Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 436-457 Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu e-ISSN: 2621-8135 p-ISSN: 2621-8151 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Rekonstruksi Partisipasi Anggota Gereja dalam Perencanaan Pelayanan di Gereja Dengan Sistem Presbiterial-Sinodal Leomardus Natu Taku Bessi. * . Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. Indonesia *) Email: leonardus. taku@stftjakarta. Diterima: 03 Agustus 2025 Direvisi: 09 September 2025 Disetujui: 09 September 2025 Abstract Church members are the largest component of the church's ministry and should be involved in ministry. In most churches with a presbyterial-synodal system, their involvement in the ministry planning process is very limited. The presence of presbyters as representatives of church members has an impact on the involvement of church members in the ministry planning process, which in turn impacts church member participation in ministry planning. This article uses a qualitative method in the form of content analysis of several theologians such as Neil Cole. Keith Elford, and Moltmann who discuss church member participation. This research aims to help churches see the urgency of the role of church members in ministry planning and how churches should involve church members in the Churches are expected to expand the participatory space for church members in the ministry planning process. The results of this study indicate that participatory ministry planning in churches with a presbyterial-synodal system can be reconstructed through the formation of small groups, the use of digital technology, and the optimization of planning teams. The conclusion at the end of this article demonstrates the importance of providing participatory space for church members to be involved in ministry planning by utilizing technological facilities, empowering small and large groups, and increasing the capacity of planning teams within the church. Keywords: Church Members. Participation. Presbyterian-Sinodal. Service Planning. Reconstruction of Ministry. CopyrightA2025. Leomardus Natu Taku Bessi. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 436 Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. Abstrak gereja merupakan komponen pelayanan terbesar dalam gereja yang ( Anggota Santy Sahartia. patut dilibatkan dalam pelayanan. Pada sebagian besar gereja dengan sistem presbiterial-sinodal terlihat bahwa keterlibatan mereka dalam proses perencanaan pelayanan sangat terbatas. Kehadiran para presbiter sebagai perwakilan anggota gereja ternyata berimbas pada keterlibatan anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan yang berdampak pada partisipasi anggota gereja dalam perencanaan pelayanan. Artikel ini menggunakan metode kualitatif berupa analisis konten terhadap beberapa teolog seperti Neil Cole. Keith Elford dan Moltmann yang membahas tentang partisipasi anggota gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menolong gereja untuk melihat urgensi peran anggota gereja dalam perencanaan pelayanan dan bagaimana seharusnya gereja melibatkan anggota gereja dalam proses tersebut. Gereja diharapkan dapat meluaskan ruang partisipatif anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan. Hasil kajian itu menunjukkan bahwa perencanaan pelayanan secara partisipatif pada gereja dengan sistem presbiterialsinodal dapat direkonstruksi melalui pembentukan kelompok kecil, penggunaan teknologi digital dan optimalisasi tim perencanaan. Kesimpulan pada bagian akhir artikel ini menunjukkan pentingnya memberi ruang partisipasi bangi anggota gereja untuk terlibat dalam perencanaan pelayanan dengan menggunakan fasilitas teknologi, memberdayakan kelompok kecil dan besar dan meningkatkan kapasitas dari tim perencanaan dalam gereja. Kata-Kata Kunci: Anggota Gereja. Partisipasi. Perencanaan Pelayanan. Presbiterial-Sinodal. Rekonstruksi. Pendahuluan Pemerintahan gereja merupakan sistem tata kelola pelayanan yang dipakai gereja untuk mencapai visi dan misinya. Dalam tradisi Protestan yang berakar pada ajaran Calvin, sistem presbiterial sinodal merupakan salah satu model yang dikenal Sistem ini mendasarkan kepemimpinan pada peran presbiter yang telah ditahbiskan dan berperan sebagai perwakilan jemaat. Para presbiter itu melaksanakan tugas secara kolektif-kolegial 1 , menekankan musyawarah-mufakat sebagai wadah mencari kehendak Allah. Rapat dan persidangan yang dihadiri para presbiter merupakan tempat untuk menyampaikan aspirasi anggota gereja yang Oleh karena kesepakatan bersama merupakan keputusan vital bagi seluruh pelayanan. Setiap anggota gereja pada dasarnya diberikan tanggung jawab untuk melayani, dan keterlibatan mereka merupakan ekspresi pertanggungjawaban iman dan ungkapan syukur kepada Allah. Meskipun keberadaan anggota gereja Christiaan de Jonge. Apa Itu Calvinisme? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 211. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. telah diwakili oleh presbiter yang dipilihnya, namun kehadiran dan kontribusi mereka tidak dapat dikesampingkan. Sistem presbiterial sinodal secara ideal dirancang dengan pendekatan bawahke- atas . ottom-u. yang menempatkan jemaat sebagai basis pelayanan. Konsep ini memberi ruang yang luas bagi setiap anggota gereja untuk berpartisipasi dalam seluruh tahapan pelayanan. Calvin sendiri menyatakan bahwa Aubiarpun para pejabat gereja dipilih oleh anggota gereja berdasarkan imamat am orang percaya, namun dalam melaksanakan tugas mereka tidak takluk kepada jemaat yang memilih mereka melainkan kepada AllahAy 3 Dinamika ini menghadapi tantangan Tantangan itu terjadi karena benturan antara otoritas presbiter sebagai wakil anggota gereja dan harapan anggota gereja agar aspirasi mereka Berdasarkan konsep Imamat Am Orang Percaya, para presbiter menjalankan tugas dan bertanggung jawab kepada Allah meskipun mereka dipilih oleh anggota gereja. yang diharapkan dari anggota gereja adalah aspirasi mereka tersampaikan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Maka diperlukan sebuah rekonstruksi dalam mekanisme perencanaan pelayanan gereja yang mampu menjembatani realitas yang kelihatan paradox ini. rekonstruksi itu dieprlukan untuk memastikan sinergi yang harmonis antara kepemimpinan para presbiter dengan partisipasi aktif anggota gereja. Artikel ini dilakukan untuk mengkritisi praktik perencanaan pelayanan oleh gereja dengan sistem presbiterial-sinodal. Hal ini didasarkan pada permasalahan bergereja di beberapa jemaat lokal dengan sistem presbiterial-sinodal yaitu proses perencanaan pelayanan secara partisipatif yang mengalami berbagai kendala. Kendala ini nampak terutama pada gereja yang memiliki anggota jemaat yang sangat besar. Data tentang gereja Protestan yang memiliki kuantitas anggota gereja terbesar di Indonesia adalah gereja-gereja yang menggunakan sistem presbiterialsinodal. 