat sama sekali. Kedua, adalah masalah peletakan otoritas Alkitab. Apabila ditarik menjadi ekstrem, yakni konteks diletakkan setara dengan Alkitab itu sendiri, maka hal ini menjadi dualisme yang tidak Sebab, apabila Alkitab menjadi setara dengan konteks, dalam artian budaya setempat memiliki posisi yang sama dengan Alkitab, maka proses kontekstualisasi tidak akan bisa dilakukan. Apabila sebuah budaya dianggap melanggar kebenaran Alkitab, maka menurut metode ini budaya tersebut memiliki otoritas kebenaran yang sama benarnya dengan Alkitab itu sendiriAidan tidak ada yang berhak menghakimi satu sama lainnya. Demikian Daniel Lucas Lukito. AuThe Unending Dialogue of Gospel and CultureAy dalam Bergumul, 237. Teologi Injili di Indonesia pula sebaliknya apabila Alkitab ternyata bertentangan dengan budaya setempat, tentu konteks tersebut tidak boleh menghakimi apa yang ada di Alkitab. Kenyataannya pada beberapa budaya tertentu mungkin tidak ada budaya untuk memiliki sebuah Kitab Suci sama sekali. 31 Oleh karena itu salah satu harus memiliki otoritas yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Apabila konteks yang menjadi otoritas tersebut, maka Alkitab senantiasa harus menyesuaikan diri dengan konteks. Konsekuensinya adalah sebuah iman yang persis serupa dengan budaya setempat. Kalau iman tersebut persis sama dengan budaya setempat, maka patut ditanyakan. AuWhy dedicate energy to a religious faith that is a carbon copy of the surrounding society?Ay32 Karena itu lebih tepat apabila Alkitab diletakkan sebagai otoritas yang lebih tinggi daripada konteks. Sama seperti Yosia dalam menghakimi kebudayaannya sendiri, termasuk para pendahulunya . Raj. 4-8, 12, 15, 19-20, secara khusus lihat ay. Jadi. Alkitab memang bersifat konfrontatif dengan budaya setempat. Ini disebabkan budaya setempat itu sendiri juga tidak netral, bahkan terkadang bertentangan dengan Alkitab. Ketiga, adalah masalah teologi yang dianggap terlalu dipengaruhi budaya Barat. Sering kali teologi Barat dituduh terlalu Di mana dalam budaya tersebut yang ada hanya tradisi turun temurun secara oral. Bahkan penerjemah Alkitab yang penulis kenal yang sedang menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Sikari di Papua, juga harus menciptakan tulisan bahasa mereka sendiri. Clark, 110. Clark, 119. Clark juga mengkritisi presuposisi teologi pembebasan. AuBut we must notice something: giving special place to the views of the oppressed actually presupposes certain answers to important, logically prior theoretical questions. And these theoretical answers deserve critical According to J. Andrew Kirk, a British evangelical sympathetic to liberation theology, taking praxis as a starting point already presupposes theoretical commitments. The very concept of praxis is theory-laden. Those who support praxis understand that there is no pure theology. They, and we, need to see that there is no pure, neutral experience either. Ay Clark, 109. Jurnal Amanat Agung terpengaruh dengan filsafat Yunani, sehingga teologi yang dibangun lebih berupa diskursus filsafat ketimbang teologi itu sendiri. Namun apakah benar budaya Barat telah mempengaruhi teologi Barat sedemikian rupa? Tri Handoko menyatakan. Tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa sebuah teologi adalah teologi Barat hanya karena teologi tersebut tumbuh di Barat. Vanhoozer mengingatkan bahwa gereja Ortodoks Timur juga lahir di Barat, namun tidak menggunakan metodologi filsafat Yunani sebagai kerangka teologinya. Bahkan teolog-teolog Ortodoks Timur itu sendiri pasti menyanggah bahwa mereka disebut sebagai teologi Barat. 35 Karena itu nampaknya yang menjadi masalah bukanlah teologi Barat itu sendiri, namun filsafat Yunani yang dianggap melatar-belakanginya. Meskipun pernah terjadi kejadian seperti Johannes Emde, menurut pendapat penulis, harus dibedakan antara teologinya yang salah ataukah cara mengomunikasikan Injilnya yang bermasalah. Menghapuskan pakaian adat tentulah bermasalah pada keduaduanya, teologi dan komunikasinya. Namun itu juga tidak selalu berarti bahwa seluruh bangunan teologinya lantas dianggap tidak relevan, bahkan tidak kontekstual. Selain masalah label AuBaratAy tersebut, sebenarnya apakah mungkin untuk memulai sebuah teologi tanpa memandang teologi Yakub Tri Handoko. AuPerspektif Reformed tentang Teologi Kontekstual,Ay Teologi Kontekstual dalam Artikel Apologetika http://w. org/content. php?idc=9 . iakses 3 February 2. , 5. Vanhoozer, 90. Teologi Injili di Indonesia yang telah dibangun di Barat demi teologi yang kontekstual di Indonesia? Sebaliknya juga, yang dimaksud dengan budaya Indonesia yang menjadi dasar teologi kontekstual tersebut juga menjadi pertanyaan. Sering dibicarakan teologi dengan permasalahan dan perspektif orang miskin, namun di tengah masyarakat Indonesia yang demikian majemuk secara sosial, ekonomi, dan agama, tidakkah perlu dipikirkan mengenai teologi untuk mereka yang kaya pula? Bagaimana dengan mereka yang pebisnis atau yang hidupnya berkecukupan? Belum lagi apabila setiap etnis Indonesia dijadikan teologi budaya tersendiri. Akan bermunculan berbagai rupa-rupa teologi yang kontekstual. Namun, dalam membentuk teologi yang demikian tidakkah kita akan jatuh ke dalam teologi yang eksklusif atau etnosentris, yang pada akhirnya malah membawa perpecahan dan kebingungan di dalam gereja Tuhan? Faktor Globalisasi dan Solusi Dalam Kontekstualisasi di Indonesia Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi informasi yang melesat mengakibatkan dunia memasuki era yang disebut sebagai era globalisasi. Di mana Netland mengutip Frank Lechner dan John Boli yang menulis. The world is becoming a single place, in which different institutions function as parts of one system and distant peoples share a common understanding of living together in one planet. This world society has a culture. it instills in many people a budding consciousness of living in a world society. To links and institutions we therefore add culture and consciousness. Globalization is the process that fitfully brings these elements of world society together. Globalisasi ini membawa perubahan paradigma yang cukup signifykan bagi teologi Injili. Salah satunya adalah kesadaran bahwa teologi Injili harus peka terhadap berbagai macam budaya yang ada di Netland, 19. Jurnal Amanat Agung seluruh duniaAidengan demikian menjadi sebuah teologi yang Seperti yang dikatakan seorang teolog Injili Thomas Schirrmacher. AuEvangelicals live in all countries, which means evangelical theology must be global and transnational. Therefore we should all learn to study theological insights from as many other cultures as possible. Ay37 Dengan demikian, bagian ini membahas bagaimana teologi InjiliAidengan berlandaskan konteks globalisasiAi membangun teologi yang Injili namun kontekstual. Membangun teologi Injili yang kontekstual dan global tidak berarti teologi Injili harus meninggalkan pokok-pokok Injili yang Karena teologi Injili adalah teologi yang berdasarkan kepada pokok-pokok tertentu, maka upaya untuk melepaskan salah satu dari pokok-pokok tersebut malahan akan membawa kekacauan Ketika salah satu pokok esensial tersebut dibuang, maka teologi tersebut juga tidak menjadi Injili lagi. Pada dasarnya melakukan kontekstualisasi harus ada seperangkat asumsi yang harus Vanhoozer juga mengatakan bahwa kontekstualisasi teologi tidak boleh merusak isinya yang paling esensial. Menjadi semakin jelas bahwa membuang teologi Barat bukanlah tindakan yang bijaksana. Sebab, harus diakui juga bahwa Tuhan mengizinkan di dalam sejarah agar kekristenan bertumbuh secara sosial, budaya, dan intelektual di dunia bagian Barat. Hiebert memperlihatkan kesalahan umum teologi kontekstual dalam hal ini. Contemporary cultural contexts are taken seriously, but historical contexts are largely ignored. In each culture Christian face new questions for which they must find biblical answers . they can learn much from church history . to become a Christian is to Thomas Schirrmacher AuEditorial: Global TheologyAiIssues. Perspectives and Opportunities. Ay Evangelical Review Theology 34 no. (October 2. : 291. Vanhoozer, 113. Teologi Injili di Indonesia become a part of a new society, and that history must be Tepatlah apabila Donald LeRoy Stults mengilustrasikan kontekstualisasi teologi seperti seorang seniman. 40 Seniman harus menguasai pengetahuan dan metode yang dibutuhkan dalam membuat seni hingga menjadi kebiasaannya untuk membuat seni. Pada saat itulah ia memiliki kompetensi untuk mengubah beberapa elemen dari prosesnya untuk mengembangkan bentuk seni tersebut. Kontekstualisasi teologi tidak bisa dimulai dari nol. Vanhoozer menambahkan. AuIt is awkward, however, to use the label *teologi kontekstual in contexts where there is no established Christian to revise. Ay41 Penting untuk diingat bahwa di era globalisasi ini budaya suatu negara dengan budaya negara lainnya semakin bercampur. Tidaklah memungkinkan untuk memisahkan dengan tajam antara budaya Barat atau budaya Timur. 42 Salah satu penekanan teologi Asia, menurut Lukito, adalah teologi tidak seharusnya menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan oleh konteks tersebut. 43 Ini juga adalah yang menjadi pertimbangan bahwa filsafat Yunani bukanlah metode yang kontekstual di Indonesia. Namun penekanan ini seharusnya bukanlah menjadi sebuah penekanan yang valid lagi, sebab apa yang dahulu merupakan pertanyaan budaya Barat . ilsafat Yunan. , pada akhirnya akan dijumpai juga di dalam budaya Timur. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak lagi akan disebut sebagai pertanyaan Timur maupun Barat, namun menjadi Aupertanyaan imanAy dari gereja segala tempat dan segala zaman. Karena itu Paul G. Hiebert. AuCritical ContextualizationAy dalam The Best in Theology Volume Two ed. Packer and Paul Fromer (Illinois: Carol Stream, t. , 393. Dikutip dalam Handoko. AuPerpektif Reformed,Ay 8. Donald LeRoy Stults. Developing an Asian Evangelical Theology (Metro Manila: OMF, 1. , 4. Vanhoozer, 107. Kobong. AuBaik ini,Ay 10. Lukito. AuThe Unending,Ay 237. Jurnal Amanat Agung yang harus dilakukan bukanlah mengurangi pertanyaan yang sudah ada, namun menambah pertanyaan yang harus ditanyakan oleh teologi itu sendiri. Sehingga dalam menghadapi berbagai macam budaya yang baru tujuannya bukanlah non-Western theology tapi more-than-Western-theology. Metode untuk membentuk more-than-Westen-theology atau singkatnya Auteologi globalAy tersebut, adalah dengan menggunakan metode dialogis. 45 Metode ini secara singkat mengutamakan Alkitab dalam proses dialog antara konteks dengan teks. Perlu dicatat bahwa yang disebut dengan meletakkan Alkitab sebagai standar, berarti Alkitab itu sendiri, bukan pesan, prinsip, inti, atau esensi dari Alkitab tersebut . arena pesan, prinsip, inti, dan lain sebagainya tersebut bisa jadi dipengaruhi oleh perspektif sang penafsi. , namun Alkitab itu sendiri . ebagai buk. Dengan kata lain Alkitab tersebut bersifat transbudaya. Berdasarkan premis tersebut, maka orang Kristen mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis melalui nilai dan latar belakang budaya mereka masing-masing. Lalu orang Kristen berusaha menjawabnya dengan apa yang mereka ketahui dari Alkitab. Setelah itu, dengan pengertian awal tersebut mereka menilai budaya mereka sendiri. Bukan hanya budaya yang memberikan pertanyaan kepada Alkitab, namun Alkitab juga menilai kembali pertanyaan yang diajukan oleh budaya itu. Demikian pula sebaliknya teologi yang historis mungkin dapat dikoreksi melalui pengertian Alkitab yang lebih komprehensif dari penemuan-penemuan ini. Melalui metode ini akan ditemukan beberapa aspek dari Alkitab yang selama ini sulit dimengerti di dalam konteks lain. Hasil dari Vanhoozer, 119. Ia juga menambahkan. AuAt that point, the issue becomes how to