http://ejurnal. id/index. php/photon Pengaruh Kombinasi Pakan terhadap Kemampuan Larva Tenebrio molitor dalam Mendegradasi Limbah Masker Medis Surgical Novia Gesriantuti. Yeeri Badrun. Elma Yolanda Fakultas MIPA dan Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Riau. Indonesia *Correspondence e-mail: noviagesriantuti@umri. Abstract The disposable use of medical masks causes a buildup of medical waste masks that can pollute the environment. One of alternative method used to decant a medical mask is the use of the insect Tenebrio molitor. However, the larvae ability to reduce the rate of the masks is not optimal, so it is necessary to combine the diet with organic waste. The purpose of this study is to identify the potential of larvae T. molitor to degrade surgical medical masks combine with the organic waste of pineapple peel, papaya peel, dregs of tofu, and palm meal also determine weight of larvae bodies. The method used is a Completely Random Design (CRD) with 4 treatment and 3 repetition. Research indicates that the larvae T. molitor were able to descale the surgical masks of organic waste. The rate of biodegradation of surgical medical masks is estimated at 1,75 gr/days, surgical medical mask papaya peel 1,73 gr/days, surgical medical mask pineapple peel 1,72 gr/days and surgical medical mask palm covers 1,25 gr/days. Correlation analysis obtained r = 0,7413 meaning indicates a strong correlation between died of the combination of surgical medical masks and organic waste on increase the larvae body Keywords: Biodegradation. Organic Waste. Surgical Medical Mask. Tenebrio molitor Larvae Abstrak Penggunaan Masker Medis Surgical yang sekali pakai menyebabkan terjadinya penumpukkan limbah masker medis yang dapat mencemari lingkungan. Salah satu metode alternatif yang digunakan untuk mendegradasi masker medis yaitu dengan menggunakan serangga Tenebrio molitor. Akan tetapi kemampuan larva T. molitor dalam mendegradasi pakan masker masih belum optimal sehingga perlu dilakukan penelitian pengaruh kombinasi pakan dengan menggabungkan limbah masker dengan limbah organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan larva T. mendegradasi Masker Medis Surgical yang dikombinasikan dengan limbah organik berupa Kulit Nanas. Kulit Pepaya. Ampas Tahu dan Bungkil Sawit serta mengetahui bobot badan larva. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 pengulangan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Larva T. molitor mampu mendegradasi Masker Medis Surgical yang dicampur dengan limbah organik. Laju biodegradasi Masker Medis Surgical Ampas tahu 1,75 gr/hari. Masker Medis Surgical Kulit Pepaya 1,73 gr/hari. Masker Medis Surgical Kulit Nanas 1,72 gr/hari, dan Masker Medis Surgical Bungkil Sawit 1,25 gr/hari. Hasil analisis korelasi diperoleh nilai r = 0. menunjukkan bahwa adanya hubungan yang kuat antara pakan Masker Medis Surgical yang dicampur limbah organik dengan pertambahan bobot badan larva. Kata Kunci: Biodegradasi. Limbah Organik. Masker Medis Surgical. Larva Tenebrio molitor Pendahuluan Kasus Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan pada beberapa bulan terakhir, akan tetapi penurunan wabah Covid-19 ini tidak mengubah peraturan pemerintah dalam pelaksanaan protokol kesehatan. Salah satunya menggunakan masker dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan masker sekali pakai, salah satunya masker medis surgical menyebabkan terjadinya penumpukan limbah masker medis yang dapat mencemari dan merusak lingkungan. Jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dampak buruk bagi Masker medis tersusun dari bahan polimer plastik seperti polypropylene, polystyrene, polycarbonare dan lain sebagainya yang juga banyak digunakan dalam pembuatan wadah minuman dan makanan. Bahan polimer plastik tersebut membutuhkan proses penguraian yang sangat panjang dan lama. Beberapa upaya Received: 12 Agustus 2022. Accepted: 23 Agustus 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon yang telah dilakukan untuk mendegradasi bahan polimer plastik tersebut. Salah satunya dengan menggunakan bakteri yang aman bagi lingkungan tetapi membutuhkan waktu yang lama dalam mengurai bahan polimer plastik di lingkungan (Aruan et al. Karnuiastuti, 2. Metode alternatif lainnya adalah menggunakan serangga, serangga dapat mengkonsumsi bahan polimer plastik karena memiliki bakteri yang terdapat dalam usus larva sehingga larva dapat bertahan hidup dan berkembang menjadi pupa (Yang et al. , 2. Salah satu serangga yang dapat digunakan yaitu larva Tenebrio molitor. Menurut Ica et al. molitor termasuk jenis serangga yang mampu mendegradasi styrofoam . Pemanfaatan serangga larva T. molitor dalam mendegradasi limbah masker medis sudah dilakukan oleh Lestari et al. , hasil penelitian menunjukkan bahwa larva T. molitor mampu mendegradasi masker medis surgical dengan laju biodegradasi 0,067 gr/21 hari. Pemberian pakan masker pada larva T. molitor juga berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan larva. Pengaruh pemberian pakan masker lebih rendah dibandingkan dengan pemberian pakan masker dicampur dedak padi. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan laju biodegradasi limbah masker medis surgical oleh larva T. molitor, salah satunya upaya dengan mengkombinasikan limbah masker masker medis surgical dengan limbah organik. Metodologi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2021. Pelaksanaan dilakukan di Laboratorium Biologi. Fakultas MIPA dan Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Riau. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Adapun kombinasi yang digunakan adalah: P1 = 5 gram masker medis surgical 50 gram ampas tahu P2 = 5 gram masker medis surgical 50 gram bungkil sawit P3 = 5 gram masker medis surgical 50 gram kulit nanas P4 = 5 gram masker medis surgical 50 gram kulit pepaya Sebagai berat awal, kulit nanas dan kulit pepaya diiris tipis-tipis selanjutnya ditimbang sebanyak 50 gram, ampas tahu dan bungkil sawit, masing-masing ditimbang sebanyak 50 gram. Masker medis surgical dipotong sebesar 3 x 3 cm dan timbang sebanyak 5 gram. Tahapan perlakukan dilakukan dengan memasukkan kombinasi pakan ke dalam wadah yang sudah diberi label sesuai masing-masing perlakuan. Kemudian masing-masing wadah tersebut dimasukkan larva T. molitor sebanyak 175 ekor. Bagian atas wadah ditutup dengan kain kasa. Penimbangan dilakukan 3 kali dalam sebulan atau setiap 10 hari sekali. Analisis Data Parameter pada penelitian ini adalah jumlah pakan yang terdegradasi, laju biodegradasi dan perubahan bobot badan larva. Data hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Laju biodegradasi, jumlah pakan yang terdegradasi dan perubahan bobot badan larva dapat diketahui dengan mengacu pada rumus yang digunakan Purnamasari et al. , . Degradasi = [Wi -Wf ] Laju Biodegradasi Keterangan: Wi = massa awal . Wf = massa akhir . V = Laju Biodegradasi . i = Waktu yang dibutuhkan untuk biodegradasi Bobot badan = [ Wf Ae Wi ] Received: 12 Agustus 2022. Accepted: 23 Agustus 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Data perubahan bobot badan dan pakan terdegradasi akan dilakukan uji one way Analisis of Variance (ANOVA), jika terjadi perbedaan antara perlakuan maka dilakukan uji Least Significance Different atau uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Kemudian dilakukan uji korelasi untuk mengetahui kekuatan hubungan antara pakan yang diberikan dengan bobot badan larva. Hasil dan Pembahasan Pakan yang terdegradasi dapat diketahui setelah dilakukan penimbangan berat akhir. Pakan yang terdegradasi dan laju biodegradasi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Berat Pakan yang terdegradasi dan laju biodegradasi pakan masker dicampur limbah organik oleh larva T. Rata-Rata Laju Perlakuan Degradasi . Biodegradasi Berat Akhir Berat Awal . r/h. 2,40 52,60 1,75 3,03 51,97 1,73 3,27 51,73 1,72 17,30 37,70 1,26 Keterangan: P1 : Masker Medis Surgical Ampas Tahu P3 : Masker Medis Surgical Kulit Nenas P2 : Masker Medis Surgical Kulit Pepaya P4 : Masker Medis Surgical Bungkil Sawit Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa larva T. molitor mampu mendegradasi masker medis surgical yang dicampur limbah organik. Hal ini dapat terlihat dari adanya pengurangan jumlah pakan awal yang diberikan pada larva T. Pada Tabel 1 dapat dilihat, degradasi tertinggi terdapat pada pemberian perlakuan P1 yaitu seberat 52,60 gr dengan laju biodegradasi 1,75 gr/hari, sedangkan degradasi terendah pada pakan P4 seberat 37,70 gr dengan laju biodegradasi 1,26 gr/hari. Perlakuan P1 banyak terdegradasi dari pakan yang lain, karena ampas tahu memiliki tekstur lembut, halus dan banyak mengandung air menyebabkan masker lebih lunak. Kadar air dari ampas tahu yang menempel pada masker