Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 358-376 Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu e-ISSN: 2621-8135 p-ISSN: 2621-8151 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Desain Kurikulum Inovatif Pendidikan Agama Kristen Bagi Anak Tunagrahita di Sekolah Dasar Inklusif Novi Saria Harita,. * Angilata K. Halawa,2 Adelsi Kase,3 Marthinus Duryadi,4 Junihot M. Simanjuntak5 . Sekolah Tinggi Teologi Moriah. Indonesia *) Email: novi. saria33@guru. Diterima: 08 Mei 2025 Direvisi: 01 September 2025 Disetujui: 08 September 2025 Abstract This study aims to design an innovative curriculum for students with intellectual disabilities at Bukit Pengharapan Christian Elementary School by considering their characteristics. This study uses a qualitative method with a library approach. Observation is one of the methods used to obtain data. The urgency of this research lies in the urgent need to design an innovative curriculum specifically for Christian Religious Education subjects for students with intellectual disabilities in inclusive classes. The results of the study indicate the importance of an adaptive curriculum design that is able to accommodate the needs of students with intellectual disabilities through learning strategies, digital-based approaches, and individual assessments. The resulting innovative PAK curriculum design includes individual assessments, adaptive learning strategies, adapted learning media, a dynamic assessment system, and ongoing mentoring. Keywords: Curriculum Design. Christian Religious Education. Mentally Disabled. Abstrak Penelitian ini bertujuan merancang kurikulum inovatif bagi peserta didik tunagrahita di SD Kristen Bukit Pengharapan denan memperhatikan karakteristik peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Observasi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh data. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk merancang kurikulum inovatif khusus mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen bagi peserta didik tunagrahita di dalam kelas inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pentingnya desain kurikulum yang adapatif yang mampu CopyrightA2025. Novi Saria Harita. Angilata K. Halawa. Adelsi Kase. Marthinus Duryadi. Junihot M. Simanjuntak | 358 Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(Petrus Yuniant. kebutuhan peserta didik tunagrahita melalui metode strategi berbasis digital, dan penilaian individual. Desain ( Santy Sahartia. kurikulum inovatif PAK yang dihasilan mencakup, asesmen indivdual, strategi pembelajaran adaptif, media pembelajaran disesuaikan, sistem penilaian dinamis dan pendampingan berkelanjutan. Kata-Kata Kunci: Desain Kurikulum. Pendidikan Agama Kristen. Tunagrahita. Pendahuluan Pasal 31 ayat 1 dalam UUD 1945 menjelaskan bahwa semua rakyat Indonesia mempunyai peluang untuk menikmati Pendidikan tanpa terkecuali. Artinya pemerintah terus berupaya untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan universal meskipun banyak mengalami tantangan dari berbagai faktor dalam penyelenggaraannya, seperti kesetaraan, kebutuhan peserta didik, hak untuk kelanjutan dan menghargai pendapat peserta didik. 1 Guna mencapai pendidikan yang bermutu dan universal tersebut, maka sekolah-sekolah perlu memberlakukan pendidikan inklusif seperti yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional khususnya pasal 15 yang menegaskan bahwa pendidikan khusus atau inklusif merupakan pendidikan yang ditujukan kepada mereka yang memiliki kelainan atau yang memiliki intelengensi luar biasa. Pendidikan atau pembelajaran inklusif sendiri merujuk pada perspektif pembelajaran yang terbuka, di mana terdapat sikap menghargai Hak Asasi Manusia terutama dalam dunia pendidikan yakni semua peserta didik berhak untuk mendapatkan kesempatan guna menikmati layanan pendidikan tanpa harus memandang latar belakang keluarga, status sosial, fisik dan lainnya. 3 Kwon mengungkapkan bahwa pendidikan inklusif dapat terlaksana karena menerima pengaruh dari berbagai faktor, diantaranya adalah faktor Sumber Daya Manusia (SDM) serta faktor politik dan budaya itu sendiri. 4 Sedangkan Ainscow memberikan pendapatnya bahwa terealisasinya pendidikan inklusif dapat ditinjau kembali dengan mengimplementasikan suatu indeks yang dikenal sebagai index for inclusion yang mana secara konseptual indeks tersebut dikembangkan berdasarkan Juang dan Hidayata Sunanto. AuDesain Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Kelas Inklusif,Ay Jassi Anakku 17, no. : 47Ae55. Graces Maranata dkk. AuPenanganan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Tuna Grahita ),Ay KHIRANI: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 1, no. : 87Ae94. Khairuddin. AuPendidikan Inklusif Di Lembaga Pendidikan,Ay Jurnal Tazkiya Vol. 9, no. No. : 82Ae104. Kwon H. AuInclusion in South korea: The Current Situation and Future Directions. ,Ay International Journal of Disability. Development and Education 52 . : 59Ae68. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. tiga dimensi, yaitu dimensi budaya, dimensi kebijakan dan dimensi praktik. Kemudian, faktor pendukung lainnya adalah dengan menyediakan kurikulum bagi peserta didik ABK yang tentunya juga memiliki persamaan dalam tujuan kurikulumnya dengan peserta didik yang normal, yaitu sama-sama untuk membentuk perilaku peserta didik. Namun, bagi ABK memperoleh layanan pendidikan yang setara merupakan tantangan yang besar. Hal ini dikarenakan keadaan mereka yang memerlukan perhatian khusus dan penanganan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya, baik secara mental, fisik, emosional, sosial termasuk dalam perkembangan Sehingga, dalam pelaksanaannya, banyak lembaga pendidikan yang belum memiliki kurikulum yang mampu mengakomodasi kebutuhan spesifik anakanak tersebut. Salah satu ABK yang memerlukan kurikulum yang inovatif adalah peserta didik dengan tunagrahita di mana peserta didik memiliki kecenderungan kurang peduli terhadap lingkungannya, baik dalam keluarga maupun lingkungan Dengan kata lain, peserta didik tunagrahita memiliki hambatan akademik sehingga memerlukan kurikulum yang inovatif, yakni kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan khususnya sehingga peserta didik tersebut memiliki masa depan yang cerah seperti peserta didik pada umumnya. Berkaitan dengan kurikulum yang tepat bagi peserta didik ABK tunagrahita, maka isu tersebut telah dikaji oleh Sunanto dan Juang. Hasil dari penelitian menunjukkan pengetahuan pendidik SD tentang pendidikan inklusif cukup Sikap para pendidik cenderung positif dan dapat menerima pendidikan inklusif diterapkan di sekolah. 8 Selain itu, dalam penelitian Aslan juga dijelaskan bahwa kurikulum bagi peserta didik ABK sangat diperlukan. Sebab bagi peserta didik ABK, kekurangan atau keterbatasan yang dimilikinya bukanlah menjadi dalih untuk hidup tidak wajar, tetapi keterbatasannya tersebut harus dapat menunjukkan bahwa dirinya dapat hidup secara wajar dan juga memiliki keahlian atau keterampilan seperti yang dipunyai orang lain. 9 Dan terakhir berdasarkan kajian Fajra dkk, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa beberapa pendidik dan pemimpin sekolah memberikan penilaian mengenai pola kurikulum yang Ainscow M. AuUnderstanding the Development of Inclusive Education System. ,Ay Journal of Research in Educational Psycology 3 . : 5Ae20. Aslan. AuKurikulum Bagi Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ),Ay Jurnal Studia Insania 5, 2 . : 105Ae19. Maranata dkk. AuPenanganan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Tuna Grahita ),Ay 87Ae94. Sunanto. AuDesain Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Kelas Inklusif. Ay Aslan. AuKurikulum Bagi Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ). Ay Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(Petrus sudah Yuniant. relevan dan dapat dilaksanakan karena mencakup keterampilan ( yang Santysesuai Sahartia. dengan kebutuhan peserta didik ABK. Meskipun Sunanto dan Juang, maupun Aslan dan Fajra sama-sama membahas kurikulum bagi ABK di sekolah inklusif dan pandangan para pendidik mengenai pendidikan inklusif. Namun ketiga penelitian tersebut memiliki keterbatasan karena fokus kurikulum yang dibahas masih sangat umum atau tidak Hal ini menunjukkan adanya celah penting untuk penyusunan karya ilmiah ini yang mana karya ilmiah ini bertujuan untuk menyusun desain kurikulum inovatif untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen bagi peserta didik tunagrahita guna diterapkan di SD Kristen Bukit Pengharapan Dusun Balai Karangan baik secara teoritis maupun praktis dandapat dengan mudah diimplementasikan dalam pendidikan nyata sebab di sekolah tersebut terdapat beberapa anak yang mengalami hambatan secara akademik hampir di seluruh mata pelajaran termasuk dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen. Dalam hal ini, peserta didik tersebut belum mampu mencapai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun tujuan pembelajaran yang telah disusun oleh Metode Penelitian Penulis dalam hal ini memakai metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kepustakaan untuk menyelesaikan artikel ini. Sukmadinata menjelaskan bahwa penelitian kualitatif ialah strategi yang dipakai oleh peneliti dalam sebuah penelitian di mana diarahkan untuk menggambarkan dan menelaah suatu fenomena, peristiwa, aktivitas sosial dan lainnya baik secara perorangan maupun kelompok. 11 Hal yang serupa dengan itu juga diungkapkan oleh Ardianto bahwa pendekatan kualitatif ialah penelitian yang terpusat pada pengamatan fenomena serta inti dari fenomena yang sedang diteliti. 12 Penelitian dilakukan di SD Kristen Bukit Pengharapan yang beralamat di Jl. Lintas Sekayam. Kec. Sekayam. Dsn. Balai Karangan. Kab. Sanggau. Prov. Kalimantan Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dengan melakukan pengamatan dan memantau perkembangan anak serta menggali informasi dengan Melda Fajra dkk. AuPengembangan Model Kurikulum Sekolah Inklusi Berdasarkan Kebutuhan Perseorangan Anak Didik,Ay Jurnal Pendidikan 21, no. April 2. : 51Ae63, doi:10. 33830/JP. V21I1. Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Posdakarya, 2. ,1-326. AuMemahami Metode Penelitian Kualitatif,Ay diakses 23 Desember 2024, https://w. id/artikel/baca/12773/memahami-metode-penelitian-kualitatif. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. para rekan sejawat yang sekaligus berperan sebagai pendamping. Metode penelitian ini melakukan analisis deskriptif sehingga menghasilkan data secara deskriptif dalam bentuk tulisan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi terhadap peserta didik SD Kristen Bukit Pengharapan kelas 1 SD sebanyak 2 anak dan kelas 6 SD sebanyak 2 anak juga. Sedangkan sumber data sekundernya, penulis mengumpulkan data dengan berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, sumber online otoritatif lainnya. Langkah selanjutnya adalah penulis memilih topik yang jelas, melakukan kajian literatur menggunakan kata kunci yang tepat, mengevaluasi kriteria inklusi dan eksklusi, menganalisis temuan yang ada, mensintesis informasi untuk menyajikan pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang subjek yang diteliti. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan desain kurikulum inovatif bagi peserta didik tungrahita di SD Kristen Bukit Pengharapan Dusun Balai Karangan yang merespon tantangan fundamental dalam implementasi pendidikan inklusi. Temuan utama dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik mampu mengatasi keterbatasan pendidikan konvensional yang selama ini mengalami kesulitan mengakomodasi keragaman kebutuhan peserta didik. Hal ini dikarekan terdapat beberapa kesulitan yang dialami oleh peserta didik itu sendiri dan hal tersebut juga mempengaruhi guru ketika mengajar di kelas inklusif. Kesulitan yang dimaksudkan oleh peneliti adalah ketidakmampun peserta didik dalam menjawab pertanyaan sederhana dalam bentuk tulisan atau lisan, seperti: AuSebutkan cara Allah memelihara kamu!Ay. AuApa fungsi tangan?Ay. Berdasarkan hasil penelitian atau pengamatan penulis, peserta didik tersebut membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru dan guru harus berulang kali mengajukan pertanyaan sehingga mereka memahami maksudnya serta guru juga harus memberikan membimbingan dan stimulus untuk membantu peserta didik dalam menjawab Penelitian ini membuktikan bahwa modifikasi kurikulum berbasis inovatif dapat menjadi solusi efektif terhadap permasalahan adaptasi pendidikan. Khususnya yang dialami oleh peserta didik tunagrahita di mana kurikulum inovatif membantu peserta didik untuk lebih mudah memahami pertanyaan dari guru. 13 Hal Berdasarkan pengamatan penulis selama mengajar di kelas dan informasi dari rekan sejawat yang juga mengajar peserta didik yang tergolong tungrahita Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(Petrustidak Yuniant. ini tentunya lepas dari peran guru yang terus mengembangkan kompetensinya ( Santy Sahartia. guna memastikan keberhasilan penerapan kurikulum inklusif. Kemudian, penelitian ini mempertegas bahwa kurikulum inovatif harus menjadi alat yang memungkinkan bagi guru untuk memberikan pengalaman pendidikan kepada seluruh peserta didik tanpa terkecuali dengan pengalaman yang bermanfaat. Desain Kurikulum Desain atau design dalam bahasa Inggris berarti perencanaan, pola, bentuk dan model. Sementara kurikulum merupakan sistem rancangan dan pengaturan mengenai bahan ajar yang dapat diikuti dalam aktivitas belajar-mengajar dan interaksi bermaknadi dalam kelas. Maka desain kurikulum dapat dipahamai sebagai suatu susunan pola atau susunan model kurikulum yang disesuaikan dengan visi dan misi dari suatu instansi khususnya sekolah sebelum proses belajar-mengajar Sanjaya memberikan pendapatnya mengenai kurikulum, yaitu bahwa seseorang yang bertugas sebagai pendesain kurikulum harus ahli dalam membuat dan menyusun model kurikulum, kemudian mengkonstruksi dan melaksanakannya guna mewujudkan alternatis terbaik dalam pemecahan suatu problem dengan memakai sumber daya yang tersedia. Menurut Hernawan dalam bukunya yang berjudul AuPengertian. Dimensi. Fungsi dan Peranan KurikulumAy dijelaskan bahwa dalam sejarah Yunani, saat itu kurikulum hanya dipahami sebagai jarak yang harus dilintasi atau dilalui oleh seorang atlet pelari yang dimulai dari garis awal . sampai garis akhir . guna memperoleh medali atau sebuah pengakuan atau pengahargaan. Hal ini dikarenakan pada masa itu kurikulum dihubungkan dengan jenis olahraga, yaitu lari dan berpacu kuda di mana sebutan kurikulum berasal dari kata curi yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. 15 Lebih lanjut, sebutan kurikulum rupanya telah mengalami perkembangan khususnya dalam dunia pendidikan yang mana kurikulum dipahami sebagai sejumlah pelajaran atau mata kuliah yang harus dikuasai atau dicapai oleh seorang peserta didik dari awal hingga akhir program pelajaran untuk memperoleh ijazah sebagai bentuk pengakuan atau Wina Sanjaya. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: KENCANA, 2. , 65. Asep Herry Hernawan. AuPengertian. Dimensi. Fungsi dan Peranan Kurikulum,Ay dalam Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2. , 2. Nasution. Asas-asas Kurikulum (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 2. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Maka dari itu, istilah kurikulum juga dapat dipahami sebagai gerak arah panduan atau strategi yang dapat menuntun pendidik, peserta didik maupun pemangku kebijakan guna mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa dalam tujuan pendidikan, peserta didik merupakan objek dari pendidikan itu sendiri. Oleh sebab itu, dalam pendidikan peserta didik harus menjadi pusatnya, mengingat efektivitas kurikulum yang dirancang ditentukan berdasarkan pencapaian mereka terhadap hasil Junihot menjelaskan bahwa kurikulum memiliki hubungan yang erat dengan pembelajaran atau baik kurikulum maupun pembelajaran tidak dapat dipisahkan . eduanya saling berkaita. Kurikulum tidak sekadar daftar isi bahan pelajaran yang harus dicapai atau dipahami oleh peserta didik melainkan juga terkait dengan masalah bagaimana isi atau mutu dari bahan pelajaran disajikan oleh pendidik kepada peserta didiknya supaya terjadi interaksi berharga atau bernilai guna mencapai tujuan pendidikan. Maka dari itu, sekarang ini kurikulum hendaknya tidak lagi dipahami hanya sebatas dokumen tertulis mengenai serangkaian isi materi pelajaran tetapi juga berbicara tentang pengalaman belajar yang berlangsung antara peserta didik dan pendidik. Hal yang sama dengan itu juga diungkapkan oleh Fred Percival dan Henry Enllington dalam tulisan Pusung bahwa desain kurikulum berkaitan dengan pengembangan proses perencanaan, validasi, implementasi dan evaluasi kurikulum. Kurikulum harus dirancang agar dapat membantu peserta didik mengembangkan perangai, kepribadian, pengalaman dan sikap demokrasi yang menjiwai kultur dan harus realistis, laik serta dapat diterima. 19 Dengan demikian, menurut hemat penulis desain kurikulum pada prinsipnya tidak lagi sebatas isi materi ajar yang harus dipahami atau dicapai oleh peserta didik melainkan juga mengandung unsur pembelajaran bermakna atau terdapat pengalaman belajar yang berkesinambungan yang diperoleh dari interaksi antara pendidik dan peserta didik. Udin Firman Hidayat dkk. AuDesain Kurikulum Sekolah Minggu Menurut Model Grassroots Rationale,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 5, no. : 269Ae91, doi:10. 34081/fidei. Junihot M. Simanjuntak. Desain dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Kristen (Yogyakarta: ANDI, 2. D M Pusung. AuDesain Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Bagi Jemaat KGMPI Getsmani Bahu Kota Manado,Ay A : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 2021, 88Ae99. Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(PetrusAgama Yuniant. Pendidikan Kristen ( Pendidikan Santy Sahartia. Agama Kristen (PAK) pada dasarnya memiliki perbedaan dengan pendidikan umum. Salah satu perbedaan itu adalah sumber pendidikan tesebut di mana pendidikan umum bersumber dari keluarga, lingkungan dan sekolah sementara Pendidikan Agama Kristen harus bersumber dari Alkitab atau firman Allah. PAK merupakan panggilan untuk melayani Tuhan dalam bidang pendidikan yang membagikan dasar pengajaran iman Kristen kepada peserta didik baik melalui keluarga, gereja bahkan sekolah. Dalam hal ini peranan pengajar atau pendidik sangat diperlukan guna mengatasi permasalahan yang ada di sekitar peserta didik. Lebih lajut lagi. Sutrisno juga mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang pendidik atau pengajar tidak hanya membutuhkan kualifikasi dari sebuah institusi jurusan pendidikan saja yang kemudian secara serta merta dapat mengajar di sekolah atau universitas atau akdemi tertentu melainkan seorang pendidik harus memiliki passion yang didukung oleh kemampuan yang layak bahkan memuaskan bahkan seorang pendidik haruslah seorang yang terus belajar untuk memperkaya wawasannya sehingga apa yang ia ajarkan menjadi senjata untuk peserta didik muridnya dapat berkarya. 21 Dalam pandangan sekolah. PAK termasuk salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan kepada peserta didik mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Adapun capaian yang harus dicapai dari mata pelajaran ini adalah membangun moral dan karakter peserta didik sehingga menjadi sesuai dengan tujuan pendidikan nasional 22 yang tentunya moral serta karekter yang dibentuk harus berlandaskan pada firman Allah. Berdasarkan pengertian di atas, menurut hemat penulis Pendidikan Agama Kristen dapat diartikan sebegai suatu strategi atau langkah untuk memperlengkapi peserta didik dengan wawasan iman yang berdasarkan pada firman Allah dan mempersiapkan peserta didik guna belajar mengerti dan merasakan setiap keadaan dalam bermasyarakat sehingga mereka mampu menyelesaikan permasalahan yang dialami serta dapat mengambil peran untuk menolong teman sebaya sebagai bagian dari tanggung jawab persekutuan dengan Yesus Kristus. Anen Mangapul Situmorang dan Alexander Naulus Rupidara. AuProposal Desain Kurikulum Pendidikan Agama Kristen (Pa. Dewasa Berpusat Pada Teknologi (TechnologicalCentered Desig. Di Gereja,Ay SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 4, no. 131Ae43, doi:10. 53687/sjtpk. Yusak Tanasyah. AuPsikologi Pendidikan Agama Kristen,Ay Moriah Press, 1 Januari 2023. Jurnal Teologi dkk. AuPenggunaan Media Teknologi Informasi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Masa Pandemi Covid-19,Ay Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. Oktober 2. : 63Ae75, doi:10. 