Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Budaya Mamanda. Konsep. Filosofi. Identitas Dan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Ghina Sofia Mahfuzaha Zulfa Jamalieb Fasih Wibowoc UIN Antasari Banjarmasin, ghinasofiamahfuzah@gmail. UIN Antasari Banjarmasin, zuljamalie@gmail. UIN Antasari Banjarmasin, fasih. wibowo@gmail. Submitted: 11-01-2026. Reviewed: 13-01-2026. Accepted: 17-01-2026 Abstract Mamanda is a form of traditional folk theater from the Banjar community that serves not only as entertainment but also as a means of conveying moral, social, and religious values. This article aims to explore the concept, philosophy, cultural identity, and Islamic educational values embedded in Mamanda art. The research uses a qualitative-descriptive approach through literature studies of books, journal articles, and written sources related to the Mamanda culture. The findings indicate that Mamanda emerged from the social construction of the Banjar community, which had a strong curiosity about royal life, thus being presented with a royal palace setting and symbolic royal characters. Mamanda features a performing arts concept developed from the influence of Malay and local Banjar cultures, with a distinctive performance structure. The philosophy of Mamanda reflects the worldview of the religious, democratic, educational, and aesthetic Banjar people, while upholding the importance of togetherness. The cultural identity of Mamanda is evident through the use of Banjar and Malay Banjar languages, traditional costumes, music, and accompanying dances. Additionally. Mamanda contains Islamic educational values and character education such as religiosity, honesty, responsibility, discipline, social concern, and the spirit of togetherness. Thus. Mamanda holds great potential as an Islamic education medium based on local culture, while also serving as a means to preserve the local wisdom of the Banjar community. Keywords: Mamanda. Banjar culture. Islamic education, character values, local wisdom. Abstrak Mamanda merupakan salah satu bentuk teater rakyat tradisional masyarakat Banjar yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian nilai moral, sosial, dan keagamaan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep, filosofi, identitas budaya, serta nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam kesenian Mamanda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur terhadap buku, artikel jurnal, dan sumber tertulis yang relevan dengan budaya Mamanda. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mamanda lahir dari konstruksi sosial masyarakat Banjar yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap kehidupan kerajaan, sehingga disajikan dengan latar istana dan tokoh-tokoh simbolik kerajaan. Mamanda memiliki konsep seni pertunjukan yang berkembang dari pengaruh budaya Melayu dan lokal Banjar dengan struktur pementasan yang khas. Filosofi Mamanda mencerminkan pandangan hidup masyarakat Banjar yang religius, demokratis, edukatif, estetis, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Identitas budaya Mamanda tampak melalui penggunaan bahasa Banjar dan Melayu Banjar, busana adat, musik tradisional, serta tarian Selain itu. Mamanda mengandung nilai-nilai pendidikan Islam dan pendidikan karakter seperti religiusitas, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, dan semangat kebersamaan. Dengan demikian. Mamanda memiliki potensi besar sebagai media pendidikan Islam berbasis budaya lokal sekaligus sarana pelestarian kearifan lokal masyarakat Banjar. Keywords: Mamanda, budaya Banjar, pendidikan Islam, nilai karakter, kearifan lokal. This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license PENDAHULUAN Budaya merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan masyarakat yang berfungsi sebagai identitas, sarana ekspresi, serta media pewarisan nilai-nilai sosial dan moral dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam konteks pendidikan Islam, budaya lokal memiliki peran strategis sebagai media internalisasi nilai-nilai keimanan, akhlak, dan karakter secara kontekstual. Pendidikan Islam tidak hanya berlangsung melalui jalur formal, tetapi juga melalui praktik budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat (Patimah et al. Oleh karena itu, kajian terhadap budaya lokal yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam menjadi penting untuk memperkuat integrasi antara ajaran Islam dan realitas sosial-budaya masyarakat. Salah satu bentuk budaya lokal yang masih hidup di tengah masyarakat Kalimantan Selatan adalah seni pertunjukan mamanda. Mamanda merupakan teater rakyat tradisional masyarakat Banjar yang disajikan melalui Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. dialog, musik, tarian, serta alur cerita yang ringan dan komunikatif. Pertunjukan mamanda tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan moral, sosial, dan religius (Sulistyowati, 2. Dengan latar kehidupan kerajaan dan tokoh-tokoh istana seperti Sultan. Wazir. Mangkubumi, dan Panglima Perang, mamanda menampilkan gambaran simbolik tentang kepemimpinan, keadilan, dan kehidupan sosial masyarakat Banjar. Secara sosiologis, penggunaan latar kerajaan dalam pertunjukan mamanda berkaitan dengan konstruksi sosial masyarakat Banjar pada masa lalu yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap kehidupan istana, yang tidak dapat diakses secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. Kondisi tersebut melahirkan kebutuhan akan media representasi yang mampu menghadirkan gambaran kehidupan kerajaan ke ruang publik. Mamanda kemudian hadir sebagai seni pertunjukan rakyat yang mengemas imajinasi kolektif masyarakat Banjar tentang kehidupan kerajaan, sekaligus menjadi ruang ekspresi sosial untuk menyampaikan kritik, nasihat, dan aspirasi rakyat secara santun dan menghibur. Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji mamanda dari berbagai perspektif. Wulandari dan Sarbaini mengungkapkan bahwa pertunjukan mamanda mengandung nilai-nilai pendidikan karakter seperti religius, jujur, disiplin, demokratis, peduli sosial, dan tanggung jawab yang tercermin dalam dialog dan interaksi antartokoh (Indah Wulandari, 2. Sulistyowati menyoroti eksistensi mamanda dalam masyarakat Kalimantan Selatan serta perannya sebagai media hiburan dan pendidikan sosial. Penelitian lain juga membahas aspek bahasa, struktur pertunjukan, serta fungsi sosial mamanda dalam kehidupan masyarakat Banjar (Sulistyowati. Kajian-kajian tersebut menunjukkan bahwa mamanda memiliki nilai edukatif yang kuat dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian sebelumnya masih bersifat parsial, yakni lebih menekankan pada aspek tertentu seperti nilai karakter, bahasa, atau eksistensi kesenian mamanda. Kajian yang membahas mamanda secara komprehensif dengan mengaitkan konsep budaya, filosofi, identitas budaya, serta nilai-nilai pendidikan Islam dalam satu kesatuan analisis masih relatif terbatas. Padahal, pendekatan yang integratif diperlukan untuk memahami mamanda tidak hanya sebagai seni pertunjukan tradisional, tetapi juga sebagai media pendidikan Islam berbasis budaya lokal yang sarat makna. Di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya populer modern, keberadaan kesenian tradisional seperti mamanda menghadapi tantangan serius. Generasi muda cenderung lebih akrab dengan hiburan modern, sementara kesenian tradisional sering dipandang sebagai warisan masa lalu yang kurang relevan (Faurizkha & Cahyono, 2. Kondisi ini berpotensi menyebabkan lunturnya nilai-nilai budaya dan pendidikan yang terkandung dalam mamanda. Oleh karena itu, diperlukan upaya akademik untuk mengkaji dan mengangkat kembali mamanda sebagai warisan budaya yang memiliki relevansi dengan pendidikan Islam dan pembentukan karakter masyarakat. (Harpriyanti & Indah Wulandari, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep budaya mamanda, filosofi yang melandasinya, identitas budaya yang membentuknya, serta nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam pertunjukan mamanda. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam pengembangan wacana pendidikan Islam berbasis budaya lokal, sekaligus menjadi upaya pelestarian dan revitalisasi kesenian tradisional mamanda di tengah masyarakat Banjar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik utama berupa studi pustaka. Fokus penelitian adalah untuk menggambarkan dan menganalisis konsep, filosofi, identitas budaya, dan nilainilai pendidikan Islam yang terkandung dalam seni pertunjukan mamanda. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen seperti buku, artikel jurnal, dan sumber tertulis terkait budaya mamanda. Sumber data utama berupa literatur akademik yang relevan dengan topik penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis konten untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam dalam mamanda. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Budaya Mamanda Istilah mamanda bukan berasal dari kata AumamaAy atau AuibundaAy seperti yang sering dibayangkan orang. Dalam budaya Banjar, kata mamanda berasal dari kata mama yang berarti AupamanAy atau AupaklikAy, yaitu sapaan untuk kerabat laki-laki yang lebih tua. Sapaan ini juga digunakan oleh Sultan Banjar saat berbicara dengan para pejabat istana, seperti Menteri. Wazir, atau Mangkubumi, dengan sebutan AuPamanda MenteriAy. AuPamanda Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. WazirAy, dan AuPamanda MangkubumiAy. Karena sapaan ini sering digunakan dalam lingkungan kerajaan, nama mamanda kemudian dijadikan sebutan untuk sebuah pertunjukan drama yang tokohnya menggambarkan para pejabat istana. Seni pertunjukan mamanda merupakan teater rakyat khas Banjar yang sangat terkenal di Kalimantan Selatan. Kesenian ini diperkirakan muncul sekitar tahun 1897, saat datang rombongan bangsawan dari Malaka yang dikenal dengan sebutan Abdoel Moeloek atau Komedi Indra Bangsawan. Rombongan ini dipimpin oleh Encik Ibrahim bin Wangsa bersama istrinya. Ok Hawa. Mereka mengadakan pertunjukan yang diambil dari cerita-cerita klasik Melayu, seperti Syair Abdoel Moeloek. Hikayat Si Miskin (Marakarm. Hikayat Cindera Hasan (Abu Hasa. , serta kisah dari Hikayat Seribu Satu Malam. Masyarakat Banjar kemudian menyebut pertunjukan itu dengan nama Ba Abdoel Moeloek atau Badamuluk. Seiring perkembangan zaman, kesenian mamanda mengalami perubahan dan penyesuaian dengan kehidupan masyarakat Banjar. Cerita yang diangkat tidak lagi terbatas pada hikayat klasik, tetapi juga mengambil tema dari legenda, kisah rakyat, dan kehidupan sosial masyarakat masa kini. Nama Badamuluk pun perlahan berubah menjadi bamanda, hingga akhirnya dikenal luas sebagai mamanda. Seperti teater rakyat lainnya, mamanda tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung pesan moral, sosial, dan Pertunjukan ini biasanya diselenggarakan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan, khitanan, atau peringatan hari besar nasional. Pertunjukan mamanda memiliki kemiripan dengan kesenian tradisional lain seperti ketoprak di Jawa atau lenong di Betawi. Ciri khasnya adalah adanya interaksi langsung antara pemain dan penonton. Penonton dapat memberikan tanggapan atau komentar selama cerita berlangsung, sehingga suasana menjadi lebih hidup, hangat, dan penuh keakraban. Dengan demikian, mamanda bukan hanya tontonan rakyat, tetapi juga menjadi sarana masyarakat Banjar untuk mengekspresikan diri, menjalin kebersamaan, dan melestarikan nilai-nilai budayanya. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa mamanda bukan hanya pertunjukan untuk hiburan semata, tetapi juga mencerminkan kehidupan masyarakat Banjar. Kesenian ini menunjukkan bagaimana masyarakat Banjar mampu menerima pengaruh dari luar tanpa meninggalkan budaya dan jati dirinya sendiri. Dalam perkembangannya, mamanda mengalami banyak perubahan hingga akhirnya muncul dua aliran utama, yaitu Mamanda Batang Banyu dan Mamanda Tubau. Mamanda Batang Banyu berasal dari daerah hulu sungai, khususnya Margasari. Pertunjukannya sering dilakukan di atas air atau di tepi sungai. Aliran ini disebut juga Mamanda Periuk dan merupakan cikal bakal mamanda. Mamanda ini menonjolkan unsur tarian, nyanyian pada tahun 1930, dan mengembangkan lagu-lagu dengan syair Arab dan kasidah. Sementara itu. Mamanda Tubau muncul sekitar tahun 1937 di Desa Tubau. Rantau. Berbeda dengan Batang Banyu. Mamanda Tubau berkembang di daratan dan memiliki struktur pertunjukan yang lebih baku, yaitu diawali ladon . , dilanjutkan sidang kerajaan, dan