Journal Tabaro Agriculture Science Volume 9 Ae Nomor 2. Desember 2025, 1-12 ISSN 2580-6165 . ISSN 2597-8632 . Perempuan Pesisir. Peran Lembaga Keuangan Mikro. Keberlanjutan Pembudidayaan Rumput Laut: Analisis Sosial-Ekonomi Asriyanti Syarif1*. Andi Rahayu Anwar 2. Rasdiana Mudatsir3. Sitti Arwati4. Reni Fatmasari5 1,2,3,4,5 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar *Corresponding Author: asriyanti. syarif@unismuh. Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima: 06-12-2025 Direvisi: 20-12-2025 Disetujui: 28-12-2025 Kata Kunci: Perempuan pesisir. lembaga keuangan Keywords: coastal women. Abstrak. Penelitian ini memiliki tujuan menganalisis persepsi dan partisipasi perempuan pesisir terhadap pemanfataan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dalam mendukung pembudidayaan rumput laut berkelanjutan di Desa Laikang. Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan. studi kasus kualitatif merupakan pendekatan yang digunakan, melibatkan informan 20 petani rumput laut perempuan yang dipilih secara Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema kunci terkait persepsi, penggunaan dana, dan tantangan dalam mengakses pembiayaan dengan visualisasi Nvivo. Penelitian menggambarkan bahwa persepsi perempuan positif terhadap lembaga keuangan mikro sebagai penyedia modal untuk bibit, peralatan, dan pembiayaan tenaga kerja pembibitan. Namun, timbul hambatan mengenai tanggung jawab bersama dalam kelompok, dan kecenderungan menggunakan dana untuk kebutuhan sosial dan rumah tangga akibat ketidakstabilan pendapatan. Temuan ini mempertegas bahwa lembaga keuangan mikro (LKM) berperan dalam pembudidayaan rumput laut berkelanjutan sehingga perlu meningkatkan batas kredit dan mengembangkan skema pembiayaan sesuai dengan kebutuhan perempuan pesisir. Studi ini berkontribusi bagi penyusunan kebijakan pemberdayaan perempuan di sektor perikanan dan kelautan berbasis lokal. Abstract. This study aims to analyze coastal women's perceptions and participation in using Microfinance Institutions (MFI. to support sustainable seaweed cultivation in Laikang Village. Takalar Regency. South Sulawesi. A qualitative case study approach was used, involving 20 purposively selected female seaweed farmers as informants. Data analysis was conducted by identifying key themes related to perceptions, fund use, and challenges in accessing financing using NVivo. The study finds that women have a positive perception of microfinance institutions as providers of capital for seeds, equipment, and seedling labor. However, there are obstacles regarding shared responsibility within the group and a tendency to use funds for social and household needs due to income instability. These findings emphasize that microfinance institutions (MFI. play a role in sustainable seaweed cultivation, underscoring the need to increase credit limits and develop financing schemes tailored to the needs of coastal women. This study contributes to the formulation of policies for women's empowerment in the local fisheries and marine sector. PENDAHULUAN Perempuan mewakili proporsi yang signifikan dari tenaga kerja pertanian dan perikanan secara global, berkontribusi sekitar 50% terhadap produksi dan sebagian besar tinggal di daerah pedesaan serta memainkan peran vital dalam memastikan keamanan pangan global (Tomisin, 2. Di Zanzibar, khususnya, lebih dari 90% petani rumput laut adalah perempuan (Joan & Ushadevi, 2. Partisipasi perempuan tidak hanya terbatas pada kontribusi tenaga kerja. mereka juga mengelola tanggung jawab domestik, aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan berkontribusi langsung pada produksi dalam usaha keluarga, termasuk budidaya rumput laut (Amponsah et al. , 2. Seringkali, perempuan membantu suami mereka . epala keluarg. dalam meringankan beban kerja, meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga, dan mengelola keuangan terkait usaha keluarga (Andryfouyt