Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3091-3099 Faktor Sosiodemografis dan Sosioekonomi yang Berperan dalam Ketahanan Pangan Rumah Tangga Sangat Miskin Ekstrem di Wilayah Pesisir Demak Socio-demographic and Socio-economic Factors Influencing Extreme Poor Household Food Security in Coastal Areas Demak Regency Yovita Aryani*1. Mukson1. Anang Mohamad Legowo2 Program Studi Agribisnis. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro Program Studi Teknologi Pangan. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro *Email: yovitaaryani@students. (Diterima 09-05-2025. Disetujui 15-07-2. ABSTRAK Makanan adalah kebutuhan dasar dalam kehidupan kita, namun banyak rumah tangga menghadapi tantangan dalam mengakses makanan yang cukup dan bergizi, yang menyebabkan masalah ketahanan pangan. Masalah ketahanan pangan dapat terjadi bahkan di daerah penghasil pangan, seperti wilayah pesisir Kabupaten Demak. Studi ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor sosiodemografis dan sosioekonomi yang berperan dalam status ketahanan pangan pada rumah tangga miskin di wilayah pesisir Kabupaten Demak. Studi ini menerapkan pendekatan survei dengan sampel kecamatan dipilih secara purposif berdasarkan jumlah rumah tangga miskin tertinggi yang tercatat dalam Data Target 2023 untuk Percepatan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) di Kabupaten Demak. Wilayah sampel meliputi Kecamatan Sayung dan Kecamatan Bonang. Sampel rumah tangga dipilih melalui multistage random sampling sehingga diperoleh 104 rumah tangga. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara menggunakan kuesioner terbuka dan tertutup. Pengolahan data menggunakan analisis regresi linier berganda yang dilakukan dengan SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berbagai faktor yang berperan secara signifikan . <0,. terhadap kondisi ketahanan pangan (Y) pada rumah tangga miskin di wilayah pesisir adalah pengeluaran pangan hewani, pengeluaran beras, harga beras, dan proporsi pengeluaran pangan. Sedangkan faktor yang tidak berperan secara signifikan . >0,. adalah pendidikan formal ibu, tingkat konsumsi energi, dan usia ibu. Nilai RA yaitu 0,689 menandakan bahwa sekitar 68,9% perubahan pada variabel dependen dapat diterangkan oleh variabel independen melalui model regresi. Kata kunci: ketahanan pangan, rumah tangga miskin, wilayah pesisir Demak ABSTRACT Food is a fundamental necessity in our lives, yet many households face challenges in accessing sufficient and nutritious food, leading to food insecurity issues. The problem of food insecurity can occur even in foodproducing areas, such as the coastal areas of Demak Regency. This research was undertaken to determine the sociodemographic and socioeconomic factors influencing poor household food security status in the coastal areas of Demak Regency. This study utilizes a survey-based approach, with sub-district samples selected purposively based on the highest number of poor households, as identified in the 2023 Targeting Data for the Acceleration of Extreme Poverty Eradication (P3KE) in Demak Regency. The sample areas included Sayung District and Bonang District. Household samples were chosen through multistage random sampling, resulting in a total of 104 households. Both primary and secondary data were used, collected through observation, literature study, and interviews using open and closed questionnaires. Data were analyzed employing multiple linear regression analysis performed with SPSS. The findings of the study show that the factors which have a significant influence . <0. on food security conditions (Y) in poor households in coastal areas, namely: meat expenditure, rice expenditure, rice price, food expenditure share, meanwhile the factors that don't have significant influence . >0. are mother' formal education, energy consumption level, and mother' age. The RA value of 0. 