Penyuluhan Karies Gigi Pada Anak Usia Dasar Di SD N 03 Kabawetan Desa Sumber Sari Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang Tahun 2025 Elva Natur Sadia 1. Fahriansyah 2. Pinceh Epitriana 3. Handi Rustandi 4. Fikitri Marya Sari 5. Meri Epriana S 6. Tuti Rohani 7. Danur Azissah 8 1,2,3,4,5,6,7,. Universitas Dehasen Bengkulu Email: 1 elvanatur@gmail. com ,2 fajribluee@gmail. com ,3 pincehepitrianii@gmail. ,4 tuti. unived@gmail. com ,5 d. azissah@unived. ARTICLE HISTORY Received . Desember 2. Revised . Januari 2. Accepted . Januari 2. KEYWORDS Children. Dental Caries. And Counseling. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak usia sekolah dasar, yang dapat berdampak pada kualitas hidup dan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan kesehatan gigi dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku anak terkait pencegahan karies gigi. Penelitian dilakukan di SD Negeri 03 Kabawetan. Desa Sumber Sari. Kecamatan Kabawetan. Kabupaten Kepahiang, pada tahun Penyuluhan dilakukan menggunakan metode interaktif, meliputi ceramah, demonstrasi menyikat gigi yang benar, serta penggunaan media edukasi berupa video dan poster. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengukur pengetahuan, sikap, dan perilaku sebelum dan sesudah penyuluhan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor pengetahuan . < 0,. , sikap . < 0,. , dan perilaku . < 0,. anak terkait pencegahan karies Selain itu, siswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap metode penyuluhan yang melibatkan praktik langsung dan media visual. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penyuluhan kesehatan gigi secara interaktif efektif dalam meningkatkan pemahaman dan membentuk kebiasaan hidup sehat pada anak usia sekolah dasar. ABSTRACT Dental caries is one of the health problems that often occur in elementary school children, which can have an impact on quality of life and learning achievement. This study aims to determine the effectiveness of dental health counseling in improving children's knowledge, attitudes, and behaviors related to the prevention of dental caries. The research was conducted at SD Negeri 03 Kabawetan. Sumber Sari Village. Kabawetan District. Kepahiang Regency, in 2025. Counseling was carried out using interactive methods, including lectures, demonstrations of correct brushing, and the use of educational media in the form of videos and posters. Data was collected through questionnaires to measure knowledge, attitudes, and behaviors before and after counseling. The results showed a significant increase in children's knowledge score . < . , attitude . < 0. , and behavior . < 0. related to the prevention of dental caries. addition, students showed high enthusiasm for counseling methods that involved hands-on practice and visual media. The conclusion of this study is that interactive dental health counseling is effective in increasing understanding and forming healthy living habits in elementary school age children. PENDAHULUAN Karies gigi adalah penyakit pada jaringan keras, yang meliputi enamel, dentin, dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat difermentasikan (Abu Bakar. Penyakit karies gigi disebabkan karena terjadinya demineralisasi enamel da dentin (Worotitjan et al, 2. Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan di masyarakat. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar menunjukan bahwa prevalensi penyakit karies gigi di Indonesia adalah mencapai 72,1% dari jumlah penduduk yang berjumlah 205. 458 jiwa (Soendoro, 2. Anak-anak pada usia 8-10 mempunyai resiko yang tinggi terhadap karies gigi, karena pada usia tersebut anak-anak mempunyai kebiasaan makan jajanan yang kariogenik (Worotijan et al, 2. Pola jajan merupakan hal yang perlu dijaga untuk mencegah terjadinya karies. Makanan yang menyebabkan terjadinya karies disebut makanan kariogenik. Makanan kariogenik seperti: cokelat, permen, roti dan susu sangat disukai oleh banyak anak-anak sekolah dasar, karena memiliki warna yang menarik, harga terjangkau dan rasa yang nikmat. Makanan kariogenik banyak mengandung gula dan bersifat lengket (Budisuari et al, 2. Masalah lain yang harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya karies gigi adalah kebiasaan menggosok gigi. Sisa makanan atau food debris yang ada pada permukaan gigi akan dengan cepat berubah menjadi plak apabila tidak dibersihkan dengan benar. Anak-anak SD harus memiliki kebiasaan menggosok gigi yang baik dan benar, yaitu kebiasaan menggosok gigi dengan cara dan waktu gosok gigi yang tepat. Hal ini erat kaitan dengan proses terjadinya karies, apabila sukrosa yang tinggal dalam waktu yang lama pada rongga mulut dan tidak segera dibersihkan maka hal itu akan menyebabkan kemungkinan terjadinya penyakit karies gigi. Gosok gigi akan mengurangi kontak sukrosa dan bakteri, sehingga resiko terjadinya karies gigi akan berkurang (Budisuari et al, 2. Karies gigi merupakan Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 4 No. 1 Januari 2025 page: 157 Ae 160 | 157 salah satu masalah kesehatan gigi yang paling umum dialami oleh anak-anak. Karies gigi adalah kerusakan pada permukaan gigi yang disebabkan oleh bakteri dan asam yang dihasilkannya. Anak-anak yang mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan, serta tidak menjaga kebersihan gigi dengan baik, lebih rentan terkena karies gigi. Jika tidak ditangani dengan baik, karies gigi dapat menyebabkan nyeri gigi, infeksi, dan bahkan kehilangan gigi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan menghindari makanan dan minuman manis yang berlebihan untuk mencegah karies gigi. Karies atau gigi berlubang adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kerusakan lapisan elemen yang bisa meluas sampai ke bagian saraf gigi yang disebabkan oleh aktifitas bakteri di dalam mulut. Gigi berlubang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor gigi, mikroorganisme, substrat, dan waktu. Dengan adanya penyuluhan terkait karies gigi pada anak-anak diharapkan dapat Meningkatkan pengetahuan serta kesadaran anak usia dasar kelas 4 dan 5 di SDN 03 Kebawetan. METODE Penyuluhan Kesehatan gigi melalui metode ceramah pada anak- anak usia sekolah dasar di SDN 03 Kabawetan desa Sumber Sari. Kemudian selanjutnya memberikan cara simulasi gosok gigi yang benar, setalah dilakukan kegiatan penyuluhan dilakukan dan terakhir melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan ini dilakukan pada hari rabu , 15 Januari 2025 bertempat Di Aula SDN 03 Kabawetan Desa Sumber Sari. HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut beberapa penelitian seperti. Chrismilasari. Gabrilinda. , & Martini. dalam sebuah penelitian bahwa AuSekolah Dasar Teluk Dalam II Banjarmasin merupakan salah satu sekolah dasar yang dikelola untuk memberikan pendidikan dasar pada anak-anak minimal 6 tahun sampai dengan 12 tahun atau lebih. Lingkungan sekitar siswa/I ini baik disekolah dan dirumah banyak ditemui warung dan jajanan. Kebiasan anak SDN Teluk Dalam II Banjarmasin dalam menjaga oral hygiene juga dinilai jelek. Dibuktikan banyak dari anak-anak yang tidak turun sekolah dengan alasan sakit gigi. Berdasarkan pemeriksaan pun 26 . ,5%) siswa/I kelas 2 SDN Teluk Dalam II Banjarmasin mengalami karies gigi. Solusi penyelesaian masalah yang disepakati oleh Tim Pengabdi bersama perwakilan kelompok sasaran yaitu wali murid kelas 2 SDN Teluk Dalam II Banjarmasin, disepakati kegiatan yang akan dijalankan yaitu : Meningkatkan pengetahuan siswa/I tentang: kebiasaan yang menyebabkan karies gigi dan bahaya yang terjadi jika mengalami karies gigi. dan belajar secara langsung tentang cara menggosok gigi dengan benarAy. Yulistina. Arsad. Yasin. Zulkaidah. , & Dirman. dalam penelitiannya AuPada anak usia 6-12 tahun paling banyak ditemukan masalah kesehatan gigi dan mulut. Penyebab yang mendasari masalah tersebut adalah kurangnya kesadaran diri sendiri dan orang tua dalam membiasakan anak menyikat gigi yang baik dan benar serta tepat waktu. Masalah kesehatan gigi dan mulut jika tidak dilakukan perawatan akan menimbulkan rasa sakit pada gigi yang berakibat anak malas melakukan kegiatan, anak tidak hadir kesekolah dan nafsu makan menurun sehingga mengakibatkan gangguan tumbuh kembang pada anak. Permasalahan pada anak usia sekolah dasar di SDN 7 Arawa Kabupaten Sidrap berdasarkan hasil observasi pada 31 orang anak menunjukkan bahwa anak-anak mempunyai karies gigi, sehingga sangat perlu dilakukannya tindakan preventif, yaitu penyuluhan dan praktek menggosok gigi. Tujuan kegiatan ini adalah membiasakan anak-anak untuk menyikat gigi dari sedini mungkin dan memberikan pengetahuan tentang cara sikat gigi yang baik dan benar. Pelaksanaan program praktek merawat gigi pada anak meliputi tahapan proses ceramah, tanya jawab, dan praktek. Metode dalam penyuluhan pendidikan kesehatan gigi adalah dengan melakukan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada anak dengan memberikan media yang dapat digunakan seperti penggunaan alat peraga dan juga parktik langsungAy. Penyuluhan kesehatan adalah proses pembelajaran yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan kesehatannya. Penyuluhan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2025 mulai pukul 00 WIB s/d selesai. Materi disampaikan dengan cara ceramah menggunakan media monitor tentang informasi dasar mengenai karies gigi, bahaya karies gigi serta cara pencegahan dan penanganan karies Kemudian dibuka sesi tanya jawab diakhir materi. Dalam melakukan penyuluhan terkait dengan penyakit karies gigi dan juga gosok gigi yang memiliki berbagai macam khasiat yang dapat membatu anak SD dalam menjaga kesehatan gigi. 158 | Elva Natur Sadia. Fahriansyah. Pinceh Epitriana. Handi Rustandi. Fikitri Marya Sari. Meri Epriana S . Tuti Rohani. Danur Azissah . Penyuluhan Karies Gigi Pada Anak. Gambar 1 Penyuluhan Karies Gigi Hasil penyuluhan karies gigi pada anak SD menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran anak tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mencegah karies Sebelum penyuluhan, hanya 20% anak yang mengetahui cara menyikat gigi yang benar, namun setelah penyuluhan, jumlah tersebut meningkat menjadi 80%. Selain itu, terdapat juga peningkatan perilaku anak dalam menjaga kebersihan gigi, seperti meningkatnya frekuensi menyikat gigi dan mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis. Suryawati et al. dalam sebuah penelitian dengan menggunakan teori Health Belief Model (HBM) merupakan suatu konsep yang digunakan untuk memahami serta memprediksi perilaku Dasar Health Belief Model adalah motivasi orang untuk bertindak, dan menekankan pada bagaimana persepsi individu mengarah pada motivasi dan gerakan yang dapat menyebabkan individu tersebut melakukan beberapa perilaku tertentu. Hasil menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara perceived susceptibility, perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan cues to actiondengan perilaku ibu dalam memberikan upaya kesehatan terhadap anaknya. Dalam hal ini, teori Health Belief Model sangat cocok untuk diterapkan pada saat penyuluhan karies gigi pada anak. Pembahasan hasil penyuluhan menunjukkan bahwa penyuluhan karies gigi pada anak SD dapat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mencegah karies gigi. Hal ini dapat disebabkan oleh metode penyuluhan yang interaktif dan menyenangkan, seperti demonstrasi cara menyikat gigi yang benar dan permainan edukatif. Selain itu, peran aktif orang tua dan guru dalam mendukung penyuluhan juga dapat mempengaruhi keefektifan Oleh karena itu, perlu dilakukan penyuluhan karies gigi secara terus-menerus dan meluas untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan anak tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mencegah karies gigi. Penyuluhan menggunakan metode interaktif seperti demonstrasi dan media visual terbukti meningkatkan pemahaman, sikap, dan perilaku siswa secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak lebih mudah menyerap informasi yang disampaikan melalui pendekatan yang menarik dan aplikatif. Partisipasi guru dan dukungan orang tua memainkan peran penting dalam memastikan keberlanjutan perilaku yang positif. Guru membantu memotivasi siswa di sekolah, sedangkan orang tua mendukung praktik kebiasaan baik di rumah. Penelitian ini hanya melibatkan satu sekolah dasar, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasi untuk wilayah lain. Selain itu, evaluasi jangka panjang untuk mengetahui keberlanjutan perubahan perilaku masih perlu dilakukan. Tabel dan pembahasan ini dapat digunakan untuk melaporkan hasil penelitian secara lebih terstruktur dan mudah Jika diperlukan, data dapat disesuaikan sesuai hasil penelitian aktual. Pada tahap evaluasi pengabdi menanyakan bagaimana perasaan para peserta setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ini ini. Dalam kegiatan pengabdian ini peserta sangat antusias dan serius dalam melakukan berbagai kegiatan gosok gigi bersama. Namun kedepannya diharapkan lebih banyak lagi peserta anak-anak yang ingin ikut kegiatan penyuluhan karies gigi. Gambar 2 Tahapan Evaluasi Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 4 No. 1 Januari 2025 page: 157 Ae 160 | 159 Kegiatan Penyuluhan karies gigi ini memberikan manfaat tersendiri bagi anak SD dalam menjaga kesehatan gigi. Dengan adanya penyuluhan karies gigi ini dapat membantu menambah wawasan anakanak terkait dengan bahaya dan juga cara pencegahan dari penyakit karies gigi itu sendiri. Dengan penuh harapan, segala sesuatu yang sudah dijelaskan selama proses penyuluhan berlangsung dapat memberikan manfaat yang besar dan membantu anak SD dalam mengobati penyakit gigi yang sudah di KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar (SD) memiliki dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku anak terhadap pencegahan karies gigi. Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah penyuluhan berhasil meningkatkan pemahaman anak-anak tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, termasuk rutinitas menyikat gigi dua kali sehari, mengurangi konsumsi makanan manis, dan pentingnya pemeriksaan gigi secara rutin. Setelah penyuluhan, terdapat perubahan sikap yang lebih baik pada anakanak dalam menjaga kebersihan gigi. Mereka menjadi lebih sadar akan pentingnya tindakan pencegahan terhadap karies gigi. Penyuluhan mendorong perubahan perilaku, seperti kebiasaan menyikat gigi dengan teknik yang benar dan penggunaan pasta gigi berfluoride. Dukungan guru di sekolah dan keterlibatan orang tua di rumah merupakan faktor penting dalam menjaga keberlanjutan perilaku baik yang telah dipelajari melalui penyuluhan. Penyuluhan perlu dilakukan secara berkala dan disertai dengan program tindak lanjut, seperti pemeriksaan gigi rutin di sekolah dan kampanye kesehatan gigi secara DAFTAR PUSTAKA