Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. No. Tahun 2025 e-ISSN : 3031-8343. dan p-ISSN : 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran Suaidi Suaidi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Email: suaidi@untirta. Abstract: Misunderstanding of religion will have an impact on the practice and acts of violence in the name of religion, such as intolerant, radical and even terrorist acts. These actions are often used as a shield for orders and in the name of religion, as if religion legitimizes violence and hostility. In truth, religion brings a message of peace, tolerance and mutual respect for differences. This study aims to provide a contribution, that every religion teaches to socialize and live peacefully and harmoniously, even though living in the midst of a society with different beliefs. In fact, religious adherents are able to create peace and avoid conflict, because the core teachings of every religion are to build harmony between humans even though they have different beliefs. Religious moderation is one of the major efforts to re-actualize religious adherents that conflict between fellow human beings is prohibited by religion. Keywords. Harmonization. Religious,Adherents Abstrak : Kekeliruan dalam pemahaman agama akan berdampak kepada pengamalan dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama, seperti tindakan intoleran, radikal bahkan teroris. Tindakan tersebut sering dijadikan tameng atas perintah dan atas nama agama, seolah agama melegitimasi kekerasan dan permusuhan. Sejatinya agama membawa pesan kedamaian, toleran saling menghargai perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan konstribusi, bahwa setiap agama mengajarkan untuk pergaul dan hidup secara damai dan harmonis, walaupun hidup di tengah-tengah masyarakat yang berbeda keyakinan. Sejatinya pemeluk agama mampu menciptakan kedamaian dan menghindari konflik, sebab inti ajaran setiap agama adalah untuk membangun harmonisasi anatara manusia sekalipun berbeda keyakinan. Moderasi beragama salah satu upaya besar untuk mengaktualisasikan kembali para pemeluk agama bahwa konflik antar sesame itu dilarang oleh agama. Kata Kunci. Harmonisasi. Pemeluk. Agama LATAR BELAKANG Prilaku jahat itu terjadi diawali dari intrekasi, persahabatan, persaudaraan dan segala bentuk interaksi. Ketika interaksi bertemakan AukepentinganAy dapat dipastikan akan berujung pada persaingan untuk memperoleh kepentingan dimaksud. Sejarah membuktikan bahwa terusirnya Adam dan Hawa dari surga, karena melangar perintah Allah. SWT, yaitu ketika Allah memberikan kebebasan kepada Adam dan Hawa untuk menikmati pasilitas surga dengan catatan bahwa Adam dan Hawa dilarang mendekati pohon khuldi apalagi memakan buahnya. Konsekwensinya apabila larangan itu dilanggar menyebabkan Adam dan Hawa akan terusir dari Surga, karena Adam dan Hawa dianggap melakukan perbuatan kejahatan. Kemudian Setan datang merayu dan membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi dengan berbagai rayuan sehingga Adam-pun menuruti rayuan Syetan, akhirnya Adam dan Hawa terusir dari Syurga. Setelah Adam sadar bahwa terusirnya dari Syurga dikarenakan melakukan pelanggaran berat, maka iapun menyesali perbuatannya, dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa selama seratus tahun terpisah dengan Hawa perempuan yang diperuntukkan Allah Received: November 30, 2024. Revised: Desember 30, 2024. Accepted: Januari 30, 2025. Online Available: Februari 05, 2025. Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran untuk menemaninya di Syurga, harus berpisah selama seratus tahun dengan penyesalan yang Dalam catatan sejarah lainnya bahwa selama seratus tahun tersebut Adam sujud karena meratapi kesalahannya, pada akhirnya dipertemukan Adam dan Hawa disebuah bukit di Arofah yang disebut dengan Jabal Rahmah . unung kasih sayan. Bukit tempat pertemuan Adam dan Hawa dibanbgun sebuah menumen dengan bangunan tugu, bila kaum muslimin melaksanakan ibadah haji, momen untuk mengunjungi jejak Adam (Jabal Rahma. dijadikan tradisi bahkan terkadang disertai dengan ritus berlebihan. Mengunjungi Jabal Rahmah tidak termasuk rangkaian manasik haji, akan tetapi banyak yang beranggapan bahwa jika tidak menginjakkan kaki ke Jabal Rahmah dianggap tidak lengkap perjalanan hajinya. Arofah adalah area yang dijadikan puncak rukun pelaksanaan ibdah haji, bila jamaah haji pada tanggal 9 Zulhijah tidak berada di Arofah untuk mengikuti prosesi wukuf, hajinya tidak sah dan harus mengulang ditahun berikutnya. Arofah dijadikan tempat untuk muhasabah . engenal dir. sendiri, dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa setiap jamaah yang berdoa pasti dikabulkan, setiap jamaah yang minta ampun dari dosa-dosa yang pernah dia lakukan pasti diampuni. Oleh karenanya. Arofah dijadikan indikator untuk mengukur mabrur dan tidaknya haji seorang hamba. Arofah juga dijadikan sebagai tempat renungan setiap jamaah, dan puncak penghambaan kepada Tuhannya, maka sangat rasional jika jamaah haji menjadikan Arofah sebagai tempat untuk menyesali segala dosa, sehingga tidak satu jamaahpun yang tidak melinangkan ari mata. Air mata kebahagian dan keharuan menjadi satu inilah yang yang dinamakan akselerasi menyatunya jiwa dengan kenyataan hidup, bahwa