603 JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 PENERAPAN MODEL SNOWBALL THROWING DENGAN MEDIA TTS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MATERI LINGKUNGAN KELAS i SD ISLAM TERPADU AL IBROHIMI MANYAR GRESIK Oleh Farichatul Lailiyah SD Islam Terpadu Al Ibrohimi Manyar Gresik Prov Jawa Timur E-mail: lailiyahfaricha@gmail. Article History: Abstract: Pembelajaran IPA di SD IT Al Ibrohimi kelas i Received: 04-02-2023 hanya ada sedikit siswa yang bertanya. Implikasi Revised: 14-02-2023 sedikitnya siswa yang bertanya yaitu rendahnya Accepted: 25-03-2023 ketercapaian hasil belajar. Untuk itu dilakukan penerapan model snowball throwing dengan media TTS pada pembelajaran IPA materi pokok lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Keywords: penerapan model snowball throwing dengan media TTS Snowball Throwing. Hasil pada pembelajaran IPA materi lingkungan terhadap belajar siswa. Lingkungan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang dipakai adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa pada kelas i di SD IT Al Ibrohimi Manyar Gresik. Hasil pengamatan aktivitas guru, pada siklus I memperoleh persentase rata-rata sebesar 67,05 % dan pada siklus II meningkat menjadi 86,64 %. Aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 17,55 dengan kategori cukup, meningkat menjadi 25,74 kategori baik pada siklus II. Hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata sebesar 45,16 meningkat menjadi 72,76 pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model snowball throwing dengan media TTS berpengaruh lebih baik terhadap hasil belajar IPA materi pokok lingkungan. PENDAHULUAN Tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran. Penyesuaian dan peningkatan proses pembelajaran dilaksanakan dengan mengembangan model pembelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan kinerja guru sebagai tenaga pendidik yang profesional dan mengikuti perkembangan zaman serta meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran IPA. Pembelajaran Snowball Throwing menekankan keaktifan siswa dalam kemampuan bertanya dan bekerja sama dalam kelompok melalui menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Pertanyaan diajukan Guru sebagai salah satu upaya untuk a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 meningkatkan aktivitas siswa. Pertanyaan siswa dapat dimaknai sebagai umpan balik terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru. Jika disebut umpan balik, maka ada yang disebut dengan rangsangan, rangsangan diberikan oleh guru kepada siswa (Djamarah dan Zain, 2008: . Berdasarkan hasil observasi, pada pembelajaran IPA di Sd IT Al Ibrohimi kelas i hanya ada sedikit siswa yang bertanya. Siswa yang mengajukan pertanyaan sebagian besar tidak mengangkat tangan dan memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum menyampaikan pertanyaannya. Sehubungan dengan tata cara bertanya, sebaiknya siswa yang ingin bertanya terlebih dahulu mengangkat tangan dan memperkenalkan diri sebelum menyampaikan pertanyaan. Selain itu, pertanyaan yang diajukan siswa merupakan pertanyaan tentang ketidakpahaman siswa dan meminta penjelasan ulang tentang materi yang telah dibahas. Seharusnya, ada beberapa jenis pertanyaan yang muncul yaitu pertanyaan yang bersifat mendapatkan informasi baru yang tidak pernah disampaikan oleh guru sebelumnya, dan pertanyaan penerapan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari Pada pembelajaran IPA, siswa diharapkan mendapatkan nilai yang baik. Nilai yang baik adalah jika hasil belajar siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata Namun dalam kenyataannya, hasil yang dicapai siswa rendah. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh nilai rata-rata dari 31 siswa adalah 70, sementara nilai standar KKM yang ditentukan adalah 75. Siswa yang mencapai KKM hanya 42% . , sedangkan 58% . lainnya tidak tuntas. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diperkirakan bahwa kualitas pembelajaran dapat meningkat jika guru menggunakan model pembelajaran yang tepat dengan alasan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat dapat memperoleh hasil belajar siswa sesuai dengan KKM yang sudah ditentukan. Selain itu, metode baru ini diharapakan dapat meningkatkan minat siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di LANDASAN TEORI Karakteristik Anak Usia SD menurut Mulyani Sumantri (Sumantri, 2017: 6. adalah senang bermain, senang bergerak, senangnya bekerja dalam kelompok dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Dalam memilih dan mengembangkan model pembelajaran di kelas, guru sebaiknya menyesuaikan dengan karakteristik anak SD. Model pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak akan membuat anak merasa nyaman dan senang pada saat belajar di kelas. Perasaan senang dan nyaman akan menumbuhkan minat pada diri anak untuk terus mengembangkan potensi dirinya. Pendidikan IPA diarahkan untuk Aumencari tahuAy dan AuberbuatAy sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas, 2003: . Dapat disimpulkan. IPA merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam dengan segala isinya, diperoleh melalui pengalaman langsung dengan metode ilmiah serta mengaitkan kejadian satu dan lainnya. Salah satu metode ilmiah yang penting dalam pembelajaran IPA adalah keterampilan a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 Snowball Throwing adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana murid dibentuk dalam beberapa kelompok yang heterogen kemudian masing-masing kelompok dipilih ketua kelompoknya untuk mendapat tugas dari guru lalu masing-masing murid membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola . ertas pertanyaa. kemudian dilempar ke murid lain yang masing-masing murid menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh (Suprijono, 2011: . Sehingga dapat disimpulkan pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu model pembelajaran yang membentuk murid dalam beberapa kelompok, yang setiap anggota kelompok membuat sebuah pertanyaan pada selembar kertas dan membentuknya seperti bola, kemudian bola tersebut dilempar ke murid yang lain selama jangka waktu yang ditentukan, selanjutnya setiap anggota menjawab pertanyaan dari bola yang ditangkapnya. Cahyo berpendapat bahwa dalam permainan TTS orang harus mengingat, mencari, dan mencocokkan kata yang pas tidak hanya sesuai jawaban, tetapi juga jumlah kotak yang disediakan (Cahyo, 2011: . Sehingga dapat disimpulkan TTS merupakan sebuah permainan yang menggunakan ketajaman pikiran dan daya ingat, dimainkan dengan cara mengisi ruang-ruang kosong dengan huruf-huruf yang cocok kemudian membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang disediakan. Model Snowball Throwing cocok untuk anak SD pada pembelajaran IPA dengan alasan sebagai berikut: terdapat unsur permainan yaitu melempar kertas berisi pertanyaan ke kelompok lain. Terdapat unsur bekerja dalam kelompok yaitu setiap anggota kelompok dituntut untuk bekerja sama dalam membuat pertanyaan sekaligus menyiapkan Terdapat keterampilan mengkomunikasikan yaitu setelah menerima bola kertas dari kelompok lain setiap anggota diminta untuk mengkomunikasikan jawaban dari bola yang ditangkapnya. Pada media TTS juga terdapat unsur permainan yang dapat mengasah ketajaman otak dan daya ingat cocok jika digunakan untuk anak SD yang masih senang bermain. Oleh karena itu model Snowball Throwing cocok digabungkan dengan media TTS. Hasil belajar terlihat dari adanya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati, diukur berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan (Hamalik, 2012: . Berdasarkan pendapat ini, disimpulkan hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah mengalami kegiatan pembelajaran. Indikator hasil belajar pada ranah kognitif . berupa nilai siswa yang diambil dari hasil tes akhir siswa kelas i SD IT Al Ibrohimi pada pembelajaran IPA dengan KKM 75. Proses belajar tidak dapat berlangsung dengan baik, jika siswa tidak berperan aktif dalam Sebab pada dasarnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas (Sardiman, 2012: . Dalam pembelajaran perlu diperhatikan cara melibatkan siswa secara aktif dalam mengikuti pengorganisasian pengetahuan. METODE PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pennrlitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dan desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan Menurut Daryanto . penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, bertujuan untuk a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas. Prosedur penelitian tindakan kelas meliputi 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Lokasi Penelitian Tempat atau lokasi penelitian ini adalah di SD Islam Terpadu Al Ibrohimi Manyar yang berlokasi di Jalan PP. Al Ibrohimi 01/40 Kelurahan Manyarejo Kecamatan Manyar Kota Gresik. Penentuan tempat diharapkan memberi kemudahan khususnya menyangkut pengenalan lingkungan yang berhubungan dengan peserta didik sebagai objek penelitian dalam memperbaiki pemahaman konsep peserta didikdi SD Islam Terpadu Al Ibrohimi Manyar dan Subjek penelitian adalah siswa kelas i Sekolah Dasar Islam Terpadu Al Ibrohimi Manyar Gresik sebanyak 31 siswa, terdiri atas 12 laki-laki dan 19 perempuan dengan rentang usia 8-9 tahun. Mata pelajaran penelitian adalah IPA pada materi lingkungan sehat dan tidak sehat dengan kompetensi dasar yaitu membedakan ciri-ciri lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat berdasarkan pengamatan Tekhnik Pengolahan Dan Analisis Data Adapun tekhnik pengolahan dan analisis data penelitian tindakan sebagai berikut : Dalam perencanaan siklus I disusun rencana tindakan untuk memperbaiki pembelajaran IPA menggunakan model Snowball Throwing dengan media TTS. Langkah-langkah rencana pelaksanaan sebagai beikut: menyusun RPP sesuai KD, indikator dan skenario pembelajaran Snowball Throwing dengan media TTS, menyiapkan sumber dan media pembelajaran berupa TTS, serta menyiapkan instrumen evaluasi pembelajaran lembar observasi. Rincian kegiatan siklus I sebagai berikut: guru melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Siswa mengamati gambar contoh lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat ditampilkan melalui LCD proyektor. Guru mengadakan tanya jawab tentang contoh lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat. Guru menyampaikan materi pembelajaran. Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok. Tiap kelompok terdiri 4 dan 5 orang. Selanjutnya, guru memanggil masing-masing ketua kelompok untuk menjelaskan materi teka-teki silang. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan guru kepada temannya. Setiap kelompok diberi lembar kertas kerja untuk membuat TTS sesuai materi yang disampaikan ketua kelompok. Setiap kelompok diberi waktu berdiskusi mengerjakan lembar kerja untuk menyusun TTS sederhana. Siswa diperbolehkan membaca materi dalam buku untuk menyusun TTS. Guru membimbing tiap kelompok untuk menyusun TTS. Setelah selesai kertas yang berisi TTS tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain. Siswa mendapat bola kertas dan menjawab pertanyaan berupa TTS secara bergantian. Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran. Guru memberikan evaluasi kepada siswa. Selama penelitian berlangsung, guru melakukan observasi terhadap siswa. Refleksi dilakukan pada akhir pembelajaran mengenai kegiatan yang telah berlangsung, sehingga dengan mengetahui hasil refleksi dapat merencanakan kegiatan siklus Perencanaan pada siklus II dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan pembelajaran siklus I dengan rincian sebagai berikut: menyusun RPP sesuai KD, indikator dan skenario pembelajaran Snowball Throwing dengan media TTS, menyiapkan sumber dan media pembelajaran berupa TTS, menyiapkan pembagian a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 anggota kelompok secara heterogen serta pembagian materi secara adil. Menyiapkan instrumen evaluasi pembelajaran berupa soal tes tertulis pada siklus 1 maupun siklus 2 memiliki ranah kognitif yang sama. Selanjutnya menyiapkan lembar observasi untuk mengamati keterampilan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Rincian kegiatan siklus I maupun siklus II hampir sama. Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus II menyesuai hasil refleksi pada siklus I. Pada tahap mengelompokkan siswa, guru membentuk kelompok secara heterogen dan sudah membagi materi secara adil. Selama penelitian berlangsung, guru melakukan pengamatan terhadap siswa. Pada pertemuan kedua Supervisor dan teman sejawat melaksanakan pengamatan terhadap keterampilan guru dalam pembelajaran IPA melalui model Snowball Throwing dengan media TTS menggunakan lembar observasi. Pada siklus II refleksi dilakukan untuk mengetahui peningkatan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar IPA sehingga diketahui keefektifan model Snowball Throwing dengan media TTS dalam pembelajaran. Sumber data berupa siswa, data dokumen dan catatan lapangan. Data dari siswa diperoleh melalui observasi langsung oleh penilai saat pembelajaran, dianalisis menggunakan lembar pengamatan aktivitas siswa dan evaluasi hasil belajar mata pelajaran IPA menggunakan model Snowball Throwing dengan media TTS yang dilakukan pada tiap siklus. Sumber data dokumen berasal dari daftar nilai siswa, lembar observasi aktivitas siswa, dilengkapi foto selama proses pembelajaran. Catatan lapangan berasal dari catatan selama proses pembelajaran berupa data aktivitas siswa dan hasil belajar dalam mata pelajaran IPA. Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berbentuk hasil belajar IPA siswa dalam pembelajaran Snowball Throwing dengan media TTS. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi menggunakan lembar pengamatan aktivitas siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran IPA melalui model Snowball Throwing dengan media TTS. Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif, dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan nilai berdasarkan skor teoritis yang diperoleh siswa, presentase ketuntasan belajar, dan rerata kelas. Adapun penyajiannya dipaparkan dalam bentuk presentase dan angka yaitu: Menentukan nilai berdasarkan skor teoritis yang diperoleh siswa (Rumus bila menggunakan skala Keterangan: banyaknya butir yang dijawab benar . alam bentuk pilihan gand. atau jumlah skor jawaban benar pada tiap butir/item soal . ada tes bentuk skor teoritis . kor bila menjawab benar semua butir soa. (Poerwanti, 2008: 6-15 Ae 6-. Menyajikan data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi Range (R) = nilai data terbesar Ae nilai data terkecil k = 1 . ,3 log . https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 Dengan p = Panjang kelas R = Range k = Banyak kelas Selanjutnya menentukan nilai ujung bawah kelas interval pertama dan memasukkan semua data ke dalam interval kelas (Herhyanto, 2011: 2. 11Ae 2. Menghitung nilai ratarata dengan rumus: Keterangan: = nilai rata-rata = frekuensi yang sesuai dengan tanda kelas = tanda kelas atau titik tengah (Sukestiyarno dan Wardono, 2009:. Menghitung persentase ketuntasan klasikal dengan rumus: (Aqib, 2010: . Data kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Hasil observasi aktivitas guru dalam pembelajaran dianalisis dengan menggunakan rumus: (Sudjana, 2007:. Keterangan: Jumlah skor yang diperoleh Jumlah skor maksimal Kriteria yang bersifat kualitatif dinyatakan sebagai berikut: 81% - 100 % Sangat Baik . 61% - 80 % Baik . 41% - 60 % Cukup Baik . 21% - 40 % Kurang . Data hasil observasi aktivitas siswa dianalisis dengan langkah-langkah yang dijelaskan oleh Poerwanti dkk . 8: 6. sebagai berikut: skor terendah skor tertinggi banyaknya skor Maka untuk mencari n = (T Ae R) 1 Untuk membagi rentang skor menjadi empat kategori dilakukan dengan menentukan kuartil ke-1, ke-2, ke-3, dan ke-4. Nilai kuartil dapat ditentukan setelah a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 mengurutkan data dari nilai terendah sampai tertinggi. Q1 merupakan kuartil bawah, yaitu 25% jumlah data pertama. Q2 median atau nilai tengah. Q3 quartil atas yaitu 75% jumlah data berikutnya dan Q4 merupakan skor tertinggi. Untuk rumus yang digunakan sebagai berikut (Sukestiyarno dan Wardono, 2009: . Rumus di atas dapat dirinci: Tabel 3. 1 Kriteria Ketuntasan Aktivitas Siswa Kriteria Ketuntasan Kategori 30,5 O skor O 40 Sangat Baik 20 O skor < 30,5 Baik 9,5 O skor < 20 Cukup 0 O skor < 9,5 Kurang Indikator keberhasilan dapat dijabarkan sebagai berikut: Aktivitas siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model Snowball Throwing dengan media TTS meningkat sekurang-kurangnya baik dengan skor minimal 20. Siswa kelas i SD IT Al Ibrohimi mengalami ketuntasan klasikal dalam pembelajaran IPA sebesar 75% dengan kriteria ketuntasan minimal Ou 75 melalui penerapan model Snowball Throwing dengan media TTS. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas guru adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru selama guru melakukan proses pembelajaran. Pengamatan dilakukan berdasarkan langkahAelangkah yang terdapat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP). Hasil pengamatan rata-rata skor siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4. 1 berikut: Tabel 4. 1 Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I dan Siklus II Rata-rata Skor Aspek yang Diobservasi Siklus I Siklus II Membuka pelajaran dengan apersepsi. Menyampaikan tujuan Menjelaskan materi tentang Lingkungan Sehat Tidak Sehat. Menampilkan gambar Lingkungan Sehat dan Tidak Sehat TTS dalam pembelajaran. Mengajukan Lingkungan Sehat dan a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 Rata-rata Skor Aspek yang Diobservasi Siklus I Siklus II Tidak Sehat. Membentuk mengerjakan lembar kerja menyusun TTS. Memanggil menjelaskan materi yang akan dibuat TTS Membimbing mengerjakan lembar kerja menyusun TTS. Membimbing Snowball Throwing. Memberikan penguatan pada hasil pekerjaan siswa Guru penghargaan kepada nilainya baik. Jumlah Persentase Rata-rata 67,05 % 86,64 % Skor Berdasarkan Tabel 4. 1 rata-rata skor persentase yang diperoleh guru untuk aspek yang muncul pada saat pembelajaran siklus I adalah 67,05 %. Persentase yang diperoleh memenuhi kriteria baik. Guru masih belum mengaitkan apersepsi dengan tujuan pembelajaran dan tidak menuliskan pada papan tulis. Penguatan yang diberikan guru kepada siswa yang cepat menyelesaikan tugas kelompok masih kurang, hanya berupa katakata pujian. Guru belum melaksanakan penghargaan terhadap kelompok yang memperoleh skor terbaik karena keterbatasan waktu. Dalam kegiatan penutup guru masih belum secara tuntas membimbing siswa menemukan kesimpulan materi pembelajaran. Guru belum melaksanakan tanya jawab terhadap beberapa siswa untuk mengetahui yang siswa pahami pada saat melaksanakan pembelajaran di kelas. Berdasarkan tabel 4. 1 dapat dilihat pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilakukan guru memperoleh persentase rata-rata kemunculan 86,64% berarti rata-rata ini masuk kriteria sangat baik. Guru hampir sudah melaksanakan aktivitas pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Model pembelajaran Snowball Throwing dengan meda a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 TTS mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga waktu pembelajaran dapat digunakan sebaik mungkin. Secara keseluruhan aspek sudah dimunculkan semua pada aktivitas pembelajaran siklus II. Pada pembelajaran siklus II terdapat 4 aspek yang memperoleh skor baik yaitu pada aspek menyampaikan tujuan pembelajaran guru belum mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siwa. Pada aspek menjelaskan materi tentang Lingkungan Sehat dan Tidak Sehat, guru masih kurang dalam memberikan penekanan pada informasi yang penting dan sudah menuliskan pada papan tulis. Pada aspek mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang Lingkungan Sehat dan Tidak Sehat, guru belum mengajukan pertanyaan lanjutan. Hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. 2 Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I dan Siklus II Siklus I Siklus II Indikator Jumlah Rata- Jumlah RataSkor Skor 3,81 3,29 2,74 3,48 1,13 2,32 2,84 0,87 2,39 1,97 2,87 Jumlah 17,55 25,74 Kategori Cukup Baik Keterangan: 1 = Mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran 2 = Mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru tentang penyebab pencemaran dan pengaruh pencemaran lingkungan terhadap kesehatan yang ditampilkan melalui 3 = Mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan guru 4 = Mengelompok dengan teman 5 = Ketua kelompok menemui dan mendengarkan penjelasan guru tentang penyebab pencemaran dan pengaruh pencemaran lingkungan terhadap kesehatan yang akan dibuat TTS 6 = Ketua kelompok menjelaskan materi dan anggota yang lain memperhatikan materi 7 = Berdiskusi dengan teman, mengerjakan lembar kerja menyusun TTS 8 = Membuat kertas lembar kerja berisi TTS menjadi bentuk bola dan melempar bola kertas ke siswa lain 9 = Menerima, membuka dan menjawab TTS dalam bola kertas dengan mengisi TTS kemudian mempresentasikan kepada seluruh kelas 10 = Menyimpulkan materi pembelajaran dan mengerjakan evaluasi a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 Berdasarkan tabel 4. 6, dapat dilihat skor rata-rata yang diperoleh seluruh siswa siklus I adalah 17,55 dengan kategori cukup dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 25,5 dengan kategori baik. Tiap indikator memperoleh skor berbeda. Adapun rinciannya sebagai berikut: Indikator mempersiapkan diri dalam mengikuti pembelajaran. Indikator ini mengalami peningkatan dari pertemuan sebelumnya. Siswa sudah siap mengikuti Sebagian besar siswa masuk kelas dengan tertib dan tenang, menempati tempat duduk dengan rapi, berdoa kemudian mempersiapkan alat tulis. Kegiatan ini sesuai pendapat Dierich . alam Hamalik, 2012: . , persiapan siswa termasuk kegiatan emosional, antara lain meliputi minat, membedakan, berani, tenang. Indikator mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru. Pada siklus II sebagian besar siswa mendengarkan penjelasan guru dan mengamati gambar dengan posisi duduk yang baik. Akan tetapi terdapat 5 siswa yang suka membuat kegaduhan di kelas dan posisi duduk masih kurang baik. Aktivitas siswa dalam indikator mengajukan pertanyaan dan menjawab. Indikator ini mengalami peningkatan dari pertemuan sebelumnya. Sebagian besar siswa berani menjawab pertanyaan guru dengan benar, mengajukan pertanyaan sesuai materi dan menggunakan bahasa yang baik saat bertanya. Pada indikator mengelompok dengan teman, siswa mengelompok secara heterogen sesuai arahan guru, pada saat berteman terjadi komunikasi dengan baik antar teman. Namun terdapat beberapa siswa yang tidak tenang dan bersikap kurang baik ketika mengelompok sehingga suasana kelas menjadi tidak kondusif. Pada saat guru memanggil masing-masing ketua kelompok, semua ketua kelompok maju ke depan menemui dan mendengarkan penjelasan guru dengan tenang, tidak bergurau dengan ketua kelompok Indikator ini mengalami peningkatan dari pertemuan sebelumnya. Kegiatan ini sesuai pendapat Suprijono . 9: . bahwa salah satu langkah dalam model Snowball Throwing adalah ketua kelompok dipanggil oleh guru, kemudian diberikan penjelasan materi. Selanjutnya ketua kelompok menjelaskan materi yang disampaikan guru sedangkan anggota lain mendengarkan petunjuk. Jika belum mengerti, anggota kelompok menanggapi dan membahas materi bersama ketua kelompok. Pada indikator kegiatan diskusi kelompok pada siklus II, sebagian besar siswa sudah bekerja sama dan memberikan pendapat dalam kelompok dan lebih baik dari pertemuan sebelumnya. Ketua kelompok membagi anggota kelompoknya untuk membuat TTS. TTS yang disusun siswa sudah sesuai materi akan tetapi pertanyaan TTS ada yang belum mengena. Indikator membuat dan melempar bola kertas berisi TTS, terdapat 6 siswa yang membuat bola kertas, 6 siswa melempar dengan semangat, sedangkan yang lainnya memperhatikan kegiatan pelemparan tersebut. Indikator ini mengalami peningkatan dari Siswa yang mendapat lemparan bola membuka bola kertas, menjawab dengan mengisi TTS dan mempresentasikan hasil pekerjaannya. Dalam mengisi TTS siswa berdiskusi dengan teman sekelompok. Sebagian besar siswa bekerja sama mengisi TTS dengan benar dan menyelesaikan tepat waktu. 6 siswa yang mempresentasikan jawaban TTS di depan kelas. Dapat dikatakan pada indikator ini sudah lebih baik dari petemuan Pada kegiatan penutup siswa ikut menyimpulkan materi pembelajaran dengan menjawab pertanyaan guru, akan tetapi siswa tidak menulis simpulan pokok-pokok materi. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 Siswa langsung mengerjakan soal evaluasi. Semua siswa sudah mengerjakan tepat waktu namun masih terdapat beberapa siswa yang tidak tenang dalam mengerjakan. Indikator ini mengalami peningkatan dari petemuan sebelumnya. Hasil belajar IPA melalui model Snowball Throwing dengan media TTS siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. 3 Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I dan Siklus II Siklus I Siklus II Nilai tertinggi Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai terendah Nilai rata-rata 69,06 Nilai rata-rata 76,87 Jumlah siswa tuntas Jumlah siswa tuntas Jumlah siswa tidak tuntas Jumlah siswa tidak tuntas Persentase siswa tuntas 45,16% Persentase siswa tuntas 80,65 % Persentase siswa tidak tuntas 54,84% Persentase siswa tidak 19,35 % Berdasarkan tabel 4. 3 dapat dilihat secara keseluruhan mengalami peningkatan. Dapat dikatakan aktivitas siswa mempengaruhi hasil belajar siswa. Refleksi digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki pembelajaran siklus berikutnya. Adapun hasil refleksi sebagai berikut: aktivitas guru dalam pembelajaran secara keseluruhan termasuk kategori sangat baik. Kekurangan yang perlu diperbaiki yaitu guru tidak memberikan pertanyaan lanjutan ketika menyampaikan tujuan pembelajaran dan guru belum memberikan tanya jawab kepada siswa untuk mengetahui yang dipahami siswa. Selain itu, pada saat menyimpulkan pembelajaran, siswa ikut menyimpulkan materi pembelajaran dengan menjawab pertanyaan guru, namun tidak menulis simpulan pokokpokok materi. Aktivitas siswa selama pembelajaran siklus II secara keseluruhan termasuk kategori Kekurangan yang perlu diperbaiki yaitu masih ada siswa yang mengajak siswa lain untuk membuat kegaduhan saat proses pembelajaran, siswa kurang bersungguh-sungguh dalam mendengarkan penjelasan guru dan siswa kurang maksimal dalam menyimpulkan materi pembelajaran. Hasil belajar yang diperoleh sudah mencapai indikator keberhasilan, dengan ketuntasan klasikal sebesar 80,65 % dan nilai rata-rata 76,87. Berdasarkan refleksi permasalahan di atas, hal-hal yang perlu diperbaiki untuk proses pembelajaran selanjutnya sebagai berikut: perbaikan yang dilakukan untuk meningkatkan aktivitas guru adalah guru perlu memberikan pertanyaan lanjutan dan memberikan tanya jawab secara singkat kepada siswa untuk mengetahui yang dipahami Perbaikan yang dilakukan untuk meningkatkan aktivitas siswa adalah membangkitkan motivasi siswa agar lebih semangat untuk mendengarkan penjelasan guru dan membimbing siswa secara keseluruhan agar ikut menyimpulkan materi dengan menuliskan pokok-pokok materi. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan proses pembelajaran pada siklus II berjalan dengan baik karena aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar sudah mencapai indikator keberhasilan. Pencapaian hasil belajar sudah mencapai target yang telah ditetapkan dengan ketuntasan klasikal sebesar 80,65 % dan nilai rata-rata 76,87. Walaupun a. https://bajangjournal. com/index. php/JPDSH JPDSH Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora Vol. No. 5 Maret 2023 demikian, pembelajaran tetap dilakukan suatu perbaikan untuk proses pembelajaran selanjutnya, agar pembelajaran meningkat secara berkelanjutan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran IPA melalui model Snowball Throwing dengan media TTS pada siswa kelas i SD Islam Terpadu Al Ibrohimi Manyar Gresik, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Hasil pengamatan aktivitas guru, pada siklus I memperoleh persentase rata-rata sebesar 67,05 %. Pada siklus II mengalami peningkatan dengan persentase rata-rata sebesar 86,64 %. Peningkatan ini terjadi karena guru sudah memberikan motivasi dalam membuka pelajaran, membentuk kelompok heterogen, memberikan penguatan, dan membimbing siswa dalam pembelajaran dengan baik. Aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 17,55 dengan kategori cukup, meningkat menjadi 25,74 kategori baik pada siklus II. Peningkatan ini terjadi karena siswa sudah lebih mendengarkan, memperhatikan penjelasan guru, berani mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dengan tepat, mengelompok secara heterogen dan lebih aktif dalam berdiskusi maupun kegiatan pembelajaran Snowball Throwing. Hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata sebesar 45,16 meningkat menjadi 72,76 pada siklus II. Dengan persentase ketuntasan belajar siklus I sebesar 45,16 % dan 80,65 % pada siklus II. Peningkatan hasil belajar ini dipengaruhi dari keterampilan guru dan aktivitas siswa. Mengacu pada indikator penelitian yaitu 75% siswa mengalami ketuntasan belajar individual Ou 75, maka penelitian dinyatakan berhasil. PENGAKUAN/ACKNOWLEDGEMENTS Berdasarkan kesimpulan hasil simulasi perbaikan pembelajaran bahawa : Sebaiknya guru menyusun aktivitas pembelajaran yang menyenangkan, bervariasi, serta dapat menentukan dan menerapkan model pembelajaran inovatif yang tepat sesuai kondisi siswa, materi/bahan ajar, fasilitas yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri. Siswa agar selalu mendengarkan dan menyimak penjelasan guru sehingga dapat lebih mudah memahami Saat kegiatan berkelompok siswa harus aktif berpartisipasi dengan anggota kelompok lain. Jika belum paham dengan materi, sebaiknya bertanya kepada guru. Pihak sekolah sebaiknya selalu memfasilitasi siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga bakat atau potensi siswa dapat berkembang dan selalu berusaha meningkatkan mutu kualitas sekolah. Pihak institusi pendidikan sebaiknya selalu memfasilitasi dan memberikan bimbingan serta bantuan bagi guru dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran sehingga bakat atau potensi siswa dapat berkembang dan dapat meningkatkan mutu kualitas pendidikan secara umum. DAFTAR PUSTAKA