689 means that approximately 68. 9% of the variation in the dependent variable is explained by the independent variables in the regression model. Keywords: food security, poor household, coastal areas of Demak Faktor Sosiodemografis dan Sosioekonomi yang Berperan dalam Ketahanan Pangan Rumah Tangga Sangat Miskin Ekstrem di Wilayah Pesisir Demak Yovita Aryani. Mukson, dan Anang Mohamad Legowo PENDAHULUAN Kerawanan pangan adalah isu kritis baik pada skala nasional maupun internasional (Usman & Hidayat, 2. , karena pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang menentukan keberlangsungan hidup (Rumawas et al. , 2. Oleh karena itu, penting untuk memastikan ketersediaan dan akses pangan yang memadai demi tercapainya ketahanan pangan nasional. Sebagai negara yang berbasiskan agrikultur dan kelautan. Indonesia memiliki sumber daya potensial dalam penyediaan pangan (Nikawanti, 2. , namun rumah tangga khususnya nelayan sering kali menghadapi masalah ketahanan pangan. Menurut Erlyn et al. tekanan ekonomi membuat nelayan menghadapi hambatan dalam memperoleh makanan yang cukup dan bermutu, sehingga memperburuk kondisi ketahanan pangan keluarga nelayan yang tinggal di wilayah pesisir. Pendapatan yang tidak cukup untuk membeli makanan merupakan faktor risiko yang mempengaruhi rendahnya ketahanan pangan (Coleman-Jensen et al. , 2. Kabupaten Demak, khususnya wilayah pesisir menjadi salah satu daerah yang rentan terhadap ketahanan pangan akibat berbagai faktor. Wilayah ini menghadapi tantangan besar berupa bencana alam seperti banjir rob dan abrasi pantai yang diperparah oleh dampak perubahan iklim. Kondisi ini menyebabkan hilangnya mata pencaharian masyarakat pesisir, terbatasnya akses terhadap pangan bergizi, dan meningkatnya risiko kerawanan pangan. Selain itu, tingkat pendapatan rumah tangga juga semakin memperburuk situasi ketahanan pangan di wilayah tersebut. Sesuai dengan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Demak, tingkat kemiskinan penduduk menunjukkan kenaikan selama tiga tahun secara berurutan. Pada tahun 2019, persentase penduduk miskin mencapai 11,86%. Angka ini meningkat menjadi 12,54% pada tahun 2020, dan kembali mengalami kenaikan menjadi 12,92% pada tahun 2021. Disamping itu, mengacu pada data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2023, rata-rata pengeluaran bulanan per individu untuk kelompok makanan mencapai Rp 661. 983 atau sekitar 53,59% dari total pengeluaran. Sementara pengeluaran rata-rata per orang untuk kelompok non-makanan sebesar Rp 573. 332 yang merupakan 46,41% dari total pengeluaran. Data SUSENAS ini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk konsumsi pangan per orang per bulan lebih besar dari pengeluaran yang dialokasikan untuk kebutuhan non-pangan. Menurut Martadona . jika rumah tangga membelanjakan lebih banyak dana untuk pangan dibandingkan kebutuhan non-pangan. , maka menunjukkan terjadinya kerentanan pangan. Dengan kompleksitas tantangan tersebut, penelitian ini perlu dilaksanakan dengan maksud untuk mengkaji faktor-faktor yang berperan memengaruhi ketahanan pangan bagi keluarga miskin di wilayah daerah pesisir Kabupaten Demak. Pemahaman mendalam mengenai hubungan antara karakteristik sosiodemografis, kondisi lingkungan bencana, serta intervensi program pemerintah menjadi kunci dalam merumuskan strategi peningkatan ketahanan pangan yang efektif dan berkelanjutan di daerah ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini memakai pendekatan survei dalam kerangka penelitian kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan, dari Oktober 2024 hingga Maret 2025. Lokasi berada di Kecamatan Sayung (Desa Tugu dan Banjarsar. dan Kecamatan Bonang (Desa Purworejo dan Morodema. Dari keempat belas kecamatan di Kabupaten Demak dipilih secara purposive 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Sayung dan Kecamatan Bonang dengan pertimbangan kedua kecamatan tersebut memiliki jumlah rumah tangga miskin tertinggi. Jumlah sampel yang diambil dari kecamatan yang terpilih dihitung memakai persamaan Taro Yamane . dalam Ferdinand . n = N : ((N x d. n = 2. 