kehidupan adalah ciptaan Tuhan yang akan dikembalikan kepada Tuhan, manusia tidak memiliki kekuasaan apapun dan setinggi apapun status sosial manausia, ternyata dihadapan Tuhannya tidak memiliki nilai apapun, kecuali hanyalah ketakwaannya. Fachruroji . bahwa sejatinya Arofah dijadikan tempat untuk menyadarkan diri melakkukan renungan, bahkan jejak-jejak renungan Arofah hendaknya membekas sampai kembali ke tanah air masing-masing jamaah haji, karena sesungguhnya renungan itu bisa dilakukan saat orang terlelap tidur, dia bangun untuk melakukan sholat tahajud, sambil merenungkan makna kehidupannya. Dengan demikian, bahwa prediket haji mabrur sejatinya melekat pada pribadi dan sebagai landasan bertindak, tidak hanya saat di Makkah saja melainkan sepulangnya dari tanah suci Makkah hendaknya melekat kebiasaan-kebiasaan penghambaan dirinya saat melaksanakan ibadah haji. Perlaksanaan ibadah haji bila dipahami secara sempurna syimbol-syimbol manasik yang dilaluinya, maka akan menyatu pada pribadi dan sekaligus dijadikan landasan untuk berprilaku. Akslerasi syimbol-syimbol manasik haji idealnya menyatu pada pribadi yang melaksanakan ibadah haji, seperti memakai dua lembar kain ihrom bagi laki-laki. Saat ber142 JBPAI - VOLUME. NO. TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. ihrom bagi laki-laki dilarang menggunakan pakaian yang terjahit, dilarang menutup kepala dan memakai wangi-wangian ini menandakan bahwa saatnya nanti setiap manusia akan menghadap Allah melalui kematian, hanya menggunakanm dua lembar kain kapan yang tidak terjahit, apapun status sosialnya seorang jika sudah mati tidak bernilai apapun dihadapan Allah, kecuali amal baiknya. Dan, saat ibadah haji manusia diajarkan dan diingatkan melalui kain ihrom, bahwa kedudukan manusia tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. SWT kecuali ketakwaan dan amal sholehnya. Demikian pula saat melontar jumroh, bahwa manusia tidak luput dari Kesombongan itu adalah prilaku syetan. Maka, kesombongan yang melekat pada diri manusia harus keluarkan dengan cara mengusirnya yang disyimbolkan dengan melontar jumroh. Thowaf mengelilingi kaAobah ini menyimbolkan bahwa arah manusia walaupun berbeda latar belakang, budaya suku dan ras, selama dia meyakini Islam sebagai agamanya, maka harus bersatu untuk menuju Allah, karena tujuan akhir dari kehidupan manusia hanya menghadap Allah. SWT, untuk mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatannya. Demikian SaAoi, merupakan syimbol betapa perjuangan Siti Hajar untuk mempertahankan hidupnya dia harus berjuang sendiri ditemani sang bayi anak satu-satunya yang baru saja dilahirkan, sementara suaminya yaitu Ibrohim meninggalkannya di lembah yang tandus tanpa perbekalan apapun. Saat sampai pada puncaknya yaitu Ismail kehausan karena air susu Siti Hajar mengering akibat tidak ada suplay makanan dan minuman, akhirnya Siti Hajar berjuang berputar-putar mencari sumber air yang di awali dari bukit syofa berjalan menuju bukit marwah sampai tujuh kali putaran, akhirnya sang bayi Ismail dengan kekuasaan Allah menghetakkan kakinya maka keluarlah air yang memancar, karena airnya berserakan akhirnya datanglah Malaikat Jibril sambil berucap zam-zam. Itulah riwayat munculnya air zam-zam yang sampai saat ini tidak pernah mengering walaupun diminum jutaan manusia setiap harinya. Hikmah yang mesti diambil dari pelaksanaan saAoi bahwa setiap muslim harus berjuang, bekerja keras dan ikhtiar, kerja keras yang dilakukan oleh seorang muslim harus diawali dari hati yang bersih, ikhlas dan tanpa harus merusak, dan tidak melemahkan orang lain apalagi pembunuhan karakter. Bagi seorang muslim perjuangan adalah kewajiban untuk mempertahankan eksistensi diri, akan tetapi perjuangan tidak menghalalkan segala cara yang terpenting terpenuhinya kebutuhan dan ambisi pribadi. Menyangkut soal perjuangnan dalam ajaran Islam, dilarang dan haram hukumnya bila dinodai dengan ketidak jujuran, ketidak adilan, apalagi dengan kriminalisasi, tidak boleh menjatuhkan lawan apalagi sampai menyebarkan fitnah dan berita-berita bohong dengan tujuan untuk memuluskan ambisi pribadi sementara lawan pesaingnya jatuh. Di era modern cara-cara kotor untuk memenuhi dan Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran memuluskan nafsu ambisi pribadi secara terbuka dilakukan, dengan ambisi pribadi terkadang teman menjadi musuh, sehingga saling hormati antar manusia seolah hilang karena tergerus oleh kepentingan dan ambisi pribadi. Murtadho Mutahari . menjelaskan bahwa agama harus menjadi pedoman bahkan ketika memposisikan manusia sebagai makhluk Tuhan, kemulyaan manusia ditentukan oleh makhluk lainnya yang memulyakan manusia, jika manusia sudah tidak saling menghormati maka hilanglah status manusia sebagai makhluk yang paling Justru permusuhan dalam ajaran Islam sangatlah dikecam. Cara-cara kotor yang dilakukan secara masip, dengan dalih demokrasi, justru akan menimbulkan berbagai kejahatan. Sejatinya prilaku, rencana dan perbuatan yang bertujuan untuk melukai orang lain, tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang memahami dan meyakini agama sebagai jalan Realitasnya, kejahatan dan berbagai jenisnya ternyata masih dilakukan oleh orang yang memiliki keyakinan terhadap agama. Hal ini terjadi, karena tidak mampu menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Agama hanya diyakini secara simbolis dan formalitas untuk kepentingan identitas, bukan sebagai pedoman dan panduan hidup. Agama yang diposisikan hanya sebagai simbol dan formalitas tidak akan berdampak kepada kehidupan. Setiap ajaran agama bila dihayati dan didalami ternyata memiliki dampak positif terhadap kehidupan Realitasnya agama hanyalah diyakini sebagai tuntutan dan kehidupan formalitas sehingga tidak berdampak terhadap prilaku kehidupan. Penelitian ini hendak mengungkap fungsi agama sebagai pedoman sehingga agama difungsikan sebagai benteng untuk menghindari dan membentengi agar tidak terjadi prilaku yang meng-arah kepada perbuatan jahat, sekaligus perbuatan yang menyebabkan tidak nyamannya pihak lain. Moderasi beragama sangat penting untuk menciptakan lingkungan harmonis dan damai. Hal ini mencegah ekstremisme, konflik antar umat beragama dan menghormati keberagaman. Moderasi beragama juga meningkatkan kesadaran, toleransi dan dialog terbuka. Dengan demikian, dapat membangun masyarakat yang saling menghormati dan menghargai perbedaan. Moderasi beragama sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang Hal ini meningkatkan kesadaran, toleransi dan dialog terbuka, serta mengurangi konflik dan Dengan moderasi beragama, dapat membangun masyarakat yang inklusif, damai dan berkeadilan di tengah kehidupan yang majemuk. JBPAI - VOLUME. NO. TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. LANDASAN TEORI Kehidupan di dunia selalu berubah, berganti sejalan dengan siklusnya. Fenomena kehidupan itu akan berakhir sejalan dengan perjalanan waktu, karena setiap makhluk termasuk waktu dan pengisi waktu akan berakhir kecuali Allah. SWT. Maka, dengan berakhirnya waktu pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh pembuat dan pencipta waktu, dalam mempertanggung jawabkan waktu itu, agama memberikan tuntunan agar setiap manusia khususnya harus memanfaatkan setiap pergeseran waktu agar berdampak positif terhadap manusia bersangkutan. Dengan pertimbangan itulah maka Allah. SWT sang pencipta waktu dalam al-Quran banyak memberikan peringatan tentang bagaimana seharusnya mengisi waktu, agar waktu tidak berlalu begitu saja, tanpa dimanfaatkan dengan baik. Agama dan manusia memiliki hubungan yang erat karena agama berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia. Sebaliknya manusia juga membutuhkan agama. Al-Quran sebagai kitab suci, berulang-ulang menceritakan keberadaan manusia. Dalam ayat tertentu manusia diangkat derajatnya, dan dipihak lain al-Quran juga menjelaskan bahwa manusia Muthahari . menjelaskan bahwa manusia dinobatkan jauh mengungguli alam, syurga dan malaikat, akan tetapi dalam waktu tertentu manusia kedudukannya lebih rendah dari syetan yang terkutuk. Derajat yang diberikan Allah. SWT kepada manusia sebagai penakluk alam semesta, akan tetapi dalam kondisi tertentu lebih rendah dan hina dari makhluk yang ada di alam semesta. Berarti keberadaan manusia tidak akan terlepas dari ketaatan kepada Allah. SWT, semakin taat manusia kepada Allah akan semakin mulya demikian sebaliknya. Haryono . bahwa kemulyaan manusia tergantung kepada budi pekertinya, untuk menjaga budi pekerti agar tetap ada yaitu dengan mengaktualisasikan pendidikan agama, karena agama mempunyai pengaruh besar terhadap jiwa, sekaligus dapat menguasai hati serta membangkitkan unsur-unsur kebaikan. Dengan demikian, kebaikan yang dilakukan oleh manusia adalah karena adanya unsur agama, mendudukkan agama dalam kehidupan adalah suatu keharusan. Maka, pada prinsipnya manusia membutuhkan agama dan bagi orang yang tidak memilih agama sebagai pedoman hidupnya maka hakikatnya manusia demikian tidak ubahnya dengan binatang. Prilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari akan banyak dipengaruhi oleh faktor ekternal, saat manusia cenderung untuk melakukan perbuatan kebaikan maka berarti manusia tersebut sedang dipengaruhi oleh ruh malaikat demikian pula saat manusia dipengaruhi oleh sifat-sifat yang cenderung melakukan keburukan, berarti dia sedang dipengaruhi oleh sifat hayawan dan syaithoniyah. Hal ini menunjukkan, bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai unsur kebaikan dan keburukan. Sedangkan wujud kebaikan dan keburukan itu tergantung Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran dimana dan dengan siapa berinteraksi, jika berinteraksi dengan lingkungan yang baik maka dia akan berkembang dan tumbuh dengan prilaku baik, namun sebaliknya jika berinteraksi dengan lingkungan buruk maka dia akan tumbuh dan berkembang dengan prilaku buruk. Dengan demikian, yang mempengaruhi baik dan buruknya prilaku manusia sangat ditentukan oleh Kartrini Kartono . menjelaskan bahwa kriminalitas atau kejahatan itu bukan merupakan pristiwa herediter . awaan sejak lahir, warisa. , juga bukan merupakan warisan Tingkah laku kriminal bisa dilakukan oleh siapapun, tidak mamandang status sosial dan batasan umur baik laki-laki maupun perempuan, juga dilakukan baik dengan rencana maupun secara tiba-tiba. Oleh karenanya, berbagai perangkat hukum disusun untuk memberikan sanksi terhadap prilaku kriminalitas dengan berbagai tingkat dan latar belakang yang mempengaruhinya, sebab tingkat kejahatan walaupun sama bentuk tindakan kejahatannya, akan tetapi berbeda dalam hal pemberian sanksi hukumnya tergantung kepada motiv pelaku yang mempengaruhi dilakukannya kejahatan, kejahatan yang dilakukan dengan rencana akan berbeda sanksi hukumnmya dengan kejahatan yang dilakukan karena membela diri waluapun bentuk kejahatannya sama, misalnya melakukan pembunuhan. Kasus ini menunjukkan bahwa ternyata pengaruh manusia melakukan kejahatan bukan karena faktor naluri manusia yang cenderung untuk berbuat jahat akan tetapi faktor ekternal sangat dominan. Dalam kondisi tertentu bahwa Kartono . juga menjelaskan bahwa individua atau personal yang melakukan kejahatan itu diakibatkan oleh sosio kultural, sehingga dapat dibedakan menjadi tiga kelompok . deviasi individual, . deviasi stuasionil dan . deviasi sistematik. Ternyata perbuatan menyimpang yang dilakukan manusia saling mempengaruhi satu sama lainnya, antar faktor bawaan, situasi dan keadaan yang memang sudah dipengaruhi secara Dengan demikian, maka jika manusia melakukan kejahatan akibat penyimpangan prilaku itu sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, kejahatan tidak berdiri sendiri. Moderasi beragama hendaknya ditempatkan pada posisi prioritas dalam aktifitas kehidupan manusia, sehingga dikotomi interaksi dalam menjalani kehidupan tidak terjadi. Persoalan dasar yang menyebabkan munculnya prilaku intoleran dikarenakan salahnya persepsi pikiran yang disebabkan oleh salahnya dalam menyerap tafsir agama. Agama dijadikan alat untuk membenarkan prilaku intoleran, hal ini bila berkelanjutan akan menjadi bahaya, sehingga masing-masing individu larut dalam saling membanggakan dan membenarkan diri sendiri dengan legalitas kebenaran agama yang mereka yakini masingmasing. Sifat dan tindakan intoleran dipicu oleh ketidakmampuan menerima atau memahami keyakinan agama lain, sehingga pemeluk agama cenderung mengklaim kebenaran agamanya JBPAI - VOLUME. NO. TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. masing-masing dan ada kecenderungan menyalahkan agama lainnya. Hal ini bila dibiarkan dalam jangka waktu berkepanjangan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan terjadinya konflik yang lebih besar. Konflik yang disebabkan oleh isu agama akan lebih berbahaya ketimbang konflik yang disebabkan oleh yang lainnya. Dengan demikian, mestinya dibangun dan ditanamkan sejak dini untuik membiasakan bersikap toleran yaitu menghargai Prinsipnya perbedaan tidak dapat dihilangkan akan tetapi harus dihargai sehingga masing-masing pemeluk agama dapat hidup ber dampingan secara harmonis walaupun mereka berbeda keyakinan. Dan, menghormati perbedaan itu adalah perintah setiap agama. Dan, sebaliknya sikap tidak toleran akan sangat berbahaya, sebab akibat tidak toleran bukan hanya sekedar melemahkan agama akan tetapi lebih kepada merendakan pribadi manusia itu sendiri, sebab ini termasuk kategoiri diskriminasi terhadap agama dan pemeluk agama, yang dimotivasi oleh adanya prasangka buruk, baik yang dipicu oleh perorangan mapun sebagai pemeluk agama Dampaknya, agama tidak berfungsi sebagai pedoman hidup untuk menuntun kehidupan kepada jalan yang lebih harmonis baik secara individu maupun kolektif. Sifat intoleran bila dilihat dari bentuk dan gerakannya akan memunculkan tindakan-tindakan fanatisme agama yaitu memandang bahwa agama yang paling benar adalah agama yang diyakininya, sementara agama lainnya adalah salah, tindakan ini akan diteruskan dengan tindakan-tindakan diskriminasi terhadap minoritas pemeluk agama, bahkan menutup rapat agar tidak berkembangnya agama selain agama yang dia yakini keberanya bahkan adanya intimidasi terhadap pemeluk agama lainnya. Oleh karenanya, penanaman karakter hendaknya dimulai dari rumah tangga, karena sejatinya pendidikan awal adalah rumah tangga. Maka. Islam memberikan tuntunan bagi pasanngan yang hendak melangnsungkan pernikahan, untuk memahami dasar-dasar pembentukan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga yang harmonis akan melahirkan generasi dan anak-anak yang bahagia, tentunya akan mewarnai kehidupan masyarakat yang bahagia dan harmonis, rukun dan damai. Tidak dipungkiri kebenarannya, bahwa akibat pemahaman agama yang keliru, akan melahirkan pengamalan agama yang keliru dan tindakantindakan yang keliru, sehingga tidak menutup kemungkinan atas nama agama melakukan tindakan yang intoleran. Oleh karenanya dalam pemahaman keagamaan hendaknya ditanamkan karakter toleran terhadap pemeluk agama lainnya, juga ditanamkan untuk menghargai perbedaan. Ali Muhtarom dkk . menjelaskan bahwa dalam membumikan keseimbangan supaya tidak terjadi konflik, terutama yang dipicu oleh pemahaman keagamaan, moderasi beragama hadir sebagai jalan tengah untuk menjembatani setiap perbedaan yang mengarah kepada konflik. Dengan demikian, kata kunci untuk mengatasi terjadinya konflik Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran adalah dengan memahami ajaran agama dengan benar, agama sebagai landasan penata kelolaan Sebab, tidak ada manusia yang tidak membutuhkan agama, walaupun ada manusia yang hanya membutuhkan akalnya untuk membaca setiap kehidupan secara realitas, namun pada akhirnya ia membutuhkan agama sebagai pemersatu kedamaian antara hati dan prilaku realitas. Karena agama merupakan bagian terpenting bagi kehidupan, maka agama mesti dipelajari dan diamalkan secara benar. Indonesia memiliki kekayaan dan kearifan lokal yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain di dunia. Indonesia memiliki kata kunci pemersatu bangsa yaitu Bhinika Tuggal Ika berbeda akan tetapi tetap satu tujuan, gerakannya menghormati perbedaan sesuai dengan tujuan para pendiri negeri ini. Negara Republik Indonesia didirikan oleh kekuatan agama, dapat dibuktikan bahwa semua pendiri Negara Republik Indonesia terdiri dari orang-orang yang taat menjalankan perintah agama yang mereka yakini, dan endingnya bahwa kesatuan bangsa adalah tujuan utama tidak terjebak dengan egoisme yang dipicu dengan mempertahankan kebenaran agama masing-masing. METODE PENELITIAN Dalam menggunakan bahan yang diperlukan dalam peneliatian ini, penulis menggunakan metode diskriptif dengan tahapan sebagai berikut. Pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan melalui bahan telaAoahan . ibrari reaseac. dengan pengumpulkan bahan, mengidentifikasi dan mengklasifikasi sesuai dengan obyek penelitian yang dilakukan. Tahapan pengolahan data. Untuk mengolah data yang telah penulis inventarisir, penulis menggunakan Teknik sebagai berikut. Induktif, yaitu mempelajari data yang telah terkumpul kemudian menghubungkan dengan satuan klasifikasi kemudian menentukan kesimpulan generalisasi. Deduktif, yaitu memegang kaidah . yang bersifat umum, penulis mengambil suatu pengertian untuk diterapkan pada hal-hal yang bersifat khusus. Komperatif, yaitu membandingkan landasan teoritis tentang moderasi beragama kemudian dibungkan dengan realitas kehidupan masyarakat beragama. Dari teori-teori itulah penulis mengambil kesimpulan, seberapa dominan pemahaman agama terhadap terjadinya konflik yang dipicu oleh kekeliruan pehamanan agama. JBPAI - VOLUME. NO. TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. HASIL DAN PEMBAHASAN Moderasi beragama merupakan gagasan dan konsep yang sangat urgen dalam menjaga dan mengawal keharmonisan dan kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan agama. Dengan moderasi beragama bukan untuk menyamakan perbedaan akan tetapi perbedaan harus tetap lestari namun posisi ummat harus menghargai dalam menyikapi perbedan, sehingga walaupun berbeda tetapi bisa hidup berdampingan secara harmonis. Oleh karenanya, pilar moderasi beragaman terdiri dari Komitmen kebangsaan. menghargai keberagaman agama dan kepercayaan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Hal ini tercermin dalam perayaan hari-hari besar keagamaan dan pembangunan rumah ibadah yang representative dan adil bagi semua Toleransi. menghargai perbedaan keyakinan dan agama yang lain, serta memberi mereka kebebasan untuk mengepresikan keyakinan mereka tanpa rasa takut dan tekanan. Contohnya menghargai individu untuk memalih keyakinan dan cara hidup. Anti kekerasan. menolak segala bentuk kekerasan yang dilkakukan atas nama agama. Hal ini dapat dicapai melalui dialog dan komunikasi yang efektif antara berbagai kelompok masyarakat. Akomodasi dan Penerimaan terhadap tradisi dan budaya. menghargai dan menerima perbedaan tradisi dan budaya masyarakat. Contohnya perayaan waisyak di Brobodur dan peranyaan Nyepi di Bali. Dari empat pilar tersebut, dapat dibuktikan bahwa moderasi beragama merupakan sesuatu yang urgen, sehingga harmoni kehidupan manusia tetap berjalan walaupun di tengahtengah masyarakat dan kehidupan yang berbeda, baik ras, etnis, budaya dan agama. Agama sebagai pedoman hidup yang asasi. Martin Luk ito Sinaga . Moderasi beragama dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan tindakan yang tidak mengambil jalan ekxtrem ataupun diskriminatif ketika umat beriman mengungkapan keberagamaannya. Yang ditempuh adalah sikap di tengah, khususnya dalam syiar dan ikhtiar publik agama-agama. Sikap di tengah ini bukan berarti sikap yang tidak memiliki pendirian melainkan sikap adil, berempati dan memperhatikan kemanusiaan dan hubungan sesama. Persoalan sosialisasi dan gerakan moderasi beragama mesti dilakukan secara bersama-sama bukan tertumpu pada tanggung jawab pemerintah saja, melainkan harus dilakukan bersamaan dengan masyarakat. Sebab, kehidupan yang harmonis adalah kebutuhan bersama, maka hal-hal yang menyebabkan terjadinya konflik akibat salahnya penerapan pengamalan agama mesti diberikan pemahaman secara merata. Dengan demikian tujuan dari gerakan moderasi beragama adalah. Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran Meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman agama dan budaya. Mengembangkan toleransi dan kesabaran dalam menghadapi perbedaan. Mencegah ekstremisme dan radikalisme. Membangun kesadaran dan komitmen terhadap nilai-nilai Sementara manfaat dari pemahaman dan aplikasi moderasi beragama adalah :. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi efektif antar-agama. Meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap . Membangun generasi yang moderat, toleran, dan berwawasan kebangsaan . Meningkatkan kualitas demokrasi dan kehidupan berbangsa. Moderasi beragama dijadikan program prioritas oleh Kementerian Agama dengan sasarannya adalah dunia pendidikan, birokrasi. TNI/POLRI dan dunia para penguasa, sebagaimana diungkapkan oleh Zen Amrullah . bahwa gerakan moderasi beragama untuk menghalau berbagai persoalan intoleran, sebab kasus-kasus intoleran dan kekerasan atas nama agama telah menjamur diberbagai daerah di Indonesia, misalnya penolakan pembangunan Menara masjid di Papua oleh PGGJ. Tolak pembangunan Masjid Imam Hanbal oleh warga Bogor, siswa SPMN 2 Batam menolak hormat bendera, menolak menyanyikan lagu Indonesia Raya, penyerangan terhadap warga SyiAoah di Sampang oleh kelompok Sunni, penendangan Sesajen Gunung Semeru oleh seorang peria yang berpaham ajaran agama Kasus-kasus tersebut tidak bisa dipandang sesuatu yang biasa-biasa saja, melainkan harus dipandang dan diatasi secara serius, oleh pemerintah yang melibatkan komponen masyarakat, sebab kenyamanan hidup adalah kebutuhan. Penyebab terbentuktuknya karakter intoleran akibat adanya kekeliruan dalam pemahaman ajaran agama. Jika, pemahaman ajaran agama keliru akan menyebabkan keliru dalam pengamalannya, jika pengamalan ajaran agama yang keliru tersebut telah melekat dan menyatu dalam karakter, akan lebih mudah menyalahkan orang yang tidak sekeyakinan dengan dirinya. Maulidatusy Syahrisy Syarifah . menjelaskan bahwa dalam kondisi pemahaman ajaran agama yang keliru untuk tidak memberikan ruang gerak dalam menyebar kekeliruan, maka antisipasinya adalah dengan mengenalkan moderasi beragama. Secara konseptual bahwa moderasi beragama adalah sikap beragama yang seimbang antara pemahaman agama sendiri dan menghargai praktek beragama orang lain yang berbeda Oleh karenanya, memberikan pemahaman terhadap ummat beragama tentang praktek beragama sangatlah penting dan harus dilakukan secara terus menerus sepanjang orang meyakini kebenaran agamanya, pada bagian lain bahwa Ali Muhtarom . menjelaskan bahwa dalam konteks keagamaan Islam, moderasi beragama secara spesifik sepadan dengan konsep wasath atau washathiyyah Islam. Secara etimologi kata wasath dalam bahasa Arab JBPAI - VOLUME. NO. TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. mengarah pada makna adil, utama, pilihan atau terbaik, dan seimbang antara dua posisi yang Kata wasath kemudian memiliki makna al-muthawasith dan al-muAotadil yang bermakna penengah diantara dua orang yang berselisih. Kata wasathiyah akan mampu mengantarkan sekaligus menggerakkan seseorang kepada karakter dan prilaku yang adil serta professional dalam menjalankan segala bentuk kegiatan. Indonesia adalah negara dengan dasar Pancasila. Kehadiran Pancasila, tidak luput dari peran penting umat beragama (Iyan Fitriyana, 2. mereka yang merumuskan Pancasila adalah umat beragama. Mereka mengedepankan rasa dan sikap kebangsaannya di atas formalisme agama. Para pendiri negara ini, sadar betul bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan, bangsa ini bisa mencapai tujuan nasional. Atas dasar kesadaran itu pula, setiap pemeluk agama diyakini bisa menjalankan ajaran, syari'at, dan kepercayaanya dalam negara Indonesia dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negara Republik Indonesia menjamin atas kebebasan ummat beragama untuk menjalankan syariat agamnya masing-masing, jaminan ini secara konstitusional termaktub dalam UUD 1945. Kekeliruan memahami ajaran agama, sebagai penyebab adanya pengakuan bahwa hanya dirinya yang paling benar dan orang yang tidak sama keyakinannya adalah salah, sehingga dia memposisikan diri sebagai orang yang paling benar, dan menganggap salah bagi orang yang tidak sepaham dengan dirinya bahkan diposisikan sebagai musuh. Posisi permusuhan atas nama agama tidak menutup kemungkinan akan memposisikan Tuhan sebagai pembela sekaligus melegitimasi permusuhan atas nama agama, tindakan ini sangat keliru. Oleh karenanya, mensosialisasikan dan mengadakan gerakan moderasi beragama adalah jawaban yang efektif untuk memberikan solusi antisipasi radikalisme dan kekerasan atas nama agama. Masyarakat perlu mendapatkan pengenalan dan pembelajaran tentang:. Sejarah dan perkembangan agama. Doktrin dan ajaran agama. Etika dan moralitas. Dialog antaragama. Kebangsaan dan nasionalisme. Hak asasi manusia. Konflik dan resolusi. Hosaini . menjelaskan bahwa untuk mencegah tindakan radikaisme dan kekerasan akibat kelirunya pemahaman agama yaitu melalui . Lingkungan keluarga. Keluarga sebagai tempat yang paling awal bagi anak untuk menerima pendidikan. Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membekali kehidupan anak melalui pendidikan informal, termasuk menanamkan sikap tenggang rasa terhadap anak. Dalam keluarga hendaknya kedua orang tua memberikan keteladanan dalam bersikap sebab apa yang dilakukan oleh kedua orang tua dalam keluarga akan ditiru oleh anak. Maka pendidikan karakter dalam keluarga sangatlah penting diterapkan oleh kedua orang tua. Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran sama dengan pendidikan moral dan akhlaq. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga Negara yang baik. Adapun nilai-nilai karakter yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum Dan Perbukuan sebagaimana dalam kolom berikut. Tabel 1. nilai-nilai karakter yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian Nilai Karakter Religius Jujur Toleransi Kerja Keras Disiplin Kreatif Mandiri Domekratis Diskripsi Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain Jujur perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakatan dan pekerjaan. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya Perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas Cara berfikir, bersikap, bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain Lingkungan Pendidikan Dilingkungan pendidikan baik sekolah formal maupun norformal hendaknya diadakan pembiasaan untuk menanamkan sikap toleransi dan menghargai perbedaan. Intrekasi antar siswa di lingkungan pendidikan sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan pembiasaan di rumah masing-masinng siswa, kecenderungan untuk membawa karakter yang terbiasa dilakukan di lingkungan rumah akan mempengaruhi kebiasaan saat anak bergaul di lingkungan luar rumah. Maka, peran kedua orang tua sangatlah dominan dalam memepengaruhi karakter anak. Faktorfaktor yang mempengaruhi kebiasaan anak dalam rumah meliputi: o Lingkungan keluarga yang mempengaruhi perilaku anak o Proses pendidikan dan pembelajaran yang membentuk kebiasaan anak o Rutinitas sehari-hari yang mempengaruhi kebiasaan anak o Pengaruh media yang dapat mempengaruhi kebiasaan anak o Kebiasaan teman yang dapat mempengaruhi kebiasaan anak. JBPAI - VOLUME. NO. TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. Orang tua dapat membentuk kebiasaan anak yang baik dengan: o Memberikan contoh yang baik dan konsisten o Membuat aturan dan rutinitas yang jelas dan konsisten o Mendorong anak untuk belajar dan berkembang o Mengawasi dan memantau kegiatan anak o Memberikan penghargaan dan motivasi untuk anak yang berperilaku baik. Dengan demikian, pembiasaan anak dalam rumah akan menjadi cerminan saat anak bergaul lebih luas yaitu di lingkungan pendidikan, masyarakat. Anak yang terbiasa dengan prilaku baik di rumah akan menjadi anak yang baik saat berada dalam lingkungan baru di luar rumah, demikian pula sebaliknya. Faktor yang mempengaruhi perkembangan dan karakter manusia sebagai berikut. Faktor Keluarga . Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau pengasuh. Kurangnya disiplin dan aturan yang jelas. Konflik keluarga yang mempengaruhi anak. Faktor Lingkungan . Pengaruh teman yang nakal. Paparan media dan teknologi yang tidak sesuai dengan usia anak. Kurangnya aktivitas positif yang dapat mengembangkan anak. Faktor Pribadi . Kurangnya kemampuan mengatur emosi. Kurangnya kemampuan berempati dengan orang lain. Kurangnya rasa percaya diri yang dapat mempengaruhi perilaku anak. Keluarga adalah komunitas kecil dalam masyarakat yang terbentuk melalui perkawinan. Keberadaan keluarga sangat menentukan baik buruknya hubungan sosial kemasyarakatan, keluarga yang terbangun dengan suasana harmonis sebagai bahan baku terciptanya masyarakat yang harmonis, demikian seterusnya dari masyarakat yang harmonis akan terbangun tatanan sosial yang lebih besar yaitu sebuah bangsa dan negara yang harmonis. Tujuan hidup setiap manusia nyaris tertumpu pada tercapainya kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang tidak bisa di buktikan secara fisik karena kebahagiaan itu urusan hati nurani. Secara realita dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan sebuah keluarga yang tinggal di sebuah rumah yang mewah dilengkapi dengan berbagai sarana, akan tetapi mereka hidup dalam kesepian, tidak terdengar suara canda-tawa, komunikasi antar suami istri dan anak tidak terbangun secara harmonis hidup terpisah dengan kesibukan masing-masing walau tinggal dalam satu rumah. Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran Sementara ada keluarga yang hidup sederhana tanpa sarana yang cukup akan tetapi mereka hidup damai, suara canda dan tawa pun menghiasi rumah mereka. Komunikasi antar mereka terbangun dengan baik, itulah kebahagiaan, sifatnya abstrak. Orang tua adalah yang bertanggungjawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga, dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut Ibu Bapak. Merekalah yang terutama memegang nilai tanggung jawab yang akan menjadi kebiasaan kemudian sebagai karakter anak harus ditatanamkan oleh orang tua sejak Konsistensi antara perkataan dan prilaku orang tua akan menjadi barometer bagi anak. Oleh karenanya, orang tua harus mampu memberikan keteladan dalam lingkungan keluarga. Konsisten dalam memberikan tanggung jawab kepada anak, dimaksudkan bahwa semua orang yang berada dalam satu rumah harus memiliki perlakuan yang sama. Sikap orang tua yang otoriter dan pilih kasih terhadap anak akan menyebabkan anak menjadi tertekan. Sekalipun anak mentaati segala perintah dan aturan yang diterapkan orang tua dalam keluarga jika dasarnya adalah otoriter dan pilih kasih. Maka, ketaatan anak bukan timbul dari kesadaran hatinya melainkan karena terpaksa, hal ini akan menjadi berbahaya bagi perkembangan jiwa Sedangkan sikap orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak menyebabkan anak kurang memperdulikan norma dalam dirinya. Sikap bijaksana yaitu sikap orang tua yang penuh kasih sayang, keterbukaan dan konsisten menyebabkan anak menjadi nyaman. Dengan kenyamanan yang dirasakan oleh anak dalam lingkungan keluarga akan memudahkan bagi orang tua untuk menanamkan karakter sesuai dengan keinginan orang tua, dalam hal ini adalah karakter tanggung jawab. Tanggung jawab orang tua terhadap anaknya meliputi tanggung jawab dalam hak pengasuhan, pemelliharaan dan pendidikan. Tanggung jawab pendidikan dan pembinaan akidah, sebagai dasarnya adalah (Q. alBaqarah: . A Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkat. : "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". Tanggung jawab pendidikan dan pembinaan akhlak Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk prilaku. Pendidikan dan pembinaan akhlak anak dalam keluarga dilaksanakan dengan contoh dan keteladanan dari orang tua. Contoh yang terdapat pada prilakku dan sopan santun orang tua dalam hubungan dan pergaulan antara ibu dan bapak, perlakuan orang tua terhadap anak-anak mereka, termasuk perlakuan orang tua terhadap orang lain di lingkungan keluarga akan terekam oleh anak sekaligus menjadi dasar pembentukan karakter anak. Benjamin Spock dalam kutipan mahmud . mengemukakan, bahwa setiap individu akan selalu mencari figur yang dapat dijadikan teladan ataupun idola mereka. Orang tua, pada umumnya merupakan teladan bagi anak-anak mereka yang sejenis, serta idola bagi JBPAI - VOLUME. NO. TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. mereka yang berlainan jenis. Artinya, seorang ayah adalah teladan bagi anak laki-lakinya dan idola bagi anak perempuannya. Dari pemikiran tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa contoh yang baik dari orang tua merupakan sesuatu yang dapat dijadikan ukuran bagi anak. Jangan sampai terjadi bahwa anak menjadikan figur dan idola yang salah akibat prilaku orang tua yang salah. Pengamalan ajaran agama harus menjadi skala prioritas dalam rumah tangga. Sebab, dari kedisiplinan pengamalan ajaran agama akan tercermin dalam karakter anak baik disiplin, karakter dan akhlak mulia. Pembiasaan pengeamalan ajaran agama dengan memposisikan kedua orang tua sebagai figur teladan akan menjadikan karekter anak terbangun dimana orang tua sebagai sosok idola, hal ini akan sangat besar dampaknya bagi anak ketika anak beralih lingkungannya dari keluarga kepada pendikan, sekolah atau masyarakat luas. Dengan demikian, terbangunnya lingkungan yang berkarater akhlak mulia, diawali dari pembiasaan dan pendidikan agama yang dibangun dalam lingkungan keluarga. Oleh karenanya, bangunan keluarga harus men jadi skala prioritas bagi pasangan muda mudi akan melangsungkan perkawinan. Realisasi moderasi beragama sebagaimana dikatakan oleh Ali Muhtarom dkk . bahwa moderasi beragama mengutamakan keseimbangan dan keadilan dalam pemahaman keagamaan, maka akan terlihat indikatornya ketika paham keagamaan tersebut searah dengan penerimaannya terhadap nilai-nilai budaya dan kebangsaan. Paham keagamaan tersebut tidak resisten terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengutamakan hidup rukun, baik di anatara perbedaan pendapat keagamaan yang terjajdi di internal sesame ummat beragama maupun dengan pemeluk agama yang berbeda. Kekeliruan pemahaman agama dapat berdampak negatif pada kesatuan bangsa, antara lain: 1. Dampak Sosial . Meningkatkan konflik antar umat beragama. Membuat diskriminasi dan intoleransi terhadap kelompok atau individu yang berbeda agama atau keyakinan. Membentuk kelompok-kelompok eksklusif yang hanya menerima anggota yang memiliki pemahaman agama yang sama. Dampak Politik. Menggunakan agama sebagai alat politik untuk memecah belah kesatuan . Membentuk partai-partai berbasis agama yang hanya mewakili kepentingan kelompok tertentu. Meningkatkan konflik antar partai yang berbeda agama atau keyakinan. Dampak Ekonomi. Meningkatkan kerusuhan dan keamanan yang dapat mempengaruhi perekonomian negara. Mempengaruhi kepercayaan investor terhadap negara. Mempengaruhi pariwisata yang dapat mempengaruhi perekonomian negara. Solusi yang ditawarkan dalam penelitiian ini untuk mengatasi konflik akibat salahnya pemahaman agama . Meningkatkan pendidikan agama yang benar. Moderasi Beragama dan Normalisasi Pengamalan Ajaran Agama dalam Upaya Harmonisasi Ummat Beragama dan Upaya Menangkal Kekeliruan Pemahaman Agama dan Tindakan Intoleran KESIMPULAN Dalam menyikapi dan turut berinteraksi di tengah-tengah masyarakat majemuk, akan tetapi pergaulan tetap harmonis dan damai, sesuai yang tidak mudah, memelurkan pengorbanan Akan tetapi dengan pergaulan yang mengutamakan mengormati dan menghaargai kehidupan orang lain maka akan terwujud kehidupan damai dan harmonis, jauh dari konflik bai kantar sesama maupun konflik antar masyarakat. Dalam realitas kehidupan, manusia tidak dapat menghindarkan diri dari perkara-perkara yang berseberangan. Karena itu al-Wasathiyyah Islamiyyah mengapresiasi unsur rabbaniyyah . dan insaniyyah . , mengkombinasi antara maddiyyah . dan ruhiyyah . , sehingga terjadi keimbangan pengamalan agama antara bathin dan amaliyah fisik. Kata kuncinya adalah moderasi beragama sesuatu yang digelorakan kepada seluruh komponen masyarakat, agar pemeluk agama kembali menghayati ajaran agama secara mendalam, sehingga dapat ditemukan antara komitmen meyakini agama dan menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan. Dengan demikian, pergaulan dapat diwujudkan secara harmonis dan keyakinan beragama tidak terganggu bahkan terbebass dari kecurigaan, sehingga masing-masing pemeluk agama dapat bebas menjalankan agamnya, akan tetapi pergaulan kemanusiaan tetap terjaga secara harmonis. DAFTAR PUSTAKA