cerita. Ceritanya biasanya dibuat sendiri berdasarkan kehidupan masyarakat, bukan dari hikayat lama. Struktur pemain dalam pertunjukan mamanda terdiri atas tokoh utama dan tokoh pendukung. Tokoh utama selalu hadir dalam setiap pementasan, sedangkan tokoh pendukung hanya muncul sesuai kebutuhan cerita. Setiap pemain mamanda dikenal mahir berimprovisasi dan mampu menghidupkan suasana pertunjukan. Tokohtokoh utama biasanya meliputi Sultan, yang berperan sebagai pemimpin dengan karakter gagah dan berwibawa. Mangkubumi, sebagai pengganti Sultan saat berhalangan. Wazir, sebagai penasihat sultan. Perdana Menteri, sebagai pemeriksa pekerjaan harapan I dan II. serta Panglima Perang, pemimpin pasukan kerajaan. Selain itu, terdapat tokoh Harapan I dan II yang bertugas menata balai sidang. Khadam atau Badut yang menghadirkan unsur lawakan dan hiburan, serta Sandut atau Putri, anak Sultan yang sering menjadi pusat perhatian dalam Sementara itu, tokoh pendukung dapat berupa anak muda, dayang-dayang, komplotan begal, orang miskin, orang tua, raja jin, atau anak raja kurang satu ampat puluh, orang miskin dan lainnya yang berperan sesuai kebutuhan lakon. Dalam setiap pertunjukan mamanda, pementasan selalu dimulai dengan adegan baladon atau ladun, yaitu tarian dan nyanyian pembuka yang dibawakan oleh tiga, lima atau tujuh pemain. Pemain paling depan disebut Kepala Ladun dan yang paling belakang Buntut Ladun. Setelah itu muncul Tukang Kisah . tau Konon pada aliran Tuba. yang bertugas menyanyikan syair cerita. Setelah bagian pembuka, pertunjukan dilanjutkan dengan sidang kerajaan, yang menjadi adegan utama dalam setiap lakon mamanda. Urutannya dimulai dari kemunculan Harapan I dan II yang memperkenalkan diri dan menyiapkan balai sidang, kemudian disusul oleh Perdana Menteri yang menebutkan nama dan jabatan, memeriksa persiapan, dan melapor kepada Sultan. Selanjutnya. Sultan bersama para staf kerajaan seperti Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Mangkubumi. Wazir. Perdana Mentri memasuki arena. Dalam adegan ini. Sultan memukul tongkat, memuji pekerjaan, serta menyebutkan nama, jabatan, dan kekuasaannya. Biasanya juga menyanyikan lagu-lagu khas mamanda dan menari diiringi stafnya. Beberapa lagu yang biasa dinyanyikan dalam pertunjukan mamanda antara lain sebagai berikut: Lagu Dua Mamanda Banyu Batari yadan wayuhai lanya pangbastari yadan sayang saying Angkaumu dangar, kasian banarai barpai sayang lanya pang barpari yadan sayang sayang Salama saya dinagni pang dinagni Salama lanya pang la sayang, yadan sayang sayang Ramai bagaimana, waduhai Ayahnda Wazir nang kusayangi nagri. Ramai bagaimana. Ayahnda. Mamanda Mangkubumi nang kusayangi nagri. Lagu Dua Mamanda Tubau Aduhai wazir Usullah Darmawan Cukup atawa bukan Waduhai uang pemberian Yalan yalan yalan Dengan sabanar jua wayuhai nang Lamak sadang mangatakan Betalah mangatakan, katakan, betalah mangatakan Yalan yalan yalan. (Eloksahar, 2. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan iringan alat musik tradisional seperti panting, babun, dan rebana, yang menambah semarak suasana sidang kerajaan. Suasana ruang sidang pun menjadi ramai dan penuh Terakhir. Sultan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta dalam pesta kebahagiaan tersebut. Setelah itu. Panglima Perang dan tokoh lain seperti putra-putri Sultan yang turut tampil untuk melengkapi suasana istana. Pada bagian berikutnya, tampil para tokoh pendukung sesuai alur cerita, seperti rakyat, dayang-dayang, maupun musuh kerajaan. Pertunjukan biasanya diakhiri dengan adegan babujukan atau lamaran, yang menggambarkan akhir bahagia berupa pernikahan antara tokoh utama dan pujaan hatinya. Dalam adegan ini, rayuan disampaikan melalui nyanyian atau tarian yang disertai kata-kata lembut. Para tokoh kerap menari bersama masyarakat, bahkan penonton pun dapat diajak turut menari melalui tarian gandut, sehingga suasana penutup pertunjukan terasa meriah dan hangat (Sulistyowati, 2. Pertunjukan mamanda umumnya diselenggarakan pada malam hari setelah salat Isya, bertepatan dengan acara besar seperti pernikahan, khitanan, panen, atau hari-hari perayaan masyarakat Banjar. Tempat pertunjukan