4 Dalam praktiknya, proses persidangan jemaat sebagai tempat pengambilan keputusan tertinggi dalam gereja Protestan hanya terdiri dari perwakilan jemaat pada wilayah tertentu. Salah satu contoh terbatasnya partisipasi anggota gereja dalam proses pengambilan keputusan adalah Persidangan Jemaat GPM Syalom. Klasis Kota Yohanes Calvin. Institutio. Pengajaran Agama Kristen, ed. oleh J. Aritonang. Arifin, dan Th. Van den End, trans. oleh Winarsih (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 232. Jonge. Apa Itu Calvinisme?, 111. Junus Imanuel Hauteas. AuTahukah Anda Inilah 7 Gereja Atau Sinode Terbesar di Indonesia,Ay Victory News, 10 Juni 2023. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Ambon ke-29Yuniant. tahun 2029 yang dihadiri oleh 110 orang. 5 Selanjutnya, dalam ( Santy Sahartia. Persidangan Jemaat GPM Syalom. Klasis Kota Ambon ke xI pada tahun 2025, jumlah peserta sidang naik menjadi 156 orang tanpa perincian. 6 Jika dibandingkan dengan data yang dikeluarkan oleh jemaat GPM Syalom Klasis Kota Ambon pada website resminya, maka terbaca bahwa jumlah anggota jemaat sebanyak 2567 jiwa7 dengan jumlah anggota sidi sebanyak 1083 jiwa. 8 Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran anggota gereja dalam persidangan gereja yang dengan sistem presbiterial-sinodal masih dibatasi dengan sistem kuota atau perwakilan teritorial. Penelitian yang berkaitan dengan hal-hal ini pernah dikaji oleh beberapa peneliti antara lain: Akdel Parhusip dan kawan-kawan yang membahas fungsi manajemen gereja dalam pengembangan pelayanan. Penelitian ini membahas tentang perencanaan pelayanan dalam gereja namun tidak dilakukan pada gereja dengan sistem presbiterial-sinodal 9 . Selanjutnya penelitian oleh Harri Prie yang melakukan penelitian tentang penerapan organisasi intra gereja dalam sistem presbiterial-sinodal di Gereja Toraja. Penelitian ini tidak membahas tentang keterlibatan anggota gereja dalam perencanaan pelayanan. 10 Sejumlah penelitian lainnya belum pernah membahas keterkaitan antara perencanaan pelayanan, sistem presbiterial-sinodal dan partisipasi anggota gereja. penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh gereja-gereja Protestan pada umumnya yang ingin membuat perencanaan pelayanan partisipatif dengan melibatkan anggota gereja dan menggunakan media digital. Karena itu penelitian lanjutan dari tulisan ini dapat terus dikembangkan pada kesempatan lainnya. Metode Penelitian Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu penelitian kepustakaan dengan menggunakan analisis isi . ontent analysi. terhadap sejumlah Priska Birahy. AuSidang Ke-29 Jemaat Syalom. Realisasi Program. Rekomendasi dan keuangan Tak Capai 100 Persen,Ay Berita Artikel Syalom Batu Jemaat GPM Syalom Batu Meja. Klasis Kota Ambon, 13 Februari 2023. Divisi Website Syalom Batu Meja. AuPersidangan xI Jemaat GPM Syalom 2025 Digelar. Ini Pesan MPK,Ay Berita Artikel Syalom Batu Jemaat GPM Syalom Batu Meja. Klasis Kota Ambon, 16 Februari 2025. AuData Jumlah Jiwa,Ay Syalom, 2023, https://jemaatgpmsyaloom. org/data/demografi. AuData Status Sakramen,Ay Syalom, 2023, https://jemaatgpmsyaloom. org/data/demografi. Akdel Parhusip. Merry G Panjaitan, dan Maya Dewi Hasugian. AuPeran Manajemen dalam mengembangkan pelayanan di Gereja Pantekosta Indonesia Sidang Perumnas Martubung. Medan,Ay Epigraphe. Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani Vol. 4 No. 1, no. 2020-05Ae29 . : 44Ae56, doi:https://doi. org/10. 33991/epigraphe. Harri Prie. AuSistem Biro dalam OIG di Gereja Protestan Indonesia Timur dengan Teologi Calvinis Presbiterial SinodalAy (IAKN Tana Toraja, 2. , 76. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. literatur yang berkaitan dengan pokok bahasan tulisan ini khususnya pandangan Jurgen Moltmann. Keith Elford dan Neil Cole. Analisis isi dilakukan pada tematentang relasi antar pelayan dan anggota gereja, mekanisme bottom-up, kepemimpinan dan manajemen kelompok kecil dalam jemaat besar. Selain itu penelitian juga membuat beberapa pengamatan tentang proses perencanaan pelayanan pada beberapa gereja dengan sistem presbiterial-sinodal. Metode penulisan kajian ini menggunakan pola deskriptif deduktif. Hasil dan Pembahasan Memahami Perencanaan Pelayanan di Gereja Dengan Sistem PresbiterialSinodal Gereja adalah persekutuan yang terpanggil untuk terus melayani. Pelayanan itu merupakan sebuah ungkapan syukur atas kasih Allah yang telah dinyatakan Kristus bagi dunia. Sebuah pelayanan yang baik perlu direncanakan dengan matang, supaya pelaksanaannya mampu mencapai visi dan misi Kerajaan Allah. Perencanaan pelayanan juga merupakan proses yang berasal dari keinginan yang kuat dari anggota-anggota gereja untuk bersaksi, bersekutu, melakukan pelayanan kasih, beribadah dan menatalayani. Perencanaan pelayanan yang baik merupakan sebuah fondasi yang mampu memastikan gereja untuk melangkah dengan efektif dan terarah serta maksimal. Gereja adalah persekutuan yang hidup dan dinamis. Karena itu perencanaan pelayanan gereja tidak boleh dipandang sebagai sebuah kegiatan manajerial semata-mata. Proses perencanaan itu mencerminkan gereja sebagai organisme yang hidup, dinamis dan mampu berinteraksi. Gambaran dinamika yang hidup itu sesuai dengan beberapa metafora Alkitab tentang gereja sebagai Tubuh Kristus . Kor. 12:12-. , carang anggur (Yoh. 15:1-. , mempelai Kristus (Efe. 5 dan Why. dan batu-batu hidup yang dibangun diatas Kristus . Ptr. 2:4-. Neil Cole dalam Teori Organic Church juga menyatakan bahwa gereja yang hidup mengalami progres kelahiran, pertumbuhan dan multiplikasi dirinya sebagai tanda-tanda 11 Dinamika dalam gereja itu dicerminkan dari relasi internal gereja antara anggota gereja dan dengan para pemimpinnya. Dinamika eksternal gereja tercermin pada kemampuan gereja untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dalam metafora khusus gereja sebagai Tubuh Kristus. Alkitab menekankan relasi antara anggota-anggota tubuh untuk saling melayani berdasarkan pimpinan Kristus Neil Cole. Organic Church. Growing Faith Where Life Happens, (San Francisco: Jossey Bass, 2. , 26Ae29. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. Kepala dan Pemilik. Karena itu anggota gereja dalam sebuah komunitas ( Santy lokalSahartia. bukanlah peserta pasif dan anonim, melainkan pelaku yang dianugerahkan fungsi tertentu yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus beradaptasi dengan berbagai perubahan di sekitarnya. 12 Alkitab juga menekankan pentingnya seluruh anggota gereja diperlengkapi untuk melayani (Efe. 4:11-. Karena itu pemimpin gereja dihadirkan untuk dapat mengarahkan semua orang percaya untuk dapat berpartisipasi, bukan dengan semangat menguasai dan memonopoli pelayanan melainkan dengan semangat kesetaraan. Para presbiter memimpin jemaat dengan memberi teladan . Ptr. 5:1-. dalam proses perencanaan yang partisipatif, sinergitas antara presbiter dan anggota gereja sangatlah penting karena interaksi itu menunjukkan dengan jelas bahwa gereja itu mengalami kebangkitan dan dihidupi oleh Roh Kudus. Dalam karya monumental berjudul The Church in The Power of Spirit. Jurgen Moltmann membahas khusus tentang pola relasi gereja yang hirarkis dan Ia menawarkan relasi persahabatan berdasarkan kasih, penghormatan dan kesetaraan meskipun terdapat konflik. 13 Moltmann memandang relasi pemimpin dan anggota gereja sebagai sebagai komunal-relasional dan bukan struktur Ia menolak pendekatan top-down dan mengusulkan gereja sebagai komunitas yang meletakkan semua anggota sebagai persekutuan yang memiliki karunia dan peran oleh karena Roh kudus. Karena itu proses pengambilan keputusan dalam gereja di ruang publik tidaklah menjadi dominasi orang tertentu melainkan seluruh anggota gereja dalam posisi yang setara. Gereja juga adalah persekutuan yang dimaknai sebagai persekutuan persahabatan yang mengambil rupa dari Trinitas yang saling berinteraksi secara dinamis. Oleh karena itu dinamika dalam gereja harus juga mencerminkan penghargaan yang sama dan setara terhadap keberadaan anggota-anggota gereja yang bukan presbiter. Susanta mengutip pandangan Karkkainen menyatakan bahwa gereja harus mencerminkan prinsip egaliterianisme yang ada dalam doktrin Tritunggal14. Ini berarti anggota gereja juga harus merasa dirinya sebagai sebuah bagian dalam pelayanan yaitu bagian yang sama penting dengan jabatan pelayanan. Keith Elford. Creating The Future of the Church: A Practical Guide to Addressing WholeSystem Change (London: SPCK, 2. , 47. Jurgen Moltmann. The Church in the Power of The Spirit. A Contribution to Messianic Ecclesoiology, trans. oleh Margaret Kohl. Second (London: SCM Press, 1. , 316. Yohanes Krismantyo Susanta. AuGereja Sebagai Persekutuan Persahabatan Yang Terbuka Menurut Jurgen Moltmann,Ay Visio Dei. Jurnal Teologi Kristen 2, no. 1 (Juni 2. : 110, doi:https://doi. org/10. 35909/visiodei. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Perencanaan pelayanan dilakukan untuk mengharmonisasi pandangan dari berbagai orang dalam persekutuan itu. Dalam pemerintahan presbiterial-sinodal, harmonisasi itu bersifat bottom-up atau pendekatan dari bawah-ke-atas. Meskipun sistem presbiterial-sinodal disusun dalam sebuah relasi antara Jemaat kepada Kristus tidak mengabaikan kehadiran para presbiter sebagai pemimpin dalam dunia, namun hal itu tidak meniadakan peran dari masing-masing anggota gereja. Schaller menyebutkan salah satu kewajiban dari para pelayan dalam gereja adalah menyediakan kesempatan dan tempat bagi anggota gereja untuk terlibat dalam 15 Anggota gereja tidak boleh dianggap semata-mata sebagai angka dan obyek, melainkan orang-orang yang juga memiliki panggilan untuk melayani dengan cara yang berbeda. Setiap anggota gereja perlu memahami panggilan imannya dalam komunitas sebagai pelaku utama dan garda terdepan pelayanan yang terlihat nyata dalam keseharian anggotanya di tengah dunia. Dalam keseharian itu setiap anggota gereja melakukan ketaatannya sesuai prinsip Kerajaan Allah. Pengalaman dan pengetahuan yang didapatkannya dalam keseharian itu perlu dibagikan sebagai potensi besar untuk saling meneguhkan kesaksian sesama anggota gereja. David J. Bosch berpandangan bahwa setiap orang percaya bertanggung jawab dan wajib ikut serta dalam pelayanan gereja, sebab gereja bukanlah kumpulan klerus yang terpisah dari anggota gereja lainnya, melainkan sebuah kesatuan Tubuh Kristus. Anggota gereja yang tidak ditahbiskan itu bukanlah anak-anak dan objek pelayanan melainkan pelaku yang harus dilibatkan. Karena itu konsep eklesiologi ini masih berkembang dari waktu ke waktu seiring perubahan masyarakat dan reformasi Sistem presbiterial-sinodal adalah rumusan eklesiologi yang diwarisi dari Calvin dan diberlakukan oleh sebagian besar gereja Protestan. 18 Kepemimpinan dalam sistem ini terjadi secara kolektif-kolegial oleh para presbiter yaitu representasi dari anggota gereja yang dipilih oleh anggota gereja dan ditahbiskan untuk melaksanakan tugas kepemimpinan. Dalam hal ini Moltmann juga Lyle E. Schaller. Parish Planning. How to Get Things Done in Your Church (New York: Abingdon press, 1. , 22. Ibid. , 23. David J. Bosch. Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi Yang Mengubah Dan Berubah, trans. oleh Stephen Suleeman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 716Ae20. Eritrika A. Nullik. AuAdaptabilitas Gereja Upaya Menemukan Bentuk-bentuk Kepemimpinan Pastoral Gereja Berdasarkan Prinsip-prinsip Hukum Gereja dan Dalam Spirit Reformasi Calvinis,Ay Nusantara. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial 8 No. : 1574, doi:http://dx. org/10. 31604/jips. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. bahwa the presbyterian leadership of the congregation cannot be ( Santy Sahartia. its synodal 19 Kepemimpinan jamak dalam sistem presbiterialsinodal itu tidak bersifat top-down untuk menekan, memonopoli, atau mengontrol dan mengendalikan, tetapi secara persuasif mengajak setiap orang untuk terlibat secara aktif. Karena itu kata kunci dalam sistem presbiterial-sinodal adalah sistem yang partisipatif. Para presbiter juga memiliki tanggung jawab untuk memimpin jemaat sebagai wujud pemerintahan yang berpusat pada Kristus sebagai Pemilik dan Kepala. Dalam sistem presbiterial-sinodal, persidangan menjadi salah satu wadah kebersamaan untuk mencari kehendak Allah untuk diimplementasikan pada 20 Di dalamnya terjadi curah pendapat dan ide supaya dirumuskan bersama dalam semangat musyawarah untuk mufakat. Persidangan gereja adalah sebuah wadah belajar dan saling mendengarkan yang perlu didasarkan pada pemahaman yang tepat tentang apa yang Allah inginkan dan apa yang anggota gereja butuhkan. Oleh karena itu gereja tidak dapat menyerahkan seluruh keputusan kepada para presbiternya, tanpa mendengarkan anggota gereja. Demikian pula anggota gereja tidak dapat menyampaikan aspirasinya melalui gereja tanpa melakukan refleksi terhadap kehadiran Allah dalam pengalamannya tiap-tiap hari. Berdasarkan pandangan Cole dan Moltmann, terlihat bahwa keduanya melakukan kritik yang sama pada bentuk relasi dalam gereja yang terjadi selama Keduanya memperlihatkan bahwa ada keinginan kuat untuk memahami kembali relasi dalam gereja sesuai pola Kristus dalam Matius 18:20, bahwa gereja juga adalah persekutuan yang terbentuk oleh dua atau tiga orang yang berkumpul dalam nama Tuhan. Dalam hal ini rekonstruksi relasi dalam gereja dimulai dari pemahaman gereja sebagai kelompok-kelompok kecil yang saling terkoneksi secara Gereja bukanlah sekumpulan ratusan hingga ribuan orang yang berkumpul dan bersepakat semata tetapi juga kelompok-kelompok kecil yang adalah bagian dari keutuhan tubuh Kristus. Gereja-gereja Calvinis menekankan pada ketertiban dalam tata laksana Salah satu bentuk ketertiban dalam penataan organisasi adalah melakukan strategi perencanaan dengan matang dan bijaksana. Pelayanan gereja perlu dirancang untuk menguatkan kesaksian anggota gereja di dalam dan di luar Moltmann. The Church in the Power of The Spirit. A Contribution to Messianic Ecclesoiology, 310. Ibid. , 311. Ibid. , 310. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Pelayanan gereja tidak boleh semata-mata untuk memenuhi kebutuhan Gereja diutus sebagai komunitas yang inklusif yang terpanggil untuk memberi dampak shalom Allah di tengah dunia melalui karya-karya keadilan, kasih, perdamaian dan pengharapan. Karena itu refleksi gereja tentang siapa dirinya dan tugasnya seharusnya terjadi secara seimbang. Perencanaan pelayanan gereja adalah sebuah tahap pertama yang penting dalam pengelolaan organisasi gereja yang memiliki dimensi organisasi dan Dalam perencanaan pelayanan disusun kebutuhan dan arah gereja sebagai organisasi yang mencerminkan ketaatan gereja kepada panggilan Sang pemilik Dimensi iman yang discernment dalam visi dan misi gereja diwujudkan dalam strategi pelayanan yang aktual, terukur dan sistematis. Tujuan perencanaan pelayanan adalah menggali potensi-potensi gereja, meningkatkan rasa memiliki dan solidaritas, peningkatan komunikasi yang interaktif, memperkuat akuntabilitas dan transparansi, sebagai spiritualitas yang aktif. Jadi partisipasi anggota gereja dalam perencanaan pelayanan adalah aktualisasi dan ekspresi iman orang-orang percaya. Urgensitas Partisipasi Anggota Gereja Partisipasi anggota gereja tidak boleh dipandang sebagai upaya melangkahi kewenangan para presbiter, tetapi sebagai kontribusi anggota gereja bagi para pemimpin dan utusan mereka untuk mengambil keputusan secara proporsional. Para presbiter seharusnya melihat partisipasi itu sebagai penguatan lembaga gereja oleh bagian terbesar dalam persekutuan. Rekonstruksi relasi antara pemimpin dan anggota gereja dapat dilihat dari perspektif sahabat sepelayanan dan kawan sekerja Allah . Kor. 3:8-. Moltmann mengajukan sebuah bentuk relasi friendship koinonia untuk menentang hierarki monoteis yang melandasi relasi antara anggota gereja, pemimpin gereja, dunia disekitar gereja dan Tuhan. Pemahaman inilah yang menjadi urgensi pertama untuk merekonstruksi peran anggota gereja secara partisipatif dalam perencanaan pelayanan. Dalam sistem presbiterial-sinodal, penekanan pada peran para presbiter sebagai pemimpin bukanlah mengabaikan aspirasi anggota gereja lainnya. Demikian pula mekanisme sinodal . erjalan bersama-sam. ditopang melalui aspirasi anggota gereja yang membekali para pemimpin dalam pengambilan keputusan. Kebutuhan dasar dari pelayanan tercermin dari pengalaman keseharian anggota gereja. Semua kebutuhan itu akan membentuk sebuah gaya hidup bergereja dan interaksi di dalam gereja. Maka perencanaan pelayanan juga seharusnya mencari solusi untuk melengkapi Ibid. , 316Ae17. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. menghadapi tantangan dalam keseharian. 23 Gereja yang ( Santy Sahartia. aspirasi anggotanya dapat memiliki tujuan pelayanan yang jelas. Oleh karena itu partisipasi anggota gereja akan mendekatkan pelayanan gereja dengan realitas kebutuhan anggota-anggotanya dan ini akan sangat memperkaya gereja dalam aksi nyata yang terencana dengan baik. Urgensi kedua terletak pada tuntutan zaman kepada gereja untuk beradaptasi dengan skema masyarakat di era Society 5. 0 yaitu peleburan antara ruang virtual dan ruang fisik. 24 Digitasi pelayanan di era ini telah menuntut gereja untuk mengikis demarkasi antara pemimpin dan terpimpin, ruang publik dan privat, kelompok pemilih dan terpilih. Pergeseran itu juga menuntut partisipasi anggota gereja dalam bentuk-bentuk pelayanan yang menyenangkan, mudah, dan efisien. Pandemi COVID-19 telah menjadi sebuah momentum bagi gereja untuk merekonstruksi lagi partisipasi anggota gereja seturut tuntutan tersebut. Teknologi digital telah membuka ruang-ruang virtual untuk berjumpa, berekspresi, berbagi dan saling melengkapi. Hal itu patut diterima gereja sebagai anugerah yang patut dikelola dengan bijaksana. Karena itu mekanisme persidangan, sharing pengetahuan dan pengalaman iman juga dapat dilakukan melalui media teknologi Urgensi ketiga dari partisipasi anggota gereja adalah esensi gereja sebagai sebuah persekutuan yang mengakomodasi beragam kebutuhan. Kebutuhan beragam itu menjadi warna dari sebuah persekutuan. Moltman menentang konsep persekutuan sebagai sebuah komunitas yang seragam dan karena itu gereja juga harus memberi ruang mendengarkan pandangan yang berbeda25. Karena itu arah pelayanan gereja menjadi keunikan masing-masing gereja untuk menyikapi tantangan-tantangan yang dihadapinya. Pelayanan gereja akan menjadi sebuah aksi yang diminati dan didukung oleh anggota gereja sebab menjawab dan mendukungnya menghadapi realitas kesehariannya. partisipasi anggota gereja sejak awal perencanaan pelayanan akan menggerakkannya juga dalam aksi nyata pelaksanaan pelayanan. Kepemimpinan gereja adalah sebuah wujud pemerintahan Kristus di tengah milik kepunyaannya. Kehadiran para pemimpin gereja merupakan wujud Schaller. Parish Planning. How to Get Things Done in Your Church, 217Ae20. Tri Endi A. P Sasongko. Sumarga Hendi Eka, dan Rauf Abdul. Marketing Strategy in 5. Society Era, ed. oleh Eka Hendra Priyatna dan Eni Suharti (Purbalingga: CV. Eureka Media Aksara, 2. , 202. Susanta. AuGereja Sebagai Persekutuan Persahabatan Yang Terbuka Menurut Jurgen Moltmann,Ay 110. Schaller. Parish Planning. How to Get Things Done in Your Church, 217Ae20. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. pemerintahan Kristus yang nyata. Namun para pemimpin gereja bukanlah Kristus. Tugas mereka adalah menghubungkan setiap anggota gereja dengan Kristus sebagai pemiliknya. keterhubungan itu akan membuat setiap orang menjadi patuh kepada Kristus. Karena itu pemerintahan Kristus berbuah dalam kepemimpinan para pemimpin gereja. Anggota gereja juga merupakan persekutuan yang dipertautkan melalui para pemimpin gereja. Kehadiran pemimpin juga dimaksudkan untuk mengajarkan sikap rendah hati dan saling mengasihi. kepada para pemimpin gereja diberikan tanggung jawab untuk memberitakan Firman Allah namun sekaligus menyatakan pimpinan kepada sesamanya. Karena itu kedua belah pihak tersebut haruslah menunjukkan kerendahan hati untuk saling menundukkan diri. para pemimpin gereja merendahkan diri untuk mendengarkan anggota gereja yang dipimpinnya, demikian juga anggota gereja mendengarkan pimpinan para pemimpin gereja yang melalui mulut mereka dipakai Allah untuk menyatakan pemerintahan atas gereja. Dalam sistem presbiterial-sinodal, para presbiter merupakan perwakilan anggota gereja untuk membuat keputusan-keputusan yang menjamin pelaksanaan pelayanan yang efektif. Namun dalam jemaat lokal yang memiliki kuantitas besar, sistem ini justru menjadi terkendala sebab penyampaian aspirasi dari anggota gereja dibatasi untuk disampaikan secara langsung dan terbuka. Representasi tidak boleh sangat berpusat dari para presbiter sebab hal ini dapat menimbulkan ruang yang intim antara presbiter dengan anggota gereja. Hal ini juga semakin rentan ketika mekanisme komunikasi yang dibangun tidak berjalan efektif. Dibutuhkan sebuah ruang partisipatif yang terbuka tanpa mengabaikan kepemimpinan yang representative tersebut. Dalam dialektika tentang kepemimpinan yang partisipatif, terdapat ketegangan antara kebebasan dan kewenangan. Ketegangan ini memerlukan pendekatan yang tepat. Keith Elford mengingatkan bahwa gereja memerlukan pendekatan yang tepat dengan cara melibatkan anggota gereja dalam proses pengambilan keputusan tentang pelayanan tetapi juga mendorong pemimpin gereja untuk arif mengarahkan proses itu sesuai prinsip-prinsip yang benar. 29 Sebagai gereja yang dinamis, ketegangan itu dapat berporos pada salah satu bagian, sesuai dengan emergensi situasi yang menuntut keluwesan dari para pemimpin dalam membuat kebijakan. Tensi dialektika ini selalu menyesuaikan diri sesuai dinamika Yohanes Calvin. Institutio. Pengajaran Agama Kristen, 232. Ibid. , 240. Elford. Creating The Future of the Church: A Practical Guide to Addressing WholeSystem Change, 100Ae101. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. Karena itu dibutuhkan keluwesan dalam mengimplementasikan prinsip. ( Santy Sahartia. presbiterial-sinodal supaya gereja terus menerus mengoreksi dan merekonstruksi pendekatannya dengan tepat. Peran para pemimpin gereja dalam perencanaan pelayanan juga perlu direkonstruksi, sebab dalam sistem presbiterial-sinodal mereka adalah pemimpin yang akan membuat keputusan-keputusan yang mengikat seluruh anggota gereja. Elford mengemukakan bahwa gereja perlu membentuk sebuah tim perencana yang bekerja secara profesional untuk menganalisis berbagai aspirasi dan trend dinamika yang terjadi dalam keseharian jemaat. Tim bertanggung jawab juga untuk membuat analisis yang tepat berdasarkan data, aspirasi, dan trend pelayanan untuk menetapkan prioritas pelayanan. Tim ini bertugas khusus sebagai perumus yang mengelaborasi seluruh aspirasi anggota gereja dapat memudahkan para pemimpin untuk mempelajari dan menilai berbagai kebutuhan pelayanan sebelum ditetapkan sebagai hal yang mengikat dalam gereja. Gereja-gereja Protestan yang berada di kota-kota besar masa kini juga mengalami banyak kendala yang berkaitan dengan partisipasi anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan. Koneksitas antar anggota gereja dalam komunitas terlihat dalam seremoni ibadah namun sering tidak terlihat dalam penataan organisasi gereja. Proses persidangan gerejawi yang menjadi ciri khas gereja Calvinis yang partisipatif tidak dimanfaatkan oleh banyak anggota gereja. Dalam pengamatan penulis, tantangan ini terjadi pada hampir sebagian besar gereja Protestan yang memiliki jumlah anggota yang sangat banyak. Persidangan gerejawi akhirnya menjadi seremoni organisasi sebab proses partisipatif anggota gereja untuk menyampaikan aspirasinya terkendala pada waktu, tempat dan metode penjaringan aspirasi oleh para presbiter. Kehadiran anggota gereja dalam persidangan sangat tidak representatif karena dibutuhkan alokasi waktu yang cukup untuk menyampaikan aspirasi. Tempat pelaksanaan persidangan yang terbatas juga menjadi salah satu faktor keengganan anggota gereja hadir dalam persidangan Pada beberapa jemaat besar, dilakukan penunjukan beberapa anggota gereja dari kelompok-kelompok pelayanan dan kategorial, namun hal ini pun masih dianggap tidak efektif karena kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dengan durasi yang singkat tidak dapat menjadi tempat berbagi pengalaman dan Persidangan jemaat tidak lagi berfungsi sebagai tempat mencari kehendak Allah dan mendengarkan kebutuhan anggota gereja. Ibid. , 115Ae16. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Gereja patut beradaptasi dengan tepat terhadap pergeseran di sekitarnya. Cole menyatakan bahwa pendekatan-pendekatan yang dinamis perlu terus terjadi. menyebutkan lima bentuk pergeseran pemahaman tentang kepemimpinan dan partisipatif yang menjadi ciri gereja yang sehat dan organik yaitu: . from control to order, yaitu kepemimpinan yang bergeser dari kekuasaan kepada pendekatan yang persuasif, . from cosmos to kingdom, yaitu orientasi pelayanan yang tidak bersifat duniawi melainkan berdasarkan prinsip Kerajaan Allah, . from management to engagement, yaitu berfokus kepada keterlibatan semua anggota ketimbang pada keberhasilan manajerial para pemimpin gereja, . from position to submission, yaitu kesadaran untuk memimpin dengan cara melayani yang nyata dalam karakter baik para pemimpin dan anggota gereja, dan . from self-interest to selflessness, yaitu menepis kepentingan pribadi dengan cara memberi ruang kepada orang lain untuk terlibat sesuai kapasitasnya demi kepentingan Bersama. 