46305/IM. V1I2. G13. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Peserta Didik Tunagrahita Peserta didik yang memiliki berbagai perbedaan dibandingkan dengan perserta didik pada umumnya digolongkan pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dalam hal ini. ABK bukan sekadar peserta didik dengan kecacatannya baik psikologis maupun fisik, namun juga berhubungan erat dengan layanan khusus yang dibutuhkan oleh peserta didik dengan kondisi yang berbeda dengan peserta didik lain pada umumnya. Peserta didik cerdas berbakat dan bakat istimewa (CiB. yang mana dalam kondisi ini juga memerlukan pertolongan atau penanganan yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya juga dapat dikategorikan sebagai ABK. 23 Triutari juga mengungkapkan bahwa ABK adalah peserta didik yang memiliki gangguan pada seperti mengalami kelainan fisik, mental, intelektual, sosial dan emosional. 24 Winarsih dkk dalam tulisan Sriasih juga memberikan beberapa contoh ABK, yaitu tunanetra, tunawicara, tunagrahita, down syndrome, tuna daksa, bibir sumbing dan tunarungu. Peserta didik tunagrahita ialah individu yang memiliki intelektual yang berada di bawah kata normal dan disertai dengan keterbatasan dalam penyesuaian perilaku yang muncul dalam masa perkembangannya. Grosmann dalam buku Wardani yang kemudian dikutip oleh Faisah dkk memberikan definisi mengenai peserta didik tunagrahita di mana gangguan ini mengarah pada fungsi intelektual umum yang secara mendasar berada di bawah kata normal bersamaan dengan ketidakmampuannya untuk menyesuaikan diri dan semua ini tampak pada masa 26 Atau ketunagrahitaan juga bisa dipahami sebagai kondisi yang mengalami masalah perkembangan yang akhirnya memengaruhi keterampilan seseorang dalam mengolah data, informasi dan belajar secara normal. Tingkat keparahan ABK tunagrahita dapat bervariasi mulai dari ringan hingga berat. Beberapa jenis tunagrahita berdasarkan tingkat IQ-nya, yaitu: pertama, tunagrahita Akhmad Syah Roni Amanullah. AuMengenal Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Grahita,Down Syndrom Dan Autisme,Ay Jurnal Almurtaja : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 1, no. : 7Ae12. Indah Triutari. AuPersepsi Mahasiswa Penyandang Disabilitas Tentang Sistem Pendidikan Segregasi Dan Pendidikan Inklusi,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus, no. September . : 221Ae Ni Kadek Sriasih dkk. AuSelf Care Agency Pada Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Luar Biasa,Ay Jurnal Riset Kesehatan Nasional 7, no. : 156Ae62, doi:10. 37294/jrkn. Septi Nur Faisah dkk. AuKesulitan Anak Berkebutuhan Khusus Tunagrahita dalam Belajar Mengenal Angka di SLB Bhakti Pertiwi Samarinda,Ay Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika. Universitas Mulawarman 3 . : 34Ae41. Eka. AuTunagrahita: Memahami Gangguan Intelektual yang Kompleks,Ay Redaksi Guru Inovatif, 2023. Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(Petrus Yuniant. IQ antara 50-70. Artinya IQ-nya hanya sampai pada tingkat ( Santy Sahartia. akademis yang dasar. Kedua, tunagrahita sedang memiliki IQ antara Artinya mereka hanya membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari. Ketiga, tunagrahita berat IQ antara 20-34, yaitu mereka diharuskan untuk mendapat pengasuhan dan pendampingan intensif dalam aktivitas sehari-harinya. Dan keempat, tunagrahita berat ekstrem yang IQ nya berada di bawah 20 sehingga dibutuhkan pengasuhan yang mendalam dan sokongan penuh dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, tunagrahita juga memiliki ciri-ciri sebagai berikut: . keterlambatan dalam mempelajari segala sesuatu, . mengalami keterlambatan dalam membaca, . mengalami masalah dengan penalaran dan logika, . mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah, . memiliki ketidakmampuan dalam berpikir kritis, . sulit mengingat, dan . mudah terganggu dan sulit untuk Dalam dunia pendidikan, kerap kali yang menjadi persoalan yang berkaitan dengan ABK, yaitu: . kurikulum yang sesuai, adil, seimbang dan relevan yang akan dipakai sebagai materi referensi dalam pembelajaran, . ketidakmampuan pendidik dalam meningkatkan kurikulum, . minimnya sarana dan prasarana untuk menyokong keberlangsungan pembelajaran dan . kesulitan pendidik dalam memberikan penilaian terhadap keahlian ABK itu sendiri karena tidak memiliki keahlian dibidang tersebut. Pendidikan Inklusif Peraturan Menteri Pendidikan Nasional atau yang dikenal dengan Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 pasal 1 sebagaimana telah dikutip oleh Khoiruman menjelaskan bahwa pendidikan atau pembelajaran inklusif ialah model pengelolaan pendidikan yang memberikan peluang kepada peserta didik yang mempunyai gangguan atau keterbatasan dan yang termasuk bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan di sekolah Aphroditta Nunung. Panduan Lengkap Orangtua dan Guru untuk Anak dengan Disklesia (Kesulitan Membac. (Jogjakarta: Javalitera, 2. , 45. Tim Medis Siloam Hospitals. AuTunagrahita (Disabilitas Intelektua. Penyebab dan Gejalanya,Ay 2024. Abdul Salim. AuPengembangan Model Modifikasi Kurikulum Sekolah Inklusif Berbasis Kebutuhan Individu Peserta Didik,Ay Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 16, no. : 21Ae34, doi:10. 