Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Marital Readiness Among Z Generation: Marital Attitudes and Emotional Maturity Icha Herawati1. Dinda Yendra2. Nindy Amita3 1,2,3 Universitas Islam Riau. Jl. Kaharuddin Nst No. Simpang Tiga. Kec. Bukit Raya. Kota Pekanbaru. Riau 28284. Indonesia e-mail: ichaherawati@psy. ABSTRACT Marriage readiness is an essential factor that should be carefully considered before deciding to marry. Individuals who choose to enter marriage are expected to possess emotional maturity and stability, as these aspects significantly contribute to their ability to manage the demands and responsibilities of marital life. This study aims to examine the influence of emotional maturity and marital attitudes on marriage readiness among Generation Z. A quantitative approach using multiple linear regression analysis was applied to data collected from 400 unmarried Generation Z individuals in Pekanbaru City. Indonesia. The results revealed that both emotional maturity and marital attitudes had a positive and significant effect on marriage readiness (R = 0. RA = 0. 414, p < 0. , indicating that 41. 4% of the variance in marriage readiness was explained by the two predictors, while the remaining variance was attributed to other factors. More specifically, emotional maturity ( = 0. 449, p < 0. showed a stronger influence than marital attitudes ( = 0. 372, p < 0. , suggesting that emotional regulation, self-control, and psychological stability play a dominant role in shaping individualsAo readiness for These findings highlight the importance of developing premarital counseling and emotional management programs to help young adults enhance their readiness for a stable and harmonious marital life. Keywords: Marital Readiness. Marital attitudes. Emotional Maturity. Z Generation ABSTRAK Kesiapan menikah merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk Individu yang memilih untuk menikah seharusnya memiliki kematangan dan kestabilan emosional, karena aspek-aspek ini berkontribusi signifikan terhadap kemampuan mereka dalam menjalani kehidupan pernikahan secara dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kematangan emosional dan sikap terhadap pernikahan terhadap kesiapan menikah pada Generasi Z. Penelitian dilakukan terhadap 400 individu Generasi Z yang belum menikah di Kota Pekanbaru dengan menggunakan metode kuantitatif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik kematangan emosional maupun sikap terhadap pernikahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah (R = 0. RA = 0. 414, p < 0. , yang berarti 41,4% variansi kesiapan menikah dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Secara lebih spesifik, kematangan emosional ( = 0. 449, p < 0. memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan sikap terhadap pernikahan ( = 0. 372, p < 0. Hasil ini menegaskan bahwa individu dengan tingkat kematangan emosi yang tinggi dan sikap positif terhadap pernikahan cenderung memiliki kesiapan yang lebih baik untuk membangun hubungan pernikahan yang sehat. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya pengembangan program konseling pranikah dan pelatihan pengelolaan emosi bagi generasi muda guna meningkatkan kesiapan mereka menghadapi kehidupan pernikahan yang stabil dan harmonis. Kata Kunci: Kesiapan Menikah. Marital Attitudes. Kematangan Emosi. Generasi Z Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 FIRST RECEIVED: 2025-03-24 REVISED: 2025-11-09 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 ACCEPTED: 2025-11-10 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-11-12 Corresponding Author: Icha Herawati AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press PENDAHULUAN Berdasarkan data statistik, tren pernikahan di Indonesia terus menurun dalam 10 tahun Penurunan tajam salah satunya terjadi pada tahun 2020-2021. Laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan terdapat 1,74 juta kasus sepanjang tahun 2021. Jumlah tersebut turun 2,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,79 juta kasus. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase remaja belum menikah atau lajang semakin meningkat setiap tahunnya. Di sisi lain, persentase generasi muda yang memutuskan untuk segera menikah semakin menurun. BPS menyebutkan persentase remaja belum menikah mengalami peningkatan sebesar 9,11 poin dari 51,98 persen pada tahun 2011. BPS menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup, terutama dari segi pendidikan dan Kesiapan menikah terdiri dari dua kata, yaitu kesiapan dan menikah. Menurut Kamus Lengkap Psikologi . , kesiapan adalah suatu keadaan seorang individu yang telah siap sedia . untuk bereaksi atau menanggapi suatu hal yang merupakan suatu tingkat perkembangan kematangan atau kedewasaan seseorang. Kesiapan adalah tingkat perkembangan sisi kedewasaan atau kematangan yang dialami oleh seorang individu sehingga hal tersebut membawa dampak yang menguntungkan untuk melakukan suatu aktivitas (Chaplin, 2. Sedangkan menikah adalah hubungan antara pria dan wanita yang diakui di dalam masyarakat yang melibatkan hubungan seksual, adanya penguasaan dan hak mengasuh anak dan saling mengetahui tugas masing-masing sebagai suami dan istri. Keldal & Yldrm . menemukan bahwa usia, usia ideal menikah, waktu perkenalan sebelum menikah berpengaruh terhadap kemauan menikah pada dewasa muda di Turki. Mosko & Pistole . menemukan bahwa religiusitas instrinsik mempengaruhi sikap dan kemauan menikah. Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan, jenis kelamin dan suku berhubungan dengan sikap terhadap pernikahan. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa aspek penting dalam kesediaan menikah di usia dewasa adalah karir. Akhir-akhir ini, dengan banyaknya isu perceraian, banyak Gen Z yang kini memilih untuk tinggal bersama dibandingkan menikah (Kefalas et al. , 2. Studi ini juga menemukan bahwa sejarah keluarga, afiliasi agama, nilai-nilai, proyeksi pendidikan, pendapatan seumur hidup, dan aspirasi karis mempengaruhi pernikahan dan hidup bersama. Pengalaman individu terhadap keluarga sebagai lingkungan pertama dan pemberi dukungan dapat menentukan sejauh mana individu mengambil keputusan untuk menikah (Syamal & Taufik, 2. Kesiapan menikah juga dapat menjadi salah satu indikator penting kualitas tumbuh kembang anak dan keberhasilan keluarga, dimana ketika memasuki jenjang pernikahan calon pengantin juga perlu mempersiapkan peran dan tugas baru termasuk dalam hal pengasuhan anak (Rahmah & Kurniawati, 2. Kesiapan menikah pada dasarnya penting untuk dikaji karena kesiapan menikah merupakan dasar dalam menentukan siapa individu yang akan menikah, kapan pernikahan tersebut dilangsungkan dan mengapa mereka menikah serta Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 bagaimana perilaku mereka kelak dalam hubungan pernikahan (Larson & Lamont, 2. Masalah kesiapan menikah menjadi landasan awal bagaimana kehidupan calon pengantin dalam kehidupan berumah tangganya (Nurainun & Yusuf, 2. Untuk mengetahui kesiapan antara siap atau tidak menikah hendaknya memperhatikan kriteria kesiapan menikah seperti dari aspek kapasitas keluarga, peralihan peran, kompetensi interpersonal dan intrapersonal. Kesiapan menikah juga dapat menjadi salah satu indikator penting terhadap kualitas tumbuh kembang anak dan keberhasilan keluarga, dimana ketika memasuki jenjang pernikahan, calon pengantin juga perlu mempersiapkan peran dan tugas baru termasuk dalam hal mengasuh anak (Rahmah & Kurniawati, 2. Kesediaan menikah sangat penting untuk terbentuknya ikatan pernikahan yang sehat antar pasangan di kemudian hari (Keldal & Yldrm, 2. Pria dan wanita memiliki perbedaan keinginan menikah di Rusia (Voropai et , 2. Kesediaan menikah di kalangan dewasa muda merupakan aspek penting yang menentukan keberhasilan dalam membina hubungan dengan calon pasangannya (Fitria Ningrum et al. , 2. Persepsi kesiapan untuk menikah juga merupakan prediktor signifikan terhadap kepuasan pernikahan di kemudian hari (Larson et al. , 2. Sikap dan perasaan pranikah tentang pernikahan membentuk dasar ekspektasi hubungan. Sebagai ekspektasi suatu hubungan, pesimisme dapat memengaruhi cara seseorang berperilaku dalam hubungan saat ini atau di masa depan dengan pasangannya. Sehingga, sikap terhadap pernikahan dan kesiapan menikah memainkan peran pnting dalam kesiapan pernikahan dan keputasan pernikahan pada sebuah pernikahan. Pasangan yang akan memutuskan untuk menikah harus memiliki kesiapan mental dan emosi yang matang, termasuk emosi yang stabil dan tidak berubah-ubah, dapat mandiri dan bertanggungjawab atas keputusannya, produktif dan kreatif, memiliki tujuan dan arah hidup yang jelas, serta bersikap lebih etis dan religius. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang signifikan dalam membentuk kualitas dan kesiapan pernikahan. Penelitian Putri dan Pertiwi . menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kematangan emosi dan kesiapan menikah pada pemohon dispensasi kawin di Kabupaten Malang. Hasil ini menegaskan bahwa kesiapan menikah tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh tingkat kematangan emosional yang memengaruhi kemampuan individu dalam mengelola konflik, tanggung jawab, dan stabilitas hubungan. Dengan demikian, aspek psikologis seperti pengendalian emosi dan kematangan pribadi perlu diperhatikan dalam membangun kesiapan menikah di kalangan generasi muda. Puspitasari et al. menemukan bahwa kecerdasan emosional mampu menjelaskan hampir setengah variasi kepuasan pernikahan, terutama melalui kemampuan mengelola suasana hati dan menghadapi stres. Temuan ini diperkuat oleh Nurmaya dan Ediyati . yang melaporkan bahwa wanita dengan tingkat kematangan emosion tinggi cenderung lebih puas dalam pernikahan karena mampu mengelola emosi sehingga dapat meninggkat kepuasan pernikahan dengan pasangan. Penelitian selanjutnya oleh Mayangsari et al. juga menegaskan adanya korelasi signifikan antara kematangan emosi dengan penyesuaian perrnikahan pada pasangan muda. Dalam konteks dinamika relasi pasangan. Taringan & Afdal . menemukan bahwa kematangan emosio, bersama dengan dukungan social dan penyesuaian diri, menjadi prediktor penting kepuasan pernikahan pada pasangan muda. Temuan ini memperlihatkan bahwa Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 kematangan emosion bukan hanya sekadar kemampuan intrapersonal, tetapi juga faktor penentu kualitas relasi, penyesuaian pasangan, serta kepuasan pernikahan. Oleh karena itu, penelitian mengenai kesiapan menikah Generasi Z perlu memberi perhatian khusus pada aspek kematangan emosi, mengingat generasi ini menghadapi tantangan kompleks dalam membangun relasi yang stabil dan harmonis di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang cepat. Berdasarkan tinjauan dan penelitian sebelumnya, maka dapat dilihat bahwa penelitian mengenai kesiapan menikah masih sangat diperlukan untuk dilakukan penelitian terbaru khususnya dikaitkan dengan karakteristik generasi Z sekarang ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana kematangan emosi, sikap dan kesiapan pernikahan pada generasi Z. Oleh karena itu, maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya psikologi perkembangan dan psikologi pernikahan. Dan hasil penelitian juga diharapkan dapat dijadikan suatu acuan dalam pembuatan kebijakan mengenai METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk menguji pengaruh kematangan emosi dan marital attitudes terhadap kesiapan menikah pada Generasi Z. Desain dan Sampel Penelitian. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 400 individu Generasi Z yang belum menikah dan berdomisili di Kota Pekanbaru. Teknik purposive sampling digunakan untuk memastikan bahwa responden memenuhi kriteria yang telah ditentukan, yaitu individu yang berusia 18Ae29 tahun, belum pernah menikah, dan memiliki pengalaman dalam menjalin hubungan romantis. Instrumen Penelitian Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri dari tiga skala utama, yaitu: Skala Kematangan Emosi diukur dengan menggunakan skala yang diadaptasi berdasarkan aspek-aspek kematangan emosi dari Katkovsky dan Gorlow mengukur aspek kestabilan emosi, pengendalian diri, dan kemandirian dalam menghadapi situasi emosional yang kompleks. Skala Sikap terhadap Pernikahan Ae The Marital attitudes Scale (MAS) dari Braaten dan Rosen . dengan 23 aitem untuk mengukur kesiapan individu dalam aspek emosional, psikologis, sosial, dan ekonomi sebelum memasuki pernikahan. Skala Kesiapan Menikah Ae Marriage Readiness Scale dari (Shemila & Manikandan, 2. dengan 28 aitem untuk mengukur Kesiapan Setiap skala diadaptasi dari instrumen penelitian sebelumnya yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Skala ini menggunakan skala Likert dengan rentang skor 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui Google Forms, yang disebarkan melalui media sosial dan jaringan komunitas di Pekanbaru. Sebelum mengisi kuesioner, responden diberikan lembar persetujuan partisipasi . nformed consen. yang menjelaskan tujuan penelitian, hak partisipan, dan jaminan kerahasiaan data. Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kontribusi masingmasing variabel bebas . ematangan emosional dan sikap terhadap pernikaha. terhadap variabel terikat . esiapan menika. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah p < 0,05, dengan uji asumsi klasik seperti uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas untuk memastikan keakuratan hasil analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Bagian ini menyajikan temuan utama dari penelitian yang dilakukan untuk menguji pengaruh kematangan emosi dan marital attitudes terhadap kesiapan menikah pada Generasi Z di Kota Pekanbaru. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda untuk menentukan sejauh mana kedua variabel bebas berkontribusi terhadap kesiapan menikah. Hasil analisis deskriptif dan inferensial disajikan secara sistematis guna memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Untuk penelitian kuantitatif bagian hasil berisi statistika deskriptif, hasil uji asumsi, dan hasil uji hipotesis serta kategorisasi data. Berikut deskripsi responden penelitian: Tabel 1. Deskripsi Demografi Identitas Jenis Kelamin Status Berhubungan Pendidikan Terakhir Status Pekerjaan Status Pendapatan/Keuangan Deskripsi responden Wanita Pria Total Lajang/Single Berpacaran/Punya Pasangan Frekuensi Persentase 68,75 31,25 Total SMA/SMK Sederajat Diploma (D. Strata 1 (S. Strata 2 (S. Total Tidak Bekerja Bekerja Total < 500. 000 Ae 1. 000 Ae 3. 000 Ae 5. > 5. Total 60,25 5,25 19,75 11,75 Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa responden dalam penelitian ini berjumlah 400 orang dengan rentang usia 20-29 tahun. Berdasarkan data demografi tersebut, responden wanita merupakan responden terbanyak dalam kategori jenis kelamin yaitu berjumlah 275 responden atau sama dengan 68,75% dari total responden, pada kategori pendidikan terakhir didominasi oleh SMA/SMK Sederajat dengan responden sebanyak 241 responden atau sama dengan 60,25% dari total responden, selanjutnya diketahui bahwa lajang/single mendominasi kategori status berhubungan dengan responden sebanyak 262 Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 responden atau sama dengan 65,5% dari total responden, responden yang tidak bekerja merupakan responden terbanyak dalam kategori status pekerjaan yaitu sebanyak 238 responden atau sama dengan 59,5% dari total responden, dan pada kategori status pendapatan/keuangan dengan rentang pendapatan < 500. 000 merupakan status pendapatan/keuangan terbanyak dalam kategori ini dengan responden sebanyak 132 responden atau sama dengan 33% dari total Sikap Terhadap Pernikahan Kesiapan Menikah Usia Ideal untuk menikah Tabel 2. Kesiapan Menikah Deskripsi responden Siap Menikah Tidak siap untuk Menikah Belum memikirkan menikah Total >23 thn . >25 thn . Tidak ada target Yang paling penting disiapkan sebelum Tujuan Pernikahan Hal yang ditakutkan dalam pernikahan Total Mental & psikologis Finansial & karir Ilmu & pendidikan Pasangan yang tepat Total Ibadah Pasangan Hidup Membahagiakan Orangtua Total Perceraian Masalah Ekonomi Perselingkungan KDRT Ketidaksiapan menjadi orangtua Total Frekuensi Persentase Berdasarkan data deskriptif mengenai kesiapan menikah, ditemukan bahwa sebagian besar subjek menyatakan tidak siap untuk menikah sebanyak 48%, subjek juga setuju bahwa usia yang ideal untuk menikah adalah >23 tahun untuk perempuan dan >25 tahun untuk lakilaki. Selanjutnya sebanyak 37% subjek menyatakan keadaan mental dan psikologis adalah faktor yang penting disiapkan sebelum menikah. Adapun makna pernikahan bagi 37% subjek sebagian besar adalah sebagai sarana ibadah dan sebagai pencarian pasangan hidup. Selanjutnya, 27% subjek menyatakan perceraian adalah hal yang ditakutkan dalam pernikahan dan juga masalah ekonomi . %). Variabel Kematangan Emosi Sikap terhadap Pernikahan Kesiapan Menikah Tabel 3. Kategorisasi Responden Tingkatan Responden Rendah Sedang Tinggi Berdasarkan tabel diatas, tingkat kematangan emosi subjek pada penelitian ini mayoritas berada pada tahap rendah yaitu sebanyak 36%, selanjutnya mayoritas sebanyak 35% responden berada pada tahap yang sedang pada sikap terhadap pernikahan dan juga tahap sedang sebanyak 37% para variabel kesiapan menikah. Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 Variabel Kesiapan Menikah Marital Attitudes Kematangan Emosi E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Antar Variabel Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara sikap terhadap pernikahan dan kesiapan menikah . = . 578, p < . , yang berarti semakin positif pandangan individu terhadap pernikahan maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan dirinya untuk menikah. Nilai korelasi sebesar 0. 578 tergolong sedang kearah kuat, menandakan hubungan yang bermakna secara praktis. Selain itu, kematangan emosi juga menunjukkan hubungan positif yang signifikan dengan kesiapan menikah . = . 612, p < . , dengan kekuatan korelasi yang lebih tinggi dibandingkan sikap pernikahan. Hal ini menegaskan bahwa kemampuan individu dalam mengelola emosi merupakan faktor penting yang meningkatkan kesiapan menikah, menjadikan aspek emosional sebagai prediktor dominan dalam kesiapan Selanjutnya, terdapat pula hubungan positif dan signifikan antara kematangan emosi dan sikap terhadap pernikahan . = . 534, p < . , yang menunjukkan bahwa individu yang matang secara emosi cenderung memiliki pandangan yang lebih positif terhadap pernikahan karena memiliki kontrol diri dan kestabilan afektif yang baik. Prediktor (Konstant. Marital Attitudes Kematangan Emosi Tabel 5. Hasil Uji Regresi SE B Ai Sig. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa baik sikap terhadap pernikahan maupun kematangan emosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan menikah pada Generasi Z. Nilai konstanta sebesar 5. 217 menunjukkan tingkat dasar kesiapan menikah yang dimiliki individu meskipun tanpa pengaruh kedua variabel prediktor. Koefisien regresi untuk marital attitudes (B = 0. 324, = . 372, t = 5. 226, p < . menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu unit sikap positif terhadap pernikahan akan meningkatkan kesiapan menikah 324 poin, yang berarti semakin positif pandangan individu terhadap pernikahan maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan dirinya untuk menikah. Sementara itu, kematangan emosi memiliki pengaruh yang lebih kuat dengan nilai B = 0. 415, = . 449, t = 7. 155, dan p < . menunjukkan bahwa individu yang mampu mengelola emosi, menahan impuls, serta menghadapi konflik dengan cara yang dewasa akan memiliki kesiapan menikah yang lebih Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi merupakan prediktor paling dominan dalam model ini, menegaskan bahwa kesiapan menikah tidak hanya dipengaruhi oleh sikap positif terhadap pernikahan, tetapi juga oleh kestabilan emosional dan kemampuan individu mengelola dinamika hubungan secara matang. Model Tabel 6. Hasi Uji Hipotesis R Square Adjusted R Square Std. Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Berdasarkan hasil ujian regresi berganda, ditemukan bahwa pengaruh kematangan emosi dan sikap terhadap terkahwinan terhadap kesiapan menikah, besarnya persentase pengaruh variabel dapat diketahui melalui nilai koefisien determinasi. Dari hasil output model summary di dapat nilai R2 (Adjusted R Squar. 411, jadi sumbangan pengaruh variabel independen kematangan emosi dan sikap terhadap perkahwinan sebesar 41% terhadap variabel dependen kesiapan menikah, sedangkan sisanya sebesar 59% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Pembahasan Berdasarkan hasil temuan dilapangan, ditemukan bahwa terdapat pengaruh kematangan emosi dan sikap terhadap pernikahan terhadap kesiapan menikah pada generasi Z. Adapun secara keselurahan, ditemukan juga sikap generasi Z terhadap pernikahan belum siap untuk Secara keselurahan, mayoritas subjek pada penelitian ini merupakan generasi Z yang baru memasuki usia 20tahunan yang dianggap sebagai tahapan dewasa awal. Sehingga ditemukan bahwa kecerdasan emosi dan kesiapan menikah subjek penelitian mayortias pada tahap rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian (MeizaraPuspitaDewi & Maulidya Jalal, 2. bahwa kecerdasan emosi dan kesiapan menikah sangat dipengaruhi oleh faktor usia, artinya semakin tinggi usia maka kecerdasan emosi dan kesiapan menikah akan lebih baik. Penelitian ini juga menemukan bahwa kesiapan menikah besar dipengaruhi oleh kematangan emosi dan sikap terhadap pernikahan. Hal ini sejalan dengan Fitriani dan Handayani . yang menyatakan terdapat hubungan positif antara tingkat kematangan emosi dengan tingkat kesiapan menikah. Hubungan antara kematangan emosi dengan kesiapan menikah memiliki prinsip dasar yaitu pasangan dengan kesiapan menikah yang matang dan kestabilan emosi lebih percaya diri dalam menangani permasalahan dalam rumah tangga. Bahwa kesiapan menikah. Mereka akan meninjau kriteria evaluasi kesiapan menikah. Kesiapan Menikah adalah sebuah proses persiapan yang dilakukan oleh pasangan yang ingin menikah guna menghindari konflik serta mencapai pernikahan yang bahagia. Kesiapan pernikahan dapat meningkatkan kualitas sebuah pernikahan. Temuan dari penelitian ini juga didukung oleh Navabinejad et al. yang mengatakan bahwa dengan teori kematangan emosi menunjukkan bahawa keupayaan mengawal, memahami, dan mengekspresikan emosi secara konstruktif adalah faktor penting dalam membentuk sikap perkahwinan yang sihat dan kesiapan untuk membina rumah tangga. Oleh itu, kematangan emosi dapat dianggap sebagai salah satu prasyarat utama dalam membangun kesiapan menikah dalam kalangan Generasi Z yang hidup di tengah perubahan sosial dan emosional yang pesat. Sumbangan yang besar antara kematangan emosi dan sikap terhadap pernikahan dengan kesiapan menikah juga didukung penelitian yang dilakukan oleh Davita . menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kematangan emosi dengan kesiapan menikah pada dewasa awal dengan derajat hubungan yang sangat kuat. Indraswari . juga menunjukkan arah hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosi dengan kesiapan menikah. Salsabila . juga melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa semakin tinggi kematangan emosi maka semakin tinggi pula kesiapan menikah ataupun Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Berdasarkan hasil penelitian oleh Wollny et al. , kecerdasan emosi berperan penting dalam pembentukan sikap perkahwinan yang positif. Individu dengan kematangan emosi yang tinggi menunjukkan kemampuan koping yang lebih baik terhadap tekanan hubungan . yadic copin. , yang selanjutnya meningkatkan kepuasan dan stabilitas hubungan. Hal ini menunjukkan bahawa kematangan emosi tidak hanya berkaitan dengan regulasi diri, tetapi juga dengan kesiapan psikologikal untuk membabngun rumah tangga yang harmonis. Hal ini menegaskan pentingnya kecerdasan emosi dalam membangun daya lenting emosional dan kemampuan mengatasi konflik secara bersama. Bagi Generasi Z