HUBUNGAN KONSUMSI EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus androgynu. DENGAN PENINGKATAN PRODUKSI ASI IBU MENYUSUI 0-6 BULAN DI DESA BUNTUL PETERI KECAMATAN PERMATA KABUPATEN BENER MERIAH THE RELATIONSHIP OF CONSUMPTION KATUK LEAF EXTRACT (Sauropus androgynu. AND INCREASED BREAST MILK PRODUCTION IN BREASTFEEDING MOTHERS 0-6 MONTHS IN BUNTUL PETERI VILLAGE. PERMATA DISTRICT. BENER MERIAH REGENCY Dewina Susanti* Saudah Akademi Kebidanan Saleha. Banda Aceh. Indonesia stafsaleha@gmail. ABSTRAK Daun katuk merupakan galakctogoue yang dipercaya masyarakat dapat meningkatkan produksi Air Susu Ibu (ASI). Daun katuk mengandung beberapa senyawa alami yang berguna untuk sintesis dan merangsang produksi ASI. Ketersediaan daun katuk di Indonesia yang melimpah sering digunakan dalam bentuk obat tradisional terutama untuk meningkatkan produksi ASI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi ekstrak daun katuk dengan kelancaran produksi ASI pada ibu menyusui 0-6 bulan di Desa Buntul Peteri Kecamatan Permata Kabupaten Bener Meriah. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan rancangan non equivalent control group Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 2 s. 16 Juli 2024 di kampung Buntul Peteri Kecamatan Permata Kabupaten Bener Meriah. Jumlah sampel sebanyak 30 orang yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kontrol dan kelompok intervensi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Kelompok intervensi diberikan ekstrak daun katuk dengan dosis 2x200 mg selama 15 hari dan akan dilihat efek pada hari ke 15, sedangkan untuk kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Analisis data yaitu analisis univariat menggunakan uji independen t-test. Berdasarkan hasil uji independen sampel t-test didapatkan nilai p-value 0,009< . , maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk memberikan pengaruh terhadap pengeluaran ASI. Disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian ekstrak daun katuk terhadap kelancaran ASI pada ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan. Sehingga ekstrak daun katuk dapat direkomendasikan bagi ibu yang memiliki kendala dalam menyusui. Kata Kunci: Daun Katuk. Produksi ASI. ASI Eksklusif ABSTRACT Katuk leaves are galakctogoue which people trust to increase breast milk production (ASI), katuk contains several compounds that are useful for the synthesis and production of breast milk. The nutritional content of katuk leaves can increase breast milk production, the abundant availability of katuk leaves in Indonesia is often used in the form of traditional medicine, especially in increasing breast milk The aimed of this research was to determine the effect of consuming Katuk Leaf Extract in increasing breast milk production for breastfeeding mothers 0-6 months in Buntul Peteri Village. Permata District. Bener Meriah Regency. The research method used Quasi-experiment with a NonEquivalent Control Group Design. This research was carried out on 2-16 July 2024 in Buntul Peteri village. Permata District. Bener Meriah Regency. The total sample was 30 people divided into two groups, namely control and intervention based on predetermined inclusion and exclusion criteria. The intervention group was given katuk leaf extract at a dose of 2x200 mg for 15 days and the effects would be seen on day 15, while the control group was given no intervention. Data analysis is univariate analysis using the independent t-test. Based on the results of the independent sample t-test, the p-value was 0. 