Journal of Elementary Education : Strategies. Innovations. Curriculum and Assessment Volume 2 . November 2025, pp. E-ISSN : 3047-9398. DOI: https://doi. org/10. 61580/jeesica. Open Access: https://journal. id/index. php/jeesica/index Pengaruh Media Puzzle Terhadap Pemahaman Konsep Pecahan Siswa SD Kelas IV Kania Ekawati1*. Agus Kuncoro2. Ihrom Jaelani3 1,2 PGMI. STAI Putra Galuh Ciamis. Jawa Barat. Indonesia 3 Perbankan Syariah. STAI Putra Galuh Ciamis. Jawa Barat. Indonesia *Email: ekania64@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRAK Article history Pemahaman konsep pecahan memiliki peranan pentng dalam mengembangkan kemampuan berpikir sistematis siswa, karena melibatkan pemahaman bagian terhadap keseluruhan, perbandingan nilai, dan operasi hitung yang logis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media puzzle terhadap pemahaman konsep pecahan siswa SD kelas IV. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pre-eksperimen dengan design one group pretest-posttest, dengan sampel 20 siswa. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest. Instrumen yang digunakan berupa soal tes yang disusun berdasarkan indikator pemahaman konsep pecahan. Kemudian hasilnya dianalisis dengan uji normalitas shapiro-wilk. Hasil uji normalitas menunjukan nilai . retest p=0,247. posttest p=0,. Kedua nilai tersebut melebihi 0,05, sehingga data berdistribusi normal. Berdasarkan uji paired-sample test diperoleh nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-taile. sebesar 0,000 . < 0,. yang menandakan adanya pengaruh yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan media puzzle berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman konsep pecahan. Media puzzle mempermudah siswa dalam memahami pecahan melalui pendekatan visual dan konkret. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar pendidik secara konsisten menerapkan media pembelajaran yang kreatif, seperti media puzzle dalam mengajarkan materi yang bersifat abstrak. Sekolah juga diharapkan menyediakan fasilitas pendukung agar kegiatan pembelajar lebih efektif dan menyenangkan. Received: 2 Juni 2025 Revised: 14 Juni 2025 Accepted:29 November Kata Kunci: media puzzle, pemahaman konsep pecahan, sekolah dasar Keywords: puzzle media, fractions, elementary Understanding the concept of fractions plays a role in developing students' systematic thinking skills, as it involves understanding parts in relation to the whole, comparing values, and logical arithmetic operations. This study aims to determine the effect of puzzle media on fourth-grade elementary school students' understanding of the concept of fractions. The method used in this study was a pre-experiment with a onegroup pretest-posttest design, with a sample of 20 students. Data were collected through pretest and posttest. The instrument used was a test consisting of questions based on indicators of understanding of the concept of fractions. The results were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test. The normality test results showed values of . retest p=0. posttest p=0. Both values exceeded 0. 05, indicating that the data were normally distributed. Based on the paired-sample test, a significance value (Asymp. Sig. 2-taile. < 0. was obtained, indicating a significant effect. This proves that the use of puzzle media has an effect on improving the understanding of fractions. Puzzle media makes it easier for students to understand fractions through a visual and concrete approach. Therefore, it is recommended that educators consistently apply creative learning media, such as puzzles, in teaching abstract material. Schools are also expected to provide supporting facilities to make learning activities more effective and enjoyable. PENDAHULUAN Matematika adalah ilmu deduktif yang terorganisir dengan baik dan bersifat abstrak, namun dapat diimplementasikan di dalam kehidupan sehari-hari (Utami et al. , 2. Mempelajari matematika tidak sekedar meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, tetapi juga mengembangkan penalaran logis, kritis, dan sikap objektif, jujur, serta disiplin pada E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani siswa (Yuliandari et al. , 2. Oleh karena itu, penting untuk menjamin bahwa proses pembelajaran matematika dilakukan secara efektif dan menyenangkan sehingga siswa mengerti dan meguasai konsep yang diajarkan (Hasriana et al. , 2. Banyak siswa merasa takut terhadap matematika, khususnya materi pecahan, karena dianggap sulit dan kurang relevan, sehingga mengurangi minat dan kepercayaan diri mereka dalam memahaminya (Mahliza & Rahayu, 2. Salah satu ciri matematika adalah memiliki sifat abstrak. Pada umumnya, pemikiran siswa sekolah dasar masih didominasi oleh hal-hal yang bersifat nyata dan konkret, sehingga kesulitan memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak (Hasriana et al. , 2. Menyadari hal tersebut