AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN: 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : 10. 35931/am. PENDIDIKAN TOLERANSI DALAM PERSPEKTIF AL-QURAoAN: ANALISIS IMPLEMENTASI PADA TRI PUSAT PENDIDIKAN Muhammad Najib Asfa Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin najibasfa1510@gmail. Abd. Basir Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin abdulbasir@uin-antasari. Abstrak Pendidikan toleransi adalah fondasi penting untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat yang majemuk. Namun, laporan survei SETARA Institute . mengungkap bahwa meskipun 70,2% siswa SMA memiliki sikap toleran, terdapat 24,2% yang masuk kategori intoleran pasif, 5% intoleran aktif, dan 0,6% berpotensi terpapar radikalisme. Selain itu, 33% siswa mendukung tindakan membela agama hingga mati, dan 56,3% menyetujui syariat Islam sebagai landasan negara. Fakta ini menunjukkan adanya ancaman nyata terhadap nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman. Islam, melalui Al-Qur'an, memberikan panduan komprehensif mengenai toleransi sebagai nilai utama dalam kehidupan sosial. Artikel ini mengkaji konsep pendidikan toleransi dalam Al-Qur'an melalui analisis ayat-ayat Al-Hujurat ayat 13. Al-Baqarah ayat 256. Surah AlKafirun, dan Al-Maidah ayat 8. Fokus utamanya adalah implementasi nilai-nilai tersebut dalam Tri Pusat Pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat, sebagai strategi pendidikan holistik. Dengan metode studi literatur dan pendekatan tafsir tematik, kajian ini menunjukkan bahwa sinergi Tri Pusat Pendidikan berbasis nilai Qur'ani dapat menjadi solusi strategis dalam menghadapi ancaman intoleransi serta membangun generasi yang inklusif, berkeadaban, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Hasil penelitian adalah Pendidikan toleransi memerlukan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga menanamkan toleransi sejak dini melalui keteladanan, sementara sekolah mengintegrasikan nilai-nilai Qur'ani dalam kurikulum dan menciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan. Masyarakat memperkuat nilai ini melalui kegiatan sosial. Dengan pendekatan ini, pendidikan toleransi berbasis Al-Qur'an dapat membentuk generasi yang memahami dan menerapkan nilai keberagaman dalam kehidupan. Kata kunci: Pendidikan Toleransi. Al-Qur'an. Tri Pusat Pendidikan Abstract Tolerance education is an important foundation for maintaining harmony in a pluralistic society. However, the SETARA Institute survey report . revealed that although 70. 2% of high school students have a tolerant attitude, 24. 2% are categorized as passively intolerant, 5% are actively intolerant, and 0. 6% are potentially exposed to radicalism. In addition, 33% of students support the act of defending religion to the death, and 56. 3% agree with Islamic law as the foundation of the state. This fact shows a real threat to national values and diversity. Islam, through the Qur'an, provides comprehensive guidance on tolerance as a primary value in social life. This article examines the concept of tolerance education in the Qur'an through an analysis of the verses of Al-Hujurat verse 13. Al-Baqarah verse 256. Surah Al-Kafirun, and Al-Maidah The main focus is the implementation of these values in the Three Centers of Education: family, school, and society, as a holistic education strategy. With the method of literature study and thematic interpretation approach, this study shows that the synergy of the Three Centers of Education based on Qur'anic values can be a strategic solution in facing the threat of intolerance and building a generation that is inclusive, civilized, and has high social awareness. The results of the study are that tolerance education requires synergy between family, school, and society. Families instill tolerance from an early age through Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan role models, while schools integrate Qur'anic values into the curriculum and create an environment that respects differences. Society strengthens this value through social activities. With this approach, tolerance education based on the Qur'an can form a generation that understands and applies the values of diversity in Keywords: Tolerance Education. Al-Qur'an. Three Centers of Education A Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan keberagaman budaya, agama, dan suku yang luar biasa Keberagaman ini, meskipun merupakan anugerah, sering kali menjadi sumber konflik jika nilai-nilai toleransi tidak tertanam dengan baik dalam masyarakat. Laporan terbaru dari SETARA Institute pada tahun 2023, yang memfokuskan pada tingkat toleransi siswa SMA di lima kota besar di Indonesia, mengungkapkan data yang memprihatinkan. Meskipun 70,2% siswa dikategorikan sebagai toleran, sebanyak 24,2% masuk dalam kategori intoleran pasif, 5% sebagai intoleran aktif, dan 0,6% berada pada potensi terpapar radikalisme. Lebih jauh lagi, tren menunjukkan adanya peningkatan dalam kategori intoleran aktif dari 2,4% pada tahun 2016 menjadi 5% pada tahun 2023. Hal ini menegaskan adanya tantangan serius dalam membangun generasi muda yang toleran. Kecenderungan intoleransi ini juga terlihat dalam beberapa aspek ideologis. Sebanyak 51,8% siswa setuju bahwa negara Barat dianggap sebagai ancaman terhadap agama dan budaya Indonesia, dan 33% siswa menyatakan siap membela agama hingga titik pengorbanan nyawa. Data ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemajuan dalam jumlah siswa toleran, akar intoleransi masih kuat di beberapa segmen, terutama yang dipengaruhi oleh pemahaman agama, aktivitas media sosial, dan kondisi sosial ekonomi. Islam melalui Al-Qur'an telah menawarkan solusi melalui ajaran toleransi yang komprehensif, seperti yang tercantum dalam Surah Al-Hujurat ayat 13. Al-Baqarah ayat 256. Surah Al-Kafirun, dan Al-Maidah ayat 8. Nilai-nilai ini memberikan dasar yang kokoh untuk membangun masyarakat yang adil dan saling menghargai. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi Salah satu pendekatan strategis adalah mengintegrasikan nilai-nilai Qur'ani ke dalam Tri Pusat Pendidikan, sebagaimana yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang mencakup pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Namun, penelitian yang secara spesifik menghubungkan nilai-nilai Qur'ani dengan implementasinya dalam Tri Pusat Pendidikan masih sangat terbatas. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan tersebut Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan melalui analisis pesan toleransi dalam Al-Qur'an serta strategi penerapannya dalam Tri Pusat Pendidikan. Diharapkan, kajian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi tantangan intoleransi dan menciptakan generasi yang inklusif, berkeadaban, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. TINJAUAN PUSTAKA Pendidikan Toleransi Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Dalam konteks kehidupan yang penuh keberagaman, pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. Soerjono Soekanto memberikan definisi toleransi adalah suatu sikap yang merupakan perwujudan pemahaman diri terhadap sikap pihak lain yang tidak Walzer dalam bukunya yang berjudul On Toleration sebagaimana dikutip oleh Kustini menyebutkan bahwa terdapat tiga syarat toleransi, sebagai berikut:4 Ada hal yang tidak disukai dari orang atau kelompok tertentu. Ketidaksukaan itu bisa jadi sikap, perilaku, cara beribadah, cara berniaga, dan seterusnya. Toleransi datang dari pihak yang dominan atau yang punya kuasa untuk menindas. Pihak tak berdaya tidak masuk ke dalam wacana toleransi karena mereka sudah dengan sendirinya akan menghormati pihak berkuasa karena mereka tak berdaya. Pihak dominan atau berkuasa tersebut menahan diri untuk membinasakan, mengenyahkan, menghilangkan, meminggirkan, memojokkan, dan seterusnya. Republik Indonesia. AuUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan NasionalAy . Amos Neolaka dan Grace Amialia A. Neolaka. Landasan Pendidikan: Dasar Pengenalan Diri Sendiri Menuju Perubahan Hidup (Depok: Kencana, 2. , h. Soerjono Soekanto. Kamus Sosiologi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1. , h. Kustini. Monografi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia (Jakarta: Litbang Diklat Press, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Toleransi adalah menghargai dan menghormati perbedaan antara individu atau kelompok yang hidup berdampingan dalam suatu lingkungan masyarakat dan memiliki kepentingan bersama. Ada dua bentuk toleransi, yaitu toleransi agama dan toleransi sosial. Toleransi agama adalah ketika seseorang menghormati keyakinan agama orang lain dan tidak menghalangi mereka untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Di sisi lain, toleransi sosial merupakan sikap saling menghargai, tidak bersikap diskriminatif, dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam konteks kehidupan sosial, tanpa memandang perbedaan agama, budaya, atau faktor lainnya, dengan tetap mematuhi batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh keyakinannya. 