JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 ANALISIS KEBIJAKAN REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP PENINGKATAN KEDISIPLINAN SISWA DI SMP ISLAM ASSHIDDIQ BONE Alif Alwaidin, 2Feny Wanda Waguna, 3Reisya Maharani, 4Arifah Lailatul Hikmah 1,2,3,4 Fakultas Tarbiyah IAIN Bone e-mail: alwaidinalif@gmail. ABSTRACT ABSTRACT This study looks at how reward and punishment policies help improve student behavior at SMP Islam Asshiddiq Bone. Good behavior plays a big role in how teaching and learning happens, and using rewards and punishments is meant to help students take responsibility for following school rules. The research uses a descriptive qualitative method, collecting data through interviews, observations, and document reviews. The findings show that rewards like the AuBest of StudentAy program and merit stars work well in encouraging students to behave properly. Punishments are given step by step, starting with warnings and then involving parents, and they are designed to teach students instead of using physical punishment. The policies are checked regularly through weekly meetings and daily discussions among teachers. This method has been effective, as seen by fewer rule-breaking incidents and more understanding from students about the effects of their actions. Issues like differences in characters between teachers and students are handled through close teamwork and individual attention. In the end, the success of the reward and punishment system depends a lot on how consistently it is used and the support from teachers, counselors, parents, and the whole school community. Keywords: Rewards. Punishments. Increased Discipline. PENDAHULUAN Dalam dunia pendidikan, kedisiplinan siswa merupakan aspek fundamental yang mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Upaya untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan tidak terlepas dari peran sekolah dalam merancang kebijakan yang efektif. Salah satu pendekatan yang umum diterapkan adalah kebijakan reward . dan punishment . Dengan sistem ini, perilaku positif siswa diberikan apresiasi, sedangkan pelanggaran dikenai sanksi sebagai bentuk pembinaan. Kebijakan ini diyakini mampu menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab siswa dalam menaati aturan yang berlaku di lingkungan sekolah (Astika et al. , 2. Menurut Hendrik Eko Prasetyo. Reward dan punishment memiliki pengaruh positif terhadap siswa yang kurang termotivasi belajar, serta membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam proses Reward, sebagai bentuk penghargaan yang menyenangkan, bisa memberi dorongan dan motivasi bagi siswa agar lebih tekun dan antusias dalam belajar, sehingga prestasi mereka meningkat. Sementara itu, punishment tidak hanya membantu menjalankan proses pendidikan dengan lebih lancar, tetapi juga bisa menjadi alat untuk mendorong dan menginspirasi siswa agar lebih berusaha dalam belajar. Reward adalah salah satu cara yang digunakan pendidik dalam proses belajar mengajar untuk mendorong, memotivasi, dan memberi semangat kepada peserta didik agar meningkatkan hasil belajarnya sesuai dengan harapan. Reward juga bisa memicu kompetisi antar siswa dalam berusaha JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 meraih hadiah yang diberikan karena pencapaian yang mereka capai. Meski ada berbagai pendapat, banyak orang menganggap reward memberikan manfaat yang baik bagi peserta didik, sehingga dianggap penting untuk diberikan sebagai penghargaan bagi mereka yang mencapai prestasi belajar yang tinggi. Punishment adalah tindakan yang diberikan berupa hukuman yang bertujuan untuk mendidik. Tindakan ini dilakukan agar peserta didik tidak melakukan kesalahan lagi dan tidak mengulanginya. Hukuman yang diberikan bukan dalam bentuk siksaan fisik atau mental, melainkan sebagai upaya untuk membawa siswa kembali ke jalur yang benar dan memotivasinya menjadi pribadi yang imaginatif, kreatif, dan produktif. Hukuman diberikan untuk meningkatkan kesadaran peserta didik agar mematuhi aturan dan meningkatkan rasa disiplin mereka. Hukuman yang diberikan bersifat mendidik dengan tetap tegas, namun tidak bertujuan untuk merendahkan harga diri peserta (Nailus SaAoadah. Deliani & Batubara, 2. Reward dan punishment, jika dilihat dalam konteks kedisiplinan dan prestasi siswa, sangat penting. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Penerapan sistem penghargaan dan hukuman adalah salah satu cara yang ampuh untuk menangani berbagai isu di institusi pendidikan, khususnya yang berhubungan dengan perilaku yang menyimpang. Perilaku penyimpangan pada siswa biasanya dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar, seperti lingkungan. Salah satu bentuk penyimpangan yang sering terjadi adalah ketidakdisiplinan saat proses belajar Ketidakdisiplinan ini dapat mengganggu prestasi belajar siswa yang cenderung Ketidakdisiplinan tersebut bisa terjadi karena kurangnya dukungan dan arahan dari pengajar, lembaga pendidikan, atau orang tua siswa. Lingkungan di sekitar juga memiliki peran yang signifikan dalam hal ini. Siswa yang tidak menerima dukungan dan arahan yang memadai terkait disiplin dan pencapaian akademik, sering kali cenderung mengambil tindakan yang tidak terarah. Pengajar atau lembaga yang secara aktif mendampingi siswa di setiap kegiatan pembelajaran seharusnya menjadi aspek yang sangat krusial dalam mengatasi masalah disiplin dan pencapaian akademik siswa. Selain itu, orang tua juga perlu ikut serta dalam mengawasi dan memperhatikan perkembangan anaknya (Rosyid & Wahyuni, 2. Kesenjangan muncul dalam aspek empiris ketika data dari lapangan menunjukkan bahwa respons siswa terhadap reward dan punishment berbeda-beda, tergantung pada latar belakang sosial, budaya, dan kepribadian masing-masing. Meskipun teori pendidikan biasanya memperumum cara siswa merespons bentuk-bentuk rangsangan tersebut, kondisi di lapangan sering kali tidak sama. Selain itu, tidak banyak penelitian yang mengeksplorasi bagaimana guru dan sekolah merancang serta menyesuaikan kebijakan reward dan punishment sesuai dengan keadaan nyata siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan antara teori dan praktik, serta memberikan kontribusi baru dari sisi empiris mengenai bagaimana kebijakan reward dan punishment dapat disesuaikan secara kontekstual agar benar-benar efektif dalam meningkatkan kedisiplinan siswa (Siti Nuraisah et al. , 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam mengenai penerapan kebijakan reward dan punishment serta dampaknya terhadap kedisiplinan siswa. penelitian ini dilaksanakan pada lokasi yang dipilih secara purposive, yaitu di SMP Islam, karena sekolah tersebut telah menerapkan sistem tersebut secara konsisten. Subjek penelitian Wakil kepala sekolah sedangkan objeknya adalah kebijakan reward dan JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 punishment beserta pengaruhnya terhadap kedisiplinan siswa. Untuk mengumpulkan data, digunakan teknik wawancara mendalam, observasi langsung. Analisis data dan informasi dilakukan dengan mengumpulkan hasil wawancara terstruktur serta dokumen yang relevan, kemudian mencari berbagai literatur dan jurnal penelitian yang berkaitan dengan objek yang Setelah data dikumpulkan, data tersebut ditelaah, dianalisis, dilakukan reduksi, disajikan, dan akhirnya dihasilkan kesimpulan. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh dan objektif mengenai efektivitas kebijakan reward dan punishment dalam meningkatkan kedisiplinan siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian di SMP Islam Assidiq, kebijakan reward dan punishment berjalan secara sistematis dan memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan disiplin siswa. Reward diterapkan melalui program "Best of Student" yang dilaksanakan setiap bulan. Penentuan siswa terbaik didasarkan pada penilaian berdasarkan rubrik yang mencakup perilaku disiplin, tidak terlibat dalam pelanggaran, serta kontribusi positif dalam berbagai kegiatan sekolah. Penilaian dilakukan secara objektif melalui jurnal kebaikan yang diisi oleh pengawas atau guru setiap hari. Di dalam jurnal tersebut, setiap tindakan positif siswa dicatat dan dirangkum secara berkala, lalu dilaporkan ke wakil kepala sekolah sebagai bahan evaluasi. Selain itu, bentuk reward lain seperti pemberian bintang prestasi kepada siswa juga digunakan sebagai bentuk motivasi agar mereka terus menjaga perilaku yang baik. Reward tidak hanya bersifat internal, tetapi juga dipublikasikan secara eksternal melalui media sosial sekolah seperti Instagram, sehingga memberikan dorongan tambahan bagi siswa lain untuk meniru perilaku baik yang ditunjukkan oleh temannya. Di sisi lain, hukuman diberikan secara perlahan dan berupa pembelajaran. Ketika seorang siswa melanggar aturan, langkah pertama yang diberikan adalah teguran lisan. Jika pelanggaran terus berulang, maka akan dilanjutkan dengan teguran tertulis, di mana siswa diminta untuk menulis pelanggaran yang dilakukan serta refleksinya sebagai bentuk pembelajaran. Apabila setelah diberi teguran tertulis, siswa masih melakukan pelanggaran, wali kelas akan melaporkan hal tersebut kepada wakil kepala sekolah dan menghubungi orang tua agar terlibat dalam pembinaan siswa Sistem hukuman ini didasarkan pada kategori pelanggaran, yaitu ringan, sedang, dan berat, sehingga penanganannya seimbang dan sesuai dengan tingkat pelanggaran. Tidak ada hukuman fisik seperti berdiri atau lari mengelilingi lapangan, melainkan hukuman yang lebih bersifat mendidik, seperti membersihkan lingkungan sekolah. Kebijakan reward dan punishment ini terbukti efektif, seperti terlihat dari indikator penurunan pelanggaran yang tercatat dalam jurnal pelanggaran yang diisi oleh wali kelas. Berdasarkan data yang dikumpulkan, dapat dilihat bahwa tingkat pelanggaran siswa cenderung Evaluasi terhadap kebijakan ini dilakukan melalui rapat mingguan yang melibatkan seluruh guru, baik wali kelas maupun guru mata pelajaran, untuk mendiskusikan efektivitas sistem tersebut. Selain itu, juga dilakukan briefing harian sebagai cara untuk merefleksikan dinamika yang terjadi di sekolah. Dari hasil wawancara dengan para guru dan kepala sekolah, diketahui bahwa indikator keberhasilan kebijakan ini mencapai sekitar 80%, ditandai dengan JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 menurunnya jumlah pelanggaran siswa dan meningkatnya motivasi mereka untuk berperilaku Respon siswa terhadap kebijakan ini beragam. Mayoritas menunjukkan respon positif, yaitu mereka menjadi lebih sadar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, baik berupa penghargaan maupun sanksi. Namun, ada sebagian siswa yang merespons secara negatif, terutama mereka yang belum terbiasa dengan sistem disiplin yang konsisten. Meski begitu, pendekatan yang dilakukan sekolah tetap menekankan pada pembinaan dan kesadaran diri siswa, bukan hanya pemberian hukuman. Secara keseluruhan, kebijakan reward dan punishment di SMP Islam Assidiq berjalan baik, terstruktur, dan memberikan dampak signifikan dalam membentuk karakter disiplin siswa. Pembahasan Reward dan Punishment dalam Pendidikan Islam Reward adalah cara untuk menghargai, memberi balasan, atau memberikan hadiah. Penghargaan atau hadiah ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kinerja baik dan benar yang telah dilakukan oleh seseorang. Reward adalah hasil yang diberikan sebagai penghargaan karena seseorang sudah melakukan sesuatu yang baik, benar, dan menguntungkan. (Febianti, 2. Menurut Ngalim Purwanto, reward cara yang dipakai untuk mengajarkan anak agar merasakan kebahagiaan karena tindakan mereka mendapatkan apresiasi. Penghargaan yang diberikan oleh pengajar kepada murid bertujuan untuk memberikan dorongan, sehingga hal ini akan memberikan efek baik bagi siswa karena umumnya murid sangat menginginkan hadiah dari guru sebagai pengakuan atas usaha yang telah mereka tunjukkan. Hadiah dapat muncul dalam berbagai jenis, seperti perlengkapan tulis atau novel. Di samping itu, jenis penghargaan lainnya bisa berupa pemberian medali atau sertifikat kepada murid (Fitriya et al. , 2. Punishment atau hukuman dapat dipahami sebagai suatu akibat yang masuk akal dan adil yang dialami seseorang karena melakukan perbuatan yang salah. Dalam ajaran Islam, istilah ini sering dijelaskan dengan kata 'Iqab' dan 'adzab', yang menggambarkan jenis pembalasan atau siksaan yang diterima sebagai akibat dari kesalahan atau pelanggaran terhadap norma yang ada (Firdaus. Muhammad Fauzi menyatakan bahwa hukuman merupakan tindakan yang dilakukan dengan sengaja, dimana tindakan tersebut diberikan kepada seseorang dengan tujuan agar ia sadar akan kelalaian yang telah ia lakukan, dengan harapan dapat memperbaiki dirinya sendiri. Esensi dari sistem reward dan punishment dalam pendidikan Islam adalah membentuk akhlak dan disiplin peserta didik dengan cara yang seimbang, yaitu menggabungkan motivasi dan koreksi. Agama Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan manusia pasti akan memperoleh balasan yang sesuaiAikebaikan akan mendapatkan pahala, sedangkan kesalahan akan mendapat peringatan atau hukuman yang bertujuan untuk memperbaiki. Dalam konteks pendidikan, reward atau penghargaan bertujuan mendorong siswa agar tetap berbuat baik, meningkatkan semangat belajar, dan membentuk karakter yang positif. Sementara itu, punishment atau hukuman bertujuan untuk memberikan efek jera dan menyadarkan siswa terhadap kesalahan yang telah dilakukan, bukan untuk menyakitinya. Dengan demikian, penerapan sistem reward dan punishment yang adil, konsisten, serta penuh kasih sayang selaras dengan prinsip tarbiyah Islamiyah, yaitu pendidikan sebagai sarana untuk membentuk kepribadian yang mulia (Setiawan, 2. JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 Implementasi Kebijakan dan Punishment di SMP Islam Asidiq Sistem reward dan punishment yang diterapkan di SMP Islam Assiddiqh adalah bagian dari upaya pembentukan karakter dan meningkatkan disiplin siswa secara terencana. Reward, sebagai bentuk penguatan positif, diterapkan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui program AuBest of StudentAy yang diberikan setiap bulannya kepada siswa yang terpilih. Pemilihan siswa terbaik tersebut tidak hanya didasarkan pada penilaian pribadi, melainkan melalui rubrik penilaian yang telah dibuat secara rinci oleh pihak sekolah. Rubrik ini mencakup indikator seperti tidak pernah melanggar aturan, aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, dan menunjukkan sikap serta perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, reward juga dimanifestasikan dalam bentuk pemberian bintang kebaikan, di mana setiap siswa akan memperoleh bintang sebagai apresiasi atas tindakan positif yang dilakukannya. Pengumpulan data mengenai pelanggaran dan kebaikan siswa dilakukan melalui jurnal pengawasan harian yang dibuat oleh pengawas dan guru, sehingga evaluasi berjalan terus-menerus dan dapat dipertanggungjawabkan. Data yang dikumpulkan kemudian dirangkum dan dilaporkan secara berkala kepada wakil kepala sekolah sebagai bagian dari pemantauan perkembangan perilaku siswa. Di sisi lain, punishment juga diberlakukan sebagai konsekuensi atas pelanggaran dengan prosedur yang jelas, mulai dari teguran lisan, teguran tertulis hingga pemanggilan orang tua, tergantung pada tingkat pelanggaran yang dilakukan. Sistem ini tidak hanya menciptakan rasa tanggung jawab dan disiplin, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki diri melalui cara yang adil dan terstruktur. Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi internal sekolah, sistem reward dan punishment ini telah terbukti efektif dengan indikator keberhasilan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian reward secara konsisten mampu menjadi penguat positif dalam membentuk perilaku siswa yang lebih baik dan mendorong mereka untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan demikian, reward bukan hanya sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga alat pendidikan karakter yang memotivasi siswa untuk berkembang secara positif di dalam lingkungan sekolah. Dampak dan Evaluasi Kebijakan terhadap Kedisiplinan Siswa Penerapan kebijakan reward dan punishment di lingkungan sekolah telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap peningkatan kedisiplinan siswa (Rosyid & Wahyuni, 2. Ini terlihat dari indikator keberhasilan yang disampaikan oleh pihak sekolah, yaitu mencapai sekitar 80% efektivitas dalam mengurangi jumlah pelanggaran. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari perubahan perilaku siswa yang mulai terjadi, di mana mereka tidak lagi mengulangi pelanggaran yang sama setelah menerima sanksi yang bersifat mendidik. Setiap kelas memiliki jurnal pelanggaran yang secara terus-menerus diisi oleh wali kelas, menjadi alat pemantauan yang sangat efektif dalam menilai perkembangan kedisiplinan siswa dari waktu ke waktu. Data dalam jurnal tersebut menunjukkan bahwa semakin lama, tingkat pelanggaran siswa cenderung menurun setiap bulan, menandakan bahwa kebijakan reward dan punishment mampu menciptakan kesadaran kolektif dalam diri peserta didik. Dalam pertemuan tersebut, para guru membahas seberapa jauh penurunan pelanggaran, serta mengevaluasi apakah kebijakan yang diterapkan masih relevan dan efektif untuk kondisi terkini. Selain itu, ada pula briefing harian yang menjadi sarana koordinasi yang singkat namun rutin. JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 untuk menyamakan pemahaman dan tindakan antar guru, agar tidak terjadi perbedaan perlakuan yang dapat membuat siswa bingung atau mengurangi ketegasan sistem. Namun, dalam penerapan kebijakan tersebut, berbagai kendala tetap muncul. Salah satu tantangan utamanya adalah dari sifat siswa itu sendiri. Tidak semua siswa merespons hukuman dengan cara yang segera mengubah perilaku mereka. Beberapa siswa masih mengulangi kesalahan meskipun telah diberi peringatan atau sanksi, menunjukkan bahwa keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada sikap dan karakter siswa itu sendiri. Selain itu, perbedaan tingkat ketegasan antar guru dalam memberikan hukuman juga menimbulkan kendala. Apabila satu guru tergolong tegas sedangkan yang lain lebih santai, siswa bisa memanfaatkan perbedaan ini untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan. Oleh karena itu, konsistensi dan kesamaan dalam menerapkan aturan menjadi hal yang penting dan terus dibahas dalam setiap forum evaluasi. Dalam hal penghargaan, reward diberikan secara terbuka dan berupaya membangkitkan semangat Contohnya adalah penghargaan AuBest of StudentAy yang diumumkan setiap bulan, bahkan dipublikasikan lewat media sosial sekolah seperti Instagram. Strategi ini terbukti efektif dalam menciptakan suasana kompetitif yang sehat bagi siswa, karena mereka merasa dihargai dan diakui atas perilaku baik mereka. Sikap dan disiplin siswa yang mendapat penghargaan tersebut bisa menjadi teladan bagi siswa lain. Di sisi lain, hukuman yang diberikan tetap bersifat Sekolah tidak menggunakan bentuk hukuman fisik seperti berdiri lama atau lari keliling lapangan, melainkan tugas-tugas seperti membersihkan lingkungan sekolah. Pendekatan ini selaras dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang menekankan pembentukan akhlak dan rasa kasih sayang dalam proses belajar mengajar (Ramadhani & Musyarapah, 2. Respons siswa terhadap kebijakan reward dan punishment beragam. Mayoritas menunjukkan respons positif, dengan meningkatnya kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki dampak. Mereka mulai berpikir lebih jernih sebelum bertindak dan memahami bahwa perilaku baik akan mendapatkan apresiasi, sedangkan pelanggaran akan mendatangkan sanksi. Akan tetapi, tidak bisa dihindari bahwa sebagian kecil siswa juga menunjukkan respons negatif. Contohnya, keluhan saat menerima tugas membersihkan WC karena terlambat datang, yang menjadi catatan penting bagi guru untuk terus mengevaluasi bentuk hukuman agar tetap bermanfaat dan tidak menimbulkan resistensi yang besar. Kendala dan Strategi Perbaikan Kebijakan Penerapan kebijakan reward dan punishment di lingkungan sekolah, terutama di SMP Islam Assidiq, telah menunjukkan dampak positif yang cukup signifikan dalam meningkatkan disiplin Meski demikian, dalam proses penerapannya, masih terdapat berbagai kendala, baik yang bersifat teknis maupun personal. Salah satu kendala utama yang sering muncul adalah ketidakkonsistenan dalam pemberian punishment antar guru. Perbedaan karakteristik masingmasing guru dalam menangani pelanggaran siswa menyebabkan adanya ketidakseragaman Ada guru yang sangat tegas dalam menegakkan aturan, sementara ada pula yang cenderung lebih lembut atau tidak konsisten, sehingga siswa justru cenderung membandingkan dan memanfaatkan hal ini untuk menghindari sanksi. JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga efektivitas kebijakan tersebut. Untuk itu, strategi utama yang diterapkan adalah dengan melakukan koordinasi yang intensif antar pendidik, baik dalam rapat mingguan maupun briefing harian. Di dalam forum tersebut, guru, wali kelas, hingga wakasek duduk bersama untuk menyamakan persepsi terkait bentuk dan tingkat punishment yang akan diberikan kepada siswa. Tujuannya adalah agar tidak ada lagi perbedaan dalam penanganan terhadap kasus pelanggaran yang sama. Penyeragaman sikap ini juga bertujuan agar siswa tidak merasa bingung atau memilih-pilih guru yang memiliki aturan yang lebih longgar. Kendala lain yang sering muncul adalah perbedaan karakter dan latar belakang siswa, terutama dalam hal motivasi belajar serta kemampuan mengendalikan diri. Terkadang, meskipun telah diberi peringatan atau sanksi, siswa tetap mengulangi pelanggaran yang sama. Dalam menghadapi situasi ini, pihak sekolah mengambil pendekatan bertahap, dimulai dari wali kelas yang lebih dekat dengan siswa. Siswa yang melakukan pelanggaran akan diajak berdiskusi dan diberi wawancara secara pribadi untuk memahami penyebab dari perilaku tersebut. Jika pendekatan dari wali kelas tidak berhasil, kasus siswa tersebut akan dialihkan kepada guru Bimbingan Konseling (BK), dan jika diperlukan, ditangani langsung oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan. Peran guru BK sangat penting dalam strategi perbaikan kebijakan tersebut. Selain bertugas menangani kasus siswa. BK juga memberikan pembelajaran mengenai perilaku, etika, serta kesadaran diri melalui mata pelajaran BK. Materi yang diajarkan disesuaikan dengan kebutuhan siswa agar mereka dapat memahami akibat dari setiap tindakan mereka. Tidak hanya fokus pada pemberian sanksi. BK juga mendorong proses refleksi agar siswa dapat belajar dari kesalahan yang telah dilakukan. Selain itu, para guru diharapkan lebih aktif dalam memberikan apresiasi kecil dalam pembelajaran, seperti pujian atas keberhasilan kecil atau peningkatan sikap, agar siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk terus memperbaiki diri. Dalam upaya memperkuat efek jera dan membentuk perilaku disiplin yang berkelanjutan, kerja sama dengan orang tua adalah hal yang sangat penting. Seringkali ditemukan bahwa siswa menunjukkan perilaku yang berbeda antara di rumah dan di sekolah (Muthmainna, 2. Anak yang terkenal baik di rumah bisa menjadi pelanggar di sekolah karena ingin mencuri perhatian atau merasa tidak dihargai di rumah. Karena itu, ketika siswa menunjukkan perilaku yang mengganggu atau melanggar aturan secara berulang, pihak sekolah akan segera menghubungi orang tua untuk berdiskusi dan berkoordinasi. Harapan utamanya adalah hukuman tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga didukung dan ditegaskan oleh lingkungan rumah, agar siswa tidak mengalami konflik nilai. Selain pendekatan disiplin, strategi perbaikan juga mengarah pada penguatan apresiasi atau reward terhadap siswa. Guru berusaha untuk tidak menunggu pencapaian besar barulah memberikan pujian, tetapi juga menghargai pencapaian kecil yang siswa lakukan. Apresiasi dalam bentuk ucapan, tulisan, atau bahkan dipublikasikan di media sosial sekolah menjadi salah satu bentuk reward yang efektif dalam membangun kepercayaan diri dan motivasi siswa. Dengan adanya apresiasi, siswa merasa dihargai atas perubahan dan usaha yang telah mereka lakukan. JURNAL MAPPESONA Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone Vol. 8 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2961-7707 sehingga mereka lebih termotivasi untuk mempertahankan perilaku baik dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bagian dari refleksi akhir, narasumber menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan kebijakan reward dan punishment adalah konsistensi dalam pelaksanaannya. Konsistensi bukan hanya terletak pada bentuk dan prosedur sanksi atau reward, tetapi juga pada semangat kolaborasi antara guru, wali kelas. BK, wakasek, hingga orang tua siswa. Jika tidak konsisten, siswa akan menerima pesan yang ambigu, dan tujuan pembentukan karakter melalui reward dan punishment bisa menjadi tidak jelas. Maka, kebijakan ini harus dipandang sebagai sistem yang menyeluruh, tidak terpisah, dan selalu terbuka untuk dievaluasi serta diperbaiki sesuai dengan dinamika perkembangan peserta didik. KESIMPULAN DAN SARAN Penerapan kebijakan reward dan punishment di SMP Islam Asshiddiq Bone berhasil meningkatkan kedisiplinan siswa. Sistem reward dilakukan melalui program AuBest of StudentAy serta pemberian bintang kebaikan, yang memberikan dorongan besar bagi siswa untuk menjalani perilaku yang Sementara itu, sistem punishment dirancang agar lebih berupa pembelajaran dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan tingkat pelanggarannya, mulai dari teguran lisan hingga melibatkan orang tua. Selain itu, evaluasi berkala dan pemantauan rutin melalui jurnal pelanggaran serta briefing harian membantu menjaga konsistensi kebijakan tersebut. Hasilnya, terjadi penurunan signifikan pada tingkat pelanggaran dan peningkatan kesadaran siswa terhadap dampak dari tindakan mereka. Meski begitu, masih terdapat tantangan dalam menerapkan kebijakan ini, khususnya karena perbedaan cara pengajaran antar guru dan keberagaman karakter siswa. Untuk mengatasinya, sekolah menerapkan beberapa strategi peningkatan, seperti menyamakan pemahaman di antara para pendidik, pendekatan personal dari wali kelas dan Bimbingan Konseling, serta melibatkan orang tua secara aktif. Selain itu, sekolah terus memberikan apresiasi terhadap pencapaian kecil siswa agar dapat membangun motivasi dalam diri mereka. Secara keseluruhan, keberhasilan kebijakan reward dan punishment sangat bergantung pada konsistensi dalam penerapannya, kerja sama antar guru, serta dukungan penuh dari seluruh pihak terkait dalam dunia pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. DAFTAR PUSTAKA