AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa. Juli 2026 ISSN: 2579-7417 EISSN: 2774-4922 Vol. : 12-19 https://epublikasi. id/berkala/ags DOI: https://doi. org/10. 51589/2d5wyf57 Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih pada Kambing Boerlok Kelahiran Tunggal dengan Variasi Tingkat Keturunan Boer Characteristics of Body Size and Pre-Weaning Growth Rate in Single-Birth Boerlok Goats with Various Levels of Boer Ancestry Mohammad Ashari a,1. Ikhwan Firhamsah a,2,*. Rina Andriati a,3. Zaid Al Gifari a,4 Laboratorium Produksi Ternak Potong. Fakultas Petermakan. Universitas Mataram. Jl. Majapahit No. Kekalik Jaya. Kec. Sekarbela. Kota Mataram. Nusa Tenggara Barat 83115. mohammadashari0498@gmail. 2 ifirhamsah@staff. id* . 3 rinaandriati@unram. , 4 zaidalgifari@staff. * corresponding author INFO ARTIKEL A B S T R A C T / A B S TR A K Sejarah Artikel Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik morfometrik dan performa pertumbuhan prasapih cempe Boerlok kelahiran tunggal dengan variasi tingkat kedarahan Boer, serta menganalisis pengaruh genotipe dan jenis kelamin terhadap variabel-variabel tersebut. Penelitian dilaksanakan selama delapan bulan (Januari-Agustus 2. di PT. Shadana Arifnusa Training Farm. Sebanyak 120 ekor cempe terdiri atas tiga genotipe BL/50% Boer . BBL/75% Boer . , dan bL/87. 5% Boer . dengan komposisi seimbang antara jantan dan betina digunakan sebagai materi penelitian. Variabel yang diamati meliputi bobot lahir, bobot sapih umur 90 hari (BS. , pertambahan bobot badan harian (PBBH), panjang badan, lingkar dada, dan tinggi pundak. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dua arah (Two-Way ANOVA) dengan genotipe dan jenis kelamin sebagai faktor tetap, dilanjutkan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh nyata (P<0,. terhadap bobot lahir dan berpengaruh sangat nyata (P<0,. terhadap seluruh variabel lainnya. Uji Duncan menunjukkan pola pemisahan sempurna . -b-. pada PBBH dan panjang badan, sedangkan bobot sapih, lingkar dada, dan tinggi pundak menunjukkan pola plateau . -b-. dengan BBL dan bL tidak berbeda nyata. Jenis kelamin berpengaruh sangat nyata terhadap semua variabel kecuali bobot lahir. Interaksi genotipe y jenis kelamin berpengaruh nyata pada panjang badan (P=0,. dan tinggi pundak (P=0,. , namun tidak nyata pada variabel lainnya. Nilai RA tertinggi ditemukan pada panjang badan . , mengindikasikan bahwa ukuran kerangka tubuh lebih kuat dikontrol oleh genotipe dan jenis kelamin dibandingkan karakter bobot. Disimpulkan bahwa peningkatan proporsi darah Boer secara bertahap melalui program grading-up efektif meningkatkan performa pertumbuhan dan ukuran tubuh cempe, dengan genotipe BBL . % Boe. memberikan nilai praktis optimal untuk sebagian besar karakter produksi. Diterima: 16 Maret 2026 Direvisi: 9 Mei 2026 Terbit: 1 Juli 2026 This study aimed to evaluate the morphometric characteristics and pre-weaning growth performance of single-birth Boerlok kids with varying levels of Boer ancestry, as well as to analyze the effects of genotype and sex on these variables. The study was conducted over eight months (January-August 2. at PT. Shadana Arifnusa Training Farm. A total of 120 kids comprising three genotypes BL/50% Boer . BBL/75% Boer . , and bL/87. 5% Boer . with equal proportions of males and females were used as research subjects. Variables observed included birth weight, weaning weight at 90 days (WW. , average daily gain (ADG), body length, chest circumference, and withers height. Data were analyzed using Two-Way Analysis of Variance (Two-Way ANOVA) with genotype and sex as fixed effects, followed by Duncan's Multiple Range Test at a 95% confidence level. Results showed that genotype had a significant effect (P<0. on birth weight and a highly significant effect (P<0. on all other variables. Duncan's test revealed a fully separated pattern . -b-. for ADG and body length, while weaning weight, chest circumference, and withers height showed a plateau pattern . -b-. with BBL and bL not differing Sex had a highly significant effect on all variables except birth weight. The genotype y sex interaction was significant for body length (P=0. and withers height (P=0. , but non-significant for other variables. The highest RA value was found for body length . , indicating that skeletal dimensions are more strongly controlled by genotype and sex than body weight traits. It is concluded that gradual increases in Boer ancestry through a grading-up program effectively improve growth performance and body size of kids, with the BBL genotype . % Boe. providing the most practical optimal value for most production traits. This is an open access article under the CCAeBY license. AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. No. Juli 2026, pp. Kata Kunci: Boerlok, grading-up, morfometrik, pertumbuhan prasapih, proporsi darah Boer Keywords: Boer blood proportion. Boerlok, grading-up, morphometric, pre-weaning growth Pendahuluan Kambing merupakan salah satu komoditas ternak ruminansia kecil yang memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia, khususnya di daerah perdesaan. Populasi kambing nasional terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, namun produktivitasnya masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan potensi genetik bangsa-bangsa kambing unggul dari luar negeri. Kambing lokal Indonesia, meskipun memiliki keunggulan dalam hal adaptasi terhadap lingkungan tropis (Joharsah et al. , 2. dan daya tahan terhadap penyakit, umumnya memiliki bobot badan yang kecil dan laju pertumbuhan yang lambat sehingga kurang efisien untuk produksi daging (Rahim et al. , 2. Upaya peningkatan produktivitas kambing lokal melalui program persilangan dengan bangsa kambing unggulan telah menjadi salah satu strategi yang banyak diterapkan di Indonesia. Kambing Boer (Capra hircu. yang berasal dari Afrika Selatan dikenal sebagai salah satu bangsa kambing terbaik dunia untuk tujuan produksi daging (Mokoena & Tyasi, 2. , dengan ciri-ciri bobot dewasa yang tinggi . antan dapat mencapai 110-135 k. , pertumbuhan yang cepat, konformasi tubuh yang baik, dan efisiensi pakan yang tinggi (Brand et al. , 2. Persilangan kambing Boer dengan kambing lokal (Boerlo. diharapkan dapat mentransfer sifat-sifat unggul tersebut kepada keturunannya melalui efek heterosis dan peningkatan frekuensi gen pertumbuhan. Program grading-up merupakan metode persilangan yang dilakukan secara bertahap dengan tujuan meningkatkan proporsi darah bangsa unggul pada keturunan silangan (Tesema et al. , 2. Melalui program ini, dihasilkan genotipe-genotipe dengan proporsi darah Boer yang berbeda, yaitu BL . % Boer. F1 silangan Boer x Loka. BBL . % Boer, silangan Boer x BL), dan bL . ,5% Boer, silangan Boer x BBL). Setiap genotipe memiliki potensi genetik yang berbeda, sehingga penting untuk mengevaluasi performa masing-masing genotipe secara komprehensif agar dapat ditentukan genotipe yang optimal untuk dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan dan tujuan produksi (Nurgiartiningsih, 2. Karakteristik morfometrik, yang meliputi ukuran-ukuran linear tubuh seperti panjang badan, lingkar dada, dan tinggi pundak, merupakan indikator penting dalam penilaian mutu ternak. Ukuran-ukuran tersebut tidak hanya mencerminkan perkembangan kerangka dan otot ternak, tetapi juga berkorelasi positif dengan bobot badan dan kapasitas produksi daging. Periode fase prasapih, perkembangan morfometrik sangat dipengaruhi oleh faktor genetik genotipe (Wang et al. , 2. , jenis kelamin, tipe kelahiran, serta kualitas dan kuantitas susu induk yang dikonsumsi oleh cempe (Singh et al. , 2. Fase prasapih merupakan periode kritis dalam kehidupan ternak kambing yang sangat menentukan performa produksi di masa mendatang. Pertumbuhan pada fase ini dikendalikan oleh interaksi antara potensi genetik individu dengan faktor-faktor lingkungan, terutama pemenuhan kebutuhan nutrisi melalui susu induk. Oleh karena itu, evaluasi performa pertumbuhan dan morfometrik prasapih menjadi sangat penting untuk menilai keberhasilan program persilangan dan sebagai dasar seleksi bibit ternak. Penelitian tentang performa Boerlok di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun sebagian besar hanya mengkaji satu atau dua genotipe silangan dan umumnya tidak memisahkan pengaruh tipe kelahiran secara Evaluasi secara komprehensif terhadap tiga genotipe Boerlok (BL. BBL, dan bL) dengan mempertimbangkan faktor jenis kelamin pada kondisi tipe kelahiran tunggal belum banyak dilaporkan, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat yang memiliki potensi pengembangan kambing potong yang besar. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk: . mengevaluasi karakteristik morfometrik dan performa pertumbuhan prasapih cempe Boerlok kelahiran tunggal berdasarkan perbedaan genotipe (BL. BBL, dan bL) dan jenis kelamin. menentukan genotipe yang menunjukkan performa terbaik sebagai dasar rekomendasi pengembangan kambing Boerlok di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah bagi pengembangan program breeding kambing potong di Indonesia, khususnya dalam optimalisasi program grading-up Boer x Lokal. Mohammad Ashari et al. (Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih padaA) AgroSainta: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. No. Juli 2026, pp. Metodologi Penelitian ini dilaksanakan selama 8 bulan, dari bulan Januari hingga Agustus 2025, di PT. Shadana Arifnusa Training Farm yang berlokasi di Desa Tibu Borok. Kecamatan Sambalia. Kabupaten Lombok Timur. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Perusahaan peternakan ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki populasi kambing silangan Boer (Boer cros. lebih dari 100 ekor dengan sistem pemeliharaan yang intensif dan terstruktur, serta ketersediaan ketiga genotipe Boerlok yang dibutuhkan sebagai materi penelitian. Materi Penelitian Materi penelitian adalah cempe kambing silangan Boer x Lokal (Boerlo. fase prasapih yang terdiri atas tiga genotipe, yaitu: . BL, merupakan hasil persilangan F1 antara pejantan Boer dengan betina Lokal sehingga memiliki 50% darah Boer. BBL, merupakan hasil persilangan antara pejantan Boer dengan betina BL sehingga memiliki 75% darah Boer. bL, merupakan hasil persilangan antara pejantan Boer dengan betina BBL sehingga memiliki 87,5% darah Boer. Kriteria cempe yang digunakan sebagai ternak penelitian meliputi: . lahir normal dan dalam kondisi sehat. berumur sejak lahir hingga 80-100 hari . ase prasapi. tidak sedang digunakan dalam penelitian lain. Total ternak penelitian sebanyak 120 ekor cempe dari tipe kelahiran tunggal dengan distribusi sampel yang relatif seimbang pada setiap kelompok perlakuan. Ternak yang menjadi sampel dipelihara di lingkungan yang sama dengan jenis dan jumlah pakan sama. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling dari populasi ternak yang memenuhi kriteria tersebut. Identifikasi genotipe dilakukan berdasarkan catatan silsilah . ternak yang tersedia di lokasi penelitian. Setiap cempe diberi identifikasi individual berupa nomor telinga untuk memudahkan pencatatan data selama penelitian berlangsung. Distribusi sampel penelitian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Genotipe dan Jenis Kelamin Genotipe Proporsi Darah Boer 87,5% BBL bL Total Jantan . Betina . Jumlah . Keterangan F1 (Boer x Loka. Boer x BL Boer x BBL Peralatan Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Timbangan gantung merek Tanika dengan kapasitas maksimum 50 kg dan tingkat ketelitian 10 g, digunakan untuk pengukuran bobot badan cempe. Tongkat ukur . easuring stic. dengan skala centimeter, digunakan untuk pengukuran panjang badan dan tinggi pundak. Pita ukur . easuring tap. dengan skala centimeter, digunakan untuk pengukuran lingkar dada ternak. Metode Penelitian Pengukuran dilakukan secara langsung terhadap seluruh variabel yang diamati pada setiap individu ternak Setiap parameter diukur sebanyak tiga kali ulangan pada hari yang sama, dan nilai yang digunakan dalam analisis merupakan nilai rataan dari ketiga hasil pengukuran tersebut untuk meminimalkan kesalahan pengukuran. Pengukuran bobot lahir dilakukan dalam rentang waktu 6-24 jam setelah kelahiran, sedangkan pengukuran morfometrik dilakukan bersamaan dengan penimbangan bobot badan saat lahir dan saat sapih. Variabel Penelitian dan Teknik Pengukuran Variabel bebas dalam penelitian ini meliputi genotipe cempe (BL. BBL, dan bL) dan jenis kelamin . antan dan betin. Variabel bergantung yang diamati terdiri atas tiga parameter pertumbuhan dan tiga parameter morfometrik yang pengukurannya dilakukan sebagaimana tertera pada Tabel 2. Tabel 2. Variabel Penelitian. Satuan, dan Teknik Pengukuran Variabel Bobot Lahir Satuan Bobot Sapih (BS. PBBH Prasapih g/hari Teknik Pengukuran Ditimbang 6-24 jam setelah lahir menggunakan timbangan gantung Diukur saat sapih dan dikoreksi ke umur 90 hari: BS90 = BL [(BSN-BL)/U] x 90 PBBH = (BS90 - BL) / 90 Mohammad Ashari et al. (Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih padaA) AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. No. Juli 2026, pp. Panjang Badan Lingkar Dada Tinggi Pundak Diukur horizontal dari tepi depan sendi bahu . hingga tepi belakang tulang duduk menggunakan tongkat ukur Diukur melingkar tepat di belakang bahu melewati pundak menggunakan pita ukur Diukur tegak lurus dari titik tertinggi pundak ke permukaan tanah, pada posisi tulang rusuk ke-3 hingga ke-4 menggunakan tongkat ukur Koreksi bobot sapih ke umur 90 hari (BS. dilakukan untuk cempe yang ditimbang pada umur yang tidak tepat 90 hari, menggunakan persamaan yang diadaptasi dari Pribadi et al. BS90 = BL [(BSN-BL) / U] y 90 Dengan keterangan BS90 adalah bobot sapih terkoreksi umur 90 hari . BL adalah bobot lahir . BSN adalah bobot sapih nyata pada saat penimbangan . , dan U adalah umur aktual cempe saat penimbangan . Pertambahan bobot badan harian (PBBH) dihitung menggunakan persamaan: PBBH = (BS90-BL) / 90 Analisis Data Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis menggunakan analisis ragam dua arah (Two-Way ANOVA) dengan genotipe (BL. BBL, dan bL) dan jenis kelamin . antan dan betin. sebagai faktor tetap . ixed effect. Model statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: Yijk = i j ()ij Aijk Keterangan: Yijk = nilai pengamatan pada genotipe ke-i, jenis kelamin ke-j, dan ulangan ke-k = rataan umum i = pengaruh genotipe ke-i . = 1, 2, . j = pengaruh jenis kelamin ke-j . = 1, . ()ij = pengaruh interaksi genotipe ke-i dan jenis kelamin ke-j Aijk = galat percobaan Sebelum analisis ragam dilakukan, data terlebih dahulu diuji asumsinya meliputi uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk dan uji homogenitas ragam menggunakan uji Levene. Apabila kedua asumsi terpenuhi, analisis dilanjutkan dengan Two-Way ANOVA. Apabila hasil analisis ragam menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,. , maka dilakukan uji lanjut untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan menggunakan Uji Duncan (Duncan's Multiple Range Test/DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Keberartian model secara keseluruhan dinilai berdasarkan koefisien determinasi (RA) yang menunjukkan proporsi variasi total yang mampu dijelaskan oleh faktor-faktor dalam model. Seluruh analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil dan Pembahasan Performa Pertumbuhan Prasapih Tabel 3. Rataan bobot lahir, bobot sapih, dan PBBH cempe berdasarkan genotipe Genotipe Bobot Lahir Bobot Sapih PBBH . /har. Notasi BL . % Boe. 2,86 A 0,52a 11,01 A 1,65a 90,55 A 17,28a BBL . % Boe. 3,12 A 0,43b 12,65 A 1,53b 106,00 A 14,97b bL . ,5% Boe. 3,01 A 0,44ab 13,33 A 1,67b 117,70 A 17,28c Signifikansi Genotipe 0,040* 0,000** 0,000** Signifikansi Jenis Kelamin 0,053ns 0,000** 0,000** Interaksi G y JK 0,361ns 0,112ns 0,075ns RA 0,099 0,381 0,396 Keterangan: Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. ns = tidak nyata. * = nyata (P<0,. ** = sangat nyata (P<0,. *Notasi = Bobot Lahir / Bobot Sapih / PBBH Bobot Lahir Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot lahir cempe Boerlok pada kelahiran tunggal berkisar antara 2,69 hingga 3,14 kg dengan variasi yang relatif kecil antar genotipe (Tabel . Bobot lahir tertinggi diperoleh pada genotipe BBL jantan . ,14 A 0,42 k. , diikuti oleh bL jantan . ,08 A 0,37 k. dan BL jantan . ,02 A 0,55 Mohammad Ashari et al. (Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih padaA) AgroSainta: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. No. Juli 2026, pp. Pada cempe betina, bobot lahir tertinggi juga diperoleh pada genotipe BBL . ,10 A 0,44 k. , diikuti bL . ,95 A 0,50 k. dan BL . ,69 A 0,48 k. Secara keseluruhan, cempe jantan memiliki bobot lahir yang lebih tinggi dibandingkan betina pada semua genotipe, yang merupakan pola umum yang dijumpai pada ternak kambing. Perbedaan bobot lahir antara jantan dan betina ini berkaitan dengan pengaruh hormonal, khususnya androgen pada jantan yang memengaruhi pertumbuhan prenatal (Assan, 2020. Mandal et al. , 2. Selain hal tersebut, kambing jantan cenderung memiliki potensi genetik pertumbuhan lebih tinggi. studi Jamunapari menunjukkan korelasi genetik bobot jantan dan betina sangat tinggi (>0,. , artinya sifat yang sama tapi diekspresikan sedikit lebih besar pada jantan (Mandal et al. Pada genotipe BBL, perbedaan bobot lahir antara jantan dan betina relatif kecil . ,14 vs 3,10 k. , sedangkan pada BL perbedaannya lebih besar . ,02 vs 2,69 k. Bobot lahir cempe Boerlok dalam penelitian ini tergolong baik apabila dibandingkan dengan kambing Lokal yang umumnya hanya memiliki rata-rata bobot lahir 1,78 kg (Joharsah et al. , 2. Hal ini mencerminkan keberhasilan program persilangan dengan kambing Boer yang dikenal memiliki bobot lahir tinggi, yakni berkisar 3,09-3,26 kg (Nasich, 2. Tingginya proporsi darah Boer belum tentu secara linear meningkatkan bobot lahir, sebagaimana terlihat pada genotipe bL . ,5% Boe. yang justru memiliki rataan bobot lahir sedikit lebih rendah dibandingkan BBL . % Boe. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui adanya efek heterosis yang cenderung menurun seiring dengan meningkatnya proporsi darah satu bangsa (Nurgiartiningsih, 2. Analisis ragam dua arah mengkonfirmasi bahwa genotipe berpengaruh nyata terhadap bobot lahir (P=0,. , dengan koefisien determinasi yang rendah (RA=0,. Hasil uji Duncan menunjukkan pola a-ab-b, di mana genotipe BBL . % Boe. nyata lebih tinggi dibandingkan BL . % Boe. (P<0,. , sedangkan bL . ,5% Boe. tidak berbeda nyata dengan keduanya. Jenis kelamin tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir (P=0,. , dan tidak terdapat interaksi nyata antara genotipe dan jenis kelamin (P=0,. Rendahnya RA bobot lahir mengindikasikan bahwa sebagian besar variasi bobot lahir dikendalikan oleh faktor di luar genotipe dan jenis kelamin, sejalan dengan dominannya peran maternal effect pada periode prenatal yang dilaporkan pada berbagai bangsa kambing. Bobot Sapih 90 Hari Berdasarkan Genotipe dan Jenis Kelamin Bobot sapih umur 90 hari (BS. pada penelitian ini menunjukkan peningkatan yang konsisten seiring dengan meningkatnya proporsi darah Boer. Bobot sapih jantan tertinggi dicapai oleh genotipe bL . ,91 A 1,88 k. , diikuti BBL . ,01 A 1,11 k. dan BL . ,09 A 1,84 k. Pola serupa juga terlihat pada cempe betina dengan nilai masing-masing 12,74. 12,32. dan 9,92 kg untuk genotipe bL. BBL, dan BL (Tabel . Peningkatan bobot sapih pada genotipe dengan proporsi darah Boer yang lebih tinggi mengindikasikan adanya pengaruh positif gen-gen pertumbuhan dari bangsa Boer. Kambing Boer merupakan bangsa kambing pedaging komersial utama dengan pertumbuhan cepat dan bobot besar, banyak dipakai untuk grading-up kambing lokal di berbagai negara (Ncube et al. , 2022. Yao et al. , 2023. Zhang et al. , 2. Genotipe bL yang memiliki 87,5% darah Boer menunjukkan potensi pertumbuhan prasapih yang lebih tinggi dibandingkan dua genotipe lainnya. Perbedaan bobot sapih yang mencolok antara jantan dan betina terutama terlihat pada genotipe BL, di mana jantan . ,09 k. lebih berat sekitar 21,9% dibandingkan betina . ,92 k. Perbedaan ini lebih kecil pada genotipe bL . ,5%) dan BBL . ,6%). Fenomena ini menunjukkan bahwa ekspresi dimorfisme seksual semakin moderat dengan meningkatnya proporsi darah Boer, yang kemungkinan disebabkan oleh interaksi genotipe-lingkungan yang lebih menguntungkan pada ternak dengan potensi genetik lebih tinggi. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian lain, bobot sapih Boerlok dalam penelitian ini tergolong Bobot sapih kambing Boer murni pada kondisi pemeliharaan intensif dilaporkan berkisar antara 20-30 kg pada umur 90 hari (Webb et al. , 2. , sedangkan kambing Lokal (Kacan. hanya mencapai 7-9 kg pada umur yang sama. Dengan demikian, program grading-up dengan meningkatkan proporsi darah Boer secara bertahap terbukti mampu meningkatkan performa bobot sapih secara signifikan. Hasil analisis ragam dua arah menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap bobot sapih (P<0,001. RA=0,. Uji Duncan menghasilkan pola a-b-b, di mana BL . % Boe. berbeda nyata dengan BBL dan bL (P<0,. , namun BBL dan bL tidak berbeda nyata satu sama lain (P=0,. Pola plateau ini mengindikasikan adanya ambang batas pengaruh proporsi darah Boer terhadap bobot sapih, peningkatan dari 50% ke 75% memberikan lompatan performa yang signifikan, namun peningkatan lebih lanjut ke 87,5% tidak menghasilkan perbedaan yang nyata. Jenis kelamin berpengaruh sangat nyata terhadap bobot sapih (P<0,. , dan tidak terdapat interaksi nyata antara genotipe dan jenis kelamin (P=0,. , artinya pola peningkatan bobot sapih seiring proporsi darah Boer berlaku konsisten pada jantan maupun betina. Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Prasapih Pertambahan bobot badan harian (PBBH) prasapih merupakan indikator penting dalam menilai efisiensi pertumbuhan ternak pada fase awal kehidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBBH prasapih meningkat Mohammad Ashari et al. (Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih padaA) AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. No. Juli 2026, pp. secara konsisten sejalan dengan peningkatan proporsi darah Boer (Tabel . Nilai PBBH tertinggi diperoleh pada genotipe bL jantan . ,40 A 18,67 g/har. , diikuti BBL jantan . ,50 A 9,78 g/har. , dan BL jantan . ,90 A 15,98 g/har. Pada betina, nilai PBBH bL . ,00 A 15,43 g/har. juga lebih tinggi dibandingkan BBL . ,50 g/har. dan BL . ,20 g/har. Tingginya PBBH pada genotipe bL mencerminkan efisiensi konversi nutrisi yang lebih baik serta kapasitas genetik pertumbuhan yang lebih tinggi dari proporsi darah Boer yang dominan. Bangsa Boer dikenal memiliki laju pertumbuhan harian yang tinggi, dapat mencapai 200-300 g/hari pada kondisi manajemen optimal (Van Niekerk & Casey, 1. Peningkatan PBBH seiring proporsi darah Boer yang lebih tinggi pada penelitian ini konsisten dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai persilangan grading-up Boer di berbagai negara. Perbedaan PBBH antara jantan dan betina paling besar terdapat pada genotipe BL . ,90 vs 80,20 g/hari atau selisih 20,70 g/har. , sedangkan pada bL perbedaannya lebih kecil . ,40 vs 115,00 g/hari atau selisih 5,40 g/har. Hal ini sejalan dengan pola yang ditemukan pada bobot sapih, di mana dimorfisme seksual semakin mengecil pada genotipe dengan proporsi darah Boer yang lebih tinggi. Standar deviasi yang relatif besar pada beberapa kelompok . erutama BL betina dengan SD=17,89 g/har. mengindikasikan adanya variasi individual yang cukup tinggi, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor manajemen pakan induk, kapasitas produksi susu induk, serta kondisi kesehatan cempe selama prasapih. Hasil analisis ragam dua arah menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap PBBH (P<0,001. F=27,810. RA=0,. Uji Duncan menghasilkan pola pemisahan sempurna . -b-. , di mana ketiga genotipe masing-masing menempati subset yang berbeda dan berbeda nyata satu sama lain (P<0,. Pola ini berbeda dari bobot sapih yang menunjukkan plateau pada BBL dan bL, mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan harian merupakan karakter yang paling sensitif dan responsif terhadap peningkatan proporsi darah Boer setiap penambahan proporsi genetik Boer masih memberikan perbaikan PBBH yang nyata hingga 87,5%. Jenis kelamin berpengaruh sangat nyata terhadap PBBH (P<0,. , dan tidak terdapat interaksi nyata antara genotipe dan jenis kelamin (P=0,. , meskipun nilai P yang mendekati ambang signifikansi mengindikasikan kemungkinan adanya perbedaan respons antar jenis kelamin yang perlu dikaji lebih lanjut. Karakteristik Morfometrik Tabel 2. Rataan ukuran tubuh cempe berdasarkan genotipe Genotipe Panjang Badan Lingkar Dada . Tinggi Pundak Notasi . BL . % Boe. 39,82 A 1,12a 41,76 A 1,57a 40,46 A 1,44a a/a/a BBL . % Boe. 42,40 A 1,06b 43,60 A 1,10b 42,67 A 1,20b b/b/b bL . ,5% Boe. 43,29 A 1,78c 44,21 A 1,81b 43,12 A 1,76b c/b/b Sig. Genotipe . 0,000** 0,000** 0,000** Sig. Jenis Kelamin . 0,000** 0,000** 0,000** Interaksi G y JK . 0,001** 0,102ns 0,008** RA 0,625 0,448 0,502 Keterangan: Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. ns = tidak nyata. ** = sangat nyata (P<0,. Notasi = Panjang Badan / Lingkar Dada / Tinggi Pundak Analisis ragam dua arah menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap ketiga ukuran morfometrik (P<0,. Nilai RA pada variabel morfometrik secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan variabel bobot, dengan panjang badan mencapai RA=0,625, tinggi pundak RA=0,502, dan lingkar dada RA=0,448, mengindikasikan bahwa ukuran kerangka tubuh lebih kuat dikontrol oleh faktor genetik dan jenis kelamin dibandingkan karakter bobot badan. Jenis kelamin berpengaruh sangat nyata terhadap ketiga ukuran morfometrik (P<0,. , berbeda dengan bobot lahir yang tidak dipengaruhi jenis kelamin secara nyata. Uji Duncan menunjukkan pola pemisahan sempurna . -b-. pada panjang badan, di mana BL. BBL, dan bL masing-masing berbeda nyata satu sama lain (P<0,. Sebaliknya, lingkar dada dan tinggi pundak menghasilkan pola a-b-b, di mana BL berbeda nyata dengan BBL dan bL (P<0,. , namun BBL dan bL tidak berbeda nyata satu sama lain, mengindikasikan adanya plateau pengaruh proporsi darah Boer pada kedua ukuran tersebut. Hal yang menarik adalah terdapatnya interaksi nyata antara genotipe dan jenis kelamin pada panjang badan (P=0,. dan tinggi pundak (P=0,. , namun tidak pada lingkar dada (P=0,. Interaksi ini mengindikasikan bahwa pengaruh genotipe terhadap dimensi kerangka aksial dan vertikal tidak seragam antara jantan dan betina jantan diduga memperoleh keuntungan morfometrik yang lebih besar dari peningkatan proporsi darah Boer dibandingkan betina, sejalan dengan karakteristik dimorfisme seksual pada kambing tipe pedaging (Van Niekerk & Casey, 1. Mohammad Ashari et al. (Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih padaA) AgroSainta: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. No. Juli 2026, pp. Hubungan Antar Parameter Pertumbuhan dan Morfometrik Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pola yang konsisten antara performa pertumbuhan . obot badan dan PBBH) dengan karakteristik morfometrik . anjang badan, lingkar dada, dan tinggi punda. pada cempe Boerlok. Genotipe dengan proporsi darah Boer yang lebih tinggi secara umum menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada semua parameter yang diukur, baik pada jantan maupun betina. Hubungan positif antara ukuran linear tubuh dengan bobot badan telah banyak dilaporkan pada berbagai bangsa Lingkar dada umumnya memiliki korelasi paling tinggi dengan bobot badan dibandingkan ukuran linear lainnya, dan hal ini konsisten dengan temuan dalam penelitian ini di mana genotipe dengan lingkar dada terbesar . L) juga memiliki bobot sapih tertinggi. Panjang badan dan tinggi pundak yang lebih besar pada genotipe bL dan BBL mendukung kapasitas kerangka yang lebih baik untuk perkembangan otot dan timbunan daging. Perbedaan antar genotipe yang konsisten pada semua parameter menunjukkan bahwa program grading-up menggunakan kambing Boer secara bertahap memberikan dampak positif yang signifikan terhadap performa produksi dan ukuran tubuh kambing Lokal NTB. Program ini terbukti efektif dalam memanfaatkan keunggulan genetik kambing Boer untuk memperbaiki performa kambing lokal tanpa menghilangkan adaptabilitas ternak terhadap kondisi lingkungan setempat. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan proporsi darah Boer pada kambing Boerlok kelahiran tunggal berpengaruh nyata terhadap performa prasapih dan karakteristik morfometriknya. Bobot lahir cempe tidak menunjukkan pola peningkatan linear, meskipun genotipe BBL . % Boe. memiliki bobot tertinggi pada kedua jenis kelamin yang menandakan ekspresi heterosis optimal. Sebaliknya, bobot sapih umur 90 hari dan pertambahan bobot badan harian meningkat konsisten seiring meningkatnya proporsi darah Boer. Genotipe bL . ,5% Boe. tercatat memiliki bobot sapih, laju pertumbuhan, serta ukuran tubuh terbesar . anjang badan, lingkar dada, dan tinggi punda. , menjadikannya genotipe paling efisien dalam pertumbuhan prasapih. Selain itu, cempe jantan secara konsisten unggul dibanding betina pada semua parameter, meski perbedaan ini cenderung menurun pada genotipe dengan darah Boer lebih tinggi. Secara keseluruhan, program grading-up Boer x Lokal terbukti efektif meningkatkan performa kambing lokal Nusa Tenggara Barat. Genotipe bL berpotensi menjadi calon unggulan untuk pengembangan kambing potong di daerah tersebut, dengan tetap memperhatikan adaptasi terhadap lingkungan dan manajemen pemeliharaan lokal. Daftar Referensi Assan. Determinants of birth weight and its size as an onset representative of growth potential in goat and sheep meat production Never. Philosophy of Chemistry, 9, 355Ae363. https://doi. org/10. 1016/B978-0-444-51675-6. Brand. , van der Westhuyzen. Hough. , & van Zyl. Application of growth models to South African Boer goat castrates and does under feedlot conditions. Tropical Animal Health and Production, 56. https://doi. org/10. 1007/s11250-024-03973-5 Joharsah. Kartono. Syahputra. RS. Arwinsyah. Hadirin. , & Zendrato. Analisis Parameter Genetik dan Komponen Ragam Untuk Peningkatan Mutu Genetik Domba Jantan Lokal dan Kambing Kacang Tahun 2023. Mitra Abdimas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3. , 113Ae119. https://doi. org/10. 57251/mabdimas. Mandal. Baneh. Rout. , & Notter. Genetic analysis of sexual dimorphism in growth of Jamunapari goats of India. Journal of Animal Breeding and Genetics, 139. , 462Ae475. https://doi. org/10. 1111/jbg. Mokoena. , & Tyasi. Morphological structure of South African Boer goats explained by principal component analysis. Veterinaria, 70. , 325Ae334. https://doi. org/10. 51607/22331360. Nasich. Productivity of goats as a result of crossing between Boer stud and local parent (PE) on pre weaning period. Jurnal Ternak Tropika, 12. , 56Ae62. https://ternaktropika. Ncube. Dzomba. Rosen. Schroeder. Van Tassell. , & Muchadeyi. Differential gene expression and identification of growth-related genes in the pituitary gland of South African goats. Frontiers in Genetics, 13(Augus. , 1Ae13. https://doi. org/10. 3389/fgene. Nurgiartiningsih. Evaluasi Genetik Pejantan Boer Berdasarkan Performans Hasil Mohammad Ashari et al. (Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih padaA) AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. No. Juli 2026, pp. Persilangannya Dengan Kambing Lokal. Ternak Tropika. Vol. , 82Ae88. Rahim. Bugiwati. , & Dagong. Phenotypic characterization of local Peranakan Etawa goat reared in Polman regency. West Sulawesi. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 492. https://doi. org/10. 1088/1755-1315/492/1/012102 Singh. Pourouchottamane. Singh. Kumar. Sharma. Kumar. Dass. , & Pundir, . Non-genetic factors affecting pre-weaning growth and survival rate in Barbari kids under semi-intensive management system. Indian Journal of Animal Sciences, 92. , 1081Ae1087. https://doi. org/10. 56093/ijans. Tesema. Alemayehu. Getachew. Kebede. Deribe. Taye. Tilahun. Lakew. Kefale. Belayneh. Zegeye. , & Yizengaw. Estimation of genetic parameters for growth traits and Kleiber ratios in Boer x Central Highland goat. Tropical Animal Health and Production, 52. , 3195Ae3205. https://doi. org/10. 1007/s11250-020-02345-z Van Niekerk. , & Casey. The Boer goat. II. Growth, nutrient requirements, carcass and meat quality. Small Ruminant Research, 1. , 355Ae368. https://doi. org/10. 1016/0921-4488. Wang. Liu. Shi. Qi. Li. Wang. Zhang. Zhao. Su. , & Li. Study of genetic parameters for pre-weaning growth traits in inner Mongolia white Arbas cashmere goats. Frontiers in Veterinary Science, 9. https://doi. org/10. 3389/fvets. Webb. Casey. , & Simela. Goat meat quality. Small Ruminant Research, 60. -2 SPEC. ISS. ), 153Ae166. https://doi. org/10. 1016/j. Yao. Zhang. Wang. Guo. Xin. Zhang. Xu. Wang. Jiang. , & Huang. Genetic diversity and signatures of selection in BoHuai goat revealed by whole-genome sequencing. BMC Genomics, 24. , 1Ae8. https://doi. org/10. 1186/s12864-023-09204-9 Zhang. Lu. Wang. Liu. Li. Deng. Zhang. Zhao. You. Fan. Wang. , & Wang. Genome-Wide Scans for Selection Signatures in Haimen Goats Reveal Candidate Genes Associated with Growth Traits. Biology, 14. , 1Ae14. https://doi. org/10. 3390/biology14010040 Mohammad Ashari et al. (Karakteristik Ukuran Tubuh dan Laju Pertumbuhan Prasapih padaA)