Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Qur'anic and Hadith Learning through Lecture Method: A Study at MTs Puncakwangi Erik Iryanto1. Ana Syarifah2 1 MTS Puncakwangi 2 MAN Kota Kupang Correspondence: erikiry697@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Lecture Method. Qur'an. Hadith. MTs Puncakwangi, religious education, student engagement. Islamic teachings. ABSTRACT This study aims to explore the effectiveness of the Lecture Method in enhancing the understanding of Qur'anic and Hadith teachings among students at MTs Puncakwangi. Religious education, particularly the study of the Qur'an and Hadith, plays a vital role in shaping students' moral and spiritual development. However, traditional teaching methods, especially the lecture-based approach, often face criticism for being too passive and not engaging students actively in the learning process. This research investigates whether the Lecture Method, when applied thoughtfully, can still be effective in deepening students' understanding of Islamic texts and fostering a connection between these teachings and daily life. The research employs a qualitative case study design, involving both teachers and students at MTs Puncakwangi. Data were collected through classroom observations, interviews with teachers and students, and assessments of student comprehension through written tests and oral The study focuses on how the Lecture Method impacts students' ability to understand and apply the teachings of the Qur'an and Hadith, particularly in relation to their moral behavior and decision-making in everyday life. Findings suggest that while the Lecture Method may not be as interactive as other methods, it can still significantly enhance students' understanding of Islamic teachings. Students were able to recall and explain key concepts from the Qur'an and Hadith more effectively when the lecture was complemented with clear examples, storytelling, and interactive questionand-answer sessions. The study concludes that, with proper implementation, the Lecture Method remains a valuable tool in teaching Qur'anic and Hadith studies, though it should be supplemented with other methods to increase student engagement. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam, khususnya pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis, memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan moral siswa di sekolah. Di MTs Puncakwangi, pembelajaran tentang Al-Qur'an dan Hadis diharapkan tidak hanya mengajarkan teks agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Dengan mengajarkan ajaran-ajaran agama, siswa diharapkan dapat mengaplikasikan prinsipprinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal perilaku, sikap, maupun keputusan yang diambil dalam kehidupan sosial mereka (Budi, 2. Namun, pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MTs Puncakwangi, seperti halnya di banyak sekolah lain, sering menghadapi tantangan. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana membuat ajaran-ajaran tersebut lebih relevan dengan kehidupan siswa. Banyak siswa yang merasa kesulitan dalam menghubungkan teks-teks agama dengan kehidupan nyata, yang menyebabkan pemahaman mereka terhadap ajaran tersebut menjadi kurang mendalam. Oleh Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 karena itu, diperlukan pendekatan yang dapat menjembatani pemahaman siswa terhadap AlQur'an dan Hadis agar lebih mudah diterima dan diterapkan (Fajar, 2. Salah satu metode yang telah digunakan secara luas di berbagai sekolah adalah metode Meskipun sering dianggap sebagai metode yang kurang interaktif, ceramah tetap menjadi salah satu pendekatan yang paling umum digunakan dalam pengajaran Al-Qur'an dan Hadis. Melalui ceramah, guru dapat menjelaskan dengan jelas konsep-konsep yang terkandung dalam teks-teks agama, serta memberikan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, metode ini sering kali dianggap kurang menarik bagi siswa, yang lebih terbiasa dengan pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada partisipasi aktif (Sari, 2. Namun, penting untuk dicatat bahwa metode ceramah bukanlah metode yang statis. Jika diterapkan dengan cara yang tepat, ceramah dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam menyampaikan ajaran agama. Sebagai contoh, ceramah dapat dikombinasikan dengan teknikteknik lain, seperti diskusi kelompok, tanya jawab, dan ilustrasi praktis untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan menyeluruh. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan metode ceramah dalam konteks pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MTs Puncakwangi (Syamsul, 2. Penting juga untuk mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Meskipun metode ceramah bersifat satu arah, dengan beberapa penyesuaian, metode ini dapat tetap memungkinkan siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Misalnya, guru dapat memberikan waktu untuk tanya jawab atau meminta siswa untuk memberikan contoh tentang penerapan ajaran Al-Qur'an dan Hadis dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan cara ini, siswa tetap bisa terlibat aktif meskipun ceramah menjadi metode utama dalam pengajaran (Hidayat, 2. Penerapan metode ceramah dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang beragam. Siswa di MTs Puncakwangi memiliki latar belakang dan minat yang berbeda-beda, sehingga cara penyampaian materi perlu menyesuaikan dengan karakteristik mereka. Untuk itu, metode ceramah harus dirancang dengan cara yang tidak hanya menyampaikan informasi secara jelas, tetapi juga dapat menarik perhatian siswa dengan menyajikan contoh kehidupan yang relevan dan menarik (Tariq, 2. Jika ceramah bisa mengaitkan ajaran agama dengan situasi dan tantangan yang dihadapi siswa, maka pemahaman mereka akan menjadi lebih mendalam. Namun, salah satu tantangan utama dalam menggunakan metode ceramah adalah keterbatasan Seringkali, waktu yang terbatas dalam setiap sesi pembelajaran tidak cukup untuk menyampaikan materi secara menyeluruh dan mendalam, apalagi jika ceramah tersebut mencakup topik-topik yang luas dan kompleks. Oleh karena itu, penting untuk mengelola waktu dengan efektif dalam penyampaian materi melalui ceramah, sehingga siswa dapat memperoleh pemahaman yang memadai tanpa merasa terburu-buru (Rahayu, 2. Pengelolaan kelas juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan penerapan metode ceramah. Sebagai metode yang bersifat satu arah, ceramah berpotensi membuat siswa merasa bosan atau kurang tertarik jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, guru perlu menjaga perhatian siswa dengan mengatur suasana kelas, memberikan penjelasan yang menarik, serta mengajak siswa untuk berdiskusi atau bertanya pada beberapa titik dalam ceramah. Dengan cara ini, meskipun ceramah tetap menjadi metode utama, siswa tetap dapat aktif berpartisipasi dan terlibat dalam pembelajaran (Ahmad, 2. Seiring dengan itu, teknologi pendidikan juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung metode Penggunaan media seperti proyektor, video, dan alat peraga lainnya dapat memperkaya ceramah dan membuatnya lebih menarik bagi siswa. Sebagai contoh, video pendek yang menggambarkan aplikasi ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Teknologi ini juga membantu membuat pembelajaran lebih interaktif dan dinamis (Zahra, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Penerapan metode ceramah dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MTs Puncakwangi juga harus memperhatikan aspek evaluasi. Evaluasi yang baik tidak hanya menilai hasil akhir dari pemahaman siswa, tetapi juga proses pembelajaran yang berlangsung selama ceramah. Oleh karena itu, guru perlu melakukan evaluasi secara berkelanjutan, baik melalui tes tertulis, kuis, maupun penilaian terhadap partisipasi siswa dalam diskusi atau tanya jawab yang dilakukan selama ceramah (Wahyuni, 2. Selain itu, peran orang tua dalam mendukung pembelajaran siswa juga sangat penting. Pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga melibatkan orang tua dalam mendiskusikan materi yang diajarkan di sekolah. Ketika orang tua memahami pentingnya ajaran agama dan mendukung anak-anak mereka dalam pembelajaran di rumah, pemahaman siswa terhadap materi ajaran agama dapat lebih diperkuat (Fajar, 2. Secara keseluruhan, metode ceramah memiliki potensi besar dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap Al-Qur'an dan Hadis, terutama jika diterapkan dengan strategi yang tepat dan didukung oleh berbagai teknik pembelajaran lainnya. Meskipun metode ini memiliki tantangan dalam hal keterlibatan siswa dan keterbatasan waktu, dengan perencanaan yang matang dan pengelolaan yang baik, ceramah dapat tetap menjadi metode yang efektif dalam pengajaran agama di MTs Puncakwangi (Sari, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Al-Qur'an dan Hadis melalui penerapan metode ceramah di MTs Puncakwangi. PTK dipilih karena pendekatan ini memberikan kesempatan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara langsung, mengidentifikasi masalah yang ada di kelas, serta merancang dan menerapkan solusi yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui PTK, hasil dari setiap siklus akan dievaluasi dan diperbaiki dalam siklus berikutnya untuk memastikan pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien (Budi, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis dengan metode ceramah yang disertai dengan contoh konkret penerapan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Rencana pembelajaran ini juga mencakup strategi ceramah yang dapat mendorong interaksi siswa, seperti sesi tanya jawab dan diskusi singkat, untuk menjaga agar siswa tetap terlibat aktif selama ceramah berlangsung (Sari, 2. Pada tahap pelaksanaan, guru mengimplementasikan metode ceramah yang telah dirancang dalam kelas. Pembelajaran akan dimulai dengan ceramah yang disertai dengan ilustrasi atau contoh praktis, diikuti dengan sesi tanya jawab yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi dan menyampaikan pemahaman mereka tentang materi. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan Hadis. Selama ceramah, guru akan aktif mengajak siswa untuk merenungkan dan mengaitkan ajaran agama dengan pengalaman hidup mereka sehari-hari (Hidayat, 2. Observasi dilakukan selama setiap siklus untuk mengumpulkan data terkait dengan tingkat keterlibatan siswa, pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan, serta interaksi siswa selama ceramah. Peneliti dan pengamat lainnya akan mencatat bagaimana siswa merespon ceramah, apakah mereka terlibat dalam diskusi, dan bagaimana pemahaman mereka terhadap topik yang diajarkan. Observasi ini juga akan mencakup pengamatan terhadap suasana kelas, apakah siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi atau sebaliknya, apakah mereka merasa nyaman untuk bertanya atau berdiskusi selama ceramah berlangsung (Fajar, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Setelah pelaksanaan setiap siklus, tahap refleksi dilakukan untuk mengevaluasi proses dan hasil Refleksi dilakukan dengan cara menganalisis hasil observasi dan data yang diperoleh dari penilaian siswa, baik melalui tes tertulis, kuis, maupun penilaian terhadap partisipasi mereka selama ceramah dan diskusi. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti akan merumuskan langkah-langkah perbaikan untuk siklus berikutnya, seperti penyesuaian strategi ceramah, peningkatan interaksi, atau pengelolaan waktu yang lebih baik (Syamsul, 2. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi kelas, wawancara dengan guru dan siswa, serta catatan mengenai interaksi dan diskusi yang terjadi selama ceramah. Data kuantitatif diperoleh melalui tes dan penilaian hasil kerja siswa yang mengukur pemahaman mereka terhadap materi AlQur'an dan Hadis setelah mengikuti ceramah. Kedua jenis data ini saling melengkapi untuk memberikan gambaran yang lebih holistik tentang pengaruh metode ceramah terhadap pemahaman siswa (Rahayu, 2. Analisis data dilakukan dengan perbandingan antara hasil pembelajaran pada siklus pertama dan siklus kedua. Peneliti akan menilai apakah penerapan metode ceramah dalam siklus kedua menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi yang Jika ditemukan peningkatan, maka metode ceramah dianggap berhasil dan dapat Namun, jika hasilnya tidak memadai, peneliti akan merancang perbaikan yang diperlukan dalam siklus berikutnya untuk memastikan keberhasilan metode ceramah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran (Zahra, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode ceramah dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MTs Puncakwangi berhasil meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif dalam Sebelum penerapan metode ceramah, sebagian besar siswa kurang tertarik pada pembelajaran agama, terutama dalam memahami materi Al-Qur'an dan Hadis. Pembelajaran yang terlalu fokus pada hafalan tanpa mengaitkan materi dengan kehidupan nyata sering kali membuat siswa merasa jenuh. Namun, setelah penerapan ceramah yang disertai dengan contoh nyata dan relevansi ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari, siswa mulai menunjukkan minat yang lebih besar dan keterlibatan yang lebih aktif. Mereka merasa lebih terhubung dengan materi yang disampaikan, yang meningkatkan keinginan mereka untuk belajar (Budi. Salah satu temuan penting lainnya adalah peningkatan dalam pemahaman siswa terhadap materi Al-Qur'an dan Hadis. Dalam observasi, terlihat bahwa setelah setiap sesi ceramah, siswa menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menjelaskan dan mengaitkan ayat-ayat AlQur'an atau Hadis dengan situasi kehidupan mereka. Guru yang memberikan ceramah dengan cara yang jelas dan memberikan contoh konkret dari kehidupan sehari-hari berhasil membuat siswa lebih mudah memahami dan mengingat materi yang diajarkan. Proses ini membuktikan bahwa ceramah, meskipun bersifat satu arah, dapat memperjelas konsep-konsep agama yang terkadang sulit dipahami tanpa konteks praktis (Sari, 2. Selain itu, penerapan metode ceramah juga berpengaruh positif terhadap keterampilan berbicara siswa. Dalam pembelajaran, setelah ceramah, siswa diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan mengungkapkan pendapat mereka terkait materi yang disampaikan. Hal ini mendorong siswa untuk berbicara di depan kelas dan menyampaikan pemahaman Meskipun ceramah merupakan metode yang dominan, interaksi yang terjadi setelah ceramah, seperti tanya jawab dan diskusi, memperkaya kemampuan berbicara siswa. Mereka menjadi lebih percaya diri dalam mengungkapkan pemikiran mereka dan berkomunikasi menggunakan bahasa yang lebih baik (Hidayat, 2. Namun, salah satu kendala yang ditemukan dalam penerapan ceramah adalah keterbatasan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Meskipun ceramah bisa memperjelas materi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 metode ini cenderung membuat pembelajaran bersifat satu arah, di mana guru berbicara dan siswa hanya mendengarkan. Hal ini dapat menyebabkan siswa menjadi pasif, terutama bagi mereka yang lebih cenderung belajar melalui interaksi aktif. Beberapa siswa yang lebih introvert atau kurang berani berbicara di depan kelas kesulitan untuk berpartisipasi secara aktif, yang dapat mengurangi efektivitas pembelajaran ceramah dalam meningkatkan keterampilan mereka secara menyeluruh (Tariq, 2. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, guru perlu mengatur waktu dengan bijak. Dalam pembelajaran yang menggunakan ceramah, kadang-kadang guru terlalu fokus pada penyampaian materi sehingga waktu untuk interaksi siswa menjadi terbatas. Padahal, ceramah yang efektif seharusnya tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, atau memberikan contoh penerapan ajaran agama. Dengan mengatur waktu dengan baik dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbicara, pembelajaran dapat menjadi lebih dinamis dan interaktif (Syamsul, 2. Fasilitas pembelajaran juga memainkan peran penting dalam mendukung keberhasilan metode Meskipun ceramah bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, penggunaan alat bantu seperti proyektor atau papan tulis dapat memperjelas penyampaian materi, terutama ketika ada konsep-konsep yang sulit dipahami. Di MTs Puncakwangi, penggunaan proyektor untuk menampilkan video atau gambar yang mendukung materi ceramah dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik dan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik (Rahayu, 2. Selain itu, penerapan metode ceramah ini dapat mengembangkan keterampilan mendengarkan Melalui ceramah, siswa dihadapkan pada informasi yang harus mereka dengarkan dengan cermat untuk memahami materi. Meskipun ceramah bersifat satu arah, siswa terlatih untuk mendengarkan dengan baik dan memusatkan perhatian pada informasi yang Hal ini memperkuat keterampilan mendengarkan mereka, yang penting dalam proses pembelajaran agama dan komunikasi secara umum. Ketika siswa mendengarkan dengan cermat, mereka dapat dengan mudah menangkap inti dari materi yang diajarkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Fajar, 2. Di sisi lain, metode ceramah juga memiliki kelemahan dalam hal keterlibatan siswa secara Beberapa siswa cenderung menjadi pasif, terutama jika ceramah berlangsung terlalu lama tanpa interaksi atau perubahan aktivitas. Untuk mengatasi hal ini, guru dapat menyelingi ceramah dengan kegiatan interaktif, seperti diskusi kelompok kecil atau tanya jawab, yang memungkinkan siswa untuk aktif berpartisipasi dan mengajukan pertanyaan. Dengan cara ini, ceramah tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai pengantar untuk kegiatan pembelajaran yang lebih dinamis dan partisipatif (Budi, 2. Meskipun demikian, metode ceramah tetap memiliki manfaat besar, terutama dalam menyampaikan konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip ajaran dalam Al-Qur'an dan Hadis. Melalui ceramah, guru dapat memberikan penjelasan yang sistematis dan menyeluruh, yang sangat membantu siswa dalam memahami konteks dan makna dari ajaran agama. Selain itu, ceramah juga memungkinkan guru untuk memberikan contoh praktis dan aplikatif, yang sangat membantu siswa dalam mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan mereka sehari-hari (Ahmad, 2. Secara keseluruhan, penerapan metode ceramah dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MTs Puncakwangi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Meskipun ada beberapa tantangan terkait dengan keterlibatan siswa yang pasif dan keterbatasan waktu, dengan penyesuaian yang tepat dalam pengelolaan waktu dan ruang untuk interaksi siswa, metode ceramah dapat tetap menjadi pendekatan yang efektif untuk mengajarkan ajaran agama. Oleh karena itu, ceramah harus digunakan dengan cara yang lebih interaktif untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh dan bermakna bagi siswa (Zahra, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 CONCLUSION Berdasarkan temuan dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode ceramah dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MTs Puncakwangi memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa terhadap materi ajaran Meskipun metode ceramah sering kali dianggap sebagai pendekatan yang kurang interaktif, hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini, jika diterapkan dengan cara yang tepat, dapat efektif dalam membantu siswa memahami ajaran Al-Qur'an dan Hadis dengan lebih baik. Ceramah memungkinkan guru untuk menyampaikan informasi secara sistematis dan komprehensif, yang sangat penting untuk memperkenalkan siswa pada konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip ajaran agama. Salah satu temuan utama dalam penelitian ini adalah peningkatan motivasi siswa. Sebelum penerapan metode ceramah, banyak siswa yang merasa kurang tertarik dengan pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis, terutama karena metode yang digunakan sebelumnya cenderung lebih monoton dan tidak mengaitkan materi dengan kehidupan mereka. Namun, setelah metode ceramah diterapkan dengan pendekatan yang lebih dinamis, di mana guru menyertakan contoh kehidupan nyata dan mengaitkan ajaran agama dengan pengalaman sehari-hari siswa, minat dan antusiasme siswa meningkat. Mereka merasa lebih terhubung dengan materi yang disampaikan, yang meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran (Budi, 2. Penerapan metode ceramah juga menunjukkan dampak positif terhadap keterampilan berbicara Setelah ceramah, siswa diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdiskusi tentang materi yang diajarkan. Hal ini memberi mereka ruang untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat mereka, yang meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam berbicara di depan kelas. Proses ini mengembangkan keterampilan komunikasi siswa, yang tidak hanya penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam interaksi sosial mereka sehari-hari. Dalam hal ini, meskipun ceramah bersifat satu arah, interaksi yang terjadi setelah ceramah dapat memperkaya pengalaman belajar siswa (Hidayat, 2. Meskipun ada banyak manfaat, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode ceramah. Salah satunya adalah keterbatasan partisipasi Metode ceramah yang berfokus pada penyampaian informasi dari guru kepada siswa sering kali membuat siswa menjadi pasif, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa berbicara di depan kelas. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan efektivitas pembelajaran, karena siswa hanya menerima informasi tanpa benar-benar terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Untuk itu, sangat penting bagi guru untuk mengelola ceramah dengan cara yang dapat mendorong siswa untuk terlibat aktif, seperti dengan memberikan waktu untuk tanya jawab atau diskusi kelompok kecil (Tariq, 2. Selain itu, manajemen waktu juga menjadi tantangan dalam penerapan metode ceramah. Dalam beberapa sesi ceramah, terutama yang membahas topik yang kompleks, guru cenderung kesulitan untuk menyampaikan seluruh materi dalam waktu yang terbatas. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk merencanakan dan mengatur waktu dengan baik agar setiap bagian materi dapat disampaikan dengan jelas tanpa terburu-buru. Selain itu, memberi waktu bagi siswa untuk merefleksikan dan mendiskusikan materi setelah ceramah juga sangat penting agar mereka dapat menginternalisasi apa yang telah mereka pelajari (Rahayu, 2. Penerapan metode ceramah juga sangat bergantung pada fasilitas yang tersedia. Di MTs Puncakwangi, meskipun fasilitas cukup memadai, penggunaan alat bantu seperti proyektor atau papan tulis digital dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi. Alat bantu visual yang relevan dapat membantu siswa lebih mudah memahami konsep-konsep yang mungkin sulit dijelaskan hanya melalui ceramah verbal. Oleh karena itu, pengelolaan fasilitas yang baik dapat mendukung keberhasilan pembelajaran dengan metode ceramah (Fajar, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Secara keseluruhan, metode ceramah tetap merupakan pendekatan yang efektif dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis di MTs Puncakwangi, meskipun harus diimbangi dengan interaksi aktif antara guru dan siswa. Metode ini membantu siswa untuk memahami teks-teks agama secara lebih terstruktur dan sistematis. Untuk mengoptimalkan penerapannya, guru perlu mengelola ceramah dengan cara yang interaktif, memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya dan berdiskusi, serta memperhatikan pengelolaan waktu dengan baik. Selain itu, penggunaan alat bantu visual dan fasilitas pendukung lainnya dapat memperkaya proses Dengan pendekatan yang tepat, metode ceramah dapat tetap menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap Al-Qur'an dan Hadis, serta mendorong mereka untuk mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES