UNES Journal of Education Scienties Volume 7. Issue 2. November 2023 P-ISSN 2598-4985 E-ISSN 2598-4993 Open Access at: https://ojs. org/index. php/UJES UPAYA MENINGKATKAN PERHATIAN ANAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MEDIA BONEKA TANGAN PADA ANAK KELOMPOK A TK PERTIWI IV SERUI EFFORTS TO INCREASE CHILDREN'S ATTENTION THROUGH STORYTELLING METHOD USING HAND Puppets IN CHILDREN IN GROUP A. PERTIWI IV SERUI TK Lenny Lewerissa1 . Roy Marthen Rahanra 2 1 Guru TK Pertiwi IV Serui 2 Program Studi Biologi Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan PGRI Papua Email : LennyLewerissa@gmail. INFO ARTIKEL Kata kunci : Penelitian tindakan kelas. Metode Pengembangan kognitif anak ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis upaya meningkatkan perhatian anak melalui metode bercerita dengan media boneka tangan pada anak kelompok A TK Pertiwi IV Serui. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan melibatkan 30 anak sebagai subjek Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan pengukuran tingkat perhatian anak sebelum dan setelah penerapan metode bercerita dengan media boneka tangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan media boneka tangan secara signifikan meningkatkan perhatian anak pada kelompok A TK Pertiwi IV Serui. Adanya interaksi antara guru, cerita, dan media boneka tangan membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan mendukung perkembangan kognitif anak. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa metode bercerita dengan media boneka tangan dapat dijadikan alternatif efektif dalam meningkatkan perhatian anak di tingkat prasekolah, memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kemampuan anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Copyright A 2022 UJES. All rights reserved . P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 ARTICLE INFO Keywords: Classroom action research, storytelling methods, children's cognitive development ABSTRACT This research aims to identify and analyze efforts to increase children's attention through the storytelling method using hand puppets in group A children of Pertiwi IV Serui Kindergarten. The research method used was classroom action research (PTK) involving 30 children as research subjects. Data was collected through observation, interviews, and measuring children's attention levels before and after implementing the storytelling method using hand puppets. The results of the research showed that the application of the storytelling method using hand puppets significantly increased the attention of children in group A of Pertiwi IV Serui Kindergarten. The interaction between the teacher, stories and hand puppet media helps create an interesting learning environment and supports children's cognitive development. The implication of this research is that the storytelling method using hand puppets can be an effective alternative in increasing children's attention at the preschool level, making a positive contribution to the development of children's abilities in participating in learning activities. Copyright A 2022 UJES. All rights reserved . PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal penting untuk diperhatikan. Pendidikan akan membuat wawasan pengetahuan menjadi terbuka dan bertambah sehingga tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Bangsa Indonesia sendiri pada saat ini sedang berupaya untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam memasuki era globalisasi yang penuh dengan tantangan. Upaya tersebut tidak bisa dilakukan secara instant melainkan harus bertahap. Tahap awal yang paling baik adalah dengan menanamkan pendidikan sejak anak usia dini. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pendidikan yang paling rendah Meskipun demikian PAUD memiliki makna yang paling tinggi dari satuan-satuan pendidikan lainnya karena akan melandasi pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa: AuPendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Ay Anak usia dini pada rentang usia 0-6 tahun merupakan masa golden age yang penting untuk mendapatkan perhatian. Golden age adalah masa dimana seluruh aspek perkembangan anak sedang berkembang dan terjadi pematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespons berbagai rangsangan dari lingkungannya. UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 Oleh karena itu peran orang-orang disekitar anak memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan anak yang optimal. Guru merupakan orang terdekat anak di sekolah. Pada saat menciptakan pembelajaran guna menstimulasi perkembangan anak yang optimal guru sebaiknya memahami karakteristik anak usia dini. Sofia Hartati . 5: . mengemukakan bahwa salah satu karakteristik anak usia dini adalah anak memiliki daya konsentrasi yang pendek. Dengan demikian pembelajaran yang diciptakan oleh guru harus menarik perhatian anak. Perhatian anak terhadap pembelajaran merupakan suatu hal penting yang harus diperhatikan oleh guru karena keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh seberapa besar perhatian anak terhadap pembelajaran yang disampaikan. Anak yang memiliki perhatian terpusat maka hasil belajarnya akan baik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slameto . 3: . yang menyebutkan perhatian merupakan faktor intern yang mempengaruhi belajar individu dan apabila tidak terpenuhi maka akan menghambat keberhasilan belajar anak. Sumadi Suryabrata . 4: . menyebutkan perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan. Suatu objek haruslah menarik agar mendapat perhatian bagi yang melihat. Hasil belajar yang baik dapat diperoleh apabila anak mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran yang dipelajari tidak menarik maka akan timbul kebosanan. Perhatian anak dapat ditingkatkan melalui strategi pembelajaran yang menarik. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan adalah metode Muhammad Fadlillah . 4: . menyebutkan metode bercerita adalah metode yang mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian kepada anak. Kejadian atau peristiwa tersebut disampaikan kepada anak melalui tutur kata, ungkapan,dan mimik wajah yang unik. Mendengarkan cerita untuk anak Taman Kanak- kanak (TK) merupakan hal yang mengasyikkan. Hal tersebut dikarenakan dalam cerita disampaikan berbagai macam kisah menarik yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Moeslichatoen . 4: . mengemukakan melalui metode bercerita anak dilatih untuk menjadi pendengar yang kritis dan kreatif. Pendengar yang kritis mampu menemukan kesesuaian antara yang telah didengar dengan yang telah dipahami. Sedangkan pendengar yang kreatif mampu menemukan pemikiran- pemikiran baru dari apa yang telah didengarnya. Manfaat lain yang dapat dirasakan dari metode ini adalah dapat melatih konsentrasi dan daya tangkap serta membantu perkembangan imajinasi anak. Pada saat menggunakan metode bercerita ada yang disertai dengan alat peraga maupun alat peraga. Anak taman kanak-kanak lebih menyukai mendengarkan cerita dengan alat peraga karena dengan alat peraga anak menjadi lebih tertarik untuk memperhatikan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Yasmin dalam Syhinta Yulia . 2: . Aumanfaat alat peraga diantaranya adalah menyampaikan suatukonsep dengan bentuk yang baru, mempertahankan konsentrasi, mengajar dengan lebih cepat, mengatasi masalah keterbatasan waktu, mengatasi masalah keterbatasan tempat, mengatasi masalah keterbatasan bahasa, membangkitkan emosi manusia dan menyampaikan suatu konsep dengan bentuk yang baruAy. P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 Adanya alat peraga dapat membuat anak memiliki perhatian yang lebih dan mempertahankannya sampai guru selesai bercerita. Tadkiroatun Musfiroh. menyebutkan alat peraga dalam bercerita yang dapat digunakan berupa buku, gambar, boneka, dan gambar gerak. Firdaus Muttaqin . menggunakan boneka tangan untuk meningkatkan keterampilan bercerita. Peneliti melakukan observasi pada hari Senin, 12 Januari 2022 dan Kamis, 15 Januari 2022 pada anak kelompok A TK PERTIWI IV SERUI. Observasi dilakukan pada saat pembelajaran kegiatan bercerita, yaitu ketika guru membacakan cerita. Pada saat guru membacakan cerita perhatian anak berlum optimal. Terlihat anak belum tertarik dan fokus pada cerita yang Pada saat itu peneliti hanya melihat 3 anak di dalam kelas yang berisi 15 anak yang terlihat mendengarkan cerita yang dibacakan guru. Pada bagian akhir ketika guru menanyakan kembali cerita yang telah dibacakan ternyata sebanyak 11 anak tidak ada yang mengangkat tangan untuk menceritakan kembali cerita yang telah dibacakan. Pada saat yang sama peneliti juga melakukan wawancara dengan guru kelas. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas, guru belum melakukan upaya untuk meningkatkan perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita. Selain itu guru juga belum mengembangkan media dalam penyampaian cerita. Melihat kenyataan di atas perlu dilakukan suatu tindakan baru untuk meningkatkan perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita dengan menggunakan media yang menarik pada saat guru bercerita. Salah sa tu media yang dapat digunakan untuk menarik perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita adalah dengan menggunakan media boneka tangan. Ari Siswanti dkk. 3: . mengemukakan boneka tangan adalah tiruan dalam bentuk manusia, hewan maupun bentuk lainnya yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran tangan dengan berbagai corak dan motif. Menurut Sudjana dalam Klara . t: . boneka tangan adalah boneka yang digerakkan oleh tangan. Boneka tangan ini dapat dibuat sendiri sesuai dengan karakter tokoh yang diinginkan ataupun dapat di beli di toko. Cara penggunaannya pun mudah yaitu tangan masuk ke dalam boneka kemudian digerakkan. Boneka tangan sengaja dipilih karena memiliki bentuk yang menarik dan unik serta memiliki corak dan motif yang beragam sehingga menimbulkan rasa ketertarikan pada anak dan boneka tangan ini juga belum pernah digunakan oleh guru. Berdasarkan permasalahan yang telah disampaikan di atas maka peneliti mengadakan penelitian tentang AuUpaya Meningkatkan Perhatian Anak Melalui Metode Bercerita dengan Media Boneka Tangan Pada Anak Kelompok A TK Pertiwi IV SERUIAy. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Wina Sanjaya . penelitian tindakan kelas adalah proses pengkajian masalah pembelajaran didalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan Pemilihan jenis penelitian tindakan kelas ini memiliki beberapa alasan yang dapat diuraikan sebagai berikut: . masalah yang dihadapi adalah masalah UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 yang timbul dalam proses pembelajaran, . tidak menganggu jalannya pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang diajarkan, . ingin melihat adanya peningkatan perhatian anak. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model kolaborasi yang mengutamakan kerjasama antara peneliti dan guru. Peneliti bekerjasama dengan guru Kelompok A di TK Pertiwi IV Serui mulai dari merencanakan, melaksanakan tindakan, mengobservasi dan merefleksi tindakan. Peneliti senantiasa terlibat langsung dalam prosespenelitian dari awal sampai akhir penelitian dan peneliti juga bertugas memantau, mencatat, mengumpulkan data, menganalisis data serta melaporkan hasil penelitian dengan dibantu oleh Subyek dan Obyek Penelitian Muhammad Idrus . 9: . menyebutkan subyek penelitian adalah individu, benda atau organisme yang dijadikan sumber informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah anak Kelompok A di TK Pertiwi IV Serui yang berusia 4-5 tahun. Jumlah anak dalam Kelompok A ada 15 anak yang terdiri dari 9 laki-laki dan 6 perempuan. Obyek penelitian dalam penelitian ini adalah perhatian anak. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok A TK Pertiwi IV Serui. Setting Penelitian Setting penelitian dalam penelitian ini adalah di dalam kelas. Setting di dalam kelas dalam lingkup sekolah ini dimaksudkan untuk mempermudah pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan. Waktu Penelitian Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023 pada bulan April-Mei 2022. Desain Penelitian Model penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Taggart tahun 1990. Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama . 1: 20-. menyatakan bahwa model penelitian Kemmis dan Taggart pada hakikatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dariperencanaan . , tindakan . sekaligus pengamatan . , dan refleksi . Model penelitian Kemmis dan Taggart jika divisualisasikan akan tampak seperti gambar berikut ini: Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan Kelas dari Kemmis dan Taggart Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama . P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 Keterangan: Siklus I: Perencanaan Tindakan dan Observasi Refleksi Siklus Selanjutnya: Perencanaan Tindakan dan Observasi Refleksi Keputusan untuk menghentikan penelitian atau melanjutkan siklus merupakan keputusan bersama antara peneliti dan guru kelas. Siklus diberhentikan apabila peneliti dan guru kelas sepakat bahwa pembelajaran kegiatan bercerita melalui metode bercerita dengan media boneka tangan yang di lakukan sudah sesuai rencana dan dapat meningkatkan perhatian anak. Rencana Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam tahapan yang berupa siklus yang tiap siklusnya terdiri dari tiga kali pertemuan. Apabila pada Siklus I kriteria keberhasilan belum tercapai maka dilanjutkan siklus selanjutnya sampai peneliti dan guru merasa puas dengan hasil yang didapat dan sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Siklus I Tahapan dalam siklus I adalah sebagai berikut: Tahap Perencanan Pada tahap perencanaan yang dilakukan antara lain: Peneliti dan guru . menyiapkan Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang memuat serangkaian kegiatan pembelajaran. Menentukan tema, indikator, dan kegiatan pembelajaran yang akan Mempersiapkan lembar observasi mengenai perhatian anak. Mempersiapkan alat untuk mendokumentasikan kegiatan pembelajaran yang dilakukan berupa foto. Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran yang akan digunakan dalampembelajaran yaitu boneka tangan. Tahap Pelaksanaan dan Pengamatan Pada tahap pelaksanaan ini dilakukan dengan menggunakan prosedur perencanaan yang telah dibuat. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru sebagai kolaborator melaksanakan pembelajaran sesuai RKH yang telah dibuat. Sementara itu, peneliti melakukan Observasi dengan menggunakan lembar observasi yang sudah disusun. Observasi dilakukan untuk mengetahui perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang kemudian data-data tersebut diolah untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Tahap Refleksi Refleksi dilakukan pada akhir siklus dan berdasarkan refleksi inilah dapat diketahui apakah tindakan yang diberikan sudah sesuai dengan harapan atau belum dan digunakan untuk mengetahui apakah diperlukan atau tidaknya siklus Data yang telah diperoleh pada lembar observasi dianalisis kemudian peneliti dan guru . melakukan refleksi terhadap hasil UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 observasi yang bertujuan untuk melakukan penilaian terhadap proses yang terjadi serta segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi ini juga bertujuan untuk menyusun rencana tindakan perbaikan untuk siklus selanjutnya apabila diperlukan. Rancangan Siklus Selanjutnya Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus selanjutnya dimaksudkan sebagai perbaikan siklus sebelumnya. Tahapan yang dilakukan pada siklus selanjutnya sama dengan siklus pertama dengan materi yang berbeda. Peneliti mencermati catatan keberhasilan dan kendala yang dihadapi pada waktu pelaksanaan tindakan siklus sebelumnya dengan menganalisis data yang diperoleh. Siklus akan diberhentikan apabila kriteria keberhasilan sudah tercapai. Metode Pengumpulan Data Suharsimi Arikunto . 6: . mengemukakan bahwa metode pengumpulan data merupakan cara untuk mengumpulkan data penelitian. Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan hasil dari interaksi guru dengan anak. Berikut cara pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti: Metode Pengamatan Wina Sanjaya . 1: . mengemukakan bahwa observasi merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mengamati setiap kejadian yang sedang berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi tentang hal-hal yang akan diamati atau diteliti. Pada penelitian ini pengamatan dilakukan untuk mengetahui dan mengamati subjek penelitian secara bertahap dan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat perhatian anak dalam mengikuti pembelajaran kegiatan bercerita melalui metode bercerita dengan media boneka tangan. Subyek penelitian yang diobservasi yaitu anak KelompokA di TK Pertiwi IV Serui. Data observasi dalam penelitian ini berupa lembar skoring yang berisi tentang kisi-kisi perhatiananakyang meliputikonsentrasi, ingatan, dan Adapun kisi-kisi perhatian anakdapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kisi-Kisi Perhatian Anak dalam Mengikuti Pembelajaran Kegiatan Bercerita menggunakan Media Boneka Tangan. No Variabel Sub Variabel Indikator Perhatian Konsentrasi Mendengarkan cerita Ingatan Mengingat nama-nama tokoh dalam cerita. Pemahaman Menjawab pertanyaan. Metode Dokumentasi Dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh dalam Pada penelitian ini peneliti akan mengambil beberapa dokumen dari TK Pertiwi IV Serui meliputi RKH, foto media pembelajaran yaitu boneka tangan, dan foto anak pada saat pembelajaran. RKH digunakan sebagai tanda bukti rencana proses pembelajaran yang dilakukan. Foto media digunakan sebagai bukti media yang digunakan dalam proses pembelajaran kegiatan bercerita untuk meningkatkan perhatian anak dangambar berupa foto berfungsi untuk menggambarkan secara nyata aktivitas anak pada pembelajaran kegiatan Instrumen penelitian Nurul Zuriah . 5: . mengemukakan Instrumen penelitian adalah alat bantu P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Lembar Observasi Lembar observasi berisikan daftar dari unsur-unsur yang berkaitan dengan Penelitian ini menggunakan lembar observasi yang digunakan untuk mengarahkan peneliti dalam melakukan observasi sehingga peneliti dapat mengetahui sejauhmana perhatiananak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita pada anak kelompok A TK Pertiwi IV Serui. Berdasarkan kisi-kisi perhatian yang telah di jelaskan di atas maka kriteria penilaian perhatian diuraikansebagai berikut: Tabel 2. Rubrik Penilaian Perhatian Anak Pada Saat Pembelajaran Kegiatan Bercerita Indikator Mendengarkan Mengingat nama-nama tokoh dalam Menjawab Pertanyaan Deskripsi Jika anak mau mendengarkan cerita dari awal sampai akhir dengan serius. Jika anak mau mendengarkan sebagian cerita dan terkadang diselingi bercanda dengan teman. Jika anak tidak mau mendengarkan cerita. Jika anak dapat mengingat semua namanama tokoh dalam cerita. Jika anak dapat mengingat sebagain nama-nama tokoh dalam cerita. Jika anak tidak dapat mengingat namanama tokoh dalam cerita. Jika anak dapat menjawab semua Jika anak dapat menjawab sebagin Jika anak belum dapat Kriteria Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Tabel 3. Lembar Observasi Perhatian Anak dalam Pembelajaran Kegiatan Bercerita Menggunakan Media Boneka Tangan. UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 Perhatian Konsentrasi Nama Anak Ingatan . Mendengarkan Mengingat Cerita Nama-nama Tokoh daam Cerita Pemahaman Menjawab Pertanyaan Total Skor Keterangan Skor 3 : Baik Skor 2 : Cukup Skor 1 : Kurang Dokumentasi Penelitian ini mengunakan alat bantu observasi yang meliputi RKH, foto media pembelajaran yaitu boneka tangan, dan foto anak pada saat proses pembelajaran kegiatan bercerita berlangsung. RKH berfungsi sebagai tanda bukti bahwa rencana kegiatan pembelajaran telah dilaksanakan sehingga urutan urutan kegiatan yang dilakukan pada waktu kegiatan belajar mengajar dapat Dengan gambar media pembelajaran yaitu boneka tangan dapat dijadikan bukti bahwa boneka tangan benar-benar dipakai sebagai media pembelajaran untukmeningkatkan perhatian anak. Sementara itu foto anak dijadikan bukti saat prosespembelajaran kegiatan bercerita berlangsung. Metode Analisis Data Setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis data. Wina Sanjaya . 1: . menyatakan analisis data dalam PTK sebagai berikut. AuAnalisis data dalam PTK dapat dilakukan dengan analisis kualitatif dan analisis Analisis data kualitatif digunakan untuk menentukan peningkatan proses belajar khususnya berbagai tindakan yang dilakukan guru, sedangkan analisis data kuantitatif digunakan untuk menentukanpeningkatan hasil belajar siswa sebagai pengaruh dari setiap tindakan yangdilakukan guru. Ay Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kuantitatif. Data yang dianalisis berupa data hasil check list mengenai perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita. Data yang telah diperoleh kemudian dikumpulkan dan di analisis. Selanjutnya rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata persentase adalahsebagai berikut: P = F x 100% Keterangan: = Angka Persentase = Frekuensi yang dicari persentasenya = Number of Case . umlah frekuensi atau banyaknya individ. Anas Sudjiono . 8: . Kriteria berupa persentase kesesuian Suharsimi Arikunto . 0: . Kesesuaian kriteria (%) Kesesuaian kriteria (%) Kesesuaian kriteria (%) Kesesuaian kriteria (%) : 0-20 = kurang sekali : 21-40 = kurang : 41-60 = cukup : 61-80 = baik P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 Kesesuaian kriteria (%) : 81-100= sangat baik Kriteria Keberhasilan Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah meningkatnya perhatian anak dalam pembelajaran kegiatan bercerita. Penelitian ini dipandang berhasil jika 80% dari jumlah anak menunjukkan perhatian pada kriteria baik. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Deskripsi Kondisi Awal Sebelum Pelaksanaan PTK Hasil yang didapat berdasarkan pengumpulan data observasi yang dilakukan pada 7 April 2022 diperoleh gambaran tentang perhatian anak dalam mengikuti pembelajaran kegiatan bercerita pada Kelompok A TK Pertiwi IV Serui yang diperoleh dari 15 anak. Berdasarkan data hasil observasi diperoleh perhatian anak dengan kriteria baik dalam mengikuti pembelajaran kegiatan bercerita masih kurang. Hal tersebut dapat dilihat dari anak yang belum tertarik dan fokus pada cerita yang dibacakan guru. Selain itu pada saat guru menanyakan kembali cerita yang telah dibacakan sebagian besar tidak ada yang mengangkat tangan untuk menceritakan kembali cerita yang telah dibacakan. Kondisi perhatian anak pra tindakan dapat dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rekapitulasi Kondisi Perhatian Anak Pra Tindakan Skor Jumlah Kriteria Baik Cukup Kurang Persentase 33 % . 20 % ( 3 ana. 67 % . (Sumber: Lampiran 6 Halaman . Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar perhatian anak berada pada kriteria perhatian kurang. Dari 15 anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian baik hanya sebesar 13. 33% . , anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian cukup sebesar 20% . dan sisanya menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian kurang sebesar 67% . Data pada tabel hasil perhatian anak pra tindakan di atas dapat diperjelas melalui grafik pada Gambar 3. Gambar 3. Grafik Persentase Perhatian Anak Pra Tindakan UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 Gambar. Grafik Presentase Perhatian Anak Pra Tindakan Pelaksanaan PTK Siklus I Perencanaan Tindakan Siklus I Tahap Perencanaan pada Siklus I meliputi kegiatan sebagai berikut: Peneliti bersama kolaborator merencanakan dan menyusun RKH yang akan dijadikan pedoman dalam pembelajaran bercerita. Pembelajaran bercerita menggunakan media boneka tangan sebanyak tiga kali pertemuan dengan judul Persahabatan Harimau dan Rusa. Gajah yang Sombong, dan Kambing yang Baik Hati. Mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu boneka tangan dengan bermacam-macam bentuk sesuai judul cerita. Menyiapkan lembar observasi untuk melihat peningkatan perhatian anak. Mempersiapkan peralatan pendukung seperti kamera untuk mendokumentasikan pembelajaran bercerita. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Siklus I Tindakan Pertemuan I Tindakan pada pertemuan I ini dilaksanakan pada hari Jumat 10 April 2022 yang berlangsung dari pukul 07. 30 sampai pukul 10. 00 yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Tema yang digunakan yaitu Binatang. Proses pembelajaran kegiatan bercerita dilakukan pada kegiatan awal. Adapun rincian proses pembelajarannya sebagai berikut: Kegiatan Awal ( 30 meni. Kegiatan awal diawali dengan berdoa, membaca surat-surat pendek dan berbagai macam hadist pilihan serta bernyanyi. Kemudian guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu dan dilanjutkan dengan pembelajaran kegiatan bercerita. Adapun langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran kegiatan bercerita adalah sebagai berikut: Guru mengkondisikan anak untuk duduk ditempatnya. Guru memberitahu judul cerita yang akan dibacakan. Judul ceritanya P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 yaituPersahabatan Harimau dan Rusa. Guru memperkenalkan boneka tangan sesuai tokoh dalam cerita Guru memulai bercerita dan selama pembelajaran kegiatan bercerita guruaktif berkomunikasi dengan anak untuk membuat suasana menjadi Selesai bercerita guru memberi pertanyaan kepada anak untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang Kegiatan Inti ( 60 meni. Setelah pembelajaran kegiatan bercerita selesai dilanjutkan dengan kegiatan inti. Pada kegiatan inti anak diminta untuk mengurutkan gambar rusa dari besar ke kecil, mencocok gambar rusa dan menempelkannya pada bingkai. Kegiatan Penutup ( 30 meni. Pada kegiatan penutup guru mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu. Pertemuan pertama pada siklus pertama berjalan cukup lancar. Pada akhir pertemuan peneliti dan kolaborator melaksanakan evaluasi terhadap hasil kegiatan untuk merencanakan pertemuan selanjutnya. Tindakan Pertemuan II Tindakan pertemuan II ini dilaksanakan pada hari Selasa 14 April 2022 yang berlangsung dari pukul 07. 30 sampai 10. 00 yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Tema yang digunakan yaitu Binatang. Proses pembelajaran kegiatan bercerita dilakukan pada kegiatan awal. Adapun rincian proses pembelajarannya sebagai berikut: Kegiatan Awal ( 30 meni. Kegiatan awal diawali dengan berdoa, membaca surat-surat pendek dan berbagai macam hadist pilihan serta bernyanyi. Kemudian guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu dan dilanjutkan dengan pembelajaran kegiatan bercerita. Adapun langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran kegiatan bercerita adalah sebagai berikut: Guru mengkondisikan anak untuk duduk ditempatnya. Guru memberitahu judul cerita yang akan dibacakan. Judul ceritanya yaituGajah yang Sombong. Guru memperkenalkan boneka tangan sesuai tokoh dalam cerita Guru memulai bercerita dan selama pembelajaran kegiatan bercerita guruaktif berkomunikasi dengan anak untuk membuat suasana menjadi Selesai bercerita guru memberi pertanyaan kepada anak untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang Kegiatan Inti ( 60 meni. Setelah pembelajaran kegiatan bercerita selesai dilanjutkan dengan kegiatan inti, yaitu anak diberi tugas untuk menghitung jumlah gajah danmenuliskan lambang bilangannya, menjiplak bentuk gajah, dan dilanjutkandengan mewaranainya. UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 Kegiatan Penutup ( 30 meni. Pada kegiatan penutup guru mengulas kegiatan yang telah dilakukan pada hari Pertemuan kedua pada siklus pertama berjalan cukup lancar dan lebih baik dari pertemuan pertama. Pada tahap akhir pertemuan peneliti dan kolaboratormelaksanakan evaluasi terhadap hasil kegiatan untuk merencanakan pertemuan selanjutnya. Tindakan Pertemuan i Tindakan pada siklus I pertemuan i ini dilaksanakan pada hari Jumat 1 7 April 2022 yang berlangsung dari pukul 07. 30 sampai 10. 00 yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Tema yang digunakan yaitu Binatang. Proses pembelajaran kegiatan bercerita dilakukan pada kegiatan awal. Adapun rincian proses pembelajarannya sebagai berikut: Kegiatan Awal ( 30 meni. Kegiatan awal diawali dengan berdoa, membaca surat-surat pendek dan berbagai macam hadist pilihan dilanjutkan dengan bernyanyi. Kemudian guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada hari ini. Kegiatan bercerita dilakukan pada kegiatan awal. Adapun langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran kegiatan bercerita adalah sebagai berikut: Guru mengkondisikan anak untuk duduk ditempatnya. Guru memberitahu judul cerita yang akan dibacakan. Judul ceritanya yaituKambing yang Baik Hati. Guru memperkenalkan boneka tangan sesuai tokoh dalam cerita Guru memulai bercerita dan selama pembelajaran kegiatan bercerita guruaktif berkomunikasi dengan anak untuk membuat suasana menjadi Selesai bercerita guru memberi pertanyaan kepada anak untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang Kegiatan Inti ( 60 meni. Setelah pembelajaran kegiatan bercerita selesai dilanjutkan dengan kegiatan inti, yaitu anak diminta untuk menghubungkan gambar binatang Dengan lambang huruf, finger painting pada gambar kambing, dan menunjukkan hasil kerjanya didepan kelas. Kegiatan Penutup ( 30 meni. Kemudian pada kegiatan penutup guru mengulas kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu. Pertemuan ketiga pada siklus pertama berjalan cukup lancar dan lebih baik dari pertemuan pertama dan kedua. Pada tahap akhir pertemuan peneliti dan kolaborator melaksanakan evaluasi terhadap hasil kegiatan untuk merencanakan pertemuan selanjutnya. Observasi Siklus I Pengamatan dilakukan bersamaan dengan berlangsungnya tindakan. Pengamatan yang dilakukan selama kegiatan bercerita meliputi:. konsentrasi, . , dan . Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada Siklus I diperoleh rata- rata hasil yang dicapai selama tiga kali pertemuan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 Tabel 5. Rekapitulasi Data Perhatian Anak Siklus I Skor Kriteria Baik Cukup Kurang Jumlah (Sumber: Lampiran 6 halaman . Persentase 60 % . 33 % . 67 % . Pada tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa pada Siklus I anak yang memiliki perhatian pada kriteria perhatian baik mencapai 60 % . , anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian cukup sebesar 33. , dan anak yang memiliki perhatian dengan kriteria perhatian kurang 67 % . Data pada tabel hasil perhatian anak Siklus I dapat diperjelas melaluigrafik pada Gambar 4. Cukup Gambar 4. Grafik Persentase Perhatian Anak Siklus I Refleksi Siklus I Langkah selanjutnya dalam penelitian tindakan kelas ini adalah refleksi. Refleksi dilakukan oleh peneliti dan kolaborator setelah Siklus I selesai. Berdasarkan data tabel yang di peroleh, perhatian anak pada Siklus I menunjukkan adanya peningkatan setelah dilakukan tindakan. Namun, peningkatan perhatian anak belum mencapai kriteria keberhasilan yang diharapkan. Hal tersebut dikarenakan dalam pelaksanaan Siklus I ditemui beberapa kendala sebagai Boneka tangan yang digunakan kurang besarsehingga anak yang berada jauh dari guru ingin mendekat. Boneka tangan yang digunakan kurang bervariasi karena hanya dua tokoh. Pengaturan tempat duduk kurang nyaman. Masih banyak anak yang kurang antusias dalam menjawab UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 Dengan demikian, peneliti dan kolaborator sepakat untuk melanjutkan tindakan pada Siklus II. Adapun rencana perbaikan yang akan dilakukan pada Siklus II yaitu sebagai berikut: Boneka tangan yang digunakan diperbesar lagi sehingga anak yang duduk jauh dari guru bisa melihat dengan jelas. Hal ini didasarkan pada hasil wawancara dengan anak. Boneka tangan dibuat lebih menarik lagi dengan adanya penambahan Hal ini didasarkan pada hasil wawancara dengan anak. Pengaturan tempat duduk dibuat lebih nyaman yaitu anak duduk di Agar anak lebih antusias dalam menjawab pertanyaan diberikan reward berupa bintang atau stiker. Siklus II Perencanaan Tindakan Siklus II Tahap perencanaan pada siklus II meliputi kegiatan sebagai berikut: Peneliti bersama kolaborator merencanakan dan menyusun RKH yang akan dijadikan pedoman dalam pembelajaran kegiatan Kegiatan bercerita menggunakan boneka tangan dan dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan dengan judul Melihat Matahari Terbit. Bulan dan Bintang, danAkibat Hujan-hujanan. Mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu boneka tangan denganbermacam-macam bentuk sesuai cerita. Membuat lembar observasi untuk melihat peningkatan perhatian anak. Mempersiapkan perlatan pendukung seperti kamera untuk mendokumentasikan pembelajaran kegiatan bercerita. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Siklus II Tindakan Pertemuan I Tindakan pada siklus II pertemuan I ini dilaksanakan pada hari Senin 27 April 2022 yang berlangsung dari pukul 07. 30 sampai pukul 10. Tema yang digunakan yaitu Alam Semesta. Sama seperti siklus sebelumnya proses pembelajaran kegiatan bercerita dilakukan pada kegiatan awal. Adapun rincian proses pembelajarannya sebagai berikut: Kegiatan Awal ( 30 meni. Kegiatan awal diawali dengan berdoa, membaca surat-surat pendek dan berbagai macam hadist pilihan serta bernyanyi. Kemudian guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu dan dilanjutkan dengan pembelajaran kegiatan bercerita. Adapun langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran kegiatan bercerita adalah sebagai berikut: Guru mengkondisikan anak untuk duduk ditempatnya. Guru memberitahu judul cerita yang akan dibacakan. Judul ceritanya yaituMelihat Matahari Terbit. Guru memperkenalkan boneka tangan sesuai tokoh dalam cerita. Guru memulai bercerita dan selama pembelajaran kegiatan bercerita guruaktif berkomunikasi dengan anak untuk membuat suasana menjadi P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 Selesai bercerita guru memberi pertanyaan kepada anak untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang Kegiatan Inti ( 60 meni. Setelah pembelajaran kegiatan bercerita selesai dilanjutkan dengan kegiatan inti. Pada kegiatan inti anak diminta untuk mengurutkan gambar matahari dari besar ke kecil, mewarnai gambar matahari, dan dilanjutkan dengan mengunting gambar matahari yang telah diwarnai. Kegiatan Penutup ( 30 meni. Pada kegiatan penutup guru mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu. Pertemuan pertama pada siklus kedua berjalan cukup lancar. Pada tahap akhir pertemuan peneliti dan kolaborator melaksanakan evaluasi terhadap hasil kegiatan untuk merencanakan pertemuan selanjutnya. Tindakan Pertemuan II Tindakan pada siklus I pertemuan II ini dilaksanakan pada hari Jumat 1 Mei 2022 yang berlangsung dari pukul 07. 30 sampai 10. Tema yang digunakan yaitu alam semesta. Sama seperti siklus sebelumnya proses pembelajaran kegiatan bercerita dilakukan pada kegiatan awal. Adapun rincian proses pembelajarannya sebagai berikut: Kegiatan Awal ( 30 meni. Kegiatan awal diawali dengan berdoa, membaca surat-surat pendek dan berbagai macam hadist pilihan dan bernyanyi. Kemudian guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu dan dilanjutkan dengan pembelajaran kegiatan bercerita. Adapun langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran kegiatan bercerita adalah sebagai berikut: Guru mengkondisikan anak untuk duduk ditempatnya. Guru memberitahu judul cerita yang akan dibacakan. Judul ceritanya yaituAkibat Hujan-hujanan. Guru memperkenalkan boneka tangan sesuai tokoh dalam cerita. Guru memulai bercerita dan selama pembelajaran kegiatan bercerita guruaktif berkomunikasi dengan anak untuk membuat suasana menjadi Selesai bercerita guru memberi pertanyaan kepada anak untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang Kegiatan Inti ( 60 meni. Setelah pembelajaran kegiatan bercerita selesai dilanjutkan dengan kegiatan inti. Pada kegiatan inti anak diminta untuk membaca gambar yang memiliki kata sederhana, mencocok gambar payung, dan melipat kertas menjadi bentuk Kegiatan Penutup ( 30 meni. Pada kegiatan penutup guru mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu. Pertemuan kedua pada siklus kedua berjalan cukup lancar. Pada tahap akhir pertemuan peneliti dan kolaborator melaksanakanevaluasi terhadap hasil kegiatan untuk merencanakan pertemuan selanjutnya. Tindakan Pertemuan i Tindakan pada siklus I pertemuan i ini dilaksanakan pada hari Senin 4 Mei 2022 yang berlangsung dari pukul 07. 30 sampai 10. 00 Tema yang digunakan yaitu alam semesta. Sama seperti siklus sebelumnya proses pembelajaran kegiatan UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 bercerita dilakukan pada kegiatan awal. Adapun rincian proses pembelajarannya sebagai berikut: Kegiatan awal ( 30 meni. Kegiatan awal diawali dengan berdoa, membaca surat-surat pendek dan berbagai macam hadist pilihan dan bernyanyi. Kemudian guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu dan dilanjutkan dengan pembelajaran kegiatan bercerita. Adapun langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran kegiatan bercerita adalah sebagai berikut: Guru mengkondisikan anak untuk duduk ditempatnya. Guru memberitahu judul cerita yang akan dibacakan. Judul ceritanya yaituBulan dan Bintang. Guru memperkenalkan boneka tangan sesuai tokoh dalam cerita. Guru memulai bercerita dan selama pembelajaran kegiatan bercerita guruaktif berkomunikasi dengan anak untuk membuat suasana menjadi Selesai bercerita guru memberi pertanyaan kepada anak untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang Kegiatan Inti ( 60 meni. Setelah pembelajaran kegiatan bercerita selesai dilanjutkan dengan kegiatan inti. Pada kegiatan inti anak diminta untuk mengurutkan bintang dari besar ke kecil, menganyam bentuk bintang dan membuat bulan dan bintang dari plastisin. Menganyam bentuk matahari, dan membuat matahari dan bulan dengan Kegiatan Penutup ( 30 meni. Pada kegiatan penutup guru mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu. Pertemuan ketiga pada siklus kedua berjalan cukup lancar dan mengalami peningaktan. Pada akhir pertemuan peneliti dan kolaborator melaksanakan evaluasi terhadap hasil kegiatan. Observasi Siklus II Pengamatan dilakukan bersamaan dengan berlangsungnya tindakan. Pengamatan yang dilakukan selama kegiatan bercerita meliputi:. konsentrasi, . ingatan, dan . Berdasarkan pengamatan yang dilakukanpada Siklus II diperoleh rata-rata hasil yang dicapai selama tiga kali pertemuan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 6. Rekapitulasi Data Perhatian Anak Siklus II Skor Kriteria Presentase (%) Baik 33 % . Cukup 67 % . Kurang Jumlah (Sumber: Lampiran 6 Halaman . Berdasarkan rata-rata hasil yang dicapai pada tindakan Siklus II, anak yang memiliki perhatian pada kriteria perhatian baik mencapai 93,33 % . , anak yang memiliki perhatian dengan kriteria perhatian cukup sebesar6,67 % . , dan anak yang memiliki perhatian dengan kriteria perhatian kurang sebesar0 % . idak ad. Data pada tabel hasil perhatian anak Siklus II dapat diperjelas melalui grafik pada Gambar 5. P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 Gambar 5. Grafik Persentase Perhatian Anak Siklus II 93,33 % 6,67 % Kurang Cukup Baik Kriteria Perhatian Refleksi Siklus II Langkah selanjutnya dalam penelitian tindakan kelas ini adalah refleksi. Refleksi dilakukan oleh peneliti dan kolaborator setelah Siklus IIselesai. Adapun hasil refleksi pada siklus II sebagai berikut: Pada pembelajaran kegiatan bercerita melalui metode bercerita dengan media boneka tangan perhatian anak telah mengalami peningkatan secara signifikan. Anak-anak terlihat lebih antusias dan senang saat mendengarkan certia dan menunjukkan kriteria perhatian yang ditetapkan. Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus II maka dapat diketahui bahwa perhatian anak sudah mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil yang diperoleh, anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian baik mencapai 93,33 % . , anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian cukup sebesar 6,67 % . , dan anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian kurang sebesar 0 % . idak ad. Setelah dilakukan perbaikan akhirnya perhatian anak pada pembelaja ran kegiatan bercerita dapat ditingkatkan melalui metode bercerita dengan media boneka tangan. Oleh karena itu upaya peningkatan perhatian tidak perlu dilakukan lagi karena telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu 80% dari jumlah anak menunjukkan perhatian pada kriteria Berdasarkan paparan pada hasil penelitian dapat dilihat perbandingan perhatian anak pada pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Adapun rekapitulasi hasil perhatian anak pra tindakan, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada Tabel UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 Tabel 7. Rekapitulasi Perbandingan Perhatian Anak Pra Tindakan. Siklus I, dan Siklus II Pra Tindakan Siklus I Siklus II No Kriteria Persentase Persentase Persentase Baik 33 % . Cukup 20 % . 33 % . 67 % . Kurang 66. 67 % . 67 % . 0 % . idak ad. Berdasarkan tabel di atas maka diketahui bahwa pada pra tindakan anak yang memiliki perhatian dengan kriteria perhatian baik hanya sebesar 13. 33 % . , anak yang memiliki perhatian dengan kriteria perhatian cukup sebesaar 20% . , dan sisanya menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian kurang sebesar 66. 67 % . Pada siklus I perhatian anak dengan kriteria perhatian baik meningkat menjadi 60 % . , anak yang memiliki perhatian dengan kriteria perhatian cukup meningkat menjadi 33. 33 % . , dan anak yang memiliki perhatian dengan kriteria perhatian kurangberkurang menjadi 67 % . Selanjutnya pada siklus II anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian baik meningkat kembali menjadi 93. 33 % . , anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian cukup berkura ng 67% . , dan anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria perhatian kurang 0 % . idak ad. Data pada tabel rekapitulasi hasil perhatian anak pra tindakan. Siklus I, dan Siklus II dapat diperjelas melalui grafik pada Gambar 6. Tindakan Siklus I P40% Kurang Cukup Baik Kriteria Perhatian Gambar 6. Grafik Persentase Perhatian Anak Pra Tindakan. Siklus I. Siklus II Pembahasan Dalam penelitian ini perhatian anak Kelompok A TK Pertiwi IV Serui pada saat pembelajaran kegiatan bercerita belum optimal. Penyebab kurangnya perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita karena guru belum menggunakan media yang menarik pada saat bercerita. Untuk meningkatkan perhatian anak Kelompok A TK Pertiwi IV Serui penelitimenggunakan metode bercerita dengan media boneka tangan. Penggunaan metode bercerita ini untuk mengisahkan suatu peristiwa atau P-ISSN: 2598-4985. E-ISSN: 2598-4993 kejadian kepada anak. Kejadian atau peristiwa tersebut disampaikan kepada anak melalui tutur kata, ungkapan, dan mimik wajah yang unik. Bagi anak TK kegiatan mendengarkan cerita merupakan hal yang mengasyikkan karena dalam cerita disampaikan berbagai macam kisah menarik yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Pada saat bercerita apabila tidak disertai dengan media yang menarik maka perhatian anak terhadap cerita yang dibacakan guru akan berkurang. Hal itu sesuai dengan pendapat Kemp & Dayton dalam Azhar Arsyad . 1: 21-. bahwa salah satu peranan media adalah membuat pembelajaran lebih menarik dan membuat anak lebih terjaga dan Selain itu Yasmin dalam Syhinta Yulia . 2: . menyebutkan bahwa: Aumanfaat alat peraga diantaranya adalah menyampaikan suatu konsep dengan bentuk yang baru, mempertahankan konsentrasi, mengajar dengan lebih cepat, mengatasi masalah keterbatasan waktu, mengatasi masalah keterbatasan tempat, mengatasi masalahketerbatasan bahasa, membangkitkan emosi manusia dan menyampaikan suatu konsep dengan bentuk yang baruAy. Setelah dilakukan tindakan, yaitu pada saat guru bercerita menggunakan media boneka tangan terdapat peningkatan dari Pra Tindakan. Siklus I dan Siklus II Selain itu anak mampu bertahan memperhatikan cerita yang dibacakan guru tidak kurang dari 10 menit. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Olivia dalam Tsaniy Nur Farhani . 2: . yang mengemukakan bahwa rata-rata rentang atensi pada usia 3-4 tahun selama 10 menit. Kuat tidaknya perangsang dari obyekitu sendiri juga mempengaruhi perhatian, hal itu sesuai dengan pendapat Abu Ahmadi . 3: . Pada pra tindakan anak yang menunjukkan perhatian dengan kriteria baik hanya sebanyak 2 anak dari 15 anak di dalam kelas. Setelah dilakukan tindakan yaitu pada siklus I perhatian anak dengan kriteria baik meningkat menjadi 9 anak, namun hasil yang dicapai pada siklus I belum mencapai kriteria keberhasilan yang di tetapkan karena mengalami beberapa kendala antara lain: . media boneka tangan yang digunakan kurang besar sehingga anak yang jauh dari guru ingin mendekat, . media boneka tangan yang digunakan kurang bervariasi karena hanya terbatas pada dua tokoh, . pengaturan tempat duduk kurang nyaman, . masih banyak anak yang kurang antusias dalam menjawab Berdasarkan hal tersebut, peneliti dan kolaborator sepakat untuk melanjutkan pada Siklus II dengan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kendala yang muncul pada tindakan siklus I. Pada siklus II ini perhatian anak pada kriteria perhatian baik meningkat kembali sebanyak 14 anak. Pada tahap ini juga masih ada 1 anak yang belum mencapai kriteria perhatian baik, hal ini dikarenakan anak tersebut kurang memiliki antusias saat mengikuti pembelajaran kegiatan bercerita dan sering terlihat melamun. Guru sudah melakukan upaya dengan lebih memotivasi anak dan memberikan reward namun anak tersebutmasih belum bisa menunjukkan perhatian dengan kriteria Kegiatan bercerita dengan menggunakan media yang menarik merupakan stimulus yang kuat untuk menarik perhatian anak sehingga anak akan bersungguh-sungguh dalam memperhatikan guru pada saat bercerita. Perhatian anak yang baik ditunjukkan melalui konsentrasi yaitu mendengarkan cerita yang dibacakan guru sampai selesai,mampu mengingat nama-nama tokoh dalam cerita dan dapat menjawab pertanyaan dari guru. UNES Journal of Education Scienties. : 01-22 Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, perhatian anak Kelompok A TK Pertiwi IV Serui pada saat proses pembelajaran kegiatan bercerita dapat ditingkatkan melalui penggunaan metode bercerita dengan media boneka tangan. Peningkatan perhatian anak juga tidak lepas persiapan pembelajaran bercerita yang lebih matang, keterampilan guru dalam bercerita danpenggunaan media yang baik. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan dalam penelitian ini antara lain: Pengamatan hanya dilakukan oleh satu orang dan pada saat pengamatan tidak dilengkapi dengan alat pendukung seperti video untuk mengamati secara jelas kondisi perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan Boneka tangan yang digunakan belum divalidasi. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Perhatian anak melalui metode bercerita dengan media boneka tangan dapat ditingkatkan melalui langkah-langkah sebagai berikut:. guru mengkondisikan anak, . guru memberitahu judul cerita yang akan dibacakan, . guru memperkenalkan boneka tangan sesuai tokoh dalam cerita, . guru menceritakan isi cerita, dan . pada bagian akhir guru memberikan pertanyaan kepada anak untuk mengetahui ingatan dan pemahaman anak terhadap cerita yang dibacakan. Selain itu pemberian reward bagi anak yang bisa menjawab pertanyaan dapat menambah motivasi anak. Peningkatan perhatian anak terjadi pada setiap pertemuan dari Pra Tindakan. Siklus I dan Siklus II. Pada pra tindakan perhatian anak dengan kriteria perhatian baik hanya sebesar 13. 33% . , kemudian pada siklus I perhatian anak dengan kriteria perhatian baik mencapai 60% . , dan pada siklus II meningkat kembali hingga mencapai 93. 33% . Saran Berdasarkan hasil dan kesimpulan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka dalam usaha untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran kegiatan bercerita disarankan sebagai berikut: Guru Pada saat pembelajaran kegiatan bercerita sebaiknya menggunakan media yang menarik perhatian anak khususnya media boneka tangan. Peneliti selanjutnya Peneliti selanjutnya diharapkan membuat penelitian untuk meningkatkan perhatian anak pada saat pembelajaran kegiatan bercerita menggunakan media yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA