Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 PENGARUH PENGGUNAAN LARUTAN DAUN BANDOTAN (Ageratum conyzoide. TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH IKAN KOI (Cyprinus carpi. PASCA TRANSPORTASI INFLUENCE USE OF BANDOTAN (Ageratum conyzoide. TO RATE KOI FISH (Cyprinus carpi. BLOOD GLUCOSE AFTER TRANSPORTATION Laksmi Sulmartiwi. Sri Harweni. Akhmad Taufiq Mukti dan Rr. Juni Triastuti Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo - Surabaya, 60115 Telp. Abstract Transportation makes stress for fish because of high density and decreasing of water quality. Stress can increase blood glucose. Bandotan have Ca blocking effect. The Ca blocking effect occur in reticulum endoplasmic in smooth muscle. This research aimed to identify bandotan leaf effect in transport medium on blood glucose of koi fish post transportation and to identify best dosage of bandotan leaf on koi fish tranport medium to decrease the blood glucose of koi fish post transportation. Research method used was experimental. Treatment used was providign different bandotan leaf dossage: A . g/L). B . g/L). C . ,9 g/L). D . 35 g/L) and E . 8 g/L) and each treatment was repeaetd four times. Main parameter observed in this research was koi fish blood glucose every eight hours for twenty four hours and supporting parameter consisted of: water quality and fish mortality rate. Then the data obtained were prepared using ANOVA, continued by Dunnett Test and then by DuncanAos Multiple Distance. Research result shwoed that bandotan leaf supply in transport medium had no effect on koi fish blood glucose post transportation and highest dosage of bandotan leaf in transport medium on blood glucose of koi fish post transportation was 0. 45 g/L. Keywords : koi fish, blood glucose, stress Pendahuluan Transportasi tekanan pada sistem kekebalan, menghasilkan berbagai macam penyebab meningkatnya penyakit dan kematian pada ikan ikan (Zonneveld et al. , 1. Kematian akibat transportasi dan penanganan pasca transportasi mencapai 30-40%. Kematian terjadi beberapa hari setelah transportasi (Yosmaniar dan Azwar. Selama transportasi, ikan mengalami stres akibat kepadatan tinggi dan penurunan kualitas air (Barton et al. , 1980 dan Erikson et , 1997 dalam Dobsikova et al. , 2. Stres dapat meningkatkan glukosa darah. Pengukuran kadar glukosa darah dapat digunakan sebagai parameter stres yang sederhana, efektif dan memadai untuk berbagai macam stressor (Darwisito, 2. Tanaman bandotan memiliki efek Ca blocking (Achola dan Munenge, 1998. Okunade, 2002. Kamboj dan Saluja, 2. ) yang diharapkan dapat mengurangi terjadinya proses glikogenolisis dan glukoneogenolisis. Efek Ca blocking terjadi di retikulum endoplasma (Indah, 2. pada otot polos (Okunade, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daun bandotan (A. dalam media transportasi terhadap kadar glukosa darah ikan koi (C. pasca transportasi dan mengetahui dosis terbaik pemberian daun bandotan (A. pada media tranportasi ikan koi (C. untuk menurunkan kadar glukosa darah ikan koi (C. pasca transportasi Metodologi Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1-7 Maret 2011. Penelitian dilaksanakan di dua tempat, yaitu di Dusun Tirto. Desa Paremono. Kecamatan Mungkid. Kabupaten Magelang. Jawa Tengah untuk pengambilan ikan dan perlakuan transportasi serta Laboratorium Budidaya Perikanan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya untuk pengambilan data glukosa darah ikan. Metode penelitian yang digunakan Perlakuan yang digunakan adalah dosis daun bandotan yang berbeda, yaitu A . g/L). B . ,45 g/L). C . ,9 g/L). D . ,35 g/L) dan E . ,8 g/L) masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar glukosa darah ikan koi yang diukur setiap delapan jam selama dua puluh empat jam setelah transportasi. Parameter pendukung terdiri dari kualitas air dan tingkat mortalitas Pengaruh Penggunaan Larutan. Tabel 1. Nilai rata-rata kadar glukosa darah ikan koi (C. sebelum transportasi dan pasca Kadar glukosa darah ikan koi jam keXASE Perlakuan Pra Pasca: 91,75A10,773 214,25A92,288a 127,20A23,778a 132,25A 9,464a 102,75A23,092a 118,00A20,166a 91,75A10,773 115,00A 46,783a 137,75A 46,700a 99,00A 26,991a 143,75A 16,023a 121,00A 36,485a 91,75A10,773a 96,50A18,37ab 93,25A18,33ab 126,50A10,603a 77,00A10,551b 74,50A 3,926b 71,00 A 8,406a 76,50 A 9,579a 104,50 A15,867a 103,00 A14,944a 88,25 A16,67a 91,75A10,77 Keterangan : superskrip yang berbeda menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda nyata perlakuan . <0,. terhadap kadar glukosa darah Pengukuran kualitas air meliputi suhu, pH dan oksigen terlarut. Data yang diperoleh, diolah dengan menggunakan Analysis of Variant (ANOVA), kemudian dilanjutkan dengan Uji Dunnett guna mengetahui interaksi antara masing-masing perlakuan dengan kontrol berdasarkan waktu pengambilan data, kemudian dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui perlakuan terbaik pada masing-masing perlakuan. Hasil dan Pembahasan Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan sebelum transportasi dan pasca Pemberian daun bandotan (A. memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,. terhadap kadar glukosa darah ikan koi pada jam ke-0 sampai dengan jam ke-24 pasca transportasi. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan diketahui bahwa pada jam ke16, perlakuan C . ,9 g/L) berbeda nyata dengan perlakuan D . ,35 g/L) dan E . ,8 g/L), akan tetapi perlakuan C . ,9 g/L) tidak berbeda nyata dengan perlakuan A . g/L) dan B . ,45 g/L). Nilai rata-rata kadar glukosa darah ikan koi sebelum transportasi dan pasca transportasi dapat dilihat pada Tabel 1. Peningkatan kadar glukosa darah terjadi mulai dari waktu pengamatan pertama. Peningkatan kadar glukosa darah tertinggi terjadi pada perlakuan A . g/L) sedangkan peningkatan kadar glukosa darah terendah terjadi pada perlakuan D . ,35 g/L). Penghitungan mortalitas ikan koi selama penelitian dilakukan tiap 8 jam selama 48 jam pasca transportasi. Presentase mortalitas ikan koi (C. pasca transportasi dapat dilihat pada Tabel 2. Mortalitas ikan koi tertinggi terjadi pada perlakuan C . ,9 g/L) sebanyak 77,5% sedangkan mortalitas ikan koi terendah terjadi pada perlakuan A . sebanyak 52,5%. Kematian ikan koi pasca transportasi dimulai sejak 0 jam pasca transportasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian daun bandotan selama transportasi ikan koi memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tingkat mortalitas ikan koi pasca transportasi pada perlakuan C . ,9 g/L). Tabel 2. Presentase mortalitas ikan koi (C. pasca transportasi Perlakuan Mortalitas (%) A . g/L) B . ,45 g/L) C . ,9 g/L) D . ,35 g/L) E . ,8 g/L) Parameter kualitas air yang digunakan dalam penelitian ini adalah suhu, oksigen terlarut dan pH. Data kualitas air diambil sebelum transportasi dan pasca transportasi. Suhu air berkisar antara 23-25AC, oksigen terlarut berkisar antara 3-7 ppm dan pH 7. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh penggunaan larutan daun bandotan terhadap kadar glukosa darah ikan koi pasca transportasi dapat diketahui bahwa kadar glukosa darah ikan koi sebelum ditransportasikan adalah 91,75 mg/dL. Nilai glukosa ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai kadar glukosa darah menurut Field et al. dalam Stoskopf . yaitu, kadar glukosa darah common carp adalah 111 mg/dl. Rendahnya nilai glukosa darah ikan koi sebelum ditransportasikan antara lain disebabkan oleh dilakukan pemberokan ikan koi yang akan ditransportasikan. Hal ini bertujuan untuk mengosongkan makanan yang ada di dalam lambung dan usus ikan sehingga selama pengangkutan aktivitas metabolisme ikan akan tetap rendah dan efek keracunan yang Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 disebabkan karena penimbunan kotoran hasil metabolisme makanan menjadi berkurang (Sufianto, 2. Waktu pengamatan pertama . am ke-0 pasca transportas. terjadi peningkatan kadar glukosa darah pada semua perlakuan. Peningkatan glukosa darah tertinggi terjadi pada perlakuan A . g/L), yaitu dari 91,75 mg/dL menjadi 214,25 mg/dL dan peningkatan glukosa terendah pada perlakuan D . ,35 g/L). Peningkatan . ikan koi pasca transportasi dimungkinkan terjadi akibat stres pada ikan selama proses transportasi (Svobodova et al. Kadar glukosa darah ikan koi pada perlakuan A . g/L) mengalami peningkatan yang tinggi dibandingkan dengan glukosa darah ikan koi pada perlakuan B . ,45 g/L). C . ,9 g/L). D . ,35 g/L) dan E . ,8 g/L). Hal ini dikarenakan daun bandotan memiliki senyawasenyawa kimia antara lain atsiri, flavanoid, kumarin, kromen dan alkaloid (Okunade, 2002. Kamboj dan Ajay, 2. Senyawa-senyawa kimia yang ada dalam daun bandotan memiliki efek Ca blocking (Okunade 2002. Kamboj dan Ajay, 2. yang dapat menghambat terjadinya proses glikogenolisis di hati (Maunah, 2. sehingga peningkatan kadar glukosa darah ikan koi tidak terlalu tinggi. Hastuti dkk. , . menyatakan mekanisme terjadinya perubahan performa glukosa darah selama stres adalah adanya stressor akan diterima oleh organ disampaikan ke otak bagian hipotalamus melalui sistem saraf. Selanjutnya, sel kromaffin menerima perintah melalui serabut saraf Hormon ini akan mengaktivasi enzim-enzim yang terlibat dalam katabolisme simpanan glikogen hati dan otot serta menekan sekresi hormon insulin, sehingga glukosa darah mengalami peningkatan. Saat yang bersamaan, hipotalamus otak mensekresi CRF . orticoid releasing facto. yang meregulasi kelenjar pituitari untuk ACTH (Adenocorticotropik hormon. MSH (Melanophore-Stimulating hormon. dan -End (-endorphi. Hormon tersebut akan meregulasi sekresi hormon kortisol dari sel interrenal. Kortisol akan menggertak enzim-enzim yang terlibat dalam peningkatan glukosa darah yang bersumber dari non karbohidrat (Hastuti. , 2. Mortalitas ikan koi pasca transportasi tertinggi terjadi pada perlakuan C . ,9 g/L). Salah satu penyebab kematian pada ikan adalah akibat stres pasca transportasi. Transportasi selalu mengakibatkan kematian ikan yang seketika pada perlakuan tersebut atau sesudahnya sebagai akibat tidak berfungsi normalnya osmoregulasi atau terinfeksi penyakit (Yosmaniar dan Azwar, 2. Selain itu, kematian ikan koi yang diberi perlakuan dimungkinkan akibat adanya senyawa saponin yang terkandung dalam daun bandotan. Penggunaan menyebabkan iritasi pada selaput lendir, dapat menghemolisis butir darah merah, bersifat racun bagi hewan berdarah dingin dan banyak digunakan sebagai racun ikan. Oksigen (O. sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi Oleh karena itu, kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan oleh kemampuan memperoleh O2 yang cukup dari lingkungannya (Sufianto, 2. Kandungan oksigen terlarut ikan koi selama penelitian berkisar antara 3-7 Piper et al . dalam Sufianto . menyatakan, kandungan oksigen terlarut media pengangkutan harus lebih besar dari 7 mg/L. Rendahnya kandungan oksigen terlarut media pengangkutan antara lain disebabkan oleh tingginya kepadatan ikan yang ditransportasikan . ekor/L). Nilai pH ikan koi selama penelitian Hal ini sesuai dengan pH optimal untuk pengangkutan, yaitu berkisar antara 6-7 dan sesuai dengan nilai pH air optimal bagi kehidupan ikan, yaitu berkisar antara 6 - 7 (Sufianto, 2. Kesimpulan Dosis tertinggi pemberian daun bandotan (A. yang dapat digunakan dalam media transportasi adalah 0,45 g/L. Daftar Pustaka