6 Dalam Al-Qur'an, toleransi bukan hanya nilai universal tetapi juga perintah moral yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Arab modern, toleransi disebut dengan al-tasaamuh atau al-samaahah. Berasal dari kata samaha yang maknanya berkisar pada. berbaik hati dan memberi secara dermawan dan dengan niat mulia. taat dan tunduk. kelapangan hati. Dalam al-QurAoan tidak pernah terdapat kata tasamuh/toleransi secara tersurat hingga kita tidak akan pernah menemukan kata tersebut termaktub di dalamnya. Namun, secara eksplisit al-QurAoan menjelaskan konsep toleransi dengan segala batasan- batasannya secara jelas dan gambling. Oleh karena itu, ayat-ayat yang menjelaskan tentang konsep toleransi dapat dijadikan rujukan dalam implementasi toleransi dalam Toleransi dalam beragama bukan berarti kita hari ini boleh bebas menganut agama tertentu dan esok hari kita menganut agama yang lain atau dengan bebasnya mengikuti ibadah dan ritualitas semua agama tanpa adanya peraturan yang mengikat. Akan tetapi, toleransi beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan kita akan adanya agama-agama lain selain agama kita dengan segala bentuk sistem, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama masing-masing. Konsep toleransi yang ditawarkan Islam sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelitbelit. Namun, dalam hubungannya dengan keyakinan . dan ibadah, umat Islam tidak mengenal kata kompromi. Ini berarti keyakinan umat Islam kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain terhadap tuhan-tuhan mereka. Demikian juga dengan tata cara Bahkan Islam melarang penganutnya mencela Tuhan-Tuhan dalam agama manapun. Muhammad Sahal. Akhmad Arif Musadad, dan Muhammad Akhyar. AuTolerance in Multicultural Education: A Theoretical Concept,Ay International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding 5, no. Mei 2. : h. 119, https://doi. org/10. 18415/ijmmu. Achmad Nur Salim. AuPenanaman Nilai Toleransi Antar Umat Beragama di Kalangan Masyarakat Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman,Ay Repository Universitas PGRI Yogyakarta, 2017, http://repository. id/id/eprint/1721. Muhammad Jayus. AuToleransi Dalam Perspektif Al QurAoanAy. Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu alQur'an dan al-Hadits 9, no. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Maka kata tasamuh atau toleransi dalam Islam bukanlah Aubarang baruAy, tetapi sudah diaplikasikan dalam kehidupan sejak agama Islam itu lahir. Dari berbagai pandangan yang telah diuraikan, terlihat bahwa toleransi merupakan nilai yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam konteks keberagaman agama dan sosial. Pendidikan memegang peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi ini, karena melalui pendidikan, individu diajarkan untuk memahami, menghargai, dan mengaplikasikan konsep toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Proses pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat moralitas dan kesadaran sosial, sehingga peserta didik mampu menjadi pribadi yang menghormati perbedaan dan menjaga harmoni dalam Dengan pendidikan yang menanamkan nilai-nilai toleransi, masyarakat yang damai, inklusif, dan saling menghormati dapat diwujudkan sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan prinsipprinsip universal kemanusiaan. Konsep Tri Pusat Pendidikan Tiga pusat pendidikan atau biasa dikenal dengan Tripusat Pendidikan, mengakui adanya pusat-pusat pendidikan yang mempengaruhi proses tumbuh kembangnya seorang anak, tiga pusat pendidikan tersebut, yaitu. Pendidikan dalam lingkungan keluarga, . Pendidikan dalam lingkungan sekolah, dan . Pendidikan dalam lingkungan kemasyarakatan. Oleh sebab itu, pembentukan karakter bangsa anak usia sekolah dasar melalui tri pusat pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan, karena dalam pembentukan karakter, perlu adanya pembiasaanpembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang dan konsisten mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan masyarakat sebagai pendukung Ketiga pusat ini harus bersinergi untuk membentuk individu yang berkarakter baik. Keluarga Keluarga dalam Islam, dikenal dengan istilah usrah, nasl. Aoali, dan nasb. Keluarga dapat diperoleh melalui keturunan . nak, cucu, perkawinan . uami, istr. , persusuan dan pemerdekaan. Keluarga . awula dan warg. dalam pandangan antropologi adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk sosial yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerjasama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merawat, dan ssebagainya. Inti keluarga adalah ayah, ibu dan anak. Machful Indra Kurniawan. AuTri Pusat Pendidikan Sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak Sekolah DasarAy. Pedagogia : Jurnal Pendidikan Vol. No. 1 (Februari 2. : h. Abdul Mujib. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2. , h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Sedangkan dalam Undang-Undang, pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. 10 Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses Keluarga mengambil peran penting dalam pendidikan. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak. Pendidkan dalam keluarga sama maknanya dengan pendidikan dalam rumah yang di mulai sejak usia dini. Para ahli pendidikan meyakini, pada tiga tahun pertama usia anak adalah fase pembangunan struktur otak, sedangkan usia tujuh tahun hampir sempurna otak dibentuk. Pada umur-umur tersebut, anak sebagian besar waktunya berada di rumah. Dengan demikian keluarga sangat memberikan pengaruh dalam pembentukan kepribadian yang mendasar seseorang, seiring dengan fase perkembangan otak Sekolah Konsep Pendidikan Sekolah menurut Pendidikan Islam adalah suatu lembaga pendidikan formal yang efektif untuk mengantarkan anak pada tujuan yang ditetapkan dalam Pendidikan Islam. Sekolah yang dimaksud adalah untuk membimbing, mengarahkan dan mendidik sehingga lembaga tersebut menghendaki kehadiran kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang-ruang kelas yang dipimpin oleh guru untuk mempelajari kurikulum Masyarakat Menurut pendidikan Islam, konsep pendidikan masyarakat itu adalah usaha untuk meningkatkan mutu dan kebudayaan agar terhindar dari kebodohan. Usaha-usaha tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai macam kegiatan masyarakat seperti kegiatan keagamaan, pengajian atau ceramah keagamaan, sehingga diharapkan adanya rasa memiliki dari masyarakat akan dapat membawa suatu pembaharuan dimana masyarakat memiliki tanggung jawab terlebihlebih untuk meningkatkan kualitas pribadi di bidang Ilmu, keterampilan, kepekaan perasaan dan kebijaksanaan atau dengan perkataan lain peningkatan ketiga wawasan kognitif, afektif maupun Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Alfauzan Amin. AuSinergisitas Pendidikan Keluarga. Sekolah dan Masyarakat. Analisis Tripusat Pendidikan,Ay At-TaAolim: Media Informasi Pendidikan Islam Vol. 16, no. 1 (Januari 2. : h. Abu Ahmadi. Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , h. Kuntowijoyo. Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Penerbit Mizan, 1. , 228Ae230. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur . ibrary researc. yang berfokus pada kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur'an tentang toleransi, seperti Al-Hujurat ayat 13. Al-Baqarah ayat 256. Surah Al-Kafirun, dan Al-Maidah ayat 8. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh dari buku, artikel, dan jurnal ilmiah yang relevan dengan pendidikan toleransi dan konsep Tri Pusat Pendidikan. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan ayat-ayat yang relevan, analisis makna ayat berdasarkan konteksnya, serta pengintegrasian nilai-nilai tersebut ke dalam konsep Tri Pusat Pendidikan . eluarga, sekolah, masyaraka. Hasil analisis ini disusun untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana nilai-nilai Qur'ani dapat diterapkan dalam pendidikan guna menciptakan masyarakat yang toleran dan harmonis. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai-Nilai Toleransi dalam Al-QurAoan Pendidikan toleransi dalam perspektif Al-Qur'an merupakan salah satu nilai fundamental yang diajarkan Islam untuk menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang Toleransi tidak hanya bermakna menerima perbedaan, tetapi juga menghormati keyakinan, pandangan, dan hak individu lain dalam batas-batas yang tidak melanggar prinsipprinsip keimanan. Al-Qur'an dengan jelas menunjukkan bagaimana umat Islam diarahkan untuk hidup berdampingan secara damai, tanpa memaksakan keyakinan kepada orang lain, sebagaimana tercermin dalam banyak ayat yang menekankan prinsip kebebasan beragama dan penghormatan terhadap perbedaan. Al-Hujurat Ayat 13: Prinsip Kesetaraan dalam Keberagaman Al-Qur'an mengajarkan toleransi dalam konteks sosial melalui Surah Al-Hujurat ayat Ayat ini menyoroti pentingnya kesetaraan manusia di tengah keberagaman suku, bangsa, dan budaya, dengan menekankan bahwa perbedaan tersebut merupakan tanda kekuasaan Allah dan sarana untuk saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. Berikut isi dari Surah AlHujurat ayat 13: aAeOaOacN EIac aacI Ea eC eI aEI aII a aE s acOaIeeO OEe eI aEI aOU acOCa aiOE Ea AaO o a acI a eEI aEI aeI a ecEEA e e a e a a a a a Aa a a e ae A e aa UAae eCO aE eI a acI ecEEa aEaeO UI aaeOA Artinya: Wahai manusia! Sungguh. Kami telah menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh. Allah Maha Mengetahui. Maha teliti. Di dalam memaknai toleransi ini terdapat dua penafsiran tentang konsep tersebut. Pertama, penafsiran yang menyatakan bahwa toleransi itu cukup mensyaratkan adanya sikap membiarkan dan tidak menyakiti orang atau kelompok lain baik yang berbeda maupun yang Sedangkan, yang kedua adalah penafsiran yang menyatakan bahwa toleransi tidak cukup hanya sekedar tidak menyakiti, tetapi harus ada sikap ingin memberi bantuan dan dukungan terhadap keberadaan orang lain atau kelompok lain. Dari berbagai ayat Al-Qur'an yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa ajaran toleransi dalam Islam sangat jelas dan tegas, baik dalam konteks agama maupun sosial. Ayatayat tersebut mengajarkan pentingnya saling menghormati perbedaan keyakinan, kebebasan beragama, serta kesetaraan di tengah keberagaman. Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman adalah ciptaan Allah yang harus diterima sebagai sebuah rahmat. Tujuannya adalah agar manusia saling mengenal, menghormati, dan bekerja sama. Dalam pendidikan keluarga, ayat ini dapat diterapkan dengan menanamkan kepada anak bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah, kecuali berdasarkan ketakwaan. Di sekolah, ayat ini menjadi dasar kurikulum yang inklusif. Sedangkan di masyarakat, ayat ini mendorong penghargaan terhadap perbedaan budaya dan adat. Al-Baqarah Ayat 256: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama Al-Qur'an menekankan prinsip toleransi dalam Surah Al-Baqarah ayat 256. Ayat ini menjadi landasan utama tentang tidak adanya paksaan dalam agama, sebuah konsep fundamental dalam toleransi beragama yang mengakui kebebasan manusia untuk beriman berdasarkan kesadaran, bukan tekanan. Berikut ini penjelasan Surah Al-Baqarah ayat 256: a a e a a a ca AEO aI Ca e ac acacOA AEA a Aa eI aA aa e AE e a I aI Eea aO o Aa aI eI Oac eE aA e aUEaca eO aOOa eI eI aU ecEE Aa aCA e AaE eEaNa a u AA aI aaEa aO ecEEa aeO U aEaeO UIA a AaUEeaeaO Ee aOe eCO aE IeAA Artinya: Tidak ada paksaan dalam . agama (Isla. , sesungguhnya telah jelas . antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang . pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar. Maha Mengetahui. Maskuri Abdullah. Pluralisme Agama dan Kerukunan dalam Keagamaan (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2. , h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Ibnu Katsir dalam menafsirkan atat tersebut menjelaskan: janganlah memaksa seorang pun untuk masuk islam. Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang semua ajaran dan bukti kebenarannya, sehingga tidak perlu memaksakan sesorang untuk masuk ke dalamnya. Orang yang mendapat hidayah, terbuka, lapang dadanya, dan terang mata hatinya pasti ia akan masuk Islam dengan bukti yang kuat. Dan barangsiapa yang buta mata hatinya, tertutup penglihatan dan pendengarannya maka tidak layak baginya masuk Islam dengan paksa. Ibnu Abbas mengatakan Auayat laa ikraha fid dinAy diturunkan berkenaan dengan sorang dari suku Bani Salim bin Auf bernama Al-Husaini bermaksud memaksa kedua anaknya yang masih kristen. Hal ini disampaikan pada Rasulullah SAW, maka Allah SWT menurunkan ayat tersebut. Demikian pula ibnu Abi Hatim meriwayatkan telah berkata bapakku dari Ar bin Auf, dari Syuraih, dari Abi Hilal, dari Asbaq ia berkata. AuAku dahulu adalah abid . amba sahay. Umar bin Kahththab dan beragama nasrani. Umar menawarkan Islam kepadaku dan aku menolak. Lalu umar berkata: laa ikraha fid din, wahai Asbaq jka anda masuk Islam kami dapat minta bantuanmu dalam urusan-urusan muslimin. Ayat ini menegaskan bahwa Islam mengakui kebebasan beragama sebagai hak asasi Dalam keluarga, ayat ini dapat diajarkan melalui dialog yang terbuka dengan anakanak tentang keberagaman agama. Di sekolah, kebebasan beragama harus menjadi prinsip dalam pengelolaan pendidikan lintas agama. Sedangkan di masyarakat, nilai ini mendorong toleransi antar umat beragama. Al-Kafirun Ayat 1-6: Prinsip Toleransi Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai salah satu wujud toleransi. Islam mengajarkan umatnya untuk tetap menghormati hak orang lain dalam memilih dan menjalankan agamanya masing-masing, tanpa kehilangan identitas dan komitmen terhadap ajaran Islam. Prinsip ini terlihat dalam berbagai ayat, termasuk dalam Surah Al-Kafirun, yang menegaskan posisi tegas umat Islam dalam keyakinannya, namun tetap memberikan kebebasan kepada pihak lain untuk menjalankan keyakinannya sendiri. Ayat-ayat ini menjadi dasar penting dalam membangun pola pikir toleran yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Kafirun, sebagai berikut: ao ao ao A aOaEA A aOaE aacI aa U acI aa e a ecA A aOaE aIea eI ea a eO aI aI a ea aA A aE a ea a aI a ea a eO aIA ACa eE eOaOac aN Ee eE aA aeO aIA aA Ea aE eI aOeIa aE eI aOAu AaIea eI ea a eO aI aI a ea aA n AaE aOe aIA Ad-Damsyiqi. Tafsir Al-QurAoan Al-AoAdzim. Juz I, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Artinya: 1. Katakanlah (Muhamma. AuWahai orang-orang kafir! 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, 3. dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, 4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. kamu tidak pernah . menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Ay Surat ini adalah surat Makkiyah, surat yang diturunkan pada periode Makkah, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa, surat ini turun pada periode Madinah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa, surat ini adalah surat penolakan . terhadap seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan yang memerintahkan agar kita tujuan maupun bentuk dan tata caranya. Karena setiap bentuk percampuran dsini adalah sebuah kesyirikan, yang tertolak secara tegas dalam konsep aqidah dan tauhid Islam yang 16 Secara umum, surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama ikrar pemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah . auhid ibada. , kedua ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktik peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Surah ini memberikan panduan untuk menjaga keyakinan masing-masing tanpa memaksakan kepada orang lain. Dalam pendidikan keluarga, nilai ini dapat ditanamkan dengan mengajarkan sikap menghormati keyakinan orang lain. Di sekolah, surah ini menjadi landasan pendidikan agama yang toleran. Sedangkan di masyarakat, surah ini mengajarkan pentingnya hidup berdampingan meskipun berbeda agama. Al-Maidah Ayat 8: Prinsip Keadilan dalam Toleransi Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama dalam menjalin hubungan sosial, termasuk dalam konteks toleransi. Sikap adil menjadi landasan penting agar perbedaan keyakinan dan keberagaman tidak menjadi alasan untuk bertindak zalim atau diskriminatif. Dalam ajaran Islam, toleransi sejati hanya dapat diwujudkan jika didasari oleh keadilan yang kokoh, sehingga hak setiap individu dihormati tanpa memandang perbedaan agama atau Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 8 berikut ini. an aea AeOaOacN Eac aOI eIIaO aEOIaO Ca acO aIacOA AcEE a aN aa aUEe aC e a aOaE eaO aaIIac aE eI aIae aI Ca eOsI a eEO aacaE a e aEaeO a e aEaeOA ae e e e a a e a e A EaEac eC eO naO aOac aCO ecEEa a acI ecEEa aaeOU a a e aIEa eO aIA a AaN aO aCe aA Abu Al-Fida Ismail Ibn Katsir Ad-Damsyiqi. Tafsir Al-QurAoan Al-AoAdzim. Juz VII (Beirut: Darul Fikr, 1. , h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Artinya: 8. Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, . menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena . itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Syekh Muhammad Mutawalli SyaAorawi dalam Tafsir SyaAorawi menjelaskan keadilan yang ingin kamu tegakkan jangan sampai terpengaruh oleh hawa nafsu. Andaikan yang akan dipersaksikan itu adalah musuhmu, ketika itu kamu mesti lebih hati-hati dalam menegakkan keadilan, karena sering terjadi kebencian terhadap seseorang menyebabkan dia tidak berlaku Al-Maidah ayat 8 menegaskan pentingnya prinsip keadilan dalam interaksi sosial, termasuk dalam konteks toleransi. Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berlaku adil kepada semua orang, bahkan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh. Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan adalah landasan utama dalam membangun hubungan antar individu maupun antar umat beragama. Dalam konteks toleransi, ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap zalim atau diskriminatif terhadap orang lain. Sebaliknya. Islam menuntut umatnya untuk tetap bersikap adil dan menghormati hak-hak orang lain, meskipun terdapat perbedaan agama atau keyakinan. Dengan menjunjung keadilan, toleransi yang sejati dapat terwujud, yakni toleransi yang tidak hanya menghormati perbedaan, tetapi juga memastikan perlakuan yang adil terhadap semua pihak. Ayat ini menegaskan bahwa toleransi tidak boleh mengesampingkan keadilan. Dalam keluarga, nilai ini dapat diajarkan melalui teladan orang tua yang adil terhadap anak-anak. sekolah, keadilan menjadi prinsip dalam pengelolaan pendidikan. Sedangkan di masyarakat, keadilan sosial menjadi dasar dalam menciptakan harmoni. Implementasi dalam Tri Pusat Pendidikan Pendidikan toleransi dalam Islam tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan peran aktif dari tiga pusat pendidikan utama, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya memiliki fungsi strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi berdasarkan ajaran AlQur'an, khususnya melalui pemahaman dan pengamalan ayat-ayat seperti Al-Hujurat: 13. Al- Muhammad Mutawalli SyaAorawi. Tafsir SyaAorawi Jilid 3 (Jakarta: Ikrar Mandiriabadi, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Baqarah: 256. Al-Kafirun, dan Al-Maidah: 8. Berikut ini adalah implementasi pendidikan toleransi dalam masing-masing pusat pendidikan: Keluarga Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Pendidikan toleransi yang efektif dimulai dari keluarga, di mana orang tua berperan sebagai pendidik utama yang memberikan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman: "Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal" (QS. Al-Hujurat: . Ayat ini mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan keragaman agar saling menghormati dan memahami satu sama lain. Orang tua dapat mendidik anak sejak dini untuk menghargai perbedaan dan menjunjung nilai keadilan, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Maidah: 8: "Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. " Pendidikan ini dapat dilakukan melalui dialog sederhana tentang pentingnya keadilan dan penghormatan terhadap orang lain, meskipun berbeda keyakinan atau latar belakang. Selain itu, keluarga dapat memberikan contoh nyata, seperti menunjukkan sikap toleran dalam hubungan dengan tetangga yang berbeda agama atau Keteladanan ini akan menjadi dasar kuat bagi anak untuk memahami makna toleransi yang diajarkan Islam. Sekolah Sekolah memiliki peran penting dalam memperkuat nilai-nilai toleransi yang telah ditanamkan di keluarga. Dalam konteks ini, pendidikan toleransi di sekolah dapat diimplementasikan melalui beberapa langkah. Pertama, nilai-nilai Qur'ani tentang toleransi, seperti