31 Cole menawarkan pendekatan pelayanan dengan membangun jejaring . dalam bentuk kelompok-kelompok kecil 32 . Jejaring pelayanan yang melampaui batasbatas ruang dan waktu dapat meningkatkan relasi yang akrab antara seorang anggota gereja dengan sesama anggota lainnya sebagai wujud dari relasi antara Kristus dan Mempelai-Nya33. untuk dapat memberi waktu dan tempat yang mampu menampung siapapun secara luas untuk berbagi aspirasi dan belajar bersama. Dengan cara ini demarkasi antara setiap komponen pelayanan dapat semakin Pandangan Cole tentang from engagement not management merupakan sebuah kritik terhadap bentuk penatalayanan gereja yang hanya mengumpulkan anggota gereja pada hari Minggu untuk menjadi anggota yang pasif. 34 Manajemen gereja juga bukanlah sebuah kegiatan yang bersifat administratif semata. karena itu peran manajemen gereja perlu bergeser dari pengelolaan administratif kepada keterlibatan anggota gereja. Gereja menjadi sebuah bisnis yang ditata tanpa keterlibatan anggota gereja. Karena itu Cole menawarkan bentuk partisipasi yang turut serta dalam manajemen gereja melalui jejaring kelompok kecil . Hal ini bukanlah sebuah upaya mengkotak-kotakkan Tubuh Kristus melainkan untuk memungkinkan sesama Tubuh Kristus terkoneksi sebagai sesama murid yang Neil dan Phil Helfer Cole. Church Transfusion: Changing Your Church Organically-From the Inside Out. European University Institute (San Francisco: Jossey Bass, 2. , 116Ae27. Cole. Organic Church. Growing Faith Where Life Happens, 198. Cole. Church Transfusion: Changing Your Church Organically-From the Inside Out. , 132. Ibid. , 16Ae17. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. 35 Cole telah menguji coba mekanisme ini pada ( Santy Sahartia. dan terbukti sangat efektif. Pengalaman tentang efektivitas Cell Group itu dituangkan dalam seluruh Bab Empat buku mereka yang berjudul. AuChurch Transfusion. Changing Your Church Organically-From the Inside Out. Ay Cole dan Helfer menguraikan tentang pengalaman mengelola kelompok-kelompok kecil yang partisipatif di berbagai komunitas yang mereka bangun. Melalui Interaksi yang partisipatif orang-orang yang bergabung dalam kelompok-kelompok kecil, dapat ditemukan berbagai ide segar yang dipakai oleh gereja untuk menjangkau lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam persekutuan dan Jurgen Moltmann juga berpendapat bahwa gereja membutuhkan rekonstruksi dalam sistem bergereja untuk menghindarkannya dari sebuah perkumpulan yang mati dan membatu serta sulit mengidentifikasi dirinya dan kehendak Allah pada Rekonstruksi itu tidak dimulai dari Auakar rumputAy yaitu anggota gereja yang saling terhubung dan bersahabat. 36 Upaya untuk membangun komunikasi yang terkoneksi dan bersahabat hanya dapat terjadi dalam kelompok-kelompok kecil yang terkontrol. Cole juga berpendapat bahwa komunikasi yang jujur dengan alokasi waktu dan ruang yang dapat diakses oleh banyak orang lebih possible dilakukan dalam kelompok kecil. 37 Pengalaman Cole dengan metode kelompok kecil untuk menghimpun dan mendiskusikan aspirasi anggota gereja dalam perencanaan pelayanan telah terbukti efektif. Jika mengacu pada pandangan Cole dan Moltmann itu, terlihat ada sebuah upaya untuk merekonstruksi kembali proses perencanaan pelayanan sebagai tanggung jawab bersama antara presbiter dan anggota gereja. Pola kolaborasi antar anggota gereja yang didorong oleh para presbiter merupakan bentuk yang kembali mengacu pada pola yang dilakukan oleh gereja mula-mula (Efe. 4:11-. Rekonstruksi Partisipasi Perencanaan Pelayanan di Gereja dengan Sistem Presbiterial-Sinodial Penguatan Kelompok-kelompok Kecil dalam Gereja Besar Dari beberapa kajian diatas telah diuraikan tentang perlunya kelompok kecil dalam gereja yang memiliki kuantitas besar yang memudahkan partisipasi anggota Karena itu bentuk rekonstruksi pertama yang ditawarkan adalah penguatan Ibid. , 160. Moltmann. The Church in the Power of The Spirit. A Contribution to Messianic Ecclesoiology, 317. Cole. Church Transfusion: Changing Your Church Organically-From the Inside Out. , 314. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. partisipasi anggota gereja dalam kelompok-kelompok kecil. 38 Kelompok-kelompok kecil yang dibentuk dalam gereja adalah bagian dari gereja yang utuh dan tubuh Kristus. Rekonstruksi ini lebih strategis karena memudahkan komunikasi yang Komunikasi dalam kelompok kecil sangat informal, berbeda dengan mekanisme yang dipakai dalam persidangan resmi dengan suasana yang kaku. Dalam kelompok kecil yang lebih intim, setiap anggota gereja dapat menyampaikan aspirasi secara aman dan terbuka. Pengalaman, pengetahuan, dan pergumulan iman dalam keseharian anggota gereja lebih mudah dikoreksi, dievaluasi dan dibagikan dengan kasih. Melalui kelompok kecil, gereja lebih mudah dan murah menjaring aspirasi yang autentik dan relevan bagi pengembangan pelayanan gereja selanjutnya. Di dalam kelompok kecil itu semua orang dapat berinteraksi bersama sebagai wujud gereja yang berjalan bersama . Patut diakui bahwa setiap jemaat lokal memiliki perbedaan dalam mengelola Perbedaan dalam kebutuhan, anggaran dan strategi atau program. Meskipun demikian pembentukan kelompok kecil dalam gereja dapat dilakukan pada gereja dengan kapasitas jumlah yang kecil hingga sangat besar . ega churc. Setelah melihat begitu banyaknya manfaat dan kendala yang dihadapi, adalah tidak mungkin pembentukan kelompok kecil dapat dilakukan oleh gereja yang berkuantitas besar maupun kecil. Dalam proses perencanaan pelayanan, rekonstruksi dalam kelompok kecil menawarkan dialog yang intens yang diarahkan supaya berdampak bagi pengembangan iman secara pribadi dan komunal40. Oleh karena itu para presbiter dapat mendampingi kelompok agar terhindar dari monolog dan dominasi orang tertentu di saat berdiskusi. Para pendamping dapat mematangkan rumusan aspirasi sebagai refleksi bersama. Para pendamping juga perlu dibekali untuk memiliki keluwesan dalam membangun interaksi yang partisipatif. Peran ini adalah wujud kepemimpinan presbiterial yang berinteraksi dengan anggota gereja. Dengan demikian prinsip presbiterial-sinodal akan sangat terlihat dalam interaksi dalam rekonstruksi kelompok kecil dalam gereja. Amos Hosea. AuFenomena Kelompok Sel (Cell grou. dalam gereja lokal,Ay Diegesis: Jurnal Teologi 3, no. : 9. Joel Arthur dan Rensleigh Chris. AuThe Use Of Online Technologies in The Small Church,Ay South African Journalof Information Management 17 No 1, no. 30 March 2015 . : 1Ae6, doi:doi:10. 