et al. , 2. Peran mereka terutama didorong oleh kebutuhan keluarga dan kapasitas kerja yang inheren (Chandio et al. , 2. Namun, meskipun Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 kontribusi yang luas, perempuan sering menghadapi hambatan signifikan, termasuk akses yang terbatas terhadap sumber daya, kesempatan pelatihan, dan wewenang dalam pengambilan keputusan (Id et al. , 2020. Torell et al. , 2. Ketidakhadiran kebijakan yang responsif terhadap gender menejadi gap antara laki-laki dan perempuan, menyoroti kebutuhan akan intervensi yang ditargetkan untuk secara khusus mendukung keterlibatan perempuan (Torell et al. , 2019. Nwosu & Orji, 2016 . Bosma et al. , 2. Budidaya rumput laut telah hadir sebagai kegiatan matapencaharian yang ideal bagi komunitas yang tinggal di daerah pesisir karena potensinya dalam meningkatkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan (Fatonny et al. , 2. Rumah tangga pedesaan terlibat dalam budidaya rumput laut terutama untuk memasok bahan baku bagi industri makanan dan kosmetik (Polas, et al. , 2. Di Indonesia, pembudidaya skala kecil dominan dalam budidaya rumput laut (Profil Desa Laikang, 2. Namun, kondisi pasar yang fluktuatif dan variabilitas iklim seringkali menyebabkan pendapatan yang tidak stabil dan tidak memadai, menyoroti kebutuhan kritis akan modal finansial yang berkelanjutan untuk input produksi (Larson et al. , 2. Lembaga keuangan, termasuk lembaga keuangan mikro (LKM), menyediakan fasilitas kredit yang esensial untuk mendukung praktik budidaya rumput laut yang berkelanjutan. Sebagai negara berkembang. Indonesia menempatkan penyediaan kredit sebagai instrumen penting dalam mendorong pengembangan sektor pertanian dan perikanan, terutama melalui kemudahan akses bagi petani dan pembudidaya untuk memperoleh input produksi yang esensial (Malki et al. , 2. Secara khusus, institusi mikrofinansial berkontribusi signifikan terhadap pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan perempuan melalui peningkatan standar hidup yang dicapai dengan penyediaan layanan keuangan yang terfokus (Mariyono, 2019. Chen et al. , 2. Institusi mikrofinansial (IMF) secara khusus berfokus pada perempuan karena potensi mereka sebagai peminjam yang bertanggung jawab yang secara signifikan mempengaruhi keluarga dan komunitas mereka secara positif (Thapa & Chowdhary, 2. Pemberdayaan melalui mikrofinansial mencakup berbagai dimensi, termasuk peningkatan kemandirian finansial, partisipasi yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan, dan peningkatan status sosial (Abdelfatah, 2025. Ahmed et al. , 2. Strategi pinjaman berbasis kelompok yang diterapkan oleh lembaga keuangan mikro (LKM) berfungsi sebagai instrumen mitigasi risiko gagal bayar, sekaligus sebagai sarana untuk memfasilitasi akses pembiayaan bagi perempuan yang berperan dalam usaha budidaya rumput laut rumah tangga (Adefare et al. Penelitian sebelumnya umumnya berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam sektor pertanian secara luas atau dianalisis pada skala nasional, tanpa kajian mendalam mengenai persepsi dan partisipasi perempuan yang secara spesifik terkait dengan akses mikrofinansial dalam konteks budidaya rumput laut berkelanjutan. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada eksplorasi komprehensif hubungan antara akses modal mikrofinansial dan partisipasi aktif perempuan dalam praktik budidaya rumput laut Studi ini bertujuan untuk menyediakan landasan teoretis dan bukti empiris dalam perumusan kebijakan yang responsif gender dan berorientasi lokal, guna mendukung keberlanjutan ekonomi komunitas pesisir. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Laikang. Kecamatan Mangarabombang. Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan. Indonesia, pada bulan Mei hingga Juni 2024. Lokasi ini dipilih secara sengaja karena merupakan pusat produksi rumput laut yang penting di Kabupaten Takalar, dengan keterlibatan perempuan yang signifikan di tingkat rumah tangga dan kehadiran lembaga mikrofinansial yang secara khusus menargetkan perempuan untuk dukungan modal dalam kegiatan budidaya rumput laut. Informan dipilih secara purposif . urposive samplin. sebanyak 20 orang pembudidaya perempuan. Pendekatan ini Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 bermanfaat dalam penelitian kualitatif karena memungkinkan peneliti memusatkan perhatian pada individu yang memiliki pengetahuan atau pengalaman langsung terkait topik yang dikaji (Adam et al. , 2. Purposive sampling merupakan teknik sampling nonprobabilitas yang lebih menekankan validitas internal dibandingkan validitas eksternal. Metode ini tetap dapat digeneralisasikan pada populasi dengan karakteristik serupa dan dipilih karena memberi kesempatan kepada peneliti untuk menentukan partisipan yang memiliki informasi mendalam serta relevan, sehingga mampu memberikan pemahaman paling berarti mengenai fokus dan tujuan penelitian (Gaikwad et al. , 2025. Sinthumule. Dengan demikian, para penulis dapat menggali wawasan mengenai bagaimana refleksi mendalam terhadap kondisi mereka seharusnya dilakukan, khususnya ketika penelitian diarahkan untuk memahami dinamika interaksi atau perilaku dalam konteks tertentu, termasuk faktor-faktor penyebab serta perkembangan suatu peristiwa (Lee et al. Xu et al. , 2. Penelitian kualitatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk memahami Aupengalaman nyataAy suatu kelompok tertentu dengan mengumpulkan data berupa pengalaman, pandangan, dan perasaan individu, serta mengidentifikasi tema dan pola yang muncul dalam data (Jafarian, 2. Dalam penelitian ini, metode studi kasus digunakan sebagai strategi penelitian kualitatif. Melalui studi kasus, hubungan antara layanan mikrofinansial dan praktik komunitas dalam budidaya perairan dapat dieksplorasi dengan lebih jelas, memungkinkan penemuan strategi yang relevan dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan (Rajeswari, 2. Metode ini mengikuti template analitis komprehensif yang diusulkan oleh (Creswell and Poth, 2. , yang berfokus pada deskripsi kasus yang rinci, analisis tematik di dalam dan antar kasus, serta generalisasi temuan berdasarkan penilaian komparatif setiap kasus yang dipilih. Perangkat lunak NVivo digunakan sebagai alat visualisasi dalam memperkuat data kualitatif memiliki fungsi yang secara khusus dikembangkan untuk membantu peneliti mengeksplorasi berbagai fenomena sosial. Penggunaan perangkat lunak ini berkontribusi pada peningkatan ketepatan analisis data melalui fasilitasi proses pengodean sebagai tahap utama dalam penelitian kualitatif, di mana segmen data diberi kode yang merepresentasikan konsep dan tema analitis. Data yang telah divalidasi, yang berasal dari kuesioner awal, catatan harian, dan transkrip wawancara, kemudian dianalisis secara sistematis (Maher et al. , 2018. Nanda et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Informan Informan dalam penelitian ini adalah perempuan dan ibu rumah tangga yang juga bekerja di bisnis rumput laut untuk mendukung keluarga/rumah tangga dengan pola usaha sebagai berikut: . fokus pada bisnis rumput laut, . diversifikasi bisnis rumput laut dan pertanian jagung, . diversifikasi bisnis rumput laut dan perikanan, . bisnis rumput laut dan aktivitas non-pertanian . enjual bakso keliling dan pedagan. Penelitian ini menganalisis usia, pendidikan, dan pola diversifikasi. Usia Usia informan bervariatif dari 18-54 tahun, yang masih tergolong dalam usia produktif dan memiliki kemampuan fisik untuk bekerja. Usia dapat secara signifikan mempengaruhi persepsi perempuan terhadap layanan mikrofinansial. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan muda lebih terbuka untuk berpartisipasi dalam mikrofinansial karena mereka memiliki paparan yang lebih besar terhadap pendidikan dan praktik ekonomi modern dibandingkan generasi yang lebih tua (Mvile, 2. , selain itu dengan aspirasi wirausaha mungkin melihat mikrofinansial sebagai alat penting untuk memulai dan mempertahankan bisnis di bidang perikanan, yang mengarah pada persepsi positif terhadap manfaatnya. Tingkat pendidikan juga bervariatif dari tingakt Sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Tingkat pendidikan yang lebih tinggi (Sekolah Menegah Ata. terkait dengan literasi keuangan yang lebih baik, yang meningkatkan pemahaman perempuan tentang mekanisme pinjaman dan strategi Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 pembayaran, sehingga memperkuat persepsi positif terhadap layanan mikrofinansial (Affum, 2. dibandingkan pendidikan SMP dan SD. Studi menunjukkan bahwa perempuan yang berpendidikan lebih mungkin berhasil memanfaatkan mikrofinansial karena mereka lebih mampu mengelola peluang bisnis dan opsi investasi (Naqi et al. , 2. Diversifikasi Mata Pencaharian: Perempuan yang menerapkan strategi diversifikasi mata pencaharian . umput laut dan usaha pertanian, perikanan maupun non pertania. dilokasi penelitian cenderung lebih bersedia memanfaatkan mikrofinansial dibandingkan hanya berfokus pada usaha rumput laut. Diversifikasi dapat mengurangi risiko yang terkait dengan fluktuasi pendapatan, sehingga perempuan memandang mikrofinansial sebagai sarana untuk menstabilkan dan memperluas sumber pendapatan mereka (Diego Salquero Otero. Michele L. Barnes. , 2. Perempuan yang terlibat dalam berbagai kegiatan penghasil pendapatan mungkin memandang mikrofinansial tidak hanya sebagai produk keuangan tetapi juga sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk ketahanan ekonomi (Mulatu, 2. Pola usaha yang sudah mapan . merupakan strategi penghidupan yang memainkan peran penting dalam menentukan keputusan perempuan untuk terlibat dalam layanan mikrofinansial. Sebagai contoh, rumah tangga yang mendiversifikasi aktivitas ekonomi mereka dengan sekaligus terlibat dalam pertanian, perikanan, dan perdagangan skala kecil lebih cenderung mencari layanan keuangan untuk mendukung berbagai aktivitas tersebut (Gebru et al. , 2. Asfaw, 2. Diversifikasi ini membantu mengurangi risiko, memungkinkan perempuan untuk mencoba usaha baru yang dapat didukung oleh mikrofinansial dan harus didukung oleh pelatihan dan sumber daya. Rumah tangga yang menyediakan akses pelatihan dan sumber daya bagi perempuan dapat secara signifikan mempengaruhi keputusan mereka untuk memanfaatkan mikrofinansial. Ketika perempuan merasa berdaya dan dilengkapi dengan keterampilan, mereka lebih cenderung mengambil pinjaman untuk berinvestasi dalam usaha perikanan budidaya mereka (Naqi et al. , 2. Persepsi Perempuan terhadap Penggunaan Lembaga Keuangan Perempuan dalam usaha budidaya rumput laut skala rumah tangga memanfaatkan pinjaman dari lembaga keuangan untuk memperkuat modal dan menjaga keberlanjutan Proses ini membentuk persepsi mereka terhadap berbagai aspek pembiayaan, termasuk suku bunga, sistem pembayaran, persyaratan dan jaminan pinjaman, besaran serta tujuan pinjaman, kelebihan dan keterbatasan skema pembiayaan, serta harapan terhadap lembaga keuangan. Persepsi tersebut merupakan hasil proses penginderaan dan penilaian yang memengaruhi pandangan dan sikap perempuan terhadap akses pembiayaan (Fuady & Yusnita, 2. , yang diilustrasikan dalam Gambar 1. Gambar 1. Persepsi Perempuan terhadap Lembaga keuangan Mikro Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 Sistem Pembayaran Sistem pembayaran pinjaman diterapkan dalam berbagai skema, antara lain pembayaran mingguan dan dua mingguan. Perempuan memiliki persepsi yang berbeda terhadap kedua struktur pembayaran tersebut, yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan dan siklus arus kas usaha mereka. Skema pembayaran mingguan cenderung dipersepsikan sebagai beban, khususnya dalam sektor perikanan budidaya, di mana pendapatan umumnya bersifat musiman dan bergantung pada periode panen. Sebaliknya, struktur pembayaran dua mingguan dinilai lebih mudah dikelola karena relatif lebih selaras dengan pola pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan perikanan budidaya (Robbani & Humaira, 2021. Adlin et al. Menurut informan, pembayaran mingguan memiliki nilai nominal yang lebih kecil dibandingkan dengan pembayaran dua mingguan. Namun, beberapa juga percaya bahwa pembayaran mingguan membuat waktu terasa terlalu singkat sementara dana belum terkumpul untuk melakukan pembayaran. Berikut adalah pernyataan dari salah satu informan mengenai sistem pembayaran yang diterapkan: AuSaya meminjam 5 juta rupiah dari lembaga keuangan dengan angsuran mingguan sebesar 000 rupiah selama 50 mingguAy (MDM, 38 tahu. Setiap lembaga keuangan menetapkan nominal pinjaman yang berbeda-beda untuk Beberapa menawarkan nominal Rp. 000 per minggu, sementara yang lain menawarkan Rp. 000 per minggu dengan jumlah pinjaman Rp. 5 juta. Secara umum, mereka menyatakan bahwa mereka mampu membayar angsuran yang dikenakan. Tingkat Suku Bunga Persepsi setiap perempuan berbeda-beda. sebagian merespons suku bunga rendah sebanyak 12 orang . %), sementara yang lain merespons suku bunga relatif tinggi sebanyak 8 orang . %), namun tetap menganggap bunga dan angsuran terjangkau. Faktorfaktor yang mempengaruhi persepsi wanita terhadap suku bunga adalah: Pemahaman tentang Suku Bunga: Kesadaran ini dapat menyebabkan sikap skeptis terhadap pinjaman berbunga tinggi, terutama jika mereka menganggap suku bunga tersebut memberatkan atau eksploitatif (Adlin et al. , 2025 . Ahamed et al. , 2. Kontekstual Budaya: Faktor budaya juga memainkan peran penting dalam membentuk persepsi. Di beberapa komunitas, suku bunga tinggi mungkin sudah dianggap normal karena ketergantungan historis pada pemberi pinjaman informal. Hal ini dapat membuat wanita kurang sadar akan biaya relatif layanan mikrofinansial. Misalnya, perempuan mungkin membandingkan suku bunga dari lembaga mikrofinansial dengan pinjaman tradisional dan terkadang menganggapnya lebih menguntungkan meskipun ada potensi beban utang (Yohannes Worku, 2025. Mvile. Perbandingan dengan Pembiayaan Tradisional: Pengalaman perempuan sebelumnya dengan lembaga keuangan juga mempengaruhi persepsi mereka terhadap syarat pinjaman lembaga mikrofinansial. Mereka yang memiliki pengalaman negatif, seperti biaya tinggi atau kualitas layanan yang buruk, cenderung lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan mikrofinansial (Thapa & Chowdhary, 2. Seorang informan menanggapi suku bunga sebagai berikut: AuSuku bunga rendah dan akses mudahAy (S, 45 tahu. Ay. Informan menyebutkan suku bunga rendah, yang membuat mereka memilih lembaga keuangan untuk pendanaan dibandingkan lembaga keuangan lainnya. Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 Jangka Waktu Pinjaman Pinjaman umumnya diberikan dengan jangka waktu satu tahun. Jangka waktu yang relatif singkat ini didasarkan pada keyakinan bahwa peminjam mampu melunasi kewajiban kredit dalam periode tersebut, sehingga memiliki peluang untuk kembali mengakses pembiayaan pada tahun berikutnya dengan skema yang baru. Informan memandang jangka waktu satu tahun sebagai periode pelunasan yang lebih singkat dibandingkan dengan tenor pinjaman pada lembaga perbankan formal. Berikut adalah apa yang dikatakan oleh narasumber: AuSatu tahun tidak terasa lama bagi saya untuk meminjam dari lembaga keuangan, dan yang terpenting adalah kebutuhan saya terpenuhi. Dengan jangka waktu yang singkat, utang saya dilunasi, dan jika saya membutuhkan pinjaman, saya dapat meminjam lagi pada tahun berikutnyaAy (R, 25 tahu. Jumlah Pinjaman Jumlah pinjaman bervariasi tergantung pada kebutuhan mereka. Rentang jumlah pinjaman berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. Pinjaman kecil biasanya digunakan untuk kebutuhan keluarga yang mendesak. Di sisi lain, pinjaman besar sebesar sekitar Rp 5 juta digunakan untuk meningkatkan modal dalam budidaya rumput laut, termasuk pembelian benih, pembayaran upah tenaga kerja untuk penanaman benih, dan pembelian perahu bekas. Jaminan Institusi keuangan tidak mensyaratkan jaminan fisik dalam pemberian pinjaman. namun, calon peminjam diwajibkan menjadi anggota kelompok yang terdiri dari 10 orang. Berikut adalah pernyataan dari seorang informan: AuTidak diperlukan jaminan, tetapi Anda harus menjadi anggota kelompokAy (A, 38 tahu. Keberadaan kelompok juga dipahami sebagai sarana kontrol untuk membantu mereka menyelesaikan pembayaran angsuran. Kebutuhan Kebutuhan aktual perempuan pembudidaya adalah peningkatan modal usaha budidaya rumput laut, antara lain untuk pembelian benih, tali, pembiayaan tenaga kerja pada tahap pembibitan, serta pengadaan perahu bekas. Namun demikian, keterbatasan kondisi keuangan rumah tangga yang dipengaruhi oleh kegagalan panen dan fluktuasi harga sering kali menghambat pemenuhan kebutuhan tersebut. Akibatnya, sebagian modal usaha yang diperoleh dialihkan untuk memenuhi kebutuhan non-produktif, seperti biaya pendidikan anak serta pengeluaran sosial keluarga, termasuk perayaan dan keperluan duka cita . ematian anggota keluarga mengharuskan mereka untuk membant. Faktor sosial menciptakan dilema antara memberikan sumbangan atau tidak. Persentase penggunaan pinjaman ditunjukkan dalam Gambar 2. Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 pembelian tali Pembelian perahu pembelian bibit duka cita biaya sekolah anak perayaan keluarga . pembiayaan tenaga pembibitan Gambar 2. Penggunaan Pinjaman Berdasarkan data penggunaan pinjaman yang tersedia: Pembelian bibit merupakan penggunaan terbesar . unit atau 35%), menunjukkan prioritas pada pengembangan usaha. Pembelian perahu bekas juga mendapat perhatian signifikan dengan alokasi 3 unit . %). Pembelian tali, dengan alokasi 2 unit . %), merupakan kebutuhan pendukung utama untuk budidaya rumput laut. Biaya tenaga kerja untuk produksi bibit mendapatkan alokasi relatif kecil, yaitu 1 unit . %). Tujuan sosial: - Acara keluarga . menggunakan jumlah yang signifikan, yaitu empat orang informan . %). - Biaya sekolah anak-anak dan biaya pemakaman masing-masing menerima alokasi 1 . %) dan dua unit . %), mencerminkan tanggung jawab sosial dan keluarga yang juga mempengaruhi penggunaan dana. Hal ini mencerminkan dilema yang dihadapi oleh keluarga, di mana modal yang seharusnya digunakan untuk investasi bisnis dialihkan untuk memenuhi kewajiban sosial mendesak akibat kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil . agal panen, fluktuasi harg. Tanggung jawab sosial di dalam rumah tangga dan komunitas secara signifikan mempengaruhi cara perempuan berencana menggunakan pinjaman dari lembaga Seringkali, perempuan memprioritaskan kebutuhan rumah tangga, seperti: pendidikan anak, layanan kesehatan, atau ketahanan pangan di atas investasi bisnis. Prioritas ini dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang pentingnya pinjaman, sehingga mereka memandang dana pinjaman sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang mendesak daripada hanya untuk pengembangan bisnis (Jafree et al. , 2021 . Rauf et al. , 2. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pinjaman Petani menganggap bahwa pinjaman dari lembaga keuangan memiliki kelebihan dan Hasil wawancara dengan narasumber mengenai hal ini tersaji pada Tabel 1. Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan Sistem Pinjaman Aspek Kelebihan Kekurangan Akses Pembiayaan Menyediakan pinjaman Jumlah dana pinjaman terbatas, belum yang dapat digunakan mencukupi kebutuhan usaha. untuk mendukung budidaya rumput laut Sistem Pembayaran/Angsuran Skema angsuran biasanya disesuaikan dengan kemampuan Kewajiban tanggung renteng: bila satu anggota kelompok gagal membayar, anggota lain harus menanggungnya. Pemberdayaan Kelompok Mendorong kerjasama dan solidaritas dalam kelompok tani. Sistem kelompok dapat menimbulkan rasa ketidakadilan ketika ada anggota yang tidak disiplin membayar. Pengembangan Usaha Membuka kesempatan Risiko beban utang menjadi lebih tinggi mengembangkan usaha bagi petani yang memiliki pendapatan lebih besar dibanding tidak stabil. tanpa pinjaman. Sumber: Data Primer, 2025 Persepsi perempuan terhadap lembaga keuangan mikro mendorong mereka untuk berpartisipasi secara kelompok dan membangun kerjasama, bekerja secara giat hingga menghasilkan manfaat ekonomi (Abdelfatah, 2. Sedangkan pinjaman berbasis kelompok ini memberikan jaminan secara sosial, saling mendukung dan berbagi tanggung jawab dalam pembayaran pinjaman, namun yang menjadi dilema apabila ada anggota kelompok yang tidak melaksanakan kewajiban membayar sehingga perlu diadakan pelatihan dan penguatan jaringan (Nkwocha, 2. Pelatihan pada dasarnya membekali perempuan mengenai literasi keuangan terutama pengelolaan pinjaman maupun pemahaman syarat pembayaran. Perempuan yang memiliki pemahaman yang baik mengenai produk keuangan memiliki kecenderungan positif terhadap mikrofinansial sehingga dapat memanfaatkan pinjaman secara efektif dalam pembudidayaan rumput laut berkelanjutan (Thapa & Amit, 2024. Herath et al. , 2. Harapan Perempuan terhadap Lembaga Keuangan Harapan masyarakat turut membentuk pola pemanfaatan pinjaman oleh petani perempuan yang mengakses pembiayaan melalui lembaga keuangan. Perempuan tidak selalu menggunakan pinjaman semata-mata untuk kepentingan usaha pribadi, tetapi juga untuk tujuan yang sejalan dengan norma dan ekspektasi sosial, seperti investasi kolektif dalam kegiatan komunitas atau membantu perempuan lain di lingkungan mereka. Praktik tersebut mencerminkan kuatnya nilai-nilai budaya yang menekankan tanggung jawab bersama dan kesejahteraan kolektif dalam kehidupan masyarakat pesisir (Rivera, 2. Petani rumput laut perempuan mengharapkan pinjaman lebih dari 10 juta rupiah untuk membeli benih secara besar-besaran atau membiayai pembelian perahu baru guna mengoptimalkan produksi dan memastikan keberlanjutan usaha rumput laut mereka. Berikut adalah cuplikan wawancara dengan salah satu petani: AuJika memungkinkan, tingkatkan pinjaman agar pembelian fasilitas produksi dapat dimaksimalkanAy (RDH, 45 tahu. Ay. Partisipasi Perempuan dalam Penggunaan Lembaga Keuangan Partisipasi perempuan tercermin melalui keterlibatan mereka dalam kelompok pinjaman beranggotakan 10 orang yang dibentuk oleh lembaga keuangan. Dalam kelompok ini, perempuan berperan aktif dalam komunikasi dan pertukaran informasi, sehingga Copyright . 2025 Asriyanti Syarif. Andi Rahayu Anwar. Rasdiana Mudatsir. Sitti Arwati. Reni Fatmasari Jurnal Tabaro. Volume 9. Nomor 2. Desember 2025, 1-12 memfasilitasi aliran informasi yang efektif di antara pembudidaya rumput laut perempuan penerima pinjaman. Namun demikian, tingkat partisipasi dapat menurun ketika terdapat anggota yang menjadi tidak aktif, khususnya akibat penghentian pembayaran pinjaman, yang berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan dan melemahkan kohesi kelompok. Selain dinamika internal kelompok, faktor-faktor sosioekonomi, seperti akses terhadap lahan dan keberadaan sistem dukungan eksternal, juga memengaruhi tingkat partisipasi perempuan dalam kelompok pinjaman (Asaolu, 2022. Debela & Lemma, 2. SIMPULAN DAN SARAN Pemanfaatan lembaga keuangan mikro (LKM) berperan bagi pemberdayaan ekonomi perempuan di desa Laikang dengan menyediakan modal usaha untuk budidaya rumput laut yang berkelanjutan. LKM memberikan akses keuangan, menumbuhkan disiplin keuangan, penggambaran bentuk solidaritas, serta tanggung jawab sosial dalam kelompok Namun, kewajiban pembayaran pinjaman secara kolektif dan jumlah pinjaman yang terbatas tetap menjadi hambatan signifikan dalam mengoptimalkan manfaat LKM. Oleh karena itu, kebijakan untuk meningkatkan batas pinjaman dan penerapan sistem manajemen risiko secara efektif, mendukung budidaya rumput laut berkelanjutan dalam rangka peningkatan kesejahteraan komunitas pesisir. DAFTAR PUSTAKA