Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. ,437-449 Penetapan kadar flavonoid ekstrak metanol kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. pada variasi konsentrasi pelarut menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis Determination of flavonoid levels of raru bark methanol extract (Cotylelobium lanceolatum Crai. on variations in solvent concentration using UV-Vis spectrophotometry method Kartika Zsaskia Nasution a. Anny Sartika Daulay a*. Ridwanto a. Haris Munandar Nasution a. a Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Kota Medan. Sumatera Utara. Indonesia. *Corresponding Authors: annysartika@umnaw. Abstract The use of plant-based traditional medicine remains a common practice in developing countries, with more than 80% of the population relying on it for healthcare and treatment. In Indonesia, natural medicines continue to be a primary choice for public health, aligning with local traditions and cultural practices. One such medicinal plant is raru bark, which possesses various pharmacological activities, including antidiabetic, astringent, antilaxative, antibacterial, antiseptic, antidiarrheal, and blood-clotting properties. This study aims to characterize the methanol extract of raru bark and determine its flavonoid content using UV-Vis The research stages included plant material processing, methanol extraction, characterization tests, macroscopic and microscopic examinations, phytochemical screening, and flavonoid Phytochemical analysis revealed that the methanol extract of raru bark contains flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids. Characterization tests showed that all evaluated parameters met the required standards. Flavonoid quantification was performed by determining the maximum wavelength of quercetin using UV-Vis spectrophotometry at different solvent concentrations. The results indicated that the total flavonoid content at a 96% solvent concentration was 1. 625 A 0. 153 mgQE/g, at 70% was 1. 318 A 0. mgQE/g, and at 50% was 1. 146 A 0. 006 mgQE/g. Keywords: Raru Bark. Flavonoids. UV-Vis Spectrophotometry. Traditional Medicine. Abstrak Penggunaan obat tradisional berbasis tanaman masih menjadi praktik umum di negara berkembang, dengan lebih dari 80% penduduk memanfaatkannya untuk menjaga kesehatan dan sebagai metode pengobatan. Indonesia, obat-obatan alami tetap menjadi pilihan utama dalam perawatan kesehatan masyarakat, sejalan dengan tradisi dan budaya setempat. Salah satu tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional adalah kulit kayu raru, yang diketahui memiliki berbagai aktivitas farmakologis, termasuk sebagai antidiabetes, astringen, antilaksatif, antibakteri, antiseptik, antidiare, dan agen penggumpal darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi ekstrak metanol kulit kayu raru serta menentukan kadar flavonoidnya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi pengolahan bahan tanaman, pembuatan ekstrak metanol, pemeriksaan karakteristik, analisis makroskopik dan mikroskopik, skrining fitokimia, serta penetapan kadar flavonoid total. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit kayu raru mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Uji karakterisasi menunjukkan bahwa seluruh parameter yang dianalisis memenuhi persyaratan standar. Penetapan kadar flavonoid dilakukan berdasarkan panjang gelombang maksimum kuersetin dengan metode spektrofotometri UV-Vis pada berbagai konsentrasi pelarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid total pada Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. pelarut dengan konsentrasi 96% adalah 1,625 A 0,153 mgQE/g, pada konsentrasi 70% sebesar 1,318 A 0,003 mgQE/g, dan pada konsentrasi 50% sebesar 1,146 A 0,006 mgQE/g. Kata Kunci: : kulit kayu raru, flavonoid, spektrofotometri UV-Vis, obat tradisional. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received: 30/12/2024. Revised: 09/03/2025. Accepted: 10/03/2025. Available Online: 10/03/2025. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Penggunaan obat tradisional di negara berkembang, terutama yang berbasis tanaman, telah menjadi praktik umum di masyarakat. Kira-kira lebih dari 80% penduduk di negara berkembang menggunakan obat tradisional ini untuk menjaga kesehatan dan sebagai metode pengobatan. Hal ini terkonfirmasi oleh penelitian yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, yang menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih mengandalkan obat-obatan alami yang berakar dalam tradisi dan budaya setempat . Penggunaan obat tradisional dilakukan dengan mengonsumsi ekstrak tanaman secara langsung, seperti dalam bentuk air rebusan, jamu, atau kapsul herbal. Di banyak negara berkembang, obat berbahan alami lebih diminati karena dianggap mampu mengurangi risiko efek samping dari obat berbahan kimia, terutama seiring dengan meningkatnya akses masyarakat terhadap informasi kesehatan . Ae. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan pengobatan secara tradisional yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita baik menggunakan daun, batang, kulit, akar, biji maupun buah dari tumbuhan tersebut. Seperti halnya masyarakat Tapanuli yang memanfaatkan kulit batang kayu raru sebagai obat dengan cara merebus beberapa gram kulit dan meminum filtratnya. Zat aktif yang terdapat pada tanaman raru yaitu flavonoid, saponin, dan tanin . Raru (Cotylelobium melanoxylon Pierr. merupakan salah satu kelompok tumbuhan hutan tropis endemik Indonesia yang termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Raru dikenal sebagai jenis kulit kayu yang sering ditambahkan ke dalam nira aren untuk meningkatkan cita rasa serta kadar alkohol pada minuman Masyarakat di Sumatera meyakini bahwa kulit kayu raru memiliki potensi sebagai obat Selain itu, penelitian terhadap empat jenis pohon raru, yaitu Cotylelobium melanoxylon Pierre. Shorea balangeran Symington. Cotylelobium lanceolatum Craib, dan Cotylelobium melanoxylon Pierre, menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung senyawa flavonoid yang berperan dalam menurunkan kadar gula darah. Flavonoid adalah senyawa organik alami yang ada pada tumbuhan secara umum dan dapat digunakan sebagai antioksida, antikanker, antiinflamasi, antialergi, dan antihipertensi . Efek antioksidan senyawa ini disebabkan oleh penangkapan radikal bebas melalui donor atom hidrogen dari gugus hidroksil flavonoid . Flavonoid alami juga banyak memainkan peran penting dalam pencegahan diabetes dan komplikasinya . Senyawa flavonoid adalah senyawa polifenol yang penyebarannya terdapat pada bagian tumbuhan seperti biji, bunga, daun, akar dan batang Flavonoid memiliki karakteristik khas, yaitu sebagian besar berfungsi sebagai pigmen berwarna kuning, larut dalam air dan pelarut organik, serta mudah terdegradasi pada suhu tinggi. Beberapa jenis flavonoid dapat memiliki aroma khas, namun tidak semua Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. flavonoid memiliki bau yang tajam . Flavonoid diyakini dapat menurunkan kadar gula darah/diabetes,dengan cara menginhibitor enzim glukosidase, maltase dan amylase . Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini penting untuk dilakukan guna mengidentifikasi dan mengukur kadar flavonoid dalam ekstrak metanol kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. , yang kandungannya dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan jenis pelarut yang digunakan. Flavonoid memiliki sistem aromatik terkonjugasi yang memungkinkan penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu, sehingga menghasilkan pita serapan yang kuat pada daerah UV-Vis. Selain itu, flavonoid bersifat polar, sehingga kemampuannya dalam menyerap radiasi UV-Vis sangat bergantung pada jenis pelarut yang Flavonoid juga terdiri dari beberapa golongan dengan perbedaan struktur pada cabang atom C3, yang dapat memengaruhi karakteristik spektralnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar flavonoid dalam ekstrak metanol kulit kayu raru pada berbagai konsentrasi pelarut menggunakan spektrofotometri UV-Vis, serta mengevaluasi pengaruh variasi pelarut terhadap hasil analisis. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Farmasi Terpadu Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan pada periode Januari hingga Mei 2023. Rancangan penelitian ini meliputi pengumpulan dan pengolahan sampel kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. , yang kemudian diproses menjadi simplisia. Ekstrak kulit kayu raru dibuat menggunakan metode maserasi dengan pelarut metanol pada variasi konsentrasi. Selanjutnya, dilakukan uji skrining fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, triterpenoid/steroid, dan glikosida. Karakteristik simplisia juga diuji melalui analisis makroskopik, mikroskopik, kadar air, kadar sari larut dalam etanol dan air, serta kadar abu total dan abu tidak larut asam. Penetapan kadar flavonoid total dalam ekstrak dilakukan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan kuersetin sebagai pembanding. Variabel Penelitian Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. , sedangkan variabel terikat meliputi uji karakteristik simplisia, uji skrining fitokimia, dan penetapan kadar flavonoid total pada variasi konsentrasi pelarut menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Parameter Penelitian Parameter yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji makroskopik dan mikroskopik simplisia, kadar air, kadar sari larut dalam etanol, kadar sari larut dalam air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, serta identifikasi senyawa fitokimia seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, triterpenoid/steroid, dan Peralatan dan Bahan Bahan yang digunakan meliputi : ekstrak kayu raru, metanol p. a, aquadest, alkohol, kuarsetin, asam asetat anhidrat, asam klorida, asam nitrat, asam sulfat amil alkohol, besi . klorida, bismuth . nitrat, iodium, kalium iodida, klorofom, magnesium, natrium asetat, raksa (II) klorida, kuersetin, blako. Sedangkan Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seperangkat alat destilasi, rotary evaporator, kapas, tisu, botol berwarna gelap, aluminium foil, timbangan analitik camry, pipet tetes, gelas ukur pyrex, labu takar pyrex, batang pengaduk pyrex, erlenmeyer pyrex, corong pyrex, kertas saring whatman filter papers no. 41, spot plate sigma, seperangkat alat spektrofotometer uv-vis thermo scientific dan peralatan gelas yang umum digunakan di laboratorium. Pengambilan Sampel Sampel yang digunakan adalah kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. yang diambil dari daerah Aceh. Metode pengambilan dilakukan dengan cara purposive. Sampel diambil pada satu tempat atau daerah saja dan tidak membandingkan dengan daerah lain. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Identifikasi Tumbuhan Determinasi tumbuhan dilakukan oleh Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara terhadap kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. yang diteliti. Pengolahan Sampel Sampel kulit kayu raru dikering udarakan sebayak 2,5 kg, sampel yang telah dikeringkan lalu diserbukkan menggunakan blender dan diayak untuk menghasilkan ukuran 40-60 mesh,kemudian disimpan ke dalam wadah yang tertutup rapat. Pembuatan ekstrak metanol dengan cara maserasi Timbang masing-masing 300 g serbuk kulit kayu raru. Kemudian masukkan ke dalam 3 wadah maserasi, lalu diekstraksi dengan pelarut metanol dengan konsentrasi pelarut yang berbeda sebanyak 2250 Kemudian wadah maserasi ditutup dan disimpan selama 5 hari di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung sambil sesekali diaduk. Selanjutnya disaring dengan kertas saring dipisahkan antara ampas dan filtratnya sehingga diperoleh ekstrak metanol I, kemudian ampas tersebut kembali di maserasi dengan 750 ml metanol dan disimpan selama 2 hari di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung sambil sesekali diaduk, kemudian disaring dengan kertas saring dipisahkan antara ampas dan filtratnya sehingga diperoleh ekstrak metanol II. Ekstrak metanol I dan ektstrak etanol II dicampur dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator dengan suhu tidak lebih dari 50EE sehingga diperoleh ekstrak metanol,kemudian di pekatkan kembali di penangas air atau waterbath hingga memperoleh ekstrak kental. Uji Skrining Fitokimia Uji skrining fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. Metode yang digunakan meliputi uji alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, triterpenoid/steroid, dan glikosida. Penetapan Kadar Flavonoid Total Penetapan kadar flavonoid total diawali dengan pembuatan larutan kuersetin sebagai larutan baku. Sebanyak 25 mg kuersetin ditimbang dan dilarutkan dalam labu ukur 25 mL, kemudian ditambahkan metanol hingga tanda batas untuk menghasilkan Larutan Induk Baku I (LIB I) dengan konsentrasi 1000 AAg/mL. Selanjutnya, dipipet 5 mL dari LIB I dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL, lalu ditambahkan metanol hingga tanda batas untuk mendapatkan Larutan Induk Baku II (LIB II) dengan konsentrasi 100 AAg/mL. Untuk menentukan panjang gelombang maksimum kuersetin, dipipet 4 mL dari LIB II ke dalam labu ukur 10 mL. Kemudian, ditambahkan 0,1 mL AlClCE 10%, 0,1 mL natrium asetat 1 M, dan 2,8 mL aquadest. Larutan diencerkan dengan metanol hingga tanda batas, dihomogenkan, dan didiamkan selama 30 menit. Serapan larutan diukur pada panjang gelombang 400-800 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pembuatan operating time dilakukan dengan memipet 4 mL dari LIB II ke dalam labu ukur 10 mL . onsentrasi 40 AAg/mL). Larutan tersebut ditambahkan 0,1 mL AlClCE 10%, 0,1 mL natrium asetat 1 M, dan 2,8 mL aquadest, lalu diencerkan dengan metanol hingga tanda batas. Operating time diukur selama 60 menit pada panjang gelombang 400-800 nm untuk menentukan waktu optimal pengukuran serapan. Pengukuran Kurva Kalibrasi Kuersetin Ditimbang 25 mg kuersetin, dimasukan kedalam labu terukur 25 mL lalu ditambahkan metanol sampai tanda batas (C= 1000 AAg/mL) (LIB I). Kemudian dipipet 5 ml dari larutan induk baku I kedalam labu terukur 50 ml dicukupkan dengan metanol sampai tanda batas (C= 100 AAg/m. (LIB II). Kemudian dibuat seri kadar lalu dimasukan kedalam labu ukur 10 ml masing-masing dipipet 0,2 ml, 0,3 ml, 0,4 ml, 0,5 ml, dan 0,6 ml dari LIB II dengan konsentrasi 2 AAg/mL, 3 AAg/mL, 4 g/mL, 5 AAg/mL dan 6 AAg/mL lalu ditambahkan metanol sampai tanda batas. Dipipet sebanyak 1 ml dari masing-masing labu terukur dengan berbagai konsentrasi tersebut dan dimasukan kedalam labu terukur 10 ml kemudian ditambahkan 1,5 mL metanol, 0,1 ml aluminium klorida 10%, 0,1 mL natrium asetat 1M, dan ditambahkan 2,8 mL aquadest, ditambahkan metanol sampai tanda batas, dihomogenkan dan didiamkan selama waktu operating time . Diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum 400-800 nm . Ae. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Penetapan Kadar Flavonoid Total dari Ekstrak Metanol kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. Ekstrak metanol kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. ditimbang masing-masing 25 mg masukan kedalam labu terukur 25 ml ditambah metanol sampai tanda batas (C= 1000 AAg/mL), lalu dipipet 1 mL dimasukan kedalam labu terukur 10 mL kemudian ditambahkan dengan 1,5 mL metanol, 0,1 mL alumunium klorida 10%, 0,1 mL natrium asetat 1M, ditambahkan 2,8 mL aquades, lalu dicukupkan dengan metanol sampai tanda batas, dihomogenkan dan didiamkan selama operating time. Diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum 400-800 nm . Ae. Pembuatan Blanko Di pipet 1 ml dari masing Ae masing labu tentukur dengan berbagai kosentrasi tersebut di masukkan kedalam labu terukur 10 ml kemudian di tambahkan 1,5 ml metanol, 0,1 ml aluminium klorida 10 %. Perhitungan Kadar Flavonoid Kadar total flavonoid ekstrak metanol kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. dapat dihitung dengan mendistribusikan nilai absorbansi sampel kedalam persamaan garis regresi linear yang didapat pada kurva kalibrasi untuk mendapatkan konsentrasinya. Nilai konsentasi sampel yang didapat kemudian didistribusikan lagi kedalam rumus perhitungan sebagai berikut . Kadar flavonoid dalam sampel dapat dihitung dengan rumus : Dimana : C = Konsentrasi seyawa dalam larutan sampel (AAg/m. V = Volume larutan sampel . Fp = Faktor pengenceran W = Berat sampel . Hasil dan Diskusi Hasil Identifikasi Sampel Hasil identifikasi di Laboratorium Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara mengonfirmasi bahwa kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Spesies ini dikenal di Sumatra untuk khasiat obatnya dan memiliki potensi signifikan dalam kesehatan dan pemanfaatan bahan alam. Penelitian Rossa et al. menunjukkan aktivitas antioksidan dan toksisitas ekstrak kulit kayu raru, mengindikasikan potensinya sebagai bahan antikanker . Natasya et al. dan Afni et al. mengidentifikasi senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berkontribusi pada efek terapeutik terhadap malaria, diare, dan diabetes, sesuai dengan penggunaan tradisionalnya . Selain itu. Iswanto et al. mengungkap komposisi kimia kayu raru yang kaya akan selulosa, hemiselulosa, dan lignin, memperluas potensi pemanfaatannya dalam industri kesehatan dan konstruksi . Hasil Pengolahan Sampel Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. Berat serbuk kayu raru yang diperoleh adalah 900 g. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan menggunakan pelarut metanol, diperoleh ekstrak kental yang diperoleh pada konsentrasi 96% ialah 186,7670 gram dari 300 gram sampel (Rendemen 62,2%), pada konsentrasi 70% ialah 177,3211 gram dari 300 gram sampel (Rendemen 59,107%), pada konsentrasi 50% ialah 165,4134 gram dari 300 gram sampel (Rendemen 55,137%). Pemeriksaan Makroskopik Simplisia kulit Kayu Raru Pengamatan makroskopik dilakukan dengan cara mengamati secara langsung kondisi fisik dari kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. yang digunakan. Hasil pemeriksaan secara makroskopik kulit kayu raru dapat dilihat pada tabel 1. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 1. Pengamatan makroskopik kulit kayu raru Parameter Organoleptis Bentuk Karakteristik Berbentuk silinder Tebal : 3 cm Panjang : 21 cm Warna Bau Coklat Khas Pemeriksaan Mikroskopik Serbuk Simplisia Hasil pemeriksaan serbuk simplisia kayu raru secara mikroskopik terlihat adanya serabut sklerenkim,jari-jari empulur,dan jaringan gabus. Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia Karakterisasi merupakan satu langkah awal untuk mengendalikan mutu simplisia agar diperoleh bahan baku yang seragam dan akhirnya dapat menjamin efek farmakologi tanaman tersebut . Karakterisasi simplisia mencakup penetapan kadar air, kadar abu total, kadar abu yang tidak larut dalam asam, kadar sari yang larut dalam air dan kadar sari yang larut dalam etanol. Hasil karakterisasi simplisia kulit kayu raru pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia Kayu Raru. Parameter Perolehan Kadar (%) Kadar air Kadar abu total Kadar abu tidak larut asam Kadar sari larut air Kadar sari larut etanol 3,14% 0,29% 9,47% 17,98% Syarat MMI (%) (Menurut MMI Edisi VI,halaman 4,1. < 10% < 4,5% < 0,5% > 3% > 1% Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Berdasarkan data tabel 2, hasil pemeriksaan kadar air pada serbuk simplisia dilakukan untuk mengetahui kadar air yang terkandung dalam simplisia. Persyaratan kadar air simplisia umumnya tidak lebih dari 10%, karena jumlah air yang tinggi dapat menjadi media pertumbuhan bakteri dan jamur yang dapat merusak senyawa yang terkandung dalam simplisia . Hasil pemeriksaan karakterisasi kadar air yang diperoleh adalah 4%. Pemeriksaan kadar sari yang larut dalam air dan etanol pada serbuk simplisia bertujuan sebagai perkiraan kasar kandungan senyawa-senyawa aktif yang bersifat larut air dan senyawa aktif yang bersifat larut etanol . Hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia kulit kayu raru di peroleh kadar sari yang larut dalam air 9,47% sedangkan kadar sari yang larut dalam etanol 17,98%. Pemeriksaan kadar abu total pada serbuk simplisia kulit kayu raru dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa anorganik dalam simplisia dan diperoleh kadar abu total sebesar 3,14%. Hasil karakterisasi kadar abu yang tidak larut dalam asam dilakukan untuk mengetahui zat yang terkandung dalam sampel yang tahan terhadap asam, dan diperoleh kadar abu tidak larut asam sebesar 0,29% . Hasil Ekstraksi Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah maserasi dengan pelarut metanol pada tiga konsentrasi berbeda, yaitu 96%, 70%, dan 50%. Maserasi merupakan teknik ekstraksi yang sederhana dan sering digunakan karena prosesnya relatif mudah serta cocok untuk senyawa yang tidak stabil terhadap panas . Ae. Prinsip kerja maserasi melibatkan penetrasi pelarut ke dalam dinding sel, yang kemudian melarutkan senyawa aktif di dalam rongga sel. Adanya perbedaan konsentrasi antara zat aktif di dalam sel dan pelarut di luar sel menyebabkan zat aktif terdorong keluar menuju area dengan konsentrasi yang lebih rendah, sehingga meningkatkan efisiensi ekstraksi . ,29Ae. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstraksi bervariasi berdasarkan konsentrasi pelarut yang digunakan. Ekstrak dengan konsentrasi metanol 96% menghasilkan rendemen tertinggi, yaitu 186,7670 gram dari 300 gram sampel . ,2%), sementara konsentrasi 70% dan 50% masing-masing menghasilkan 177,3211 gram . ,107%) dan 165,4134 gram . ,137%) . Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi metanol, semakin besar rendemen yang diperoleh. Hal ini sejalan dengan teori bahwa pelarut dengan konsentrasi lebih tinggi memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melarutkan senyawa aktif . Ekstrak yang dihasilkan berbentuk cairan kental berwarna coklat kehitaman. Warna dan konsistensi ini menunjukkan kemungkinan adanya senyawa flavonoid dan fenolik, yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan tinggi, dalam ekstrak tersebut . Temuan ini didukung oleh studi sebelumnya yang menyatakan bahwa metode maserasi dengan variasi konsentrasi pelarut dapat meningkatkan aktivitas antioksidan senyawa yang diekstrak . Metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut metanol pada tiga konsentrasi berbeda terbukti efektif dalam menghasilkan rendemen yang signifikan serta ekstrak dengan karakteristik fisik yang mengindikasikan keberadaan senyawa aktif. Hasil ini menegaskan pentingnya pemilihan metode dan konsentrasi pelarut dalam menentukan kualitas dan kuantitas ekstrak yang dihasilkan . Skrining Fitokimia Hasil skrining fitokimia yang dilakukan terhadap serbuk simplisia,ekstrak metanol kulit kayu raru dapat dilihat pada table 3. Tabel 3. Hasil Skrining Fitokimia Kulit Kayu Raru Golongan Senyawa Alkaloid Mayer Bouchardat Dragendrof Flavonoid Tanin Saponin Triterpenoid Steroid Glikosida Serbuk Ekstrak Metanol Keterangan - : Tidak mengandung golongan senyawa : Mengandung golongan senyawa Berdasarkan tabel 3 hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan triterpenoid. Sedangkan pada uji glikosida tidak menunjukkan adanya golongan senyawa kimia tersebut. Pada uji alkaloid, penambahan HCl bertujuan untuk mengekstrak alkaloid yang bersifat basa dengan menggunakan larutan asam . Setelah dilakukan uji dengan penambahan pereaksi Dragendorff akan menghasilkan endapan berwarna kemerahan hingga jingga, pereaksi Mayer akan menghasilkan endapan berwarna putih kekuningan,sedangkan pereaksi bouchardat akan menghasilkan endapan berwarna coklat. Menurut Ditjen POM . alkaloid positif jika terjadi perubahan berupa kekeruhan atau endapan paling sedikit 2 dari 3 percobaan . Hasil skrining fitokimia terhadap serbuk dan ekstrak metanol kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. menunjukkan hasil positif untuk alkaloid dan flavonoid. Uji alkaloid dengan dua metode mengonfirmasi keberadaan senyawa tersebut, sementara uji flavonoid ditandai dengan terbentuknya warna merah kekuningan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa kulit kayu raru mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid dan flavonoid, yang memiliki potensi terapeutik. Penelitian oleh Natasya et al. juga mengidentifikasi flavonoid sebagai senyawa aktif utama, memperkuat potensi kulit kayu raru sebagai sumber senyawa bioaktif untuk aplikasi kesehatan . Ae. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil positif kandungan saponin dalam ekstrak metanol kulit kayu raru ditunjukkan dengan terbentuknya busa dan dapat bertahan tidak kurang dari 10 menit serta tidak hilang setelah penambahan HCl. Saponin memiliki glikosil sebagai gugus polar serta serta gugus steroid atau triterpenoid sebagai gugus non polar sehingga bersifat aktif pada permukaan dan membentuk misel saat dikocok dengan air. Pada struktur misel gugus polar menghadap keluar sedangkan gugus nonpolar menghadap kedalam,keadaan inilan yang tampak seperti busa . Hasil positif kandungan triterpenoid dalam ekstrak metanol kulit kayu raru ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu kemerahan. Menurut Sangi et al . prinsip ini berdasarkan pada kemampuan senyawa triterpenoid/steroid membentuk jika direaksikan dengan asam sulfat pekat dalam pelarut asam asetat anhidrat . ereaksi Liebermann-buchar. Pada uji tanin ekstrak metanol kulit kayu raru diperoleh hasil positif karena terbentuk warna hijau kehitaman. Hasil negatif kandungan glikosida dalam ekstrak metanol kulit kayu raru karena tidak terbentuknya cincin ungu pada larutan . Hasil Pengukuran Panjang Gelombang maksimum (Amak. kuersetin Pengujian flavonoid total diawali dengan pengukuran panjang gelombang maksimum dari larutan baku kuarsetin yang telah dicampur metanol p. a menghasilkan warna kuning dan dapat diukur menggunakan Spektrofotometer Visible dengan konsentrasi pertama 1000 AAcg/ml, kemudian dipipet 5 ml dari konsentrasi tersebut menjadi konsentrasi 100 AAcg/ml sehingga diperoleh panjang gelombang maksimum 438,06 nm dengan absorbansi 0,420. Menurut Fannsworth, 1966 keberadaan flavonoid dalam bahan uji dapat diketahui dengan menambahkan serbuk Mg dan HCl pekat kedalam ekstrak alkohol, akan berwarna jingga sampai merah apabila mengandung flavon, merah sampai merah tua (Flavano. , merah tua sampai magenta (Flavano. Pereaksi lain yang sering digunakan untuk identifikasi flavonoid adalah amoniak. NaOH. AlClCE, sitroborat akan memberikan warna kuning . Ae. Hasil Pengukuran waktu kerja (Operating Tim. Stabilitas warna larutan baku kuersetin cenderung kurang stabil, sehingga penentuan waktu kerja . perating tim. yang optimal menjadi faktor krusial dalam pengukuran spektrofotometri sinar tampak, mengingat absorbansi sangat dipengaruhi oleh perubahan warna larutan. Waktu kerja ditentukan dengan mengukur absorbansi larutan baku kuersetin yang ditambahkan metanol pada rentang panjang gelombang 400Ae800 nm. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa waktu stabilitas optimum terjadi pada menit ke-19 hingga ke-21. Penelitian oleh Ruhardi dan Sahumena mengungkap bahwa struktur kuersetin yang mengandung gugus keton dan hidroksil berkontribusi terhadap sifat absorbansinya. Oleh karena itu, pemantauan absorbansi dalam rentang 400Ae600 nm menjadi penting karena merupakan daerah di mana kuersetin menunjukkan serapan maksimum . Penelitian Hasanah dan Novian juga mendukung pendekatan ini, dengan menunjukkan bahwa kurva kalibrasi kuersetin menghasilkan persamaan linier dengan koefisien korelasi tinggi . ,9. , menegaskan pentingnya pemilihan waktu kerja yang tepat untuk memastikan hasil pengukuran yang akurat dan konsisten dalam analisis flavonoid. Hasil Pembuatan kurva kalibrasi kuarsetin Pembuatan kuva kalibrasi dilakukan dengan berbagai konsentrasi dari larutan baku kuarsetin yaitu 2AAg/ml, 3AAg/ml, 4AAg/ml, 5AAg/ml, 6AAg/ml yang telah dicampur dengan AlClCE, natrium asetat, quadest dan Masing-masing larutan diukur pada panjang gelombang 438 nm, maka diperoleh kurva kalibrasi hubungan Antara konsentrasi kuarsetin (AAg/m. dengan absorbansi yang diperoleh sesuai persyaratan yaitu 0,2 Ae 0,8 . , hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4. Persamaan regresi yang diperoleh dari larutan baku kuarsetin yaitu Y = 0,10870255 y 0,01696179 dengan koefisien korelasi yang diperoleh sebesar 0,997. Nilai linieritas menunjukkan korelasi Antara konsentrasi dan absorbansi yang dihasilkan. Hasil Analisis Kadar Flavonoid Total Ekstrak Metanol Kulit Kayu Raru pada Beberapa Konsentrasi Penetapan kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometri sinar tampak dengan reagen kuersetin merupakan metode yang efisien, praktis, dan banyak digunakan dalam penelitian. Kuersetin. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. sebagai senyawa flavonol yang paling umum, menyusun sekitar 60-75% dari total flavonoid yang ditemukan dalam berbagai buah dan sayuran . Metode ini memungkinkan analisis yang cepat dan akurat dengan penggunaan sampel yang relatif sedikit serta waktu pengerjaan yang singkat, menjadikannya sangat efektif dalam penelitian farmasi dan ilmiah . Kuersetin dikenal memiliki potensi antioksidan yang signifikan, yang berkontribusi dalam melindungi tubuh dari penyakit degeneratif. Aktivitas antioksidan ini terutama disebabkan oleh kemampuannya menangkap radikal bebas, yang dimungkinkan oleh posisi gugus hidroksil pada strukturnya . Penelitian oleh Islamiyati dan Saputri menunjukkan bahwa kuersetin efektif dalam menghambat peroksidasi lemak, memperkuat perannya sebagai senyawa antioksidan . Selain itu, studi oleh Solikah et al. efektivitas kuersetin dalam penetapan kadar flavonoid total menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 412 nm, dengan hasil yang konsisten dan akurat . Kuersetin juga memiliki sifat antiradikal yang kuat, terutama terhadap radikal hidroksil, peroksil, dan anion superoksida . Penelitian oleh Vifta et al. menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan kuersetin berkorelasi dengan pengurangan stres oksidatif, yang berperan dalam pencegahan penyakit neurodegeneratif dan penuaan dini . Dengan demikian, kuersetin tidak hanya berperan sebagai standar dalam analisis flavonoid tetapi juga sebagai kandidat potensial dalam aplikasi kesehatan. Tabel 4 Kurva Kalibrasi Kuarsetin Konsentrasi Absorbansi 0,000 0,222 0,377 0,475 0,564 0,638 Persamaan Regresi Y = 0,10870255 y 0,01696179 Berdasarkan tabel tersebut diperoleh kurva kalibrasi seperti ditunjukkan pada gambar 1. Gambar 1. Rentang kadar sebenarnya Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah metanol p. Dalam penggunaan metanol sebagai pelarut dikarenakan pelarut ini dapat melarutkan senyawa polar maupun non-polar sehingga sangat baik mengekstrak senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada sampel yang digunakan . Ae. Metode spektrofotometri dipilih karena kesederhanaan dan efektivitasnya dalam memberikan hasil yang andal. Penelitian terkini menunjukkan bahwa metode ini tidak hanya meningkatkan efisiensi laboratorium tetapi juga mendukung penemuan lebih lanjut dalam bidang nutrisi dan kesehatan . Dengan pendekatan yang tepat, kuersetin dan aplikasi spektrofotometri dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memahami peran flavonoid terhadap kesehatan manusia. Penetapan kadar flavonoid total dihitung dengan menggunakan persamaan garis regresi linier y= ay b yang diperoleh dari kurva kalibrasi larutan baku kuarsetin sehingga diperoleh konsentrasinya . kemudian disubsitusikan dalam rumus perhitungan kadar flavonoid total. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan dengan pengulangan sebanyak 6 kali dan diambil rata-ratanya seperti yang disajikan dalam tabel Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 5. Nilai Flavonoid Total Ekstrak Kulit Kayu Raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. Pada berbagai konsentrasi yaitu 96%, 70% dan 50%. Ekstrak metanol kulit kayu raru konsentrasi 96% konsentrasi 70% konsentrasi 50% Kadar sebenarnya 1,6253708001 A 0,1525691328 mgQE/g 1,3181102988 A 0,0028235572 mgQE/g 1,146106655 A 0,0063525695 mgQE/g Dapat dilihat bahwa hasil penelitian ekstrak metanol kulit kayu raru positif mengandung flavonoid. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisa dengan metode spektrofotometri Uv-Vis dengan masing-masing konsentrasi melakukan 6 kali pengulangan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kadar sebenarnya flavonoid total dalam sampel ekstrak metanol 96% adalah 1,6253708001 A 0,1525691328 mgQE/g, pada ekstrak metanol 70% adalah 1,3181102988 A 0,0028235572 mgQE/g, dan pada ekstrak metanol 50% adalah 1,146106655 A 0,0063525695 mgQE/g. Kadar flavonoid yang tertinggi dari ketiga konsentrasi ini adalah konsentrasi 96% komponen bioaktif yang terkandung didalamnya lebih banyak disbandingkan ekstrak metanol 70 dan 50%. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Crai. diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Analisis kadar flavonoid total pada ekstrak metanol menunjukkan bahwa konsentrasi pelarut berpengaruh terhadap kandungan flavonoid yang diperoleh. Pada konsentrasi 96%, kadar flavonoid total tercatat sebesar 1,6254 A 0,1526 mgQE/g, sementara pada konsentrasi 70% sebesar 1,3181 A 0,0028 mgQE/g, dan pada konsentrasi 50% sebesar 1,1461 A 0,0064 mgQE/g. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan langsung antara konsentrasi pelarut metanol dan jumlah flavonoid yang diekstraksi, di mana semakin tinggi konsentrasi metanol, semakin besar kadar flavonoid yang terdeteksi. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa variasi pelarut memengaruhi efisiensi ekstraksi flavonoid. Dari perspektif farmasi dan kesehatan, kandungan flavonoid yang lebih tinggi dapat meningkatkan potensi bioaktivitas ekstrak, terutama dalam aplikasi sebagai antioksidan dan agen terapeutik. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi aktivitas farmakologis ekstrak kulit kayu raru serta optimasi metode ekstraksi guna meningkatkan perolehan flavonoid secara maksimal. Conflict of Interest Para peneliti menyatakan bahwa studi ini dilakukan secara independen tanpa adanya keterlibatan konflik kepentingan, baik yang berasal dari pihak eksternal maupun kepentingan pribadi, finansial, atau profesional, yang berpotensi memengaruhi objektivitas dan kejujuran hasil penelitian. Acknowledgment Penulis menyampaikan penghargaan kepada Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah Medan atas dukungan fasilitas yang diberikan, sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan Supplementary Materials Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Referensi