JPMIM Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju Vol. No. April, 2025, hal. 27- 34 Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting (Infant and Young Child Feeding Concepts for Stunting Preventio. Agustina Sari, . Achmad Lukman Hakim* Universitas Indonesia Maju. Jakarta. Indonesia Article Info Abstract Corresponding Author: Penulis Korespondensi Aachmadlukmanhakim@gmail. Stunting is one of the nutritional problems faced by infants worldwide today. Of the 154 stunted toddlers in the Seribu Islands Administrative Regency, 1 toddler was found with TB . 65%), 56 toddlers with anemia . 36%), 10 toddlers with worms . 49%), 1 toddler with SDIDTK results that were not appropriate . 64%), 4 toddlers with unhealthy latrines . 59%), and 7 toddlers with recurrent diarrhea . 54%). Then, of the 154 stunted toddlers, a 24-hour Food Recall was conducted on 53 stunted toddlers . This activity was carried out in the Panggang Island Village. This type of community service was carried out in the form of empowerment to cadres using the FGD method . Health Promotion . ectures, audiovisua. , roleplay, discussion, and documentation. The results of community service showed that most of the respondents' knowledge, namely 90% was categorized as good, 72% as sufficient, and 37% as poor. Cadres' knowledge was considered Community service activities succeeded in significantly increasing cadres' awareness and skills. The average increase in awareness reached 50 percentage points, while skills increased by an average of 47 percentage points. It is hoped that the community health center can hold regular training on the concept of feeding infants and toddlers to prevent stunting. History: Submitted: 14-03-2025 Review: 17-03-2025 Accepted: 10-04-2025 Published: 30-04-2025 Keyword: child, baby, stunting Kata Kunci: anak, bayi, stunting Abstrak Copyright A 2025 by Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa Internasional. https://doi. org/10. 33221/jpmim. Pertumbuhan yang terhambat atau stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dihadapi bayi di seluruh dunia saat ini. Dari 154 Balita Stunting di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu didapatkan 1 balita dengan TB . ,65 %), 56 balita dengan anemia . ,36 %), 10 balita dengan kecacingan . ,49 %), 1 balita dengan hasil SDIDTK tidak sesuai . ,64 %), 4 balita dengan jamban tidak sehat . ,59%), dan 7 balita dengan diare berulang . ,54 %). Kemudian dari 154 Balita Stunting tersebut dilakukan Food Recall 24 Jam terhadap 53 balita stunting . Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Pulau Panggang. Jenis Pengabdian ini dilakukan berupa pemberdayaan kepada kader dengan menggunakan metode FGD . Promosi Kesehatan . eramah, audiovisua. roleplay, diskusi, dan dokumentasi. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan sebagian besar pengetahuan responden yiatu sebesar 90 % dengan kategori baik,72 % dengan kategori cukup, dan 37 % dengan kategori Pengetahuan kader dikatakan baik. Kegiatan pengabdian berhasil meningkatkan kesadaran dan keterampilan kader secara Rata-rata peningkatan kesadaran mencapai 50 poin persentase, sedangkan keterampilan meningkat rata-rata 47 poin Diharapkan pihak puskesmas dapat mengadakan pelatihan rutin mengenai konsep pemberian makan pada bayi dan balita untuk pencegahan stunting. EISSN: 2722-4341 (Onlin. | 27 JPMIM Ae Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting Pendahuluan Pertumbuhan yang terhambat atau stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dihadapi bayi di seluruh dunia saat ini. Balita stunting merupakan masalah gizi kronik yang kompleks, kondisi ini disebabkan oleh banyak faktor antara lain kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Selain permasalahan kesehatan yang dialami saat itu, balita stunting di masa yang akan datang juga akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Pada tahun 2022, stunting terjadi pada 22,2% anak di bawah usia 5 tahun, atau sekitar 150,8 juta anak di seluruh dunia. 