Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 PENGGUNAAN MYLAR MATRIX PADA RESTORASI KELAS i KOMPOSIT POST PERAWATAN INDIRECT PULP CAPPING: LAPORAN KASUS USE OF MYLAR MATRIX IN CLASS i COMPOSITE RESTORATION POST INDIRECT PULP CAPPING: CASE REPORT Ayu Rahma Dania1. Denny Nurdin2 Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Padjadjaran. Bandung. Jawa Barat. Indonesia Departemen Konservasi Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Padjadjaran. Bandung,Jawa Barat. Indonesia (Email korespondensi: ayu17011@mail. ABSTRAK Latar Belakang: Keberhasilan restorasi direk komposit pada zona estetik memerlukan pemahaman komprehensif mengenai anatomi gigi, ilmu tentang warna dan material. Aspek paling menantang yaitu mendapatkan kontur yang tepat dan kontak proksimal yang rapat. Mylar matrix umum digunakan pada restorasi kelas i dan IV komposit yang dapat membantu mencapai kontur anatomi estetik yang ideal. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan penggunaan Mylar matrix pada restorasi kelas i komposit post perawatan indirect pulp capping. Laporan Kasus: Pasien perempuan usia 48 tahun datang dengan keluhan gigi berlubang pada kiri depan rahang atas dan terasa ngilu saat minum dingin, namun keluhan hilang saat stimulus Pasien didiagnosis mengalami reversible pulpitis gigi 23, lalu dirawat dalam 3 kali kunjungan dengan restorasi kelas i komposit disertai aplikasi bahan pulp capping. Pada tahapan restorasi. Mylar matrix digunakan untuk membantu membentuk kembali kontur gigi tersebut. Pembahasan: Mylar matrix digunakan pada restorasi komposit untuk membentuk dinding sementara saat permukaan proksimal gigi telah hilang. Matriks ini dapat membantu penempatan dan pembentukan bahan restorasi. Mylar matrix menawarkan keunggulan dalam kemudahan penggunaannya, tersedia secara luas, murah, membantu penyelesaian restorasi dalam waktu yang cepat, dan hasil yang baik. Kesimpulan: Perawatan kasus pulpitis reversible dengan lesi karies dalam dengan indirect pulp capping dilanjutkan restorasi kelas i komposit dengan penggunaan Mylar matrix pada prosedurnya terbukti berhasil. Vitalitas pulpa terjaga tanpa keluhan subjektif dan pasien puas dengan hasil restorasi secara keseluruhan. Kata kunci : Mylar matrix, restorasi kelas i komposit, indirect pulp capping ABSTRACT Background: The success of direct composite restorations in the esthetic zone requires a comprehensive understanding of tooth anatomy, color and material. The most challenging aspect is getting the contour right and the proximal contact tight. Mylar matrix is commonly used in class i and IV composite restorations that helps to achieve ideal aesthetic anatomical contours. This case report aims to explain the use of Mylar matrix in Class i composite restorations post indirect pulp capping treatment. Case Report: A 48 year old female patient came with complaints of cavities in the left front of the upper jaw and felt sore when drinking cold drinks, but the complaints disappeared when the stimulus was Patient was diagnosed with reversible pulpitis of tooth 23, and was treated in 3 visits with a class i composite restoration accompanied by the application of pulp capping material. At the restoration stage. Mylar matrix is used to reshape the contour of the tooth. Discussion: Mylar matrix is used in composite restorations to form a temporary wall when the proximal surface of the tooth has been lost. This matrix can assist in the placement and shaping of restorative Mylar matrix offers advantages in ease of use, widely available, cheap, helps complete restorations in a fast time, and good results. Conclusion: Treatment of cases of reversible pulpitis with deep carious lesions with indirect pulp capping followed by class i composite restorations using Mylar matrix in the procedure has proven successful. Pulp vitality was maintained without subjective complaints and the patient was satisfied with the overall results of the restoration. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Key words: Mylar matrix, class i composite restoration, indirect pulp capping merangsang terjadinya pembentukan dentin PENDAHULUAN 4,5 Pulp capping menjadi opsi Karies gigi adalah penyakit gigi dan mulut multifaktorial, hasil interaksi dari flora perawatan yang dapat mencegah mulut kariogenik . dengan karbohidrat perlunya opsi perawatan lain yang lebih mahal makanan yang dapat difermentasi pada dan invasif seperti perawatan saluran akar. permukaan gigi . yang terjadi seiring Kalsium (Ca(OH). berjalannya waktu. 1 Hasil Riskesdas 2018 digunakan secara luas untuk perawatan lesi menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi di karies dalam dan menjadi material Aogold Indonesia mencapai 88,80%. Meski pada standardAo untuk perawatan pulp capping Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan tingkat keberhasilan pada studi RCT prevalensi karies di Indonesia turun, namun 5Ae7 angka rata-rata nasionalnya masih cukup Setelah perawatan pulp capping tinggi yaitu 43,6%, dengan angka Provinsi dengan menempatkan bahan bioaktif sebagai Jawa Barat sebesar 48,0%. Penderita karies liner pada bagian kavitas terdalam untuk tertinggi ditemukan pada kelompok usia 5-9 merangsang pembentukan dentin tersier, tahun . 9%) dan 45-54 tahun . 1%). Dari total proporsi 56. 9% masyarakat Indonesia Istilah restorasi berarti penggantian yang mengalami masalah gigi dan mulut, struktur dan fungsi gigi yang rusak dengan hanya 11,2% yang berobat ke tenaga bahan restorasi. Resin komposit menjadi kesehatan, dengan proporsi angka tindakan pilihan bahan restorasi yang menawarkan perawatan penambalan gigi sebesar 24,6% 2,3 kombinasi unik antara estetika, daya rekat. Aktivitas karies gigi . esi karie. ketersediaan, dan konservasi struktur gigi. ditandai dengan demineralisasi lokal dan Keberhasilan restorasi direk komposit, hilangnya struktur gigi, dengan istilah lain khususnya pada zona estetik, perlu sebuah proses ketidakseimbangan dinamis pemahaman komprehensif mengenai anatomi antara kerusakan . dan restitusi gigi serta ilmu tentang warna dan material. pada gigi. 1 Lesi karies yang Salah satu aspek yang paling menantang tidak dirawat dengan tepat akan terus adalah mendapatkan kontur yang tepat dan kontak proksimal yang rapat. Kedua hal . ulpitis tersebut perlu dicapai untuk menjaga reversibel/irreversibe. , kesehatan periodontal, mencegah retensi menjadi nekrosis pulpa, lesi periapikal, penyebaran infeksi, keterlibatan sistemik, dan penyelarasan, dan stabilisasi, self cleansing, kehilangan gigi. Oleh karena itu, perawatan ketahanan restorasi, dan menjaga hubungan dini sangat penting untuk menjaga vitalitas mesiodistal gigi yang normal. 9,10 Matriks adalah suatu alat yang diaplikasikan pada gigi Secara umum, terapi pulpa vital yang telah dipreparasi sebelum penempatan terbagi 2, yaitu pulp capping dan pulpotomi. bahan restorasi, dengan tujuan untuk Indikasi 2 prosedur tersebut berbeda dalam hal membatasi kelebihan bahan restorasi dan tingkat invasifnya dan sangat bergantung pada membantu membentuk kembali kontur gigi. asesmen dokter mengenai tingkat kontaminasi Matriks biasanya diaplikasikan dan distabilkan dan peradangan pulpa. Pulp capping terbagi 2, dengan bantuan wedge, namun harus hati-hati yaitu indirect pulp capping (IPC) dan direct untuk menghindari terjadinya penumpukan pulp capping (DPC). IPC merupakan prosedur bahan restorasi di sekitar matriks. 1 Berbagai penempatan bahan bioaktif pada kavitas matriks yang dapat membantu praktisi dalam preparasi dengan ketebalan sisa dentin restorasi gigi anterior terbagi menjadi 3, yaitu minimal 0,5 mm dari pulpa yang dapat . sistem matriks transparan . ylar strip, merangsang pembentukan dentin reaksioner. bioclear matrix, transparent/strip crown. DPC merupakan prosedur penempatan bahan contoured anterior matri. sistem matriks bioaktif pada pulpa yang terbuka . non-transparan . nica anterior, fusion karena paparan mekanis oleh trauma atau anterior, burton band anterior matri. selama preparasi kavitas dan dilakukan untuk sistem matriks rigid . utty inde. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Mylar matrix/matriks seluloid/matriks bening transparan umum digunakan pada restorasi kelas i dan IV komposit. 1,11 Penggunaan mylar strip menjadi populer bermula dari sejarah restorasi resin, di mana bulk material harus segera ditempatkan karena waktu pengerjaan yang singkat pada chemically cured resin material. Di sisi lain, restorasi dengan material light cured composite, operator dapat memperpanjang waktu kerja yang memungkinkan untuk dilakukan teknik aplikasi secara inkremental. Jika gigi yang berdekatan memiliki daerah kontak yang datar. Mylar matrix dapat diaplikasikan dengan teknik pull-through. Saat digunakan dalam pembentukan permukaan labial. Mylar matrix membantu mencapai kontur anatomi estetik yang ideal dan penyelesaian permukaan labial yang baik. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa permukaan paling halus dari restorasi resin komposit dapat dicapai ketika dipolimerisasi dengan penggunaan Mylar matrix, meskipun di sisi lain prosedur finishing dan polishing tetap menjadi suatu keharusan untuk mendapatkan kontur restorasi yang tepat. 8,12 Laporan kasus ini memaparkan mengenai penggunaan mylar matrix pada restorasi kelas i komposit pada gigi 23 post perawatan indirect pulp capping menggunakan Ca(OH)2. LAPORAN KASUS Seorang pasien perempuan usia 48 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran (RSGM Unpa. dengan keluhan gigi berlubang pada rahang atas kiri bagian depan sejak 3 tahun lalu. Pasien menyatakan bahwa gigi tersebut terasa ngilu terutama saat minum dingin, namun Tidak ada riwayat nyeri spontan. Pasien terakhir ke dokter gigi untuk PSA gigi rahang bawah. Tidak ada riwayat penyakit sistemik, keluarga dan alergi. Pasien ingin giginya dirawat. Setelah pemeriksaan klinis kepada pasien berupa pemeriksaan kondisi umum, pemeriksaan ekstraoral dan pemeriksaan intra oral. Kondisi umum dalam keadaan baik. Pemeriksaan ekstraoral tidak ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan intraoral ditemukan karies media pada distoproksimal dan servikolabial gigi 23 (Gambar . Dari tes sensibilitas pulpa . es dingi. didapatkan hasil positif ( ) dimana pasien merasa ngilu saat diaplikasikan chlorethyl dan rasa ngilu tersebut langsung hilang setelah stimulus dihilangkan. Hal ini mengindikasikan bahwa pulpa masih vital. Pemeriksaan perkusi, tekan, dan mobility didapatkan hasil negatif (-). Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan objektif yang dilakukan, ditegakkan diagnosis bahwa pasien mengalami pulpitis reversible pada gigi 23. Rencana perawatan yang akan dilakukan pada pasien yaitu restorasi kelas i komposit disertai dengan aplikasi material indirect pulp capping . alsium hidroksid. pada gigi 23. Gambar 1. Foto klinis pre-operatif Pada kunjungan pertama . Agustus 2. , operator melakukan persiapan yaitu mengenakan APD level 2, melakukan desinfeksi daerah kerja, serta menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk perawatan. Persiapan pasien: duduk di kursi gigi, menggunakan polybib dan headcap, serta berkumur dengan povidine iodine 0,1%,. Selanjutnya operator melakukan tindakan preoperatif berupa pembersihan area sekitar gigi, pemilihan shade komposit . engan teknik button-try, didapatkan hasil shade A2 untuk bagian Ie tengah dan Ie incisal & A3 untuk bagian Ie sevikal dan body (Gambar . Gambar 2. Pemilihan shade komposit dengan teknik button-try Setelah mengisolasi gigi pasien dengan cotton roll, prosedur pertama yang dilakukan operator adalah caries removal pada gigi 23 dengan round diamond & round carbide bur, dan ekskavator. Enamel yang Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 tidak didukung dentin dihilangkan. Ekskavasi dilakukan hingga tersisa affected dentin pada dasar kavitas. Dinding kavitas dirapikan dengan fissure diamond bur. Kemudian kavitas dibersihkan menggunakan cotton pellet yang telah dibasahi dengan klorheksidin 2%. Karena tersisa selapis tipis dentin (Gambar 3. , dilakukan aplikasi bahan pulp capping CaOH2 (HydcalTM, terdiri dari pasta base & katali. yang telak diaduk ke dasar kavitas terdalam menggunakan stopper semen (Gambar 3. Lalu aplikasi base dan tambalan sementara GIC (Gambar 3c dan 3. Pasien untuk kontrol setelah 6-8 Gambar 3. Keadaan kavitas setelah caries . Aplikasi bahan indirect pulp capping . alsium hidroksid. & . Aplikasi tambalan sementara Pada kunjungan kedua . Oktober 2. , pasien datang kembali ke RSGM Unpad untuk kontrol dan melanjutkan perawatan pada gigi depan kiri atas. Pasien menyatakan bahwa sudah tidak ada keluhan rasa ngilu. Keadaan umum pasien baik. Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan. Pemeriksaan intraoral pada gigi 23 dengan tes dingin didapatkan hasil positif ( ). Tes perkusi, tekan, dan mobility negatif (-). Perawatan pada kunjungan kedua dimulai dengan isolasi gigi 23 menggunakan cotton roll. Lalu dilakukan pembongkaran tambalan sementara dengan round diamond bur dan kalsium hidroksida dengan Selanjutnya dilakukan preparasi sesuai prinsip dasar preparasi kelas i komposit. Retention form didapatkan dari pembuatan bevel pada margin preparasi. Setelah itu, kavitas dibersihkan menggunakan cotton pellet yang telah dibasahi (Gambar 4a-. Gambar 4. Hasil preparasi kelas i komposit . arah labial. arah palatal Sebelum prosedur restorasi dimulai, dilakukan isolasi daerah kerja dengan cotton roll, pemasangan retraction cord secara sirkumferensial pada subgingival gigi 23 (Gambar 5. Lalu diaplikasikan etsa . hosphoric acid 37%) pada permukaan enamel selama 30 detik dan dentin selama 15 detik (Gambar 5. , bilas dengan water syringe dan kavitas dikeringkan dengan air syringe hingga terlihat moist . rosty appearanc. Kemudian, aplikasi selapis tipis bonding agent dengan bantuan microbrush (Gambar 5. , lalu diratakan dengan air syringe dan curing dalam waktu 20 detik Selanjutnya, pemasangan mylar matrix pada daerah interproksimal dan palatal gigi 23 dan pembuatan dinding palatal (Gambar 5. dengan aplikasi komposit shade A2 lalu curing selama 20 detik. Selanjutnya dilakukan aplikasi komposit secara layering dengan shade A3 . ntuk body dan Ie servika. dan A2 . ntuk Ie tengah dan insisa. Setiap aplikasi komposit layering dilakukan curing selama 20 detik (Gambar 5. Setelah kavitas selesai direstorasi, dilakukan finishing, penghalusan, dan pembentukan anatomi menggunakan superfine bur. Pemerikssan oklusi dilakukan dengan bantuan articulating Bagian proksimal dihaluskan dengan finishing strip dan diperiksa dengan dental Setelah semua permukaan restorasi rata, halus, dan tidak ada bagian yang mengganjal (Gambar 5f & . , pasien diinstruksikan untuk tidak makan terlebih dahulu selama 1 jam post restorasi, tetap menjaga oral hygiene, dan kontrol 1 minggu kemudian. Pada kunjungan ketiga . Oktober 2. Pasien datang kembali untuk kontrol setelah 1 minggu penambalan. Pasien menyatakan tidak adanya keluhan pada gigi yang sudah dirawat. Keadaan umum pasien Pemeriksaan ekstraoral tidak ada Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Pemeriksaan intraoral dengan tes dingin hasilnya positif ( ). Tes perkusi, tekan, mobility negatif (-). Pada kunjungan ketiga, dilakukan finishing dan polishing restorasi kelas i komposit. Prosedur dilakukan dengan bantuan superfine finishing bur, enhance dan eve diacomp twist bur . arna pink dan ab. Bagian proksimal dibantu dengan polishing strip. Terakhir, aplikasi polishing paste dengan brush. Cek kembali oklusi Gambar 5. Pemasangan retraction cord. Aplikasi etsa. Aplikasi bonding agent. Light curing. Pemasangan mylar matrix & pembuatan palatal wall. Hasil restorasi dari arah labial dan palatal PEMBAHASAN Seorang pasien perempuan usia 48 tahun datang dengan keluhan gigi berlubang pada rahang atas kiri depan sejak 3 tahun lalu, terasa ngilu saat minum dingin, namun keluhan ngilu hilang saat stimulus dihilangkan. Riwayat nyeri spontan disangkal. Tes sensibilitas pulpa dengan tes dingin ( ). perkusi, tekan, mobility (-). Pasien didiagnosis mengalami pulpitis reversibel pada gigi 23. Secara klinis, pasien dengan pulpitis reversibel biasanya tidak menunjukkan gejala, namun dapat mengalami hiperalgesia ringan pada dengan kertas artikulasi. Prosedur selesai saat semua permukaan halus, kilap, dan oklusi tidak mengganjal. Pasien menyatakan puas dengan hasil perawatan yang telah dilakukan. Gambar 6. Prosedur polishing dengan bur c . Hasil akhir restorasi post polishing arah bukal dan palatal pulpa, yaitu suatu keadaan terjadi peningkatan nyeri tajam . engan perubahan suhu, contohnya dingi. yang durasinya singkat. Menjaga vitalitas pulpa menjadi tujuan utama Dokter mengandalkan keahlian dan penilaian subyektif ketika menentukan terapi pulpa vital mana yang paling sesuai untuk setiap kasus. Penilaian subjektif dilakukan langsung dan bergantung pada pemeriksaan klinis dan diagnosis yang akurat berdasarkan tanda dan gejala penyakit serta inspeksi langsung terhadap sisa dentin dan/atau Pasien dalam kasus ini dirawat dengan indirect pulp capping (IPC) dengan aplikasi medikamen CaOH2 AoHydcalAo disertai follow-up restorasi kelas i komposit pada gigi 23. Perawatan IPC CaOH2 dipertimbangkan setelah dilakukan caries Temuan klinis menunjukkan tersisa hanya selapis dentin dan ada risiko perforasi Perawatan pada kasus ini sesuai dengan literatur, dimana IPC merupakan prosedur yang dilakukan pada gigi dengan lesi karies dalam . ada lapisan dentin yang tipis di dekat pulp. , namun tanpa gejala degenerasi pulpa. IPC diindikasikan pada gigi permanen yang didiagnosis dengan pulpa normal tanpa tanda/gejala pulpitis atau dengan diagnosis pulpitis reversibel. 13 Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menutupi dentin bagian dalam, membatasi cairan tubulus Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 termal/fisik yang protektif. 1 Pada lesi karies aktif, penting untuk membedakan infected dan affected dentine. Prosedur IPC/DPC dapat dilakukan setelah ekskavasi karies yang memadai, dan memungkinkan terjadinya pembentukan jembatan mineralisasi baru. 4 IPC disebut indirect capping karena bahan bioaktif tersebut tidak bersentuhan langsung dengan jaringan pulpa. Namun komponen bioaktif dan pH tinggi dapat menetralkan bakteri dan antigennya serta secara langsung menstimulasi odontoblas untuk menghasilkan dentin tersier reaksioner di lokasi cedera. Kalsium hidroksida memiliki sifat biokompatibilitas, antibakteri, dan alkalinitas yang sangat baik, relatif mudah digunakan dan secara historis terbukti memiliki tingkat keberhasilan yang baik terkait penggunaan klinis pada prosedur pulp capping. Ca(OH)2 dapat merangsang pembentukan dentin tersier, yang bertindak sebagai barier pelindung terhadap invasi bakteri dan iritasi pulpa . ada IPC), dan mendorong pembentukan jembatan kalsifikasi di atas pulpa yang terbuka, yang membantu melindungi pulpa dari kerusakan lebih lanjut dan mempercepat penyembuhan . ada DPC). Setelah 9 minggu kemudian, pasien datang kembali untuk kontrol. Tidak ada keluhan subjektif . asa ngilu/nyer. dari pasien, dan hasil pemeriksaan objektif tes vitalitas ( ), perkusi, tekan, mobility (-). Hal ini mengindikasikan bahwa perawatan IPC yang dilakukan berhasil. Studi Jalan . menunjukkan bahwa pada pemeriksaan histologis terlihat jembatan dentin terbentuk lebih banyak, lebih tebal, dan terus menerus pasca 4 minggu perawatan pulp capping menggunakan kalsium hidroksida, dan Yoshiba dkk. menyatakan hal serupa yaitu dalam periode 45 hari. Perawatan pada kunjungan kedua dimulai dengan pembongkaran tambalan sementara dan kalsium hidroksida, dilanjutkan dengan restorasi kelas i komposit gigi 23. Keberhasilan restorasi direk komposit, khususnya pada zona estetik, memerlukan pemahaman komprehensif mengenai anatomi gigi disertai ilmu tentang warna dan material. Untuk mendapatkan shade komposit yang tepat dapat dilakukan dengan button technique, yaitu sejumlah kecil komposit dengan beberapa warna yang dipilih ditempatkan langsung pada permukaan gigi dekat dengan area yang akan direstorasi, tanpa bonding agent, kemudian lakukan light-curing. Jika warna sudah benar, explorer digunakan untuk membuang hasil komposit uji coba tersebut dari permukaan gigi. Mylar matrix/matriks seluloid/matriks bening transparan digunakan pada sebagian besar restorasi kelas i dan IV komposit. 1,11 Ketika restorasi melibatkan permukaan interproksimal, tidak mungkin mencapai restorasi dengan adaptasi yang baik tanpa Mylar matrix. Matriks digunakan untuk membentuk dinding sementara dimana permukaan proksimalnya telah hilang. 11 Bila digunakan dengan benar, matriks tidak hanya akan membantu penempatan dan pembentukan bahan restorasi komposit, namun juga dapat mengurangi jumlah bahan berlebih, sehingga meminimalkan waktu penyelesaian. Matriks disertai wedge menjadi prasyarat untuk restorasi yang melibatkan seluruh area kontak proksimal, kecuali jika gigi yang berdekatan hilang, maka restorasi dapat diselesaikan dengan aplikasi komposit secara direk. 1 Karena permukaan proksimal gigi biasanya cembung pada bagian incisogingiva dan bahan matriksnya datar, maka matriks perlu dibentuk agar sesuai dengan kontur gigi yang diinginkan. Besarnya konveksitas pada matriks bergantung pada ukuran dan kontur restorasi. Beberapa tarikan matriks, dengan tekanan besar pada ujung tang berujung bulat bisa digunakan untuk mendapatkan kecembungan yang adekuat. Matriks berkontur diposisikan di di daerah interproksimal sehingga area cembung sesuai dengan kontur gigi yang diinginkan. Matriks diperluas setidaknya 1 mm melampaui margin gingiva dan tepi insisal yang telah dipreparasi. Terkadang, matriks tidak dapat masuk atau terdistorsi oleh kontak yang rapat. Wedge diposisikan pada gingiva sebelum matriks Perawatan harus dilakukan agar tidak melukai jaringan interproksimal dan menyebabkan perdarahan. Wedge diperlukan pada margin gingiva untuk . menahan Mylar matrix pada posisinya, . memberikan sedikit separasi pada gigi, dan . mencegah gingiva overhang pada material komposit. Dalam kasus ini, aplikasi Mylar matrix tidak disertai pemasangan wedge karena defek pada gigi berada di sisi distoproksimal dan sudah tidak memiliki gigi tetangga pada daerah distal, jadi pemasangan matriks sudah Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 diaplikasikan wedge. Selama prosedur pembentukan dinding palatal, bagian lingual matriks dapat dibantu distabilkan oleh jari Penggunaan Mylar matrix/seluloid adalah teknik matriks yang paling populer untuk defek insisoproksimal. Pada restorasi dengan material komposit light curing, operator dapat memperpanjang waktu kerja yang memungkinkan untuk dilakukan teknik aplikasi secara inkremental. Matriks seluloid menawarkan keunggulan seperti sederhana dan mudah dalam penggunaan, tersedia luas, murah, tidak memerlukan peralatan khusus, dan cepat. Pada studi in vitro Pietroskovski et al. yang membandingkan efektivitas dua sistem finishing & polishing pada restorasi komposit terhadap 2 parameter: kekasaran permukaan dan perlekatan bakteri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permukaan poles tertinggi pada restorasi resin komposit light-curing. diperoleh dari penggunaan Mylar . elompok Kelompok kontrol juga menunjukkan biomassa bakteri yang lebih sedikit dibandingkan dengan dua kelompok uji . iamod bur & polishing dis. Hasil ini didapatkan karena Mylar matrix merupakan material yang sangat halus, dan penggunaannya pada komposit light-curing karakteristik tekstur Mylar tersebut. Namun, meski matriks Mylar yang konturnya relatif halus digunakan pada restorasi kelas i gigi anterior, tetap diperlukan finishing dan polishing menggunakan bahan abrasif. 12 Hasil ini juga sejalan dengan studi lain dari Bansal et . yang menyatakan restorasi yang dibuat dengan matriks Mylar memiliki nilai kekasaran permukaan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan restorasi yang tidak dipoles dan dipoles. Penggunaan matriks Mylar pada restorasi resin komposit dapat mencegah terbentuknya oxygen-inhibited layer pada permukaan komposit selama polimerisasi sehingga menghasilkan permukaan yang halus, tidak lengket, dan memberikan tampilan klinis akhir yang lebih halus. Selain itu, pada kasus ini gingival retraction cord juga dipasang dengan tujuan untuk membantu akses, visibilitas, mencegah abrasi jaringan gingiva selama preparasi gigi, memasuki sulkus gingiva, dan memberikan akses yang lebih baik untuk membentuk dan menyelesaikan restorasi. Seminggu setelah restorasi kelas i komposit dilakukan, pasien datang untuk kontrol dan dilakukan evaluasi kembali. Tidak ditemukan adanya keluhan subjektif dan pemeriksaan objektif menunjukkan hasil yang Selanjutnya dilakukan pemolesan restorasi hingga semua permukaan halus, kilap, dan rata tanpa ada bagian yang terasa mengganjal saat digunakan untuk oklusi. Pasien menyatakan puas dengan hasil perawatan yang dilakukan. KESIMPULAN Pada defek proksimal, pembentukan kontur menjadi tantangan besar bagi dokter Mylar matrix menjadi matriks pilihan yang umum digunakan pada restorasi kelas i komposit untuk membantu membentuk kembali kontur gigi anterior. Matriks ini menawarkan keunggulan dalam kemudahan Perawatan kasus pulpitis reversible dengan lesi karies dalam dengan indirect pulp capping menggunakan kalsium hidroksida dilanjutkan follow up restorasi kelas i komposit dengan penggunaan mylar matrix pada gigi 23 pada prosedurnya terbukti berhasil dan efektif. Hasil perawatan menunjukkan bahwa vitalitas pulpa terjaga tanpa adanya keluhan subjektif dan pasien menyatakan puas dengan hasil restorasi secara DAFTAR PUSTAKA