Diterima Disetujui Hal : 02 November 2022 : 10 Desember 2022 : 31 - 37 Al-Qlu: Jurnal Matematika. Teknik dan Sains https://jurnal. com/index. php/aqlu e-ISSN : 2985-4369 Vol. No. Januari 2023 PENGARUH PERBEDAAN UKURAN MATA PANCING TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DASAR (DEMERSAL FISH) DENGAN ALAT TANGKAP RAWAI DASAR (BOTTOM LONG LINE) (The Influence of Fishing Differences On Base Fish Catches (Demersal Fis. With Basic Long Fishing Green (Bottom Long Lin. ) Endang Ariani. Aryani Rahmawati. I Nyoman Budi Satriya. Hamid. * Alumni, 2,. Fakultas Perikanan Universitas 45 Mataram, . Dinas Perikanan Kota Mataram, budisatriya888@gmail. com, . salwi@gmail. ABSTRAK Ikan dasar (Demersal fis. merupakan ikan yang habitat hidupnya di karang dan di dasar perairan berbatu, berdiam diri di dalam lubang-lubang untuk menunggu mangsa. Penyebaran dan kelimpahan ikan dasar sangat di pengaruhi kondisi lingkungan perairan maupun oseanografi-nya daerah penangkapan potensial merupakan perairan di mana terdapat banyak ikan bergerombol dan memungkinkan untuk dapat ditangkap dengan alat tangkap tertentu. Pancing rawai dasar . ottom long lin. adalah alat tangkap yang terbuat dari seperangkat tali panjang . ine fishin. yang ditunjukan untuk menangkap berbagai jenis ikan dasar . dan sebagainya dalam ukuran dan jumlah yang besar, pancing rawai dasar (Bottom long lin. merupakan salah satu jenis alat tangkap dasar yang cukup produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran mata pancing . yang paling produktif dan untuk mengetahui jenis-jenis ikan dasar yang tertangkap menggunakan alat tangkap pancing rawai dasar (Bottom long lin. ___________________________________________ Kata kunci : mata pancing, ikan dasar rawai dasar ABSTRACT Bottom fish (Demersal fis. are fish whose habitat lives in coral and at the bottom of rocky waters, staying silent in holes to wait for prey. The distribution and abundance of bottom fish is strongly influenced by the environmental conditions of the waters as well as the oceanography. Potential fishing areas are waters where there are many fish in schools and it is possible to catch them with certain fishing gear. Bottom long line fishing gear is a fishing gear made of a set of long lines . ine fishin. intended to catch various types of bottom . fish and so on in large sizes and quantities. one type of basic fishing gear that is quite productive. This study aims to determine the size of the most productive hook . and to determine the types of bottom fish caught using bottom long line fishing gear. ___________________________________________ Keywords: hook, basic longline fish PENDAHULUAN Laut merupakan sumberdaya alam yang memiliki kekayaan yang melimpah untuk Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih kurang 508 pulau, dengan sekitar 6. 000 di antaranya merupakan pulau yang berpenduduk. Indonesia secara keseluruhan juga memiliki garis pantai terpanjang di dunia yakni 81. 000 km yang merupakan 14% dari garis pantai yang ada di seluruh dunia. Luas laut Indonesia mencapai 5,8 juta km 2, atau mendekati 70% dari luas keseluruhan negara Indonesia potensi perikanan laut Indonesia yang terdiri atas potensi perikanan pelagis dan perikanan dasar hampir tersebaran di semua bagian perairan laut Indonesia yang ada seperti pada perairan laut teritorial, perairan laut nusantara dan perairan laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) (Yusri. Provinsi Nusa Tenggara Barat dibatasi oleh Laut Jawa dan Laut Flores disebelah Utara. Samudera Hindia disebelah Selatan. Selat Lombok disebelah Barat, dan Laut Sape di Sebelah Timur. Dengan demikian maka wilayah perairan Nusa Tenggara Barat merupakan perairan yang menghubungkan dan mempertemukan dua massa air dari Laut Jawa dan Laut Flores dengan massa air dari Samudera Hindia. Pertemuan dua massa air tersebut membawa kandungan zat hara yang dapat menyuburkan perairan sehingga memiliki sumberdaya perikanan yang potensial dan kaya dengan berbagai jenis sumberdaya ikan, antara lain: ikan Lemuru (Sardinella longicep. Kembung (Rastrelliger Sp. Layang (Decapterus Sp. Barong (Panulirus S. Cumi-Cumi (Loligo S. Sotong (Sepioteuthis lessoniana L). Tongkol (Auxis thazar. Cakalang (Katsuwonus pelami. Tuna (Thunnus Sp. , dan lain-lain (Anonymous, 2. Ikan dasar (Demersal fis. merupakan ikan yang habitat hidupnya di karang dan di dasar perairan berbatu, berdiam diri di dalam lubang-lubang untuk menunggu mangsa. Dan dapat hidup di air laut maupun air payau karena mempunyai toleransi tinggi terhadap salinitas yaitu 15-35 ppt. Daerah penyebaran ikan dasar di mulai dari Afrika Timur. Fasifik Barat Daya. Australia. Taiwan. Mikronesia, dan Polinesia. Sedangkan di perairan Indonesia yang populasinya cukup banyak adalah perairan Sumatera. Jawa. Sulawesi dan Pulau Buru (Mayunar. ,1. Penyebaran dan kelimpahan ikan dasar sangat di pengaruhi kondisi lingkungan perairan maupun oseanografi-nya. Daerah penangkapan potensial merupakan perairan di mana terdapat banyak ikan bergerombol dan memungkinkan untuk dapat ditangkap dengan alat tangkap tertentu. Karakteristik daerah penangkapan ikan . ishing groun. yang baik meliputi daerah yang sesuai dengan habitat yang dikehendaki ikan, penggunaan alat tangkap yang mudah dioperasikan di daerah tersebut serta alat tangkap yang dioperasikan secara ekonomis dapat menguntungkan (Wudianto. Berkembangnya usaha penangkapan ikan, maka semakin berkembangnya pula alat tangkap yang dipergunakan. Berbagai macam alat tangkap yang baru dibuat berdasarkan prinsip dan penggunaannya maupun pertimbangan seperti daerah penangkapan serta keadaan sosial masyarakat tertentu (Arikunto Suharsimi, 2. Rawai dasar adalah suatu alat tangkap yang berbentuk tali panjang yang dibentangkan secara horizontal. Pada tali panjang diikatkan tali-tali lain yang teratur secara vertikal dan diikatkan mata pancing serta dipasang di dasar perairan dengan bantuan pemberat. Untuk mengetahui adanya alat tangkap di perairan digunakan tanda dengan bantuan pelampung yang dihubungkan oleh tali Jenis rawai dasar yang telah umum dikenal berdasarkan jenis ikan tujuan penangkapan adalah rawai Kerapu. Kakap. Cucut dan lain-lain (Rustadi, 2. , operasi penangkapan . ishing operationa. dilakukan diatas kapal. Kapal ini dipengaruhui oleh arus, angin, gelombang dan lainlain peristiwa laut (Ayodhyoa, 1. Secara umum musim penangkapan ikan di perairan laut Pulau Lombok terjadi pada bulan April sampai dengan Oktober dengan daerah penangkapan . ishing groun. di Perairan Selat Lombok bagian Barat dan pada bulan Nopember sampai dengan bulan Maret dengan daerah penangkapan . ishing groun. di perairan bagian Timur. Sedangkan di perairan laut Pulau Sumbawa musim penangkapannya berlangsung dari bulan Nopember sampai dengan bulan Maret pada setiap tahunnya (Anonymous, 2. Di Kawasan Perairan Pelabuhan Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur, merupakan desa pantai yang dimana perairannya mempunyai potensi perikanan, yang mayoritas penduduknya adalah nelayan. Rawai dasar (Bottom long lin. merupakan alat tangkap pancing yang digunakan untuk menangkap ikan dengan ukuran mata pancing . yang biasa digunakan bervariasi yaitu dengan ukuran no 5, 6, 7, dan 8. Bertitik tolak dari uraian diatas, maka dipandang perlu melakukan penelitian dengan judul Au pengaruh perbedaan ukuran mata pancing terhadap hasil tangkapan ikan dasar . emersal fis. pada alat tangkap rawai dasar . ottom long lin. di kawasan perairan Pelabuhan Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur. Tujuan peneliti ini adalah untuk mengetahui perbedaan ukuran mata pancing terhadap hasil tangkapan ikan dasar . emersal fis. dengan alat tangkap rawai dasar . ottom long lin. di Kawasan Perairan Pelabuhan Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode AueksperimentAy yaitu suatu metode yang melakukan observasi langsung terhadap objek penelitian dengan melibatkan faktor uji ukuran mata pancing (Hoo. , yang terdiri dari 4 perlakuan mata pancing dan 4 kali ulangan, sehingga diperoleh 16 unit percobaan. Setiap unit percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Selanjutnya dianalisis dengan Analisis Of Fariabel (ANOVA) pada taraf nyata yang sama, analisis data menggunakan bantuan sofware minitab V16. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 1. bulan di Kawasan Perairan Pelabuhan Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur dari tanggal 20 Oktober sampai dengan 20 November 2013. Posisi geografi fishing base dan daerah penangkapan rawai dasar sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Gambar 1. Posisi geografi fishing base dan daerah penangkapan rawai dasar Parameter pengamatan terdiri dari dua yaitu: Parameter utama adalah jumlah jenis ikan dan jumlah bobot ikan demersal yang ditangkap dengan perlakuan mata pancing (Hoo. yang berbeda. Parameter Penunjang yaitu pengamatan atau pengukuran keadaan oceanografi yang meliputi : Salinitas, pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan hand refaktometer. Suhu, pengamatan suhu dilakukan dengan menggunakan thermometer. Kecepatan arus, dilakukan dengan menggunakan pelampung yang berbentuk bola yang diberi pemberat dan diikat sedemikian rupa dengan tali. Adapun cara kerja penelitian yaitu adalah sebagai berikut: Persiapan Persiapan yang dilakukan dalam penelitian adalah menempatkan unit alat tangkap yang telah tersusun rapi dalam basket pada bagian buritan kapal. Disiapkan pula pelampung dan pemberat yang masing-masing ditempatkan pada posisi yang berdekatan dengan unit alat yang terdapat dalam basket, demikian pula umpan dan lain-lain yang akan menangani masing-masing bagian tersebut (Naingolan, 2. Penurunan Alat Tangkap (Settin. Setting . enurunan alat tangka. dilakukan pada bagian buritan kapal oleh 4 orang yang masing-masing menangani pekerjaan masing-masing. Orang pertama menangani pemasangan umpan pada mata pancing yang sekaligus melempar branch line, orang kedua bertugas mengulurkan atau membuang main line, orang ketiga mempersiapkan tali pelampung, bendera dan pemberat serta basket dan orang keempat mengemudikan kapal selama operasi berlangsung (Riani. Setting diawali dengan merangkai ujung-ujung main line dengan tali pemberat dan tali pelampung yang kemudian dilemparkan ke laut, setelah itu diteruskan dengan mengulur main line, melempar branch line dan mata pancing yang telah dilengkapi umpan. Pada saat hampir menyelesaikan penurunan satu basket rawai dasar, maka pada ujung akhir dari main line basket pertama diikatkan lagi dengan tali-tali yang telah dilengkapi pemberat dan pelampung (Riani. Demikian seterusnya sampai pada keseluruhan basket yang diperlukan. Setting ini dilakukan dalam keadaan kapal berjalan pelan dan tetap pada haluannya. Gambar 2. Penyetingan Pancing Rawai (Sumber: Riani, 1. Penarikan Alat Tangkap Menarik alat tangkap (Haulin. dilakukan 2 jam setelah setting dan dapat ditangani oleh 4-5 orang. Orang pertama dan kedua masing-masing melakukan penarikan main line dan branch line yang sekaligus melepas ikan hasil tangkapan dari mata pancing, orang ketiga menangani hasil tangkapan dan menyusun serta merapikan alat tangkap pada masing-masing basket, orang keempat mengemudikan, hauling ini dilakukan dalam keadaan kapal melaju pelan (Riani, 1. Pekerjaan hauling diawali dengan menaikan pelampung dan pemberat yang diikuti dengan main line dan branch line serta melepas atau memungut hasil tangkapan. Pekerjaan ini dilakukan di haluan kapal (Riani, 1. Gambar 3. Tehnik Hauling (Sumber: Riani, 1. Setelah semua persiapan telah dilakukan dan telah tiba di . ishing groun. yang telah ditentukan, setting diawali dengan penurunan pelampung bendera, pelampung dan penebaran tali utama, selanjutnya dengan penebaran pancing yang telah dipasangi umpan. Rata-rata waktu yang dipergunakan untuk melepas pancing 1 menit. Pelepasan pancing dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus terhadap arus. Waktu melepas pancing biasanya waktu tengah malam, sehingga pancing telah terpasang waktu pagi saat ikan sedang giat mencari mangsa. Akan tetapi, pengoperasian pada siang hari dapat pula dilakukan. Para nelayan yang ada di Tanjung Luar melakukan operasi penangkapan ikan dasar dengan menggunakan alat tangkap bottom long line sekitar perairan Selatan Pulau Lombok dari fishing base ke fishing ground dengan jarak tempuh 2-3 mill dan kedalaman 45 sampai 65 meter dengan dasar perairan diperkirakan pasir bercampur lumpur. Sedangkan operasi penangkapan yang dilakukan meliputi persiapan, perjalanan menuju daerah penangkapan ikan, pemasangan pancing, perendaman pancing, pengangkatan jaring, pemasangan ulang dan kembali ke fishing base. HASIL DAN PEMBAHSAN Operasi penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap pancing rawai dasar . ottom long lin. menggunakan 4 ukuran mata pancing yang berbeda dimana operasi penagkapan dilakukan pada kedalaman fishing ground A 45 Ae 60 meter. Hasil tangkapan ikan yang diperoleh adalah dalam satuan berat . , jumlah . dan jenis ikan. Hasil tangkapan diperoleh dari 4 . perlakuan dengan menggunakan ukuran mata pancing 4 lalu dilakukan 4 . kali ulangan dengan pengambilan data sebanyak 16 . nam bela. Hasil tangkapan keseluruhan sebanyak 45 ekor dengan berat 17. 650 gram. Jumlah ikan yang tertangkap sebanyak 8 jenis yang didominasi oleh ikan Kerapu (Epinephelus s. Kakap Merah (Lutjanus campechanu. Lencam (Lethrimus lentza. Kurisi (Nemipteru. Gerot-gerot (Pomadasys macullatu. Alu-alu (Aphyraena geni. Remang (Congresak talabo. dan Cucut (Cucarcarhinus s. Tabel 1. Hasil Pengamatan Selama Penelitian Parameter Pengamatan Perlakuan Jumlah Ikan . Jumlah Berat . Hook No. 5 (P. 1,7b 687,5a Hook No. 6 (P. 1,8b 700,0a Hook No. 7 (P. 2,5b 887,5a 5,2a 142,5a Hook No. 8 (P. Sumber data yang diolah Tabel 2. Data Jenis Hasil Tangkapan Ikan Selama Melakukan Penelitian. Perlakuan Jenis Ikan Jumlah . Berat . Kerapu (Epinephelus s. Kakap Merah(Lutjanus campechanu. Hook No. 5 (P. Remang (Congresox talabo. Lencam (Lethrimus lentza. Kurisi (Nemipterus nemathophoru. Jumlah Kerapu (Epinephelus s. Remang (Congresox talabo. Hook No. 6 (P. Lentam (Lethrimus lentza. Kakap Merah(Lutjanus campechanu. Kurisi (Nemipterus nemathophoru. Jumlah Kerapu (Epinephelus s. Cucut (Carcarhinus s. Kurisi (Nemipterus nemathophoru. Hook No. 7 (P. Gerot-gerot (Therapon therap. Remang (Congresox talabo. Lentam (Lethrimus lentza. Jumlah Kerapu (Epinephelus s. Cucut (Carcarhinus s. Kakap Merah(Lutjanus campechanu. Kurisi (Nemipterus nemathophoru. Hook No. 8 (P. Gerot-gerot (Therapon therap. Alu-alu (Aphyraena geni. Lencam (Lethrimus lentza. Remang (Congresox talabo. Jumlah Total Sumber : data primer diolah Tabel 3. Daftar Hasil Pengukuran Suhu. Kecepatan Arus. Dan Salinitas Perairan Selama Melakukan Penelitian Kisaran nilai hasil ulangan terhadap parameter pengamatan kualitas air Perlakuan Ulangan Kecepatanarus . /deti. Salinitas . Suhu . C) 0,21 0,27 0,31 0,27 0,21 0,27 0,27 0,31 0,31 0,27 0,21 0,27 0,21 0,27 0,27 0,31 Rata-rata 0,26 28,25 Sumber : Data Primer Diolah. Hasil tamgkapan ikan dalam jumlah . Perlakuan ukuran mata pancing memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah tangkapan ikan yang diperoleh. Perlakuan ukuran mata pancing . No. 8 memberikan hasil tangkapan jumlah ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Adapun pada pengamatan jumlah berat tangkapan ikan, setiap perlakuan menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata . ecara statisti. Meski demikian, ada kecenderungan perlakuan mata pancing No. memberikan hasil tangkapan berat yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. PERLAKUAN Hasil tangkapan ikan dalam berat . Gambar 4. Grafik Hasil Tangkapan Ikan Dalam Jumlah (Eko. PERLAKUAN Gambar 5. Grafik Hasil Tangkapan Ikan Dalam Berat (Gra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran mata pancing . 8 (P. memberikan hasil tangkapan tertinggi dengan jumlah tangkapan 21 ekor dengan berat 8. 550 gram, kemudian disusul dengan ukuran mata pancing . 7 (P. dengan jumlah tangkapan 10 ekor dengan 550, dan yang terendah ukuran mata pancing . 5 (P. sebanyak 7 ekor dengan 750 gram. Berdasarkan hasil Analisa Sidik Ragam (ANASRA) dalam ekor menunjukan bahwa AuBerbeda Sangat NyataAy dimana Fhitung > Ftabel 5% . ,05 > 3,. Sedangkan dalam berat . menunjukan bahwa AuBerbeda Sangat NyataAy dimana Fhitung > Ftabel 5% . ,28 > 3,. Ratarata kisaran parameter kualitas air . ondisi oceanograf. di lokasi penelitian meliputi kecepatan arus berkisar antara 0,21 m/detik Ae 0,31 m/detik dengan rata-rata 0,26 m/detik, salinitas berkisar antara 31 ppt Ae 32 ppt dengan rata-rata 31,18 ppt, dan suhu berkisar antara 280C Ae 290C dengan rata-rata 28,430C. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh perbedaan mata pancing terhadap hasil tangkapan ikan dasar (Demersal fis. pada alat tangkap rawai dasar . ottom long lin. di Kawasan Perairan Pelabuhan Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur dapat di simpulkan sebagai Menggunakan mata pancing . yang berbeda pada alat tangkap rawai dasar . ottom long lin. akan memberikan hasil yang berbeda pula, dan dengan ukuran mata pancing no 8 lebih produktif dibandingkan ukuran mata pancing no 5, 6, dan 7, sehingga memberikan hasil yang lebih banyak. Berdasarkan hasil tangkapan selama penelitian di Tanjung Luar, ada beberapa jenis ikan yang tertangkap yaitu ikan. Kerapu (Epinephelus s. Kakap Merah (Lutjanus campechanu. Lencam (Lethrimus lentza. Kurisi (Nemipteru. Gerot-gerot (Pomadasys macullatu. Alu-alu (Aphyraena geni. Remang (Congresak talabo. dan Cucut (Cucarcarhinus s. Saran Adapun saran yang dapat disampaiakan sebagai berikut: Diharapkan kepada instansi-instansi terkait agar dapat lebih meningkatkan kegiatan pembinaan dan penyuluhan dalam hal menambah pengetahuan dan keterampilan nelayan, serta penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan. Perlu dilakukan penelitian mengenai operasi penangkapan menggunakan alat tangkap rawai dasar . ottom long lin. dari segi pengaruh faktor-faktor kedalaman dan waktu penagkapan terhadap hasil operasi penangkapn menggunakan alat tangkap rawai dasar (Bottom long lin. DAFTAR PUSTAKA