menyebabkan larva mudah untuk mencerna masker sehingga biodegradasinya tinggi. Menurut Asri . , ampas tahu merupakan limbah dari pembuatan tahu melalui proses penggilingan, pemasakan, dan fermentasi menyebabkan tekstur ampas tahu lembut dan halus. Gambar 1. a Pakan P1 Sebelum Terdegradasi, b. Pakan P1 Setelah Terdegradasi Received: 12 Agustus 2022. Accepted: 23 Agustus 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Pada perlakuan P4 mengalami degradasi yang rendah walaupun bungkil sawit memiliki tekstur halus dan kering, tetapi T. molitor hanya sedikit memakan masker. Masker yang dicampur bungkil sawit tetap kering sehingga larva sulit untuk memakan. Lapisan masker yang banyak dimakan pada P4 ini adalah lapisan tengah yang lebih lunak dibandingkan lapisan lainnya. Hasil yang sama didapat oleh Anisyah . , pada pakan SK (Pakan Styrofoam Kotak Es (Cool bo. ) memiliki tekstur pakan yang keras membuat larva mengeluarkan energi yang lebih besar untuk mengambil makanan, sehingga larva hanya mampu mendegradasi pakan styrofoam dalam jumlah yang lebih sedikit. Berdasarkan data pakan yang terdegradasi pada Tabel. 1 selanjutnya dilakukan uji one way Analisis of Variance (ANOVA) untuk menunjukkan ada atau tidak adanya perbedaan jumlah pakan yang Hasil uji ANOVA didapatkan F hitung adalah 21,66 dan F tabel pada taraf 5% adalah 4,07 sehingga F hitung > F tabel yaitu 21,66 > 4,07 artinya Signifikan atau perlukan memberikan pengaruh nyata. Maka hasil uji ANOVA yang signifikan perlu dilakukan uji Least Significance Different atau uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil uji BNT dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Tabel Uji Beda Nyata Terkecil Pakan Terdegradasi Perlakuan Rata-Rata Pakan yang Terdegradasi 52,60 58,80a 51,97 58,17b 51,73 57,93c 37,70 43,90d Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama maka perlakuan berbeda nyata. sedangkan angka yang diikuti huruf yang sama maka perlakuan tidak berbeda nyata menurut uji BNT taraf 5%. Hasil uji lanjut BNT pada Tabel 2 menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2. P3 dan P4 sehinga dapat dikatakan larva T. molitor lebih mampu mendegradasi P1 dari pada P2. P3 dan P4 Perubahan Bobot Badan Larva Perubahan bobot badan larva yang diberi pakan masker medis surgical dicampur dengan organik . mpas tahu, kulit papaya, kulit nanas, dan bungkil sawi. selama 30 hari, dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perubahan Bobot Berat Badan Larva T. molitor Pada Masing-Masing Pakan Perubahan Bobot Badan Perlakuan Berat Awal . Berat Akhir . 5,56 4,87 5,56 3,13 5,56 3,76 5,56 3,96 Keterangan: P1 : Masker Medis Surgical Ampas Tahu. P2 : Masker Medis Surgical Kulit Pepaya. P3 : Masker Medis Surgical Kulit Nenas. P4 : Masker Medis Surgical Bungkil Sawit Berdasarkan Tabel 3. dapat dilihat bahwa terjadinya perubahan bobot badan pada larva, dari awal penimbangan sampai penimbangan akhir . ihat Gambar . Perubahan bobot tertinggi pada pemberian pakan P1 seberat 4,87 gr dan terendah terdapat pada pakan P2 seberat 3,13 gr. Ampas tahu memiliki kandungan nutrisi seperti karbohidrat, lemak dan protein yang berperan penting dalam proses pertumbuhan larva. Menurut Hapsari et al. , kandungan nutrisi yang dimiliki didalam ampas tahu Received: 12 Agustus 2022. Accepted: 23 Agustus 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon seperti protein kasar 21,66%, serat kasar 20,26%, lemak kasar 2,73% dan kadar air 11,18%, dan energi 830 kkal/kg. Perubahan bobot badan terendah terdapat pada pemberian pakan P2 yaitu 3,13 gr. Kulit pepaya mengandung air dan enzim papain yang dapat diserap oleh masker tetapi hal ini menyebabkan masker menjadi kaku. Larva membutuhkan banyak energi untuk memakan masker sehingga akan mempengaruhi bobot badannya. Energi tersebut berasal dari nutrisi yang terkandung didalam pakan P2 seperti protein, serat, dan lemak. Menurut Leke et al. Kulit papaya mengandung nutrisi protein yang tinggi, yaitu 25,74% dan serat kasar 20,06%, lemak 4,52%. Kalsium 1,12%, fosfor 0,47%, energi metabolis 2997. Kkal/kg. Menurut Rahmawati et al. , kandungan nutrisi didalam makanan mempunyai peran penting dalam proses pertumbuhan dan kurangnya nutrisi mengakibatkan kemampuan biodegradasi relatif rendah karena kurangnya sumber energi untuk pertumbuhan larva. Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan bobot badan larva adalah adanya ketersediaan kandungan nutrisi yang cukup untuk larva, kandungan nutrisi tersebut berupa adanya sisa-sisa pakan yang bercampur dengan masker. Nutrisi yang diperoleh oleh larva dalam limbah organik . mpas tahu, kulit papaya, kulit nanas, dan bungkil sawi. dapat digunakan untuk menambah bobot badan. Menurut Astuti et . , bahwa kandungan nutrisi yang didapat dari pakan digunakan untuk penambahan bobot badan dengan membentuk jaringan tubuh masing-masing larva dan faktor eksternal lain adalah suhu dan kelembaban lingkungan sekitar. Perubahan bobot badan larva dari sebelum diberi pakan dan sesudah diberi pakan dapat dilihat pada Gambar 2. Perlakuan Masker Medis Surgical Ampas tahu Masker Medis Surgical Kulit Pepaya Masker Medis Surgical Kulit Nanas Masker Medis Surgical Bungkil Sawit Sebelum diberi Setelah diberi Gambar 2 Larva T. molitor Sebelum Diberi Pakan dan Setelah Diberi Pakan. Sumber : Koleksi Pribadi Berdasarkan data perubahan bobot badan larva T. molitor pada Tabel 3 selanjutnya dilakukan uji One Way Analisis of Variance (ANOVA) untuk menunjukkan ada atau tidak adanya perbedaan pada perubahan bobot badan larva yang diberi pakan limbah anorganik . asker medis surgica. dicampur dengan limbah organik . mpas tahu, kulit papaya, kulit nanas, dan bungkil sawi. Hasil uji ANOVA didapatkan F hitung adalah 184,63 dan F tabel pada taraf 5% adalah 4,07, sehingga F hitung > F tabel yaitu 184,63 > 4,07 menunjukkan bahwa pemberian pakan masker dicampur limbah organik berpengaruh nyata . terhadap perubahan bobot badan. Hasil uji ANOVA diperoleh F hitung > F tabel, yaitu signifikan. Hasil uji ANOVA yang signifikan perlu dilakukan uji Least Significance Different atau uji Beda Nyata Terkecil Received: 12 Agustus 2022. Accepted: 23 Agustus 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon (BNT). Hasil uji BNT dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Tabel Uji Beda Nyata Perubahan Bobot Badan Perlakuan Rata-Rata Perubahan Bobot Badan 4,87 7,20a 51,97 5,46d 51,73 6,10c 37,70 6,30b Ket: Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama maka perlakuan berbeda nyata. sedangkan angka yang diikuti huruf yang sama maka perlakuan tidak berbeda nyata menurut uji BNT taraf 5%. Perubahan Bobot Badan . Hasil uji lanjut BNT pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perubahan bobot badan larva pemberian pakan P1 berbeda nyata dengan perubahan bobot badan larva pada perlakuan P2. P3 dan P4. Perubahan bobot badan larva lebih banyak bertambah pada perlakuan P1 dari perlakuan P2. P3 dan P4, sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan bobot badan larva T. molitor tertinggi pada perlakuan pemberian pakan P1 dari pada P2. P3 dan P4. Analisis korelasi untuk mengetahui kekuatan hubungan pakan yang diberikan dengan pertambahan bobot badan larva. Pertambahan bobot badan larva adalah sebagai variabel kontrol. Hasil analisis korelasi antara pakan dan pertambahan bobot badan larva dapat dilihat pada Grafik 1. Pakan yang Terdegradasi . Grafik 1. Hubungan Analisis Korelasi antara Pakan dan Pertambahan Bobot Badan Larva Grafik 1 merupakan hasil analisis uji korelasi antara semua pakan dengan pertambahan bobot badan larva yang menunjukkan, bahwa nilai korelasi atau nilai r = 0. 7413 dikategorikan kuat berdasarkan pedoman Interpretasi kofisien korelasi. Hal ini menunjukkan bahwa larva T. molitor mampu mendegradasi pakan dan berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan larva. Pemberian pakan masker yang kering dicampur dengan limbah organik menyebabkan masker lebih lunak dan memudahkan larva memakan masker. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa Larva Tenebrio molitor mampu mendegradasi Masker Medis Surgical yang dicampur dengan limbah organik . mpas tahu, kulit papaya, kulit nanas dan bungkil sawi. Laju biodegradasi Masker Medis Surgical Ampas tahu1,75 gr/30 hari. Masker Medis Surgical Kulit Pepaya 1,73 gr/30 hari. Masker Medis Surgical Kulit Nanas1,72 gr/30 hari, dan Masker Medis Surgical Bungkil Sawit 1,25 gr/30 hari. Hasil analisis korelasi mendapatkan nilai r = 0. 7413 artinya jumlah pakan terdegradasi dengan pertambahan bobot badan larva menunjukkan adanya hubungan yang kuat atau perlakuan sangat berpengaruh terhadap Received: 12 Agustus 2022. Accepted: 23 Agustus 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon pertambahan bobot badan larva. Daftar Pustaka