Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw pada Mata Pelajaran Fikih Siswa Kelas Vi MTsS Paripurna Besitang Halimatus Sakdiyah1. Zainal Arifin AKA2. Rani Febriyanni3 1,2,3 Sekolah Tinggi Agama Islam JamAoiyah Mahmudiyah Tanjung Pura. Langkat. Sumatera Utara. Indonesia Email : halimatussakdiyah1727@gmail. com1, zainalarifinaka@gmail. ranifebriyanni1991@gmail. Abstrak Hasil belajar siswa kelas Vi MTs Swasta Paripurna Besitang pada mata pelajaran fikih materi zakat sebelum menerapkan model pembelajaran cooperative jigsaw belum tuntas. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil pretest siswa. Proses pelaksanaan pembelajaran fikih di kelas Vi MTs swasta Paripurna Besitang dengan penerapan metode pembelajaran cooperative jigsaw sesuai dengan rencana yang telah dibuat, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan tidak lagi memberikan pretest kepada siswa, sebelum memulai pembelajaran guru memotivasi siswa agar lebih aktif daripada pertemuan sebelumnya. Langkah selanjutnya masih dalam panduan guru berupa tindakan persentase kelas dan kerja Hasil belajar siswa kelas Vi MTs Swasta Paripurn a Besitang pada mata pelajaran fikih materi zakat, setelah penerapan metode pembelajaran cooperative jigsaw pada siklus I nilai rata-rata meningkat menjadi 85 dengan persentase ketuntasan sebesar 77 % dan persentase ketuntasan belajar belum mencapai 85 %. Dan siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 94 . dengan persentase ketuntasan 100% dengan selisi peningkatan dari siklus I menuju siklus II sebesar 41%. Dengan demikian siklus II mengalami peningkatan signifikan, sehingga peneliti berkesimpulan bahwa tidak perlu dilanjutkan lagi pada siklus Dengan demikian maka terbuktilah hipotesa peneliti yang telah diajukan terbukti kebenarannya, pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kata kunci: Fikih. Hasil Belajar. Jigsaw. Pembelajaran Kooperatif. Efforts to Improve Learning Outcomes through the Application of the Jigsaw Cooperative Learning Model in Jurisprudence Subjects for Class Vi MTsS Paripurna Besitang Abstract The learning outcomes of class Vi MTs Private Paripurna Besitang on fiqh subjects on zakat material before applying the cooperative jigsaw learning model have not been completed. This can be seen from the average score of the students' pretest results. The process of implementing fiqh learning in class Vi of private MTs Paripurna Besitang by applying the cooperative jigsaw learning method according to the plan that has been made, learning activities are carried out by no longer giving pretests to students, before starting learning the teacher motivates students to be more active than the previous meeting. The next step is still in the teacher's guidance in the form of class percentage || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety actions and group work. The learning outcomes of class Vi MTs Private Plenary Besitang on the subject of fiqh material zakat, after the application of the cooperative jigsaw learning method in the first cycle the average value increased to 85 with the percentage of completeness of 77% and the percentage of mastery learning had not reached 85%. And the second cycle the average value of students reached 94 . with a percentage of 100% completeness with an increase in the difference from cycle I to cycle II of 41%. Thus the second cycle experienced a significant increase, so the researchers concluded that there was no need to continue again in the next cycle. Thus, it is proven that the hypothesis of the researcher that has been proposed is proven true, learning with the cooperative jigsaw learning model can improve student learning outcomes. Keywords: Jurisprudence. Learning Outcomes. Jigsaw. Cooperative Learning. PENDAHULUAN Model pembelajaran menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan saat ini. Banyak model pembelajaran yang berkembang yang didesain untuk menjadikan siswa aktif dalam belajar. Perkembangan pada dunia pendidikan dapat dilihat pada pola belajar yang sebelumnya teacher center menjadi student center yang juga didukung oleh kurikulum yang digunakan saat ini. Pembelajaran yang dilakukan saat ini menuntut peran aktif peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran dilakukan agar peserta didik aktif dan prosesnya umumnya membentuk kelompok kecil yang menuntut peran aktif setiap individu dalam kelompok Model seperti ini disebut dengan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif itu sendiri memiliki banyak jenisnya yang dapat diterapkan saat guru melaksanakan pembelajaran. Pada intinya model kooperatif menuntut kerjasama siswa yang belajar dalam kelompok dan masing-masing siswa bertanggungjawab pada AuPembelajaran cooperative adalah solusi ideal terhadap masalah menyediakan kesempatan berinteraksi secara kooperatif dan tidak dangkal kepada para siswa dari latar belakang etnik yang berbedaAy. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang popular yaitu model jigsaw. Cooperatif model jigsaw adalah siswa bekerja dalam tim heterogen yang diberikan tugas membaca beberapa bab atau unit dan diberikan lembar ahli yang terdiri dari topik yang Model ini disebut juga kelompok ahli. Model ini memberikan siswa kesempatan untuk membaca materi dan berdiskusi dalam kelompok ahli untuk membahas suatu materi dan kembali lagi pada tim awalnya dan mengajari temannya. Hasil akhirnya berupa skor penilaian tim yang didasarkan pada penilaian individu dalam tim. Perkembangan dunia pendidikan terutama dalam penerapan model pembelajaran telah banyak diterapkan terutama di sekolah yang telah maju sehingga proses belajar lebih Model pembelajaran yang banyak digunakan adalah model kooperatif jigsaw yang menitik beratkan aktivitas siswa belajar dalam kelompok. Namun disayangkan masih ada sekolah terutama yang berada di wilayah yang masih tergolong kota kecil masih banyak menggunakan model pembelajaran konvensional. Kondisi belajar yang menggunakan model konvensional tentunya sangat menghambat kemampuan siswa dalam belajar. Potensi dalam diri siswa akan terhambat terutama kemampuan berfikir dan menganalisis sebuah masalah. Selain itu, kemampuan kerjasama peserta didik dalam belajar tidak akan terbina bila dengan model konvensional. Peserta didik tidak terbiasa dalam mengemukakan pendapatnya. AyTujuan desain sistem || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety pembelajaran adalah menciptakan aktivitas dan program pembelajaran yang efektif, efisien dan menarikAy. Model pembelajaran kooperatif jigsaw dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan belajar peserta didik baik dalam segi kognitif maupun kerjasama dalam sebuah Peserta didik dilatih untuk mampu bertanya dan menjawab pertanyaan temannya saat belajar berpasangan dalam kelompoknya. Penelitian terkait penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw ini dilakukan di MTs Swasta Paripurna Besitang. Selama melakukan observasi terhadap siswa kelas Vi pada pelajaran fikih diketahui bahwa siswa belajar dengan mencatat kemudian guru Siswa belum diarahkan untuk belajar dalam kelompok dan membangun kerjasama dalam belajar. Kelemahannya yang terlihat bahwa dalam belajar siswa umumnya tidak mampu mengeluarkan pendapat atau memberikan tanggapan terhadap suatu Sikap mendengar dan menghargai pendapat teman masih belum muncul secara optimal. Dari sisi penyampaian pembelajaran, guru masih mendominasi pembelajaran . eacher cente. Dengan model belajar seperti ini maka siswa akan cepat bosan dan kemampuan berfikirnya tidak berkembang dengan baik. Untuk mengatasi hal tersebut maka penting menggunakan model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam kelompoknya. Salah satunya ialah model pembelajaran kooperatif jigsaw. Siswa akan terlatih mengemukakan pendapat karena belajar dalam kelompok yang harus membahas materi pelajaran dan setiap siswa mendapatkan tanggung jawab masing-masing dalam kelompoknya. Pembelajaran akan lebih hidup karena prosesnya didominasi oleh siswa. Untuk itulah peneliti membahas penelitian ini yang berjudul: AuUpaya Peningkatan hasil belajar fiqih melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada mata pelajaran fiqih siswa kelas Vi MTs Swasta Paripurna BesitangAy. METODE Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research. Maksudnya adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi di sebuah kelas secara bersama. Metode PTK berusaha mengkaji dan merefleksikan suatu metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar. Penelitian diawali dengan melakukan observasi atau penelitian pendahuluan yang kemudian dilanjutkan dengan penerapan siklus. Observasi dilakukan dengan wawancara dengan guru bidang studi dan melihat langsung proses pembelajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Setelah hal ini dilakukan barulah peneliti melakukan tindakan. Penelitian ini merupakan tindakan kelas (Classroom Action Researc. yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus adalah suatu putaran kegiatan yang beruntun yang kembali kelangkah semula dimana pada setiap siklus ini terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksan . , tahap observasi dan tahap refleksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Salah satu model yang mampu membangun kerjasama yang baik diantara siswa adalah model kooperatif. Siswa akan terbentuk menjadi aktif dan memiliki partisipasi yang || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety tinggi saat belajar. AyPembelajaran cooperative adalah solusi ideal terhadap masalah menyediakan kesempatan berinteraksi secara kooperatif dan tidak dangkal kepada para siswa dari latar belakang etnik yang berbedaAy (Slavin, 2. Dalam menentukan model pembelajaran yang digunakan harus mempertimbangkan tujuan dari pembelajaran yang akan dicapai yang berkenaan dengan kompetensi akademik, kepribadian dan sosial siswa. Siswa dilatih untuk mampu menghargai perbedaan yang ada dan menjadikannya kekuatan bersama. AyModel pembelajaran kooperatif secara khusus menggunakan kekuatan dari sekolah yang menghapuskan perbedaan kehadiran para siswa dari latar belakang ras atau etnik yang berbeda untuk meningkatkan hubungan antar kelompokAy (Slavin, 2. Dalam mengajar guru harus memiliki strategi sehingga proses belajar menjadi menyenangkan dan yang paling utama tujuan dari belajar tercapai dengan baik. Melalui strategi belajar tentunya siswa akan belajar dengan efektif dan efesien dan tujuan akan tercapai dengan baik. Kegiatan belajar mengajar akan lebih hidup dengan model kooperatif karena di dalamnya aktif dalam diskusi dan dilatih berfikir kritis. AuModel Pembelajaran Cooperative diyakini dapat memberi peluang peserta didik untuk terlibat dalam diskusi, berfikir kritis, berani dan mau mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiriAy (Rahardjo. Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Peran aktif siswa dalam kelompok menjadi prioritas dalam model kooperatif dan merupakan sisi positif model ini. AuMenurut Slavin, model pembelajaran kooperatif adalah menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompokAy (Rusman, 2. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda . inggi, sedang dan renda. dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan setiap permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain. Menurut Ramayulis . , pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi dalam proses pembelajaran yang membutuhkan partisipasi dan kerjasama dalam kelompok, sehingga meningkatkan cara kerja peserta didik lebih baik dan memupuk perilaku sosialAy. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial yang berguna dalam kehidupannya di masyarakat. || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Menurut Lie . , terkait model kooperatif. Aukerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup, tanpa kerjasama tidak akan ada individu, keluarga dan sekolahAy. Dapat dipahami bahwa model kooperatif merupakan proses belajar yang membutuhkan partisipasi dan kerjasama dalam kelompok yang merupakan satu Prinsip dasar dan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif diantaranya Ausetiap anggota kelompok . bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam Setiap anggota kelompok . harus mengetahui bahwa semua anggotaAy (Rusman, 2. kelompok mempunyai tujuan yang sama. Setiap anggota kelompok . harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. Setiap anggota kelompok . akan dikenai evaluasi. Setiap anggota kelompok . berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses Setiap anggota kelompok . akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Dalam model pembelajaran kooperatif siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu agar siswa merasakan langsung penghargaan tersebut. Satu aspek penting pembelajaran kooperatif ialah bahwa di samping pembelajaran kooperatif membantu memgembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik di antara siswa, pembelajaran kooperatif secara bersamaan membantu siswa dalam pembelajaran akademik mereka. AuCooperatif Learning dapat mengubah norma-norma dalam budaya peserta didik menjadi orang yang berprestasi tinggi dalam tugas belajar akademis, serta menghargai teman dalam berbagai ras, budaya, kelas sosial atau kemampuanAy (Yamin. Saling menghargai ras, budaya dan tingkat sosial di masyarakat sangat penting dibangun dalam diri siswa sebab bangsa kita adalah bangsa yang besar dan multi etnis. Pembelajaran kooperatif menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif untuk siswa yang rendah hasil belajarnya. siswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk hadiah atau struktur pencapaian tujuan saat siswa melaksanakan kegiatan. Pada pembelajaran kooperatif siswa yakin bahwa tujuan mereka tercapai jika dan hanya jika siswa lain juga akan mencapai tujuan tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi rendahnya partisipasi siswa adalah dengan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif menuntut semua anggota kelompok belajar dapat saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran (Slavin, 2. Keterlibatan anggota kelompok sangat berperan dalam model pembelajaran ini. Pandangan mengenai model kooperatif adalah peran aktif siswa saat belajar. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. AuMenurut Psikologi Gestalt, menjelaskan || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety bahwa keseluruhan lebih memberi makna daripada bagian-bagian yang terpisahAy (Sanjaya. Untuk itulah pentingnya kelompok sebagai pemersatu bagian-bagian tersebut. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda ada yang tinggi, sedang dan rendah dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku serta kesetaraan gender. Pembelajaran kooperatif dapat dipandang dari beberapa persepektif. Menurut Slavin. AuAbrani dan Chambers berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif yaitu perspektif motivasi, perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif dan elaborasi kognitifAy (Sanjaya, 2. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. Prinsip dasar dan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif di antaranya setiap anggota kelompok . bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam Setiap anggota kelompok . harus mengetahui bahwa semua anggota (Rusman, 2. kelompok mempunyai tujuan yang sama. Setiap anggota kelompok . harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. Setiap anggota kelompok . akan dikenai evaluasi. Setiap anggota kelompok . berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses Setiap anggota kelompok . akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Pembelajaran kooperatif memiliki banyak model dan tipe yang salah satu di antaranya learning cell yang mampu meningkatkan kemampuan belajar siswa. Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Slavin, model pembelajaran kooperatif adalah menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompokAy (Rusman, 2. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda . inggi, sedang dan renda. dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan social yang dimiliki dengan adanya kelompok. Prinsip dasar dan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif diantaranya Setiap anggota kelompok . bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam Setiap anggota kelompok . harus mengetahui bahwa semua anggota. (Rusman, 2. Kelompok mempunyai tujuan yang sama. Setiap anggota kelompok . harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. Setiap anggota kelompok . akan dikenai evaluasi. Setiap anggota kelompok . berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses Setiap anggota kelompok . akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif yang ada di dalamnya. Dalam model pembelajaran kooperatif siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu. Bila pembelajaran yang dilakukan antara guru dan siswa hendaknya mengacu pada peningkatan aktivitas dan partisipasi siswa. Guru tidak hanya melakukan kegiatan penyampaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada siswa, akan tetapi guru diharapkan mampu membawa siswa untuk aktif dalam berbagai bentuk belajar, berupa belajar penemuan, belajar mandiri, belajar kelompok, belajar memecahkan masalah, dan Hasil belajar siswa selain dipengaruhi oleh metode pembelajaran juga dipengaruhi oleh partisipasi siswa. Jika siswa aktif dan berpartisipasi dalam pembelajaran, maka tidak hanya aspek prestasi saja yang diraihnya namun ada aspek lain yang diperoleh yaitu aspek afektif dan aspek sosial. Guru adalah orang yang bertugas membantu siswa mencapai hal Dalam Islam guru memiliki posisi yang mulia. Allah telah menunjuk orang tersebut untuk menyampaikan pengetahuan atau ilmu kepada orang lain. Hal ini tentu menjadi kemuliaan bagi orang tersebut. Hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah, yang artinya: Riwayat dari Sahl bin Saad, r. a, bahwa nabi SAW bersabda kepada Ali r. a: AuDemi Allah. Seandainya Allah mengaruniakan hidayah kepada seseorang melalui perantaraan dirimu, maka itu lebih baik bagimu daripada harta yang banyak Au. (An Nawawi, 2. Perlu adanya model yang baik dalam mengajar. AuSalah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi rendahnya partisipasi siswa adalah dengan model pembelajaran Model pembelajaran kooperatif menuntut semua anggota kelompok belajar dapat saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaranAy (Slavin. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan dalam belajar. Ilmu inilah yang penting ditanamkan sehingga Islam menganjurkan agar umatnya menuntut ilmu. Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 122, artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya . e medan peran. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (Q. At-Taubah: . Pembelajaran Kooperatif merupakan usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. AuPola pikir model pembelajaran kooperatif menyatakan pada dasarnya manusia memiliki perbedaan, dengan perbedaan itu manusia saling asah, asih, asuh . aling mencerdaska. Ay (Faturrahman, 2. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok dan di antaranya ada model kooperatif jigsaw. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang cukup popular adalah model jigsaw. Cooperatif model jigsaw adalah siswa bekerja dalam tim heterogen yang diberikan tugas membaca beberapa bab atau unit dan diberikan lembar ahli yang terdiri dari topik yang Model ini disebut juga kelompok ahli (Slavin, 2. Model ini menerapkan belajar dengan sistem kelompok belajar yang masing-masing siswa diberikan bahan bacaan dalam bab materi pelajaran, setelah selesai membacanya maka siswa diarahkan untuk membentuk kelompok ahli untuk membahas materi yang sama yang sebelumnya didapatkan. Setelah selesai, maka siswa kembali pada kelompok awalnya yang memiliki bahan bacaan berbeda Selanjutnya masing-masing siswa secara bergantian menjelaskan atau mengajari temannya mengenai topik yang telah dibahas pada kelompok ahli tadinya. Sebelum membentuk kelompok diawal tadinya, guru telah menayakan kepada peserta didik terkait apa yang diketahui dari materi yang akan dibaca untuk memperoleh pengetahuan awal Adapun langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw, yaitu: Persiapan. Guru dapat menjabarkan isi topik secara umum, serta memotivasi siswa dan menjelaskan tujuan mempelajari topik yang akan dibahas. Penjelasan materi. Materi pembelajaran kooperatif model jigsaw dibagi menjadi beberapa bagian pembelajaran tergantung pada banyak anggota dalam setiap kelompok serta banyak konsep materi pembelajaran yang ingin dicapai dan yang akan dipelajari oleh Guru membagi siswa kedalam kelompok Asal dan ahli. Kelompok dalam pembelajaran kooperatif model jigsaw beranggotakan 3-5 yang heterogen baik dari kemampuan akademis, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial. Guru menetukan skor awal masing-masing kelompok. Skor awal merupakan skor ratarata siswa yang diambil dari kuis atau nilai tertentu yang telah diterapkan. Rencana kegiatan Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan sub topik masing-masing dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli. Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan semua sub topik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok. Siswa ahli kembali kekelompok masing-masing untuk menjelaskan topik yang Siswa mengerjakan tes individual atau kelompok yang mencakup semua topik. Pemberian penghargaan kelompok berupa skor individu dan skor kelompok atau menghargai prestasi kelompok. || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Melakukan evaluasi Dalam evaluasi ada tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu . Mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik. Membuat laporan mandiri atau dan . Presentasi. Ay (Sani, 2. Kelebihan dan kelemahan Model Pembelajaran Jigsaw Setiap model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar ada kekurangan dan kelabihan. Adapun kelebihan dari model pembelajaran Jigsaw menurut Ahmad Sabri adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain. Sementara lebih detil diungkapkan oleh Istarani, yaitu: Mengajarkan siswa menjadi percaya pada guru dan lebih percaya lagi pada kemampuan sendiri untuik berfikir, mencari informasi dari sumber lainnya, dan belajar dari siswa lain. Mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengtan ide temannya. Ini secara khusu bermakna ketika dalam proses pemecahn Membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah dan menerima perbedaan ini. Suatu strategi efektif bagi siswa untuk mencapai hasil akademik dan sosial termasuk meningkatkan prestasi, percaya diri, interpersonal positif antara satu siswa dengan yang lain, meningkatkan keterampilan manajemen waktu dan sikap positif terhadap sekolah. Banyak menyediakan kesempatan pada siswa untuk membandingkan jawabannya dan menilai ketepatan jawaban itu. Suatu strategi yang dapat digunakan secara bersama dengan orang lain seperti pemecahan masalah. Mendorong siswa lemah untuk berbuat, dan membantu siswa pinter mengidentifikasikan jelas-jelas dalam pemahamnnya. Interaksi yang terjadi selama belajar kelompok membantu memotivasi siswa dan mendorong pemikirannya. Dapat memberikan kesempatan pada para siswa belajar keterampilan bertanya dan mengomentari suatu masalah. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan diskusi. Memudahkan siswa melakukan interaksi sosial. Menghargai ide orang yang dirasa lebih baik. Meningkatkan kemampuan berfikir kreatif Adapun kelemahan model pembelajaran Jigsaw, adalah: Jika guru tidak mengingatkan agar setiap siswa selalu menggunakan ketrampilanketerampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing, dikhawatirkan kelompok akan macet dalam pelaksanaan diskusi. Jika anggota kelompoknya kurang akan menimbulkan masalah. Membutuhkan waktu yang lebih lama, apalagi bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk mengubah posisi yang dapat menimbulkan kegaduhan (Haris: 2. || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety HASIL PENELITIAN Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada hari kamis tanggal 4,11,18 dan 25 November sampai tanggal 9 Desember 2021 pada jam ke 3 dan ke 4 di kelas Vi MTs Swasta Paripurna Besitang sebanyak enam pertemuan dan dua siklus. Siklus I pada tanggal terdiri dari tiga pertemuan 4,11 dan 18 November 2021 dan siklus II pada tanggal 25 november selanjutnya 2 dan 9 Desember 2021. Pembahasan Hasil Penelitian Siklus I Adapun hasil penelitian skluas I yang telah dilakukan kepada 30 siswa dengan soal sebanyak 20, maka terlihat nilai rata-rata siswa sebesar 85 dengan ketuntasan hanya dirai 17 orang. Hal ini dapat dilihat pada penjelasan di bawah ini. ycuycnycoycaycn ycycaycyca Oe ycycaycyca = ycA = 85 Berdasarkan hasil analisis data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dari 30 orang siswa rata-rata hasil belajar siswa tergolong katagori baik dengan nilai rata-rata 85. Untuk mengetahu tingkat persentase perubahan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1. Deskripsi Nilai Hasil Belajar pada Siklus I Nilai Jumlah Siswa Persentase Jumlah Siswa Keterampilan Tuntas Tuntas Belum tuntas Jumlah Persentase ketuntasan dengan nilai KKM Ou 80 yang dicapai sebelum penerapan pembelajaran means ends analisis dapat dperoleh dengan rumus sebagai berikut: ycU P = x 100% ycA x 100% = 77 % Pada siklus I, rata-rata persentase ketuntasan pembelajaran siswa mengalami ketuntasan sebesar 27 % dari nilai awal sebelum adanya tindakan. Nilai rata-rata siswa sebelum tindakan yaitu 73 . Meningkat menjadi 85 . , sehingga dapat disimpulkan sementara bahwa siklus I belum mencapai ketuntasan dengan nilai KKM Ou 80 dan 85 % persentase ketuntasan, namun diperoleh: Adanya peningatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan hasil belajar sebelum digunakan model pembelajaran cooperative jigsaw yang ditandai dengan hasil ketuntasan belajar pada siklus I sebanyak 23 siswa yang telah tuntas belajar dengan mencapai nilai KKM Ou 80 dan yang tidak tuntas sebesar 7 ( 24 %). Persentase ketuntasan mengalami peningkatan dari 27% dengan nilai rata-rata 73 maka sesudah penerapan model pembelajaran cooperative jigsaw meningkat menjadi 77 % . yang mengalami ketuntasan dan masih banyak yang belum mencapai persentase ketuntasan 85%. Aktivitas siswa ketika proses pembelajaran pada siklus I belum sepenuhnya aktif menerima pembelajaran dengan metode pembelajaran cooperative jigsaw. Siswa belum atusias dalam membahas soal dan tugas praktek yang diberikan guru. Penggunan || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety metode pembelajaran cooperative jigsaw belum berhasil meningkatkan hasil belajar siswa dan keaktifan siswa, sehingga harus dilanjutkan dengan sikluas II. Agar diharapkan dapat meningkat sesuai nilai KKM Ou 80 dalam persentase ketuntasan 85 % yang ditetapkan. Pengontrolan siswa, dalam hal ini guru harus lebih mengontrol siswa ketika siswa dalam proses belajar, semua kelompok yang ada harus diperhatikan oleh guru sehingga semua kelompok dapat menyelesaikan tugasnya sesuai pemberian waktu dan kesempatan tidak disia-siakan untuk diskusi dengan teman kelompok atau dengan kelompok lain. Dalam hal ini guru . dibantu oleh guru bidang studi dalam mengobservasi siswa ketika pembelajaran berlangsung. Dengan pengontrolan guru yang efektif terhadap semua kelompok diharapkan kiranya siswa menjadi aktif untuk mengikuti pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Adapun tujuannya agar tercapai peningkatan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan bersama. Pembahasan Hasil Siklus II Adapun hasil dari pelaksanaan tindakan pada siklus II yang telah dilakukan kepada 30 orang siswa dengan soal sebanyak 20, maka terlihat bahwa nilai rata-rata siswa sebesar 94 dengan ketuntasan hanya diraih 30 siswa. Hal ini dapat dilihat berikut ini: ycuycnycoycaycn ycycaycyca Oe ycycaycyca = ycA = 94 Tabel 2. Deskripsi Nilai Hasil Belajar pada siklus II Jumlah Persentase Nilai Keterampilan Siswa Jumlah Siswa Tuntas Belum Tuntas Jumlah Persentase ketuntasan dengan nilai KKM Ou 80 yang dicapai dengan penerapan pembelajaran means ends analisis pada siklus II dengan rumus sebagai berikut: ycU P = ycA x 100% x 100% = 100 % Pada siklus II, rata-rata persentase ketuntasan pembelajaran siswa mengalami peningkatan sebesar 22 % dari nilai siklus I yaitu 85 . atau 77% meningkat menjadi 100% . dengan nilai rata-rata 94 sehingga dapat disimpulkan bahwa siklus II sudah mecapai ketuntasan dengan nilai KKM Ou 80 dan 85 % persentase Selisih peningkatan persentase ketuntasan pada saat pree test menuju siklus I terlihat meningkat 27 % dan dari siklus I menuju siklus II meningkat 22%. Adapun hasilnya sebagai berikut: Sebelum praktik, guru . memberikan penjelasan singkat tentang materi mengenai zakat dan siswa sangat bersemangat dalam mendengarkan penjelasan. Hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan seputar materi mengenai zakat. || Halimatus Sakdiyah, et. || Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 2022, hal 591-603 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Siswa sangat aktif karena mereka sudah menyenangi pembelajaran yang diberikan dengan metode pembelajaran cooperative jigsaw. Hal ini terlihat dari antusiasnya mereka membentuk kelompok dan mengerjakan soal-soal yang diberikan. Saat praktek kelompok dilakukan, mereka antusias bertanya dan menjawab Hal ini dilihat dari banyaknya siswa yang tunjuk tangan untuk bertanya dan menjawab. Sebelum dilakukan evaluasi di akhir pembelajaran, guru . memberukan penguatan sekitar materi, harapannya siswa lebih memahami tentang materi mengenai Pada siklus II. Peneliti lebih mudah memberikan pembelajaran kepada siswa di samping adanya pemantapan, mereka juga tertarik dengan media gambar yang ditayangkan melalui media audio visual yang ditayangkan melalui alat infokus. Berdasarkan teori pembelajaran yang telah dikemukan sebelumnya, terbuktilah bahwa metode pembelajaran cooperative jigsaw mampu menjadikan siswa aktif dan siswa mampu mengubungkan materi yang diberikan dengan kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini juga mendukung siswa dalam proses pembelajaran di kelas sehingga hasil belajar yang diraih siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan dua siklus ini telah diketahui bahwa nilai siswa dalam belajar fikih mengalami peningkatan yang cukup baik dan telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal serta secara klasikal telah mengalami peningkatan di atas 85% dan telah memenuhi standart ketuntasan kelas. SIMPULAN Dari penjelasan dan proses penelitian yang peneliti lakukan, maka dapat peneliti simpulkan bahwa, pertama, hhasil belajar siswa kelas Vi MTs Swasta Paripurna Besitang pada mata pelajaran fikih materi zakat sebelum menerapkan model pembelajaran cooperative jigsaw belum tuntas. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil pretest siswa. Proses pelaksanaan pembelajaran fikih di kelas Vi MTs swasta Paripurna Besitang dengan penerapan metode pembelajaran cooperative jigsaw sesuai dengan rencana yang telah dibuat, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan tidak lagi memberikan pretest kepada siswa, sebelum memulai pembelajaran guru memotivasi siswa agar lebih aktif daripada pertemuan sebelumnya. Langkah selanjutnya masih dalam panduan guru berupa tindakan persentase kelas dan kerja kelompok. Ketiga, hasil belajar siswa kelas Vi MTs Swasta Paripurna Besitang pada mata pelajaran fikih materi zakat, setelah penerapan metode pembelajaran cooperative jigsaw pada siklus I nilai rata-rata meningkat menjadi 85 dengan persentase ketuntasan sebesar 77 % dan persentase ketuntasan belajar belum mencapai 85 %. Dan siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 94 . dengan persentase ketuntasan 100% dengan selisi peningkatan dari siklus I menuju siklus II sebesar 41%. Dengan demikian siklus II mengalami peningkatan signifikan, sehingga peneliti berkesimpulan bahwa tidak perlu dilanjutkan lagi pada siklus Dengan demikian maka terbuktilah hipotesa peneliti yang telah diajukan terbukti kebenarannya, pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA