Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. PENERAPAN METODE STIMULASI MULTIMODAL PADA PASIEN GANGGUAN BAHASA AFASIA KONDUKSI PASCASTROKE Yurika Nur Hidayah1*. Shiane Hanako Sheba2. Santi Komaladini3 Program Studi Diploma Tiga Terapi Wicara Politeknik Al Islam Bandung *Email: yurikanh9@gmail. ABSTRAK Afasia adalah gangguan bahasa akibat kerusakan pada bagian otak yang bertanggung jawab dalam pemrosesan bahasa. Diperkirakan lebih dari 2 juta orang mengalami strok di Indonesia dan 25-40% diantaranya menderita afasia. Kasus afasia dapat ditangani dengan metode stimulasi multimodal. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan langkah-langkah terapi dan mengetahui tingkat keberhasilan metode stimulasi multimodal dalam meningkatkan kemampuan menamai tingkat kalimat pada pasien gangguan bahasa afasia konduksi pascastrok. Penelitian ini dilakukan kepada pasien laki-laki berusia 48 tahun di salah satu Rumah Sakit swasta di Purwakarta. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik sampling purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan setelah penegakan diagnosis dan penentuan metode terapi yang tepat, yaitu dengan melakukan tes awal. memberikan terapi stimulasi multimodal sebanyak 10 pertemuan . urasi 45 menit/pertemua. kemudian tes akhir. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil tes awal dengan akhir dan menghitung persentase kenaikannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kenaikan skor maksimal pad tes akhir, sehingga persentase kenaikannya adalah 100% dan termasuk dalam kategori berhasil. Peningkatan yang signifikan pada pasien dalam penelitian ini mengindikasikan potensi metode stimulasi multimodal sebagai intervensi yang efektif untuk rehabilitasi bahasa pada pasien afasia konduksi pascastrok. Kata kunci: Afasia, gangguan bahasa, metode stimulasi multimodal. APPLICATION OF MULTIMODAL STIMULATION METHOD IN POST-STROKE PATIENTS WITH CONDUCTION APHASIA LANGUAGE DISORDERS ABSTRACT Aphasia is a language disorder caused by damage to the parts of the brain responsible for language It is estimated that more than 2 million people experience strokes in Indonesia, with 2540% of them suffering from aphasia. Aphasia cases can be treated using the multimodal stimulation This study aims to apply therapeutic steps and determine the effectiveness of the multimodal stimulation method in improving sentence-level naming ability in post-stroke patients with conduction aphasia. The study was conducted on a 48-year-old male patient at a private hospital in Purwakarta. The method used is a case study with purposive sampling technique. Data collection involved initial testing, followed by 10 sessions of multimodal stimulation therapy . minutes per sessio. , and a final test. Data analysis was performed by comparing the initial and final test results and calculating the percentage of improvement. The study's results showed a maximum score increase on the final test, resulting in a 100% improvement, categorizing the outcome as successful. The significant improvement in the patient indicates the potential of the multimodal stimulation Jurnal Teras Kesehatan- 34 Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. method as an effective intervention for language rehabilitation in post-stroke patients with conduction aphasia. Keywords: Aphasia, language disorder, multimodal stimulation method. PENDAHULUAN Strok adalah suatu keadaan di mana ditemukan tanda-tanda klinis yang berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global, yang dapat memberat dan berlangsung selama 24 jam atau lebih dan atau dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain yang berasal dari pembuluh darah (Karantali et. al, 2. Hasil utama Riskesdas tahun 2018, berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, prevalensi strok sebesar 10,9% sehingga diperkirakan sebanyak 2. 362 orang mengalami strok di Indonesia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Masalah kesehatan yang muncul dari serangan penyakit strok sangat bervariasi tergantung luas daerah otak yang mengalami kematian jaringan dan lokasi serangannya. Apabila strok menyerang pada hemisfer kiri dan mengenai area kontrol bahasa, kemungkinan pasien akan mengalami afasia. Diketahui sekitar 25-40% penderita strok menderita afasia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Afasia didefinisikan sebagai gangguan bahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada bagian otak yang bertanggung jawab untuk pemrosesan bahasa. Menurut gejala dan lokalisasi lesi otak, afasia dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis dan salah satunya adalah afasia konduksi. Afasia konduksi adalah kondisi adanya gangguan antara proses berfikir terhadap proses penamaan secara verbal, penyebutan, dan meniru. Gangguan tersebut mengakibatkan penderitanya mengalami gangguan dalam alur bicara . arafasia fonemi. tetapi ia, menyadari kesalahan tersebut sehingga melakukan perbaikan-perbaikan. kesalahan dalam pengulangan, penamaan, dan ucapan spontan terutama yang bersifat fonologis. mengalami kesulitan dalam menemukan kata, gangguan menulis, dan membaca suara keras. serta pemahaman membaca yang relatif baik (VukoviN, 2. Banyak metode penanganan yang dapat dilakukan pada kasus afasia khususnya afasia konduksi, di antaranya adalah metode stimulasi multimodal. Stimulasi multimodal digunakan untuk pasien yang masih memiliki beberapa modalitas tanpa harus membatasinya pada satu modalitas saja dalam pelaksanaan suatu tugas (Maas & Prins, 1. Metode ini diterapkan agar modalitas yang masih dimiliki seseorang dapat dimaksimalkan sehingga orang tersebut dapat dengan mudah belajar bahasa dan berkomunikasi. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan metode stimulasi multimodal dan menganalisis peningkatan kemampuan menamai tingkat kalimat pada pasien gangguan bahasa afasia konduksi pasca stroke jenis kelamin laki-laki usia 48 tahun di salah satu rumah sakit swasta di Purwakarta, dengan menggunakan tes awal dan tes akhir sebagai alat ukur. METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah studi kasus. Teknik sampling menggunakan purposive sampling yaitu pasien yang berobat di Klinik Rehabilitasi Medik salah satu Rumah Sakit swasta di Jurnal Teras Kesehatan- 35 Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Purwakarta Jawa Barat. Kriteria inklusi adalah pasien dewasa dengan gangguan bicara dan bahasa akibat penyakit strok serta bersedia melaksanakan terapi secara rutin. Adapun kriteria eksklusi adalah pasien dengan riwayat tidak bisa berbahasa Indonesia sebelum strok. Alur penelitian yang dilakukan diawali dengan penegakan diagnosis melalui wawancara, observasi tes dan studi dokumen. Setelah ditegakkan diagnosis dan prognosis, dilanjutkan dengan menentukan metode terapi yang tepat, kemudian dilakukan tes awal untuk menentukan baseline kemampuan pasien sebelum menerima terapi. Terapi stimulasi multimodal dalam meningkatkan kemampuan menamai tingkat kalimat dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan dengan durasi 45 menit setiap Instrumen yang digunakan untuk meningkatan kemampuan menamai tingkat kalimat adalah kartu Kamishibai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu media edukasi PHBS bagi anak usia dini. Setelah 10 kali terapi, dilakukan tes akhir untuk mengetahui perbedaan kemampuan pasien dari sebelum dilakukan terapi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil tes awal dengan tes akhir, kemudian dihitung persentase kenaikannya dan disesuaikan dengan tabel skala keberhasilan terapi sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Keberhasilan Nilai Kenaikan Poin Persentase Kriteria Keberhasilan 0% - 33% Kurang Berhasil 34% - 66% Cukup berhasil 67% - 100% Berhasil HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara kepada pasien dan keluarganya, diperoleh informasi bahwa pasien mengalami strok berulang. Strok pertama di akhir tahun 2021, strok kedua di bulan April tahun 2022, dan strok ketiga di bulan Desember 2022. Kemudian, berdasarkan hasil wawancara dan observasi diketahui bahwa pascastrok ketiga pasien mengalami gangguan motorik sebelah kanan, kelemahan di wajah sebelah kanan, gangguan bicara dan bahasa, serta penurunan memori yang telah berlangsung sejak dua tahun lalu sampai dengan sekarang. Kondisi pasien ini sejalan dengan tandatanda strok sisi kiri yang meliputi: kelemahan pada wajah, lengan, dan atau kaki pada tubuh sebelah berkurangnya sensasi pada tubuh sebelah kanan. ucapan yang tidak jelas atau sulit berbicara lancar tetapi dengan isi yang salah atau kata-kata yang tidak tepat, kesulitan dalam berbahasa. dan perubahan persepsi visual (Moawad, 2. Diperoleh informasi dari pasien dan keluarganya bahwa strok yang dialami, disebabkan oleh Hal ini diketahui setelah dilakukan pengecekkan pertama tanda-tanda vital di RSU Radjak Purwakarta, tekanan darah pasien mencapai 220/160 mmHg. Merujuk pada klasifikasi hipertensi American College of Cardiology (ACC), diketahui bahwa pasien telah mengalami hipertensi stadium ACC telah mengklasifikasikan tekanan darah dalam empat kategori, yakni sebagai berikut: Kategori Tekanan Darah Normal Meningkat Hipertensi (Stadium . Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik . 80/90 Jurnal Teras Kesehatan- 36 Jurnal Teras Kesehatan Hipertensi (Stadium . |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. >140 >90 Sumber: (American College of Cardiology, 2. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi kejadian strok, di antaranya umur, jenis kelamin, keturunan, ras, hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes melitus, merokok, aterosklerosis, penyakit jantung, obesitas, konsumsi alkohol, stres, kondisi sosial ekonomi yang tidak mendukung, diet yang tidak baik, aktivitas fisik yang kurang, dan penggunaan obat anti hamil (Puspitasari, 2. Diketahui bahwa faktor risiko tertinggi strok adalah hipertensi, lebih dari dua pertiga pasien yang menderita strok pertama mengalami peningkatan tekanan darah atau >130/80 mmHg (Tandi. Waruwu, & Martina, 2. World Health Organization (WHO) memperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di seluruh dunia menderita hipertensi, sebagian besar . ua pertig. tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (World Health Organization, 2. Selanjutnya, menurut WHO hipertensi dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular . enyakit jantung atau stro. , diabetes . ula darah tingg. , penyakit ginjal kronis, dan risiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular (World Health Organization, 2. Saat terjadi hipertensi, keadaan pembuluh darah mendapat tekanan yang cukup besar. Apabila kondisi ini berlangsung lama dapat menyebabkan kelemahan pada dinding pembuluh darah sehingga rapuh dan pecah (Puspitasari. Pernyataan di atas diperkuat dengan suatu hasil penelitian yakni, status hipertensi seseorang menentukan seberapa besar potensi untuk terjadinya strok, mereka yang tidak menderita hipertensi akan sangat kecil risikonya untuk mengalami strok (Anshari, 2. Selain itu, didapatkan informasi dari pasien dan keluarganya bahwa sebelum mengalami strok ketiga selama satu minggu, pasien tidak menjalani pengobatan rutin hipertensi yakni, tidak mengkonsumsi obat untuk mengontrol tekanan darahnya. Bardasarkan hasil penelitian terdahulu dikemukakan, bahwa kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi sangat penting karena dengan minum obat antihipertensi secara teratur dapat mengontrol tekanan darah (Harahap. Aprillia, & Muliati, 2. Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk meminimalisir terjadinya hipertensi dengan rutin mengkonsumsi obat antihipertensi yang telah terbukti efektif dan aman mengurangi risiko relatif dari kejadian strok berulang, sekitar 30%-50% (Maino, 2. Jadi, hipertensi dapat diminimalisir dengan cara mengikuti anjuran tenaga kesehatan yaitu meningkatkan kepatuhan minum obat maupun kegiatan terapi lain (Anshari, 2. Hasil observasi dan interaksi selama terapi menunjukkan bahwa pasien kooperatif dalam mengikuti instruksi dari awal sampai dengan akhir proses terapi. Kondisi tersebut selaras dengan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di lapangan bahwa kepatuhan pasien merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan terapi, karena diagnosis yang tepat, pemilihan terapi yang benar belum cukup jika tidak diikuti dengan kepatuhan pasien dalam menjalankan instruksi yang diberikan oleh tenaga kesehatan (Edi, 2. Selain itu, pasien mampu mengontrol emosinya, hal ini tentu akan membantu pasien dalam pemulihan kesehatannya. Hal ini karena emosi yang berlebihan dapat memperburuk kondisi kesehatan (Agustina, 2. Tingkat pendidikan pasien yakni D3 juga Berdasarkan hasil penelitian lainnya dinyatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang memengaruhi pola pikir terutama dalam memotivasi diri dan berperan dalam membangun kesehatan (Lestiyoningsi. Noviyanti, & Azhari, 2. Hasil dari tes pemeriksaan alat wicara, pasien mendapatkan peringkat 2 yaitu deviasi ringan atau kemungkinan tidak akan memengaruhi wicara. Pergerakan oral yang disengaja dari 20 item tes, pasien mampu melaksanakan 13 item perintah dengan tepat, secara langsung, dan tanpa diberi Kemudian, sebanyak 7 item pasien kurang mampu melaksanakan perintah dengan sempurna, dilaksanakan hanya sebagian, dan diberi contoh. Selanjutnya, untuk 4 item tes gerakan yang disengaja, pasien hanya mampu melaksanakan gerakan menggigit bibir bawah lalu meniup secara perlahan-lahan dan diberi contoh. Ketidakmampuan dan ketidaktepatan pasien dalam melaksanakan Jurnal Teras Kesehatan- 37 Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. perintah dikarenakan keterbatasan gerak pada beberapa organ wicara, menurunnya kemampuan pemahaman, dan menurunnya daya ingat pasien sehingga kesulitan dalam melaksanakan instruksi khususnya yang kompleks. Gangguan-gangguan atau penurunan kemampuan tersebut merupakan efek dari strok, di antaranya: masalah pada pergerakan otot . ajah, lengan, kaki, atau bagian tubuh masalah dengan kognisi, berpikir, atau memori. masalah dalam bicara atau memahami masalah emosi. dan masalah dengan rasa sakit dan sensasi (National Institutes of Health, 2. Berdasarkan tes TEDYVA pasien mendapat skor 5 . ormal untuk resonansi. 5 pergerakan rahang, 7 otot mulut, dan N9/10 mengangkat velum. Pasien mendapat skor 4 . erganggu ringa. pada kecepatan bicara yakni terlalu pelan, prosodi, bernapas yakni meniup dan waktu menghitung, fonasi /a/ dan tangga nada, artikulasi. 12 yakni mengeluarkan lidah, lidah kesamping, dan lidah ke atas. Skor 3 . erganggu sedan. diperoleh pada kejelasan bicara, bicara . erputus-putu. , dan artikulasi pada diadokokinesia. Ketidakmampuan pasien dalam melaksanakan perintah pada batas normal dikarenakan adanya kendala pada kekuatan dan pergerakan organ wicara, serta gangguan pada proses bicaranya. Disartria terjadi akibat adanya kerusakan otot. Kesalahan artikulasi adalah ciri paling umum dari disartria, diikuti oleh gangguan suara, resonansi, dan kefasihan. Karakteristik seseorang yang menagalami disartria secara terperinci yakni: proses bicara terpengaruh . espirasi, fonasi, resonansi, artikulasi, dan prosod. perubahan kekuatan otot sehingga terjadi kesulitan dalam tugas motorik yang disengaja dan tidak disengaja. kesalahan bicara diakibatkan oleh kontrol otot pada sistem saraf pusat dan perifer. kesalahan bicara konsisten dan dapat diprediksi. kesalahan artikulasi pada umumnya adalah distorsi dan penghilangan. gangguan pada produksi konsonan secara konsisten. kecepatan bicara cenderung lambat dan berat. kejelasan ucapan berkurang seiring bertambahnya kecepatan bicara meningkat. dan kompleksitas kata/frasa mengakibatkan kinerja artikulasi menjadi lebih buruk (Shipley & McAfee, 2. Disartria terbagi dalam beberapa jenis yakni: lemas, spastik, ataktis, hipokinetik, hiperkinetik, dan campuran (Dharmaperwira-Prins, 1. Salah satu penyebab terjadinya disartria yakni strok. Dampak dari strok tersebut membuat bicara pasien cenderung monoton, berkurangnya rentang gerak, tekanan berkurang, kecepatan lambat, artikulasi tidak tepat, dan kalimat pendek. Kondisi pasien tersebut merujuk pada salah satu karakteristik disartria, yakni disartria spastik. Disartria spastik dapat disebabkan oleh kondisi bawaan, cerebrovascular accident, infeksi, trauma, atau tumor yang menyebabkan konsonan tidak tepat, monopitch, berkurangnya tekanan, kualitas suara yang keras, kebisingan tunggal, nada rendah, kecepatan lambat, hypernasalitas, dan frasa pendek (Shipley & McAfee, 2. Hasil token tes diperoleh total nilai 17 yang artinya mengalami gangguan pengertian sedang. Gangguan pengertian ini dikarenakan pasien kesulitan dalam mengingat instruksi yang diberikan, gangguan dalam pemahaman pembicaraan, dan permasalahan dalam persepsi visual . entuk dan warna keping token te. Diketahui bahwa penurunan kemampuan tersebut, menjadi indikator bahwa pasien mengalami afasia, yakni suatu kondisi yang menyebabkan kurangnya kemampuan berkomunikasi termasuk pemahaman bahasa, ekspresi bahasa, membaca, menulis, perhatian, ingatan, dan domain kognitif lain (Tasari & Muryanti, 2. Berdasarkan tes TADIR diketahui bahwa pada sub tes kemampuan bicara pasien mendapat skor 3 . pada meniru ucapan. mendapat skor 4 . edikit tergangg. saat menyebut, menamai tingkat kata dan kalimat. mendapat skor 5 . pada informasi pribadi dan membaca bersuara. dan saat bercerita lancar. Kemudian, pada sub tes pemahaman bahasa lisan pasien mendapat skor 4 . edikit tergangg. Berdasarkan data-data tersebut, karakteristik pasien ialah berbicara lancar, pemahaman cukup baik, dan kesulitan dalam meniru. Kondisi tersebut menjadi penanda bahwa Jurnal Teras Kesehatan- 38 Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. pasien mengalami afasia konduksi yakni gangguan bahasa dengan karakteristik bicara relatif lancar, parafasia fonemik yang sering, kesulitan yang nyata dalam pengulangan khususnya kalimat, dan pemahaman bahasa yang baik (Roth & Worthington, 2. Hal tersebut disebabkan adanya cidera pada jaras antara wilayah brocha dan wernicke (Indah, 2. Afasia konduksi memiliki karakteristik yang membedakannya dengan afasia anomis yakni, gangguan pada kemampuan Diperkuat dengan pernyataan lain yang menyatakan bahwa gangguan pengulangan bertahan lama meskipun cidera hanya pada tahap awal . atau potensi plastisitas otak sudah sampai pada tahap maksimum (Northam, 2. Sub tes pemahaman bahasa tulis tingkat kata dan kalimat pasien mendapat skor 4 . edikit tergangg. , dan informasi pribadi mendapat skor 5 . Pada sub tes menulis pasien mendapat skor 4 . edikit tergangg. pada informasi pribadi, tingkat kata, dan kalimat. dan skor 5 . Selaras dengan kondisi pasien, diketahui bahwa pasien afasia konduksi mengalami kesulitan dalam menemukan kata, gangguan menulis, membaca dengan suara keras, dan pemahaman membaca yang relatif terjaga (VukoviN, 2. Tes irama kelancaran menunjukkan bahwa pasien mengalami pengulangan dan penghentian saat Gangguan tersebut dikarenakan pasien kesulitan dalam menemukan kata-kata untuk diungkapkan secara verbal dan adanya parafasia fonemik/literal. Berdasarkan penelitian terdahulu diketahui bahwa pasien dengan afasia konduksi mungkin dapat mengekspresikan dirinya dengan cukup baik, namun alur bicaranya sering terganggu dengan parafasia fonemik, kondisi tersebut membuat pasien melakukan upaya berturut-turut untuk memperbaiki keluaran dengan menggunakan perilaku coba-coba sehingga mendekati tujuannya, kesalahan dalam pengulangan, dan kesalahan dalam penamaan, serta ucapan spontan terutama bersifat fonologis (VukoviN, 2. Selanjutnya, berdasarkan hasil tes pasien tidak mengalami gangguan suara yakni kenyaringan, nada, dan kualitas suara pasien normal. Hasil tes bidang menelan, menunjukan bahwa pasien dapat mengunyah dengan baik, makan dan minum dengan berbagai tekstur tanpa tersedak, dan tanpa keluar dari hidung ataupun mulut. Selain itu, telah dilakukan pemeriksaan mendalam yakni CT Scan. Diketahui bahwa pasien mengalami perdarahan di intra cerebral pada daerah capsula interna . danya lesi hiperden. dan thalamus kiri. Pada buku AuStroke Waspadai AncamannyaAy dituliskan bahwa strok perdarahan, gambaran lesi berupa hiperdens (Junaidi, 2. Strok hemoragi atau perdarahan dibagi menjadi dua jenis yakni perdarahan di dalam otak atau Intracerebral Hemorrhage (ICH) dan perdarahan pada permukaan otak atau Subarachnoid Hemorrhage (SAH), pada kasus ini pasien mengalami strok hemoragi ICH. Diketahui bahwa etiologi yang paling umum dari strok hemoragi adalah hipertensi (Unnithan. Das, & Mehta, 2. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa pasien mengalami disfungsi anggota gerak atas dan bawah pada sisi tubuh sebelah kanan. Strok hemoragi yang melibatkan capsula interna ditandai dengan kelumpuhan parah pada sisi tubuh yang berlawanan, gangguan pada kelenturan otot, refleks otot dalam yang berlebihan pada sisi tubuh yang berlawanan dengan lesi, dan reaksi genggaman pisau, yang dapat dirasakan pada otot yang lumpuh (Emos. Suheb, & Agarwal, 2. Selain itu, dapat menyebabkan kesulitan dalam berbicara dengan jelas . , masalah pencarian kata, spasme, spastis, gangguan berjalan, gangguan koordinasi, kesulitan menelan dan mengunyah. Selanjutnya, thalamus memiliki lima fungsi utama yakni: gairah dan regulasi nyeri. mengatur semua sensorik kecuali penciuman. mengatur fungsi bahasa motorik. mengatur fungsi kognitif. suasana hati dan motivasi (Torrico & Munakomi, 2. Penelitian terdahulu juga mengungkapkan bahwa lokasi lesi untuk disartria spastik yakni di Upper Motor Neuron (UMN) (Roth & Worthington. Jurnal Teras Kesehatan- 39 Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Berdasarkan buku AuMotor Speech DisordersAy diketahui sistem UMN antara lain: koreteks, corona radiata, ganglia basalais, capsula interna, pons, dan spinal cord. (Duffy, 2. Kemudian, dari hasil observasi dan interaksi selama pengambilan data dan pelayanan terapi, pasien memiliki keyakinan dalam mencapai suatu tujuan tertentu . Perlu diketahui bahwa pasien pascastrok sudah seyogianya memiliki kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik, mengembangkan pikiran positif, memiliki motivasi, dan keyakinan yang baik akan peningkatan derajat kesehatannya (Pongantung et. al, 2. Selain itu, keluarga sebagai faktor pendukung eksternal juga kooperatif dalam memberikan informasi tentang kondisi kesehatan dan kemampuan pasien, serta mendukung kesembuhan pasien dengan cara berperan aktif dalam memberikan nutrisi yang cukup dan sehat, mengantar terapi, melakukan komunikasi dua arah dengan pasien, dan memastikan pasien mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter secara rutin. Kondisi tersebut diperkuat dengan teori yang menyatakan bahwa empat jenis dukungan keluarga terdiri dari: dukungan informasional yakni sebagai pengumpul dan penyebar informasi untuk mengatasi persoalan yang dihadapi dukungan penilaian yakni keluarga sebagai umpan balik, membimbing, dan menengahi pemecahan masalah. dukungan sosial yakni memfokuskan keluarga sebagai sumber pertolongan praktis dan konkrit. dukungan emosional yakni keluarga sebagai tempat aman dan damai untuk istirahat, pemulihan, dan membantu penguasaan emosi (Bangun. Susilo, & Sutandra, 2. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang memengaruhi quality of life seseorang yaitu: ekonomi dan dukungan sosial (Pongantung et. al, 2. Penerapan metode stimulasi multimodal pada pasien afasia konduksi dilakukan dengan cara melatih kemampuan menamai tingkat kalimat secara sintaksis menggunakan kartu bergambar Kamishibai PHBS. Melalui metode stimulasi multimodal, pasien dapat memaksimalkan modalitas yang masih dimiliki (S1. S2. T1, dan T. dengan cara menggunakan modalitas yang gangguannya lebih ringan terlebih dulu, diikuti oleh modalitas yang gangguannya lebih berat agar fungsi yang satu memudahkan dan merangsang fungsi yang lain. Prosedur terapi dilakukan dengan cara memperkenalkan materi terapi yaitu 3 lembar kartu bergambar kategori kejadian sehari-hari dari Kamishibai PHBS kepada pasien. Setelah ketiga kartu bergambar tersebut disajikan, pasien diminta untuk mengambil salah satu kartu bergambar yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan terapis. Selanjutnya, pasien diminta untuk memperhatikan berbagai gambar yang ada di dalam kartu tersebut, kemudian diminta untuk menamai secara verbal tingkat kalimat, sesuai dengan informasi yang didapat dari kartu bergambar tersebut. Prosedur evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan antara hasil tes awal pada saat sebelum menjalani terapi dan hasil tes akhir setelah menjalani 10 kali terapi. Hasil tes awal dan tes akhir dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4 di bawah ini. Tabel 3. Hasil Tes Awal Materi Tes (Kalimat Target/Sintaksi. Sebelum berangkat sekolah. Raja selalu berpamitan kepada Ayah dan Bundanya. Raja dan keluarga berkumpul di ruang keluarga setiap pukul 19:30. Respons Mau berangat sekolah si adek dia lagi berangkat sekolah berselaA bersalaman dahulu kepada kedua orang tuanya. Ini saya sedang diA ngajarin Keiko membaca buku, eeA terus itu Bunda lagi piA piA pingA pingin naruh makanan terus kemudian Raja lagi nonton TV nonA TV nonA tiA tivA eeA lagi nonton TV. Jurnal Teras Kesehatan- 40 Tes Awal Oo Oo Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Raja. Ayah. Bunda, dan Keiko makan pagi di meja makan setiap hari Minggu. Makan bersam bersama-sama eeA makan di atas meja terus diA dengan lauk atau tempe, tahu, dan telur dimakan bersama-sama ini mau apaA mau minum, minum nah dedek ini lagi makan telur, buA bunA bunda megang gelas apaA mau minum. Jumlah Skor: Oo Tabel 4. Hasil Tes Akhir Materi Tes (Kalimat Target/Sintaksi. Sebelum berangkat sekolah. Raja selalu berpamitan kepada Ayah dan Bundanya. Raja dan keluarga berkumpul di ruang keluarga setiap pukul 19:30. Raja. Ayah. Bunda, dan Keiko makan pagi di meja makan setiap hari Minggu. Respons Tes Akhir 1 2 3 Raja berpamitan kepada Bunda dan Ayah di pagi hari sebelum berangkat sekolah di luar Raja. Keiko. Ayah, dan juga Bunda berkumpul di ruang tengah pada pukul setengah delapan. Raja. Keiko. Ayah, dan juga Bunda makan bersama di pagi hari. Jumlah Skor: Oo Oo Oo Keterangan: Skor 1 : Pasien dapat menamai Tingkat kalimat dan terdapat dua unsur kalimat . /dibantu maksimal dua kali/terdapat parafasia literal atau verbal. Skor 2 : Pasien dapat menamai tingkat kalimat yang terdiri dari tiga atau empat unsur kalimat . /dibantu maksimal satu kali/terdapat parafasia literal. Skor 3 : Pasien dapat menamai tingkat kalimat yang terdiri dari tiga atau empat unsur kalimat . dengan benar tanpa bantuan dan tanpa parafasia. Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan hasil tes sebanyak 9 poin setelah pasien mendapatkan terapi menamai tingkat kalimat menggunakan metode stimulasi multimodal. Terdapat peningkatan skor dalam semua materi yang diberikan, dari masing-masing item terjadi kenaikan dari skor minimal menjadi skor maksimal, sehingga persentase peningkatan skor adalah Persentase peningkatan skor sebesar 100% tersebut tergolong dalam kriteria berhasil jika dimasukkan dalam kriteria keberhasilan seperti yang terlihat pada tabel 1. KESIMPULAN Setalah dilakukan terapi sebanyak 10 kali pertemuan dengan durasi 45 menit setiap pertemuan menggunakan stimulasi multimodal pasien mendapat skor 3 . untuk ketiga materi pada tes akhir sehingga mendapatkan persentase akhir 100%. Dinilai dari hasil Penggunaan metode stimulasi multimodal berhasil meningkatkan kemampuan menamai tingkat kalimat pada pasien afasia konduksi. Terdapat peningkatan skor, dari tes awal sebesar 0 . kor minima. menjadi 9 . kor maksima. pada tes akhir. Peningkatan skor tersebut merupakan peningkatan persentase sebesar 100 %. Pada pasien afasia konduksi dengan dominasi gangguan pada kemampuan produksi bahasa, metode stimulasi multimodal berhasil meningkatkan kemampuan menamai tingkat kalimat secara signifikan. Jurnal Teras Kesehatan- 41 Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 7 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. DAFTAR PUSTAKA