Mutiara Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. No. Juli 2023 e-ISSN 3025-1028 Available at: https://jurnal. tiga-mutiara. com/index. php/jimi/index Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah *Aquarini1. Ella Febriani2 Universitas Muhammadiyah Palangkaraya E-mail: aquariniedward@gmail. ellafebriani1803@gmail. Abstract The Balian Bawo ritual is a healing ritual carried out by men and is believed by the Dayak community of Dusun Maanyan and Lawangan (Dusmal. In ritual processions, it is closely related to asking for help from ancestors to get healing instructions. This research aims to uncover the ritual communication contained in Balian Bawo, which is communication between ancestors and the Balian Bawo. Researchers used hermeneutical phenomenology methodology by taking 6 people as sources. The data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. The results of the research show that Balian Bawo ritual communication is seen in three ways, namely 1. Communication is with communicators, namely Balian and ancestors as communicants to convey messages about healing instructions through the intermediary of sowing rice which then includes dance and the sounds of bracelets as a connecting frequency amplifier. Communion in the Balian Bawo Ritual in traditional medicine occurs not because of periodic activities every year, but is present when people need treatment. Common means that the local community can help the family prepare for the Balian Bawo Ritual activities and the Balian Bawo ritual procession can be followed by the local community as long as they comply with the existing regulations during the activity procession which is a form of community awareness of the existence of the Balian Bawo healing ritual. Keywords: Communication. Ritual Communication. Balian Bawo. Myth. Abstrak Ritual Balian Bawo merupakan ritual pengobatan yang dibawa oleh laki-laki dan diyakini oleh masyarakat rumpun Dayak Dusun Maanyan dan Lawangan (Dusmal. Dalam prosesi ritual, erat kaitannya meminta pertolongan kepada leluhur untuk mendapatkan petunjuk Tujuan penelitian ini, untuk menguak komunikasi ritual yang terdapat dalam Balian Bawo yang merupakan komunikasi antara leluhur dan sang balian bawo. Peneliti menggunakan metodologi fenemenologi hermeneutika dengan mengambil 6 orang sebagai Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi ritual balian bawo dilihat dalam tiga hal yaitu 1. Communication . ialah dengan komunikator adalah balian dan leluhur sebagai komunikan untuk menyampaikan pesan tentang petunjuk kesembuhan melalui perantara menabur beras yang kemudian ada tari dan bunyi-bunyi gelang sebagai penguat frekuensi penghubung. Communion . omuni atau perayaa. dalam Ritual Balian Bawo dalam pengobatan tradisional terjadi bukan karena adanya kegiatan berkala setiap tahunnya, tetapi hadir disaat masyarakat memerlukan pengobatan. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 226 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 Common (Kebersamaa. ialah masyarakat sekitar dapat membantu keluarga persiapan untuk kegiatan Ritual Balian Bawo dan prosesi ritual Balian Bawo dapat diikuti oleh masyarakat sekitar asalkan mematuhi peraturan yang ada selama prosesi kegiatan yang merupakan wujud kesadaran masyarakat terhadap eksistensi ritual pengobatan Balian Bawo. Kata-kata Kunci: Komunikasi. Komunikasi Ritual. Balian Bawo. Mitos. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam provinsi, yang mana setiap provinsinya memiliki keunikan masing-masing seperti tradisi dalam hal tarian Kalimantan Tengah salah satunya, provinsi di Indonesia yang menyimpan banyak ragam budaya tradisi khususnya tari tradisional. Tradisi ialah suatu yang memiliki identik dengan adat istiadat, agama, kepercayaan maupun kebiasaan yang diajarkan secara turun temurun dari masa lalu akan tetapi masih ada hingga saat ini dan masih dijaga Kegiatan tari menari tradisonal juga termasuk dalam bagian komunikasi ritual. Dalam jurnal Setiawan dinyatakan bahwa Tari termasuk dalam media ritual adat persembahan terhadap kepercayaan animisme atau roh gaib, dinamisme atau suatu benta yang memiliki kekuatan magis dan terakhir totetisme yaitu binatang yang dapat mempengaruhi kehidupan alam semesta. 2 Kemudian sebagai sistem kepercayaan masyarakat sekaligus terdapat simbol didalamnya guna alat komunikasi manusia penghubung dengan hal dunia magis, simbol tersebut muncu karena nilai-nilai etis pandangan hidup masyarakat suatu daerah kelompok. Tari termasuk dalam golongan komunikasi nonverbal karena dilihat dari gerakannya. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang dilakukan tidak secara verbal atau tidak menggunakan kata-kata. Komunikasi nonverbal dapat dikatakan sebagai bahasa isyarat atau bahasa diam (Silent Languag. dalam Cangara. 4 Nonverbal memiliki beberapa kelompok yaitu gerakan badan, gerakan mata, sentuhan, tekanan suara, sikap diam, postur tubuh, kedekatan dan ruang, artifak dan visualisasi, warna, waktu, bunyi dan terakhir bau. Cucu Widaty et al. AuMakna Upacara Balian dalam Ritual Pengobatan Tradisional Suku Paser Kabupaten Paser,Ay Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis 6, no. : 55Ae64, https://journal2. id/index. php/jsph/article/view/22676. Irvan Setiawan. AuTari Dibingi: Sebuah Upaya Penggalian Data Awal Tarian Tradisional yang Terancam Punah di Kabupaten Pesisir Barat. Lampung,Ay Patanjala 10, no. : 219Ae234, https://w. com/id/publications/291993/tari-dibingi-sebuah-upaya-penggalian-data-awal-tariantradisional-yang-terancam. Amelinda Suryanda Pratiwi. Resa Respati, dan Rosarina Giyartini. AuTari Egrang Batok di Sekolah Dasar,Ay Pedadidaktika: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar 7, no. : 257Ae266, https://ejournal. edu/index. php/pedadidaktika/article/view/26195. Hafied Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi. Edisi 3. (Depok: Rajawali Pers, 2. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 227 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah Aktivitas komunikasi ritual terdapat model tindakan mengeskpresikan tindakan sosial dan lebih menekankan kepuasan dari komunikator ataupun komunikan yang bergantung pada posisi pengertian bersama. Kemudian guna menyampaikan suatu pesan secara simbolik dalam pandangan ritual seperti kegiatan sakral, dimana orang berkumpul untuk menjalankan aktivitas komunikasi ritual tersebut, lalu menampilkan dalam wujub baik tarian kisah, musik dan tutur lisan. Pesan yang disampaikanpun dapat bermakna ganda dan bersifat tersembunyi tergantung simbol budaya mana yang digunakan sebab media dan pesan itu tidak dapat dipisahkan dalam komunikasi ritual sebab media dapat menjadi pesan dalam aktivitas tersebut. Kalimantan Tengah, khususnya rumpun masyarakat Dayak Dusmala memiliki tarian yang dapat melakukan komunikasi ritual. Masyarakat Dusmala (Dusun Maanyan Lawanga. adalah masyarakat yang bersuku Dayak Maanyan dan Dayak Lawangan yang banyak dijumpai pada Kabupaten Barito Timur. Kemudian. Balian Bawo adalah salah satu tari yang berasal dari rumpun masyarakat Dusmala yang terdapat melakukan komunikasi ritual. Sebab. Balian adalah suatu kegiatan penghantar makhluk hidup dengan dewa atau tuhan yang dituju menggunakan alat sajen, musik, tari. Umumnya tari Balian merupakan alternatif pengobatan tradisional masyarakat Dayak untuk merawat orang sakit. 6 Balian atau Wadian Bawo merupakan tarian yang dibawakan oleh laki-laki dan termasuk dalam kelompok Wadian Welum yaitu kelompok yang bertugas untuk mendoakan, mengobati maupun menolak bala yang mengganggu kenyamanan orang masih hidup. Fenomena dilapangan dalam masyarakat umumnya mengetahui bahwa tari merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi. Akan tetapi, ada media lain untuk berkomunikasi selain tari, yaitu media-media yang diperlukan untuk menjadi jalan Berdasarkan observasi awal yang peneliti temukan bahwa kecenderungan masyarakat mengetahui Balian Bawo merupakan suatu tari untuk pertunjukan seni hiburan saja dan banyak dari mereka kurang mengetahui kalau Balian Bawo dapat melakukan pengobatan tradisional. Yustina Sopacua dan Vransisca Kissya. AuKomunikasi Ritual dalam Tradisi Aroha di Negeri Elfule Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan,Ay Jurnal Ilmu Komunikasi Pattimura 1, no. : 1Ae19, https://ojs3. id/index. php/transceiver/article/view/5995. Effrata. AuFenomologi Sosial Suku Dayak Maanyan,Ay Jurnal Sociopolitico 4, no. : 13Ae22, https://fisipolupgriplk. id/jurnal/index. php/JSP/article/view/55. Andreas Mariano. AuKearifan Lokal Suku Dayak Maanyan sebagai Filosofi Kehidupan Tradisional,Ay Paradigma: Jurnal Filsafat. Sains. Teknologi, dan Sosial Budaya 28, no. : 88Ae96, chromeextension://efaidnbmnibpcajpcglclefindmkaj/https://core. uk/download/pdf/553271767. Chris H. Leiden. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 23 NopemberAy (Barito Timur, 2. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 228 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 Balian Bawo menghubungkan antara Balian dengan Leluhur, tetapi ada media lain untuk menjadi penghubung komunikasi antara Balian dan Leluhur yang akan peneliti ungkapkan dalam penulisan disini. Dalam Balian Bawo tidak hanya tari didalamnya sebagai penghubung Balian dan leluhur, tetapi keperluan saat Balian merupakan termasuk unsur penghubung seperti sajen dan ada beras-beras yang ditabur sebagai media juga. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana komunikasi ritual Balian Bawo sehingga Balian dapat berkomunikasi dengan leluhur, dengan harapan untuk menumbuhkan kesadaran pembaca mengetahui eksistensi Balian Bawo yang mana banyak yang mengetahui bahwa Balian Bawo sebagai media seni saja dan minim sekali mengetahui bahwa Ritual Balian Bawo dapat melakukan pengobatan tradisional terlebih di zaman sekarang yang melakukan kegiatan ini mulai sedikit. LANDASAN TEORI Komunikasi Komunikasi adalah suatu proses interaksi untuk menyebarkan informasi dengan menggunakan media perantara untuk menghubungkan komunikator dan komunikan. Stuart menyatakan dalam buku Nurudin bahwa komunikasi memiliki akar kata yang berasal dari kata communico . , yang kemudian berkembang ke dalam Bahasa Latin yaitu communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi melibatkan. berbagi, kebersamaan atau pemahaman dan pesan. Oleh karena itu, pada dasarnya proses komunikasi terjadi ketika pesan dibagi dengan pihak lain, dengan tujuan mencapai kesamaan dalam pemahaman. 10 Selanjutnya Harold D. Laswell menyatakan dalam buku Nurudin bahwa komunikasi adalah suatu proses yang menjelaskan. Siapa? Mengatakan apa? Melalui saluran apa? Kepada siapa? Dan apa efeknya?11 Komunikasi Ritual Pada jurnal Hadirman. Komunikasi ritual dicetuskan oleh James W. Carey yang mana komunikasi memiliki kaitan terhadap berbagi, partisipasi serta perkumpulan yang memiliki keyakinan yang sama. Komunikasi ritual memiliki pesan yang tidak secara langsung disebarluaskan sebab lebih tertuju pada pemeliharaan suatu kelompok masyarakat Kugarelelono. Eberson, dan Ahino. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 24 NopemberAy (Barito Timur, 2. Nurudin. Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer. Cetakan 1. (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2. , 8. Ibid. , 37. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 229 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah dalam waktu ke waktu yang umumnya dilakukan secara kolektif. Kemudian terdapat hubungan pada aktivitas religi dan kepercayaan suatu kelompok, yang proses komunikasi ritual terdapat pemaknaan dalam simbol-simbol tertentu. Pada komunikasi ritual terdapat tiga elemen yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, yaitu komunikasi, perayaan dan kebersamaan. Komunikasi diarahkan secara erat pada upacara atau kegiatan komunal atau perayaan suatu komunitas. Perayaan ini biasanya melibatkan partisipasi aktif dari anggota masyarakat yang dilakukan secara bersama-sama. Ritual diadakan secara berkala dan melibatkan partisipasi kolektif, bertujuan untuk menyegarkan dan mengembalikan pengetahuan serta makna-makna kolektif dalam Ritual berfungsi sebagai sarana mediasi untuk mempertahankan anggota masyarakat agar tetap terhubung dengan yang sakral. Pada saat-saat tertentu, kesadaran individu diarahkan kembali pada hal-hal yang dianggap keramat, yang umumnya lebih mudah diterima dan tidak dipertanyakan, terutama ketika diangkat menjadi mitos yang memuat nilai-nilai dan makna kolektif yang dianggap suci. 13 Aktivitas ritual dikatakan dilakukan secara kolektif supaya ditumbuhkan kembali makna-makna kolektif dan pengetahuan yang disakralkan ditengah kelompok masyarakat. Komunikasi Nonverbal Komunikasi nonverbal dalam Nurudin merupakan komunikasi digunakan selain tulisan dan bahasa lisan dengan kata lain komunikasi nonverbal merujuk pada berbagai bentuk komunikasi yang tidak melibatkan penggunaan simbol-simbol verbal seperti katakata, baik dalam percakapan maupun tulisan. 14 Secara sederhana, komunikasi nonverbal melibatkan lambang-lambang seperti gerakan tangan, warna, ekspresi wajah, dan sejenisnya. Teori Mitos Levi Strauss Mitos bisa diinterpretasikan sebagai sebuah narasi budaya dalam masyarakat yang menyertakan unsur keagamaan dan diwariskan secara lisan yang memiliki potensi untuk memengaruhi kehidupan sosial. Menurut Strauss, fungsi mitos adalah penyampaian konsepkonsep yang belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat, dengan pesan budaya tertanam di dalamnya. Mitos memiliki makna sebagai sebuah narasi, khususnya cerita yang berkaitan Hadirman Hadi. AuTradisi Katoba sebagai Media Komunikasi Tradisional dalam Masyarakat Muna (Perspektif Komunikasi Ritua. ,Ay Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik 20, no. : 11Ae30, https://jurnal. id/index. php/jpkop/article/view/473. Sopacua dan Vransisca Kissya. AuKomunikasi Ritual dalam Tradisi Aroha di Negeri Elfule Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan. Ay Nurudin. Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer, 134. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 230 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 dengan pengagungan terhadap dewa-dewa dan pahlawan. 15 Perspektif ini sejalan dengan pandangan Indrawati yang menyatakan bahwa mitos merupakan cerita sakral yang mendukung kerangka sistem kepercayaan atau agama. Levi Strauss mengemukakan bahwa fungsi mitos adalah memberikan penjelasan logis dalam mengubah hal yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang nyata. Mitos tidak hanya sekadar cerita, tetapi juga seringkali merupakan ungkapan simbolis dari konflik batin atau pertentangan spiritual dalam masyarakat. 17 Mitos juga berperan sebagai sarana untuk mengalihkan, menjauhkan, dan mengatasi setiap kontradiksi yang belum terselesaikan, sehingga sebagai hasilnya dapat dijelaskan dan dipahami secara logis. Dalam Aquarini. Lyvi-Strauss seperti yang dijelaskan oleh Meletinsky, mengemukakan bahwa deskripsi etnologis struktural memiliki keterkaitan yang bersifat komplementer dengan deskripsi peristiwa historis. Meskipun analisisnya bersifat sinkronis, atau sejalan pada satu titik waktu, dan diacronis, atau sepanjang waktu, pendekatannya memberikan keuntungan yang lebih Meskipun pada akhirnya Lyvi-Strauss tetap menghormati aspek sejarah, terlihat bahwa dia cenderung menuju sikap subjektivis karena intinya berfokus pada kesadaran individu dan lingkungan sosial. Lyvi-Strauss, dalam pertentangan antara naluri dan kesadaran yang diajukan oleh Jung, menyajikan konflik antara alam dan budaya. Dia menekankan peran yang lebih besar dari lingkungan dan simbolisasi, bukan hanya pada objek atau keadaan, tetapi pada hubungan yang terjalin antara objek dan manusia. Pendekatan ini menawarkan suatu proposisi yang mendasar dan menjadi landasan teori dalam pemahaman mitos. Pengobatan Tradisional Pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia dan telah memberikan hasil yang positif, di mana beberapa pasien berhasil sembuh melalui metode ini. Biaya perawatan di rumah sakit dianggap cukup tinggi, sehingga banyak masyarakat memilih pengobatan alternatif. Poin yang perlu diperhatikan dalam konteks ini adalah latar belakang individu yang menyelenggarakan pengobatan alternatif tersebut. Pengobatan alternatif telah menjadi pilihan umum dalam merawat Yosef Mizrahi dan Avinoam Nerd. Reproductive Biology of Cactus Fruit Crops. Vol. (New York: Horticultural Reviews, 1. , 321Ae346. Arisni Kholifatu Amalia Shofiani. Haswinda Harpriyanti, dan Indah Mei Diastuti. AuStruktur Mitos pada Cerita Sendang Senjaya di Kabupaten Semarang (Struktur Levi-Straus. ,Ay Jurnal Bastra 7, no. 168Ae175, https://bastra. id/index. php/journal/article/view/101. Mizrahi dan Avinoam Nerd. Reproductive Biology of Cactus Fruit Crops. Aquarini et al. Makna Sosial Burung Enggang: Dalam Batik Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Cetakan 1. (Yogyakarta: Bildung, 2. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 231 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah kesehatan masyarakat pada saat ini. Praktek pengobatan alternatif ini telah diteruskan secara turun-temurun sejak lama. Metode ini melibatkan penggunaan obat herbal, konsultasi dengan orang pintar atau tokoh masyarakat terhormat, dan didasarkan pada nilai-nilai agama. Pengobatan alternatif atau tradisional tetap digunakan oleh sebagian besar masyarakat, tidak hanya karena keterbatasan akses ke fasilitas formal kesehatan yang terjangkau, melainkan lebih dipengaruhi oleh kuatnya faktor budaya di Indonesia yang mempercayai keefektifan pengobatan alternatif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Fenomenologi menganggap bahwa setiap orang secara aktif mengartikan pengalaman mereka dan berupaya memahami dunia melalui sudut pandang pengalaman 20 Lebih lanjut Stanley Deetz dalam bukunya menyimpulkan tiga prinsip dasar fenomenologi:21 Pertama, pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar, di mana kita akan mengetahui dunia ketika kita berhubungan dengannya. Kedua, makna benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan seseorang, yang berarti bagaimana seseorang berhubungan dengan benda tersebut akan menentukan maknanya. Ketiga, bahasa merupakan kendaraan makna, dan kita mengalami dunia melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan serta mengekspresikan dunia itu. Dalam hal ini, bahasa memungkinkan kita untuk mengetahui makna dari benda atau kejadian yang kita alami. Interpretasi merupakan tahap penting dalam konsep fenomenologi, yang merujuk pada proses menentukan makna melalui pengalaman. Hal ini mencakup pergerakan maju mundur antara pengalaman suatu kejadian dan usaha untuk menetapkan maknanya, yang dikenal dengan istilah lingkaran hermeneutika. Dalam lingkaran ini, kita membuat interpretasi terhadap suatu kejadian, menguji interpretasi tersebut, dan kembali memeriksa detail kejadian untuk menghasilkan pemahaman yang lebih baik. Pendekatan fenomenologi ini mengarah pada hermeneutika budaya, seperti yang dijelaskan oleh Clifford Geertz. Geertz mendefinisikan penafsiran budaya sebagai deskripsi mendalam, di mana penafsir menggambarkan kegiatan budaya dari perspektif orang-orang Angelia Putriana. AuPeran Komunikasi Pemasaran Pengobatan Alternatif dalam Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat,Ay Jurnal Ilmu Komunikasi . 31Ae38, https://journal. org/index. php/mukasi/article/view/427. Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss. Teori Komunikasi. Edisi 9. (Jakarta: Salemba Humanika, 2. , 57. Ibid. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 232 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 22 Penafsiran ini lebih mendalam dibandingkan dengan deskripsi biasa yang hanya menyajikan pola perilaku tanpa pemahaman tentang maknanya. Penafsiran budaya melibatkan penggunaan lingkaran hermeneutika, yang menggambarkan pergeseran dari pengamatan yang spesifik menuju pemahaman yang lebih umum. Pentingnya lingkaran ini adalah untuk mengembangkan pemahaman yang lebih luas mengenai suatu budaya, yang dapat memperluas perspektif kita. 23 Dalam lingkaran hermeneutika budaya, terdapat pergerakan antara konsep pengalaman dekat dan konsep pengalaman jauh. Konsep pengalaman dekat merujuk pada makna yang dimiliki oleh individu dalam budaya tersebut, sementara konsep pengalaman jauh merujuk pada pemahaman orang dari luar budaya itu. Penafsir budaya bertugas untuk menghubungkan kedua konsep ini sehingga orang luar dapat memahami perasaan dan makna yang dimiliki anggota budaya. Melalui pendekatan ini, peneliti akan dapat menggali pesan-pesan yang terkandung dalam ritual Balian Bawo sebagai bagian dari pengobatan tradisional masyarakat Dayak Dusmala. Penelitian ini berfokus pada pengobatan tradisional masyarakat Dayak Dusmala di Kabupaten Barito Timur. Kalimantan Tengah, yang menjadi lokasi penelitian. Kalimantan Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia dengan mayoritas masyarakat suku Dayak, termasuk suku Ngaju. Siang. Ot Danum. Bakumpai. Murung. Taboyan. Dusun. Maanyan, dan Lawangan. Penelitian ini lebih difokuskan pada masyarakat suku Dayak Dusmala, yang terdiri dari suku Dusun. Maanyan, dan Lawangan. Salah satu tradisi yang dikenal di kalangan mereka adalah Balian Bawo, yang merupakan tradisi pengobatan tradisional yang diwariskan turun-temurun dan hanya dilakukan oleh laki-laki. Balian Bawo dapat dijumpai dalam berbagai kegiatan adat, seperti pernikahan atau acara hajat, namun yang paling dikenal adalah kemampuannya dalam melakukan pengobatan tradisional. Informasi dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dan rekaman aktivitas ritual Balian Bawo. Informan yang terlibat dalam penelitian ini antara lain Drs. Chris H. Leiden. Kugarelelono S. Eberson T. Tayun. Ahino Rajalaki. Sumarno. SP, serta Rory, yang merupakan Balian Asli Balian Bawo. Para informan ini berasal dari rumpun suku Dusmala, yang memiliki pengalaman langsung dalam ritual dan pengobatan tradisional Balian Bawo. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan melihat langsung proses ritual Clifford Geertz. Abangan. Santri. Priyayi dalam Masyarakat Jawa, ed. Aswab Mahasin (Bandung: Dunia Pustaka Jaya, 1. Littlejohn dan Karen A. Foss. Teori Komunikasi, 458Ae459. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 233 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah Balian Bawo, serta menganalisis kegiatan tersebut melalui rekaman yang diperoleh. Wawancara dilakukan dengan sejumlah pihak, termasuk tokoh adat, keluarga yang pernah melakukan pengobatan tradisional, dan Balian Bawo asli, untuk menggali lebih dalam tentang makna dan proses dalam ritual tersebut. Dokumentasi diperoleh dari peneliti yang merekam langsung proses ritual Balian Bawo, baik melalui video maupun rekaman audio, sebagai bahan analisis lebih lanjut. Melalui metode ini, peneliti dapat memperoleh data yang deskriptif dan mendalam mengenai komunikasi ritual dalam pengobatan tradisional masyarakat Dayak Dusmala. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Ritual Balian Bawo Ritual Balian Bawo pada zaman dahulu kala bahkan hingga sekarang erat kaiitannya dengan pengobatan tradisional, pengobatan ini dilakukan oleh laki-laki yang dapat dibawakan oleh 3-5 orang dan lebih dari 7 orang. Balian Bawo tidak boleh dibawakan 7 orang karena pali atau pamali. Kegiatan dilakukan pada malam hari dan menghindari pengobatan ritual pada malam selasa. Rory mengatakan bahwa dalam proses ritual Balian Bawo ada beberapa langkah. Pertama, mendeteksi penyakit apakah dapat disembuhkan atau tidak dilihat dari arah lonjong telur mengarah kerumah atau keluar rumah. Kemudian jikalau dapat disembuhkan, lanjut ketahap ritual yaitu Balian duduk di atas tikar mengucapkan serere, kemudian ngiluk membangunkan benda, dilanjutkan ritual ntak-ntuk untuk menabur beras yang mana saat menabur beras terdapat roh beras kelempar keatas untuk menemui leluhur, kemudian menari, setelah menari dijamu leluhurnya menggunakan sajen, setelah dijamu baru bertanya saat duduk ditikar, menanyakan apa bisa disembuhkan dan bagaimana solusi saat si Balian kerasukan roh leluhur. 24 Sebelum melakukan prosesi ritual, tidak lupa untuk menyiapkan atribut untuk ritual dan sajennya. Berikut prosesi ritual Balian Bawo: Pertama, mempersiapkan atribut kelengkapan seperti Lawung Bulang. Samang Sawit. Getang. Sansipung. Siek dan tanda garis-garis putih . Memiliki arti untuk sebagai tanda pengenal atau identitas kepada leluhur untuk menunjukkan bahwa kita sang Baliannya, kemudian ada samang sawit sebagai penangkal dari roh jahat. Kedua, menyiapkan sesajen yang umumnya berisikan untuk beras . da dua biasa dan beras keta. , darah ayam bisa ayam putih hitam tergantung permintaan, kue ada 41 macam diantara harus ada susur, lemang dari bambu kecil disebut pakinking, ketupat, keluwit Rory. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 23 NopemberAy (Barito Timur, 2. Ibid. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 234 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 . ejenis pai. , gula merah bulat masih utuh dalam bungkusan, kelapa masih utuh . yiur Memiliki arti sebagai perjamuan dan persembahan bagi leluhur saat datang ditengah prosesi Balian. Ketiga, setelah semua dipersiapkan. Balian duduk diatas tikar, kemudian melakukan Serere yang merupakan mantra yang tidak bisa disebutkan dan dijelaskan karena privasi Balian. Serere merupakan mantra yang memiliki arti untuk menceritakan segala cikal-bakal sampai terjadinya Balian Bawo dan adanya Balian Bawo. Keempat. Balian melakukan Ngiluk. Ngiluk memiliki arti sebagai proses untuk membangunkan segala benda peralatan yang digunakan untuk prosesi ritual. Maksudnya adalah saat Balian duduk ditikar kita membangunkan tikar dan membaca mantra asal usul tikar dari mana dari pohon apa dan yang buat siapa, termasuk api, beras, air, telur, daun salam dan lainnya, yang kita ceritakan asal usul mereka semua dan tercipta mereka dari mana menggunakan mantra khusus. Setelah dibangunkan semua benda tersebut, lalu menceritakan asal-usul Balian Bawo, setelah selesai menceritakan Balian Bawo. Kelima melakukan proses Ritual Ntak-Ntuk setelah melakukan prosesi keempat tadi. Ntak-Ntuk dilakukan saat posisi Balian masih duduk, kemudian Balian menaburkan beras keatas (Nyawis Behas dari mangko. yang memiliki arti Dewi Sri atau Dewi Padi atau kalau bahasa dalam ritual Balian Bawe Ayang Luing Putri Inai Bunge yaitu roh beras/padi naik keatas diambung dengan maksud sebagai roh pengantar untuk berkomunikasi dengan leluhur, beras yang jatuh artinya roh beras sudah naik keatas dan beras sudah jatuh itu sudah tidak ada roh. Kemudian Roh padi/beras sudah naik keatas berkomunikasi dengan leluhur yang lain dengan meminta bantuan bahtera . buat pengantar untuk menemui leluhur sesuai dengan leluhur sang Balian, proses ini Balian meminjam bahtera punya leluhur lain, . ahtera yang dimaksud dalam tahap ini seperti imajinasi si Balian untuk menjemput Kemudian setelah roh padi menjemput leluhur, lalu mengantarkan leluhur masuk pada bahtera, lalu roh padi membawa leluhur turun kebawah kepada tempat Balian sambil dimantrakan untuk turun datang keBalian, setelahnya turun kebawah. Balian menyambut leluhur bersembah seperti sungkem . osisi sungkem sambil memegang anyaman dari daun kelap. sambil bercerita keadaan pasien yang sakit, pada saat ini Balian umumnya kerasukan roh leluhur, fungsi masuk ketubuh Balian untuk memberitahu penyakit si pasien. Kugarelelono. Eberson, dan Ahino. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 24 Nopember. Ay Rory. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 23 Nopember. Ay Ibid. Ibid. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 235 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah Keenam, setelah sesi sungkem dan menyambut roh leluhur, kemudian mengajak roh leluhur menari bersama ramai-ramai dengan para Balian (Kenapa orang menari dan adanya gelang yang menghasilkan bunyi-bunyi dan adanya alat musik sebab sebagai sinyal frekuensi mempercepat bertemu leluhur . empercepat perjalanan bahtera bertemu leluhu. dan bisa juga sebagai memperjelas komunikasi leluhur karena sebagai sinyal komunikasi kepada leluhu. Balian Bawo tidak ada gegarakan khusus atau pola khusus, mereka menari senyaman leluhur saat merasuki raga Balian, tapi ada 3 ragam gerakan biasanya dalam Balian yang pasti ada yaitu Konyiw Nokiw gerakan burung elang dari atas untuk memangsa anak ayam yang mutar-mutar sambil ada bunyi kiw. Keser Pune gerakan burung yang jalan bergeser kekanan kekiri seperti burung pune yang berjalan menyamping didahan dan Piak Dangep gerakan ayam yang meloncat berpindah tempat. Setelah menari, kemudian melakukan perjamuan terhadap leluhur yang hadir ditengah Balian. Kemudian, saat roh leluhur sudah puas akan perjamuan yang diberikan, disitulah orang-orang berbincang atau berkomunikasi dengan leluhur. Kegiatan ini sudah terjadi proses Nyituk yaitu leluhur sudah meminjam raga Balian dan menaruh raga Balian kedalam bahtera sebagai tempat penjemputan leluhur tadi. Kegiatan ini digunakan leluhur untuk berkomunikasi kepada orang-orang tentang penyakit si pasien itu apa dan memberikan solusi untuk penyembuhan, misal mengambil akar minyak kemudian dijelaskan pengunannya, setelah itu leluhur keluar dari raga ketika tugasnya selesai, jiwa Balian pun kemudian balik lagi keraga asalnya. Akhir ritual, meminta roh padi/beras Bawe Ayang Luing Putri Inai Bunge untuk mengantarkan lagi leluhur menggunakan bahtera tadi keatas menggunakan beras yang kemudian ditabur keatas lagi, setelah leluhur diantar keatas ketempat semula dan roh padi turun lagi, ritual selesai, kemudian munculnya pantangan yang diberikan untuk pasien hadapi dalam beberapa waktu kedepan. PEMBAHASAN Ritual Balian Bawo merupakan ritual pengobatan kepada orang yang sakit baik itu sakit karena hal medis, ada pula sakit dengan hal-hal magis. Balian Bawo adalah Balian yang dibawakan oleh laki-laki dengan memiliki ciri khas gelang sebagai penanda bahwa itu adalah Ibid. Ibid. Ibid. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 236 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 Balian. Balian Bawo berasal dari rumpun Dayak Dusun Maanyan dan Lawangan yang berasal dari daerah Barito Kalimantan Tengah. Komunikasi merupakan suatu proses interaksi antara komunikator dan komunikan untuk menyebarkan informasi dengan melalui media perantara sebagai penghubung. Balian Bawo merupakan suatu ritual yang bertujuan untuk melakukan penyembuhan kepada keluarga baik dalam sakit medis ataupun sakit yang terkena dampak hal-hal yang tidak terlihat seperti hal magis. Melakukan Balian Bawo ini terdapat proses komunikasi didalamnya. Komunikasi yang terjadi dalam Balian Bawo yaitu proses komunikasi antara leluhur dan si Baliannya, melalui sebuah media berupa bunyibunyian dari alat musik, sajen dan gerakan tubuh yaitu tari kemudian dilakukan dimalam hari gunanya untuk meminta kesembuhan. Balian Bawo termasuk dalam komunikasi nonverbal karena melibatkan unsur bunyi, gerak dan waktu, seperti dalam Cangara. Komunikasi nonverbal melibatkan unsur Kinesics atau gerak tubuh, gerakan mata, sentuhan, paralanguage, diam, warna, waktu, bunyi dan bau. Komunikasi Ritual merupakan bentuk komunikasi di mana segala bentuk ritual dianggap sebagai tindakan simbolik dalam konteks situasi sosial tertentu, dalam komunikasi ritual terdapat tiga elemen yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, yaitu komunikasi, perayaan dan kebersamaan. Hal ini menegaskan bahwa orang-orang yang hidup dalam sebuah komunitas memiliki kepemilikan bersama atas sesuatu, dan komunikasi menjadi cara untuk membuat mereka memiliki hal-hal tersebut secara bersama-sama. 34 Jadi. Komunikasi Ritual dalam Ritual Balian Bawo dalam pengobatan tradisional dapat dilihat dalam tiga hal, yaitu communication . , communion . omuni/perayaa. , dan common (Kebersamaa. , sebagai berikut: Communication (Komunikas. Komunikasi dalam perspektif ritual diumpamakan sebagai sebuah upacara suci yang memerlukan partisipasi aktif dari komunikan, mirip dengan peran bermain dalam sebuah drama sakral. 35 Komunikasi merupakan proses bagaimana Ritual Balian Bawo dapat Penyelenggaraan terjadi karena adanya komunikasi antara Balian dan Leluhur. Komunikasi dalam hal ini karena adanya suatu interaksi antara komunikator dan Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi. Sopacua dan Vransisca Kissya. AuKomunikasi Ritual dalam Tradisi Aroha di Negeri Elfule Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan. Ay Hadi. AuTradisi Katoba sebagai Media Komunikasi Tradisional dalam Masyarakat Muna (Perspektif Komunikasi Ritua. Ay Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 237 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah Dalam komunikasi ritual, seperti dalam jurnal Sopacua, bahwa media dan pesan agak sulit dipisahkan karena media sendiri bisa menjadi pesan. Pada Ritual Balian Bawo, komunikator dalam Ritual Balian Bawo adalah Baliannya. Balian merupakan perantara antara manusia dengan para leluhur. Sedangkan komunikannya adalah Leluhur. Adanya proses komunikasi karena Balian mengirimkan pesan kepada leluhur untuk meminta petunjuk kesembuhan kepada keluarga yang diobati. Sebagai media komunikasi ritual, beras digunakan oleh Balian untuk terhubung dengan leluhur. Seperti yang dinyatakan Rory, untuk melakukan komunikasi dengan leluhur yaitu saat proses Ritual Ntak-Ntuk. Ntak-Ntuk dilakukan saat posisi Balian masih duduk, kemudian Balian menaburkan beras keatas (Nyawis Behas dari mangko. yang memiliki arti Dewi Sri atau Dewi Padi atau kalau bahasa dalam ritual Balian Bawe Ayang Luing Putri Inai Bunge yaitu roh beras/padi naik keatas diambung dengan maksud sebagai roh pengantar untuk berkomunikasi dengan leluhur, beras yang jatuh artinya roh beras sudah naik keatas dan beras sudah jatuh itu sudah tidak ada roh. Kemudian Roh padi/beras sudah naik keatas berkomunikasi dengan leluhur yang lain dengan meminta bantuan bahtera . buat pengantar untuk menemui leluhur sesuai dengan leluhur sang Balian, proses ini Balian meminjam bahtera punya leluhur lain . ahtera yang dimaksud dalam tahap ini seperti imajinasi si Balian untuk menjemput leluhu. Setelah roh padi menjemput leluhur, roh tersebut mengantarkan leluhur ke dalam bahtera, kemudian membawa leluhur turun menuju tempat Balian sambil dimantrakan agar leluhur dapat turun dan hadir di hadapan Balian. Setelah turun. Balian menyambut leluhur dengan bersembah seperti sungkem . alam posisi sungkem sambil memegang anyaman daun kelap. Setelah sesi sungkem dan menyambut roh leluhur. Balian mengajak roh leluhur untuk menari bersama dengan para Balian. Tari bersama serta penggunaan gelang yang menghasilkan bunyi-bunyian dan alat musik berfungsi sebagai sinyal frekuensi untuk mempercepat pertemuan dengan leluhur, serta memperjelas komunikasi dengan leluhur, karena bunyi tersebut merupakan sinyal komunikasi. Dalam komunikasi Balian Bawo, tari dan gelang hanya berfungsi sebagai sinyal frekuensi untuk memperjelas komunikasi antara Balian dan leluhur. Sopacua dan Vransisca Kissya. AuKomunikasi Ritual dalam Tradisi Aroha di Negeri Elfule Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan. Ay Rory. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 23 Nopember. Ay Ibid. Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 238 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 Setelah menari bersama dan melakukan sungkeman terhadap leluhur. Balian kemudian melaksanakan perjamuan. Setelah itu, leluhur mulai bercerita mengenai keadaan pasien yang sedang sakit. Pada saat ini. Balian umumnya kerasukan roh leluhur. Fungsi dari roh leluhur yang memasuki tubuh Balian adalah untuk memberitahukan penyakit yang diderita oleh pasien. Proses ini disebut sebagai Nyituk, di mana leluhur 'meminjam' tubuh Balian untuk berkomunikasi mengenai penyakit pasien dan memberikan solusi Nyituk adalah suatu kegiatan yang digunakan oleh leluhur untuk menyampaikan informasi tentang penyakit pasien dan memberikan petunjuk untuk proses Communion (Perayaa. Perayaan dalam komunikasi ritual adalah melibatkan partisipasi aktif dari anggota masyarakat yang dilakukan secara bersama-sama. Ritual diadakan secara berkala dan melibatkan partisipasi kolektif, bertujuan untuk menyegarkan dan mengembalikan pengetahuan serta makna-makna kolektif dalam masyarakat. Ritual berfungsi sebagai sarana mediasi untuk mempertahankan anggota masyarakat agar tetap terhubung dengan yang Akan tetapi, perayaan dalam Ritual Balian Bawo dalam pengobatan tradisional terjadi bukan karena adanya kegiatan berkala setiap tahunnya, tetapi hadir disaat masyarakat memerlukan pengobatan. Kegiatan ini dapat dijumpai di daerah Barito, kalau di kota sangat jarang sekali bahkan bisa tidak ada. Balian Bawo dapat juga muncul saat acara hajat, pernikahan dan pertunjukan seni. 40 Kugareleluno. Eberson dan Ahino mengatakan bahwa umumnya ritual Balian Bawo untuk pengobatan tradisional dilakukan oleh orang-orang yang menganut kepercayaan Kaharingan, tetapi tidak menutup kemungkinan kepercayaan lain juga bisa melakukan ritual tersebut asalkan percaya terhadap prosesi dan hasil Ritual Balian Bawo. Rory mengatakan dalam melakukan Balian Bawo dilakukan oleh laki-laki saja dan tidak boleh dibawakan 7 orang, jika dilakukan 7 orang itu dapat membawa petaka atau pali, boleh dibawakan 3-5 orang dan bisa dibawakan lebih dari 7 orang. 42 Sumarno mengatakan bahwa melakukan ritual Balian Bawo, sangat dihindari sekali melakukannya pada malam Sopacua dan Vransisca Kissya. AuKomunikasi Ritual dalam Tradisi Aroha di Negeri Elfule Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan. Ay Leiden. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 23 Nopember. Ay Kugarelelono. Eberson, dan Ahino. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 24 Nopember. Ay Rory. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 23 Nopember. Ay Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 239 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah selasa dan hari selasa karena bisa membawa pali atau pamali, pali itu dapat mebawa Kegiatan Balian Bawo tidak pernah dilakukan pada siang hari, selalu pada malam hari, makanya orang-orang sering menyebutkan malam pertama, malam kedua, dan seterusnya sesuai kebutuhan waktu Balian untuk melakukan penyembuhan. 43 Partisipasi aktif dalam Balian Bawo lebih mengarah pada Balian dan keluarga yang diobati, adanya Balian Bawo juga ditengah masyarakat untuk menyadarkan bahwa masyarakat Dusmala memiliki Balian Bawo sebagai ritual tradisi secara turun temurun dari nenek moyang dalam hal pengobatan tradisional dan tidak hanya sebagai seni pertunjukan hiburan nikahan maupun adat saja tetapi dapat melakukan dan adanya ritual pengobatan yang dapat dilakukan melalui Balian Bawo. Common (Kebersamaa. Kebersamaan dalam konteks komunikasi ritual adalah pola komunikasi dibangun ibarat upacara sakral-suci di mana setiap. Orang secara bersama-sama bersekutu dan berkumpul kemudian Komunikasi ritual berhubungan erat dengan kegiatan berbagi, berpartisipasi, berkumpul, bersahabat dari suatu komunitas yang memiliki satu keyakinan sama seperti dikutip dalam. Hal ini menegaskan bahwa orang-orang yang hidup dalam sebuah komunitas memiliki kepemilikan bersama atas sesuatu, dan komunikasi menjadi cara untuk membuat mereka memiliki hal-hal tersebut secara bersama-sama. Komunikasi ritual dapat dijumpai pada upacara sakral yang dimana terdapat kumpulan setiap orang percaya terhadap hal tersebut. Kegiatan komunikasi yang dilakukan bukan hanya sekedar komunikator mengirim pesan kepada komunikan, melainkan kumpulan orang yang turut serta dalam kegiatan seremonial yang sakral ataupun suci. Ritual Balian Bawo dalam hal kebersamaan adalah masyarakat sekitar dalam kegiatan Balian Bawo turut membantu keluarga yang diobati dan melakukan kerja sama yang baik, seperti kata Sumarno, dalam proses Balian Bawo, jangan ada aktivitas disekitar Balian, tidak boleh mondar-mandir karena dapat berpindah penyakitnya ke orang yang mondar-mandir tersebut. Kerbersamaan yang dimaksud adalah mereka membantu persiapan untuk kegiatan Ritual Balian Bawo dan prosesi ritual Balian Bawo dapat diikuti oleh masyarakat sekitar Sumarno. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 25 NopemberAy (Barito Timur. Sopacua dan Vransisca Kissya. AuKomunikasi Ritual dalam Tradisi Aroha di Negeri Elfule Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan. Ay Sumarno. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 25 Nopember. Ay Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 240 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 asalkan mematuhi peraturan yang ada selama prosesi kegiatan. 46 Dalam kegiatan ini bertujuan selain untuk penyembuhan keluarga yang diobati, tetapi sebagai pengingat kepada masyarakat bahwa Ritual Balian Bawo tidak hanya untuk seni saja maupun acara hajat pernikahn tetapi dapat melakukan pengobatan tradisional. Balian Bawo dari segi mitos. Mitos merupakan hal-hal gaib yang didalamnya menceritakan tentang para dewa atau leluhur sebagai tokoh utama. 47 Menurut Strauss, fungsi mitos adalah penyampaian konsep-konsep yang belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat, dengan pesan budaya tertanam di dalamnya. 48 Mitos memiliki makna sebagai sebuah narasi, khususnya cerita yang berkaitan dengan pengagungan terhadap dewa-dewa dan pahlawan. Mitos yang terdapat pada ritual Balian Bawo adalah Dewi Beras atau yang disebut sebagai Bawe Ayang Luing Putri Inai Bunge merupakan Roh beras, dia digambarkan sebagai sosok wanita cantik. 49 Dalam Balian Bawo ini. Dewi Beras dipercaya sebagai penghubung antara Balian dengan leluhur. Cara menghubungkan antara Balian dengan Leluhur adalah dengan menaburkan beras keatas dengan mengambil beras dari mangkok (Nyawis Behas dari mangko. yang memiliki arti dalam beras tersebut terdapat roh Dewi Beras yang naik keatas diambung dengan maksud sebagai roh pengantar untuk berkomunikasi dengan leluhur, beras yang jatuh artinya roh Dewi Beras sudah naik keatas dan beras sudah jatuh itu sudah tidak ada roh beras tadi. Kemudian roh Dewi Beras tadi menjemput leluhur untuk dapat menghadiri prosesi Balian Bawo dalam penyembuhan. Balian Bawo ini sesuai dengan pandangan Indrawati yang menyatakan bahwa mitos merupakan cerita sakral yang mendukung kerangka sistem kepercayaan atau agama. 50 Dewi Beras dalam Balian Bawo merupakan peranan yang sangat penting karena dia terdapat dalam prosesi ritual untuk membantu Balian berkomunikasi dan bertemu dengan leluhur yang merupakan sebagai media komunikasi. Dari kedua teori diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi ritual Balian Bawo terjadi karena adanya media penghubung sehingga terciptanya proses komunikasi antara Balian dan leluhur. Media penghubung mereka adalah Dewi Beras tadi yang merupakan Kugarelelono. Eberson, dan Ahino. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 24 Nopember. Ay Aquarini et al. Makna Sosial Burung Enggang: Dalam Batik Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Shofiani. Haswinda Harpriyanti, dan Indah Mei Diastuti. AuStruktur Mitos pada Cerita Sendang Senjaya di Kabupaten Semarang (Struktur Levi-Straus. Ay Rory. AuWawancara dengan Warga Dayak DUSMALA, pada 23 Nopember. Ay Shofiani. Haswinda Harpriyanti, dan Indah Mei Diastuti. AuStruktur Mitos pada Cerita Sendang Senjaya di Kabupaten Semarang (Struktur Levi-Straus. Ay Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 241 Aquarini. Ella Febriani: Komunikasi Ritual Balian Bawo dalam Pengobatan Tradisonal Masyarakat Dayak Dusmala Kalimantan Tengah sosok Bawe Ayang Luing Putri Inai Bunge, terjadinya komunikasi karena adanya beras, beras berisikan roh beras atau dewi beras, jadi saat prosesi menabur beras keatas, itulah kunci utama penghubung si Balian dan leluhur tadi. Proses menabur beras keatas artinya roh beras naik untuk bertemu leluhur dan menjemput sang leluhur untuk dapat bergabung dalam prosesi ritual Balian Bawo. Setelah leluhur hadir ditengah ritual, dari situlah kita dapat menanyakan penyakit yang diderita dan mencari tahu untuk proses penyembuhannya menggunakan apa sehingga keluarga yang terkena penyakit dapat sembuh. KESIMPULAN Balian Bawo adalah tradisi budaya yang sangat erat kaitannya dengan masyarakat Dayak Dusmala, yang terdiri dari suku Dusun Maanyan dan Lawangan. Ritual ini merupakan bagian dari praktik penyembuhan tradisional yang telah dilakukan sejak zaman dahulu. Meskipun kini semakin sulit ditemukan di daerah perkotaan. Balian Bawo masih dilaksanakan di wilayah Barito dan pedalaman sekitarnya. Dalam konteks ini. Balian atau wadian berperan sebagai perantara antara manusia dan leluhur untuk meminta pertolongan atau petunjuk dalam proses penyembuhan. Ritual Balian Bawo biasanya dilakukan oleh seorang pria dan melibatkan proses yang sangat khusus, di mana tidak boleh ada lebih dari tujuh orang yang terlibat, karena hal tersebut dianggap tabu atau Aupali. Ay Proses ritual ini umumnya dilaksanakan pada malam hari, dan sangat jarang dilakukan pada siang hari, bahkan hampir tidak pernah. Dalam ritual tersebut. Balian berfungsi sebagai komunikator yang menyampaikan pesan kepada leluhur untuk memohon kesembuhan bagi keluarga yang membutuhkan pengobatan. Media yang digunakan dalam komunikasi ini adalah beras yang ditaburkan dari mangkok sebagai simbol Dewi Sri atau Dewi Padi, yang memiliki makna spiritual mendalam, yaitu simbol kesuburan dan kehidupan. Dalam bahasa lokal, ritual ini dikenal dengan sebutan Ayang Luing Putri Inai Bunge. Penelitian mengenai komunikasi dalam Ritual Balian Bawo mengidentifikasi tiga aspek penting. Pertama adalah communication . , di mana Balian bertindak sebagai perantara yang menyampaikan pesan kepada leluhur. Kedua, communion . omuni atau perayaa. , yang merujuk pada momen penting dalam pengobatan tradisional ini. Perayaan ritual Balian Bawo tidak dilakukan secara berkala atau tahunan, melainkan ketika masyarakat membutuhkan pengobatan. Ritual ini lebih sering ditemukan di daerah Barito, sedangkan di kota besar sangat jarang dijumpai. Meskipun ritual ini lebih umum dilakukan oleh masyarakat yang menganut agama Kaharingan, orang yang tidak menganut agama Copyright A2023. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 242 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2023 tersebut juga bisa mengikuti ritual ini jika mereka percaya pada kekuatan pengobatan tradisional tersebut. Aspek ketiga adalah common . , yang mencakup partisipasi masyarakat dalam persiapan dan pelaksanaan ritual. Masyarakat yang ingin ikut serta dalam prosesi ritual harus mematuhi aturan yang ada, dan kebersamaan ini juga berfungsi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian pengobatan tradisional Balian Bawo. Ritual ini tidak hanya menjadi sarana pengobatan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan kekuatan kolektif masyarakat dalam menjaga warisan budaya mereka. SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Ritual Balian Bawo, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan. Pertama, kepada rumpun-rumpun Dusmala, ketika peneliti mencari narasumber terkait ritual Balian Bawo untuk menambah referensi, banyak yang tidak mengetahui bahwa Balian Bawo sebenarnya berfungsi sebagai pengobatan, melainkan lebih dikenal sebagai seni semata. Kedua, kepada pihak-pihak terkait dalam bidang keilmuan, disarankan untuk membuat literatur khusus yang menjelaskan secara mendalam tentang Balian Bawo, sehingga dapat memperkaya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai ritual ini. Terakhir, kepada pemerintah, diharapkan dapat lebih mendukung rumpun Dusmala dalam mengenalkan dan mempopulerkan Balian Bawo agar ritual ini tetap eksis dan dihargai di tengah-tengah masyarakat. REFERENSI