bersifat sederhana dan fleksibel, cukup dengan panggung ukuran sekitar 5x10 meter yang beratap tikar atau lampit dan berlantai tanah. Properti yang digunakan juga minimal, seperti meja dan kursi yang bisa berubah fungsi menjadi set istana, taman, atau tempat lain sesuai kebutuhan cerita. Penerangan biasanya menggunakan lampu petromaks, sementara di sisi panggung terdapat balairung sari, tempat para pemain berhias dan bersiap sebelum tampil (Kusnanto, 2. Berdasarkan keseluruhan uraian mengenai asal-usul, perkembangan, struktur pertunjukan, tokoh-tokoh, serta bentuk penyajian mamanda, dapat dipahami bahwa penggunaan latar kehidupan kerajaan dalam kesenian ini bukanlah suatu kebetulan. Latar kerajaan dalam pertunjukan mamanda merupakan hasil dari konstruksi sosial masyarakat Banjar yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap kehidupan istana, yang pada masa lalu tidak dapat diakses secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. Keterbatasan akses tersebut melahirkan kebutuhan akan media representasi yang mampu menghadirkan gambaran kehidupan kerajaan ke ruang publik dalam bentuk yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Dalam konteks inilah mamanda hadir sebagai seni pertunjukan rakyat yang menampilkan simbol-simbol kerajaan, seperti Sultan. Wazir. Mangkubumi. Perdana Menteri, dan Panglima Perang. Tokoh-tokoh tersebut tidak semata-mata dimaksudkan sebagai penggambaran historis yang faktual, melainkan sebagai simbolisasi struktur sosial dan kekuasaan yang hidup dalam imajinasi kolektif masyarakat Banjar. Melalui pengemasan cerita yang ringan, dialog yang komunikatif, serta unsur humor dan sindiran, mamanda menjadi sarana bagi masyarakat untuk memahami, menafsirkan, bahkan mengkritisi kehidupan kerajaan dan praktik kepemimpinan secara tidak langsung. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Lebih dari sekadar hiburan, mamanda berfungsi sebagai ruang ekspresi sosial yang memungkinkan masyarakat Banjar menyampaikan aspirasi, harapan, serta nilai-nilai ideal tentang kepemimpinan yang adil, bijaksana, dan berpihak pada rakyat. Penyajian kehidupan kerajaan dalam mamanda juga menunjukkan adanya relasi simbolik antara penguasa dan rakyat, di mana kekuasaan tidak diposisikan secara absolut, tetapi tetap terbuka terhadap kritik dan nasihat. Hal ini terlihat dari adegan sidang kerajaan yang menekankan musyawarah, dialog, dan pertimbangan bersama dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, konsep budaya mamanda tidak hanya dapat dipahami sebagai bentuk seni pertunjukan tradisional yang berkembang secara historis, tetapi juga sebagai refleksi cara pandang masyarakat Banjar terhadap realitas sosial dan kekuasaan. mamanda menjadi medium budaya yang merekam dinamika sosial masyarakat, sekaligus sarana edukatif yang menyampaikan pesan moral, sosial, dan religius secara kontekstual. Pemahaman terhadap konsep budaya mamanda ini menjadi landasan penting untuk menelaah lebih lanjut filosofi budaya yang terkandung di dalamnya, sebagaimana akan dibahas pada bagian berikutnya. Filosofi Budaya Mamanda Filosofi budaya dalam kesenian mamanda mencerminkan pandangan hidup masyarakat Banjar yang religius, demokratis, dan menjunjung tinggi nilai moral. Nilai-nilai filosofis ini tampak dalam struktur cerita, dialog, peran tokoh, dan makna simbolik yang terkandung dalam pertunjukan. Adapun beberapa filosofi utama dalam budaya mamanda antara lain sebagai berikut: Filosofi Religius (Ketuhanan dan Akhla. Mamanda tidak hanya berisi hiburan, tetapi juga sarana dakwah dan pendidikan moral. Dialog serta lagulagu yang dibawakan sering kali menyelipkan pesan keimanan, nasihat tentang kejujuran, tanggung jawab, dan Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat Banjar memandang kesenian sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Indah Wulandari, 2. Filosofi Sosial dan Demokratis Dalam setiap pertunjukan, struktur kerajaan yang digambarkan seperti Sultan. Wazir. Mangkubumi, dan rakyat yang melambangkan sistem sosial masyarakat Banjar yang menjunjung musyawarah dan keadilan. Proses sidang kerajaan dalam cerita menunjukkan semangat keterbukaan, di mana setiap tokoh boleh menyampaikan Ini mencerminkan filosofi bahwa kepemimpinan ideal adalah yang adil, bijak, dan mendengarkan rakyat (Wahyu Candra Dewi, 2. Filosofi Estetika dan Keharmonisan Unsur musik, tari, dan bahasa dalam mamanda mencerminkan filosofi keindahan yang harmonis. Gerak tari dan nyanyian menggambarkan keseimbangan antara ekspresi lahir dan batin, antara hiburan dan tuntunan. Masyarakat Banjar meyakini bahwa seni yang indah adalah seni yang bermanfaat dan membawa kebaikan bagi penontonnya (Eloksahar, 2. Filosofi Edukatif (Pendidikan dan Keteladana. Cerita-cerita mamanda mengandung nilai-nilai pendidikan karakter seperti kejujuran, amanah, sopan santun, serta tanggung jawab sosial. Pertunjukan ini digunakan sebagai media pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal budaya dan nilai moral masyarakat Banjar, sekaligus memperkuat identitas lokal melalui seni Filosofi Persaudaraan dan Kebersamaan Dalam setiap pertunjukan, interaksi antara pemain dan penonton menumbuhkan rasa kebersamaan. Penonton sering diajak ikut bernyanyi atau menari, seperti dalam adegan babujukan. Hal ini menunjukkan filosofi bahwa kehidupan harus dijalani dengan semangat gotong royong dan saling menghargai (Sulistyowati. Secara keseluruhan, filosofi budaya dalam kesenian mamanda mencerminkan pandangan hidup masyarakat Banjar yang religius, adil, dan menjunjung nilai moral. Melalui struktur cerita, peran tokoh, musik, tari, dan simbol-simbol budaya, mamanda mengajarkan nilai-nilai keimanan, keadilan, keteladanan, keharmonisan, dan Dengan demikian, pertunjukan ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cerminan filosofi hidup masyarakat Banjar yang mendidik dan membimbing penontonnya. Identitas Budaya Mamanda Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Identitas suatu kesenian dapat dilihat dari unsur-unsur yang membentuknya. Dalam pertunjukan mamanda, identitas itu tampak melalui bahasa yang digunakan, busana para pemain, musik pengiring, tarian hingga nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dalam pertunjukan mamanda, bahasa menjadi unsur penting untuk membangun dialog dan alur cerita. Pada bagian sidang kesultanan, pemain menggunakan bahasa Melayu dengan pengaruh dialek dan struktur Belanda, karena mamanda lahir pada masa penjajahan. Bahasa ini menunjukkan pengaruh sejarah perkembangan bahasa Melayu yang meluas di Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Sedangkan di luar sidang kesultanan, digunakan bahasa Banjar, bahasa sehari-hari masyarakat Kalimantan Selatan. Bahasa Banjar memiliki dua dialek utama, yaitu Banjar Kuala dan Banjar Hulu. Bahasa ini banyak digunakan dalam kehidupan sosial dan menjadi ciri khas masyarakat Banjar, meskipun tidak diajarkan secara formal di sekolah karena mirip dengan bahasa Indonesia. Banjar Kuala Dialek Banjar Kuala umumnya dipakai oleh penduduk asli sekitar kota Banjarmasin. Martapura dan Pelaihari. Dalam segi dialeg. Banjar Kuala memiliki vocal a i u e o, berbeda dengan Banjar Hulu yang hanya memiliki tiga vocal yakni a i u. Sedangkan dalam segi bahasa. Banjar Kuala dan Banjar Hulu juga memiliki Berikut salah satu contoh dalam naskah Mamanda berikut Satpam II : AuMohon maaf tuan. Itu pohon ampun kantor kita jua gasan dibagi lawan RT supaya ditanam untuk penghijauan tuan. Agar kampung kita menjadi rindang dan tanyaman jua dilihat pina hijau kada gersang tuanAy. Artinya: Satpam II : AuMohon maaf tuan. Pohon itu milik kantor kita, untuk dibagi dengan Rukun Tetangga agar ditanam demi penghijauan. Diharapkan desa kita menjadi rindang dan enak dipandang mata, hijau tidak gersang tuanAy Banjar Hulu Bahasa Banjar Hulu mempunyai ciri khas yang berbeda dengan bahasa Banjar Kuala, karena Bahasa Banjar Hulu biasanya banyak menggunakan kata-kata humor dan dialeg yang kental. Berikut salah satu kutipan dari naskah Mamanda Taparukui yang menggunakan Bahasa Banjar Hulu: Julak Ijum : AuKada, babaya ulun sampai di muka warung Ipah, pas bubuhanya amba-amba-an manuju kamariAy Artinya : Julak Ijum : AuTidak, baru saja saya sampai di depan warung Ipah, ketika mereka berjalan seperti orangorangan sawah datang mendekatAy Melayu Banjar. Bahasa Melayu Banjar merupakan salah satu ciri khas dari bahsa dalam naskah Mamanda, hal tersebut dilatarbelakangi oleh asal mula Mamanda itu sendiri, yakni dari rombongan pedagang Malaka. Pambakal : AuSetelah beta memperkenalkan diri kalawan jabatan dan sebelum rapat dimulai beta ingin hiburan dahulu. Apa memang begitu Pangerak?Au Artinya: Pambakal : AuSetelah saya memperkenalkan diri dan jabatan, dan sebelum rapat dimulai saya ingin hiburan terlebih dahulu. Apa memang begitu Pangerak?Ay (Indah Wulandari, 2. Dengan demikian, penggunaan bahasa Melayu dan Banjar dalam mamanda mencerminkan perpaduan budaya lokal dan pengaruh kolonial, serta memperlihatkan identitas masyarakat Banjar dalam kesenian tradisional mereka. Selain dari segi bahasa, identitas mamanda juga tampak melalui tata busananya. Busana dalam pertunjukan mamanda berperan penting untuk memperkuat karakter dan status setiap tokoh di atas panggung. Pada awal kemunculannya, kostum mamanda terinspirasi dari pakaian adat Banjar. Namun, sejak masa penjajahan Belanda, muncul pengaruh Eropa, misalnya pakaian Perdana Menteri yang menyerupai seragam Angkatan Laut Inggris dan Panglima Perang yang mirip seragam tentara Belanda. Kini, ada usaha untuk menyesuaikan kembali busana mamanda dengan pakaian adat Banjar. Busana mamanda terdiri dari pakaian adat, kebesaran, dan pakaian sehari-hari para bangsawan serta rakyat. Unsur pentingnya antara lain laung . kat kepal. , sabuk tenun bersulam emas, baju kurung atau kebaya untuk wanita, serta berbagai perhiasan khas Banjar seperti gelang, kalung, dan cucuk baju dari emas dan perak. Setiap tokoh memiliki ciri busana yang berbeda: Sultan memakai mahkota dan baju berhias manik-manik. Perdana Menteri berpakaian serupa tanpa mahkota. Wazir memakai pakaian luar yang lebih pendek dngan Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. pakaian dalam yang lebih panjang, dan penutup kepala bulat. Panglima Perang membawa pedang dan selendang sedangkan Putri memakai kebaya berhias mahkota kecil. Tokoh lain seperti Raja Jin. Penyamun, dan Anak Muda pun memiliki kostum khas sesuai karakternya. Busana mamanda tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga menjadi simbol status, karakter, dan budaya Banjar yang memperkuat keunikan pertunjukan ini. Selanjutnya adalah musik pengiring. Musik berfungsi menghidupkan suasana, memperkuat emosi cerita, dan memberi irama dalam setiap adegan. Alat musik yang digunakan biasanya berupa panting, babun, biola, gong, serunai, gambus, akordeon, dan rebana. Selain bahasa, busana, dan musik, unsur penting dalam mamanda adalah tarian. Tarian yang dikembangkan dalam mamanda adalah tarian yabg sudah ada di Kalimantan Selatan, seperti tari Baladun, tari Raja, tari Gandut, dan tari Mambujuk (Munasifah, 2. Unsur bahasa, busana, musik, dan tarian dalam pertunjukan mamanda menegaskan identitas budaya Banjar. Bahasa Banjar dan Melayu Banjar mencerminkan akar lokal dan sejarah, busana menunjukkan status serta karakter tokoh, dan musik pengiring dan tarian memperkuat suasana serta ritme cerita. Perpaduan elemenelemen ini menjadikan mamanda sebagai kesenian khas Banjar yang unik dan memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Kalimantan Selatan. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Budaya Mamanda Pertunjukan mamanda tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung berbagai nilai budaya dan pendidikan. Cerita dalam mamanda biasanya disampaikan dengan cara yang menarik, berisi kisah kehidupan, keteladanan, kritik sosial yang membangun, serta nilai-nilai luhur masyarakat Banjar. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Noor Indah Wulandari dan Sarbaini disebutkan bahwa terdapat tiga belas nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi mamanda, yaitu: religius, jujur, disiplin, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu, semangat, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikasi, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut tercermin melalui dialog dan interaksi antartokoh dalam pertunjukan, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral dan sosial bagi masyarakat (Indah Wulandari, 2. Nilai-nilai pendidikan karakter ini dilihat dari kutipan percakapan dalam pertunjukan mamanda yang terdiri atas delapan adegan . dengan judul AuPemilihan Raya di Buana Persada Alam. Ay Kesantunan, kerukunan, dan kerjasama juga menjadi nilai penting yang dihadirkan dalam cerita mamanda. Tokoh-tokoh dalam cerita ini menunjukkan penghormatan satu sama lain, baik antara atasan dan bawahan, maupun sesama rekan kerja. Dalam konteks ini, kerjasama antar individu dari latar belakang yang sama menjadi kunci dalam menyelesaikan tugas bersama (Dewi et al. , 2. Mamanda selain menjadi teater rakyat dan sarana hiburan, juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Melalui pertunjukan ini, penonton dapat belajar tentang kehidupan, moral, dan budaya lokal. Karena itu, mamanda sangat berpotensi dijadikan sebagai media pembelajaran bagi pelajar di Kalimantan Selatan agar mereka dapat mengenal, memahami, dan melestarikan kesenian tradisional ini yang kini mulai jarang dipentaskan. Cerita-cerita dalam mamanda sering kali menggambarkan berbagai persoalan kehidupan manusia, baik yang bersifat moral, sosial, maupun spiritual. Dari setiap kisahnya, penonton dapat mengambil pelajaran berharga tentang kebaikan dan keburukan, keadilan, kejujuran, serta tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang menjadikan mamanda bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan dalam kehidupan sehari-hari. Mamanda juga mengandung nilai kritik sosial. Melalui dialog dan adegan, sering kali terselip sindiran halus terhadap perilaku atau situasi yang terjadi di masyarakat. Kritik ini disampaikan dengan cara yang santun dan menghibur, sehingga mamanda berfungsi pula sebagai sarana aspirasi rakyat dan refleksi sosial yang membangun (Kusnanto, 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pertunjukan mamanda mengandung nilai-nilai pendidikan Islam dan karakter yang komprehensif, mencakup aspek religius, moral, sosial, dan kebangsaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, serta semangat kebersamaan tercermin melalui dialog dan interaksi antar tokoh. Kesantunan, kerukunan, dan kerjasama juga menjadi nilai penting dalam cerita mamanda, yang menunjukkan penghormatan dan kerja sama dalam menyelesaikan tugas bersama. Mamanda tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukatif yang menyampaikan keteladanan dan kritik sosial yang santun, serta refleksi terhadap kehidupan manusia. Dengan pengemasan yang komunikatif, mamanda mampu menjadi sarana pembelajaran moral dan sosial bagi masyarakat Banjar. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 53-60 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai media pendidikan Islam berbasis budaya lokal bagi generasi muda. Dengan demikian, mamanda layak dipahami sebagai seni pertunjukan yang berfungsi sebagai tontonan yang mendidik dan tuntunan dalam kehidupan bermasyarakat. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa mamanda tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai pendidikan Islam yang meliputi aspek religius, moral, sosial, dan kebangsaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan semangat kebersamaan tercermin dalam interaksi antar tokoh. Selain itu, nilai kesantunan, kerukunan, dan kerjasama juga menjadi unsur penting dalam cerita, menggambarkan penghormatan antara atasan dan bawahan, serta antar rekan kerja. Dengan demikian, mamanda lebih dari sekadar hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media edukatif yang menyampaikan keteladanan, kritik sosial, dan refleksi kehidupan. Sebagai media pendidikan Islam berbasis budaya lokal, mamanda memiliki potensi untuk mengembangkan karakter generasi muda, serta memperkenalkan nilai-nilai moral dan sosial dalam konteks masyarakat Banjar. Dalam menghadapi arus globalisasi, penting untuk mempertahankan dan mengembangkan mamanda sebagai warisan budaya. Kolaborasi antara pelaku seni, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan dalam mengenalkan mamanda kepada generasi muda, sementara pemanfaatan teknologi digital dapat membantu menghidupkan kembali pertunjukan ini dalam format yang lebih modern tanpa mengurangi nilai budaya lokal yang terkandung di dalamnya. DAFTAR PUSTAKA