SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Pemberdayaan Pemuda Melalui Literasi Pangan dan Pertanian Berkelanjutan Menuju Desa Mandiri Pangan Ramah Lingkungan Muhammad Hadi Makmur1. Linda Dwi Eriyanti2*. Akhmad Munif Mubarok3. Lukman Wijaya Bharata4 1,2,3,4Universitas Jember. Jember. Indonesia e-mail: hadimakmur. fisip@unej. id1, linda. fisip@unej. id2*, 760014660@unej. fisip@unej. Informasi Artikel Article History: Received : 18 Juni 2025 Revised : 10 September 2025 Accepted : 20 Oktober 2025 Published : 30 Oktober 2025 *Korespondensi: fisip@unej. Keywords: Food Literacy. Food Independent Village. Sustainable Agriculture. Youth Empowerment. Hak Cipta A2025 pada Penulis. Dipublikasikan oleh Universitas Dinamika Artikel ini open access di bawah lisensi CC BY-SA. 37802/society. Society : Journal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat 2745-4525 (Onlin. 2745-4568 (Prin. Abstract Arjasa Village. Jember Regency, is an independent village with the main potential in the agricultural sector but faces various social and economic challenges. As many as 33% of the population is aged 15-35 years, but the unemployment rate reaches 21%, with 22. 5% of families still dependent on social Most of the population works in the agricultural sector . 6%), but the majority . 7%) are farm laborers with limited access to land ownership. In addition, the achievement of the village's SDGs, especially in the aspects of Zero Hunger Villages (SDG . Environmentally Aware Villages (SDG . , and Quality Village Education (SDG . is still relatively low. overcome this challenge, the empowerment of village youth communities through sustainable food and agriculture literacy to realize zero hunger and environmentally aware villages program is designed to increase youth's awareness, skills, and participation in sustainable agriculture and community-based food processing. This program is implemented with a phased approach, starting with strengthening human resources, socialization, implementation, and mentoring. The activities include sustainable agriculture training, agricultural product processing workshops, the formation of youth farmer groups, and the development of community reading gardens to improve food and agricultural literacy. With this program, village youth can act as agents of change in realizing food independent, environmentally friendly, and prosperous villages. https://ejournals. id/index. php/society PENDAHULUAN Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan berkelanjutan dan menjadi bagian dari target Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya Tujuan 2: desa tanpa kelaparan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua desa mampu mencapai kondisi ketahanan pangan yang ideal. Salah satu desa yang menghadapi tantangan dalam sektor ini adalah desa Arjasa. Kabupaten Jember. Desa Arjasa memiliki potensi pertanian yang besar dan telah dikategorikan sebagai desa mandiri. Namun, berdasarkan data SID Kemendesa (Profil | Sistem Informasi Desa, ), sebanyak 22,5% keluarga masih menerima bantuan sosial, sementara 21% penduduk DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. tidak bekerja, dan 2% masih mencari pekerjaan. Mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian . ,6%), tetapi sebagian besar masih dalam kategori buruh tani . ,7%), sementara hanya 35,7% yang memiliki lahan sendiri dan 2% merupakan penyewa lahan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sektor pertanian dominan, namun kondisi ekonomi petani masih belum stabil. Selain itu, indikator SDGs desa Arjasa menunjukkan skor yang masih rendah dalam beberapa aspek utama: desa tanpa kelaparan 36,34. desa sadar lingkungan, 15,91, pendidikan berkualitas: 2,00 (Profil | Sistem Informasi Desa, 2. Salah satu penyebab rendahnya skor ini adalah tidak berjalannya program pertanian pangan berbasis komunitas, fasilitasi literasi pangan dan edukasi bagi masyarakat, yang sudah di rencanakan dalam musdes dan APBDesa. Dari hasil observasi dan wawancara awal, petani terutama petani generasi muda, masih menggunakan metode pertanian konvensional yang kurang efisien dan tidak ramah lingkungan. Selain itu pemuda desa lebih memilih bekerja di sektor jasa dan konstruksi di kota dibandingkan mengembangkan potensi lokal yang ada. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa rendahnya partisipasi pemuda dalam sektor pertanian disebabkan oleh kurangnya akses terhadap sumber daya, teknologi, dan edukasi pertanian modern (Boye et al. , 2024. Consentino et al. , 2023. Figurek et al. , 2024. Taole-Kolisang et al. , 2. Di sisi lain, pemuda memiliki peran strategis dalam meningkatkan ketahanan pangan dan keberlanjutan sistem pertanian. Hasil penelitian menekankan bahwa pemberdayaan pemuda dalam pertanian dapat meningkatkan produktivitas, inovasi, dan mendorong transformasi sistem pangan yang lebih berkelanjutan (Bisht, 2023. K & Ma. Qurani et al. , 2. Oleh karena itu, pemberdayaan pemuda dalam literasi pangan berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan di desa Arjasa. Diperlukan sebuah inisiatif yang dapat menginspirasi pemuda untuk berkontribusi dalam pertanian berkelanjutan serta meningkatkan literasi pangan mereka. Desa Arjasa memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, namun masih menghadapi berbagai tantangan dalam mencapai ketahanan pangan berkelanjutan. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi antara lain: Ketergantungan terhadap Bantuan Sosial: 22,5% keluarga masih menerima bantuan sosial, menunjukkan bahwa tingkat kemandirian ekonomi masyarakat masih rendah. Tingkat Pengangguran yang Tinggi: 21% penduduk tidak bekerja, dan 2% masih mencari pekerjaan, mengindikasikan terbatasnya peluang ekonomi di desa. Dominasi Buruh Tani: Dari 52,6% penduduk yang bekerja di sektor pertanian, 62,7% adalah buruh tani, hanya 35,7% pemilik lahan, dan 2% penyewa lahan, yang menandakan bahwa sebagian besar petani masih bergantung pada sistem pertanian Rendahnya Partisipasi Pemuda dalam Sektor Pertanian: Banyak pemuda lebih memilih bekerja di sektor jasa dan industri di perkotaan dibandingkan mengembangkan pertanian berbasis komunitas di desa. Minimnya Literasi Pangan dan Edukasi Pertanian: Tidak adanya pertanian pangan berbasis komunitas serta rendahnya fasilitas literasi seperti perpustakaan desa dan taman bacaan komunitas menghambat pemahaman masyarakat terhadap pertanian Skor SDGs desa yang rendah skor SDGs desa Arjasa masih di bawah standar dalam beberapa indikator penting, yaitu: desa tanpa kelaparan . , desa sadar lingkungan . pendidikan berkualitas . Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan praktik pertanian berkelanjutan masih sangat rendah (Profil | Sistem Informasi Desa, n. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut adalah pendirian AuRumah Literasi Pangan berkelanjutanAy, dan yang berfungsi sebagai pusat edukasi, inovasi, dan pemberdayaan bagi pemuda desa. Rumah DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. literasi pangan diharapkan menjadi pusat kegiatan yang mengintegrasikan pendidikan pertanian berbasis komunitas, peningkatan keterampilan kewirausahaan pangan, serta optimalisasi pemasaran digital bagi produk pertanian lokal. Pemuda memiliki potensi besar dalam mengembangkan sistem pertanian terpadu jika didukung oleh akses terhadap edukasi dan keterampilan pertanian yang tepat. (Boye et al. , 2024. K & Ma, 2024. Sukmayadi & Asyahidda, 2024. Sumberg et al. , 2. Intervensi pemberdayaan agribisnis, termasuk kepada pemuda dapat meningkatkan ketahanan pangan hingga 75% di kalangan peserta (Adeyanju et al. , 2. Dengan pendekatan ini, diharapkan pemuda di desa Arjasa dapat memiliki keterampilan dan kesadaran yang lebih baik dalam pengelolaan pangan lokal secara mandiri dan berkelanjutan berdasarkan sumberdaya lokal. Ketersediaan pangan yang berkwalitas dengan kuantitas memadai merupakan penentu kelangsungan hidup manusia, juga penentu kualitas sumber daya manusia (Herman et al. , 2024. Husniah et al. , 2024. Wiryawan et al. , 2. Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk: . Meningkatkan kapasitas dan keterampilan pemuda desa dalam bidang pertanian berkelanjutan melalui pendidikan berbasis komunitas dan pelatihan agribisnis terpadu, . Mendorong inovasi dan kewirausahaan pangan lokal, khususnya dalam pengembangan produk pertanian bernilai tambah serta pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran, . Mewujudkan kemandirian pangan desa melalui pengelolaan sumber daya lokal yang efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada keberlanjutan, . Membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi kesejahteraan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia, dan . Mendorong transformasi desa Arjasa menuju ekosistem pangan yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing dengan memperkuat kolaborasi antara pendidikan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni tahap persiapan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Tahap persiapan merupakan tahapan yang penting dan menjadi kunci keberhasilan tahap-tahap berikutnya. Oleh karenanya tahapan ini harus dilakukan sesuai konteks dan tujuan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan demi ketercapaian edukasi dan target yang telah ditetapkan di awal. (Puspitasari et al. , 2022. Samaria & Nabila, 2. Persiapan Implementasi . Koordinasi dengan Mitra . Sosialisasi dan rekrutmen peserta pelatihan . Pendirian Rumah Literasi Pangan sebagai . Pelatihan literasi pangan Pusat Edukasi dan Inovasi dan pertanian berkelanjutan . Penerapan Model . Pembentukan Kelompok Pertanian Berbasis Pemuda Tani dan Komunitas. Kewirausahaan Pangan Evaluasi . Monitoring secara . Survei Dampak Program . Wawancara dengan Mitra dan Peserta . Analisis Indikator Keberhasilan. Gambar 1. Diagram Alir Pelaksanaan Program Pengabdian Masyarakat Tahap I Tahap ini dimulai dengan: . Koordinasi dengan Mitra, . Sosialisasi dan rekrutmen peserta pelatihan, . Pelatihan literasi pangan dan pertanian berkelanjutan, . DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Pembentukan Kelompok Pemuda Tani dan Kewirausahaan Pangan. Sosialisasi dan pendampingan dalam tahap ini setidaknya akan memenuhi target pemberian literasi untuk mengatasi masalah keterbatasan pengetahuan dan informasi bidang pertanian bagi pemuda desa sasaran (Fathonah et al. , 2025. Nastin et al. , 2. Tahap II Tahap ini meliputi kegiatan implementasi dan penguatan pertanian berkelanjutan, dengan rangkaian aktifitas yang dilaksanakan: . Pendirian Rumah Literasi Pangan sebagai Pusat Edukasi dan Inovasi, . Penerapan Model Pertanian Berbasis Komunitas. Tahap i Evaluasi pelaksanaan program yang dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai target dan memberikan manfaat nyata bagi komunitas. Langkah-langkah evaluasi mencakup: . Monitoring secara berkala, . Survei Dampak Program, . Wawancara dengan Mitra dan Peserta, . Analisis Indikator Keberhasilan. HASIL dan PEMBAHASAN Semua tahapan dalam pengabdian yang direncanakan di awal telah terlaksana dengan baik. Pada tahap pertama, koordinasi dengan mitra yang dilakukan dengan cara: . Mengadakan pertemuan awal dengan pemerintah desa, pemuda desa, akademisi, dan pemilik lahan dimana rumah literasi dan percontohan pertanian berkelanjutan dengan media modern akan didirikan. Penyusunan rencana kerja dan rencana pembentukan Rumah Literasi Pangan sebagai pusat kegiatan program dengan melibatkan berbagai pihak dari desa dan jejaring yang dimiliki tim pengabdian dari Universitas Jember. Sosialisasi dan Rekrutmen Peserta dengan cara: . Melakukan sosialisasi kepada pemuda desa melalui kegiatan diskusi dan lokakarya, dilanjutkan dengan diskusi untuk menyepakati sesi pelatihan dalam program pemberdayaan pemuda ini. Pemuda yang terlibat terdiri dari pelajar dan mahasiswa laki-laki dan perempuan yang berasal dari desa Arjasa. Selanjutnya dilaksanakan Pelatihan Literasi Pangan dan Pertanian Berkelanjutan mencakup materi dasar literasi pangan, teknik pertanian organik, dan agroekologi. Dalam rangka pencapaian target dan pemenuhan kompetensi yang diharapkan dalam pelatihan ini, tim pengabdian menyediakan modul edukasi dan materi pembelajaran bagi peserta. Pelatihan Literasi Pangan dan Pertanian Berkelanjutan, yang mencakup tiga pilar utama: Materi Dasar Literasi Pangan agar para pemuda memahami konsep pangan berkelanjutan, keamanan pangan, dan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Sub materi yang disampaikan diantaranya: . definisi literasi pangan dan urgensi dalam ketahanan pangan, hubungan antara pola makan, kesehatan, dan lingkungan, . Keamanan dan Gizi Pangan dengan pengenalan zat aditif berbahaya dan pangan fungsional, . Sistem pangan berkelanjutan, rantai pasokan pangan dan dampak food waste terhadap lingkungan, . Kearifan lokal dalam pangan yang berfokus pada pemanfaatan pangan lokal dan tradisional, serta diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Teknik pertanian organik yang bebas bahan kimia sintetis untuk kesehatan dan kelestarian lingkungan dengan sub materi: . Prinsip Pertanian Organik, . Pembuatan Pupuk dan Pestisida Alami . Pengelolaan Tanah dan Air, terdiri dari materi teknik konservasi tanah, sistem irigasi hemat air, . Pengendalian hama terpadu dengan penggunaan tanaman penarik predator dan teknik agroforestri untuk mengurangi hama. Agroekologi untuk memadukan ekologi dengan pertanian untuk menciptakan sistem yang lestari dan berkeadilan sosial. Sub materi berkisar pada: . Konsep Dasar Agroekologi, . Desain Lahan Berkelanjutan, . Energi Terbarukan di Pertanian, . Ekonomi Lingkungan Pertanian yang mencakup pemasaran hasil pertanian organik dan model bisnis sirkular. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Pelatihan ini diikuti oleh 15 pemuda yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 6 Penyampaian materi melalui presentasi, studi kasus, dan diskusi kelompok. Berikutnya dilakukan praktek berupa demonstrasi pembuatan pupuk organik dan simulasi desain kebun agroekologi. Sedangkan untuk mengevaluasi kompetensi dan keterampilan pemuda peserta pelatihan, diadakan pre-test dan post-test, dan dari test tersebut didapatkan hasil berupa peningkatan pengetahuan peserta secara signifikan mengenai pengorganisasian, kepemimpinan, literasi pertanian dan pangan, yakni mencapai peningkatan hingga 89%. Hasil ini sejalan dengan model pemberdayaan melalui peningkatan literasi dengan pelatihan yang dilakukan terdahulu. (Destryana et al. , 2021. Kalsum & Utami, 2. Peserta juga diarahkan untuk menyusun rencana aksi individu/kelompok. Dari pelatihan ini, peserta mampu: . Menerapkan teknik pertanian organik di skala rumah tangga/komersial . Merancang sistem agroekologi berbasis kearifan lokal. Menyebarluaskan literasi pangan berkelanjutan di komunitas. Literasi pangan membantu individu memahami nilai gizi, membaca label makanan, dan memilih diet seimbang, sehingga mengurangi risiko obesitas, diabetes, dan penyakit kronis lainnya. (Truman et al. , 2017. Vidgen & Gallegos, 2. Literasi pangan juga akan meningkatkan kesadaran tentang dampak lingkungan dari pilihan makanan, mendorong konsumsi produk lokal, organik, dan mengurangi food waste. (Block et al. , 2. Literasi pangan bahkan meliputi kemampuan mengelola anggaran makanan, menyimpan bahan pangan, dan memasak makanan bergizi membantu keluarga menghemat biaya dan mengurangi ketergantungan pada makanan instan. Sudah pasti literasi pangan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa (Cullen et al. , 2015. Kaur et al. Langkah berikutnya setelah pelatihan adalah mengorganisir peserta yang tertarik dalam bidang pertanian dan pengolahan pangan untuk membentuk Kelompok Pemuda Tani dan Kewirausahaan Pangan. Kelompok yang terbentuk ini diorientasikan untuk melaksanakan program secara berkelanjutan di desa Arjasa. Mereka diharapkan untuk menjadi generasi yang responsif terhadap kebutuhan pemenuhan pangan di desanya dan mampu menjalankan organisasi untuk menjadi penggerak literasi pangan dan lingkungan di sekitarnya. Komunitas Pemuda Tani Desa Arjasa yang terbentuk bernama AuRUMANSAAy yang melibatkan 10 orang pengurus yang terdiri dari pemuda mahasiswa dan pelajar dari desa Arjasa. Gambar 2. Pembentukan Pengurus Komunitas Pemuda Tani Desa Arjasa AuRUMANSAAy . umber: dokumentasi Tim Pengabdia. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Tahap Kedua, merupakan implementasi program yang dilakukan dengan mewujudkan pendirian Rumah Literasi Pangan sebagai Pusat Edukasi dan Inovasi. Langkah-langkan yang dilakukan diantaranya adalah penyediaan sarana dan prasarana untuk kegiatan edukasi dan pelatihan. Rumah edukasi memanfaatkan bangunan milik warga yang selama ini tidak dimanfaatkan. Pemuda desa yang tergabung dalam Komunitas AuRUMANSAAy bergotongroyong menyiapkannya dengan membersihkan bangunan tersebut, membenahi genteng yang bocor, dan mengecatnya hingga layak untuk menjadi pusat aktifitas literasi pangan. Sedangkan kebun edukasi sebagai laboratorium pertanian bagi peserta, juga berlokasi di sekitar bangunan tersebut. Lahan yang semula tidak termanfaatkan secara optimal, dibangun greenhouse yang dilengkapi berbagai kebutuhan untuk bertanam berbagai sayuran dengan bermacam-macam media. Selain sayuran, di lokasi tersebut juga dibuat kolam ikan dari terpal dengan sistem bioflog mengingat lahan yang terbatas. Model Pertanian Berbasis Komunitas yang di praktekkan di lahan sebagai bagian dari edukasi bagi pemuda dan warga setempat diantaranya adalah pertanian berkelanjutan dengan metode pertanian organik, agroforestri, dan hidroponik sederhana. Dalam rangka itu, pemuda desa mendapatkan pendampingan teknis mengingat hal tersebut adalah sesuatu yang baru bagi mereka. Dengan model pertanian tersebut, diharapkan para pemuda dan masyarakat sekitar nantinya memiliki referensi baru dan mau mempraktekkan metode pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Model pertanian berbasis komunitas diakui sebagai pendekatan berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi lokal dan ketahanan pangan. Model ini akan meningkatkan pendapatan dan perekonomian lokal dengan munculnya kewirausahaan pertanian skala kecil yang memungkinkan petani kecil mengakses pasar langsung melalui jaringan lokal, e-commerce, dan CSA (Community Supported Agricultur. Data global di Indonesia menunjukkan kelompok tani berbasis komunitas meningkatkan pendapatan 30-50% melalui penjualan organik dan produk (Sambodo et al. , 2. Ketahanan pangan lokal akan terbangin dengan adanya diversifikasi pangan dan gizi yang terwujud dengan adanya penanaman tanaman pangan lokal, sayuran, dan ikan . eperti lele bioflo. yang kaya nutrisi. Studi di Afrika & Asia: Sistem pertanian komunitas mengurangi kerawanan pangan hingga 40%. (Rural Development Report, 2. Dalam skala yang lebih luas, hal ini juga akan berdampak kepada pengurangan ketergantungan impor pangan dan pengurangan biaya input pertanian. Pertanian agroekologi berbasis komunitas mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dengan menggunakan kompos, biochar, dan sistem rotasi tanaman (Mustafazade, 2. Gambar 3. Penyiapan lokasi pembuatan greenhouse (Sumber: dokumentasi Tim Pengabdia. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Tahap terakhir dari program pengabdian ini adalah evaluasi untuk memastikan program berjalan sesuai target dan memberikan manfaat nyata bagi komunitas. Evaluasi memegang peran krusial dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat karena membantu menilai efektivitas, dampak, dan keberlanjutan program. Dengan adanya evaluasi akan diketahui apakah program telah mencapai tujuan yang ditetapkan, termasuk dampak terhadap masyarakat sasaran. Dalam rangka meningkatkan akuntabilitas, evaluasi memberikan transparansi dalam penggunaan sumber daya kepada pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan pihak Universitas yang mendanai pelaksanaan kegiatan Identifikasi kelemahan dan solusi diperlukan untuk mengidentifikasi hambatan dan kesalahan selama implementasi, sehingga dapat diperbaiki di program Hasil evaluasi pada akhirnya akan menjadi acuan apakah program ini layak untuk dilanjutkan, dimodifikasi, atau bahkan dihentikan ketika dianggap gagal dan tdiak bermanfaat (Shofwan et al. , 2. Tabel 1. Evaluasi program Pengabdian kepada Masyarakat Aspek Evaluasi Ketercapaian Tujuan Program Manfaat bagi Komunitas Sasaran Efektivitas Pelaksanaan Program Akuntabilitas Transparansi Dampak dan Keberlanjutan Kendala dan Solusi Indikator Kinerja Persentase Peningkatan Metode Evaluasi Observasi. Instrumen Hasil Evaluasi Daftar hadir, 100% kegiatan Pre-test, posttest. Kuesioner. Ketepatan Kesesuaian Analisis Audit internal. Logbook. Peningkatan 35%, adopsi Seluruh output tercapai sesuai Adanya Hambatan teknis dan FGD. Diskusi Rekomendasi Perbaikan Perencanaan waktu lebih Gunakan praktik dan Gunakan Sistem unggah bukti transaksi real-time Bukti Panduan FGD. Penggunaan dana sesuai Terbentuk 'RUMANSA' Fasilitasi akses UMKM Catatan Hambatan teknis dapat Penjadwalan ulang kegiatan non-urgent Dalam pengabdian ini, monitoring secara berkala dilakukan dengan pemantauan rutin terhadap pelaksanaan program, kehadiran peserta, respon mitra dan tingkat keterlibatan mereka dalam setiap tahapan aktifitas. Survei dampak program dilaksanakan dengan mengukur perubahan dalam keterampilan, pengetahuan, dan produktivitas pemuda setelah mengikuti pelatihan dan program pemberdayaan. Berikutnya juga dilakukan wawancara dengan mitra dan peserta untuk mengidentifikasi tantangan dan hambatan dalam implementasi program serta mencari solusi perbaikannya. Keberhasilan program ini nampak dalam pencapaian berdasarkan target yang telah ditetapkan dalam program, dimana secara keseluruhan telah terlaksana dengan baik setiap tahapan, mulai dari pertemuan awal, sosialisasi, pelatihan, dan terbentuknya komunitas pemuda Desa DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Arjasa AuRUMANSAAy. Komunitas ini telah berjalan dengan kegiatan berupa diskusi rutin dan pertukaran pengetahuan tentang pangan dan lingkungan. Aktifitas rutin lainnya adalh pembagian tugas dalam pengelolaan kebun dan kolam percontohan. Kolam bioflok telah diisi dengan lele dan kebun percontohan telah ditanami buah dan sayur, diantaranya melon, kangkung, terong, sawi, kacang panjang, mentimun, tomat, dan pokcoy, yang akan dijual dan hasilnya digunakan untuk mengembangkan model pertanian berkelanjutan dengan media modern untuk bisa diakses dan dimanfaatkan bersama dengan warga sekitar. Sementara kolam yang ada digunakan untuk pembesaran lele sekaligus untuk menanam kangkung. Lele, yang mudah perawatannya dan merupakan sumber protein dengan harga yang terjangkau memiliki peminat yang cukup banyak di Hal ini akan mendukung kecukupan gizi warga, mencegah stunting dan sekaligus produktif secara ekonomi (Makmur et al. , 2023. Molasy et al. , 2. Gambar 4. Tanaman melon siap panen di kebun percontohan . umber: dokumentasi tim pengabdia. Gambar 5. Kolam Lele dengan sistem bioflok . umber: dokumentasi tim pengabdia. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. KESIMPULAN Program pengabdian masyarakat ini telah berhasil dilaksanakan sesuai rencana, mulai dari tahap koordinasi dengan mitra, sosialisasi, pelatihan, hingga pendirian Rumah Literasi Pangan dan kebun percontohan. Beberapa pencapaian utama meliputi: . Koordinasi dan Sosialisasi dimana tim pengabdian berkolaborasi dengan pemerintah desa, pemuda, akademisi, dan pemilik lahan untuk menyusun rencana kerja dan merekrut peserta pelatihan, . Pelatihan Literasi Pangan dan Pertanian Berkelanjutan yang diikuti oleh 15 pemuda . laki-laki, 6 perempua. dengan peningkatan pengetahuan hingga 89%, mencakup literasi pangan, pertanian organik, dan agroekologi, . Pembentukan Komunitas Pemuda Tani yang berfokus pada pertanian dan kewirausahaan pangan untuk melanjutkan program secara mandiri, . Pendirian Rumah Literasi Pangan & Kebun Percontohan, dimana bangunan tidak terpakai dimanfaatkan menjadi pusat edukasi, dilengkapi greenhouse, hidroponik, dan kolam ikan bioflok untuk praktik pertanian berkelanjutan, . Evaluasi & Dampak Program melalui monitoring menunjukkan peningkatan keterampilan peserta, produktivitas kebun dan kolam, serta potensi ekonomi dan gizi bagi warga, termasuk pencegahan stunting. Program ini tidak hanya meningkatkan literasi pangan dan pertanian berkelanjutan tetapi juga menciptakan model pemberdayaan berbasis komunitas yang mandiri dan berkelanjutan di Desa Arjasa. Program ini dapat menjadi contoh bagi pengembangan desa lainnya dengan pendekatan partisipatif dan berorientasi lingkungan. Program pengabdian di tahun pertama ini sudah berjalan, namun belum optimal. Perlu penguatan kapasitas komunitas "RUMANSA" dengan pendampingan lanjutan yang melibatkan ahli pertanian, kewirausahaan, dan teknologi pangan dan berbagai pihak terkai untuk konsultasi teknis. Selain itu, pelatihan lanjutan tentang teknologi tepat guna seperti sistem irigasi otomatis atau aplikasi monitoring tanaman diperlukan untuk efisiensi. Perlu digitalisasi rumah literasi dengan menyediakan akses internet dan perpustakaan digital berisi materi literasi pangan, pertanian organik, dan kewirausahaan. Kolaborasi dengan pemerintah dan swasta, juga jejaring dengan desa lain akan membantu menjaga keberlanjutan program dan memungkinkan adanya replikasi di tempat lain. Sedangkan dalam rangka menjaga lingkungan, perlu pengelolaan limbah pertanian dan pemanfaatan energi terbarukan Rencana ke depan program rumah literasi pangan berkelanjutan difokuskan pada penguatan kapasitas komunitas AuRUMANSAAy melalui pendampingan lanjutan dan pelatihan berbasis teknologi tepat guna. Program juga akan melakukan digitalisasi rumah literasi serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Selain itu, akan dikembangkan pengelolaan limbah pertanian dan pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung pertanian ramah lingkungan. Rumah literasi pangan diharapkan menjadi pusat inovasi dan pemberdayaan pangan desa yang mandiri dan UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada LP2M Universitas Jember yang telah mendanai kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Tim Kelompok Riset Local Community. Democracy And Public Policy (LoCDeP) Universitas Jember. DAFTAR PUSTAKA