2 Namun angka ini turun dibandingkan angka stunting tahun 2020 yang sebesar 32,6%. Pada tahun 2022, lebih dari separuh anak stunting dunia berasal dari Asia . %), dan lebih dari sepertiga . %) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita di Asia, persentase stunting tertinggi adalah Asia Selatan . ,7%), dan terendah berasal dari Asia Tengah . ,9%). Global Nutrition Report 2023 mencatat bahwa prevalensi stunting di Indonesia berada pada peringkat 108 dari 132 negara. Dalam laporan sebelumnya. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 17 negara yang mengalami beban ganda gizi, baik kelebihan maupun kekurangan gizi. Di kawasan Asia Tenggara, prevalensi stunting di Indonesia merupakan tertinggi kedua, setelah Kamboja. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, di tahun 2023 Stunting Indonesia sebesar 30. Persentase jumlah balita ditimbang terhadap seluruh balita yang ada (D/S) memberikan indikasi tentang tingkat partisipasi masyarakat pada kegiatan pemantauan pertumbuhan di posyandu yang mungkin berkaitan dengan masalah lainnya seperti terjadinya pandemi Covid-19 atau terjadi migrasi Data cakupan D/S, data status gizi berdasarkan Berat Badan per Usia (BB/U), data status gizi berdasarkan BB/TB dan data status gizi berdasarkan Tinggi Badan per Usia (TB/U) di wilayah Kepulauan Seribu berasal dari data hasil penimbangan balita yang diinput ke dalam aplikasi EPPGBM pada tahun 2023. Hasil cakupan D/S tahun 2023 yaitu 74. 2 %, naik dari tahun 2020 yaitu 69,48 % dikarenakan pandemi Covid-19. Dengan capaian D/S bulan September tahun 2021 di Kepulauan Seribu yang mencapai diatas 70 % maka diharapkan dapat menghasilkan data surveilans balita dengan resiko stunting yang representatif. Upaya percepatan pencegahan Stunting harus dilaksanakan secara holistik, integratif dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi dan sinkronisasi antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi, pemerintah kabupaten kota, pemerintah desa, dan masyarakat. Para kader posyandu salah satunya diharapkan dapat menjadi salah satu ujung tombak dalam upaya percepatan pencegahan stunting melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan pelatihan pencegahan stunting diharapkan kader memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam upaya perecepatan penurunan stunting dan meningkatkan pencegahan stunting di masyarakat. Salah satu upaya untuk pencegahan stunting adalah masyarakat paham terkait Pemberian Makan Bayi dan Anak balita (PMBA) yakni pemberian ASI secara eksklusif selama usia 0-6 bulan, selanjutnya bayi mulai dikenalkan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan tetap memberikan ASI lanjutan sampai dengan usia 2 tahun atau lebih. Pemberian MP-ASI mulai usia 6 bulan menjadi sangat penting mengingat pada usia 6-11 bulan kontribusi ASI pada pemenuhan kebutuhan gizi hanya dua per tiga sedangkan sepertiganya harus dipenuhi dari MP-ASI. Seiring bertambahnya usia, kehadiran MP-ASI menjadi semakin penting. Pada saat bayi berusia 12-23 bulan, dua per tiga pemenuhan kebutuhan gizi berasal dari MP-ASI. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian MP-ASI adalah kuantitas dan kualitasnya memenuhi prinsip gizi seimbang agar tidak cenderung tinggi karbohidrat tetapi juga memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. MP-ASI ada yang bersifat pabrikan dan ada yang berbasis pangan lokal. Keduanya dapat diberikan, namun MP-ASI berbasis pangan lokal akan lebih berkelanjutan karena memanfaatkan pangan yang ada di masyarakat. Status gizi balita berdasarkan tinggi badan dibanding usia di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dapat dilihat pada tabel berikut. EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 1, 2025 | 28 JPMIM Ae Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting Tabel 1. Status Gizi Berdasarakan TB/U di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Bulan September 2023 TB / U Puskesmas Sangat Pendek Normal Tinggi Jmlh Pendek Kelurahan P. Tidung 3,17 % Kelurahan P. Pari 6,46 % Kelurahan P. Untung Jawa 6,49 % Kelurahan P. Kelapa 8,07 % Kelurahan P. Panggang 14,89 % Kelurahan P. Harapan 10,11 % Total Kabupaten Adm Kep. 8,29 % Dari hasil pemantauan pertumbuhan balita yang dilakukan di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu sebanyak 154 Balita dinyatakan pendek dan sangat pendek . erdasarkan Tinggi Badan per Usi. Selain