463 : (. 463 x 0,. n = 2. 463 : 25,63 n = 96,10 97 orang Keterangan: n : jumlah sampel N : jumlah populasi d : error margin . %) Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3091-3099 Jumlah sampel ditingkatkan sebesar 7,5% untuk mengantisipasi responden yang tidak dapat melanjutkan, sehingga total sampel yang digunakan adalah 104 responden. Kemudian dihitung banyaknya sampel pada masing-masing desa menggunakan metode proportionate random sampling. Tabel 1. Rincian Jumlah Responden Desa Jumlah (Oran. Persentase (%) Tugu 27,88 Banjarsari 15,38 Purworejo Morodemak Jumlah 28,86 27,88 100,00 Dalam studi ini, ada beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: . Observasi, dengan cara peneliti langsung terjun ke lapangan . okasi penelitia. dan mengamati secara langsung objek penelitian yang berupa rumah tangga miskin. Wawancara, teknik ini digunakan dengan kuesioner terbuka digunakan untuk mengetahui karakteristik responden dan jawaban terkait faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangannya, . Food Recall, teknik ini dilakukan dengan pencatatan dan pendokumentasian semua jenis dan jumlah bahan pangan . aik segar maupun olaha. yang dikonsumsi oleh responden selama dua hari sebelumnya. Data yang dicatat disusun dalam format Ukuran Rumah Tangga (URT), lalu diubah menjadi satuan gram. Tujuan utama dari proses ini adalah untuk memperoleh informasi tentang Tingkat Konsumsi Energi. Teknik pengolahan data yang digunakan mencakup: Pangsa Pengeluaran Pangan Rumus untuk menentukan pangsa pengeluaran pangan: ii PF = oi x 100% Keterangan: PF = persentase pengeluaran pangan (%) PP = pengeluaran pangan (Rp/bula. TP = total pengeluaran (Rp/bula. Tingkat Konsumsi Energi Rumus untuk mengukur jumlah konsumsi energi menurut Perdana dan Hardinsyah . y y Gj = ( A x A ) x KGj Keterangan: Gj = jumlah kalori yang dikonsumsi . Bpj = jumlah makanan yang dimakan . alam gra. Bddj = proporsi bagian yang bisa dimakan dari 100 gram makanan (%) KGj = nilai energi per 100 gram makanan . Analisis Regresi Linier Berganda Analisis faktor-faktor menggunakan analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2. , dengan bantuan SPSS Versi 25. Faktor-faktor tersebut dianalisis dalam penelitian ini dengan rumus sebagai berikut (Algifari, 2. Y = a blX1 b2X2 b3X3 b4X4 b5X5 b6X6 b7X7 e Keterangan: = ketahanan pangan rumah tangga miskin . = koefisien regresi X1 = pengeluaran pangan hewani (Rp/bula. = jumlah pengeluaran beras (Rp/bula. Faktor Sosiodemografis dan Sosioekonomi yang Berperan dalam Ketahanan Pangan Rumah Tangga Sangat Miskin Ekstrem di Wilayah Pesisir Demak Yovita Aryani. Mukson, dan Anang Mohamad Legowo = harga beras (Rp. = pangsa pengeluaran pangan (%) = pendidikan formal ibu . = tingkat konsumsi energi . = umur ibu . HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 2 berikut memuat karakteristik sosiodemografis dari 104 responden dalam penelitian ini. Tabel 2. Rangkuman Karakteristik Sosiodemografis Responden . = 104 oran. Kategori Jumlah (Oran. Persentase (%) Jenis Kelamin Laki-Laki 35,58 Perempuan 64,42 Umur 1,92 10,58 18,27 38,46 >60 30,77 Pendidikan Tidak Tamat SD 5,77 74,04 SMP 15,38 SMA 4,81 Jumlah Anggota Keluarga 1-2 orang 20,19 3-4 orang 46,15 >4 orang 33,65 Jenis Pekerjaan Nelayan 37,50 Petani 20,19 Karyawan Swasta 12,50 Wiraswasta 8,65 Tidak Bekerja 7,69 Buruh Harian Lepas 7,69 Pedagang 2,88 Ibu Rumah Tangga 1,92 Tukang Kayu 0,96 Pendapatan Rumah Tangga < Rp. 14,42 Rp. 000 Ae Rp. 7,69 Rp. 000 Ae Rp. 17,31 42,31 Rp. 000 Ae Rp. 18,27 Rp. 000 Ae Rp. Jumlah 100,00 Data pada Tabel 2 menggambarkan karakteristik demografis rumah tangga di lokasi studi, dengan sampel sebanyak 104 rumah tangga. Tabel 2 menunjukkan bahwa 64,42% responden adalah perempuan, sementara 35,58% adalah laki-laki. Dengan demikian, ini mengindikasikan bahwa perempuan mendominasi mayoritas rumah tangga berpendapatan rendah sebagai kepala keluarga. Selain itu, temuan penelitian mengungkapkan bahwa kebanyakan pemimpin rumah tangga di wilayah studi masih berada pada usia produktif dan aktif. Mayoritas keluarga miskin memiliki Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3091-3099 pendidikan yang rendah, yaitu lulusan SD sebanyak 74,04%. Pendidikan yang rendah menghambat rumah tangga miskin untuk mewujudkan ketahanan pangan. Menurut Sudargo dan Armawi . kerawanan pangan sering ditemukan pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang Banyaknya anggota rumah tangga memengaruhi jumlah konsumsi dan pendapatan per kapita dari setiap anggota keluarga. Semakin banyak orang yang ditanggung, semakin tinggi jumlah pengeluaran yang pada gilirannya mempengaruhi ketahanan pangannya (Sophia et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden . ,15%) memiliki tanggungan sebanyak 3-4 orang. Menurut kriteria Badan Pusat Statistik, tanggungan keluarga di lokasi penelitian berada dalam kategori Sebagian besar responden bekerja disektor pertanian dan perikanan yaitu sebesar 57,69%. Untuk pendapatan, rumah tangga yang tergolong miskin biasanya berpendapatan rendah, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar pangannya. Menurut Nurahadiyatika et al. pendapatan yang rendah pada rumah tangga miskin menyebabkan keterbatasan akses ekonomi terhadap pangan, sehingga meningkatkan risiko kerawanan pangan. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Tabel 3 menyajikan hasil analisis regresi linier berganda Nomer Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Variabel Koefisien Regresi Konstanta 17,592 Pendidikan Formal Ibu (X. 0,12 Pengeluaran Pangan Hewani (X. -1,127E-6 Pengeluaran Beras (X. -5,688E-5 Tingkat Konsumsi Energi (X. 0,001 Harga Beras (X. -0,01 Pangsa Pengeluaran Pangan (X. -0,034 Umur Ibu (X. 0,129 R-Square F sig Sumber: Data primer yang diolah . Sig. 0,029 0,937 0,002 0,000 0,340 0,001 0,008 0,781 0,689 0,000 Berdasarkan Tabel 3. persamaan regresi yang diperoleh adalah: Y = 17,592 0,12X1 - 1,127E-6X2 - 5,688E-5X3 0,001X4 - 0,01X5 - 0,034X6 0,129X7 e Nilai sig. F sebesar 0,000 (O 0,. menandakan bahwa variabel-variabel bebas yang meliputi pendidikan formal ibu (X. , pengeluaran pangan hewani (X. , pengeluaran beras (X. , tingkat konsumsi energi (X. , harga beras (X. , pangsa pengeluaran pangan (X. , dan umur ibu (X. secara kolektif memengaruhi variabel terikat secara signifikan, yaitu kondisi ketahanan pangan. Menurut Nugraha . , uji F atau yang dikenal sebagai Goodness of Fit Test digunakan untuk menilai apakah model regresi yang dibuat sesuai untuk digunakan dalam estimasi populasi. Saat nilai signifikansi . -valu. dalam uji F lebih kecil dari batas yang ditentukan . , maka model tersebut dianggap cocok dan dapat digunakan untuk memprediksi kondisi populasi dengan akurat. Hasil penelitian ini menghasilkan p-value <0,05, artinya model yang ada sudah dapat menggambarkan kondisi ketahanan pangan dalam populasi secara tepat. Pendidikan Formal Ibu (X. Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa variabel pendidikan formal ibu (X. secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan . >0,. terhadap kondisi ketahanan pangan (Y) rumah tangga Nilai koefisien regresi bernilai positif, maka dapat dikatakan bahwa setiap kenaikan 1 tahun pendidikan formal ibu, maka akan menaikkan nilai kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin sebesar 0,12. Temuan yang diperoleh dalam penelitian ini didukung hasil penelitian sebelumnya oleh Srinita . dan Putri et al. dimana pendidikan ibu tidak berpengaruh pada kondisi ketahanan Menurut Fatmah . tingkat pendidikan ibu rendah menunjukkan kemungkinan mengalami kerawanan pangan 6,9 kali lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang memiliki pendidikan sedang. Menurut Sihite et al. level pendidikan ibu berhubungan dengan kemampuan ibu dalam mengakses dan memahami informasi mengenai gizi dan kesehatan dari Faktor Sosiodemografis dan Sosioekonomi yang Berperan dalam Ketahanan Pangan Rumah Tangga Sangat Miskin Ekstrem di Wilayah Pesisir Demak Yovita Aryani. Mukson, dan Anang Mohamad Legowo sumber eksternal. Sedangkan menurut Pujilestari dan Haryanto . pendidikan ibu berperan untuk memastikan kebutuhan pangan yang merata bagi seluruh anggota keluarga. Hal ini tentunya dapat meningkatkan pemahaman gizi guna meningkatkan status ketahanan pangan keluarga. Pengeluaran Pangan Hewani (X. Pada Tabel 3 diketahui bahwa variabel pengeluaran pangan hewani (X. secara parsial berkontribusi secara nyata . <0,. terhadap kondisi ketahanan pangan (Y) rumah tangga miskin. Nilai koefisien regresi untuk variabel pengeluaran pangan hewani bernilai negatif, artinya setiap kenaikan Rp. pengeluaran untuk kebutuhan pangan hewani akan menurunkan nilai kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin sebesar -1,127E-6. Studi ini selaras dengan penelitian Sabaora et al. yang menyatakan adanya pengaruh negatif signifikan dari harga daging ayam dan harga telur terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Hal ini berarti kenaikan harga pangan hewani akan menurunkan kemampuan rumah tangga dalam membeli sumber pangan hewani tersebut, sehingga konsumsi pangan hewani berkurang dan akhirnya berdampak negatif pada tingkat ketahanan pangan rumah tangga. Pengeluaran Beras (X. Ditunjukkan pada Tabel 3. bahwa variabel pengeluaran beras (X. memberikan pengaruh nyata secara parsial . <0,. pada kondisi ketahanan pangan (Y) rumah tangga miskin. Nilai koefisien regresi untuk variabel pengeluaran beras bernilai negatif yang berarti bahwa nilai kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin akan turun sebesar -5,688E-5 dengan setiap kenaikan pengeluaran Rp. 1 untuk kebutuhan beras. Hasil riset ini sejalan dengan penelitian Sembiring . yang menyatakan adanya dampak signifikan dari pengeluaran beras pada ketahanan pangan keluarga kurang mampu di Kecamatan Medan Marelan. Studi yang dilakukan oleh Aliciafehlia & Yuprin . juga menyimpulkan bahwa pengeluaran untuk beras memengaruhi situasi ketahanan pangan keluarga di Kelurahan Habaring Hurung. Tingkat Konsumsi Energi (X. Pada Tabel 3 terlihat bahwa variabel tingkat konsumsi energi (X. memiliki tidak berdampak signifikan secara parsial . >0,. terhadap kondisi ketahanan pangan (Y) pada rumah tangga miskin. Variabel X4 memiliki koefisien regresi positif yang mengimplikasikan bahwa setiap peningkatan 1 kkal tingkat konsumsi energi akan menaikkan skor kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin sebesar 0,001. Menurut Damayanti . serta Handayani dan Yulistiyono . rumah tangga miskin berpenghasilan rendah sehingga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangannya secara cukup dan memicu kerawanan pangan. Hasil ini juga sesuai dengan pendapat French et al. dan Gregory et al. yang menyebutkan rumah tangga dengan pendapatan lebih rendah membeli makanan dengan tingkat gizi yang nilainya lebih rendah daripada rumah tangga berpendapatan lebih tinggi. Hasil penelitian Ranjit et al. menyebutkan kelompok masyarakat dengan kerawanan pangan memiliki pola makan yang kurang sehat, dengan frekuensi dan porsi konsumsi buah dan sayuran yang lebih rendah dibandingkan kelompok tahan pangan. Sesuai dengan pendapat Eicher-Miller dan Zhao . rumah tangga yang mengalami kerawanan pangan juga berisiko memiliki kualitas pangan yang lebih rendah. Harga Beras (X. Hasil uji t pada Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel harga beras (X. secara parsial memberikan pengaruh yang signifikan . <0,. terhadap kondisi ketahanan pangan (Y) pada rumah tangga Koefisien regresi untuk harga beras bernilai negatif, yang