24832/jpnk. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. secara bersama-sama dengan peserta didik lain pada umumnya. 31 Hal ini mengandung arti bahwa setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Maka dari itu, tidak perlu heran apabila pemerintah mendorong sekolahsekolah agar dapat memberikan layanan pendidikan yang sama bagi peserta didik yang berkebutuhan maupun yang berbakat, peserta didik jalanan, pekerja, peserta didik dari masyarakat terpencil atau berpindah-pindah tempat, peserta didik dari suku-suku berbahasa, etnik atau kaum minoritas dan peserta didik yang rawan termarjinalkan lainnya. Untuk dapat terjadinya atau terlaksananya belajar inklusif dalam proses pembelajaran di kelas, maka perlu memperhatikan hal-hal berikut: . memiliki pemahaman yang benar tentang konsep pendidikan inklusif . adanya keterbukaan atau penerimaan pendidikan inklusif oleh warga sekolah maupun publik atau masyarakat sebagai suatu rencana guna memberikan sarana pembelajaran yang efektif dan efesien bagi peserta didik ABK . pendidik memiliki keahlian untuk mengatur dan mengajar ABK . ketersediaan sumber daya di sekitar sekolah dan . adanya sokongan positif dari warga sekolah dan masyarakat sekitar maupun Selain itu, sekolah yang menerapkan pendidikan formal inklusif sudah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi peserta didik di mana mereka merasa disambut, menjadi bagian dari kelas tersebut dan saling menolong dengan pendidik dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. 34 Selanjutnya. Surnardi menjelaskan bahwa pendidikan inklusif harus menempatkan ABK yang tergolong pada tingkat ringan, sedang dan berat secara penuh di kelas umum. Dengan demikian, kelas umum atau kelas standar dapat dipahami sebagai ruang belajar yang signifikan bagi peserta didik ABK. 35 Maka daripada itu, pengelolaan pendidikan inklusif mewajibkan sekolah-sekolah untuk menyesuaikan diri baik dalam hal kurikulum, sumber daya Khoiruman Khoiruman. Wilda Azka Fikriyy, dan Moh Ahsan Shohifur Rizal Rizal. AuDesain Kurikulum Pendidikan Berbasis Inklusi Adaptif Merdeka,Ay Gahwa: Journal of Islamic Education 2, no. : 1Ae15. Sue Stubb. Inclusive Education Where There Are Few Resources, . ) Susi Septaviana R. Pendidikan Inklusif Ketiha Hanya ada Sedikit Sumber (Bandung: UPI Press, 2. Afdal Afdal . AuAn Analysis of Phubbing Behaviour: Preliminary research from counseling perspective,Ay 15 April 2019, doi:10. 2991/ICETEP-18. Sunanto. AuDesain Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Kelas Inklusif. Ay Salim. AuPengembangan Model Modifikasi Kurikulum Sekolah Inklusif Berbasis Kebutuhan Individu Peserta Didik. Ay Sunardi. Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa (Jakarta: Didjed Dikti, 1. Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(Petrus Yuniant. pembelajaran yang harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta ( tersebut Santy Sahartia. sehingga tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Implementasi Desain Kurikulum Inovatif Pendidikan Agama Kristen Bagi Peserta didik Tunagrahita di SD Kristen Bukit Pengharapan Kurikulum sebagai suatu model dan sekaligus sebagai sarana guna mewujudkan tujuan Pendidikan yang tidak dapat dilepaskan dari peranan seorang 37 Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, kurikulum seharusnya tidak hanya berisikan keterampilan maupun keunggulan yang harus dicapai oleh peserta didik melainkan juga harus berkaitan dengan seluruh dimensi kehidupan peserta didik itu sendiri yang bertujuan untuk peningkatan martabat peserta didik itu Dalam hal ini, kurikulum bersifat integratif, artinya kurikulum sebagai suatu model pembelajaran yang menyeragamkan muatan pembelajaran dan mempertimbangkan realitas kehidupan peserta didik. Aktivitas pembelajaran akan tercapai apabila kurikulumnya dirancang, ditata dan dilaksanakan dengan baik dan Dengan demikian, secara sederhana kurikulum dapat dipahami sebagai bagian penting dan sangat krusial dari seluruh rancangan pendidikan yang mempunyai pengaruh pada arah dan tujuan peserta didik dalam lembaga Agar sekolah dapat melakukan pelayanannya dalam memberikan kesempatan bagi peserta didik ABK untuk memperoleh pendidikan maka diperlukan penyesuaian kurikulum dalam materi Pendidikan Agama Kristen di mana kurikulum tersebut diadaptasi dengan mempertimbangkan keahlian dan hambatan yang dimiliki peserta didik ABK tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Takdir bahwa kurikulum pendidikan inklusif menggunakan kurikulum sekolah regular yang kemudian diubah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan peserta didik ABK dengan memperhatikan kepribadian dan tingkat Model pembelajaran inklusi mengharuskan pendidik untuk membantu peserta didik dengan beraneka kebutuhan belajarnya. Variasi kebutuhan tersebut sebenarnya merupakan suatu hal yang wajar atau lumrah dalam kehidupan untuk dipenuhinya kebutuhan secara individual adalah hak asasi setiap orang. Hal ini juga Pendidikan Inklusif. AuMpki. ,Ay t. Stefanus Roy Arjuna Manurung dan Hasudungan Sidabutar. AuDesain Kurikulum Pendidikan Agama Kristen untuk Lansia: Pendekatan Kurikulum Deliberasi Jack Swacb,Ay Harati: Jurnal Pendidikan Kristen 4, no. : 78Ae97. Takdir. Pendidikan Inklusif (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2. , 168. Ibid. , 171. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. perlu berlaku bagi peserta didik yang tergolong ABK tunagrahita, di mana mereka juga memiliki hak asasi untuk dipenuhi kebutuhan belajarnya sehingga diperlukan kurikulum atau pembelajaran adpatif bagi mereka. Seperti halnya menurut pendapat Stainback dalam kutipan Sunardi telah memberikan definisi yang jelas mengenai pendidikan atau pembelajaran inklusif disekolahan, yaitu lembaga pendidikan yang mengakomodir semua peserta didik di dalam satu kelas yang setara maka lembaga pendidikan tersebut harus mampu menyiapkan program pendidikan yang laik, menarik tetapi juga harus memperhatikan keterampilan dan kepentingan setiap peserta didik serta sokongan yang diberikan oleh para pendidik agar peserta didiknya berhasil. Pembelajaran atau kurikulum inovatif ialah pembelajaran umum yang disesuaikan dan dirancang sebagaimana mestinya sehingga dapat ditekuni, dilaksanakan, diterapkan dan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pendidikan ABK atau dapat disebut juga sebagai proses pembelajaran alternatif. Dalam pembelajaran inovatif tersebut yang dirancang adalah pengelolaan kelas, program dan layanannya sehingga kebutuhan belajar ABK dapat terpenuhi. Artinya, saat pendidik membuat rancangan pembelajaran atau kurikulum pendidik tersebut harus memperhatikan sumber daya, situasi dan suasana belajar peserta didik. Pertimbangan-pertimbangan tersebut bertujuan untuk memaksimalkan hasil belajar yang ingin dicapai. Dalam penyesuaian kurikulum inovatif tersebut tidak harus sama untuk semua materi. Materi tertentu perlu diperbarui tetapi mungkin tidak perlu untuk materi lain. Peserta didik ABK tunagrahita memerlukan modifikasi hampir secara keseluruhan pada kompenen pembelajaran baik dari segi tujuan, isi, proses maupun Hal ini juga berlaku untuk kurikulum mata pelajaran PAK. Pendidik yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen perlu merancang atau memodifikasi kurikulum umum untuk peserta didik ABK tunagrahita dengan mempertimbangkan hal-hal di atas sehingga peserta didik ABK tunagrahita mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya serta mampu menikmati proses pembelajaran bermakna selama proses pembelajaran Dalam hal ini, pendidik PAK juga harus memperhatikan prinsip Aucinta dan kasih sayangAy sebagaimana yang telah dicontohkan Yesus ketika melayani peserta didik ABK tunagrahita sehingga peserta didik tunagrahita memiliki Khoiruman. Fikriyy, dan Rizal. AuDesain Kurikulum Pendidikan Berbasis Inklusi Adaptif Merdeka. Ay Sunardi. Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(Petrus Yuniant. dan kebutuhan belajarnya terpenuhi layaknya peserta didik ( Santy Sahartia. Pengembangan kompetensi dari suatu kurikulum haruslah mendapat perhatian dari berbagai pemangku kepentingan sebab kurikulum memiliki peranan yang penting, yakni sebagai alat Pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain terdapat harapan besar terhadap kurikulum, yaitu dapat memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di bangsa Indonesia terkhususnya di bagian pendidikan dengan menyiapkan peserta didik yang kompoten di bidangnya masing-masing lewat rancangan, implementasi dan tinjauan terhadap sistem pendidikan secara efektif, efesien dan berbobot. Lebih lanjut, pengembangan kompetensi kurikulum sepatutnya disesuaikan dengan tuntutan zaman dan kebutuhan peserta didik itu sendiri sehingga peserta didik tidak merasa diabaikan ketika kebutuhan belajarnya di sekolah tidak terpenuhi, termasuk peserta didik ABK. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kurikulum dalam suatu Satuan Pendidikan sangat penting bagi para pendidik dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pengajar sekaligus pendidik guna mencapai tujuan pendidikan yang telah diuraikan sebelumnya. Maka daripada itu seorang pendidik perlu melakukan peningkatan mutu pelaksanaan kurikulum baik dalam mata pelajaran umum maupun mata pelajaran PAK sendiri. Hal ini senada dengan ungkapan Kohlberg mengenai kurikulum, belakangan ini aktivitas pembentukan karakter pendidik disebut sebagai AuKurikulum TersamarAy . idden curriculu. Kurikulum Tersamar (Hidden Curriculu. merupakan kegiatan belajar di sekolah yang mana peserta didik mempelajari suatu meteri meskipun materi pelajaran tersebut tidak resmi dirancang oleh pendidik secara tertulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lainnya. Kohlberg juga menambahkan penjelasannya di dalam Kurikulum Tersamar kerap kali para pendidik tidak mengerti bahwa mereka sangat dekat dengan problemtika pendidikan karakter atau budi pekerti. Artinya para pendidik tidak mempunyai perspektif yang tepat dan benar tentang pendidikan budi pekerti dan mereka juga Yohana Silvia Rambe dkk. AuStrategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Adhd (Attention Deficit Hyperactivity Disorde. ,Ay Jurnal Ilmiah Multidisiplin 1, no. : 224Ae28. Ribka Baransano. AuPeningkatan Kualitas Implementasi Kurikulum Pak Sebagai Upaya Pengembangan Moralitas Bagi Pelajar,Ay LOGON ZOES: Jurnal Teologi. Sosial dan Budaya 2, no. : 59Ae82, doi:10. 53827/lz. Ibid. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. tidak pernah memperoleh suatu praktik dalam pendidikan budi pekerti tersebut. Maka para pendidik perlu memiliki kesadaran diri untuk meningkatkan kualitas pelayanannya dalam mempersiapkan silabus dan RPP sebelum proses pembelajaran di kelas dilaksanakan. Sehingga aktivitas belajar-mengajar antara pendidik dan peserta didik dapat berlangsung sebagaimana mestinya dan dengan demikian tujuan dari Pendidikan untuk memperbaharui tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk dari peserta didik, meningkatkan karakter dari peserta didik menjadi lebih baik dapat tercapai. Dari hal tersebut, penulis akhirnya mencoba untuk memberikan contoh desain kurikulum inovatif PAK bagi peserta didik tunagrahita di SD Kristen Bukit Pengharapan Balai Karangan guna mencapai tujuan pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pendidik atau pendidik mata pelajaran Pendidikan Agam Kristen perlu membuat perencanaan sebelum mengajar, yaitu membuat silabus dan RPP. Adapun silabus dan RPP dalam kurikulum ABK adalah sesuai dengan ketidakmampuan yang dialami oleh peserta didik. Dalam hal ini, pendidik perlu melakukan asesmen terlebih dahulu sehingga memiliki gambaran atau ide sebelum mengajar peserta didiknya. Contoh tabel: Desain kurikulum Inovatif PAK bagi ABK tunagrahita kelas 1 Tema Aku Ciptaan Allah yang Istimewa Tujuan Peserta didik mampu menyebutkan nama anggota Pembelajaran tubuhnya, seperti tangan, kaki, mulut, telinga dan Peserta didik mampu berdoa untuk diri sendiri dengan bahasa yang sederhana, seperti doa makan Sarana Prasarana Video animasi tentang anggota tubuh Foto diri sendiri Aktivitas Mewarnai gambar anggota tubuh Permainan mengambil barang untuk melatih Latihan berdoa dengan pendidik Lawrence Kohlberg. Tahap-tahap Perkembangan Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1. Baransano. AuPeningkatan Kualitas Implementasi Kurikulum Pak Sebagai Upaya Pengembangan Moralitas Bagi Pelajar. Ay Desain Kurikulum, . (Novi S. Harita. Angilata K. Halawa. A(Petrus Yuniant. Contoh tabel: Desain kurikulum Inovatif PAK bagi ABK tunagrahita kelas 6 ( SantyTema Sahartia. Aku Dipelihara oleh Allah Peserta didik mampu menyebutkan cara Allah memelihara mereka Tujuan Pembelajaran 2. Peserta didik mampu menunjukkan tindakan sederhana sebagai ucapan syukur atas pemeliharaan Allah Video ibu merawat anak yang sakit, bapak/ibu guru yang mengajar, dll Sarana Prasarana Gambar makanan, rumah, pakaian, dll Membuat kolase pemeliharaan Allah . ambar disediakan oleh gur. Menggambar anggota keluarga sendiri dan menceritakan hal-hal baik yang mereka lakukan. Aktivitas seperti: Ayah mengajak bermain, dll Membuat pohon syukur dengan menempel gambar yang mereka syukuri, misal: matahari, buah-buahan, dll Berdasarkan hal di atas, maka dapat dipahami bahwa desain kurikulum bagi ABK tunagrahita haruslah tepat dengan cara menggunakan media interaktif yang tepat juga guna mendukung keberlangsungan proses belajar-mengajar di kelas. Selain itu, pendidik atau pendidik PAK dapat mengembangkan permainan edukasi yang menarik dan interaktif agar memudahkan peserta didik untuk mengerti isi materi dan kebutuhan belajarnya juga dapat terpenuhi sebagaimana mestinya serta peserta didik juga menjadi antusias saat belajar di sekolah. Saran Penulis menyadari masih banyak keterbatasan dalam penelitian ini, seperti fokus hasil penelitian hanya untuk satu sekolah yang sekaligus adalah tempat di mana penulis mengajar serta fokus mata pelajaran hanya Pendidikan Agama Kristen. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk melibatkan lebih banyak lembaga pendidikan guna meningkatkan validitas eksternal temuan dan memastikan adaptabilitas desain kurikulum ini dalam berbagai situasi. Selain itu, juga dapat mengkaji lebih dalam dampak jangka panjang penerapan kurikulum inovatif terhadap perkembangan psikologis, sosial dan akademik peserta didik khususnya tunagrahita. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Simpulan Peserta didik tunagrahita merupakan individu yang mengalami kesulitan dalam mengingat materi pelajaran atau mengalami kesulitan untuk memahami materi ajar yang bersifat abstrak. Hal ini menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi guru untuk mengembangkan kompetensi khususnya dalam hal menciptakan atau mendesain sebuah kurikulum inovatif bagi peserta didik tunagrahita di dalam kelas inklusif sehingga kebutuhan belajarnya dapat Dengan adanya kurikulum inovatif, peserta didik tunagrahita akan merasa diperhatikan, diterima oleh warga sekolah. Selain itu, mempersiapkan materi ajar yang telah dimodifikasi dalam kurikulum inovatif, guru PAK juga harus mengajar peserta didik tunagrahita dengan penuh cinta dan kasih sayang seperti yang telah diteladankan oleh Yesus Kristus. Daftar Pustaka