yang cenderung berhadapan dengan tekanan sosial dan emosional tinggi, kematangan emosi menjadi asas bagi pembentukan sikap perkahwinan yang matang serta kesiapan dalam mengelola tanggungjawab pernikahan. (Fitria Ningrum et al. , 2. menjelaskan tentang kesiapan pernikahan, bahwa kesiapan pernikahan merupakan suatu hal yang penting bagi setiap pasangan yang akan menikah mengurangi angka perceraian. Kesiapan pernikahan merupakan kemampuan yang dirasakan individu dalam menjalankan peran, tanggung jawab, dan tantangan pernikahan. Usia mempengaruhi kesiapan menikah. Semakin dewasa usia menikah maka semakin baik pula kesiapannya untuk menikah. (Sunarti et al 2012, n. ) menyatakan bahwa adanya perbedaan kesiapan menikah antara laki-laki dan perempuan, dimana kesiapan finansial merupakan faktor kesiapan menikah paling penting bagi pria dan kesiapan emosi merupakan faktor kesiapan menikah paling penting bagi wanita. Syaefuddin . menemukan bahwa konseling Islami berperan signifikan dalam meningkatkan kematangan emosi pasangan yang menikah di usia dini. Dalam perspektif Islam, kematangan emosional merupakan bagian dari tazkiyah al-nafs . enyucian jiw. , yaitu kemampuan individu untuk mengendalikan hawa nafsu, bersabar, dan bertindak dengan kebijaksanaan . dalam menghadapi ujian rumah tangga. Melalui pendekatan konseling Islami yang menekankan nilai-nilai seperti sabar, syukur, musyawarah, dan rahmah . asih sayan. , pasangan muda dapat belajar untuk menata hubungan berdasarkan prinsip sakinah, mawaddah, wa rahmah. Dengan demikian. Islam tidak hanya memandang kematangan emosi sebagai aspek psikologis, tetapi juga sebagai bentuk kematangan spiritual yang penting untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan diberkahi Allah SWT. Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu analisis data yang menggunakan analisis data deskriptif dan regresi sederhana. Hal ini mengakibatkan hasil yang kurang menjelaskan hasil yang kurang relevan dan kurang dalam untuk menjelaskan pengaruh antar variabel secara Terlepas dari keterbatasan yang ada, penelitian ini menyumbangkan kebaruan pada literatur kematangan emosi, sikap terhadap pernikahan dan kesiapan menikah yakni sampel yang berasal dari berbagai status pendidikan dan tidak terbatas pada generasi Z. SIMPULAN Pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kematangan emosi dan sikap terhadap pernikahan terhadap kesiapan menikah. Data penelitian juga menyimpulkan Generasi Z yang menjadi responen penelitian menyatakan belum siap untuk menikah, hal ini dapat dikerakan Generasi Z yang menjadi subjek penelitian juga mayoritas baru memasuki usia tahapan dewasa awal, dan didominasi oleh yang belum bekerja. Hasil penelitian juga menemukan bahwa Faktor keadaan mental dan psikologis adalah faktor yang penting disiapkan Icha Herawati. Dinda Yendra. Nindy Amita: Kesiapan Menikah pada Generasi Z: Marital Attitudes dan Kematangan Emosi Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 sebelum menikah. Generasi Z pada penelitian ini juga menyatakan bahwa perceraian dan permasalahan ekonmi adalah hal yang ditakutkan dalam pernikahan. Terdapat beberapa rekomendasi yang didapati dari hasil penelitian ini, terutama bagi individu yang akan menikah. Bahwa perlu ditingkatkan kesiapan menikah khususnya dengan meningkatkan kematang emosi serta memiliki sikap positif terhadap pernikahan guna mengurangi permasalahan pada kehidupan rumah tangga nantinya. Bagi pihak kantor urusan agama (KUA) juga dapat merujuk pada penelitian ini untuk memberi bekal meningkatkan ilmu mengenai kesiapan menikah bagi pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan. Penelitian selanjutnya dapat lebih mengeksplorasi dari temuan penelitian ini. Khususnya lebih meneliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sikap generasi Z terhadap Kemudian, penelitian mengenai kesiapan menikah akan menjadi topik yang menarik untuk diteliti lebih lanjut khususnya berkaitan dengan karakteristik generasi Z sekarang ini. DAFTAR PUSTAKA