kebebasan beragama yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 256 ("Tidak ada paksaan dalam . agama"), dapat diintegrasikan dalam kurikulum mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Guru dapat menjelaskan bahwa Islam mengajarkan penghormatan terhadap kebebasan beragama tanpa mencampuradukkan keyakinan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Kafirun: 6: "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Kedua, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan adil, di mana setiap siswa dihargai tanpa diskriminasi atas dasar agama, suku, atau status sosial. Lingkungan seperti ini mencerminkan prinsip keadilan yang terkandung dalam QS. Al-Maidah: 8, sehingga siswa dapat belajar langsung dari pengalaman sehari-hari bagaimana bersikap toleran dan adil terhadap orang lain. Ketiga, sekolah dapat mengadakan kegiatan lintas budaya atau dialog antar agama untuk memperkuat penghargaan terhadap keberagaman. Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan kepada siswa untuk mengenal budaya atau keyakinan lain secara langsung, sehingga mengurangi prasangka dan memperkuat rasa saling memahami. Masyarakat Masyarakat sebagai pusat pendidikan yang lebih luas juga memiliki tanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. Dalam kehidupan bermasyarakat, prinsip keadilan dan kebersamaan harus menjadi landasan utama, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hujurat: 13 dan QS. Al-Maidah: 8. Salah satu bentuk implementasinya adalah mendorong interaksi lintas budaya melalui kegiatan sosial, seperti gotong royong atau acara keagamaan bersama. Kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar umat beragama tanpa mencampuradukkan keyakinan. Selain itu, masyarakat dapat mengedukasi pentingnya toleransi melalui media massa, program keagamaan, atau ceramah-ceramah yang menekankan ajaran Al-Qur'an tentang penghormatan terhadap perbedaan. QS. Al-Kafirun: 1-6 memberikan pedoman penting bahwa hidup berdampingan dengan damai tidak berarti mengorbankan identitas agama. Pesan ini dapat disampaikan secara luas kepada masyarakat agar toleransi dapat diterapkan tanpa melanggar prinsip-prinsip keimanan. Dalam konteks kehidupan modern, masyarakat juga perlu berperan aktif dalam melawan segala bentuk intoleransi, baik dalam tindakan nyata maupun di media sosial. Penegakan prinsip keadilan dan penghormatan terhadap perbedaan yang diajarkan Al-Qur'an harus menjadi panduan utama dalam menciptakan masyarakat yang harmonis. KESIMPULAN Pendidikan toleransi dalam perspektif Al-Qur'an mengajarkan bahwa perbedaan agama dan keyakinan adalah realitas yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia. Al-Qur'an memberikan pedoman tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan menjaga keadilan, sebagaimana tercermin dalam ayat-ayat seperti Al-Hujurat ayat 13. AlBaqarah ayat 256. Surah Al-Kafirun, dan Al-Maidah ayat 8. Nilai-nilai ini menawarkan solusi yang relevan untuk membangun masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman. Implementasi pendidikan toleransi membutuhkan pendekatan yang sistematis melalui Tri Pusat Pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga berperan penting dalam membangun fondasi toleransi sejak dini melalui pembiasaan dan keteladanan. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, dapat mengintegrasikan nilai-nilai Qur'ani tentang toleransi ke dalam kurikulum serta menciptakan lingkungan yang mendukung penghargaan terhadap perbedaan. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab besar untuk memperkuat nilai-nilai ini melalui kegiatan sosial dan program yang mempromosikan keharmonisan. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Muhammad Najib Asfa. Abd. Basir: Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-QurAoan: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Melalui sinergi antara ketiga pusat pendidikan ini, pendidikan toleransi berbasis Al-Qur'an dapat menjadi solusi strategis untuk menciptakan generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai keberagaman, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan masyarakat yang inklusif, adil, dan harmonis dapat terwujud sesuai dengan ajaran AlQur'an. DAFTAR PUSTAKA