009< . , so H0 was rejected and Ha was accepted. This shows that katuk leaf extract has an influence on breast milk production. Conclusion: There is an effect of giving katuk leaf extract on the smoothness of breast milk in mothers who have babies aged 0-6 Katuk leaf extract can be recommended for mothers who have problems Keywords: Katuk Leaves. Breast Milk Production. Exclusive Breast Milk PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) mencatat 5,9 juta . per meninggal sebelum usia lima tahun, dan sebanyak 2,7 juta bayi di antaranya meninggal selama 28 hari pertama kehidupan. Penelitian lain mencatat sekitar 6 juta kematian anak terjadi pada usia di bawah 5 tahun (Caron & Markusen, 2. Angka Kematian Bayi (AKB) kesehatan di suatu negara. Sesuai Sustainable Development Goals (SDG. , berbagai upaya dilakukan guna mencegah kematian bayi dan balita, salah satunya adalah merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan hingga usia 2 tahun yang dicanangkan oleh United Nations ChildrenAos Fund (UNICEF) dan WHO. Menurut WHO, rata-rata pemberian ASI eksklusif di dunia mencakup 36% pada periode 2000Ae Sedangkan berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2016, cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0Ae6 bulan mencapai 54,3%, dan pada tahun 2017 mencapai 55,7%. Meskipun terjadi peningkatan, tetapi capaian ASI eksklusif di Indonesia belum mencapai angka yang diharapkan yaitu sebesar 80% (Kemenkes, 2. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh menunjukkan cakupan ASI eksklusif pada usia 0Ae6 bulan sebesar 67,80%, sedangkan untuk Kabupaten Bener Meriah cakupannya sebesar 33,8%. Air Susu Ibu (ASI) mengandung banyak nutrisi yang mudah dicerna pertumbuhan dan perkembangan ASI juga mengandung zat antibodi yang berfungsi melindungi bayi dari infeksi berbagai penyakit (Ibrahim et al. , 2. Bayi berhak memperoleh ASI eksklusif sejak lahir sampai usia 6 bulan, setelah itu dapat diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI sampai usia 6 bulan secara eksklusif dilanjutkan sampai 2 tahun pertama kehidupan dapat mencegah 13% dari 10 juta kematian setiap tahun (Kampmann, 2. Masih rendahnya cakupan ASI eksklusif menunjukkan bahwa tidak banyak ibu yang berhasil dalam pemberian ASI kepada bayinya, dan mempengaruhinya yaitu adanya penghentian pemberian ASI kepada bayi dengan alasan produksi ASI Penelitian membuktikan adanya persepsi dari ibu terkait ASI tidak cukup merupakan salah satu faktor penghambat pemberian ASI eksklusif (Fikawati et al. , 2. Daun (Sauropus androgynu. adalah salah satu kearifan lokal yang biasa digunakan masyarakat untuk membantu inisiasi, pemeliharaan, atau peningkatan tingkat sintesis ASI ibu. Ketersediaan daun katuk di Indonesia yang masyarakat Indonesia dalam bentuk obat tradisional, terutama untuk meningkatkan produksi ASI (Mien et , 2. Penggunaan daun katuk telah banyak diteliti dengan pemakaian dalam bentuk sayur dan lalapan. Namun, mengonsumsi daun katuk dalam bentuk sayur atau lalap tidak praktis karena kesulitan mendapatkan bahan segar setiap harinya dan kurang baik jika air rebusan harus disimpan Penelitian yang dilakukan Suwanti . menyebutkan bahwa mengonsumsi daun katuk secara berlebihan dapat menyebabkan efek samping keracunan papaverin bila dikonsumsi mentah, yang dapat mengakibatkan sumbatan udara di paru-paru hingga kematian (Suswanti et al. , 2. Uji toksisitas yang di lakukan oleh Lucia at al. dengan menunjukkan bahwa daun katuk tidak mengandung zat toksik yang dapat menimbulkan kecacatan pada janin. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ridho Islami . yang menguji toksisitas subkronis oral sup daun katuk (Sauropus androgynu. pada tikus wistar betina, yang menunjukkan bahwa daun katuk tidak memiliki efek toksik sehingga penggunaannya masih relatif aman jika dikonsumsi selama kurang dari 30 hari. Dalam penelitian lain, dibuat sediaan dalam bentuk kapsul siap minum yang mengandung 100% ekstrak daun hijau yang diproses secara alami dan higienis tanpa tambahan bahan apapun serta tetap menjaga khasiat daun katuk. Kapsul daun katuk ini dinyatakan tidak memiliki efek samping dan aman dikonsumsi oleh ibu menyusui. Selain itu dilaporkan bermanfaat juga dalam penyembuhan beberapa penyakit menyembuhkan luka, mengobati susah buang air kecil (BAK), meningkatkan vitalitas seksual pria, serta meredakan dan menurunkan demam (Aulianova, 2016. Tri Mulyani et al. , 2. Dari studi pendahuluan yang telah dilakukan di Kampung Buntul Peteri. Kecamatan Permata. Kabupaten Bener Meriah terhadap 6 orang ibu dengan usia masa nifas >7 hari didapati data terdapat 2 orang ibu yang mengatakan ASI sudah keluar namun masih sedikit, dan 4 orang ibu mengatakan ASI belum keluar. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian terkait efektifitas pemberian ekstrak daun katuk pada ibu nifas yang memiliki bayi usia 0Ae6 BAHAN DAN METODE Bahan dari peneltian ini adalah daun katuk. Penelitian ini merupakan quasi eksperimen menggunakan desain non-equivalent control group design, dimana kelompok pertama diberikan ekstrak daun katuk post-test, sedangkan kelompok kedua tanpa perlakuan dan dilakukan post-test (Notoatmodjo, 2. Penelitian dilaksanakan di Kampung Buntul Peteri. Kecamatan Permata. Kabupaten Bener Meriah pada tanggal 2Ae16 Juli 2024. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan oleh Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah ibu nifas yang memiliki bayi berusia 0Ae6 bulan . ebanyak 30 oran. Responden yang memenuhi kriteria akan dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok intervensi dengan memberikan ekstrak daun katuk 100% bahan alami dan telah memiliki BPOM. Tiap kapsul mengandung ekstrak yang setara dengan 2 gram simplisia Sauropus androgynus L. Meer folium. Dosis pemberian dalam bentuk kapsul adalah 2 x 200 mg untuk kelompok intervensi selama 15 hari dan akan dilihat efeknya pada hari ke-15, sedangkan untuk kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Instrumen digunakan yaitu lembar observasi dengan melihat seberapa sering bayi pengosongan payudara atau tidak, posisi perlekatan puting dengan mulut bayi, serta apakah payudara benarbenar kosong. Setelah bayi menyusui sampai kenyang dan tertidur. Frekuensi BAK minimal sebanyak 6 kali, karakteristik BAK berwarna kuning jernih, frekuensi BAB 2Ae5 kali sehari. Analisis data yang digunakan yaitu analisis bivariat menggunakan independent t-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan tabel karakteristik di atas dapat dilihat bahwa mayoritas umur ibu menyusui berada dalam rentang usia 20Ae35 tahun sebanyak 86,67%, dan ibu multipara sebanyak 66,67%. Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur dan Paritas Variabel Kategori Frekuensi Umur < 20 tahun 3,33 20 Ae 35 tahun 86,67 > 35 tahun 10,00 Primipara 33,33 Multipara 66,67 100,00 Paritas Total b. Analisis Univariat Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kelompok Kontrol Ibu Bayi Usia 0-6 Bulan Kelancaran ASI Frekuensi Lancar 26,67 Tidak Lancar 73,33 Total 100,00 Berdasarkan menunjukkan bahwa dari 15 responden terdapat 11 responden . ,33%) yang memiliki ASI tidak lancar dan 4 responden . ,67%) yang ASI-nya lancar. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kelompok Intervensi Ibu Bayi Usia 0-6 Bulan Kelancaran ASI Lancar Tidak Lancar Total Frekuensi Tabel menunjukkan bahwa dari 15 responden terdapat 12 responden . %) yang memiliki ASI lancar dan 3 responden . %) dengan ASI tidak Analisis Bivariat Tabel 4. Hubungan Pemberian Ekstrak Daun Katuk terhadap Kelancaran ASI Kelompok Kelancaran ASI Lancar Tidak Lancar Intervensi 0,009 Kontrol 26,67 73,33 Total Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji independent t-test pada Tabel 4 untuk menilai pengaruh pemberian ekstrak daun katuk terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas yang memiliki bayi usia 0Ae6 bulan diperoleh nilai signifikansi 0,009. Probabilitas 0,009 < 0,05, maka HCA ditolak dan HCa diterima, sehingga ada pengaruh pemberian daun katuk terhadap kelancaran ASI pada ibu yang memiliki bayi usia 0Ae6 bulan di Kampung Buntul Peteri. Kecamatan Permata. Kabupaten Bener Meriah. Berdasarkan hasil analisa data peneliti berasumsi bahwa produksi ASI yang lancar salah satunya disebabkan oleh faktor ibu yang mengonsumsi makanan sehat dan Ibu menyusui yang mengkonsumsi ekstrak daun katuk terbukti efektif dapat meningkatkan produksi ASI. Selain digunakan dalam sediaan ekstrak, daun katuk segar yang dikonsumsi dalam bentuk sayuran, baik dalam bentuk lalapan juga sangat efektif meningkatkan produksi ASI. Efektifitas daun katuk dalam ASI senyawa kimia berupa alkaloid dan sterol yang terdapat daun katuk (SaAoroni Berdasarkan hasil analisis senyawa kimia daun katuk diketahui bahwa pada setiap 100 gram daun katuk mentah mengandung 59 kalori, 4,8 gram protein, 1 gram lemak, 11 gram karbohidrat, 204 mg kalsium, 83 mg fosfor, 2,7 mg besi, 103. 705 SI vitamin A, 0,1 mg vitamin D, 239 mg vitamin C, dan air sebanyak 81 gram. Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa mengkonsumsi daun katuk 400 mg/hari dapat membantu ibu produksi ASI (Dolang et al. , 2. Pada mengeluhkan ASI yang belum keluar atau produksi ASI sedikit. Salah satu Upaya yang dapat dilakukan guna merangsang produksi asi adalah dengan cara menyusui bayi sesering mungkin selama 4Ae5 menit. Putting susu yang mendapat rangsangan berupa hisapan dari bayi akan menghasilkan hormon tertentu yang berdampak pada peningkatan produsi ASI. Setelah hari ke-4 sampai ke-5, boleh disusukan selama 10 menit. Setelah produksi ASI cukup, bayi dapat disusukan selama 15 menit. Menyusui bayi selama 15 menit akan membuat bayi kenyang jika produksi ASI banyak. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Juliastuti . yang menyatakan bahwa jumlah ASI yang terhisap bayi pada menit pertama adalah lebih kurang 112 ml, 5 menit kedua lebih kurang 64 ml, dan 5 menit terakhir hanya 16 ml. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh SaAoroni et al. yang berjudul AuEffectiveness of the Sauropus Androgynus (L) Merr Leaf Extract in Increasing MotherAos Breast Milk ProductionAy. Penelitian tersebut menerangkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk pada kelompok ibu melahirkan dan menyusui bayinya dengan dosis 2x300 mg/hari selama 15 hari terus menerus mulai hari ke-2 atau ke-3 setelah melahirkan dapat meningkatkan produksi ASI sebesar 50,7% lebih banyak dibandingkan dengan kelompok ibu melahirkan dan menyusui bayinya yang tidak diberi ekstrak daun katuk. Dosis pemberian aman ekstrak penelitian terkait efek farmakologi ekstrak daun katuk, yaitu 631,6 mg/kg berat badan. Angka tersebut setara dengan 900 mg/hari jika dosis diekstrapolasikan pada manusia berdasarkan luas permukaan tubuh dan kepekaan (Asokawati et , 2. Hasil penelitian oleh Annisa pemberikan ekstrak daun kelor dengan dosis 2x1 selama 2 minggu didapatkan perubahan nilai rata-rata pengukuran produksi ASI sebelum dan sesudah diberikan daun katuk, yaitu dari 3258,3 menjadi 3595,8 dengan nilai sig . -taile. sebesar 0,021. Penelitian menyimpulkan bahwa ada efek pemberian simplisia daun katuk terhadap produksi ASI pada ibu post partum (Rahmanisa & Aulianova. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmanisa dan Tara . , yang menunjukkan adanya peningkatan produksi ASI pada ibu yang mengonsumsi ekstrak daun katuk yang mengandung alkaloid dan sterol (Rahmanisa & Aulianova, 2. Hasil penelitian ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya yang dilaukan oleh beberapa peneliti lain dimana terbukti bahwa pemberian ekstrak daun katuk pada ibu menyusui dapat memperlancar dan ASI. Peningkatan produksi ASI ini erat kaitannya juga dengan kebiasaan ibu dengan gizi yang cukup. Disamping itu faktor ketenteraman jiwa dan pikiran ibu serta frekwensi seringnya bayi disusui juga berpengaruh terhadap produksi ASI ibu. KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji independen sampel t-test didapatkan nilai p-value 0,009 < . , sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan memberikan pengaruh terhadap kelancaran pengeluaran ASI bagi ibu UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih semua pihak yang telah membantu dalam proses penelitian ini, kepala puskesmas, bidan koordinator Puskesmas Buntul Kemumu dan para responden. DAFTAR PUSTAKA