4102/sajim. I Wayan Sudarma. Lexie Adin. Kembuan, dan Sudarma. AuPemberdayaan Potensi Jemaat Dalam Membangun Gereja Misioner,Ay Charistheo. Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 1 no 1 . : 95Ae96, doi:https://doi. org/10. 54592/jct. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. Pembentukan kelompok kecil dalam gereja yang memiliki kuantitas besar ( Santy Sahartia. strategi penting untuk membangun relasi yang dekat dan aman, menguatkan iman dan mampu memungkin terjadi komunikasi yang lebih terbuka dan personal. kelompok kecil juga memungkinkan setiap individu diterima dan pemikiran-pemikiran yang berbeda dapat didiskusikan tanpa batas. Komunikasi yang alami dalam kelompok kecil adalah komunikasi dua arah yang interaktif yang sangat jarang terjadi dalam sebuah pertemuan yang besar. Hal ini dapat memperkuat sense of belonging terhadap persekutuan dan pelayanan dari setiap anggota gereja. Kelompok kecil juga dapat membangun jembatan strategis dalam menguatkan struktur gereja. Terdapat beberapa kendala yang sering ditemui pada saat pembentukan kelompok kecil dalam gereja. Beberapa kendala itu dimulai dari komitmen dari masing-masing anggota gereja untuk terlibat dalam diskusi-diskusi yang berkaitan dengan pelayanan. Komitmen dari setiap individu ini dapat didorong oleh para pemimpin gereja. 41 Kendala kedua tersedianya pemimpin kelompok yang terlatih. Gereja perlu secara serius menyiapkan para pemimpin kelompok kecil dalam hal komunikasi dan presentasi, sehingga diskusi yang dibangun di dalam kelompok itu tidak hambar. 42 Kendala ketiga selalu berkaitan dengan resistensi dari beberapa pihak yang muncul karena merasa tidak nyaman berdiskusi dalam kelompok kecil. Resistensi ini biasanya terjadi karena metode seperti ini tidak biasa dilakukan di dalam gereja melainkan di dunia pendidikan dan marketing. Gereja dapat belajar dari perencanaan pada lembaga-lembaga di luarnya untuk menarik hal-hal baik yang telah berhasil dilakukan. Kendala berikutnya mungkin saja muncul karena kekhawatiran bahwa kelompok kecil adalah segregasi komunitas yang mengarah 43 Karena itu habituasi tentang kelompok kecil perlu menjadi sebuah budaya baru dalam gereja. Selanjutnya adalah bentuk komunikasi yang dibangun melalui pendekatan empati berbasis kasih. Pendekatan yang empati dapat menggairahkan setiap orang untuk memunculkan gagasan dalam pelayanan berdasarkan apa yang dialami dan dirasakannya setiap hari. Pelayanan seharusnya menjawab berbagai Felicia Setyono. AuPengaruh Kualitas Komunikasi Interpersonal Pemimpin KelompokSel Terhadap Komitmen Organisasi Anggota Kelompok Sel Di Satelit Holy Gereja Mawar Sharon Surabaya,Ay Jurnal E-Komunikasi 1, no. : 190Ae99. Yakub Hendrawan Perangin Angin. Hikman Sirait, dan Tri Astuti Yeniretnowati. AuKelompok Kecil: Strategi Efektif Bagi Pembinaan Warga Gereja,Ay Manna Rafflesia 9, no. : 93Ae102, doi:10. 38091/man_raf. Matius Umbu Bolu. AuMemanusiakan Sesama Manusia: Sebuah Spiritualitas Laku Beragama yang Egaliter dalam Bingkai Kenosis,Ay Thronos: Jurnal Teologi Kristen 5, no. 105Ae13. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. kebutuhan manusia dan menyentuh bagian jiwa manusia yang terdalam. Maka kebutuhan tentang hal itu harus disampaikan secara terbuka. Hanya dalam kelompok kecil saja proses itu dapat terjadi. Mengefektifkan Penggunaan Teknologi Digital Sebagai Media Partisipatif. Teknologi digital yang canggih adalah rahmat bagi gereja masa kini. Ketersediaannya adalah sebuah peluang sekaligus tantangan dalam pelayanan. Oleh karena itu gereja juga patut beradaptasi dengan gaya hidup masyarakat modern yang telah menggunakan teknologi digital sebagai sarana komunikasi yang efektif, murah dan dapat menjangkau berbagai hal. Penggunaan media digital dalam pelayanan menuntut adaptasi gereja agar meninggalkan mekanisme teknis yang kaku dalam penyelenggaraan pelayanan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip pemerintahan gereja. Pemanfaatan teknologi dalam perencanaan akan berhadapan dengan beberapa kendala yang bersifat teologis. Yang pertama adalah tradisi yang menekankan perjumpaan fisik sebagai perumpamaan yang lebih tinggi nilainya dibandingkan perjumpaan fisik. Dalam pandangan Moltmann telah ditemukan bahwa sikap seperti ini juga dapat digeser dengan memahami gereja sebagai komunitas yang juga bersifat spiritual. Tradisi berjumpa secara fisik memang telah berlangsung pada rentang waktu yang lama. Meskipun persekutuan secara fisik adalah perjumpaan yang juga memiliki nilai, namun teknologi juga telah menggeser pandangan kita bahwa keterlibatan pada masa kini dapat juga menjadi keterlibatan melalui media digital. Gereja dapat memberi pemaknaan baru terhadap keterlibatan secara digital sebagai bentuk keterlibatan yang juga bernilai bagi spiritualitas. Tantangan kedua adalah pemahaman bahwa keterlibatan dalam pelayanan haruslah terjadi dalam ruang dan waktu. Sakralitas ruang dan waktu menjadi bias di era Oleh karena itu pemahaman tentang gereja yang melampaui batasan ruang perlu dibangun sesuai dengan kondisi masyarakat pada masa kini. bahwa dunia digital telah memisahkan manusia secara fisik dan cenderung membentuk sikap individualistis dapat dibantah. 45 Gereja juga adalah persekutuan dengan yang tidak terlihat dan tidak terjangkau. Karena itu keterpisahan fisik bukanlah sebuah kendala bagi era digital. Ricky Joyke Ondang dan Samuel Rafly Kalangi. AuPemanfaatan Media Digital dalam Pelayanan Gerejawi,Ay Teleios: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 3, no. : 62Ae 66, doi:10. 53674/teleios. Hersen Geny Wulur dan Herman Titting. AuRelevansi Gereja : Mendorong Pertumbuhan Spiritualitas Generasi Z di Tengah Budaya Individualisme,Ay Apokalupsis 15, no. : 68Ae87. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. Karena itu rekonstruksi kedua yang ditawarkan adalah pemanfaatan teknologi ( Santy secaraSahartia. baik dalam perencanaan pelayanan. 