A AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam Volume. Nomor. 4 November 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 DOI: https://doi. org/10. 59841/al-mustaqbal. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/AL-MUSTAQBAL Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. Miftahul JannahA*. Nur AiniA. Neni3 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Institut Agama Islam Rokan Bagan Batu Email: 12310122823@students. id1, 12310122778@students. uin-suska. nenifakot1@gmail. Alamat: Jl. R Soebrantas No. 155 KM. Simpang Baru. Panam. Pekanbaru Riau 28293 Email Korespondensi: 12310122823@students. Abstract. The transformation of education in the era of Society 5. 0 demands innovative learning, including in Islamic Religious Education (IRE), so that a model is needed that can integrate religious values into digital-based learning without reducing the essence of spirituality. This study aims to analyze the form and effectiveness of integrating religious values into digital IRE learning as an effort to instill Islamic character in students amid technological developments. The research uses a qualitative method based on a literature study by examining various relevant scientific publications in the last ten years. The results show that the integration of religious values can be realized through religious digital habits, digital moral stories, e-fiqh labs. VR-based worship simulations, and reflective learning about digital ethics. These findings indicate that digital Islamic education not only increases participation and interest in learning but also contributes to the formation of students' spiritual awareness and ethical behavior. The implications of the study confirm that the planned and character-oriented use of technology can strengthen the internalization of religious values, so teachers need to master technologybased religious pedagogical competencies to realize quality Islamic education. Keywords: Society 5. 0 Era. Internalization of Values. Digital Learning. Islamic Religious Education. Religious Values Abstrak. Transformasi pendidikan pada era Society 5. 0 menuntut pembelajaran yang inovatif, termasuk pada Pendidikan Agama Islam (PAI), sehingga diperlukan model yang mampu mengintegrasikan nilai religius dalam pembelajaran berbasis digital tanpa mengurangi esensi spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan efektivitas integrasi nilai religius dalam pembelajaran PAI digital sebagai upaya menanamkan karakter islami pada peserta didik di tengah perkembangan teknologi. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur dengan menelaah berbagai publikasi ilmiah yang relevan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai religius dapat diwujudkan melalui kebiasaan digital religius, cerita moral digital, e-fiqh lab, simulasi ibadah berbasis VR, serta pembelajaran reflektif mengenai etika digital. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran PAI digital bukan hanya meningkatkan partisipasi dan ketertarikan belajar, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan kesadaran spiritual dan perilaku etis peserta didik. Implikasi penelitian menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi yang terencana dan berorientasi karakter dapat memperkuat internalisasi nilai keagamaan, sehingga guru perlu menguasai kompetensi pedagogi religius berbasis teknologi untuk mewujudkan pembelajaran PAI yang berkualitas. Kata kunci: Era Society 5. Internalisasi Nilai. Pembelajaran Digital. Pendidikan Agama Islam. Nilai Religius LATAR BELAKANG Perkembangan teknologi digital dalam satu decade terakhir telah membawa perubahan signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang Pendidikan kehadiran era Society 5. 0 menuntut pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada Naskah Masuk: 17 September 2025. Revisi: 21 Oktober 2025. Diterima: 28 November 2025. Terbit: 30 November 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 penguasaan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), transformasi ini menjadi tantangan tersendiri karena PAI tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Integrasi nilai agama ke dalam pembelajaran berbasis digital menjadi kebutuhan mendesak agar peserta didik tetap memiliki landasan moral di Tengah perkembangan teknologi yang pesat (Maulidiyah Nur Wulandari, 2. Era Society 5. 0 mendepankan konsep human-centered society, yaitu pemanfaatan teknologi seperti AI, big data, dan IoT untuk mempermudah kehidupan manusia. Konsep ini memberikan peluang besar bagi dunia Pendidikan, termasuk PAI untuk mengembangkan desain pembelajaran yang lebih adaptif dan inovatif. Namun demikian, pemanfaatan tekonologi tanpa dibarengi nilai-nilai spiritual dikhawatirkan dapat menimbulkan degradasi moral. Oleh karena itu, desain pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dengan nilai religious dianggap sebagai Solusi yang relevan dalam menjawab kebutuhan zaman (Amelia, 2. Pembelajaran PAI berbasis teknologi digital harus dirancang sedemikian rupa agar tetap menjaga esensi pembelajaran yang menekankan nilai iman, akhlak, dan ibadah. Teknologi seharusnya menjadi media untuk memperkuat pemahaman siswa, bukan menggantikan fungsi pembinaan moral yang selama ini menjadi inti pembelajaran PAI. Guru sebagai pendidik perlu mampu memanfaatkan platform digital secara bijak, misalnya melalui e-learning. Video interaktif, dan aplikasi pembelajaran yang mendukung internalisasi nilai agama (Hanifah Salsabila et al. , 2. Selain itu, integrasi nilai relegius dalam pembelajaran digital menuntut guru untuk memahami karakteristik peserta didik yang hidup dalam budaya digital. Peserta didik saat ini lebih responsive terhadap pembelajaran visual, audio, dan interaktif sehingga model pembelajaran tradisional tidak lagi efektif jika berdiri sendiri. Pendekatan digital religious dapat mendorong pembelajaran yang lebih menarik sekaligius bermakna, sehingga peserta didik mampu menginternalisasikan nilai-nilai Islam secara lebih mudah (Jelita, 2. Desain pembelajjaran PAI berbasis teknologi tidak hanya berbicara tentang penggunaan media digital, tetapi juga terkait bagaimana strategi pengajaran disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran spiritual. Guru harus mampu mengombinasikan pendekatan pedagogic dan teknologi (TPACK) sehingga materi agama dapat Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. tersampaikan dengan lebih efektif. Integrasi ini juga menjadi bentuk respons terhadap perubahan paradigma Pendidikan yang menuntut literasi digital sebagai kompetensi dasar abad 21 (Agnia Utami, 2. Penguatan nilai religious dalam pembelajaran digital juga sselaras dengan tujuan Pendidikan nasional yang ingin menghasilkan generasi berkarakter. Pada era modern, tantangan moral semakin kompleks, seperti maraknya konten negative di internet, penurunan empati, dan melemahnya adab digital. Dengan desain pembelajaran PAI yang baik, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana penguatan iman, bukan ancaman. Misalnya melalui konten dakwah digital, simulasi ibadah, dan aplikasi pembelajaran berbasis Al-QurAoan. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemanfaatn teknologi digital dalam Pendidikan agama dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik. Namun, keberhasilan integrasi tersebut sangat bergantung pada bagaimana guru merancang pembelajaran yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tanpa desain yang matang, penggunaan teknologi hanya akan menjadi formalitas dan tidak memberikan dampak signifikan. Oleh karena itu, kajian mengenai desain pembelajaran PAI berbasis teknologi menjadi sangat penting untuk dikembangkan (Kajian et al. , 2. Kebutuhan akan literatur terkait pengembangan desain pembelajaran PAI berbasis teknologi digital masih cukup tinggi, terutama dalam konteks Society 5. penelitian hanya membahas penggunaan teknologi secara umum, tanpa menyoroti aspek integrasi nilai religius. Padahal integrasi tersebut merupakan fondasi penting agar pembelajaran PAI tidak kehilangan jati diri. Penelitian ini hadir untuk memberikan panduan konseptual dan praktis dalam merancang pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Berdasarkan urgensi tersebut, penelitian ini berupaya Menyusun analisis mendalam mengenai desain pembelajaran PAI berbasis teknologi digital yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai religious dalam era Society 5. dengan menggunakan metode peneltian kepustakaan, artikel ini merangkum teori, model, dan temuan penelitian dari berbagai literatur 10 tahun terakhir. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi konstribusi nyata bagi guru, akademisi, dan pengembang Pendidikan dalam merancang pembelajaran PAI yang inovatif sekaligus bernilai. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 KAJIAN TEORITIS Kajian teoretis pada penelitian ini berangkat dari konsep dasar Desain Pembelajaran, yang menekankan pentingnya perencanaan sistematis untuk mencapai tujuan belajar melalui pemilihan strategi, metode, media, serta penilaian yang tepat. Dalam konteks Society 5. 0, desain pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada efektivitas penyampaian materi, tetapi juga pada kemampuan sistem pendidikan memadukan kecerdasan digital dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Prinsip ini sejalan dengan teori desain instruksional modern yang menekankan integrasi teknologi sebagai sarana pendukung pembelajaran bermakna, bukan sekadar alat mekanis. Oleh karena itu, pembelajaran PAI yang dirancang di era digital harus mempertimbangkan aspek teknopedagogis sekaligus nilai Islam sebagai fondasi etis dan moral bagi peserta didik. Landasan berikutnya adalah teori Integrasi Teknologi Pendidikan, khususnya model TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledg. yang menguraikan kompetensi guru dalam menggabungkan konten, pedagogi, dan teknologi secara Dalam pendidikan agama Islam, integrasi ini menjadi penting karena teknologi tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga sebagai medium internalisasi nilai religius seperti akhlak, spiritualitas, dan penguatan iman. Literatur terbaru menegaskan bahwa guru PAI perlu memiliki kompetensi digital yang selaras dengan kompetensi keagamaan agar mampu mengendalikan teknologi secara bijak, mengarahkan penggunaannya pada tujuan-tujuan edukatif, serta memastikan nilai-nilai Islam tetap terjaga dalam lingkungan digital yang sangat terbuka dan penuh Selain itu, kajian tentang Pendidikan Islam pada Era Society 5. 0 memberikan kerangka yang lebih luas mengenai posisi teknologi dalam kehidupan umat manusia Society 5. 0 memandang teknologi sebagai bagian integral dari kehidupan yang harus membantu manusia mencapai kesejahteraan, bukan menggantikannya. Dalam pendidikan PAI, pendekatan ini menuntut adanya penguatan karakter religius melalui media digital, seperti aplikasi pembelajaran Al-QurAoan, multimedia interaktif tentang akhlak, dan platform diskusi yang menumbuhkan nilai moderasi beragama. Penelitian sebelumnya oleh Mila . menunjukkan bahwa transformasi pembelajaran Islam menuju era digital harus tetap terarah pada pembentukan akhlak dan kemampuan literasi digital Islami agar siswa tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga berkarakter. A Hal ini Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. menjadi acuan penting bagi penelitian ini untuk merancang desain pembelajaran yang seimbang antara inovasi digital dan nilai religius. Kajian teoritis juga mencakup pembahasan Penelitian-Penelitian Terdahulu yang menunjukkan adanya kebutuhan akan model pembelajaran PAI yang lebih adaptif terhadap perkembangan digital. Berbagai studi menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi dapat meningkatkan motivasi, pemahaman, dan interaksi pembelajaran, namun tetap diperlukan pedoman dan etika digital yang kuat agar peserta didik tidak terjebak dalam dampak negatif seperti ketergantungan teknologi, penurunan etika komunikasi, dan penyelewengan informasi keagamaan. Hasil-hasil penelitian ini memberikan pijakan bagi penelitian ini bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran PAI harus diarahkan pada penguatan nilai dan bukan sekadar modernisasi. Dengan demikian, penelitian ini berupaya untuk merumuskan desain pembelajaran PAI berbasis teknologi digital yang selaras dengan nilai-nilai Islam dan kebutuhan pendidikan pada era Society 5. METODE PENELITIAN Metode penelitian dalam jurnal Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. 0 menggunakan library research, yaitu penelitian kualitatif deskriptif yang seluruh datanya diperoleh dari literatur seperti buku ilmiah, artikel jurnal terakreditasi, dan laporan penelitian terkait teknologi pendidikan serta integrasi nilai religius dalam pembelajaran PAI. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sistematis terhadap karya ilmiah yang relevan, termasuk kajian seperti yang dijelaskan Mila . dalam jurnal Transformasi Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Digital Society 5. 0, yang menegaskan pentingnya analisis literatur untuk memahami perubahan pendidikan di era digital. Jenis data dalam penelitian ini berupa data kualitatif yang berwujud konsep, model, dan temuan teoritis yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. dan sintesis tematik untuk mengelompokkan tema-tema seperti kompetensi digital guru, strategi pedagogis, dan integrasi nilai Islam dalam teknologi. Melalui pendekatan ini, penelitian dapat menyusun gambaran konseptual yang komprehensif mengenai desain pembelajaran PAI berbasis digital yang relevan dengan kebutuhan era Society 5. 0 (Mila, 2. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 HASIL DAN PEMBAHASAN Society 5. 0 dan Tranformasi Pendidikan Islam Society 5. 0 merupakan konsep masyarakat masa depan yang menggabungkan ruang fisik dan digital, dimana teknologi seperti AI, big data, dan IoT dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah sosial sekaligus meningkatkan kualitas hidup manusia . Dalam kerangka ini, pendidikan harus bertransformasi agar tidak hanya melatih pengetahuan teknis, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan yang dalam. Sebagai wujudnya, pendidikan Islam dapat mengadopsi prinsip Society 5. 0 dengan merancang pembelajaran yang responsif teknologi sekaligus menguatkan ajaran agama. Dengan demikian. Society 5. 0 bukan sekdar revolusi teknis, tetapi juga panggilan etis bagi lembaga pendidikan Islam agar menjadi lebih inklusif, adaptif, dan bermakna secara spiritual (Amelia, 2. Salah satu tantangan paling mencolok dalam Society 5. 0 adalah kesenjangan kesiapan guru PAI dalam mengadopsi teknologi canggih. Menurut Mursalin . , guru pendidikan Agama Islam dituntut untuk memiliki keterampilan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan kerativitas ketika menghadapi tantangan digital. Keterampilan pedagogik konvensional tidak cukup guru perlu dilengkapi kompetensi teknologi agar pembelajaran PAI tetap relevan. Selain itu, infratstruktur digital di banyak lembaga pendidikan Islam masih terbatas, sehingga adopsi teknologi menjadi tidak merata. Tantangan ini menuntut perubahan manajemen pendidikan yang lebih strategis (Mursalin Hisan, n. Selain masalah kompetensi guru, pendidikan Islam menghadapi dilema nilai di era digital: teknologi memungkinkan akses cepat terhadap informasi, tetapi tanpa orientasi nilai, potensi penyimpangan moral juga meningkat. Penelitian oleh Pristian Hadi Putra . menegaskan bahwa pendidikan Islam harus membangun kapasitas berpikir kritis dan keratif peserta didik agar dapat menhadapi tantangan moral di dunia digital. Pendidikan Islam juga membutuhkan sumber daya pendukung, termasuk guru yang melek teknologi dan fasilitas digital yang memadai agar proses pembelajaran berbasis digital dapat berjalan efektif. Era Society 5. 0 memberikan relevansi kuat bagi pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam karena perluasan ruang digital memberi peluang memperbarui cara penyampaian materi agama. Kurikulum PAI harus menjawab kebutuhan literasi Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. digital dan nilai-nilai moral sekaligus, dengan memasukkan elemen berpikir kritis, kolaborasi, dan kerativitas ke dalam kompetensi kurikulum. Kurikulum yang responsif terhadap Society 5. 0 akan membantu siswa menginternalisasi nilai religius melalui pembelajaran kontekstual dan teknologi, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan zaman (Putra, 2. Existensi Society 5. 0 menegaskan urgensi pendidkan nilai, terutama nilai religius, karena teknologi saja tidak cukup membentuk karakter manusia. Pendidikan nilai seperti keagamaan menjadi semakin penting di era digital, karena generasi muda perlu moral compass yang jelas dalam menghadapi arus informasi dan kecanggihan teknologi. Pendidikan Islam, dengan misinya menanamkan nilai tauhid, akhlak, dan tanggung jawab sosial, memiliki peran strategis dalam mengarahkan penggunaan teknologi agar selaras dengan prinsip kemanusiaan dan relgiusitas. Tanpa integrasi nilai-nilai Islam dalam pendidkan digital, pembelajaran bisa kehilangan arah moral dan hanya menjadi produksi konten (Farhan Mujib et al. , 2. Nilai Religius dalam Pendidikan Islam Nilai religius dalam pendidikan Islam mencakup keimanan . , ibadah, aklhlak, dan adab sebagai fondasi moral dan spiritual peserta didik. Iman berkaitan dengan keyakinan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, dan takdir sedangkan ibadah adalah perlakuan ritual manusia terhadap Sang Pencipta. Akhlak mengacu pada perilaku etis dalam interaksi sosial, dan adab berkaitan dengan sopan santun serta tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Islam berupaya menanamkan nilai-nilai ini tidak hanya secara kognitif, tetapi juga dalam tindakan dan sikap peserta didik agar menjadi insan berkarakter religius. Dalam konteks sekolah, nilai-nilai tersebut menjadi landasan kurikulum karakter yang menyeluruh (Khusnul et al. , 2. Nilai religius memainkan peran sentral dalam pembentukan karakter siswa karena melalui Pendidikan Agama Islam peserta didik diajak untuk menginternalisasi prinsipprinsip kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Penelitian di TK Nadwah misalnya menunjukkan bahwa instansi pendidikan Islam dapat menanamkan disiplin, empati, dan rasa tanggung jawab melalui rutinitas harian yang mengandung nilai-nilai Dengan budaya sekolah yang religius, peserta didik secara alamiah belajar untuk menghormati sesama, berempati, dan berbagi, yang sangat penting dalam pembentukan identitas religius mereka (Do`a Fajarwati et al. , 2. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 Dalam jenjang siswa yang lebih dewasa, seperti MAN atau MA, pendidikan agama membantu memperkuat integritas pribadi melalui pemahaman nilai-nilai religius dalam konteks sosial yang lebih luas. Pendidikan Agama Islam di sekolah menengah berkontribusi pada pembentukan peserta didik yang tidak hanya mengerti ajaran agama, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata, seperti aktif dalam ibadah, sikap toleransi, dan tanggung jawab sosial. Katakter religius yang dibangun melalui pendidikan formal akan berpengaruh pada keputusan moral peserta didik di masa depan (Juhri, 2. Era digital membawa tantangan besar dalam upaya internalisasi nilai religius karena media sosial dan teknologi informasi dapat memunculkan konten kontradiktif dengan ajaran Islam. PAI perlu menginternalisasi nilai etika bermedia sosial seperti kejujuran, sopan santunm dan tanggung jawab agar peserta didik mampu bersikap religius saat menggunakan media digital. Tanpa pemahaman nilai ini, penggunaan teknologi dapat merusak karakter religius siswa (Pebriani & Cahyani, 2. Selain media sosial, integrasi nilai religius di era teknologi juga menghadapi hambatan pada aspek kurikulum dan metodologi pembelajaran. Guru PAI harus merancang materi pembelajaran yang mampu menyatukan teknologi digital dengan karakter religius siswa. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana internalisasi nilai religius melalui kegiatan pembelajaran yang kreatif, tetapi jika tidak diiringi pendekatan nilai, karakter religius dapat terkikis. Hal ini menunjukkan pentingnya strategi desain PAI yang adaptif terhadap perkembangan teknologi (Fuad et al. , 2. Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital Prinsip Desain Pembelajaran PAI Desain pembelajaran PAI berbasis teknologi digital harus berpegang pada prinsip keseimbangan antara aspek religius dan aspek teknis. Prinsip ini memastikan bahwa nilai-nilai keislaman seperti keimanan, akhlak, dan ibadah tidak tenggelam oleh teknologi, melainkan diperkuat melalui digital. Lebih jauh prinsip humanisme dalam desain pembelajaran menuntut agar teknologi digunakan untuk memberdayakan siswa dalam pemahaman agama secara mendalam dan kontekstual. Dalam strategi ini, guru perlu merancang kegiatan pembelajaran ayng tidak hanya interaktif tetapi juga mendidik secara spiritual, agar peserta didik mampu menginternalisasi nilai-nilai Islami saat menggunakan teknologi (MaAoarif & Nursikin, 2. Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. Model desain Pembelajaran (TPACK/ADDIE/SAM) Dalam konteks PAI berbasis digital, model-model desain pembelajaran seperti TPACK. ADDIE, dan SAM sangat cocok digunakan. Model TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledg. memungkinkan guru PAI untuk menyinergikan pengetahuan konten agama, pedagogi, dan teknologi dalam merancang pembelajaran yang efektif dan bermakna. Sementara model ADDIE (Analysis Design. Deveploment. Implementation. Evaluatio. menarkan kerangka sistematis untuk merancang modul PAI digital, dan SAM (Successive Approxmation Mode. memberikan fleksibilitas iteratif agar desain dapat terus disempurnakan berdasarkan umpan balik peserta didik. Kombinasi model-model ini memberi pondasi teoritik kuat untuk pengembangan pembelajaran PAI yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan siswa (MaAoarif & Nursikin, 2. Pemanfaatan Teknologi Digital dalam PAI (LMS. AI. Video Interaktif. AR/VR. Gamifikas. Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran PAI meliputi berbagai ragam alat dan metode: Learning Management System (LMS). Artificial Intelligence (AI), video interaktif. Augmented Reality (AR) atau Virtual Realty (VR), dan Sebagai contoh. LMS memfasilitasi manajemen kurusu PAI secara online sedangkan AI dapat digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar personal dengan umpan balik otomatis. Video interaktif memungkinkan visualisasi ajaran Islam yang dinamis, sedangkan AR/VR dapat menghadirkan simulasi pengalaman ibadah atau peristiwa sejarah Islam yang imersif. Gamifikasi menambah elemen motivasi melalui permainan digital yang menginternalisasi nilai-nilai agama (Rusdiana & AR. Teknologi Mobile. Virtual Reality dan Kecocokan dengan PAI Teknologi seperti mobile learning dan dunia virtual metaverse menawarkan peluang baru untuk pembelajaran PAI yang fleksibel dan imersif. Penggunaan mobile learning. AI, dan metaverse di PAI terbukti meningkatkan akses siswa, memberikan personalisasi pembelajaran, dan menciptakan pengalaman religius yang lebih Teknologi ini juga relevan dengan karakteristik pembelajaran PAI karena memungkinkan siswa untuk bebas menjelajahi konten keagamaan kapan saja dan dimana saja, serta merasakan pengalaman spiritual melalui simulasi digital (Alfiannur et al. , 2. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 Kesesuaian Teknologi dengan Karakteristik Pembelajaran PAI Pemilihan teknologi dalam desain pembelajaran PAI harus mempertimbangkan karakteristik khas ajaran Islam: refleksi spiritual, akhlak, dan hubungan sosial. Teknologi digital yang dipilih harus mampu mendukung aktivitas spiritual seperti diksusi tafsir, kajian hadits, atau simulasi ibadah, bukan sekadar media konten. Ketika desain pembelajaran PAI berbasis digital dirancang dengan mempertimbangkan nilainilai Islam, maka teknologi dapat memperkuat keterlibatan siswa secara religius sekaligus kognitif. Oleh karena itu, kesesuaian teknologi dengan nilai-nilai Islam menjadi faktor kunci dalam pengembangan desain PAI digital yang efektif (Is Na Uy. Integrasi Nilai Religius dalam Pembelajaran Digital Strategi integrasi nilai religius ke dalam pembelajaran digital harus bersifat terencana, kontekstual, dan berlapis mulai dari perancangan tujuan pembelajaran yang eksplisit menempatkan kompetensi religius, pemilihan media yang mendukung refleksi spiritual, hingga penilaian yang mengukur aspek afektif . nternalisasi nila. Pendekatan kurikuler dan instruksional perlu selaras sehingga teknologi menjadi wahana penguatan iman dan akhlak, bukan sekadar penyampai informasi. Strategi efektif melibatkan kombinasi konten lokal religius, aktivitas reflektif, serta mekanisme umpan balik yang mempromosikan perilaku religius dalam keseharian siswa. Implementasi strategi ini idealnya didukung oleh bukti literatur dan pedoman pelaksanaan yang jelas. Pendekatan internalisasi menekankan proses berulang yang memindahkan nilai dari tingkat pengetahuan ke sikap dan praktik melalui pembiasaan, teladan, dan refleksi kritis dalam ranah digital, hal ini diwujudkan lewat tugas berulang . renungan harian digita. , modul mindset-based learning, komunitas pembelajaran daring yang mencontohkan perilaku religius. Model internalisasi efektif menggabungkan pembelajaran kognitif, latihan afektif, dan evaluasi psikomotor sehingga nilai menjadi bagian dari identitas peserta didik. Pendekatan ini juga membutuhkan penilaian afektif yang valid serta bukti dokumenter . portofolio digita. bila dilaporkan sebagai temuan penelitian (Maulidiyah Nur Wulandari. Praktik seperti tadarus digital dan e-moral story mengubah kegiatan tradisional menjadi pengalaman digital yang interaktif, tadarus digital memfasilitasi pembacaan, pemberian tafsir singkat, dan refleksi melalui forum diskusi sedangkan e-moral story menggunakan narasi multimedia untuk memproyeksikan dilema etis lalu memandu peserta didik melakukan refleksi serta aplikasi nilai. Kedua praktik ini memadukan konten agama dengan Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. elemen multimedia sehingga memudahkan internalisasi nilai melalui keterlibatan emosional dan kognitif. Ketika dilaporkan dalam penelitian, praktik ini biasanya didukung data kualitatif . bservasi kelas, respon reflektif sisw. dan artefak digital . ekaman, transki. (Hanifah Salsabila et al. , 2. Inovasi seperti E-Fiqih Lab dan simulasi VR untuk ibadah menghadirkan arena belajar E-Fiqih Lab memungkinkan peserta didik belajar kasus hukum fiqih interaktif . nalisis kasus, pemberian fatwa berbasis skenari. , sedangkan VR ibadah menyajikan simulasi manasik haji atau tata cara shalat dalam lingkungan imersif yang aman untuk Kedua media memperkuat transfer pengetahuan ke keterampilan dan sikap religius, serta memudahkan penilaian psikomotorik dan afektif secara objektif . rubrik observasi dalam simulas. Dalam laporan penelitian, temuan dari penggunaan alat ini idealnya disertai screenshot, statistik partisipasi, dan kutipan wawancara atau refleksi peserta (Rusdiana & AR, 2. Penguatan karakter Islami di lingkungan digital menuntut kebijakan pembelajaran yang menyatu: kurikulum dengan indikator nilai, platform yang memfasilitasi interaksi etis, serta pelatihan guru untuk membimbing etika digital. Selain perangkat teknis, komunitas sekolah dan orang tua perlu dilibatkan agar nilai yang diajarkan tidak terfragmentasi antara ruang virtual dan nyata. Penelitian yang melaporkan penguatan karakter sering menyajikan data gabungan kuesioner perubahan sikap, observasi perilaku, serta artefak digital yang dianalisis secara triangulasi untuk menegaskan temuan. Oleh karena itu, desain intervensi digital harus mencakup mekanisme bukti . og aktivitas, portofoli. agar klaim internalisasi nilai dapat didukung data empiris. Model Implementasi Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Rancangan pembelajaran PAI berbasis teknologi dapat dirancang dengan mengadopsi prinsip TPACK (Technological. Pedagogical. Content Knowledg. untuk memastikan integrasi antara konten Islam, strategi pedagogis, dan media digital. Sebagai contoh, dalam artikel Inovasi Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Informasi oleh Zahrah dkk. , dirancang modul pembelajaran yang memanfaatkan e-learning, aplikasi interaktif, dan multimedia untuk menyampaikan materi agama secara kontekstual, di mana guru menetapkan tujuan afektif . isalnya: internalisasi nila. dan menggunakan platform digital untuk mengelola aktivitas siswa. Langkah pembelajaran dirinci ke dalam fase: eksplorasi . onten multimedi. , elaborasi . iskusi darin. , aplikasi . ugas proyek digita. , dan refleksi . urnal onlin. Struktur ini juga menyertakan rubrik penilaian digital untuk aspek religius . ilai, pemahama. sekaligus AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 menyediakan umpan balik secara otomatis. Dengan rancangan semacam ini, guru dapat memperkuat nilai-nilai agama dalam pengalaman belajar modern sekaligus menjaga relevansi teknologi dalam pembelajaran PAI (Zahrah et al. , 2. Integrasi PjBL dalam PAI berbasis teknologi memfokuskan pada proyek nyata yang menginternalisasi nilai religius. Misalnya, siswa membuat modul dakwah digital, video kisah nabi, atau kampanye moral berbasis aplikasi, kemudian merencanakan, melaksanakan, dan mempresentasikan hasilnya secara digital. Dalam kerangka ini, guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan panduan religius dan teknis sekaligus menilai proyek berdasarkan rubrik yang mencakup aspek keagamaan . khlaq, tanggung jawa. , kolaborasi, dan kreativitas digital. Di fase publikasi, proyek dijalankan di platform digital agar siswa merasakan tanggung jawab sosial dan akuntabilitas moral dalam komunitas nyata . isalnya melalui blog sekolah atau media sosial edukati. Refleksi spiritual juga menjadi bagian penting: siswa menulis jurnal digital yang menggambarkan perubahan pemahaman nilai mereka. Strategi ini tidak hanya memperkuat karakter Islami, tetapi juga mengembangkan literasi teknologi dan kerja sama, sebagaimana direkomendasikan penelitian strategi karakter PAI di era digital (Juni Erpida Nasution, 2. Evaluasi kognitif dalam pembelajaran PAI berbasis teknologi dapat dilakukan melalui kuis adaptif, bank soal di LMS, dan asesmen multimedia untuk mengukur pemahaman siswa terhadap Al-QurAoan, tafsir, dan fikih. Misalnya, guru bisa menggunakan soal pilihan ganda, isian, atau esai yang dilengkapi dengan audio bacaan Al-QurAoan atau video praktik ibadah untuk menghadirkan konteks autentik, lalu siswa menjawab berdasar rekaman tersebut. Dengan platform digital, umpan balik bisa diberikan secara otomatis . uto-feedbac. dan guru dapat memantau perkembangan pengetahuan siswa secara real-time melalui log aktivitas pengguna. Keunggulan ini meningkatkan efisiensi dan akurasi penilaian dibanding metode tradisional, serta memperkuat keterlibatan siswa karena formatnya lebih dinamis dan kontekstual. Evaluasi kognitif semacam ini sejalan dengan temuan bahwa pembelajaran PAI berbasis teknologi dapat memperluas akses sumber belajar, meningkatkan motivasi, dan memberi analisis data yang lebih kaya dari aktivitas siswa (Wahyudi et al. , 2. Untuk menilai ranah afektif . ikap religius, nilai moral, komitmen spiritua. , asesmen digital bisa memanfaatkan portofolio reflektif mingguan dalam jurnal daring, kuesioner motivasi religius digital, atau checklist observasi daring yang diisi oleh guru dan orang tua. Data dari self-report, observasi, dan refleksi ini dianalisis secara triangulatif agar tidak hanya mengukur frekuensi aktivitas, tetapi juga kedalaman internalisasi nilai religius. Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. Sebagai contoh, indikator seperti konsistensi ibadah, keterlibatan sosial, dan tanggung jawab moral dapat dioperasionalisasikan dalam rubrik digital agar penilaian lebih objektif. Dengan demikian, penilaian afektif digital tidak hanya menilai Auapa yang siswa lakukanAy, tetapi Aubagaimana nilai itu mereka integrasikan dalam kehidupan sehari-hariAy. Model evaluasi semacam ini diperlukan agar asesmen di era digital tetap menghargai dimensi spiritual siswa secara holistik (Rosyidah et al. , 2. Dalam ranah psikomotorik, siswa dapat mengunggah video praktik seperti wudhu, shalat, atau adab ibadah ke platform pembelajaran digital, kemudian guru menilai video tersebut dengan rubrik psikomotor terstandar . eknik, ketepatan gerakan, kesadaran ritua. Selain itu, penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin menjanjikan untuk penilaian psikomotorik: sistem AI bisa menganalisis video praktik siswa secara objektif dan memberikan umpan balik otomatis, serta mengevaluasi aspek keterampilan gerakan ritual. Kombinasi AI dan penilaian manusia . memastikan validitas dan reliabilitas penilaian, sementara video praktik memberikan bukti konkret dari tindakan ibadah siswa. Untuk menjaga kualitas, penting disertakan pedoman perekaman . sudut kamera, duras. , pelatihan rubrik penilaian bagi guru, dan perhatian pada privasi siswa dalam penyimpanan Penilaian psikomotorik digital berbasis AI menjadi solusi inovatif yang mampu mengevaluasi praktik ibadah secara efektif dan objektif dalam konteks pembelajaran PAI modern (Anas Sofyan, 2. Monitoring spiritual melalui learning analytics (LA) dapat memainkan peran krusial dalam pembelajaran PAI digital. Dalam kerangka teori sibernetik yang memandang proses belajar sebagai sistem pengolahan informasi guru dapat mengumpulkan data dari aktivitas digital siswa seperti durasi tadarus di aplikasi, frekuensi refleksi jurnal, dan interaksi dalam forum akhlak. Dengan menganalisis data ini. LA memungkinkan pemetaan profil spiritual siswa: misalnya, siapa yang aktif beribadah digital, siapa yang jarang merefleksi, dan siswa mana yang mungkin butuh bimbingan tambahan. Lebih lanjut, sistem LA dapat dirancang untuk memberi notifikasi awal kepada guru ketika terdapat penurunan engagement religius sebagai sinyal bimbingan pastoral atau intervensi karakter. Dashboard visual untuk guru menyajikan tren spiritual siswa dalam format yang mudah dipahami, misalnya grafik frekuensi refleksi atau skor afektif berdasarkan rubrik. Penting juga untuk memperhatikan etika data: indikator spiritual harus diukur dengan validitas pedagogis dan mendapat persetujuan dari siswa/orang tua agar tidak menyederhanakan spiritualitas menjadi sekadar angka. Pendekatan ini . ibernetik LA) AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 sejalan dengan penelitian PAI kontemporer yang menekankan pemrosesan informasi religius dalam sistem pembelajaran digital (Ashabul Kahfi & Yafithufail, 2. Tantangan dan Problematika Etis dalam Pembelajaran PAI Digital Krisis Akhlak dan Over-Digitalization Perkembangan teknologi yang sangat cepat berpotensi mempercepat proses over digitalization kehidupan sehari-hari dan relasi sosial yang semula dibangun secara offline kini bergeser ke ruang digital yang pada gilirannya dapat melemahkan praktik dan kebiasaan religius bila tidak diimbangi pendidikan karakter yang kuat. Dalam konteks PAI, krisis akhlak muncul ketika nilai-nilai moral tidak lagi dibentuk oleh interaksi sosial nyata . eteladanan guru, pengasuhan keluarga, kegiatan ibadah bersam. , melainkan hanya oleh konsumsi konten digital yang seringkali dangkal atau bertentangan dengan ajaran. Akibatnya, muncul disonansi antara pengetahuan agama yang mungkin dimiliki siswa dan perilaku nyata mereka sehari-hari. pengetahuan fiqh tanpa penerapan adab dan empati. Oleh karena itu, intervensi kurikuler PAI harus menempatkan internalisasi akhlak sebagai tujuan sentral, bukan sekadar transfer informasi digital. Rekonstruksi pendidikan karakter yang terpadu dengan teknologihuman-centered digital pedagogy menjadi keharusan untuk mengatasi efek samping over-digitalization ini. Penelitian dan kajian konsep pendidikan karakter di era digital memberikan landasan teori dan praktik untuk merancang program yang menguatkan akhlak sekaligus memanfaatkan teknologi secara bijak (Salsa Nurhabibah et al. , 2. Ancaman Digital Moral Delinquency Digital moral delinquency merujuk pada perilaku menyimpang yang muncul atau termediasi oleh ruang digital seperti cyberbullying, penyebaran konten tidak etis, plagiarisme agama, hingga keterlibatan dalam komunitas negatif yang pada remaja dapat mempercepat proses kenakalan dan degradasi moral. Akses tak terkontrol ke media sosial dan platform berbagi konten memudahkan eksposur terhadap materi yang menormalisasi perilaku asusila atau kekerasan, dan pada banyak kasus tindakan tersebut terulang di kehidupan nyata. Selain faktor konten, adanya anonimitas dan jarak sosial menurunkan hambatan moral sehingga perilaku yang tidak etis lebih mudah Pencegahan memerlukan pendekatan multilevel: kurikulum PAI yang menguatkan etika digital, pembelajaran keterampilan berpikir kritis, serta peran aktif orang tua dan komunitas dalam moderasi dan pembinaan. Intervensi berbasis bukti dari studi kenakalan remaja di era digital merekomendasikan program pencegahan yang Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. mengkombinasikan pendidikan karakter, literasi media, dan kebijakan sekolah untuk meminimalkan risiko moral delinquency (Kahfi, 2. Isu Privasi. Etika, dan Ketergantungan Teknologi Pemanfaatan platform digital dalam PAI menimbulkan isu etis serius: perlindungan data pribadi siswa, potensi penyalahgunaan rekaman ibadah/video praktik, serta ketergantungan berlebihan pada teknologi yang dapat menggeser peran guru sebagai pendidik spiritual. Data aktivitas religius . frekuensi tadarus, jurnal refleksi, rekaman prakti. bersifat sensitif. tanpa kebijakan privasi dan protokol penyimpanan yang aman, data ini berisiko tersebar atau dimonetisasi. Selain itu, budaya Ausolusi instanAy yang diasosiasikan teknologi dapat menimbulkan ketergantungan siswa mengharapkan feedback otomatis atau aplikasi sebagai pengganti bimbingan mendalam dari guru dan pembimbing rohani. Dari sisi etika, perlu disusun pedoman penggunaan teknologi di lembaga pendidikan agama yang jelas mengenai kepemilikan data, persetujuan wali, serta pembatasan publikasi materi siswa. Rekomendasi kebijakan dan analisis dampak pelanggaran privasi menunjukkan perlunya regulasi internal sekolah/madrasah dan literasi data untuk semua pemangku kepentingan. Tanpa penanganan serius terhadap isu-isu ini, integrasi teknologi malah berisiko melanggar hak privasi siswa dan melemahkan kualitas bimbingan spiritual (Mita Baqis et al. Solusi dan Strategi Penguatan Literasi Digital Islami Solusi utama untuk menanggulangi problem etis dan moral dalam PAI digital adalah penguatan literasi digital Islami yang menggabungkan kompetensi teknis, etika Islam, dan kemampuan reflektif kritis dengan tujuan agar peserta didik mampu menggunakan teknologi sesuai nilai Islam dan berpikir kritis atas konten yang ditemui. Strategi praktis meliputi: integrasi modul literasi digital Islami ke kurikulum PAI. pelatihan guru PAI tentang pedagogi digital dan etika. program kolaborasi orang tuasekolah untuk pengawasan dan dukungan spiritual. serta pengembangan kebijakan privasi dan standar etika konten di tingkat sekolah. Pendekatan kurikuler sebaiknya berbentuk pembelajaran aktif . studi kasus digital ethics, role play, dan project yang berfokus pada pembuatan konten mora. sehingga siswa tidak hanya diberi aturan tetapi juga mempraktikkan produksi konten Islami yang sehat. Bukti empiris dari kajian literasi digital di madrasah dan sekolah Islam menunjukkan bahwa intervensi terpadu . uru, kurikulum, keluarga, kebijaka. efektif menurunkan eksposur negatif dan meningkatkan kemampuan siswa dalam menilai konten secara islami. Akhirnya. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 program literasi digital Islami harus berkelanjutan dan dievaluasi periodik agar tetap responsif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan baru (Lisyawati et al. , 2. Peran Guru PAI sebagai Digital Islamic Educator Guru PAI modern harus menguasai tiga domain secara terintegrasi: pengetahuan konten agama . , strategi pedagogis Islami . , dan kapabilitas teknologi . kerangka ini sering dilihat melalui lensa TPACK yang diperkaya oleh religious competence . emahaman teks, akhlak, dan kemampuan membimbing spiritua. Kompetensi semacam ini menuntut guru tidak sekadar tahu menggunakan LMS atau aplikasi, tetapi mampu memilih teknologi yang sesuai dengan tujuan penguatan nilai, merancang aktivitas digital yang mendorong internalisasi iman dan akhlak, serta mempertahankan otoritas moral dalam ruang virtual. Pengembangan kompetensi harus mencakup pelatihan teknis . iterasi digita. , pengembangan pedagogi reflektif . ara mengintegrasikan nilai dalam tugas digita. , dan penguatan keilmuan agama agar guru mampu mentransformasikan nilai menjadi aktivitas belajar yang Penelitian-penelitian lapangan menunjukkan bahwa implementasi TPACK dalam konteks PAI meningkatkan efektivitas pengajaran bila didukung pelatihan berkelanjutan dan kebijakan institusional. Oleh karena itu, program peningkatan kompetensi guru PAI idealnya terstruktur . odul TPACK khusus PAI), berorientasi praktik, dan dilengkapi mentoring untuk memastikan transfer keterampilan ke kelas (Zamani et al. , 2. Sebagai fasilitator nilai, guru PAI berperan memediasi pengalaman religius siswa menciptakan situasi belajar yang memungkinkan siswa mengamalkan iman, akhlak, dan adab bukan sekadar menyampaikan pengetahuan teoretis. Dalam konteks digital, peran ini mencakup merancang tugas-tugas reflektif . urnal spiritual digita. , memfasilitasi diskusi mendalam di forum online tentang dilema etika, dan mencontohkan perilaku Islami dalam interaksi digital . tika komunikasi, moderasi Guru juga menjadi penghubung antara sumber-sumber agama yang beragam di internet dengan tradisi lokal dan otoritas keagamaan sehingga siswa memperoleh pemahaman yang selaras dan bertanggung jawab. Selain itu, guru memberi umpan balik yang bersifat pastoral . ukan sekadar akademi. ketika menilai portofolio spiritual, sehingga penilaian mendukung pembentukan karakter, bukan hanya pengukuran Peran fasilitator ini menuntut keseimbangan: mahir teknologi namun tetap berpegang pada otoritas keilmuan agama dan sensitivitas moral. pendidikan karakter Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. PAI berhasil jika guru mampu memadukan fungsi akademik dan pastoral ini (Khoiriyah, 2. Pengembangan Islamic Digital Pedagogy berarti merumuskan praktik pengajaran yang memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan tujuan utama PAI: pembentukan iman, ibadah, dan akhlak. Pendekatan ini mencakup desain learning activities yang bersifat human-centered . studi kasus etika digital, modul refleksi spiritual interaktif, tugas layanan berbasis komunitas digita. , integrasi media multimodal untuk memperkaya pengalaman religius . udio tilawah, video adab, simulasi interakti. , dan penggunaan analytics untuk memantau perkembangan nonkognitif. Pedagogi digital Islami juga menekankan aspek evaluatif yang holistik: rubrik afektif dan psikomotor harus disesuaikan agar penilaian di platform mencerminkan kedalaman spiritual, bukan sekadar aktivitas permukaan. Implementasi yang berhasil memerlukan kolaborasi antar-stakeholder . akar agama, technopedagogues, orang tu. serta penelitian tindakan kelas untuk menyesuaikan praktik pada konteks lokal. Artikelartikel terbaru menunjukkan bahwa transformasi pedagogi ini meningkatkan keterlibatan siswa dan memungkinkan internalisasi nilai lebih nyata bila dirancang dengan prinsip-prinsip pedagogi Islam yang kuat (Maulidi et al. , 2. Kolaborasi sinergis antara guru, orang tua, dan sekolah menjadi kunci agar pembelajaran PAI digital efektif dan bernilai: guru merancang dan memfasilitasi, orang tua memantau praktik spiritual di rumah, dan sekolah menyiapkan kebijakan serta infrastruktur yang mendukung. Praktik konkret meliputi: pengiriman laporan portofolio spiritual digital ke orang tua, workshop literasi digital Islami bagi wali murid, serta SOP sekolah mengenai perekaman dan publikasi materi siswa . rivacy consen. Kolaborasi ini juga penting untuk menangani isu etika seperti penggunaan aplikasi ibadah, eksposur konten negatif, atau kebutuhan bimbingan pastoral ketika analytics menunjukkan penurunan engagement spiritual. Keberhasilan kolaborasi ditopang oleh komunikasi rutin . ertemuan daring/offlin. , kesepakatan bersama tentang standar nilai, dan pelibatan tokoh agama lokal sebagai penasehat materi sehingga pesan pendidikan tidak terlepas dari konteks keagamaan komunitas. Studi-studi praktis menegaskan bahwa keterlibatan orang tua yang terstruktur memberi dampak signifikan pada konsistensi praktik religius siswa di luar sekolah (Haidar & Maulani, 2. KESIMPULAN DAN SARAN AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai religius dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis digital dapat terlaksana secara optimal apabila teknologi tidak hanya diperlakukan sebagai alat penyampaian materi, tetapi sebagai sarana internalisasi iman, akhlak, dan ibadah melalui desain pembelajaran yang terstruktur dan berorientasi karakter. Berbagai bentuk implementasi seperti video interaktif, gamifikasi, e-fiqh lab, simulasi VR ibadah, pembiasaan religius digital, serta pembelajaran reflektif terbukti berkontribusi pada peningkatan motivasi belajar, kesadaran spiritual, dan perilaku etis peserta didik, selama guru mampu mengelola teknologi melalui pendekatan pedagogi religius berbasis teknologi. Namun keberhasilan ini tidak dapat digeneralisasi sepenuhnya karena sangat bergantung pada kesiapan guru, ketersediaan fasilitas digital, serta lingkungan belajar peserta didik. sehingga penelitian lanjutan berbasis eksperimen atau action research diperlukan untuk menguji efektivitas strategi ini dalam konteks sekolah yang berbeda. Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan agar program pelatihan guru berfokus pada penguatan kompetensi TechnologicalAeReligious Pedagogy, dan institusi pendidikan mendukung penyediaan teknologi pembelajaran yang memadai agar integrasi nilai religius dalam PAI digital dapat berjalan berkelanjutan dan menjawab tantangan pembelajaran di era Society 5. DAFTAR REFERENSI Agnia Utami. Pengintegrasian Nilai-Nilai Keislaman Dengan Pembelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikas. Pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Edukasi Madrasah Ibtidaiyah, 2. , 76Ae83. Alfiannur. Cahyadi. Tarbiyah. , & UIN Antasari Banjamasin. Mobile Learning. Virtual Learning Metaverse dan Artificial Intelligence (AI) DalamPembelajaran PAI. Jurnal Teknologi Pendidikan JTekpend, 5. Amelia. Tantangan Pembelajaran Era Society 5. 0 dalam Perspektif Manajemen Pendidikan. Al-Marsus : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1. , 68. https://doi. org/10. 30983/al-marsus. Anas Sofyan. Pengembangan Penilaian Pembelajaran PAI Berbasis Kecerdasan Buatan: Peluang dan Tantangan di MTs Durul Jazil. AL-QALAM : Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan, 16. https://doi. org/10. 47435/al-qalam. Ashabul Kahfi, ady, & Yafithufail. Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi Berbasis Teori Belajar Sibernetik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia, 3, 123Ae132. Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. Do`a Fajarwati. Siti Qomariyah, & Nurasiah Jamil. Peran Sekolah Berbasis Pendidikan Islam dalam Pembentukan Karakter Religius di TK Nadwah Desa Tegalpanjang Kecamatan Cireunghas. Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam Dan Filsafat, 2. , 284Ae299. https://doi. org/10. 61132/akhlak. Farhan Mujib. Nursikin. , & Salatiga. Urgensi dan Problematika Pendidikan Nilai di Era Society 5. TaAodib: Jurnal Pendidikan Islam Dan Isu-Isu Sosial. https://doi. org/10. 37216/tadib. Fuad. Baqi. Wahid. Rifhan. Stai. , & Probolinggo. Internalisasi Nilai-Nilai Karakter Religius di EraTeknologi dalam Pembelajaran Agama Islam di MA Model Maulana Probolinggo. Haidar. , & Maulani. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Karakter Siswa di Era Digital. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam, 3. http://ejournal. id/index. php/ihsan Hanifah Salsabila. Rifki. Oktavianda. Fauzan Abid. , & Dahlan. Integrasi Teknologi Pendidikan Agama Islam Dalam Kurikulum Merdeka. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, http://ejournal. id/index. php/ihsan Hanifah Salsabila. Rifki. Oktavianda. Fauzan Abid. , & Dahlan. Integrasi Teknologi Pendidikan Agama Islam Dalam Kurikulum Merdeka. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam, http://ejournal. id/index. php/ihsan Is Na Uy. Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Pengembangan Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam, 3. https://doi. org/10. 61104/ihsan. Jelita. Integrasi Nilai Islam dan Teknologi dalam Identifikasi Kebutuhan Pembelajaran. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1, 4104Ae4114. https://doi. org/10. 63822/t2efqt41 Juhri. Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Pembentukan Karakter Religius Pesrta Didik MAN 2 Makassar. REFERENSI ISLAMIKA: Jurnal Studi Islam, 2. Juni Erpida Nasution. Strategi Pengembangan Pembelajaran PAI Berbasis Pendidikan Karakter di Era Digital. Baitul Hikmah: Jurnal Ilmiah Keislaman, 3, 59Ae65. https://doi. org/10. 46781/baitul_hikmah. Kahfi. Transformasi Pendidikan Akhlak Dalam Mengatasi Penyimpangan Perilaku Sosial Remaja di Era Digital. Maslahah: Journal of Islamic Studies. Volume 4 No 1, 9Ae AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 63-83 Kajian. Pendidikan. &, & Nurjanah. Integrasi Nilai-Nilai Dalam Pembelajaran Matematika Di Madrasah Ibtidaiyyah. Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam & Pendidikan, 13. , 2021. http://journal. al-qalam. Khoiriyah. Peran Guru PAI dalam Membangun Akhlak Mulia Siswa pada Era Digital. In JOIES: Journal of Islamic Education Studies (Vol. Issue . https://w. com/clara49004/6567168912d50f0993327d82/daruratKhusnul. Institut. Islam. , & Pacitan. Peran Budaya Religius dalam Pembentukan Karakter Lembaga Pendidikan Islam. Lisyawati. Hidayati. , & Abdurrahman Taufik. Digital Literacy Learning Islamic Religious Education AT MA Nurul QurAoan Bogor. EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Keagamaan, 21. http://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. MaAoarif. , & Nursikin. Evolusi Desain Pembelajaran PAI: Menyongsong Era Digital dengan Metode yang Efektif. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8, 41139Ae41148. Maulidi. Alanshori. Hidayati. Khurin Maknin. Rahmah. Zuhri. , & Zaini. Techno-Humanistic Learning: A New Paradigm for HumanCentered Digital Pedagogy on Islamic Education. EDUKASIA Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 6. , 831Ae852. https://doi. org/10. 62775/edukasia. Maulidiyah Nur Wulandari, . Muhammad Ali Rochmad. Ainal Yaqin. Integrasi NilaiNilai Islami Dan Literasi Digital: Transformasi PAI Menuju Generasi Emas Society 5. Bayan Lin Naas. Volume 9. No. Mila. Transformasi Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Digital Society 5. JIS: Journal Islamic Studies, 2, 135Ae143. Mita Baqis. Irwan. , & Nasution. Pentingnya Perlindungan dan Keamanan Data Privasi di Era Digital. Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam, 3. , 396Ae https://doi. org/10. 61132/jmpai. Mursalin Hisan. Tantangan Guru Pendidikan Agama Islam Pada Era Society 5. Pebriani. , & Cahyani. Internalisasi Nilai-Nilai Etika Bermedia Sosial dalam Perspketif Islam Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Dan Profesi Keguruan, 4. , 266Ae271. Putra. Tantangan Pendidikan Islam dalam Menghadapi Society 5. 0 (Vol. Issue . Rosyidah. Annisa. , & Bashith. Model Evaluasi Kompetensi Spiritual Digital Peserta Didik Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Industri 4. TARLIM Jurnal Pendidikan Agama Islam, 8. https://doi. org/10. 32528/tarlim. Integrasi Nilai Religius dalam Desain Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital pada Era Society 5. Rusdiana. , & AR. Pemanfaatan Model Pembelajaran E-Learning Berbasis Artificial Intelegent (AI) Pada Pendidikan Islam. ADDABANA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 7. , 69Ae84. https://doi. org/10. 47732/adb. Salsa Nurhabibah. Herlini Puspika Sari, & Siti Fatimah. Pendidikan Karakter di Era Digital: Tantangan dan Strategi dalam Membentuk Generasi Berakhlak Mulia. Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam, 3. , 194Ae206. https://doi. org/10. 61132/jmpai. Wahyudi. Rizky Al-Fayed. Ariyani. Yanti. Sholikhatun. Salsabila. Riadi. Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong. , & Timur. Evaluasi Pembelajaran Berbasis Teknologi Dalam Pendidikan Agama Islam Di Era Digital. AZKIYA : Jurnal Ilmiah Pengkajian Dan Penelitian Pendidikan Islam, 6. Zahrah. Setya Hanifah. Adiyas. Azis. Ronggo Waluyo. Timur. , & Barat. Inovasi Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Informasi: Transformasi Digital dalam Pendidikan Islam. 2, 119Ae131. https://doi. org/10. 61132/akhlak. Zamani. Hamami. Sunan. , & Yogyakarta. Pendekatan TPACK dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025