Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a. HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN PERILAKU KONSUMTIF PADA MAHASISWA UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA Oleh Arik Dyah Ayu Lestari1. Emmanuel Satyo Yuwono2 1,2Fakultas Psikologi. Universitas Kristen Satya Wacana Email: 1arikdyah983@gmail. Abstract This research aims to investigate the relationship between self-concept and consumptive behavior among active students at UKSW Salatiga. This study employs a non-probability sampling technique known as quota sampling. The subjects involved in this research consist of 115 active students at UKSW Salatiga. Data collection methods utilize the Self-Concept Scale and Consumptive Behavior Scale. The data analysis method utilized is the Pearson product-moment From the analysis results, a correlation coefficient of -0. 209 was obtained with a pvalue of 0. <0. From these results, it can be concluded that there is a significant negative relationship between self-concept and consumptive behavior among active students at UKSW Salatiga. Thus, it is evident that the higher the level of self-concept among students, the lower their level of consumptive behavior. Conversely, the lower the self-concept among students, the higher their consumptive behavior tends to be. Keywords: Self Concept. Consumptive Behaviour. Student PENDAHULUAN Di era globalisasi saat ini, teknologi Pesatnya perkembangan teknologi pada masyarakat membuat gaya hidup masyarakat juga semakin berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi ini salah satunya adalah pada internet, dimana masyarakat bisa dengan mengakses internet tersebut hanya dalam genggaman tangan. Mudahnya informasi yang diterima dan jangkauan yang luas tentunya akan membuat sebuah perubahan, khususnya pada perubahan gaya hidup yang dimiliki oleh masyarakat. Perkembangan mode fashion, budaya dari luar yang masuk, berkembangnya online shopping membuat perubahan dan menuntut jaman untuk mengikuti keinginan dari masyarakat. Maka jika diamati banyak sekali industri yang bersaing untuk memenuhi keinginan atau permintaan pasar misalnya pada industri fashion, make-up, dan elektronik seperti Hal tersebut juga berdampak pada berkembangnya tempat shopping center, waralaba, supermarket dan e-commere yang saat ini menjadi komoditas utama masyarakat. Menurut KOMINFO . menyakatan bahwa Indonesia merupakan negara 10 terbesar pertumbuhan 'e-commerce' dengan pertumbuhan 78 persen dan berada di peringkat ke-1. Apalagi di Indonesia sendiri pengguna teknologi dan internet lebih banyak yang berusia remaja. Remaja merupakan masa dimana seseorang mulai melakukan pencarian identitas serta jati dirinya sendiri. Pada masa ini para remaja memiliki kesempatan yang sebesar- besarnya untuk mengalami hal-hal yang baru serta menemukan sumber baru dari kekuatan, bakat serta kemampuan yang ada didalam dirinya. Sementara itu masa remaja dihadapkan pada tantangan, pembatasan, dan kekangan- kekangan yang datang baik dari dalam dirinya, maupun luar dirinya . Disadari atau tidak, era memperoleh informasi melalui berbagai a. ISSN 2798-6489 (Ceta. Juremi: Jurnal Riset Ekonomi ISSN 2798-6535 (Onlin. Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a sarana teknologi bisa memberikan pengaruh bagi masyarakat untuk berperilaku konsumtif. Menurut Bush (Hylander, 2. remaja merupakan salah satu kelompok yang sangat potensial bagi pemasar sebagai target pemasaran barang atau produk yang mereka jual, sehingga membuat remaja tumbuh dan berkembang dalam budaya konsume-risme yang menjadikan remaja terlibat dalam perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif pada remaja sangat sering dianggap sebagai sesuatu hal yang Jika dipandang lebih jauh, tingkah perilaku konsumtif bagi remaja boleh memberi impas yang lebih serius malah cenderung Bagi remaja yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kebawah, akan susah untuk mendapatkan barang yang di inginkan, bila dilihat lebih jauh hal ini dapat membuat remaja melakukan hal yang negatif untuk memenuhi keinginannya, seperti mencuri, mencopet bahkan menjambret. Menurut Faradila . Hal tersebut dapat terjadi karena pembelian tidak lagi didasarkan pada faktor kebutuhan, tetapi sudah pada taraf keinginan yang berlebihan. Mahendra . menambahkan bahwa perilaku konsumtif ini berkaitan dengan kecenderungan materialistik, kemewahan dan segala hal yang dianggap paling mahal dan memberikan Kepuasaan tersendiri bagi seseorang. Remaja dituntut untuk mengikuti tren, agar tidak dianggap kurang gaul, remaja berusaha untuk memenuhi kesenangan dan keinginan demi gengsi, merasa bangga, percaya diri dan dihargai jika ia telah memiliki sesuatu yang atribut dari idolanya (Faradila, 2. Aspek perilaku konsumtif adanya pembelian yang impulsif, pembelian yang boros, dan pembelian yang tidak rasional. Menurut Monks . 4: . diantara mereka yang memiliki perilaku konsumtif di era modern ini adalah seseorang yang memasuki masa remaja hingga dewasa. Saat ini remaja khususnya mahasiswa mereka ingin diakui eksistensinya di lingkungannya, mereka rela melakukan berbagai cara hanya untuk berusaha menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbedabeda dan tidak bisa disamakan dengan yang lainnya, dan para mahasiswa ingin menunjukkan dirinya bahwa mereka bisa mengikuti mode yang sedang tenar padahal mode tersebut bisa kapan saja berubah. Sehingga para remaja tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya yang dapat menimbulkan bagi mereka mengkonsumsi barang-barang tanpa berpikir panjang untuk Menurut Bunga dan Endang . , kalangan remaja erat hubungannya dengan perilaku konsumtif. Perilaku ini dapat dipahami karena usia mereka tergolong usia peralihan dalam mencari identitas diri, bahwa sikap konsumtif yang tumbuh dikalangan remaja berusia 15-18 tahun dapat diartikan hidup dengan keinginan membeli barangbarang yang kurang atau tidak diperlukan. Fenomena umum perilaku konsumtif yang terjadi dalam kehidupan mahasiswa dimana mereka mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan hanya untuk tersendiri seperti membeli sepatu, tas, pakaian, aksesoris, kuliner/makanan, nonton bioskop, dan lain-lain yang sebenarnya tidak mereka butuhkan dan hanya untuk mencapai kepuasan diri sendiri serta ingin dipuji oleh orang lain. Seorang mahasiswa biasanya dipandang di kalangan masyarakat sebagai sesorang yang terpelajar, bisa menjadikan panutan, memiliki pemikiran yang baik, wawasan yang luas, dan berakhlak mulia. Pandangan inilah yang menjadikan mahasiswa selalu ingin tampil mewah dihadapan orang lain, dengan begitu mahasiswa akan melakukan segala sesuatu yang menurut mereka cocok untuk dirinya agar dipandang baik oleh masyarakat dimana mereka harus memenuhi kebutuhan untuk dapat diterima dan memenuhi trend yang sedang hits. Kecenderungan perilaku belanja mahasiswa salah satunya karena didukung oleh fasilitas yang ada. Saat ini semua jenis a Juremi: Jurnal Riset Ekonomi ISSN 2798-6489 (Ceta. ISSN 2798-6535 (Onlin. Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a. kafe, tempat pertemuan, toko pakaian, pusat dengan judul hubungan konsep diri dan perbelanjaan, toko aksesoris, mini market, dan perlaku konsumtif online shopping produk toko lainnya berkembang pesat. Dengan pakaian pada wanita. Menyatakan bahwa berkembangnya tempat-tempat tersebut secara terdapat hubungan negatif yang signifikan tidak langsung akan mempengaruhi tingkat antara konsep diri dengan perilaku konsumtif. konsumsi mahasiswa. Semakin tinggi konsep diri maka semakin Munculnya rendah perilaku konsumtif pada mahasiswa. disebabkan adanya beberapa faktor yang Penelitian ini juga pernah dilakukan oleh Apriliwana . yang menunjukkan bahwa konsumtif adalah faktor sosial, faktor pribadi, adanya hubungan negatif yang signifikan faktor internal, faktor eksternal dari beberapa antara konsep diri dengan perilaku konsumtif faktor tersebut, salah satu faktor yang terhadap produk kosmetik. Berbeda dengan mempengaruhi adanya perilaku konsumtif di hasil penelitian dari Octaviani dan kalangan remaja khususnya bagi mahasiswa Kartasasmita . yang menghasilkan adalah konsep diri. Menurut Papalia, dkk, bahwa tidak ada hubungan yang signifikan . Konsep diri atau self concept adalah antar konsep diri dan perilaku konsumtif. citra total diri individu sendiri. Konsep Dari latar belakang yang diuraikan di merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan tentang siapa dirinya, menggambarkan penelitian tentang AuHubungan Antara Konsep keseluruhan diri kemampuan dan sifat yang Diri Dan Perilaku Konsumtif Pada Mahasiswa dimiliki serta menentukan bagaimana Universitas Kristen Satya Wacana SalatigaAy. perasaan individu terhadap dirinya dan Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu memandu tindakan itu sendiri. Konsep diri Untuk mengetahui hubungan konsep diri dan yang negatif, cenderung memiliki pandangan yang buruk tentang dirinya. Agar mereka Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. dapat diterima dan menjadi seperti orang lain, hal ini mengarahkan remaja untuk mencoba LANDASAN TEORI mengikuti gaya dan perilaku konsumsi yang Perilaku Konsumtif Kecenderungan perilaku konsumtif Menurut Erich Fromm . alam mungkin memiliki efek buruk di masa depan. Dewinda dan susilarini, 2021:. perilaku Salah satunya adalah shopaholic. Shopaholic konsumtif sebagai keinginan yang akan terus adalah situasi dimana seorang individu tidak meningkat guna mendapatkan kepuasan dalam dapat lagi untuk menahan hasrat atau hal kepemilikan barang dan jasa yang tidak keinginannya untuk terus menerus berbelanja. memperdulikan kegunaan, hanya berdasar Sehingga menghabiskan banyak waktu dan keinginan untuk membeli yang lebih baru, uang untuk keperluan berbelanja walaupun lebih banyak dan lebih bagus dengan tujuan barang yang dibeli tidak selalu dibutuhkan. guna menunjukkan status, prestige, kekayaan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan keistimewaan maupun sesuatu yang oleh Wijayanti dan Astiti . menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara Menurut Lubis . alam setiawan, konsep diri dengan perilaku konsumtif pada 2021:. , menyatakan bahwa perilaku remaja dan begitu sebaliknya. Konsep diri konsumtif adalah suatu perilaku membeli yang berpengaruh sebesar 40% terhadap perilaku tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang konsumtif sedangkan 60% dipengaruhi faktor rasional melainkan karena adanya keinginan Penelitian sebelumnya juga pernah yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak dilakukan oleh Disza Alief Faradila . Dari pengertian diatas dapat a. ISSN 2798-6489 (Ceta. Juremi: Jurnal Riset Ekonomi ISSN 2798-6535 (Onlin. Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a disimpulkan bahwa perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang yang digunakan untuk memenuhi kepuasan semata secara mengkesampingkan kebutuhan diri sendiri. Aspek Perilaku Konsumtif Menurut Lubis . alam Setiawan, 2019: menyebutkan ada tiga aspek dalam perilaku Aspek pemborosan adalah pembelian yang didasarkan pada dorongan dalam diri individu yang muncul tiba-tiba. Aspek pembelian impulsif adalah spontanitas, kekuatan, kompulsi, intensitas, kegairahan dan stimulasi, ketidakpedulian akan akibat. Aspek pembelian tidak rasional adalah pembelian yang dilakukan karena kebutuhan, tetapi karena gengsi agar dapat dikesankan sebagai orang yang modern atau mengikuti mode. Faktor Perilaku Konsumtif Menurut Estetika . alam Mujahidah, 2020: . mengemukakan bahwa faktor yang menyebabkan perilaku konsumtif terbagi atas Faktor internal dan eksternal. Faktor Internal meliputi konsep diri yaitu dalam membeli barang disesuaikan dengan penilaian diri Gaya hidup yaitu dalam membeli barang selalu mengikuti perkembangan Faktor eksternal yang menyebabkan perilaku konsumtif adalah kelompok referensi. Konsep Diri Saad . alam Lero, tagelan, dan irawan, 2020: . Mengatakan bahwa Konsep diri adalah kesadaran atau pengertian tentang diri sendiri, yang mencakup pandangan tentang dunia, kepuasan tentang kehidupan, dapat menghargai atau menyakiti, diri sendiri, mampu mengevaluasi kemampuan sendiri,dan persepsi mengenai diri sendiri. Subyektivitas manusia selalu membedakan cara pandang sesuatu obyek yang di amati. Sejalan dengan ahli diatas menurut Harlok . alam Syahraeni, 2020: . konsep diri diartikan sebagai persepsi, keyakinan, perasaan atau sikap seseorang tentang dirinya sendiri, kualitas penyikapan individu tentang dirinya sendiri dan suatu system pemaknaan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya. Menurut Burns . alam Subaryana, 2. konsep diri dibedakan menjadi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri Konsep diri positif dapat disamakan dengan evaluasi diri yang positif seperti penghargaan diri positif. Konsep diri negatif dapat disamakan dengan evaluasi diri yang negatif seperti membenci diri, perasaan rendah diri dan tiadanya perasaan yang menghargai pribadi dan penerimaan diri. Berdasarkan penjelasan dari para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah pengertian mengenai dirinya sendiri yang mencakup pandangan diri, perasaan, sikap, maupun kemampuan atas diri sendiri. Aspek Konsep Diri Menurut Burns . alam Hartanti, 2018: menjelaskan bahwa aspek Ae aspek konsep diri terdiri atas: Aspek fisik merupakan penilaian individu terkait kondisi fisik yang Aspek sosial merupaka penilaian terhadap peranan sosial yang dimainkan oleh individu serta sejauh mana individu memainkan peran tersebut di lingkungan Aspek moral-etik merupakan prinsip serta nilai yang terkait dengan keyakinan yang dianut dalam kehidupan individu tersebut. Aspek psikis terkait pikiran, perasaan, serta sikap individu terhadap dirinya METODE PENELITIAN Jenis penelitian pada penelitian yang dilakukan adalah menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode desain korelasional dengan menggunakan metode purposive Terdapat dau variabel dalam penelitian ini yaitu konsep diri sebagai variabel X dan perilaku konsumtif sebagai variabel Y. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan sampel sebanyak 115 orang dengan kriteria usia diatas 18 tahun dan mahasiswa aktif di Universitas a Juremi: Jurnal Riset Ekonomi ISSN 2798-6489 (Ceta. ISSN 2798-6535 (Onlin. Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a. Kristen Satya Wacana Salatiga. Metode Jumlah pengumpulan data dengan cara menyebarkan skala melalui google formulir. Skala yang Dapat diketahui bahwa sebanyak 0 digunakan yaitu Skala konsep diri dan skala orang atau 0 persen memiliki konsep diri yang perilaku konsumtif. Metode analisis data yang Sebanyak 64 orang atau 55,7 persen digunakan adalah korelasi product moment memiliki konsep diri yang sedang. Dan dari Pearson yang dapat dihitung dengan sebanyak 51 orang atau 44,3 persen memiliki menggunakan bantuan komputerisasi SPSS konsep diri yang tinggi (Statistical of Package for Social Scienc. Tabel 3. Kategorisasi perilaku konsumtif 0 for windows untuk melihat Interval Kategori Frekuensi % hubungan antara konsep diri (X) dengan perilaku konsumtif (Y) pada mahasiswa Rendah Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Sebelum uji korelasi, terlebih dahulu Sedang dilakukan uji asumsi yaitu uji normalitas, uji Tinggi linearitas dan selanjutnya uji korelasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipan berjumlah 115 yang merupakan mahasiswa aktif UKSW Salatiga. Partisipan yang mengisi skala merupakan mahasiswa aktif UKSW yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh peneliti. Tabel 1. Demografi responden Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan Total Analasis deskriptif Pengujian statistik deskriptif dilakukan bertujuan untuk mengetahui gambaran dari perhitungan data skala konsep diri dan skala perilaku konsumtif. Pengujian yang dilakukan untuk melihat hasil perhitungan rata-rata, minimal, maksimal dan juga standar deviasi dari ketiga skala. Tabel 2. Katergorisasi konsep diri Interval Kategori Frekuensi Rendah Sedang Tinggi Jumlah Dapat diketahui bahwa sebanyak 1 orang atau 0,9 persen memiliki perilaku konsumtif yang rendah. Sebanyak 87 orang atau 75,7 persen memiliki perilaku konsumtif yang sedang. Dan sebanyak 27 orang atau 23,4 persen memiliki perilaku konsumtif yang Analisis data Analisis data untuk menguji hipotesis dengan penggunaan teknik statistik korelasi product moment dari Pearson, dan dianggap kedua variabel saling berkaitan apabila nilai signifikansinya kurang dari 0. <0. Sebelum uji korelasi terlebih dahulu dilakukan uji asumsi, yaitu uji normalitas dan uji Uji normalitas Normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dan data dianggap berdistribusi normal jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 . >0,. Tabel 4. Uji normalitas Konsep Perilaku a. ISSN 2798-6489 (Ceta. Juremi: Jurnal Riset Ekonomi ISSN 2798-6535 (Onlin. Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a Test Statistic 0,059 0,064 Asymp. Sig. 0,200 0,200 Hasil analisis uji normalitas diperoleh sebaran skor konsep diri Kolmogorov-smirnov = 0,059 dan nilai signifikansi =0,200 . <0,. Sebaran skor perilaku konsumtif didapatkan Kolmogorov-smirnov = 0,064 dan nilai signifikansi = 0,200 . >0,. Dari hasil analisis tersebut dapat diasumsikan bahwa skor pada kedua variabel distribusi data normal, karena masing-masing variabel nilai signifikansinya diatas 0,05. Uji linearitas Uji linieritas menggunakan uji Anova dan data variabel X dan Y dinyatakan linear bila deviant from linearity signifikan . > Tabel 5. Uji linearitas antara konsep diri dan perilaku konsumtif Variabel Variabel Konsep Perilaku 0,983 0,514 Berdasarkan hasil uji linearitas antara gegar budaya dan penyesuaian diri diperoleh nilai deviation from linearity nilai F beda = 0,983 dan nilai signifikansi = 0,514 . >0,. yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang linier antara kedua variabel. Uji hipotesis . Uji hipotesis menggunakan teknik statistik korelasi product moment dari Spearman karena kedua variabel tidak normal, menunjukkan hasil uji hipotesis menggunakan teknik statistik korelasi product moment dari Pearson menunjukkan. Tabel 6. Uji korelasi antara konsep diri dan perilaku konsumtif Konse Perilaku p diri Perilaku Correlatio 1. Coefficien Sig. Hasil yang diperoleh dari hasil korelasi antara konsep diri dan perilaku konsumtif, yaitu nilai r = -0,209 dan nilai signifikansi = 0,025 . < 0. yang berarti adanya korelasi negatif signifikan antara konsep diri dan perilaku konsumtif. Pembahasan Pada analisis hipotesis, peneliti menggunakan uji korelasi Pearson product moment dengan perangkat lunak SPSS versi Hasil uji korelasi antara konsep diri dan perilaku konsumtif menunjukkan bahwa koefisien korelasi memiliki nilai sebesar r = 0,209, dan nilai signifikansi . sebesar 0,025 . <0. Hasil hipotesis ini menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif signifikan antara konsep diri dan perilaku konsumtif pada mahasiswa UKSW Salatiga. Artinya, terdapat korelasi antara konsep diri dan perilaku konsumtif pada mahasiswa UKSW. Ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat konsep diri mahsiswa, maka akan semakin rendah tingkat perilaku konsumtif Begitupun sebaliknya, semakin rendah konsep diri mahasiswa, maka akan semakin tinggi perilaku konsumtif yang Hasil ini didukung dengan hasil penelitian Luas, dkk. , . yang menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif yang signifikan antara konsep diri dengan perilaku konsumtif. Hasil analisis deskriptif pada variabel konsep diri yang dialami menunjukan bahwa 115 subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini memiliki konsep diri dengan kategori sedang sebesar 55,7% atau 64 mahasiswa dan kategori tinggi sebesar 44,3% atau 51 mahasiswa. Nilai rata-rata . variabel konsep diri adalah 106, yang juga a Juremi: Jurnal Riset Ekonomi ISSN 2798-6489 (Ceta. ISSN 2798-6535 (Onlin. Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a. menunjukkan bahwa konsep diri mahasiswa mahasiswa memiliki konsep diri yang baik secara keseluruhan berada dalam kategori akan dapat menerima dirinya sendiri. Remaja Berdasarkan hasil ini, dapat yang memiliki konsep diri rendah, cenderung disimpulkan bahwa mahasiswa aktif UKSW mempunyai pandangan yang negatif terhadap Salatiga memiliki konsep diri dalam kategori Sehingga untuk dapat diterima dan Hal ini terlihat dari nilai rata-rata yang menjadi sama dengan orang lain akan berada dalam kategori sedang. memunculkan remaja berusaha mengikuti Sedangkan pada variabel perilaku atribut yang sedang menjadi mode dan konsumtif menunjukan bahwa partisipan yang berperilaku konsumtif (Tambunan, 2. memiliki penyesuaian diri dengan kategori Kecenderungan berperilaku konsumtif pada rendah sebesar 0,9% atau 1 mahasiswa, remaja dapat menimbulkan suatu dampak kategori sedang sebesar 75,7% atau 87 yang buruk dikemudian hari. Semakin mahasiswa, kategori tinggi sebesar 23,4% atau mahasiswa memiliki konsep diri yang baik 27 mahasiswa. Nilai rata-rata . variabel pada dirinya, maka mahasiswa tersebut akan perilaku konsumtif adalah 82, yang bisa mengontrol perilaku konsumtif pada menunjukkan bahwa variabel konsumtif dirinya (Wijayanti & Astiti, 2. secara keseluruhan berada dalam kategori Penelitian yang dilakukan ini memiliki Berdasarkan hasil ini, dapat kekurangan yaitu penelitian mayoritas disimpulkan bahwa mahasiswa aktif UKSW didapatkan di Fakultas Psikologi UKSW Salatiga memiliki perilaku konsumtif dalam Salatiga saja, sehingga belum dapat dipastikan kategori sedang. Hal ini terlihat dari nilai rataapakah rata yang berada dalam kategori sedang. menggambarkan subjek secara merata di Dilihat juga dari hasil uji normalitas. UKSW Salatiga. Saran praktis yang disajikan variabel konsep diri diketahui berdistribusi oleh penulis untuk mahasiswa adalah untuk normal karena nilai signifikansinya berada meminimalisir perilaku konsumtif yang diatas 0,05 sehingga memenuhi asumsi dimiliki dengan memprioritaskan kebutuhan normalitas, begitu juga untuk variabel perilaku yang digunakan dan mengontrol diri dalam konsumtif telah memenuhi asumsi normalitas. membeli, sehingga dapat membeli barang Hal ini dapat dilihat dari hasil konsep diri yang diperlukan saja. Di sisi lain, saran bagi dengan nilai KS-Z=0,200 dan perilaku peneliti selanjutnya dengan topik serupa konsumtif nilai signifikansi = 0,200 . >0,. adalah untuk mengeksplorasi dampak faktorBerdasarkan data di atas, maka dapat faktor lain yang mempengaruhi perilaku diketahui bahwa mahasiswa aktif di UKSW konsumtif mahasiswa dan mempertimbangkan Salatiga memiliki konsep diri pada tingkat jumlah subjek penelitian untuk ditambahkan. Begitu juga perilaku konsumtif pada mahasiswa aktif di UKSW Salatiga memiliki PENUTUP tingkat yang sedang. Terdapat sumbangan Kesimpulan pengaruh konsep diri terhadap perilaku Dari hasil analisis yang telah disajikan, konsumtif dengan nilai R = 0,035, yang dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi artinya bahwa hanya terdapat 3. negatif yang signifikan antara konsep diri dan sumbangan pengaruh konsep diri terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswa aktif perilaku konsumtif mahasiswa, sedangkan UKSW Salatiga. Artinya, semakin tinggi sisanya sebesar 96. 5% dipengaruhi oleh tingkat konsep diri mahasiswa, maka akan faktor-faktor lainnya. semakin rendah tingkat perilaku konsumtif Sebagai mahasiswa harus memiliki yang dimiliki mahasiswa. Sebaliknya, apabila konsep diri yang baik, karena dengan tingkat konsep diri mahasiswa rendah, maka a. ISSN 2798-6489 (Ceta. Juremi: Jurnal Riset Ekonomi ISSN 2798-6535 (Onlin. Vol. 3 No. 6 Mei 2024 a perilaku konsumtif yang dimiliki mahasiswa akan cenderung tinggi. DAFTAR PUSTAKA