46 Keunggulan teknologi digital adalah dapat diakses oleh anggota gereja di tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, bahkan oleh kelompok insan dengan disabilitas. Pandangan bahwa gereja juga dapat melintasi batas-batas regional itu sesuai dengan pandangan Moltmann bahwa gereja dapat menjadi persekutuan yang supra regional, yaitu melampaui teritori tertentu. 47 Proses penjaringan aspirasi melalui media digital dapat memudahkan anggota gereja mengisi form, menginput data, membuat catatan korektif, dengan cara yang sederhana dan menyenangkan misalnya: kuesioner interaktif, video/audio pernyataan, polling singkat, dan dialog interaktif yang dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Interaksi pelayanan melalui media digital merupakan wujud gereja yang sinodal. Bentuk keterlibatan anggota gereja dalam perencanaan pelayanan melalui penggunaan teknologi digital memiliki keunggulan dalam efisiensi, jangkauan dan dokumentasi data dibandingkan dengan cara manual. Tantangan dari penggunaan media digital adalah tingkat literasi teknologi yang berbeda-beda, kesenjangan digital antar generasi dan resistensi struktur gereja terhadap bentuk partisipatif di ruang virtual yang . belum dirumuskan dalam sistem organisasi gereja48. Rekonstruksi ini dapat berdampak juga pada sistem persidangan gereja secara online yang dilegalkan oleh tata gereja. Persidangan gereja dapat diikuti dan dipantau oleh semua anggota gereja di mana saja. Pendekatan partisipatif melalui media digital ini membutuhkan kemampuan para presbiter untuk terbuka, ramah dan mampu mengelola berbagai perangkat digital secara akurat. Para presbiter bertanggung jawab memastikan penggunaan aplikasi ini dengan baik dan benar. Dengan pengawasan itu para presbiter dapat mewujudkan kepemimpinan mereka. Aplikasi-aplikasi yang memudahkan partisipasi anggota gereja dapat diakses melalui gawai yang dipakai setiap hari oleh manusia pada era ini. Aplikasi seperti google form, mentimeter atau aplikasi poling lainnya juga perlu mempertimbangkan tampilan yang menarik dan tidak membutuhkan keahlian teknis yang tinggi. Hal ini dapat menjadikan partisipasi ini dilakukan dengan mudah dan menyenangkan. Caballero Arquero dan Guillermo Fernando. AuStrategi Gereja Dalam Membangun Pelayanan Kontekstual Bagi Generasi Z di Era Digital,Ay The Way Salvation. Jurnal Teologi dan Kependidikan 4, no. : 8Ae11. Moltmann. The Church in the Power of The Spirit. A Contribution to Messianic Ecclesoiology, 310. Wiryohadi Ferdinand Lisaldy. Heru Cahyono. AuOptimalisasi Peran Gereja dalam Masyarakat 5. 0,Ay Matheo. Jurnal Teologi/Kependetaan 6, no. : 148Ae56. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No2. Des. Membentuk Tim Perencanaan yang Profesional Perencanaan adalah salah satu komponen penting dalam pelayanan. Karena itu mekanisme perencanaan perlu dilakukan secara matang oleh para pemimpin Mereka adalah kunci dari keberhasilan perencanaan itu. 49 Untuk itu struktur gereja dapat dibaharui dengan menghadirkan sebuah tim perencanaan. Tim ini dapat terdiri dari presbiter atau anggota gereja yang mampu menganalisis data, memahami prosedur perencanaan dan memahami penggunaan teknologi. Fungsi utama dari tim ini adalah mengolah seluruh data yang dapat menolong para presbiter dalam merancang program yang tepat sasaran dan berkelanjutan. Kehadiran tim perencanaan tidak saja meningkatkan efisiensi dan akurasi program pelayanan tetapi juga menciptakan suasana dan mekanisme baru bagi gereja yang inklusif dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi masa kini. Para presbiter membutuhkan tim perencana yang dapat diandalkan berdasarkan kapasitas profesional untuk mengolah data dan melakukan analisis sosial yang akurat. 50 Tim ini dibentuk untuk menjadi garda terdepan dalam mengelola data-data aspirasi. Melalui tim ini para presbiter ditolong untuk mengelola berbagai informasi secara objektif dan sistematis sebelum pembuatan keputusan gereja. Tim ini juga seharusnya menjadi sebuah struktur yang melekat pada sebuah organisasi untuk menjamin legalitas pekerjaannya. Ini adalah rekonstruksi struktural yang ditawarkan, untuk memudahkan peran para presbiter dalam gereja. Tugas utama dari tim ini adalah mengamankan seluruh aspirasi anggota gereja itu secara autentik, akurat dan tidak manipulatif. Selanjutnya tim dapat melakukan validasi dan verifikasi data-data dan menganalisisnya. Berdasarkan analisis ini tim sudah dapat memberi berbagai input bagi para presbiter untuk membuat keputusan yang strategis dan transformatif. Hasil akhir yang diharapkan adalah keputusan itu mencerminkan aspirasi yang partisipatif dari seluruh anggota Keuntungan dari terbentuknya struktur ini adalah perencanaan yang terpadu dan terarah berlandaskan kebutuhan nyata yang menjadi aspirasi anggota gereja. Tim ini juga dapat menolong banyak pihak dalam membangun komunikasi yang Pendekatan yang proaktif dan adaptif akan mendorong anggota gereja untuk berpartisipasi dalam perencanaan. Dampak jangka panjangnya adalah Charle F Burns. Cynthia F & Hunt. AuPlanning and Ministry Effectiveness in the Church,Ay Journal of Ministry Marketing & Management 1, no. : 97Ae113, doi:https://doi. org/10. 1300/J093v01n02_08. Lysda Hartaty Huwae. Beni Chandra Purba, dan Budi Kelana. AuPengaruh Budaya Organisasi terhadap Efektivitas Manajemen Gereja,Ay JUITAK : Jurnal Ilmiah Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. : 54Ae68, doi:10. 61404/juitak. Rekonstruksi Partisipasi, . (Leomardus Natu Taku Bess. A(Petrus Yuniant. budaya baru dalam sistem gereja presbiterial-sinodal yang mampu ( Santydengan Sahartia. perkembangan zaman. Simpulan Partisipasi anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan adalah bentuk keterlibatan secara organisasi dan spiritual untuk menguatkan kapasitas para presbiter dalam pengambilan keputusan. Maka perencanaan pelayanan secara partisipatif dimulai dari penguatan kelompok kecil yang oleh para pemimpin gereja, rekonstruksi mekanisme melalui pemanfaatan teknologi digital, dan pembentukan tim perencanaan untuk memperlancar perencanaan. Dengan demikian, keterlibatan . anggota gereja dalam perencanaan pelayanan adalah bagian yang utuh dari pengelolaan . pelayanan secara utuh. Gereja sebagai organisasi juga perlu memberi ruang dan kesempatan kepada organisme . nggota gerej. untuk mengambil bagian penting dalam manajemen Daftar Pustaka