pemerintah Indonesia telah mengatur penggunaan alat bantu dalam pelajaran matematika di tingkat sekolah dasar melalui pedoman yang tepat. Hal ini diatur di dalam Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek. No 16 Tahun 2. yang menetapkan standar proses pembelajaran pada pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar (SD), dan pendidikan menengah. Peraturan tersebut menekankan bahwa proses pembelajaran harus interaktif, inspiratif, dan menyenangkan, serta mendorong partisipasi aktif siswa. Strategi yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui pemanfaatan media pembelajaran yang relevan dan efektif. Eksistensi media pembelajaran berfungsi sebagai salah satu faktor utama dalam membentuk pengalaman belajar yang transformatif dan berpusat pada subjektivitas serta kebutuhan individual siswa. Penggunaannya dapat membantu guru menyajikan materi secara menarik, sekaligus mempermudah siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak (Saryanti. Lebih lanjut, media berperan dalam membangun suasana belajar yang kondusif, memperdalam pemahaman, memantik motivasi, serta menghadirkan pengalaman pembelajaran yang interaktif dan bermakna (Pranata et al. , 2. Berdasarkn hasil observasi di SDN 1 Lumbungsari menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap konsep pecahan dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar masih terggolong Hal tersebut dilihat dari hasil evaluasi dengan rata-rata nilai siswa 58. Nilai tersebut kurang dari Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang harus mencapai 70. Masalah ini timbul karena siswa menganggap bahwa pecahan merupakan materi yang sulit, karena pembelajaran yang dilakukan masih bersifat abstrak dan minim penggunaan media Guru jarang menggunakan alat bantu yang sesuai, sehingga siswa kesulitan memvisualisasikan konsep pecahan dan menjadi kurang aktif selama proses pembelajaran. Sebagai upaya dalam mengatasi persoalan tersebut, diperlukan solusi strategis berupa media pembelajaran yang tepat guna untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran pada siswa sekolah dasar. Salah satu media yang memiliki relevansi tinggi adalah puzzle, yang berfungsi sebagai alat bantu edukatif yang mampu merangsang keterlibatan aktif peserta didik. Pemanfaatan perangkat pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik psikologis dan kebutuhan perkembangan anak yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar secara signifikan (Apriliani et al. , 2. Media Puzzle merupakan jenis media permainan yang melatih keterampilan kreatif dan konsentrasi anak, dan dapat dimainkan oleh anak-anak hingga remaja. Permainan ini dapat dimainkan oleh semua usia, tetapi tingkat kesulitan disesuaikan dengan usia pemainnya (Arni et al. , 2. Media puzzle sebagai salah satu permainan pembelajaran yang efektif untuk materi E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani pecahan terdiri dari beberapa bagian yang perlu disusun untuk membentuk gambar atau kata Media ini cocok untuk berbagai tingkat pembelajaran, karena dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan siswa (Islamiyah et al, 2. Efektivitas penerapan puzzle dalam pembelajaran telah dibuktikan melalui berbagai penelitian sebelumnya, yang menjadi landasan penting bagi penelitian ini. Penelitian pertama dilakukan oleh Hoban et al. , . dengan judul AuUpaya Meningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Pecahan dengan Menggunakan Media Puzzle Pecahan pada Siswa Kelas II SDN WegoknatarAy. Tujuan penelitian ini untuk mengukur pengaruh media puzzle terhadap hasil belajar matematika siswa kelas II SDN Wegoknatar. Metode yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan lesson study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media puzzle efektif meningkatkan prestasi belajar siswa serta mendukung kegiatan belajar mengajar matematika di sekolah tersebut. Penelitian kedua oleh Apriliani et al. , . dengan judul AuPengaruh Media Puzzle Terhadap Hasil Belajar IPA Konsep Rantai Makanan Pada Siswa Kelas V SDN 2 Urug Kota Tasikmalaya. Ay Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh media puzzle terhadap hasil belajar IPA pada materi rantai makanan siswa kelas V SDN 2 Urug. Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian quasi-experimen dengan desain pretest dan posttest control group. Berdasarkan hasil uji statistik, diketahui bahwa penggunaan media puzzle berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa, sebagaimana terlihat dari perbedaan skor antara pretest dan posttest. Penelitian ketiga, penelitian yang dilaksanakan oleh Maulana et al. dengan judul AuPengaruh Media Puzzle Wooden Terhadap Hasil Belajar Matematika Bangun Datar Siswa Fase A di SD Negeri 1 PolaganAy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media puzzle wooden berpengaruh pada hasil belajar matematika pada materi bangun datar siswa Fase Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimen . on desig. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan media puzzle wooden secara signifikan meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun datar siswa. Beberapa penelitian sebelumnya memiliki persamaan dengan penelitian ini karena samasama memanfaatkan media puzzle dalam pembelajaran. Perbedaannya terletak pada jenjang kelas, mata pelajaran, dan metode yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui pengaruh media puzzle terhadap pemahaman konsep pecahan siswa kelas IV SD, sementara penelitian terdahulu lebih banyak menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berfokus pada perbaikan proses pembelajaran, atau diterapkan pada materi yang berbeda seperti bangun datar. Pembaruan pada penelitian ini mengkaji pengaruh media puzzle sebagai permainan edukatif yang menciptakan pembelajaran interaktif untuk membantu siswa memahami konsep pecahan secara konkret. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk memberikan gambaran objektif, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih banyak memakai metode tindakan Selain itu, fokus penelitian terletak pada pengukuran hasil belajar siswa secara sistematis, bukan hanya aktivitas pembelajaran, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model pembelajaran berbasis permainan yang bermakna di sekolah dasar. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, peneliti mengajukan tiga rumusan masalah, yaitu: . Bagaimana pemahaman siswa kelas IV SD tentang konsep pecahan E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani sebelum menggunakan media puzzle? . Bagaimana pemahaman siswa kelas IV SD terhadap konsep pecahan setelah menggunakan media puzzle? . Apakah terdapat pengaruh media puzzle terhadap pemahaman konsep pecahan siswa kelas IV SD? Berdasarkan ketiga permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: . Untuk mengetahui pemahaman siswa kelas IV SD tentang konsep pecahan sebelum menggunakan media puzzle di kelas. Untuk mengetahui pemahaman siswa kelas IV terhadap konsep pecahan setelah menggunakan media puzzle. Untuk mengetahui pengaruh media puzzle terhadap pemahaman konsep pecahan siswa kelas IV setelah dilakukan pembelajaran menggunakan media puzzle. Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian, peneliti ingin melaksanakan penelitian dengan judul AuPengaruh Media Puzzle Terhadap Pemahaman Konsep Pecahan Pada Siswa Kelas IV SDAy. II. KAJIAN PUSTAKA Dalam kajian pustaka ini mengulas tiga aspek yaitu pemahaman konsep, media puzzle, dan penggunaan media puzzle dalam pembelajaran matematika. Ketiga aspek tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. Pemahaman Konsep Siswa Pemahaman konsep merujuk pada penguasaan materi secara menyeluruh, di mana siswa tidak hanya sekadar mengenali atau mengingat informasi, tetapi juga mampu menginterpretasikan kembali konsep tersebut dengan cara yang lebih mudah dipahami serta menerapkannya secara tepat dalam berbagai konteks (Fajar et al. , 2. Menurut Rahmawati & Roesdiana . pemahaman konsep adalah kecakapan siswa untuk mendeskripsikan suatu konsep dengan jelas dan komprehensif. Dalam hal ini, siswa tidak sekedar mengingat tetapi juga membangun pemahaman sendiri dengan menggali m akna dan asal-usul konsep tersebut. Memahami konsep sangat dibutuhkan bagi siswa dalam proses penyelesaian masalah matematika (Radiusman, 2. Selain itu, pemahaman konsep juga menjadi fondasi yang diperlukan siswa untuk menguasai berbagai bidang ilmu lainnya di luar matematika, sehingga berperan dalam memperluas kemampuan berpikir dan analitis mereka. Berdasarkan pendapat yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep merupakan aspek yang sangat penting dalam proses belajar. Siswa tidak hanya diharapkan menghafal fakta-fakta, tetapi juga mampu memahami, menjelaskan kembali, dan menerapkan konsep dalam mengatasi permasalah. Pemahaman konsep ini juga berperan penting dalam penguasaan berbagai bidang ilmu, termasuk matematika (Fajar et al. , 2019. Radiusman, 2020. Rahmawati & Roesdiana, 2. Kinach mengembangkan lima tahapan dalam mempelajari matematika, yaitu . Konten, . Konsep, . Pemecahan, . Epistemik, dan . Inkuiri. Dalam penelitian ini, fokus utama adalah pada pemahaman konsep, yaitu bagaimana siswa mengaitkan dan membangun pemahaman terhadap prinsip atau ide dasar dalam materi matematika, khususnya pada topik pecahan (Siregar, 2. Adapun Indikator pemahaman konsep terdiri dari : . menyatakan kembali konsep . memberikan contoh dan bukan contoh . mengklasifikasi objek-objek menurut konsepnya, . merepresentasikan dengan berbagai cara dari konsep, . menghubungkan konsep-konsep dalam matematika, dan . menerapkan konsep untuk menyelesaikan masalah sehari-hari (Murtiyasa & Sari, 2. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep merupakan kemampuan fundamental yang harus dimiliki siswa dalam proses pembelajaran, khususnya pada pembelajaran matematika. Pemahaman konsep tidak hanya menuntut siswa untuk mengingat informasi, tetapi juga untuk memahami, menjelaskan, mengaitkan, dan menerapkan konsep dalam berbagai situasi, termasuk dalam penyelesaian masalah sehari-hari. Melalui pemahaman konsep yang baik, siswa mampu membangun pengetahuan secara mendalam, berpikir analitis, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai bidang Dalam konteks pembelajaran matematika, seperti pada topik pecahan, pemahaman konsep menjadi dasar penting agar siswa dapat mengaitkan ide-ide matematika secara bermakna dan menggunakannya secara efektif dalam berbagai konteks kehidupan. Media Puzzle Menurut Kamus Bahasa Indonesia, puzzle merupakan sekumpulan gambar yang harus dibongkar pasang untuk kemudian disusun kembali. Puzzle membantu melatih kemampuan berpikir, kesabaran, serta kecepatan tangan siswa. Sebagai media pembelajaran yang menyenangkan, puzzle efektif untuk mengasah daya pikir dan mengurangi kebosanan saat belajar di kelas (Kartikasari et al. , 2. Media puzzle merupakan perangkat pembelajaran berupa permainan yang mendukung proses kognitif peserta didik dalam memahami gagasan, mengatasi persoalan, berinteraksi secara kolaboratif, serta melatih keterampilan motorik Media ini dapat diaplikasikan secara maksimal untuk pembelajaran di berbagai jenjang (Arni et al. , 2. Puzzle tergolong kedalam media visual karena melibatkan indera Sebagai media permainan, puzzle dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran matematika karena bersifat edukatif dan membantu mengembangkan keterampilan kognitif, motorik halus, kemampuan sosial, serta melatih kesabaran siswa (Siregar, 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dielaborasi bahwa puzzle merupakan media pembelajaran visual yang bersifat edukatif dan interaktif, mampu meningkatkan kemampuan kognitif, motorik, serta sosial siswa. Sebagai permainan yang menyenangkan, puzzle tidak hanya membantu siswa dalam memahami konsep pembelajaran secara lebih mudah, tetapi juga melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis. Penggunaan puzzle dalam pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran seperti matematika, dapat menciptakan suasana belajar yang menarik dan efektif, sehingga mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar (Arni et al. , 2025. Kartikasari et al. , 2024. Siregar, 2. Dalam penelitian ini, penggunaan media puzzle diawali dengan pemilihan materi yang sesuai, perancangan media berdasarkan isi pembelajaran, kemudian pembelajaran dilaksanakan secara individu dan kelompok, di mana siswa menyusun puzzle sebagai bagian dari kegiatan belajar dengan bimbingan guru. Setelah itu, siswa dievaluasi dan hasilnya dianalisis untuk mengukur pengaruh media puzzle terhadap pemahaman konsep pecahan. Berdasarkan ketiga paragraf di atas, dapat disimpulkan bahwa puzzle merupakan media pembelajaran visual yang efektif dan menyenangkan, berfungsi tidak hanya sebagai alat hiburan tetapi juga sebagai sarana edukatif yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif, motorik, sosial, serta keterampilan berpikir kritis siswa. Dalam konteks pembelajaran matematika, puzzle membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam melalui kegiatan interaktif dan kolaboratif. Melalui tahapan perancangan, penerapan, dan evaluasi E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani penggunaan media puzzle, guru dapat mengukur sejauh mana media ini berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman konsep, khususnya pada materi pecahan. Dengan demikian, puzzle dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang inovatif dan mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Penggunaan Media Puzzle dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar mencakup berbagai konsep dasar yang menjadi fondasi penting bagi pemahaman siswa di jenjang berikutnya. Salah satu materi yang cukup kompleks namun penting untuk dikuasai adalah pecahan. Materi pecahan mulai diperkenalkan sejak kelas i dengan pengenalan bagian dari keseluruhan, dan berkembang hingga kelas VI dengan materi membandingkan dan mengurutkan pecahan, mencari pecahan senilai, menyajikan pecahan dengan simbol dan gambar, serta melakukan operasi hitung pecahan seperti penjumlahan dan pengurangan (Hoban et al. , 2. Pecahan merupakan bilangan yang diperoleh dari hasil bagi dari suatu bilangan bulat dan bilangan asli di mana angka yang dibagi memiliki nilai lebih kecil daripada bilangan penyebut atau angka Bilangan pecahan berfungsi untuk menggambarkan jumlah bagian dari suatu benda utuh yang telah dibagi menjadi beberapa bagian dengan ukuran sebanding. Pecahan itu sendiri terdiri dari dua elemen, yaitu pembilang dan penyebut (Yuliandari et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dielaborasi bahwa pecahan merupakan salah satu konsep penting dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar yang berfungsi sebagai dasar bagi pemahaman matematika di jenjang selanjutnya. Materi pecahan tidak hanya mengenalkan bagian dari keseluruhan, tetapi juga mengajarkan siswa berbagai keterampilan seperti membandingkan, mengurutkan, menemukan pecahan senilai, serta melakukan operasi hitung. Dengan memahami bahwa pecahan terdiri atas pembilang dan penyebut yang merepresentasikan bagian dari suatu keseluruhan, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih konkret dan bermakna terhadap konsep bilangan dan hubungan antarbagian dalam kehidupan sehari-hari (Hoban et al. , 2023. Yuliandari et al. , 2. Media puzzle merupakan salah satu alat bantu yang dapat digunakan untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pecahan. Puzzle bersifat visual, interaktif, dan manipulatif, sehingga cocok digunakan oleh siswa SD yang masih berada pada tahap berpikir operasional Hal ini sejalan dengan teori belajar Dienes yang menekankan bahwa pembelajaran matematika baik disajikan melalui permainan. Menurut Dienes, permainan sangat membantu dalam memperjelas aturan dan memperkuat pemahaman konsep matematika, termasuk Penggunaan objek konkret dalam permainan akan lebih efektif jika dimanipulasi dengan tepat. Dalam pembelajaran pecahan, puzzle dapat disusun dalam bentuk potongan gambar yang merepresentasikan pecahan. Dengan menyusun potongan-potongan ini, siswa dapat melihat hubungan antar pecahan, mengenali bagian-bagian dari keseluruhan, dan memahami nilai masing-masing pecahan secara visual (Pranata et al. , 2. Penggunaan puzzle dalam pembelajaran menciptakan proses belajar yang menyenangkan, serta meningkatkan keaktifan siswa. Siswa aktif berdiskusi dan berkolaborasi dalam menyusun pecahan, sehingga konsep pecahan dapat dipahami dengan lebih mudah. Oleh karena itu, media puzzle dapat dimanfaatkan sebagai sarana efektif untuk pengajaran konsep pecahan (Hermiati et al. , 2. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pecahan merupakan konsep penting dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar yang memerlukan pemahaman konkret agar siswa mampu menguasainya dengan baik. Untuk mendukung pemahaman tersebut, media puzzle dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang efektif karena bersifat visual, interaktif, dan manipulatif, sesuai dengan tahap perkembangan berpikir operasional konkret pada siswa SD. Melalui puzzle, siswa dapat memahami hubungan antarbagian pecahan secara nyata, memperkuat pemahaman konsep melalui aktivitas bermain, serta meningkatkan keaktifan dan kerja sama dalam proses belajar. Dengan demikian, penggunaan media puzzle tidak hanya menjadikan pembelajaran pecahan lebih menarik dan menyenangkan, tetapi juga mampu meningkatkan pemahaman konseptual siswa terhadap materi tersebut. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah one-group pretest-posttest, di mana satu kelompok diobservasi tanpa pembanding, dengan pelaksanaan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelahnya (Sugiyono, 2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Lumbungsari yang berlokasi di Dusun Bungursari. Desa Lumbungsari. Kecamatan Lumbung. Kabupaten Ciamis. Penelitian dilakukan selama lima hari, dari 20Ae24 Mei 2025. Kegiatan meliputi pretest, pembelajaran menggunakan media puzzle, dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman konsep pecahan pada siswa kelas IV. Target/Subjek Penelitian Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV, yang berjumlah 20 orang dan dijadikan sampel menggunakan teknik sampel jenuh. Sampel jenuh merupakan metode pengambilan sampel yang mencakup semua anggota populasi apabila populasinya berukuran kecil (Sugiyono, 2. Prosedur Peneliti bertindak sebagai pelaksana eksperimen, merancang dan mengimplementasikan pembelajaran dengan media puzzle. Pretest dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengukur pemahaman awal, diikuti dengan proses pembelajaran, dan ditutup dengan posttest. Peneliti juga mengamati keterlibatan siswa dan pengaruh media puzzle dalam pembelajaran. Data. Instrumen, dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes untuk mengidentifikasi tingkat pemahaman konsep pecahan dalam pembelajaran matematika. Soal tersebut dirancang sesuai dengan indikator kemampuan konsep sebagai berikut. Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Indikator Pemahaman Item/Sub Indikator yang diukur Nomor Soal Konsep Menyatakan kembali suatu Siswa dapat menjelaskan dan 1,2,3,4,5 menyebutkan bagian-bagian dari E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani Merepresentasikan konsep Siwa mampu menyajikan pecahan 6,7,8,9,10 dalam berbagai bentuk dalam bentuk bentuk simbol matematis maupun gambar. Mengklasifikasi objek-objek Siswa mampu membandingkan 11,12,13,14, menurut konsepnya pecahan dengan menggunakan 15,16 simbol (<,>,=) dan mampu mengurutkan pecahan dari yang terkecil maupun sebaliknya. Menerapkan konsep untuk Siswa mampu menyelesaikan 17,18,19,20 masalah operasi sehari-hari pengurangan pecahan. Sumber : (Murtiyasa & Sari, 2. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul, data akan dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang diterapkan adalah paired t-test atau uji t-dependen, yang bertujuan membandingkan skor pretest dan posttest pada kelompok yang sama. Selanjutnya, analisis data meliputi uji normalitas dengan menggunakan shapiro-wilk, karena ukuran sampel relatif kecil kurang dari 50. Uji ini dilakukan guna menentukan jenis uji statistik yang tepat. Jika data menunjukkan distribusi normal, paired sample t-test dipilih. namun, bila data tidak terdistribusi normal digunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Pengujian homogenitas tidak diterapkan dalam penelitian ini karena biasanya digunakan sebagai persyaratan dalam independent sample t-test dan ANOVA yang memerlukan kelompok pembanding (Usmadi, 2. Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan tingkat signifikansi 0,05. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Dalam penelitian ini, media puzzle dirancang khusus untuk mendukung pembelajaran konsep pecahan melalui pendekatan visual dan interaktif. Media ini terdiri dari bentuk-bentuk geometri seperti lingkaran, persegi, dan persegi panjang yang dapat dibagi menjadi pecahan, serta dilengkapi dengan angka dan simbol pecahan yang dapat dibongkar pasang. Hal ini membantu siswa memahami hubungan antara gambar pecahan dan penulisannya dalam bentuk Pengumpulan data diambil dari hasil pretest dan posttest yang dikerjakan siswa. Pretest dilakukan untuk mengukur sejauh mana pemahaman awal siswa terhadap konsep pecahan sebelum diberi perlakuan dengan media puzzle. Posttest dilakukan setelah pembelajaran menggunakan media puzzle untuk mengevaluasi perkembangan pemahaman siswa. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran eksperimen dengan menggunakan media puzzle untuk memahami konsep pecahan disajikan dalam Tabel 2 berikut: Tabel 2. Kegiatan Pembelajaran No Hari/Tanggal Kegiatan Senin. Peneliti melaksanakan pretest kepada seluruh siswa kelas IV SDN 1 20 Mei 2025 Lumbungsari, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal siswa terhadap konsep pecahan sebelum diberikan pembelajaran menggunakan media puzzle. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Selasa, 21 Mei 2025 Rabu, 22 Mei 2025 Kamis, 23 Mei 2025 Jumat, 24 Mei 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani Peneliti melaksanakan pembelajaran dengan materi pecahan. Kegiatan diawali dengan penjelasan konsep dasar pecahan, pembilang dan penyebut. Peneliti menggunakan media puzzle untuk membantu siswa memahami pecahan sebagai bagian dari Siswa terlihat antusias dan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran difokuskan pada materi membandingkan dan mengurutkan pecahan. Peneliti menjelaskan cara membandingkan pecahan dengan penyebut sama. Media puzzle digunakan untuk memvisualisasikan ukuran pecahan, sehingga siswa lebih mudah memahami perbandingan nilai pecahan. Siswa terlibat aktif dalam diskusi yang dibantu dengan potongan puzzle sebagai alat bantu Pembelajaran difokuskan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan, baik dengan penyebut sama maupun berbeda. Peneliti menjelaskan langkah-langkah operasinya secara sistematis, dibantu dengan media puzzle untuk memvisualisasikan proses penggabungan dan pengurangan pecahan. Penelitian diakhiri dengan pelaksanaan posttest untuk mengukur pemahaman siswa setelah pembelajaran menggunakan media puzzle. Posttest dilakukan secara tertulis dengan soal yang sama seperti pretest dan dikerjakan siswa secara mandiri. Data Hasil Pretest dan Posttest Data hasil pretest dan postest dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Tabel 3. Hasil Statistik Deskriptif Data Pretest & Posttest Statistik Pretes Posttes Valid Mean 59,75 Median Mode Std. Deviation 9,66 8,65 Range Minimum Maximum Sum Berdasarkan tersebut rata-rata nilai pretest siswa sebesar 59,75 meningkat menjadi 83 pada Median nilai juga mengalami kenaikan dari 60 menjadi 80 begitu pula dengan modus yang naik dari 60 menjadi 80. Standar deviasi menurun dari 9,66 pada pretest menjadi 8,65 pada postes, menunjukkan bahwa hasil postes lebih seragam. Nilai terendah meningkat dari 45 menjadi 65 dan nilai tertinggi dari 75 menjadi 100. Secara keseluruhan, hasil postes menunjukkan peningkatan nilai dengan perbedaan nilai antar siswa yang lebih kecil, yang E-ISSN: 3047-9398 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani JEESICA Vol. November 2025 menunjukkan perkembangan pemahaman siswa terhadap konsep pecahan sesudah pembelajaran menggunakan media puzzle. Tabel 4. Data Distribusi Hasil Pretes dan Posttes Pretest Posttest Skor Kategori Frekuensi Presentase Frekuensi Presentase 0 - 20 Sangat Kurang 21 - 40 Kurang 41 - 60 Cukup 61 - 80 Baik 81 - 100 Sangat Baik Sumber : (Oktaviyana et al. , 2. Selain pada tabel di atas, dapat digambarkan pada gambar dibawah ini Pretes Presentase Posttes Presentase Pretes frekuensi Posttes frekuensi SANGAT KURANG KURANG CUKUP BAIK SANGAT BAIK Gambar 1. Diagram Batang Hasil Pretes Posttest Berdasarkan Tabel 4, saat pretest hanya 8 siswa yang termasuk dalam kategori baik, sedangkan 12 siswa berada pada kategori cukup. Setelah pembelajaran menggunakan media puzzle, jumlah siswa dalam kategori baik meningkat menjadi 11, dan 9 siswa masuk dalam kategori sangat baik. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa kelas IV SDN 1 Lumbungsari mengalami peningkatan pemahaman konsep pecahan. Setelah dilakukan analisis, tahap selanjutnya adalah uji normalitas untuk memastikan bahwa data berdistribusi normal sebagai syarat penggunaan uji statistik parametrik. Uji ini penting agar analisis data dapat dilakukan secara tepat dan hasilnya dapat dipercaya. Tabel 5. Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. Pretes ,110 ,200 ,941 ,247 Posttes ,186 ,069 ,961 ,571 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan nilai signifikansi 0,247 pada pretest dan 0,571 pada posttest. kedua nilai ini melebihi 0,05, sehingga data dianggap berdistribusi normal. Uji Shapiro-Wilk digunakan karena jumlah sampel kurang dari 50. Sehingga data tersebut layak untuk dianalisis menggunakan uji parametrik. E-ISSN: 3047-9398 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani JEESICA Vol. November 2025 Kemudian, untuk mengetahui pengaruh media puzzle terhadap peningkatan nilai siswa, selanjutnya dilakukan uji-t sebagai analisis statistik inferensial. Keputusan dalam pengujian ini mengacu pada nilai signifikansi . -valu. apabila p-value < 0,05, maka terdapat pengaruh yang signifikan, sedangkan p-value > 0,05 menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan. Tabel 6. Paired Samples Test Pair1 Pretes Posttes Mean 23,250 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Deviation Mean Lower Upper 5,200 1,163 -25,684 -20,816 Sig. -taile. -19,996 ,000 Hasil Paired Sample Test menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,000, yang berada di bawah nilai signifikansi 0,05. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa media puzzle memberikan pengaruh signifikan pada hasil pretest dan posttest. Dengan demikian, media puzzle terbukti berpengaruh positif terhadap pemahaman konsep pecahan siswa kelas IV SDN 1 Lumbungsari, dan hipotesis penelitian dapat dinyatakan diterima. Pembahasan Penelitian ini didasarkan dari rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep pecahan. Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang setiap siswa harus mempelajarinya. Pemahaman konsep yang kuat merupakan landasan penting dalam pembelajaran matematika. Kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk melatih keamampuan siswa agar siswa bisa melihat hubungan antara yang dipelajari di kelas dengan kegiatan sehari-hari (Wardany & Utami, 2. Pembelajaran matematika menggunakan media puzzle dapat dikatakan berhasil apabila siswa mampu menyelesaikan soal-soal tentang pecahan, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penelitian ini didasarkan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan media puzzle terhadap pemahaman konsep pecahan siswa kelas IV SDN 1 Lumbungsari. Sebelum menggunakan media puzzle, pemahaman konsep pecahan siswa kelas IV masih tergolong rendah dan belum merata. Berdasarkan hasil pretest, skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 75 dan skor terendah 45, dengan skor yang paling banyak muncul adalah 60. Ratarata nilai pretest sebesar 59,75 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memahami konsep pecahan dengan baik. Secara kategoris, sebanyak 60% siswa berada pada kategori AucukupAy dan 40% berada pada kategori AubaikAy, serta tidak ada siswa yang mencapai kategori Ausangat baikAy. Kondisi ini menggambarkan bahwa pembelajaran konvensional belum mampu mengoptimalkan pemahaman siswa terhadap konsep pecahan. Setelah diterapkan media puzzle dalam pembelajaran, terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil belajar siswa. Skor tertinggi pada posttest meningkat menjadi 100, skor terendah menjadi 65, dan skor yang paling banyak diperoleh siswa adalah 80. Rata-rata hasil posttest mencapai 83, yang menunjukkan peningkatan pemahaman konsep secara keseluruhan. Berdasarkan kategori, sebanyak 55% siswa berada pada kategori AubaikAy dan 45% pada kategori Ausangat baikAy, tanpa ada siswa di kategori rendah. Hasil ini membuktikan bahwa penggunaan media puzzle memberikan pengaruh positif terhadap pemahaman konsep pecahan siswa, karena media tersebut mampu membantu siswa belajar secara konkret, interaktif, dan menyenangkan. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani Berdasarkan uji normalitas Shapiro-Wilk memperlihatkan data pretest dan posttest terdistribusi normal . ilai signifikansi > 0,. Oleh karena itu, analisis dilanjutkan menggunakan uji parametrik paired sample test, dengan nilai signifikansi 0,000 (< 0,. , artinya terdapat pengaruh signifikan dari penggunaan media puzzle terhadap peningkatan skor Hal ini membuktikan bahwa media puzzle efektif membantu siswa memahami konsep Dengan demikian, media pembelajaran konkret seperti puzzle bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mendukung pembelajaran matematika, terutama pada materi pecahan. Beberapa penelitian sebelumnya memberikan dukungan untuk penelitian sekarang. Penelitian pertama oleh Hoban et al. , . hasil penelitian menunjukan penggunaan media puzzle terbukti berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas II di SDN Wegoknatar dan memberikan pengaruh positif pada proses pembelajaran matematika di sekolah tersebut. Selanjutnya, penelitian dilakukan oleh Apriliani et al. , . hasil penelitian menunjukkan media pembelajaran puzzle berpengaruh terhadap hasil belajar IPA konsep rantai makanan pada siswa kelas V SDN 2 Urug Kota Tasikmalaya terlihat dengan adanya perubahan nilai pretest dan posttest. Selanjutnya penelitian yang dilakuan Maulana et al. , . hasil penelitian menunjukkan penggunaan media puzzle wooden terbukti berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar matematika bangun datar siswa fase A di SD Negeri Polagan 1. Berbeda dari penelitian tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur secara sistematis pengaruh media puzzle sebagai permainan edukatif dalam membantu siswa memahami konsep pecahan secara konkret, serta menekankan pada hasil belajar, bukan hanya aktivitas pembelajaran. Penelitian ini memiliki unsur kebaruan . dibandingkan dengan penelitianpenelitian sebelumnya karena berfokus pada penggunaan media puzzle yang dirancang secara khusus untuk pembelajaran konsep pecahan di kelas IV sekolah dasar dengan pendekatan visual dan interaktif berbasis bentuk geometri. Media puzzle dalam penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai alat permainan edukatif, tetapi juga sebagai alat representasi konkret yang membantu siswa menghubungkan antara bentuk visual pecahan . eperti potongan lingkaran, persegi, dan persegi panjan. dengan simbol matematisnya . embilang dan penyebu. Selain itu, penelitian ini mengintegrasikan desain eksperimen kuantitatif dengan pengujian statistik inferensial . ji-t berpasanga. untuk membuktikan secara ilmiah pengaruh signifikan media puzzle terhadap peningkatan pemahaman konsep pecahan siswa. Hal ini menjadi pembeda dari penelitian sebelumnya yang lebih menekankan pada pengamatan aktivitas belajar atau hasil kualitatif. Penelitian ini juga menonjol karena menunjukkan bahwa media puzzle tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga memperkecil variasi nilai antar siswa, yang berarti pembelajaran menjadi lebih merata dan efektif. Dengan demikian, novelty penelitian ini terletak pada pengembangan media puzzle berbasis bentuk geometri yang diintegrasikan dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur peningkatan pemahaman konsep pecahan secara konkret, terarah, dan signifikan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebelum perlakuan mayoritas siswa berada pada kategori cukup dengan rata-rata nilai pretest sebesar 57,65. Setelah diterapkannya media E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Kania Ekawati. Agus Kuncoro. Ihrom Jaelani puzzle, terjadi peningkatan yang signifikan dengna rata-rata nilai postes 82,4 begitupun dengan peningkatan median, modus, hingga penyebaran nilai yang lebih seragam, serta seluruh siswa mencapai kategori baik dan sangat baik. Hasil uji paired samples test menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (< 0,. , menandakan adanya pengaruh yang signifikan pada hasil pretest dan posttest. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media puzzle terbukti membantu siswa memahami konsep pecahan secara konkret, menyenangkan, dan kontekstual melalui pembelajaran yang aktif dan visual. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar pendidik menggunakan media puzzle secara intensif dalam mengajarkan materi yang bersifat sulit dan abstrak, seperti pecahan, karena penggunaan alat bantu konkret dapat meningkatkan keterlibatan serta pemahaman Guru juga perlu mengembangkan kreativitas dalam merancang dan memanfaatkan puzzle yang mudah diakses serta relevan dengan materi pembelajaran. Selain itu, sekolah diharapkan menyediakan fasilitas dan sarana pendukung, termasuk media pembelajaran berbasis puzzle, guna menciptakan proses belajar mengajar yang lebih inovatif dan menarik. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai penggunaan media puzzle pada berbagai materi pelajaran lain, sehingga dapat diketahui sejauh mana efektivitas media ini dalam meningkatkan hasil belajar pada konteks pembelajaran yang REFERENSI