PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PERANAN APLIKASI KESEHATAN MENTAL PADA KESEJAHTERAAN PEKERJA: SEBUAH KAJIAN LITERATUR SISTEMATIS Syariifah Khoirunnissa1 dan Angela Jessy Caroline2 1, 2 Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Surabaya. Kota Surabaya. Indonesia Email: syarifahkh3@gmail. com1, ajessycaroline@gmail. ABSTRAK Transformasi digital memunculkan berbagai teknologi yang dapat membantu pekerja untuk mengelola tekanan . yang muncul ketika bekerja. Dibutuhkan pemahaman lebih dalam mengenai penggunaan aplikasi untuk menjaga kesehatan mental karyawan di Indonesia. Oleh karena itu, penulis bertujuan untuk memahami manfaat seperti apa yang dirasakan oleh pekerja yang menggunakan aplikasi kesehatan mental serta mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi pemakaian aplikasi. Tinjauan literatur sistematis digunakan sebagai metode dengan pedoman PRISMA. Kriteria inklusi artikel ialah menggunakan metode kuantitatif ataupun kualitatif, partisipan sedang atau pernah bekerja, menggunakan Auaplikasi kesehatan mentalAy sebagai variabel penelitian, dan merupakan diteliti pada periode 10 tahun terakhir dari sumber pencarian Google Scholar dan Crossref melalui aplikasi Publish or Perish. Total 213 Artikel ditemukan dalam mesin pencarian, tetapi 6 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kesehatan mental menurunkan tingkat stress, meningkatkan kesejahteraan mental, dan mengurangi gejala burnout pekerjaan. Selain itu, ditemukan juga bahwa pekerja akan cenderung menggunakan aplikasi kesehatan mental ketika terdapat sikap positif terhadap aplikasi yang memiliki desain menarik dan pengoperasian yang sederhana serta persepsi manfaat berupa strategi penanganan yang tepat maupun peningkatan kondisi kesehatan mental. Kesimpulan penelitian ialah aplikasi kesehatan mental memberikan dampak positif pada pekerja dengan sikap positif dapat meningkatkan intensitas pemakaian aplikasi tersebut. Kata kunci: Aplikasi Kesehatan Mental. Tinjauan Literatur Sistematis. Kesejahteraan Pekerja. Stres Kerja. Kesehatan Mental pekerja. ABSTRACT Digital transformation leads to various technological advancements such as application . that could help workers manage their work-related stress. A deeper understanding of the uses of mental health applications to maintain workerAos mental health in Indonesia is urgently needed. This study attempts to understand perceive of benefits by the workers when use mental health application and identify the factors that influence their usage. A systematic literature review with PRISMA guidelines were conducted as the study method. The inclusion criteria were using quantitative or qualitative methods, participants currently working or have worked before, using Aumental health applicationAy as research variable, and published within last 10 years. Articles were sourced from Google Scholar and Crossref via Publish or Perish apps. From 213 found, 6 articles were analyzed. The findings show that improved well-being, reduced symptoms of job burnout and stress levels for workers when using mental PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 health application. Furthermore, workers are more likely use mental health application when they hold positive attitude towards appAos design and simplicity also perceive regulation strategy provided is usefull and improving mental health. To conclude, mental health application have a positive impact on workers, with their positive attitude toward apps could increase the likelihood of their usage. Keywords: Mental Health Application. Systematic Literature Review. WorkerAos Wellbeing. Work Stress. WorkerAos Mental Health. PENDAHULUAN Bekerja merupakan upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan individu, seperti pemenuhan keperluan hidup sehari-hari, menjalin relasi sosial, hingga mengembangkan kemampuan diri. Aktivitas bekerja bersifat transaksional yang diregulasi dalam undang-undang ketenagakerjaan. Individu yang bekerja dibebankan berbagai tanggung jawab dari pemberi kerja untuk diselesaikan. Sebagai gantinya, pihak pemberi kerja harus memberikan upah, fasilitas, maupun keuntungan lain kepada Sebagaimana dengan aktivitas lainnya, bekerja dapat menimbulkan tekanan pada individu yang berdampak pada kualitas hasil kerja yang menurun. Selain itu, apabila tidak dikelola dengan baik, stress pekerjaan juga dapat menurunkan kesejahteraan individu, seperti memunculkan gejala burnout, gangguan tidur, penyakit kardiovaskular, hingga penyalahgunaan obat (Locke, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Jeon, et al. terhadap profesi guru menunjukkan bahwa ketika menghadapi siswa yang sulit diatur, guru lebih rentang untuk mengalami depresi, stress, dan kelelahan emosional. Studi ini didukung oleh penelitian Skaalvik dan Skaalvik . yang menjelaskan bahwa tuntutan kerja yang berat memprediksi tingkat kesejahteraan yang rendah pada pekerja. Pada individu yang bekerja secara daring. Song dan Gao . menyebutkan bahwa bekerja secara daring menyebabkan individu cenderung kesulitan untuk memisahkan kehidupan profesional dan personal. Selain itu, mereka juga cenderung memiliki jam kerja yang lebih lama sehingga meningkatkan tingkat stress yang dimiliki. Hasil tersebut didukung oleh Yijing, et al. yang memaparkan bahwa pekerja yang tidak memahami cara untuk menyesuaikan tempat kerjanya dengan baik, seperti dengan mengatur meja kerja dengan rapi, memiliki dampak negatif terhadap kesejahteraan fisik dan mentalnya. Penelitiannya juga memaparkan bahwa komunikasi pekerjaan yang buruk, konsumsi makanan tidak sehat, kurangnya olahraga, serta kehadiran bayi turut berkontribusi dalam dinamika stress pekerja. Dengan demikian, tekanan yang dirasakan pekerja tidak hanya bersumber dari tempat kerjanya, tetapi juga dari sumber lain di Terjadinya transformasi digital yang masif di Indonesia memunculkan berbagai teknologi yang dapat membantu karyawan untuk mengelola stress, salah satunya adalah melalui penggunaan aplikasi. Aplikasi memberikan fleksibilitas pada pengguna karena mereka dapat membukanya dari manapun. Sebagai contohnya, aplikasi LAMP yang dikembangkan oleh Torous, et. dapat memberikan panduan pengelolaan diri kepada penggunanya sesuai dengan kebutuhan personal berdasarkan hasil asesmen melalui smartphone secara real-time. Aplikasi kesehatan mental lain yang dirancang oleh Purba, dkk. memiliki fitur video call, chat, maupun voice call untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional dengan mengumpulkan data pengguna. Data ini dikelola dan dijaga kerahasiaannya untuk memberikan akses fitur-fitur tersebut secara aman dan PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 Fitur-fitur tersebut dapat membantu pekerja dalam mencari pertolongan maupun deteksi dini terhadap tekanan kerja. Konsultasi yang dapat dilakukan secara fleksibel memberikan kemudahan pada pekerja untuk menjaga kesejahteraan mental mereka. Konsultasi virtual membantu individu dengan keterbatasan akses pada fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan ketika kondisi psikologis, seperti kecemasan dan stress, telah berdampak secara negatif pada kehidupannya. Selain itu, hal tersebut juga dapat mengatasi rasa malu dan takut dalam membicarakan permasalahan psikologis yang dialami karena individu dapat membicarakannya di tempat yang lebih nyaman (Atsani, 2. Penggunaan aplikasi untuk menjaga kesehatan mental pekerja masih jarang diteliti Indonesia sehingga perlu pemahaman lebih lanjut. Melalui studi literatur sistematis, penulis bertujuan untuk memahami manfaat seperti apa yang dirasakan oleh pekerja yang menggunakan aplikasi kesehatan mental serta mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi pemakaian aplikasi. Harapannya, peneliti dapat mendorong pekerja untuk memanfaatkan aplikasi dalam menjaga kesehatan psikologisnya serta memberikan informasi kepada peneliti di masa depan dalam penelitian mengenai penggunaan aplikasi untuk kesehatan mental terkhusus kepada pekerja. METODE Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui tinjauan literatur ilmiah. Artikel jurnal yang ditinjau mengikuti pedoman PRISMA. Pedoman ini digunakan dalam meninjau artikel ilmiah secara sistematis dalam bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan (Page, et al. , 2. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel adalah AuAplikasi Kesehatan Mental PekerjaAy. Aumental health application in workerAy. Pencarian dilakukan melalui aplikasi publish or perish dengan sumber google scholar dan crossreff. Kriteria inklusi penulisan tinjauan literatur sistematis ini adalah artikel ilmiah yang metode kuantitatif ataupun kualitatif, kriteria partisipan yang sedang atau pernah bekerja, menggunakan aplikasi sebagai variabel penelitian, dan merupakan penelitian yang dilakukan pada periode 10 tahun terakhir, yaitu tahun 2015-2025. PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 Gambar 1. Kerangka Pemilihan Jurnal HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pencarian, ditemukan sebanyak 213 artikel pada mesin Namun, penulis menemukan sebanyak 6 artikel yang memenuhi kriteria Oleh karenanya, penulis menggunakan 6 artikel tersebut untuk dilakukan peninjauan lebih lanjut. Peneliti Judul Metode Hasil Inkster, et. An Empathy-Driven. Conversational Artificial Intelligence Agent (Wys. for Digital Mental WellBeing:Real-World Data Evaluation Mixed-Method (Quasi Aplikasi ponsel pintar Wysa menurunkan gejala depresi dan meningkatkan aktivitas fisik dan teknik PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 Peneliti Judul Mixed-Methods Study Metode Hasil Pada efektivitas aplikasi, terdapat sikap negatif dan Sikap positif merasa lebih baik dan desain yang menarik. Demirel, , et. Assessing Effectiveness STAPP@Work. Self-Management Mobile App, in Reducing Work Stress Preventing Burnout: Single-Case Experimental Design Study Kuantitatif (Randomized controlled trial Aplikasi focus coping dengan gejala burn out. Coelhoso, . New Mental Health Mobile App for Well-Being and Stress Reduction in Working Women: Randomized Controlled Trial Kuantitatif (Randomized controlled trial Aplikasi seluler kesehatan mental menurunkan stress umum maupun berkaitan dengan pekerjaan secara signifikan, meningkatkan kesejahteraan mental. Papa, et. E-health Wellbeing Monitoring Smart Healthcare Devices: Empirical Investigation Partial Least Square SEM (PLSAe SEM) (Smart Wearable Healthcar. pada persepsi . erceive of usefulnes. erceive ease of us. berhubungan Semakin aplikasi, maka aplikasi dinilai semakin mudah untuk digunakan. Selain itu, sikap positif kepada perangkat SWH. Weber. Improving Stress and Positive Mental Kuantitatif (Randomized Intervensi melalui aplikasi menurunkan general and PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 Peneliti . Judul Health at Work via App-Based Intervention: Large-Scale MultiCenter Randomized Control Trial Metode control tria. Hasil cognitive stress secara permasalahan tidur dan kesejahteraan mental. Connolly, . VeteransAo Attitude Toward Smartphone App Use for Mental Health Care: Qualitative study of Rurality and Age Difference Kualitatif Sikap positif terhadap layanan aplikasi yaitu pencatatan dan perekaman jejak gejala yang timbul, membantu regulasi emosi negatif, serta memberikan akses bantuan ketika terjadi hal krisis seperti pemikiran bunuh diri. Sementara itu, sikap terbatasnya waktu untuk beraktivitas dan telah memiliki strategi regulasi kesehatan mental. Pada sikap positifnya adalah mengoperasikan aplikasi, negatifnya adalah aplikasi dinilai tidak siap pakai karena perlu melalui tahapan-tahapan tertentu seperti mengunggah foto dan proses mendaftar. Tabel 1. Hasil Peninjauan Literatur Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa aplikasi-aplikasi kesehatan mental memberikan pengaruh yang positif pada para pegawai dengan meningkatkan kesejahteraan mental mereka. Hal ini ditunjukkan pada penelitian eksperimen yang dilakukan oleh Inkster, dkk . Demirel S, dkk . Coelhoso, dkk . PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 Weber, dkk . Pada penelitian yang dilakukan oleh Inkster, ditemukan bahwa depresi pada partisipan bisa menurun setelah menggunakan aplikasi Wysa. Tidak hanya itu, ditemukan juga bahwa terjadi peningkatan terhadap kesejahteraan mental pada partisipan yang menggunakan aplikasi tersebut. Penelitian lainnya dari Demirel S, dkk . Coelhoso, dkk . dan Weber, dkk . memiliki kesamaan dengan menunjukkan penurunan stress pada partisipan dengan penggunaan aplikasi untuk meningkatkan kesehatan mental. Hal ini terjadi tidak semata-mata dikarenakan aplikasi yang bersangkutan, tetapi dengan berbagai fitur peningkatan kesehatan mental di dalamnya yang bisa diakses secara online dan di mana pun, seperti fitur pemberian teknik relaksasi, mindfulness, dan aktivitas fisik lainnya yang dapat meningkatkan kesehatan mental. Tekanan yang ada di pekerjaan dapat memicu stress pada karyawan. Stress yang berkepanjangan dapat menyebabkan burnout, bahkan depresi yang akan mengancam kesejahteraan mental individu. Kesejahteraan psikologis atau mental memiliki hubungan yang positif dengan kinerja karyawan di suatu organisasi (Haryanto & Suyasa, 2007. Sofyanty dan Setiawan, 2020. Sabil, 2. Artinya, apabila seorang karyawan atau pekerja memiliki kesejahteraan mental atau psikologis yang tinggi, maka kinerjanya dalam pekerjaan juga akan meningkat. Sebaliknya, apabila kesejahteraan psikologis karyawan rendah, maka kinerjanya dalam pekerjaan juga akan menurun. Tidak hanya itu. Simanullang dan Ratnaningsih . juga menemukan bahwa ada hubungan positif antara kesejahteraan psikologis karyawan dan keterikatan kerja yang berarti apabila karyawan memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi, maka mereka akan makin merasa terikat dengan pekerjaan atau bahkan organisasi di mana mereka Semakin merasa terikat seorang pekerja dengan organisasinya, maka semangat, dedikasi, dan penghayatan pada pekerjaannya akan muncul pada diri pekerja. Hal ini tentu memberikan keuntungan bagi perusahaan. Oleh karenanya, penting bagi organisasi untuk menyediakan layanan psikologis yang memadai untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan psikologis pada karyawan agar kualitas kerja maupun keterikatan kerja tetap bertahan. Semakin mudah diakses, maka semakin mudah juga karyawan mendapatkan perlakuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka. Dengan memanfaatkan kemudahan teknologi di zaman sekarang, hal ini menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Beberapa literatur review yang sudah dipaparkan menunjukkan efektivitas penggunaan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mental pada karyawan. Aplikasi yang sudah dirancang dilengkapi dengan fitur-fitur yang memudahkan karyawan mendapat penanganan serta cara-cara untuk mengurangi stress, burnout, bahkan depresi. Karyawan dapat mengakses bahkan mencoba metodemetode yang diberikan secara mandiri untuk menurunkan stress, burnout, atau depresi tanpa perlu datang langsung untuk konseling atau terapi. Dengan demikian, bisa dilihat bahwa aplikasi kesehatan mental dengan fitur-fitur kesehatan mental di dalamnya memberikan manfaat yang positif bagi karyawan, yaitu dapat membantu menurunkan stress, burnout, maupun depresi, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka yang nantinya dapat meningkatkan kinerja karyawan serta rasa keterikatan dengan Tinjauan literatur Papa, et. mengungkapkan bahwa sikap positif berupa kenyamanan terhadap aplikasi kesehatan mental meningkatkan kecenderungan penggunaan aplikasi oleh pekerja. Penelitian yang dilakukan oleh Fitriani, dkk. menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan oleh aplikasi dalam menyelesaikan PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 permasalahan dan keamanan data pribadi ketika menggunakan aplikasi menjadi salah satu bentuk kenyamanan yang dirasakan. Hal ini sejalan dengan temuan Becker . yang menjelaskan bahwa kekhawatiran utama pengguna aplikasi kesehatan mental adalah adanya kebocoran data pribadi yang telah dimasukkan. Oleh karena itu, penjagaan dan pengelolaan data pribadi yang baik serta pemberian bantuan yang tepat pada aplikasi menjadi penting untuk dilakukan supaya pekerja dapat merasa aman ketika menggunakan aplikasi tersebut. Selain kenyamanan, hasil tinjauan dari penelitian Inkster, et al. mengungkapkan bahwa desain yang digunakan dalam aplikasi menimbulkan sikap positif pada pengguna. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Oyebode, et. yang menemukan bahwa persepsi terhadap kegunaan aplikasi kesehatan mental dipengaruhi oleh warna, tulisan, gambar, dan animasi. Apabila ketiganya dinilai buruk, maka pekerja menilai bahwa aplikasi kesehatan mental tersebut tidak dapat digunakan sehingga perlu perbaikan. Liu . menemukan bahwa tampilan visual yang mencakup warna, pencahayaan, dan saturasi memberikan pengaruh kepada emosi yang Dengan demikian, tampilan visual tidak hanya sebatas pelengkap dalam aplikasi, melainkan menjadi elemen penting untuk membentuk sikap positif. Sementara itu, sikap negatif yang muncul dari penggunaan aplikasi kesehatan mental berdasarkan peninjauan literatur Connoly, et al. salah satunya adalah dibutuhkannya waktu yang tidak sebentar untuk membuka aplikasi kesehatan mental ketika sedang beraktivitas. Sebagian besar waktu pekerja digunakan untuk melakukan ataupun menyelesaikan pekerjaan. Navigasi menu yang tidak responsif dan membingungkan, seperti tombol AumenuAy dan AukembaliAy yang mirip sebagaimana dalam penelitian Oyebode, et al. menjadi potensi penyebab aplikasi kesehatan mental membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dibuka. Faktor lain yang turut memakan waktu adalah adanya versi, jenis operasional perangkat, dan konfigurasi yang berbeda dalam aplikasi. Aplikasi yang telah melalui perbaikan ataupun dapat diakses di jenis perangkat yang berbeda dapat menyebabkan turunnya stabilitas di dalam sistem sehingga menyebabkan gangguan yang menyebabkan aplikasi tidak dapat dibuka (Oyebode, et al. , 2. Banyaknya tahapan yang perlu dilalui sebelum dapat mengakses layanan kesehatan mental serta respons yang kurang empati juga menjadi bentuk sikap negatif yang terlihat pada pengguna aplikasi kesehatan mental. Potensi penyebab munculnya kedua sikap ini adalah konten yang tidak disesuaikan secara personal dan beban kognitif yang bertambah. Pekerja yang telah banyak melakukan aktivitas, terutama yang membutuhkan penanganan psikologis, membutuhkan pertolongan yang tidak memberatkan diri mereka. Temuan Oyebode, et al. mengungkapkan bahwa respons tidak empatik pada aplikasi menimbulkan perasaan tidak dipedulikan. Hal ini menyebabkan pekerja tidak merasa lebih baik dibandingkan sebelumnya. Oleh sebab itu, respons repetitif yang diberikan chat AI di aplikasi Wysa dalam temuan pada penelitian Inkster . membuat pengguna meninggalkan aplikasi tersebut. Selain itu, tahapan yang berlapis membutuhkan usaha mental yang lebih dan tidak jarang membutuhkan usaha untuk mengingat. Zayim, et al. memaparkan bahwa desain aplikasi yang baik sebaiknya tidak memberatkan pengguna secara kognitif, seperti melakukan proses mengingat yang berat. Usaha kogntif yang berat menyebabkan pekerja merasa tidak puas pada aplikasi karena dinilai tidak efektif dan efisien dalam membantu mengelola kesejahteraan psikologisnya. Proses mengingat PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 yang berat membutuhkan waktu yang lebih lama. Studi yang dilakukan oleh Gilsoul, et . menjelaskan bahwa hal tersebut memicu rasa lelah yang menyebabkan penurunan pada kesejahteraan hingga kecelakaan pada pekerja. KESIMPULAN DAN SARAN Kesejahteraan psikologis atau mental adalah hal yang penting untuk karyawan, karena dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan mental seseorang, kinerja maupun keterikatan pada pekerjaan juga akan meningkat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis karyawan sekarang dapat dipermudah dengan adanya kemajuan di bidang teknologi. Melalui aplikasi dengan fitur-fitur kesehatan mental, karyawan tidak hanya diberi kemudahan untuk mengakses maupun mendapat perawatan untuk meningkatkan kesejahteraan mental mereka, namun mereka juga dapat secara mandiri mempraktikkan teknik-teknik menurunkan stress, burnout, maupun depresi dengan panduan aplikasi kesehatan mental tersebut. Sehingga, aplikasi kesehatan mental ini benar-benar memiliki manfaat positif bagi karyawan, yaitu untuk membantu mereka menurunkan tingkat stress, burnout, maupun depresi dan meningkatkan kesejahteraan mental dengan lebih mudah dan di mana saja, yang nantinya juga akan meningkatkan kinerja dan keterikatan karyawan pada pekerjaannya. Lebih lanjut, karyawan yang memiliki sikap positif berupa kenyamanan terhadap aplikasi kesehatan mental akan cenderung menggunakan aplikasi tersebut. Kenyamanan tersebut muncul dari performa aplikasi yang baik, jaminan keamanan data pribadi, serta desain aplikasi. Sebaliknya, sikap negatif menyebabkan intensitas karyawan berkurang dalam menggunakan aplikasi. hal tersebut disebabkan oleh banyaknya tahapan yang harus dilalui, respons yang kurang empatik, dan butuhnya waktu yang tidak sebentar untuk mengoperasikan aplikasi. Penelitian ini belum membahas dinamika psikologis yang terjadi ketika pekerja menggunakan aplikasi kesehatan mental, seperti bagaimana perubahan perasaan atau proses kognitif yang terjadi selama menggunakan aplikasi kesehatan mental. Guna memberikan gambaran manfaat yang lebih jelas terkait kebermanfaatan aplikasi kesehatan pada pekerja, dibutuhkan pendalaman lebih lanjut terkait hal tersebut. Selain itu, penelitian ini tidak memaparkan pengaruh yang mungkin diberikan oleh eksternal, seperti sosial ataupun budaya. Oleh karenanya, dibutuhkan pengkajian lebih lanjut untuk mengeksplorasi pengaruh tersebut, khususnya di Indonesia UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen Universitas Surabaya yang telah memberikan materi mengenai penulisan ilmiah di dalam maupun di luar perkuliahan serta pihak-pihak lain yang terlibat dan mendukung proses penulisan karya tulis ilmiah ini. PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 PROCEEDING OF INDONESIAN CONFERENCE ON OCCUPATIONAL SAFETY. HEALTH. AND ENVIRONMENT (INCOSHET) 2025 Vol. No. 1 Juni 2025 DAFTAR PUSTAKA