itu dari 154 Balita Stunting di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu di dapatkan 1 balita dengan TB . ,65 %), 56 balita dengan anemia . ,36%), 10 balita dengan kecacingan . ,49 %), 1 balita dengan hasil SDIDTK tidak sesuai . ,64%), 4 balita dengan jamban tidak sehat . ,59%), dan 7 balita dengan diare berulang . ,54 %). Kemudian dari 154 Balita Stunting tersebut dilakukan Food Recall 24 Jam terhadap 53 balita stunting . , dengan hasil kebanyakan balita mengkonsumsi mie, sayur sop, sayur asam, ikan, ayam, tempe, dan tahu dengan frekuensi pemberian yang jarang. Dari kondisi tersebut mendorong kami untuk melakukan penyuluhan tentang pengenalan PMBA sebagai salah satu langkah dalam mencegah kejadian stunting di Pulau Panggang Kepulauan Seribu. Diharapkan dengan adanya sarana dan kegiatan sosialisasi serta evaluasi yang sitematis dan terstruktur dapat mencegah terjadinya stunting dan penyuluhan gizi ini dapat meningkatkan derajat kesehatan balita dan anak usia sekolah di daerah tersebut. Permasalahan yang muncul di wilayah Kelurahan Pulau Panggang antara lain sebagai berikut: Prevalensi Balita Stunting tertinggi di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terdapat di Kelurahan Pulau Panggang . ,89 %). Adanya tren pola asuh pemberian makan bayi dan anak yang tidak sesuai di Kelurahan Pulau Panggang. Kepulauan Seribu merupakan salah satu kabupaten di DKI Jakarta yang menjadi lokus penanganan stunting. Minimnya penyuluhan tentang PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak Balit. dalam upaya mencegah stunting. Solusi permasalahan dari kegiatan yang diprogramkan berdasarkan permasalahan di atas adalah meningkatkan pengetahuan kader dengan pemberian edukasi/pendidikan kesehatan, memberikan arahan serta membuat forum diskusi bersama dengan kader sehingga diharapkan dapat memecahakan permasalahan. Metode Pengabdian Kepada Masyarakat ini berlokasi di Kelurahan Pulau Panggang. Kep. Seribu. Sasaran untuk kegiatan pengabdian kepada Kader Sebanyak 30 Orang. Kegiatan Pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat terbagi menjadi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tahap monitoring. Berikut adalah rincian tiap tahapan yang akan dilaksanakan: Tahap Persiapan . Penyusunan program kerja Penyusunan program kerja yaitu penyuluhan agar kegiatan yang dilaksanakan menjadi lebih teratur dan terarah. Program ini meliputi semua hal-hal yang bersifat teknis, manajerial dan penjadwalan . ime schedul. EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 1, 2025 | 29 JPMIM Ae Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting . Persiapan sarana dan prasarana Persiapan ini meliputi penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung seperti alat bantu presentasi penyuluhan yaitu laptop dan infocus. Koordinasi lapangan Koordinasi lapangan akan dilakukan oleh Tim. Tahap Pelaksanaan Dalam mengatasi permasalahan yang terjadi pada bayi dan balita sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, maka Sebelum pemberian materi, semua kader diberikan pre-test terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan mereka terhadap materi yang akan diberikan. Pre-test ini akan diisi oleh seluruh sasaran. Setelah itu kami akan melakukan sesi diskusi Kasus dengan menggunakan metode FGD (Focus Group Discussio. tujuannya untuk menggali pengetahuan dan wawasan mengenai pencegahan stunting yang terjadi di lingkungan sekitar. Setelah itu Materi diberikan dengan metode ceramah dan pemutaran audiovisual. Kemudian dilanjut dengan demonstrasi pembuatan makanan pencegah stunting dengan bahan lokal (Suku. Kegiatan selanjutnya adalah diskusi dan tanya jawab dan di akhiri dengan pembagian post-test dan kuesioner kepuasan pelatihan. Tahap Evaluasi Pada tahap evaluasi kader yang digunakan yaitu metode kuis dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai tolak ukur apakah kader memahami terhadap materi yang diberikan serta memberikan informasi tambahan kepada kader dengan tujuannya agar dalam setiap penyuluhan kepada masyarakat semakin paham dan mengenal tentang seberapa pentingnya Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting. Hasil dan Pembahasan Kegiatan Pengabdian masyarakat ini berlangsung selama satu hari, pada hari Sabtu. Tanggal 30 Maret 2024 berlokasi di Kelurahan Pulau Panggang Kepulauan Seribu. Kegiatan tersebut berjalan lancar dan kondusif. Jumlah peserta yang hadir dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah sebanyak 30 Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mencegah stunting melalui konsep pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang tepat. Sebelum penyampaian materi inti, seluruh kader diberikan pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mereka terkait isu stunting dan praktik pemberian makan yang sesuai. Hasil pretest menunjukkan variasi tingkat pemahaman, yang menjadi dasar dalam menyusun pendekatan penyampaian materi secara lebih tepat sasaran. Gambar 1. Sesi Diskusi Kelompok EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 1, 2025 | 30 JPMIM Ae Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting Gambar 1. dilakukan diskusi kelompok terfokus (FGD/Focus Group Discussio. yang melibatkan para kader secara aktif. Metode FGD ini dimanfaatkan untuk menggali pengalaman, persepsi, serta pemahaman lokal mengenai penyebab dan upaya pencegahan stunting di lingkungan tempat tinggal mereka. Diskusi berlangsung dinamis dan membuka ruang refleksi bersama atas praktik pemberian makanan pada bayi dan balita di komunitas. Setelah sesi diskusi, dilaksanakan penyampaian materi edukatif mengenai PMBA dan pencegahan stunting dengan menggunakan metode ceramah interaktif yang didukung media Media ini dipilih untuk meningkatkan pemahaman melalui pendekatan visual dan auditori secara bersamaan. Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari peserta karena visualisasi materi yang menarik dan mudah dipahami. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi demonstrasi pembuatan makanan pencegah stunting menggunakan bahan pangan lokal, yaitu sukun. Demonstrasi ini bertujuan memberikan keterampilan praktis kepada kader dalam mengolah makanan bergizi tinggi yang terjangkau dan mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Para kader tampak antusias mengikuti setiap langkah proses pengolahan dan aktif bertanya mengenai alternatif bahan lokal lainnya yang dapat digunakan. Secara umum, kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan kader dalam praktik pemberian makan bayi dan anak yang tepat guna mendukung pencegahan stunting secara berkelanjutan di tingkat komunitas. Frekuensi Gambar 2. Pengetahuan Kader Sebelum Dilakukan Penyuluhan Berdasarkan Gambar 2. menunjukan bahwa dari total kader yang hadir dalam kegiatan penyuluhan ini hanya 10 peserta . urang dari 5%) yang mengetahui secara garis besar tentang tema yang akan disajikan, data ini diperoleh berdasarkan hasil pretest dengan peserta, sementara sisanya 20 peserta . ebih dari 80%) belum mengetahui tentang konsep pemberian makan bayi dan anak untuk pencegahan stunting. Pemberian penyuluhan pada kegiatan ini berfokus kepada peningkatan pengetahuan kader tentang konsep pemberian makan bayi dan anak dalam pencegahan stunting yang diharapkan bisa berpengaruh pada wawasan dan perilaku mereka. Frekuensi Gambar 3. Pengetahuan Kader Setelah Dilakukan Penyuluhan EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 1, 2025 | 31 JPMIM Ae Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting Berdasarkan Gambar 3. menunjukan telah terjadi peningkatan pengetahuan kader tentang konsep pemberian makan bayi dan anak dalam pencegahan stunting yang dibuktikan dengan evaluasi akhir kegiatan bahwa sebanyak 23 peserta . ebih dari 85%) mampu menjawab dan menguasai teori yang diberikan dengan benar. Hal ini menunjukan bahwa peserta menyimak dengan baik materi yang disampaikan sehingga berpengaruh pada peningkatan pengetahuan mereka. Selain pengetahuan, akhir kegiatan ini mengevaluasi terkait kesadaran dan keterampilan kader. Evaluasi awal menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilakukan, tingkat pemahaman kader tentang PMBA yang sesuai dengan rekomendasi WHO masih bervariasi. Hanya 40% kader yang mampu menjelaskan prinsip 4 bintang gizi . arbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur/bua. dengan benar, sedangkan 60% masih menganggap pemberian makanan utama saja sudah cukup. Setelah kegiatan penyuluhan, simulasi, dan diskusi kelompok, terjadi peningkatan signifikan. Sebanyak 90% kader mampu menyebutkan prinsip PMBA dengan benar, termasuk jadwal pemberian makan, porsi sesuai usia, serta pentingnya inisiasi menyusui dini (IMD) dan ASI eksklusif 6 bulan. Indikator kesadaran yang mengalami peningkatan: Pengetahuan tentang pentingnya variasi makanan bergizi seimbang meningkat dari 43% menjadi 93%. Pemahaman risiko stunting akibat pola makan tidak tepat meningkat dari 50% menjadi 97%. Kesadaran akan peran kader sebagai edukator keluarga dalam PMBA meningkat dari 60% menjadi 100%. Keterampilan kader dievaluasi melalui praktik langsung pembuatan menu MP-ASI bergizi seimbang dan simulasi pemberian makan anak dengan teknik yang benar. Hasilnya menunjukkan: kemampuan menyusun menu MP-ASI sesuai usia meningkat dari 37% menjadi 87%. Keterampilan mengolah makanan dengan teknik yang mempertahankan kandungan gizi meningkat dari 40% menjadi Keterampilan menyampaikan edukasi kepada ibu balita meningkat dari 53% menjadi 93%. Praktik yang paling banyak mengalami peningkatan adalah dalam penyusunan menu harian yang bervariasi dan sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga, serta cara menyuapi anak yang melibatkan stimulasi motorik dan interaksi positif. Faktor pendukung tercapainya kegiatan pengabdian masyarakat ini diantaranya: sntusiasme kader, dukungan perangkat desa dan puskesmas, serta penggunaan media edukasi . eaflet, buku resep Sedangkan faktor pengmambat diantaranya: keterbatasan waktu kegiatan, sebagian kader masih kurang percaya diri saat praktik menyampaikan materi di depan kelompok ibu. Dari uraian hasil kegiatan selaras dengan apa yang dikutip dalam ungkapan permasalahan yang ditonjolkan ialah masih kurangnya pengetahuan kader dalam mengetahui tentang konsep pemberian makan bayi dan anak untuk pencegahan stunting. Sehingga banyak terjadi kasus stunting yang menimpa bayi dan anak-anak. Dari hasil pemantauan pertumbuhan balita yang dilakukan di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu sebanyak 154 Balita dinyatakan pendek dan sangat pendek . erdasarkan Tinggi Badan per Usi. Selain itu dari 154 Balita Stunting di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu di dapatkan 1 balita dengan TB . ,65 %), 56 balita dengan anemia . ,36 %), 10 balita dengan kecacingan . ,49 %), 1 balita dengan hasil SDIDTK tidak sesuai . ,64 %), 4 balita dengan jamban tidak sehat . ,59%), dan 7 balita dengan diare berulang . ,54 %). Sementara pada penelitian yang dilakukan oleh Mouliza dan Darmawi yaitu Pola Pemberian makanan yang sudah diterapkan ibu atau keluarga balita sebagian besar sudah melakukan penyusunan jenis makanan yang baik, bervariasi dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan, namun dalam waktu/jadwal pemberian makanan masih secara tidak teratur dan tidak tepat. Sehingga dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara jadwal pemberian makan dengan kejadian stunting di desa Arongan didapatkan persentase kejadian stunting yang paling rendah, yaitu sebesar 21% anak menderita stunting dari total subjek 53 anak. Jenis makanan yang lebih variatif dan cukup nilai gizinya juga sangat penting untuk menghindari anak mengalami kekurangan gizi. Hal ini disebabkan karena balita merupakan kelompok rawan gizi sehingga jenis makanan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan tubuh dan daya cerna Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan pola asuh pemberian makanan dengan kejadian stunting seperti kurangnya jenis EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 1, 2025 | 32 JPMIM Ae Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting variasi makanan yang diberikan. Masih ditemukannya beberapa fakta pada beberapa balita yang hanya suka makan bubur dengan alasan susah makan bahkan hingga usia yang lebih dari 2 tahun serta pengolahan makanan yang kurang bervariasi. Selain itu jenis konsumsi makanan juga sangat menentukan status gizi anak. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di Kelurahan Pulau Panggang. Kepulauan Seribu, telah berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader terkait konsep pemberian makan bayi dan anak (PMBA) sebagai strategi pencegahan stunting. Sebelum penyuluhan, mayoritas kader . ebih dari 80%) belum memahami secara utuh konsep PMBA. Namun, setelah penyuluhan yang dikombinasikan dengan diskusi kelompok dan demonstrasi, sebanyak 85% kader menunjukkan peningkatan pemahaman melalui evaluasi post-test. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan edukatif yang komprehensif untuk memberdayakan kader dalam penanganan isu stunting di Hasil kegiatan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri et al. di Kabupaten Sleman yang menunjukkan bahwa pelatihan kader tentang PMBA secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang gizi anak usia dini. 11 Penelitian lain oleh Lestari dan Yuliani . di Kabupaten Gowa juga menemukan bahwa pemberian edukasi menggunakan media audiovisual dan diskusi terbimbing dapat meningkatkan pengetahuan ibu dan kader posyandu mengenai pencegahan stunting. Dari sisi teori, kegiatan ini selaras dengan teori pembelajaran kognitif sosial oleh Bandura, yang menekankan bahwa pembelajaran efektif terjadi melalui observasi, modeling, dan pengalaman Penggunaan metode demonstrasi dalam kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada kader sehingga memudahkan pemahaman konsep dan praktik pemberian makanan bergizi berbasis bahan lokal seperti sukun. 13 Teori lain yang mendukung pendekatan ini adalah teori konstruktivistik Piaget, yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh secara aktif melalui keterlibatan langsung dan diskusi kelompok, seperti yang dilakukan dalam sesi Focus Group Discussion (FGD). Demonstrasi pembuatan makanan berbasis sukun tidak hanya memberikan wawasan baru kepada kader, tetapi juga menjawab tantangan ketersediaan bahan pangan lokal yang bergizi dan Studi oleh Santoso et al. menyatakan bahwa pemanfaatan pangan lokal seperti sukun yang tinggi karbohidrat dan serat dapat dijadikan alternatif makanan tambahan bagi balita guna mencegah stunting. 15 Hal ini diperkuat oleh penelitian Siregar dan Nasution . , yang menyebutkan bahwa intervensi gizi berbasis pangan lokal dapat meningkatkan status gizi anak secara signifikan bila dilakukan secara konsisten oleh masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan kader setelah mengikuti kegiatan ini, diharapkan mereka dapat berperan aktif dalam edukasi dan pendampingan keluarga di lingkungan masing-masing. Sebagaimana ditegaskan dalam kajian oleh Kemenkes RI . , keterlibatan kader sebagai agen perubahan memiliki kontribusi penting dalam program nasional percepatan penurunan stunting, terutama dalam edukasi PMBA dan pemantauan pertumbuhan anak. 17 Temuan kegiatan ini memberikan gambaran bahwa penguatan kapasitas kader melalui pendekatan interaktif dan berbasis lokal merupakan strategi efektif dalam membangun ketahanan gizi masyarakat dari tingkat dasar. Simpulan Kegiatan pengabdian masyarakat tentang konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) untuk pencegahan stunting berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader melalui rangkaian kegiatan pre-test, diskusi kelompok terfokus (FGD), ceramah audiovisual, dan demonstrasi pembuatan makanan bergizi berbahan lokal . Partisipasi aktif para kader menunjukkan adanya antusiasme dan kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Pendekatan edukatif yang interaktif dan kontekstual terbukti efektif dalam memperkuat kapasitas kader sebagai agen perubahan di tingkat komunitas. Adanya peningkatan pengetahuan kader tentang konsep EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 1, 2025 | 33 JPMIM Ae Konsep Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk Pencegahan Stunting pemberian makan setalah dilakukan penyuluhan. Kader mampu menjawab dan menguasai teori yang diberikan dengan benar, pengetahuan terdiri dari definisi stunting dan konsep pemberian makan pada bayi dan anak. Kader dinilai siap menjadi agen perubahan dalam edukasi PMBA untuk pencegahan stunting di masyarakat. Diharapkan puskesmas setempat untuk rutin dan konsisten melaksanakan kegiatan peningkatan keterampilan kader di lingkungan masyarakat seperti memberikan pelatihan terkait konsep pemberian makan pada bayi dan anak dalam pencegahan stunting. Daftar Pustaka