give expression to Christian unity: one faith, one Lord, one baptism, yes, but one theology?Ay Vanhoozer, 107. Metode yang akan dijelaskan ini merupakan pengembangan dan modifikasi dari metode David K. Clark. To Know, 114. Clark, 120. Teologi Injili di Indonesia penemuan ini lalu diajukan dan dibandingkan kepada teologi dari budaya-budaya lain, bahkan pada zaman yang lain . eologi histori. Apabila dalam proses tersebut dijumpai penafsiran yang tidak tepat terhadap Alkitab, maka proses harus kembali lagi ke Alkitab, begitu Yang selalu harus diingat dalam semua proses tersebut adalah ketaatan. Dalam arti, kemauan sang teolog untuk taat kepada apa yang dinyatakan oleh Alkitab akan mempengaruhi hasil penafsiran teolog tersebut. Melalui metode ini pemahaman teologi yang sepenuhnya objektif memang tidak dimungkinkan . uga tidak diperluka. , namun Auwiser, more informed, and more deeply biblical understandings of God and his will and ways are possible. Ay47 Itulah yang dituju melalui metode ini. Refleksi Demi teologi global tersebut, menurut penulis, salah satu pekerjaan yang harus dikerjakan oleh teolog Injili di Indonesia adalah menulis semakin banyak karya-karya teologis akademis yang dikerjakan dengan pergumulan Indonesia lalu diterbitkan di dalam bahasa Inggris,48 sebisa mungkin diterbitkan oleh penerbit internasional. Hal ini dilakukan dengan dasar priesthood of all believers, di mana seluruh gereja di dunia menjadi rekan sekerja dalam membangun teologi yang global dan juga menolong agar teologi yang dibangun di dalam sebuah konteks tertentu tidak menjadi teologi yang sempit atau etnosentris. Pekerjaan kedua adalah dalam menjaga kekudusan hidup, yakni hidup yang saleh, seturut dengan kebenaran Firman Tuhan di hadapan seluruh masyarakat Indonesia. Kehidupan yang pietis tentunya tidak bisa dilepaskan dari seorang yang mengakui paham Injili. Kobong berpendapat bahwa kehidupan pietis dari umat Clark. Penggunaan bahasa Inggris adalah semata-mata karena ini merupakan bahasa yang umum digunakan di era globalisasi ini. Jurnal Amanat Agung Kristen merupakan salah satu penyebab pertumbuhan Injil di Indonesia. 49 Di tengah berbagai bom, penganiayaan, pembantaian, dan pembakaran gereja-gereja di Indonesia. Belum lagi kelaparan, korupsi, dan bencana alamAijuga tidak lupa dalam kemajemukan agama-agama yang sama-sama mementingkan kesalehan hidup, penting sekali bagi umat Kristen di Indonesia tidak hanya bergelut dengan teologi, namun juga dalam kehidupan yang benar-benar mencerminkan kasih KristusAikonsekuensi dari teologi itu sendiri. Hal ini tentunya tidak hanya berlaku di kalangan orang Kristen di Indonesia, namun seharusnya bagi semua umat Kristen di segala tempat, termasuk di Barat. Dengan globalisasi dan teknologi informasi yang ada, semoga bisa dikatakan bagi kaum Injili di Indonesia bahwa. Autelah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh duniaAy (Rom 1:. Teologi Injili merupakan sebuah teologi yang berlandaskan kepada paham-paham tertentu yang esensial. Usaha untuk mengubah paham yang esensial di dalam teologi Injili hanya akan menyebabkan kekacauan definisi, karena itu kontekstualisasi harus membawa paham-paham dasar Injili tersebut. Ketimbang berusaha untuk membuat sebuah teologi yang kontekstual, lebih baik membuat teologi yang global. Untuk mencapai teologi tersebut, yang diajukan adalah metode dialogis, yang berguna memperkaya pemahaman akan Alkitab sekaligus sebagai alat untuk menilai budaya. Semua yang sudah dibahas, seperti sudah penulis paparkan sebelumnyaAiberporos pada otoritas Alkitab yang ditinggikan. Ini sudah seyogyanya merupakan ciri khas teologi Injili yang tidak bisa Justru karena Alkitab adalah otoritas yang tertinggi, maka dialog antara teks dan konteks menjadi relevan dan berbuahAiterus menjadi relevan sepanjang zamanAikarena firman Allah adalah AuRumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya. " (Yes. AuBaik ini,Ay 10-11.