berarti bahwa setiap peningkatan harga beras sebesar Rp 1 akan menyebabkan penurunan kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin sebesar -0,01. Hasil studi ini mendukung penelitian Putri et al. yang menunjukkan adanya pengaruh negatif signifikan dari harga beras terhadap ketahanan pangan. Riset yang dilakukan oleh Saputro dan Fidayani . juga menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari harga beras terhadap ketahanan pangan, dimana semakin meningkat harga bahan pangan pokok, maka pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan juga akan meningkat sehingga mempengaruhi kondisi ketahanan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3091-3099 Pangsa Pengeluaran Pangan (X. Tabel 3 memperlihatkan bahwa variabel pangsa pengeluaran pangan (X. memiliki pengaruh signifikan secara parsial . <0,. terhadap kondisi ketahanan pangan (Y) pada rumah tangga miskin. Nilai koefisien regresi yang negatif menunjukkan bahwa kenaikan pangsa pengeluaran pangan sebesar 1% akan berdampak pada penurunan kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin sebesar 0,034. Pernyataan ini selaras dengan opini Kalaba et al. dan Novarista et al. yang menyebutkan semakin besar proporsi pengeluaran untuk makanan, semakin rendah tingkat ketahanan rumah tangga yang bersangkutan. Menurut Herawati et al. rumah tangga miskin lebih rentan terhadap kelaparan dan ketidakamanan pangan, sehingga mereka masih mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk konsumsi makanan. Menurut Rachmah dan Marzuki . ketika rumah tangga mengeluarkan biaya untuk belanja pangan lebih besar daripada belanja untuk kebutuhan non-pangan, maka rumah tangga tersebut mengalami ketahanan pangan yang rendah. Menurut Nurjannah dan Syarifuddin . ketahanan pangan suatu rumah tangga cenderung menurun jika pengeluaran untuk pangan semakin besar. Sebaliknya, tingkat ketahanan pangan akan semakin optimal apabila pengeluaran pangan rumah tangga semakin kecil. Umur Ibu (X. Merujuk pada Tabel 3, variabel umur ibu (X. secara parsial tidak memperlihatkan efek yang signifikan . >0,. pada kondisi ketahanan pangan (Y) pada rumah tangga miskin. Meskipun demikian, nilai koefisien regresi yang positif mengindikasikan bahwa setiap penambahan satu tahun pada umur ibu berpotensi meningkatkan kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin sebesar 0,129. Ibu dengan usia yang lebih lanjut cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai mutu dan kebutuhan pangan keluarga dibandingkan ibu yang usianya lebih muda (Srinita, 2. Pengalaman membantu mereka memahami pentingnya memilih makanan yang selain memuaskan rasa lapar juga bermanfaat secara gizi. Mereka cenderung dapat menentukan jenis dan porsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga. Sebaliknya, ibu yang masih muda sering kali belum memiliki cukup pengalaman atau pengetahuan dalam hal gizi keluarga, sehingga hal ini akan berpengaruh pada kondisi ketahanan pangannya. Koefisien Determinasi Koefisien determinasi sebesar 0,689 menunjukkan bahwa variabel-variabel independen mampu menjelaskan 68,9% variasi yang terjadi pada variabel dependen, yaitu kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin. Adapun selisihnya sebesar 31,1% disebabkan oleh variabel lain yang tidak diulas dalam studi ini. KESIMPULAN Analisis regresi mengindikasikan bahwa secara kolektif, seluruh variabel bebas dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan . < 0,. terhadap kondisi ketahanan pangan (Y). Secara parsial variabel pengeluaran pangan hewani, pengeluaran beras, harga beras, dan proporsi pengeluaran pangan berpengaruh signifikan . <0,. , sedangkan faktor yang tidak berpengaruh signifikan . >0,. adalah pendidikan formal ibu, tingkat konsumsi energi, dan usia ibu. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas dukungan dana yang diberikan untuk penelitian dan publikasi karya ini. DAFTAR PUSTAKA