Islamika Granada, 5 . Januari . ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 51849/ig. Islamika Granada Available online https://penelitimuda. com/index. php/IG/index Hubungan Overweight Dengan Body Image Pada Remaja Putri Jurusan PSPTV SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan The Correlation of Overweight with Body Image in Adolescent Girls PSPTV Department SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan Anna Wati Dewi Purba. *) & Hesti Pratiwi Siringgo-ringgo. Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Medan Area. Indonesia Disubmit: 03 November 2024. Direview: 24 Desember 2024. Diaccept: 27 Desember 2024. Dipublish: 01 Januari 2025 *Corresponding author: anna@staff. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta melihat hubungan overweight dengan body image pada remaja putri. Hipotesis yang diajukan ada hubungan positif antara overweight dengan body image pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 137 remaja putri dengan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 51 remaja putri. Data dikumpulkan melalui skala yaitu body image. Metode analisis data menggunakan analisis product moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara overweight dengan body image dimana rxy = 0,646 dengan signifikan p = 0,000 < 0,05. Dengan artian, semakin tinggi overweight maka body image rendah. Sumbangan efektif variabel overweight terhadap body image adalah 41,7%. Diketahui juga terdapat 58,3% faktor lainnya yang tidak diteliti pada penelitian ini yakni faktor individu : biologis . aktu puberta. , psikologis . enerimaan body image ideal, dan perbandingan sosia. , faktor mikrosistem : . engaruh teman sebaya, keluarg. , faktor mesosistem, faktor eksosistem : . dan faktor makrosistem : . truktur Hasil lain ditemukan bahwa dari perhitungan mean empirik overweight termasuk kedalam kategori tinggi dan body image termasuk kedalam kategori rendah. Kata Kunci: Overweight. Body Image. Remaja Putri. Abstract This study aimed to determine and see the correlation between overweight and body image in teenage girls. The hypothesis proposed was that there was a positive correlation between overweight and body image in teenage This research used quantitative methods. The population in this study was 137 teenage girls with purposive sampling technique. The sample amounted to 51 teenage girls. Data were collected through a scale, namely body The data analysis method used product moment analysis. The results of this study indicated a significant correlation between overweight and body image where rxy= 0. 646 with a significant p = 0. 000 <0. In other words, the higher the overweight, the lower the body image. The effective contribution of overweight variables to body image was 41. It was also known that there were 58. 3% other factors not examined in this study, namely individual factors: biological . uberty tim. , psychological . cceptance of ideal body image, and social compariso. , microsystem factors: . nfluence of peers, famil. , mesosystem factors, exosystem factors: . and macrosystem factors: . ender structur. Other results found that from the calculation of the empirical mean overweight was included in the high category and body image was included in the low category. Keywords: Overweight. Body Image. Teenage Girls. How to Cite: Purba. & Siringgo-ringgo. Hubungan Overweight Dengan Body Image Pada Remaja Putri Jurusan PSPTV SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan. Islamika Granada, 5 . : 73-81. ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. PENDAHULUAN Gattario . transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa sering kali dianggap sebagai periode yang penuh pergolakan dan stres bagi para remaja. Dalam media populer, remaja sering kali digambarkan secara stereotip sebagai individu yang tersiksa, dipenuhi oleh perubahan hormon, memberontak terhadap orang tua, terlibat dalam perilaku berisiko tinggi, dan tengah mengalami cinta. Namun, mayoritas penelitian menegaskan bahwa pandangan tentang masa remaja yang penuh "badai dan stres" ini sebenarnya dibesar-besarkan. Walaupun demikian, masa remaja tetap merupakan tahap yang dinamis dalam kehidupan, ditandai oleh banyak perubahan yang mendasar baik secara biologis, psikologis, maupun sosial. Perlu dicatat bahwa interpretasi dan dampak dari perubahan ini sangat dipengaruhi oleh konteks di mana remaja tersebut mengalami perkembangan. Selama masa remaja, terjadi perubahan biologis yang terkait dengan proses Perubahan ini mencakup transformasi dramatis pada tubuh remaja, baik dari dalam maupun luar, termasuk perubahan dalam penampilan fisik dan perkembangan kemampuan untuk mengandung anak. Salah satu perubahan biologis yang paling mencolok adalah lonjakan pertumbuhan tinggi badan dan peningkatan berat badan yang cepat, karena ada peningkatan otot dan lemak. Namun, anak perempuan cenderung mendapatkan lebih banyak jaringan lemak dibandingkan dengan anak laki-laki, dan proses ini berlangsung dengan kecepatan yang lebih tinggi. Sebagai hasilnya, anak perempuan menyelesaikan pubertas dengan rasio otot-ke- lemak sekitar 5 banding 4, sementara anak laki-laki memiliki rasio sekitar 3 banding 1. Pubertas juga memengaruhi bentuk tubuh, di mana bahu anak laki-laki cenderung melebar relatif terhadap pinggul, sementara pinggul anak perempuan cenderung melebar relatif terhadap bahu dan Perubahan perkembangan ini berarti bahwa anak perempuan, saat mereka melewati masa pubertas, semakin menjauh dari tubuh ideal wanita kurus, sementara anak laki-laki semakin mendekati bentuk tubuh pria ideal berbentuk V. Dalam konteks ini, perubahan pubertas dapat ditafsirkan secara berbeda, seperti menganggapnya sebagai "menjadi gemuk" atau "kehilangan kendali" daripada berubah menjadi seorang Kita hidup dalam sebuah masyarakat yang dipengaruhi oleh pesan-pesan budaya mengenai bagaimana penampilan seseorang seharusnya. Saat masa remaja, penting bagi banyak orang untuk sesuai dengan standar penampilan yang dianggap ideal oleh masyarakat, dan ini seringkali menyebabkan ketidakpuasan terhadap tubuh mereka. Terutama di kalangan remaja, khususnya perempuan, mayoritas dari mereka merasa tidak puas dengan penampilan fisik mereka dan berkeinginan untuk mengubah tubuh Memiliki pandangan negatif tentang body image, yang mencakup pikiran dan perasaan negatif terhadap tubuh sendiri, telah terbukti berhubungan dengan rendahnya harga diri dan kesejahteraan umum yang lebih buruk. Dalam jangka panjang, pandangan negatif terhadap body image dapat menyebabkan masalah serius seperti depresi dan gangguan makan. Oleh karena itu, penelitian mengenai body image pada kalangan remaja https://penelitimuda. com/index. php/IG/index ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. sangatlah penting untuk memahami fenomena ini dengan lebih baik, dan tentunya, untuk dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan remaja. Remaja, yang sedang mengalami perubahan dramatis dalam tubuh, pikiran, dan kehidupan sosial mereka, menjadi sangat rentan terhadap pesan-pesan yang diterima dari budaya tentang penampilan. Meskipun masalah body image juga dapat dialami oleh anak-anak kecil, namun pada masa remaja, masalah ini menjadi semakin umum. Keprihatinan atas maraknya pengalaman body image yang negatif pada remaja memang wajar. Ketidakpuasan terhadap tubuh, mengutuk atau membenci penampilan sendiri, dapat mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang. Body image yang negatif tidak hanya berhubungan dengan rendahnya harga diri dan penurunan kesejahteraan secara keseluruhan, tetapi juga berhubungan dengan masalah psikologis jangka panjang yang serius, seperti depresi dan gangguan makan. Mengingat pentingnya body image bagi kesehatan dan kesejahteraan remaja, maka sangat penting bahwa fenomena ini diselidiki secara menyeluruh dan dipahami dengan baik. Konsep bahwa tubuh dapat "mudah dibentuk" menekankan perlunya pengendalian dan terus-menerus meningkatkan diri, sebagaimana tercermin dalam berbagai opsi seperti olahraga, diet, perawatan kecantikan, sedot lemak, suplemen pembentuk otot, steroid anabolik, operasi plastik, dan lainnya. Namun, pesan keseluruhan dianggap berbahaya, meskipun terlihat jelas. Hall . dari segi sejarah, panduan kesehatan masyarakat telah mendorong peningkatan aktivitas fisik seperti latihan aerobik dan pelatihan ketahanan untuk meningkatkan kebugaran kardiorespirasi dan kesehatan muskuloskeletal. Penggunaan resep olahraga dianggap sebagai upaya dalam mencegah penyakit, sebagai kegiatan yang dapat meningkatkan harga diri, dan digunakan dalam berbagai intervensi terapi Namun, ketika olahraga dilakukan secara berlebihan, praktik tersebut dapat berkembang menjadi asosiasi patologis dengan gangguan citra tubuh. Tradisionalnya, asosiasi ini terutama terkait dengan hubungan antara latihan aerobik dan gangguan makan pada wanita yang menginginkan tubuh yang sangat kurus yang sulit dicapai. Masalah besar terkait dengan kesehatan muncul dari penggunaan pil diet, yang terkait dengan masalah seperti kecemasan, kegelisahan, dan insomnia. Penggunaan yang tinggi dan berkelanjutan juga terkait dengan peningkatan risiko infark miokard dan Penelitian baru yang signifikan berkaitan dengan penggunaan kafein untuk mengontrol berat badan, dan konsumsi kafein dalam jumlah besar telah menyebabkan masalah kesehatan serius pada wanita yang menggunakan kafein dalam dosis besar untuk tujuan penurunan berat badan. Zat resep seperti stimulan yang dirancang untuk mengatasi gangguan pemusatan perhatian juga memiliki efek menekan nafsu makan, dan beberapa bukti menunjukkan bahwa orang menggunakan zat tersebut untuk menurunkan berat badan, bukan untuk tujuan terapeutik yang dimaksudkan. Di samping itu, zat seperti clenbuterol, efedrin, hormon pertumbuhan manusia rekombinan, tiroksin, dan orlistat dapat menyebabkan masalah serius dalam jangka panjang jika digunakan tanpa pengawasan medis, terutama untuk tujuan penampilan. Saat ini, peran merokok di https://penelitimuda. com/index. php/IG/index ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. kalangan remaja putri dalam upaya mengendalikan berat badan juga telah menjadi fokus Anak perempuan juga telah menggunakan obat-obatan stimulan seperti amfetamin dan kokain untuk mencapai penurunan berat badan, meskipun kenyataannya, obatobatan tersebut dapat menyebabkan efek samping serius seperti depresi, kecemasan, perubahan suasana hati, paranoia, kesulitan berkonsentrasi, keinginan untuk bunuh diri, dan psikosis. Penggunaan obat-obatan stimulan seperti ekstasi, kokain, dan amfetamin dengan tujuan menekan nafsu makan dan menurunkan berat badan dikenal sebagai 'penggunaan instrumental', yang merujuk pada penggunaan obat berdasarkan efeknya untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Seiring dengan pengenalan kemampuannya sebagai penekan nafsu makan, penelitian telah lama mencatat bahwa banyak wanita yang menggunakan kokain menyatakan bahwa pengendalian berat badan adalah motivator utama di balik penggunaan zat tersebut. Dalam upaya untuk menyatukan berbagai elemen ini. Grogan menyusun definisi yang lebih luas, menggambarkan citra tubuh sebagai "persepsi, pikiran, dan perasaan seseorang mengenai tubuhnya sendiri". Definisi ini mencakup aspek psikologis seperti persepsi dan sikap terhadap tubuh, serta pengalaman individu terkait dengan tubuhnya. Body image dari segi perseptual sering diukur dengan membandingkan seberapa akurat seseorang dalam mengestimasi ukuran tubuhnya dengan ukuran tubuh yang Sementara itu, body image dari segi sikap dievaluasi melalui empat komponen utama: kepuasan secara keseluruhan terhadap tubuh . valuasi tubu. , perasaan yang terkait dengan tubuh . , investasi emosional dan keyakinan tentang penampilan . , serta perilaku yang terkait dengan tubuh, seperti menghindari situasi tertentu yang mempengaruhi penampilan. Penemuan yang menarik adalah bagaimana persepsi berat badan dan daya tarik fisik muncul bahkan pada anak perempuan yang sangat muda. Studi menunjukkan bahwa anak perempuan berusia 3,5 tahun memilih boneka yang kurus atau berpenampilan rata-rata . aripada yang gemu. karena dianggap cantik, membantu orang lain, memiliki sahabat, dan pandai serta bahagia. Dengan demikian, anak perempuan dan remaja perempuan berusaha untuk mencapai body image yang ideal ini, namun seringkali berakhir dengan ketidakpuasan tubuh, rendah diri, dan pandangan negatif terhadap body image ketika cita-cita ini tidak tercapai. Gattario . stigma terkait kelebihan berat badan umumnya tersebar luas, terutama di budaya dengan nilai-nilai individualistis. Dalam budaya individualistis, individu sering dianggap bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, sehingga kelebihan berat badan dianggap sebagai kegagalan individu dalam memenuhi standar kecantikan saat ini. Namun, pandangan ini berbeda dalam budaya kolektivistik, seperti yang diamati di pedesaan Fiji oleh Becker. Di sana, keluarga dan orang- orang terdekat berbagi tanggung jawab untuk menjaga dan merawat tubuh bersama demi kesehatan dan kekuatan. https://penelitimuda. com/index. php/IG/index ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. Overweight, di sisi lain, sering dianggap sebagai tanda pemanjaan diri, kemalasan, kurangnya kontrol diri, ketidakmampuan, dan kurangnya motivasi untuk merawat tubuh Orang yang mengalami overweight sering menghadapi diskriminasi di berbagai bidang kehidupan, termasuk di sekolah, lingkungan kerja, dan dalam mencari pasangan hidup. Sejalan dengan persepsi tersebut, banyak gadis remaja percaya bahwa menjadi lebih kurus adalah hal yang penting dan dapat membuat mereka lebih bahagia, lebih sehat, lebih menarik, atau lebih sukses dalam hubungan dengan lawan jenis. Dengan adanya penjelasan diatas membebankan peran perempuan atau para mahasiswi tentang stigma masyarakat terhadap berat badan. Para siswi SMK juga seringkali mendapatkan diskriminasi di sekolah seperti tidak ada yang ingin sekelompok, di mana pelaku cenderung meremehkan permasalahan tersebut. Dan tentu saja itu membuat body image semakin negatif, karena seperti yang kita ketahui para perempuan sangat sensitif jika orang lain membahas berat badan. Fenomena ini terjadi pada remaja putri remaja di SMK, sehingga membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian jauh tentang AuHubungan Overweight Dengan Body Image Pada Remaja Putri jurusan Psptv Di SMK Negeri 1 Percut Sei TuanAy. METODE Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif sebagai metode penelitian. Penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu dimana pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2. Penelitian ini menggunakan metode survei. Survei adalah metode riset dengan menggunakan kuisioner sebagai instrumen pengumpulan datanya. Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Sugiyono . , purposive sampling merupakan pengambilan sampel dengan menggunakan beberapa pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria yang diinginkan untuk dapat menentukan jumlah sampel yang akan Adapun yang menjadi karakteristik sampel penelitian yaitu : Remaja Overweight. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah remaja putri jurusan Psptv di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan. Yang berjumlah 51 siswi. Penelitian ini menggunakan skala likert. Skala ini digunakan guna mengukur pandangan, perbandingan, dan tanggapan seseorang ataupun sekelompok orang tentang fenomena sosial. Peneliti sudah menetapkan fenomena secara spesifik dalam penelitian ini sebagai variabel dalam penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun maksud dari uji normalitas sebaran ini adalah untuk membuktikan penyebaran data penelitian yang menjadi pusat perhatian setelah menyebarkan berdasarkan prinsip kurva normal. Uji normalitas sebaran dianalisis dengan https://penelitimuda. com/index. php/IG/index ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. menggunakan uji normalitas sebaran data penelitian menggunakan teknik KolmogorovSmirnov Goodness of Fit Test. Berdasarkan analisis tersebut, maka diketahui bahwa data variabel overweight dan body image, mengikuti sebaran normal yang berdistribusi sesuai dengan prinsip kurva Sebagai kriterianya apabila p > 0,05 sebarannya dinyatakan normal, sebaliknya dinyatakan apabila p < 0,05 sebarannya dinyatakan tidak normal (Sujarweni, 2. Variabel Berat Badan Body Image Mean 62,80 75,65 Tabel 1. Hasil Perhitungan Uji Normalitas K-S 1,081 5,064 0,621 11,527 Sig 0,193 0,621 Ket Normal Normal Uji liniearitas yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah derajat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dalam penelitian ini artinya apakah hubungan overweight mempengaruhi body image. Berdasarkan uji linieritas dapat diketahui apakah variabel bebas dengan variabel terikat dalam penelitian ini dapat atau tidak dianalisis secara korelasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa antara variabel overweight mempunyai hubungan yang linier terhadap variabel body image. Dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment atau tidak, jika kedua variabel memiliki nilai p > 0,05 maka dinyatakan hubungan linear. Hubungan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Hasil Perhitungan Uji Linearitas F beda P beda 1,529 0,214 Korelasional Ket Linear Selanjutnya, setelah dilakukannya uji validitas aitem dilanjutkan dengan analisis Indeks reliabilitas yang diperoleh dari skala body image yakni sebesar 0,885 yang artinya skala body image sebagai alat ukur dikategorikan reliable atau handal. Berikut dilampirkan tabel reliabilitas pada skala body image. Skala Body Image Tabel 3. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Cronbach Alpha O,885 Ket Reliable Berdasarkan hasil analisis dengan metode analisis korelasi r Product Moment, diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara hubungan overweight dengan body image, dimana rxy = 0,646 dengan signifikan p = 0,000 < 0,05 artinya hipotesis yang diajukan adalah terdapat hubungan positif antara overweight dengan body image. Dengan asumsi semakin tinggi overweight seseorang maka semakin rendah pula body image orang tersebut, demikian pula sebaliknya semakin rendah overweight seseorang maka semakin meningkat pula body image orang tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini maka hipotesis yang diajukan dinyatakan diterima. Koefesien determinan . dari hubungan antara variabel bebas X dengan variabel terikat Y adalah sebesar r2 = 0,417. Ini menunjukkan bahwa overweight berkontribusi terhadap body image sebesar 41,7%. Tabel dibawah ini menunjukkan rangkuman hasil perhitungan analisis r Product Moment. Statistik X-Y Tabel 4. Uji Korelasi Product Moment Koefisien Determinan Koefisien . Koefisien Determinan . BE % 0,646 0,417 41,7% 0,000 https://penelitimuda. com/index. php/IG/index Ket Significant ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. Jumlah aitem yang valid dari variabel Y yakni body image adalah sebanyak 37 aitem yang disusun dengan skala likert dalam 4 polian jawaban yakni sangat setuju . , setuju . , tidak setuju . , serta sangat tidak setuju . Maka dengan demikian mean hipotetiknya adalah 40-3=37x4 37x1/2=92,5. Berdasarkan hasil analisi data statistik yang terlibat dari uji normalitas sebaran dapat diketahui bahwa empirik variabel overweight adalah 62,80 dan body image adalah sebesar 75,65. Dalam upaya mengetahui kondisi kategori dari overweight dan body image, maka perlu dibandingkan antara mean/nilai rata-rata empirik dengan mean/nilai rata-rata hipotetik dengan memperhatikan besarnya bilangan SD dari masing-masing variabel. Untuk variabel body image nilai SDnya adalah 11,527. Untuk variabel body image, apabila mean/nilai rata-rata hipotetik < mean/nilai rata-rata empirik, dimana selisihnya melebihi bilangan SD, maka dinyatakan bahwa body image tinggi dan apabila mean/nilai rata-rata hipotetik > mean/nilai rata-rata empirik, dimana selisihnya melebihi bilangan SD, maka dinyatakan bahwa body image tergolong Gambaran selengkapnya mengenai perbandingan mean/nilai rata-rata hipotetik dengan mean/nilai rata-rata empirik serta standar deviasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Variabel Berat Badan Body Image Tabel 5. Perhitungan Mean Hipotetik dan Empirik Nilai rata-rata Hipotetik Empirik 62,80 11,527 75,65 Ket Tinggi Rendah Berdasarkan hasil analisis korelasi product moment dapat dilihat bahwasamya terdapat hubungan positif antara overweight dengan body image. Hal tersebut dapat diambil berdasarkan koefisien korelasi rxy = 0. 646 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Dimana hal tersebut menunjukkan hipotesis yang berbunyi ada hubungan positif yang signifikan antara overweight dengan body image. Kemudian koefisien determinasi . keterikatan antara variabel independen dan variabel dependen adalah sebesar r2 = 0,417. Hal tersebut menunjukkan bahwa overweight mempunyai kontribusi terhadap body image sebanyak 41,7%. Hasil uji mean dapat dapat disimpulkan bahwasanya body image termasuk kedalam kategori rendah dengan nilai 92,5 dengan mean empiriknya 75,65. Hasil penelitian ini sejalan dengan menurut Steinberg . alam Gattario, 2. terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi body image, salah satunya yaitu berasal dari faktor internal yang mana faktor ini mencakup semua hal dari dalam diri individu sendiri salah satunya yaitu overweight. Body image merupakan bagaimana cara seseorang mempersepsikan dan bersikap terhadap tubuhnya sendiri. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti dapatkan bahwasanya overweight memang berperan dalam hal body image pada siswi di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan. Siswi yang selalu memandang rendah dirinya karena memiliki berat badan https://penelitimuda. com/index. php/IG/index ISSN 2723-4142 (Prin. ISSN 2723-4150 (Onlin. yang berlebih. Siswi yang selalu membandingkan berat badannya dengan orang lain. Body image dari segi perseptual sering diukur dengan membandingkan seberapa akurat seseorang dalam mengestimasi ukuran tubuhnya dengan ukuran tubuh yang Sementara itu, body image dari segi sikap dievaluasi melalui empat komponen utama: kepuasan secara keseluruhan terhadap tubuh . valuasi tubu. , perasaan yang terkait dengan tubuh . , investasi emosional dan keyakinan tentang penampilan . , serta perilaku yang terkait dengan tubuh, seperti menghindari situasi tertentu yang mempengaruhi penampilan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan dimana hasil yang didapatkan berdasarkan perhitungan analisis korelasi product moment, didapatkan bahwa terdapat hubungan positif antara overweight dengan body image. Hal tersebut dibuktikan dengan dengan besar koefisien korelasi rxy = 0,646 dengan 0,000 < 0,05. Maka dari itu semakin tinggi tingkat overweight maka body image rendah. Sebaliknya jika overweight menurun . maka body image menjadi tinggi. Koefisien determinan . dari hubungan kedua variabel yakni variabel bebas dan variabel terikat adalah sebesar r2 = 0,417. Hal tersebut menunjukkan bahwasanya overweight berdistribusi sebesar 41. 7% terhadap body image. Hasil penelitian ini diketahui juga terdapat 58,3% faktor lainnya yang tidak diteliti pada penelitian ini. Hasil penelitian secara umum dari penelitian ini menyatakan bahwasanya overweight pada siswi tergolong tinggi, hal tersebut dinyatakan mean empirik overweight sebesar 62,80. Kemudian body image tergolong rendah dikarenakaan mean hipotetik sebesar 92,5 dan mean empirik sebesar 75,65. DAFTAR PUSTAKA