Eirene Vol. 10 No. 2, 334-352 (Desember 2. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. UKiP Sorong ISSN 2528-1887 e-ISSN 2540-962X MERITOTORA A CONTEXTUAL THEOLOGICAL STUDY OF THE MERITOTORA CULTURE WITHIN THE GPI PAPUA MERITOTORA SUATU KAJIAN TEOLOGI KONTEKSTUAL TERHADAP BUDAYAMERITOTORA PADA JEMAAT GPI PAPUA Steny Risakotta1,* Yulian Anouw2 *Email : stenlyrisakotta838@gmail. Fakultas Teologi. Program Studi Magister Teologi Universitas Kristen Papua Sorong Fakultas Teologi. Program Studi Magister Teologi Universitas Kristen Papua Sorong ABSTRACT Culture is an element born from human thought, which can be used as a basis for guidance in the life of a traditional and cultured society. A contextual theological study of the culture of meritotora, which is a local value that lives in Papuan society, especially in congregational life in the GPI Papua Karmel Adora Congregation and the GPI Papua Howo-Tab Harada Kayuni Kuagas Congregation. Meritora culture is understood as a system of rewards, recognition, and trust given based on a person's contribution, loyalty, and active role in the social and religious life of the community, specifically in the giving of awards and respect to the nutmeg tree which is believed to give blessings carried out through the Meritotora rite. Therefore, the church needs to develop a critical and transformative contextual theological approach, so that local culture is not only maintained, but also redeemed and directed to support Christ's mission in Papuan society. Keywords: Meritotora Culture. Studies. Theology. Contextual. GPI Papua ABSTRAK Kebudayaan adalah unsur yang terlahir dari pikir manusia, yang dapat dijadikan sebagai dasar pedoman dalam kehidupan Masyarakat yang beradat dan berbudaya. Kajian teologi kontekstual terhadap budaya meritotora, yang merupakan sebuah nilai lokal yang hidup dalam masyarakat Papua, khususnya dalam kehidupan berjemaat di Jemaat GPI Papua Karmel Adora dan Jemaat GPI Papua Howo-Tab Harada Kayuni Kuagas. Budaya meritotora dipahami sebagai sistem penghargaan, pengakuan, dan kepercayaan yang diberikan berdasarkan kontribusi, loyalitas, serta peran aktif seseorang dalam kehidupan sosial dan religius masyarakat, khusus dalam pemberian penghargaan dan penghormatan kepada pohon pala yang dipercayai sebagai pemberi berkat yang dilakukan melalui ritus Meritotora. Oleh karena itu, gereja perlu mengembangkan pendekatan teologi kontekstual yang kritis dan transformatif, agar budaya lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga ditebus dan diarahkan untuk mendukung misi Kristus di tengah masyarakat Papua. Kata Kunci : Budaya Meritotora. Kajian. Teologi. Kontekstual. GPI Papaua PENDAHULUAN Indonesia secara umum dan Papua secara khusus, terkenal dengan banyak sekali keanekaragaman budaya yang memiliki keunikan tersendiri, oleh karena itu Gereja perlu peka dan kritis, dalam menyikapi keunikan tersebut dan tetap melihat keindahan dari budaya yang beragam tersebut. Robert J Schreiter, mengemukakan bahwa untuk mempunyai sikap peka dan terbuka pada kondisi lokal yang ada, maka di butuhkan trategi Eirene Jurnal Ilmiah Teologi dan pengembangan pelayanan yang relevan dalam konteks lokalnya1, dan bukan usaha untuk memasukkan Kristus ke dalamnya. Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Kata kebudayaan dalam Bahasa Indonesia sama dengan Culture dalam Bahasa Inggris yang berasal dari kata Colere yang berarti mengolah dan mengerjakan. Dari makna ini berkembang makna pengertian Culture sebagai segala daya Upaya serta Tindakan manusia untuk mengelola dan mengubah alam. Meritotora adalah salah satu upacara adat Masyarakat Fakfak dalam menyambut panen pala. Masyarakat lokal Fakfak memahami bahwa pohon pala adalah Perempuan yang memberi kehidupan dan Ritus Meritotora juga memiliki makna pemberian penghargaan kepada saudara Perempuan pemilik kebun pala dimaksud, maka Ketika satu keluarga dari Masyarakat Fakfak yang melakukan upacara panen pala maka wajib saudara Perempuan dalam keluarga diikut sertakan dalam dalam acara tersebut. Beberapa penelitian sebelumnya tentang Kabupaten Fakfak yaitu: pertama. Rusyaid, dkk, dalam studi mereka menunjukkan bahwa: . Ada pemahaman yang tertanam dalam masyarakat Fakfak terkait dengan nilai "kekeluargaan atau Sebuah filosofi "Satu Tungku Tiga Batu" dijadikan istilah dan kemudian dikonstruksi menjadi sebuah kearifan lokal. Terdapat tiga bentuk kearifan lokal dalam masyarakat Fakfak terkait "Satu Tungku Tiga Batu" dalam mewujudkan nilai-nilai moderasi beragama, yaitu. saling menghargai, memahami, dan menjaga persaudaraan. Kedua. Penelitian Abd. Rahman, berfokus pada AuSatu Tungku Tiga BatuAy, merujuk pada perspektif toleransi beragama di antara suku-suku asli di Papua di Fakfak. Papua Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat telah mempraktekkan toleransi beragama jauh sebelum barat mempraktekkan konsep toleransi dan multikulturalisme. Penelitian ini diharapkan berkonstribusi menciptakan dunia lebih baik dan lebih aman. 5 Ketiga. Muhammad Ayyub Syamsul . , penelitiannya mengenai nilai-nilai dari semboyan AuSatu Tungku Tiga BatuAy yang dipahami dan diinternalisasi melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Politeknik Negeri Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktualisasi nilai toleransi dalam semboyan AoSatu Tungku Tiga BatuAy turut membentuk pemahaman Mahasiswa dalam menghormati keragaman dan menghargai perbedaan. Robert J Schreiter. Rancang Bangun Teologi Lokal (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 96Ae99. Winfrid Prayogi. AuMencari Esensi Dan Misi Gereja Dalam Konteks Indonesia Awal Abad 21,Ay Verietas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 10, no. Drewes & Julianus Mojau. Apa Itu Teologi? Pengantar Ke Dalam Ilmu Teologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 16Ae17. Syarif Hidayat Nasir Rusyaid Rusyaid. Hermanto Hermanto. AuSatu Tungku Tiga Batu: The Model of Religious Moderation in Fak-Fak Regency. West Papua,Ay Proceedings of the 9th Asbam International Conference (Archeology. History, & Culture In The Nature of Mala. (ASBAM 2. : 657Ae659, https://w. atlantis-press. com/proceedings/asbam-21/125973601. Abd. Rahman. AuSatu Tungku Tiga Batu: One Furnace Three Stones,Ay Journal of Poetry Therapy. Volume Issue Vol . 90Ae92, https://w. com/doi/full/10. 1080/08893675. Muhammad Ayyub Syamsul. AuInternalisasi Nilai Semboyan Satu Tungku Tiga Batu Melalui Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Di Politeknik Negeri Fakfak,Ay CENDEKIA : Jurnal Ilmu Sosial. Bahasa dan Pendidikan Vol. 3, no. No. : 301Ae308. Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . Keempat. Penelitian Eman Wahyudi Kasim . , nilai pendidikan karakter melalui konsep AuSatu Tungku Tiga BatuAy yang terimplementasi di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal AuSatu Tungku Tiga BatuAy memiliki sejumlah nilai-nilai positif pendidikan karakter bagi siswa. 7 Kelima. Penelitian Ngabalin . Berfokus pada penerapan konsep dialog agama menurut Paul F Knitter dan menjelaskan implikasi dari penerapan konsep dialog agama tersebut bagi hubungan antar umat beragama di Kabupaten Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya ruang-ruang dialog dalam masyarakat Fakfak telah memberikan kontibusi keberagaman yang berbasis pada historis masyarakat Fakfak pada satu sisi, namun pada sisi yang lain penulisan ini memberikan penekanan terhadap cara pandang dalam beragama. Tujuan Penelitian adalah untuk Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam makna, fungsi, dan pemahaman jemaat terhadap budaya Meritotora dalam kehidupan Jemaat GPI Papua Karmel Adora dan Jemaat GPI Papua HowoTab Harada Kayuni, serta menganalisis bagaimana budaya tersebut dipraktikkan dan dikontekstualisasikan dalam terang teologi Kristen tanpa bertentangan dengan nilai-nilai Alkitabiah. Penelitian ini juga berupaya mengidentifikasi tantangantantangan dalam implementasi prinsip-prinsip budaya KAJIAN TEORIS Defenisi Teologi Berkaitan dengan pengertian istilah teologi berapa hal dipaparkan lewat pendapat para ahli terkait dengan hal dimaksud seperti di sampaikan dalam beberapa kutipan berikut ini : Menurut Drewes dan Mojau istilah AuteologiAy yang digunakan dalam lingkup Auteologi KristenAy memaknai definisi ilmu teologi sebagai berikut: AuIlmu teologi adalah bidang studi ilmiah yang melayani gereja yang diutus ke dalam duniadalam usahanya untuk memahami dan menghayati karya Allah, sesuai dengan Firman Allah yang hidup. hal ini berarti bahwa ilmu teologi secara kritis meninjau praktik dan misi gereja dalam terang kebenaran Firman AllahAy. (Teologi sebagai suatu studi, yang melalui partisipasi dan refleksi dalam suatu komunitas iman, berusaha untuk menyatakan inti iman di dalam bahasa yang jelas dan yang sepadan mungki. 10 Teologi menurut John tidak semata-mata bersifat spekulatif atau akademis melainkan lahir dari pengalaman iman jemaat, lalu munculah refleksi refleksi kritis supaya dapat memahami dan di mengerti dan di hidupi secara kontestual. Itu berarti pikiran Macquarie secara tegas mau menyatakan bahwa teologi kontekstual atas ritus meritotora bukanlah Upaya asing yang memaksakan makna, setapi merupakan sebuah partisipasi dalam membangun iman Eman Wahyudi Kasim. AuImplementasi Nilai Pendidikan Karakter Melalui Konsep AoSatu Tungku Tiga BatuAo Di Madrasah Ibtidaiyah,Ay Basicedu Vol. 8, no. No. : 206Ae215, https://jbasic. org/index. php/basicedu/article/view/6989. Marthinus Ngabalin. Izak Y. M Lattu. Listiyani. AuKonsep Dialog Agama Menurut Paul F Knitter Dan Implikasinya Bagi Hubungan Antaragama Di Kabupaten Fakfak,Ay https://e-journal. id/index. : 1. Mojau. Apa Itu Teologi? Pengantar Ke Dalam Ilmu Teologi, 19. John A Titaley. Menuju Teologi Agama-Agama Yang Kontekstual: Pidato Pengukuhan Jabatan Fungsional Akademika Guru Besar Ilmu Teologi Di Universitas Kristen Satya Wacana (Salatiga: Satya Wacana University Press, 2. , 3Ae4. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi jemaat dalam refleksi terhadap karya Allah di dalam konteks ritus meritotora sebagai budaya lokal, demi menyatakan injil Kristus. Dari rumusan ini selanjutnya John A. Titaley menggambarkan, bahwa: AuAda dua hal yang menjadi jelas, yaitu partisipasi repleksi dan ekspresi terhadap iman itu. Partisipasi-reflkesi ini mensyaratkan suatu kelanjutan . , sekaligus keterputusan . Kelanjutan karena dia harus bergumul dalam iman yang sudah ada dan bertitik tolak dari iman itu. Melalui teologi yang demikian itu iman Sebenarnya dengan rumusan ini saja sudah dimungkinkan terjadinya suatu teologi yang kontekstual, terutama karena bahasa yang digunakan haruslah bahasa bahasa yang jelas dan sepadan mungkin dari suatu kenyataan berbudaya tertentuAy. Teologi yang melalaikan satu dari kedua ini, akan salah atau sekurangkurangnya akan berat sebelah dan tidak lengkap. Teologi Kontekstual Teologi pada hakikatnya bersifat kontekstual. Artinya, setiap bentuk teologi maupun refleksi teologis tidak pernah lahir di ruang hampa, tetapi selalu dibangun dalam relasi erat dengan konteks sosial, budaya, dan historis tertentu. Pentingnya pesan-pesan injil dan kekayaan tradisi dan pada saat yang sama person penting dari budaya dan berfungsi juga dalam teologi. Kedua, berusaha untuk menggali sumber-sumber budaya dan berbagai ekspresi teologi baik dari sisi metode maupun isi dari artikulasi iman. Ketiga. Mengembangkan suatu kreatifitas yang dialetik dan dapat diterima dalam semua sudut pandang. Menurut R. Schreiter yang ideal untuk suatu Teologi yang sungguhsungguh kontekstual ialah bahwa proses teologi harus dimulai dengan membuka Hanya melalui usaha mencoba dan menangkap suatu budaya secara holistik dengan seluruh kompleksitasnya kita akan berada dalam posisi untuk mengembangkan suatu teologi lokal yang benar- benar tanggap. Menurut Bevans teologi adalah sebuah refleksi iman, akan tetapi tidak hanya dimengerti sebagai sebuah refleksi iman yang menyangkut dua loci theologici . umber berteolog. , yakni: kitab suci dan tradisi, yang isinya tidak bisa berubah, dan berada di atas kebudayaan serta ungkapan yang dikondisikan secara 15 Baginya teologi yang benar adalah kontekstual dan dengan tegas mengatakan tidak ada sesuatu yang disebut teologi, yang ada hanyalah teologi 16 Berteologi yang kontekstual adalah hakekat yang terdalam dari teologi itu sendiri. Bertitik tolak dari apa yang dikemukan Bevans di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa adanya kepelbagaian agama adalah faktor eksternal dalam berteologi, faktor tersebut memberikan sumbangsih yang amat penting, karenanya Titaley. Menuju Teologi Agama-Agama Yang Kontekstual: Pidato Pengukuhan Jabatan Fungsional Akademika Guru Besar Ilmu Teologi Di Universitas Kristen Satya Wacana, 4Ae5. Anjar S Hardiyanti0. Pengantar Ke Teologi Lambaran. Objek-Persoalan Dasar-Metode, (Himpunan. Saduran Dan Suntinga. Untuk Kalangan Sendiri (Salatiga: Falkutas Teologi & PPSAM Universitas Kristen Satya Wacana, 1. , 18. Hardiyanti0. Pengantar Ke Teologi Lambaran. Objek-Persoalan Dasar-Metode, (Himpunan. Saduran Dan Suntinga. Untuk Kalangan Sendiri, 18. Schreiter. Rancang Bangun Teologi Lokal, 47Ae48. Stephen B. Bevans. Model-Model Teologi Kontekstual. Diterjemahkan Oleh: Yosef Maria Florisan (Maumere: Ledalero, 2. , 15. Bevans. Model-Model Teologi Kontekstual. Diterjemahkan Oleh: Yosef Maria Florisan, 1. Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . tidak dapat diabaikan. Sebab di sanalah ada upaya mempertemukan secara dealektis, kreatif serta eksistesial antara AuteksAy dengan AukonteksAy. antara AuKerygmaAy (Inji. yang universal dengan kenyataan hidup yang kontesktual. Jadi, pertama, teologi adalah sebuah disiplin keilmuan, yang tidak berbeda dengan disiplin keilmuan yang lain. Kedua, teologi berarti upaya manusia untuk berkata-kata tentang Allah. Ketiga, teologi adalah upaya penghayatan dan pemahaman manusia beriman tentang Tuhan dan karyaNya dalam hubungan dengan manusia sejauh Allah sendiri menyatakannya. Keempat, teologi sebagai kegiatan bersama orang percaya dengan sesama orang beriman di dalam Gereja Tuhan yang universal dan dilakukan secara kontekstual. Dalam bukunya. Models of Contextual Theology. Bevans menjelaskan adanya lima model teologi kontekstual. Model-model itu perlu digunakan dalam membangun sebuah teologi dengan menempatkan hubungan injil dan tradisi dalam hubungan yang utuh dengan budaya dan perubahan sosial. Bagi Bevans, perubahan sosial dan budaya memiliki pengaruh yang kuat dalam menentukan corak teologi. Model-model itu antara lain, model terjemahan . ranslasi mode. , model antropologis . nthropological mode. , model praksis . raxis mode. , model sintetik . ynthetic mode. dan model transendental . ranscendental mode. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan di sini adalah penelitian diskriptif, yaitu suatu usaha menggambarkan realita masalah sesuai gejala-gejala yang tampak dan fakta yang ditemui. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan selama dua bulan [Mei-Juni 2. dengan lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Fakfak, khusus dijemaat yang menjadi focus kajian yaitu Jemaat GPI Papua Karmel Adora dan GPI Papua Howo-Tab Harada Kayuni Kuagas di Klasis Hiren Kokah Fakfak yang terlibat dalam praktek budaya meritotora. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi ini terdiri dari :Seluruh anggota jemaat. Majelis Jemaat. Tokoh adat, anggota jemaat yang terlibat dalam praktek meritotora di kedua gereja yakni jemaat GPI Papua Karmel Adora dan Jemaat GPI Papua Howoh-tab harada kayuni Serta masyarakat Adora dan Kayuni yang menetap di kota Fakfak. Sedangkan Sampel adalah: Pendeta dan Majelis jemaat masing-masing jemaat 5 Tokoh adat atau tua-tua adat pemangku budaya masing-masing jemaat 4 orang. Jemaat yang pernah mengalami atau terlibat dalam ritus Meritotora, masingmasing jemaat 7 orang. Eka Darmaputera. Konteks Berteologi Di Indonesia. Buku Penghormatan Untuk HUT Ke-70 Prof. Dr. Latuihamallo (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 8Ae9. Abednego. Seputar Teologia Operatif (Jakarta & Yogyakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius, 1. , 14Ae15. Bevans. Model-Model Teologi Kontekstual. Diterjemahkan Oleh: Yosef Maria Florisan, 46-53. Hadari Nawawi. Metode Penelitian Bidang Sosial (Yogyakarta: Gadja Mada University Press, 1. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Teknik Pengumpulan Data : Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: Wawancara Mendalam: Wawancara adalah dialog langsung antara peneliti dengan informan, menggunakan pedoman wawancara terbuka yang sudah disusun. Observasi Partisipatif: Mengamati praktik budaya Meritotora dalam kehidupan gereja dan interaksi antar anggota jemaat. Melalui Observasi partisipatif peneliti terlibat langsung di lapangan sambil melakukan amatan mendalam tentang karakteristik masyarakat di lokasi penelitian dan karakteristik masalah itu sendiri. Analisis Dokumen: Mengkaji dokumen-dokumen gereja terkait ajaran, kebijakan, dan kegiatan yang berhubungan dengan meritotora, menganalisis literatur terkait teologi kontekstual dan budaya Papua. Teknik Analisis Data Data-data yang berhasil dihimpun dianalisa secara kualitatif. Pendekatan analisa kualitatif, oleh Neuman, dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa model, seperti model kesamaan . , dan perbedaan . Model kesamaan, dalam analisa kualitatif dilakukan di mana peneliti membuat gambaran-gambaran rinci mengenai data sosial yang ditemukan, didasarkan pada kenyataan di lapangan. Dari gambaran itu kemudian dibuat beberapa kesimpulan sementara. Kesimpulan itu kemudian diuji lagi dengan data-data baru yang ditemui . ari wawancara lanjuta. Dari pengujian itu dilihat sejauhmana derajat kesamaan, dan alasan mengapa sampai bisa sama. Melalui proses ini, kemudian dirumuskan suatu kesimpulan baru, dengan melihat pada kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN JEMAAT GPI PAPUA KARMEL ADORA Jemaat GPI Papua Karmel Adora memainkan peran strategis dalam membentuk kehidupan spiritual dan sosial masyarakat di Kampung Adora. Di luar fungsi keagamaannya. Jemaat Karmel Adora turut berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal serta pemajuan nilai-nilai adat yang dijalankan oleh masyarakat Mbaham dan Irarutu. Dalam berbagai kegiatan gerejawi maupun peristiwa adat, terjalin kolaborasi yang erat antara pemimpin agama, tokoh adat, dan anggota jemaatAisebuah bentuk sinergi yang menunjukkan keterpaduan antara iman Kristen dan tradisi lokal. Letak geografis jemaat yang berada di kawasan pesisir Teluk Patipi memberikan konfigurasi ekologis dan historis yang khas dalam dinamika sosial Mayoritas anggota jemaat menggantungkan penghidupan dari aktivitas perikanan, budidaya pala, dan usaha ekonomi lokal lainnya. Dalam konteks tersebut, gereja berperan sebagai ruang reflektif dan kritis terhadap tantangan lingkungan dan perubahan sosial kontemporerAitermasuk isu degradasi ekosistem laut, perubahan iklim, dan migrasi pemuda ke wilayah urban. Neuman. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, 418Ae419. Neuman. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, 418. Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . JEMAAT GPI PAPUA HOWOH-TAB HARADA KAYUNI Jemaat GPI Papua Howoh-Tab Harada Kayuni merupakan salah satu unit pelayanan gerejawi yang berada di bawah naungan Klasis GPI Papua Hiren Kokah, sejajar dengan Jemaat Karmel Adora. Secara administratif, jemaat ini terletak di wilayah Kampung Kayuni. Distrik Kayauni. Kabupaten Fakfak. Provinsi Papua Barat. Lokasinya yang berada di kawasan perbukitan dan pedalaman Fakfak membentuk dinamika sosial-keagamaan yang khas, berbeda dari karakter jemaat pesisir, namun tetap mencerminkan corak masyarakat Papua yang menekankan nilai-nilai kekerabatan, semangat gotong royong, dan religiositas yang kuat. Fungsi gereja di sini melampaui peran ibadah formal. ia menjadi pusat pembinaan moral, sosial, dan spiritual yang menopang daya tahan komunitas menghadapi tantangan struktural seperti keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Model pelayanan Jemaat Howoh-Tab Harada Kayuni dikembangkan berdasarkan pembacaan yang peka terhadap konteks lokal, baik secara geografis maupun sosiokultural. GAMBARAN UMUM RESPONDEN Jumlah dan klasifikasi responden Penilitian ini melibatkan 30 responden yang merupakan 10% dari jumlah anggota jemaat pada dua jemaat yaitu Jemaat GPI Papua Karmel Adora dan Jemaat GPI Papua Howoh-tab Harada Kayuni-Kuagas, masing-masing jemaat terdiri dari 15 orang yang dapat digambarkan dalam table berikut ini : Tabel. Responden Berdasarkan Lokasi NO. LOKASI JEMAAT JUMLAH PRESENTASE RESPONDEN Karmel Adora 15 orang Howoh Tab Harada Kayuni 15 orang Kuagas JUMLAH 30 Orang Tabel. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin NO. JENIS KELAMIN JUMLAH RESPONDEN PRESENTASE Laki-laki 25 orang 83,3 % Perempuan 5 orang 16,7% Jumlah 30 Orang Tabel. Responden Berdasarkan Status/Jabatan/Kedudukan NO. STATUS/JABATAN JUMLAH PRESENTASE RESPONDEN Pendeta 4 orang Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Majelis Jemaat Anggota Jemaat Tokoh Adat Jumlah 6 orang 14 orang 8 orang 30 orang Pemahaman Masyarakat lokal Fakfak tentang Ritus Meritotora Pengertian Meritotoara Secara etimologis. Meritotora berasal dari bahasa Iha yang mengandung konsep penghormatan, pengakuan, serta pemberian penghargaan terhadap pencapaian atau peran sosial dalam komunitas. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap makna Meritotora dari perspektif Bahasa Iha tidak hanya penting bagi studi antropologi dan budaya, melainkan juga relevan dalam konteks teologi kontekstual yang menempatkan tradisi lokal sebagai wujud pengalaman iman yang hidup dan dinamis. Meritotora dari Bahasa Iha. 23 yang terdiri dari dua suku kata yaitu AuMeriAy sebagai sebutan bagi kaum Perempuan dan AuTotoraAy dari dasar katanya AuToraAy yang berarti satu, sedangkan kata AuTotoraAy sendiri menunjukan kata jamak yang berarti banyak, yang menjelaskan bahwa bukan hanya satu melaikan banyak Perempuan. Seperti yang disampaikan oleh Bpk. Pramenas Hindom bahwa : Au Meritotora Aumemiliki dua suku kata yaitu Meri yang artinya Perempuan dan Totora artinya banyak lebih dari satu, namun saya lebih memilih menggunakan kata Meritotora. Sebagai simbol kultural. Meritotora menempatkan perempuan pada posisi yang sangat dihormati dan dipandang sebagai pilar utama dalam kesinambungan kehidupan masyarakat. Dengan demikian. Meritotora tidak hanya mencerminkan nilai budaya lokal, tetapi juga membuka ruang dialog konstruktif antara tradisi lokal dan nilainilai universal tentang penghormatan serta pemberdayaan perempuan. seperti yang dikatakan oleh Bpk Imanuel Hindom bahwa AyKata MeriAy dalam Bahasa Iha yang berarti Perempuan sedangkan Totora/Tora menujuk kepada Jumlah. Sehingga kata Tora berarti menunjukan bahwa hanya satu, sedangkan Totora menunjukan banyak atau lebih dari satu/Jamak. Karena Meritotora bukan hanya diberikan kepada pohon pala saja atau saudara Perempuan saja tetapi penghargaan dan penghormatan itu juga diberikan kepada pohon pala dengan saudara-saudara Perempuan, maka biasanya digunakan kata Meritotora yang berarti banyak Perempuan. Mengapa sampai disebut Meritotora yang artinya banyak Perempuan, karena Masyarakat lokal Fakfak memahami bahwa Meritotora bukan hanya dipahami sebagai satu Perempuan saja melainkan banyak Perempuan, seperti yang disampaikan oleh Bpk Marten. Hindom bahwa : Salah Satu Bahasa Lokal / Bahasa Daerah. Yang Dipakai Dalam Kehidupan Masyarakat Lokal Mbaham Mata Kab. Fakfak. Hasil Wawancara Dengan Bapak. Prewenas Hindom ( Tokoh Agama Sekaligus Pelaku Ritual Meritor. Tanggal 3 Juni 2025. Hasil Wawancara Dengan Bapak. Imanuel Hindom ( Anggota Jemaat GPI Papua. Korwel Ador. Tanggal 3 Juni 2025. Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . AuMeritotora yang terdiri dari dua suku kata yaitu Meri dan Totora. Jadi Ketika dibilang Meritotora maka artinya : Perempuan-perempuan, karena bukan hanya satu warga di Fakfak yang punya Meritotora tetapi semua marga memiliki Meritotora. Dalam hal ini semua marka memiliki dusun atu kebun Pala mereka masing-masing. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis linguistik, istilah Meritotora dalam masyarakat lokal Fakfak dipahami sebagai bentuk jamak yang merujuk pada kumpulan perempuan. Dalam konteks tersebut. Meritotora merepresentasikan kelompok perempuan yang berfungsi vital dalam pengasuhan, perawatan, dan pemeliharaan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sejarah Awal Mula Pohon Pala Menurut Pemahaman Masyarakat Lokal Fakfak. Tanaman pala (Myristica fragran. telah menjadi bagian integral dari lingkungan hidup dan sistem budaya masyarakat lokal di Fakfak. Papua Barat, sejak masa lampau. Sebagai bagian dari warisan ekologis yang diturunkan lintas generasi, pohon pala pada awalnya belum dipahami secara menyeluruh dari segi nilai ekonomis dan kegunaannya sebagai rempah-rempah bernilai tinggi. Sebagai respons terhadap perubahan tersebut, masyarakat Fakfak mulai mengembangkan budidaya pala secara lebih sistematis dan terstruktur, dengan tetap mempertimbangkan konteks sosial-budaya setempat. Praktik ini tidak hanya menandakan adaptasi terhadap dinamika ekonomi eksternal, tetapi juga mencerminkan integrasi nilai-nilai lokal seperti sistem hak ulayat, pola kekerabatan, dan prinsip gotong royong dalam pengelolaan sumber daya alam. Dengan demikian, tanaman pala berperan bukan hanya sebagai objek ekonomi, melainkan sebagai simbol relasi ekologis dan sosial yang mengikat antara manusia, alam, dan tradisi. AuBuah pala bisa menjadi hasil pokok bagi orang-orang pribumi dimulai sejak abad ke-18 tepatnya tahun 1820, dimana saat itu rempah-rempah menjadi komuditi utama yang sangat berharga bagi Masyarakat Eropa. Sejak saat itu banyak orang asing yang dating membeli biji dan bunga pala. Dalam perspektif masyarakat lokal Fakfak, pohon pala tidak sekadar dipandang sebagai tanaman ekonomi atau komoditas perdagangan, melainkan sebagai simbol kehidupan yang telah melekat sejak masa leluhur. Pelaksanaan ritus Meritotora yang berlangsung di masyarakat Fakfak saat ini merupakan kelanjutan dari praktik adat leluhur yang menempatkan penghormatan dan rasa syukur atas peran sentral perempuan dan pohon pala sebagai sumber berkat. Keberagaman narasi terkait asal-usul pohon pala mencerminkan pluralitas kepercayaan lokal yang menggambarkan kompleksitas sistem kekerabatan dan tradisi di Fakfak. Sebagian marga meyakini bahwa biji pala diperoleh melalui perantaraan hewan piaraan yang dianggap sebagai mediator antara manusia dan Marga lainnya menafsirkan pohon pala sebagai manifestasi atau perwujudan sosok perempuan manusia, yang mengukuhkan posisi perempuan sebagai sumber Hasil Wawancara Dengan Bapak. Marten Hindom ( Tokoh Agama Sekaligus Salah Satu Orang Tua Dalam Masyarakat Lokal fakfa. Tanggal 5 Juni 2025. Cerita Rakyat Dari Fakfak AuKantor Perpustakaan. Arsip Dan Dokumentasi Kab. FakfakAy . Satuan Monorer. Ringgit Juga Pernah Dipakai di Indonesia. Hingga Tahun 70-An. Dikenal Koin Pecahan 1 Ringgit Yang Bernilai 2,50. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Ada pula keyakinan yang menganggap pohon pala telah ada sejak awal penciptaan dunia, sehingga tanaman tersebut memiliki dimensi kosmologis dan sakral dalam sistem kepercayaan lokal. Namun demikian, bagi masyarakat Fakfak, nilai utama pohon pala tetap terletak pada makna budaya dan spiritualnya yang tertanam dalam sistem kekerabatan dan kehidupan adat, yang terus dipertahankan dan dilestarikan melalui ritual serta narasi turun-temurun. Pemahaman Masyarakat Lokal Fakfak Tentang Pohon Pala Sebagai Perempuan Sang Pemberi Hidup/ Putri Pala. Salah satu representasi budaya yang sarat makna adalah pohon pala (Myristica fragran. , yang secara lokal dikenal sebagai "henggi" di kalangan masyarakat Fakfak. Pala tidak sekadar dipahami sebagai komoditas bernilai ekonomi, melainkan juga sebagai bagian integral dari kosmologi lokal dan konstruksi imajinasi budaya. AuPohon pala merupakan symbol jati diri Perempuan asli Fakfak yang berdiri kokoh dan menghasilkan buah melimpah. Kelimpahan buah pala mempresentasikan jiwa, raga dan kedamaian hati seorang Perempuan asli Fakfak. Artinya. Ketika pohon pala tersebut menghasilkan buah yang berlimpah, itu pertanda hati Perempuan Fakfak sangat damai dan benar-benar dibuat damai oleh para saudara laki-lakinya. Sebaliknya apabila Perempuan Fakfak disakiti oleh saudara laki-lakinya atau dibuat sakit hati . ecewa dan mara. maka akan mempengaruhi kesuburan buah pala. Perempuan asli Fakfak dipandang tinggi keluhuran hatinya , ia diidentikan dengan buah pala. Saking begitu menghormati saudara Perempuan, maka buah pala dipandang sebagai wujud seorang Perempuan yang disebut mama. Pala adalah mama yang selalu mampu memberikan kemakmuran bagi anak-anaknya. Mama yang menghasilkan makanan dan minuman, mama yang mampu memberi perlindungan dari teriknya panas matahari, mama yang mampu menyekolahkan anak-anaknya 28 Pemahaman pohon pala bagi Masyarakat berdasarkan Sejarah asal mula pohon pala di atas maka masyarakatblokal Fakfak memahami dan menjuluki pohon pala sebagai sang Perempuan pemberi hidup, putri pala yang melahirkan dan memberi kehidupan, yang dapat merawat dan memperkaryakan kehidupan Masyarakat lokal Fakfak , seperti yang dikatakan oleh Bpk Manuel Tuturop bahwa Au Sama seperti kita manusia yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang ibu dan bapak kita namun ibu kitalah yang melahirkan dan memperanakan serta memperkayakan keturunan bagi kehidupan bapak dan keluarga kita maka kita harus lebih menghormati ibu kita sebagai Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan serta memelihara hidup kita. Bagi masyarakat Fakfak, ritus Merototora dimaknai sebagai ekspresi penghormatan dan penghargaan mendalam terhadap pohon pala (Myristica Dalam konstruksi kosmologis lokal, pohon pala tidak sekadar diposisikan sebagai flora penghasil buah, melainkan sebagai warisan leluhur yang Ina. Samosir Lefaan. Heppy Lelapary . Jati Diri Perempuan Asli Fakfak ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2. , 129-130. Hasil Wawancara Dengan Bapak. Manuel Tuturp ( Anggota Jemaat Sekaligus Toko Ada. Tanggal 6 Juni 2025 Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . mengandung nilai ekonomi sekaligus simbolik yang signifikan. Melalui pelaksanaan ritus ini, masyarakat merepresentasikan relasi timbal balik antara manusia dan alam sebagai sebuah hubungan yang berlandaskan pada prinsip resiprositas dan penghormatan, bukan dominasi atau eksploitasi. Pohon pala dipersepsikan sebagai sumber kehidupan yang menopang kesejahteraan kolektif lintas generasi. Nilai ekonominya yang tinggi, baik dalam konteks perdagangan lokal maupun pasar global, menjadikan komoditas ini bukan hanya bernilai material, melainkan juga sarat makna spiritual. Dalam konteks tersebut. Merototora tidak sekadar berfungsi sebagai upacara simbolik, tetapi menjadi pengejawantahan dari etika ekologis dan spiritualitas lokal yang menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif dalam menjaga kesinambungan relasi manusia dan lingkungan alam. Dan bagi mereka pohon pala dan hasilnya adalah berkat dari sang pencipta bagi Masyarakat lokal Fakfak seperti yang dikatakan oleh Bpk Yusuf Iha bahwa : AuPohon pala dan Meritotora ini sejak dunia ini diciptakan, dengan pengertian bahwa Tuhan menciptakan bumi ini sudah dengan berkat dan hasil masing-masing. Contoh di Maluku punya hasil alam yaitu cengkeh dan kelapa, di Timika yang tidak pernah habis hasilnya dan ditempat lainnya dengan hasil Begitu juga di Fakfak sendiri mempunyai hasil pala yang sudah terkenal sejak dulu. Maka bagi saya pohon pala adalah hasil dan berkat bagi Negeri ini. Awal Mula Pelaksanaan Ritus Meritotora Dalam Kehidupan Masyarakat lokal Fakfak. Ritus Meritotora, tidak hanya dimaknai sebagai praktik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga sebagai mekanisme yang diyakini memiliki pengaruh nyata terhadap kesejahteraan hidup masyarakat. s Dengan demikian. Meritotora tidak hanya berfungsi sebagai ritual simbolik, tetapi juga merupakan wujud konkret dari strategi ekologis dan ekonomi yang berakar pada sistem nilai lokal, yang terus dijaga dan diregenerasikan antar Hasil wawancara dari beberapa narasumber bahwa pelaksanaan ritus Meritotora ini sudah dilakukan sejak zaman para leluhur. Maka lewat pengalaman dan kebiasaan sebelumnya yang sudah ditetapkan sebagai salah satu ritus adat Masyarakat lokal Fakfak maka ritus ini terus dilakukan oleh generasi ke generasi lainnya seperti yang disampaikan oleh Bpk Permenas Hindom bahwa : AySebelumnya para leluhur telah mengetahui bahwa pala sendiri akan menjadi sumber kehidupan bagi mereka dan anak cucu mereka, maka mereka mulai merawat dan menjaga pohon pala ini. Sebelum mereka mengetahui bahwa pala adalah hasil yang memiliki nilai yang sangat tinggi maka Ketika datangnya pencari dan pembeli ahan rempah-rempah maka disitulah mereka mulai melakukan pemeliharaan serta melakukan ritual untuk menunjukan penghormatan mereka kepada pohon pala. Sejak pohon pala diketahui sebagai sesuatu yang memiliki nilai jual, sesuatu yang dapat memberikan arti yang sangat berharga bagi Masyarakat lokal Fakfak maka para leluhur mulai mulai memelihara dan menjaga pohon pal aitu dan mereka mencari tahu tentang menfaat dan kegunaan dari buah dan biji pala tersebut Hasil Wawancara Dengan Bapak. Yusuf Iha ( jemaat GPI Papua Sekaligus Pelau Meritotor. Tanggal 3 Juni 2025 Hasil Wawancara Dengan Bapak. Premenas Hindom Tanggal 3 Juni 2025. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi dari orang lain dan pada saat kedatangan orang asing dari negara Eropa untuk mencari rempah-rempah maka disitulah pala diketaui dan dikenal sebagai Tumbuhan yang memberikan kehidupan bagi Masyarakat lokal Fakfak seperti halnya yang disampaikan oleh Bpk Manuel Tuturop bahwa : AuKetika biji pala itu diketahuihi oleh para leluhur bahwa ini adalah salah satu yang unik di daerah Fakfak maka Ketika pencari rempah-rempah dari Negeri Eropa itu datang dengan perahu-perahu layar mereka untuk mencari halil alam daerah Fakfak maka dari para leluhur mereka berusaha untuk menunjukan biji pala yang selama ini mereka simpan dan disitulah mereka mengetahui bahwa biji pala adalah hasil alam yang memiliki nilai jual yang tinggi maka dari situlah ritus meritotora ini dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pohon pala telah dikenal oleh leluhur masyarakat lokal Fakfak sejak masa penemuan awal biji pala. Para leluhur tidak hanya mengidentifikasi keberadaan tanaman ini, tetapi juga melakukan pemeliharaan dan perlindungan secara khusus terhadap pohon pala sebagai elemen penting dalam lingkungan hidup sekaligus sumber penghidupan. Ritus Meritotora sebagai penghormatan terhadap pohon pala mencerminkan kesadaran masyarakat lokal Fakfak akan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis serta nilai-nilai sosial budaya. Dengan menjadikan pohon pala sebagai simbol sentral dalam upacara ini, masyarakat menegaskan bahwa kelangsungan hidup tidak semata-mata bergantung pada aspek ekonomi, tetapi juga pada penghormatan terhadap nilai tradisi dan hubungan spiritual yang mengikat komunitas dengan alam. Cara Pelaksanaan Ritus Meritotora Oleh Masyarakat Lokal Fakfak Ritus meritotora biasanya dimulai dari rumah, biasanya juga dilakukan ditengah-tengah dusun pala atau kebun pala. Yang mengikuti ritual ini biasanya dari keluarga dan saudara-saudara kandung dari pemilik kebun pala. Mengawali ritus ini dimaulai dengan cara doa yang disampaikan oleh seorang bapak yang tua didalam keluarga yang melakukan ritus ini, dengan cara duduk didapan sesajian yang disiapkan dan ditengah-tengah keluarga yang hadir dengan cara menunduk dan memegang kepala dan menaikan permohonan kepada yang punya kuasa melebihi manusia. Dan selanjutnya pengungkapan rasa hormat kepada leluhur Seperti yang dikatakan oleh Bpk Permenas Hindom bahwa :AuUngkapan rasa percaya kami kepada Tuhan dulu sebelum kepada meritotora dengan para leluhur kami dan selanjutnya dalam kebersamaan keluarga yang hadir dalam ritual ini mereka meminu kopi/Mehak dan makan siri/kana, pinang/kahom dan mengisap rokok negri/mahi. Dalam kebersamaan menikmati kopi dan siri pinang ini yang memiliki makna bahwa ada komunikasi yang sedang dilakukan oleh keluarga dalam kebersamaan itu seperti yang dikatakan oleh Bpk Marten Hindom bahwa : AuMakna dari kopi, siri pinang dan lain-lain, itu adalah suatu komunikasih adat yang biasanya dilakukan oleh orang Fakfak. Komunikasi yang memiliki tahap-tahap dimana kebiasaan orang tua dulu menyelesaikan suatu masalah atau kunjungan dan kepercayaan lainnya dilakukan dengan komunikasi tersebut. Contoh Ketika ada tamu yang datang, sebelum mereka menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran mereka semuanya diawali dengan makan siri pinang dan mengisap rokok dan selanjutnya dalam perbincangan dengan tujuan kedatangan tamu yang pastinya tuan rumah menyiapkan kopi/mehak untuk tamu Hasil Wawancara dengan Bapak. Manuel Tuturop. Tanggal 6 Juni 2025 Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . tersebut, makanya dapat dibilang ini sebuah komunikasi yang memiliki tahapantahapan tersendiri. 33 Setelah mereka menikmati Bersama sesajian dan minuman yang telah disediakan maka selanjutnya mereka membawa sesajian untuk diberikan kepada meritotora / pohon pala ke tempat yang sudah disediakan ditengah-tengah dusun pala yang disusun dengan batu yang dibuat seperti Mesbah persembahan yang biasanya dikatakan oleh Masyarakat Fakfak Naharara (Tempat sesajian yang disusun dengan batu yang tertata dengan rap. Setelah sesajian ditempatkan ditempat yang telah disediakan maka sebelum ada dalam proses panen pala diawali dengan doa seperti dikatakan oleh Bpk Hindom bahwa : Au Ketika sudah sampai dikebun pala sebelum minum kopi Bersama harus berdoa dulu dengan mengawali proses kerja dan selanjutnya dengan meminum kopi dan mengisap rokok dan makan siri pinang dibawa pohon pala ditengah dusun/ kebun pala Setelah seluruh buah pala di kebun selesai dipanen, langkah berikutnya adalah menempatkan biji pala pada lokasi pengeringan yang dalam bahasa lokal Tramwria disebut asaran. Tahapan ini merupakan bagian krusial dalam rangkaian proses pengolahan pala, di mana biji-biji tersebut dijaga agar mengalami pengeringan secara optimal sebelum diproses lebih lanjut untuk konsumsi maupun Proses pengeringan ini tidak hanya memiliki aspek teknis semata, melainkan juga mengandung nilai sosial dan ritual yang dilaksanakan secara kolektif oleh komunitas, khususnya oleh perempuan sebagai pelaku utama dalam tradisi lokal. Alat-alat dan Bahan yang digunakan dan harus disiapkan dalam Ritud Meritotora. Mehak, sebutan dalam Bahasa Iha /Bahasa lokal Masyarakat Fakfak untuk meinuman kopi. Kana, kahom, sebutan dalam Bahasa Iha untuk siri dan pinang. Mahi, sebutan dalam Bahasa Iha untuk rokok atau tembakau negeri. Uang Logam, biasanya digunakan sebagai sesajian yang disediakan kepada meritotora. Kain sarung. Biasanya dalam upacara meritotora kain juga digunakan sebagai bahan sesajian kepada Meritotora dalam hal ini kain akan dililit ke batang pohon pala dan juga diberikan kepada saudara Perempuan yang mengambil bagian dalam ritual meritotora tersebut. Perhiasan Perempuan, seperti gelang, antin dan kalung. Biasanya barang-barang ini diberikan kepada saudara Perempuan juga dijadikan sebagai sesajian kepada meritotora seperti yang disampaikan oleh Bpk Oboja Hindom AuKain, gelang, anting atau perhiasan Perempuan yang kita berikan kepada saudara Perempuan kita seharusnya diberikan juga kepada meritotora karena pada dasarnya kita Masyarakat Fakfak memahami bahwa pohon pala juga sebagai Perempuan yang memberikan kehidupanAy. Naharara, adalah anyaman yang dibuat dari daun pandan hutan yang diayam bentuk kotak / persegi empat dengan ukuran kecil dan juga dengan ukuran besar dan diayam sesuai kebutuhan. Hasil Wawancara Dengan Bapak. Marten Hindom. Tanggal 5 Juni 2025 Hasil Wawancara Dengan Bapak. Obaja Hindom. Tanggal 5 Juni 2025. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Wartongko sebutan untuk susunan batu yang diatur rapi berbentuk segi empat, batu atau tempat ini biasanya disusun/ ditempatkan di Tengahtengah dusun atau kebun pala. Pemahaman Masyarakat dari perspektif Tokoh agama. Majelis jemaat, anggota jemaat dan tokoh adat tentang ritus meritotora dalam konteks keagamaan dan teologi kontekstual. Dalam kajian teologi kontekstual, berdasarkan pelaksanaan ritus meritotora pada Jemaat GPI Papaua Karmel Adora dan Jemaat GPI Papua Howoh-tab Harada Kayuni- kuagas, maka sesungguhnya ritus ini membawa harapan besar sebagai sebuah kesaksian hidup berbagi, seperti yang disampaikan oleh Pdt. Lesly sebagai berikut : Au Sebagai seorang pelayan jemaat yang bertugas dijemaat yang kaya akan budaya, dan bisa terlibat dan mendampingi jemaat dalam menjalankan ritus meritotora ini, tentu ada perasaan senang dan bangga, karena sesunggunya ada rasa Syukur yang ditampilkan disana, karena melalui ritus ini, iman dan budaya itu tidak saling bertentangan melaikan melahirkan dan mencerminkan sebuah kesaksian hidup yang bersyukur dan berbagi. Bersyukur untuk berkat buah pala yang melimpah tetapi juga pemilik kebun pala atau dusun pala dapat berbagi dari hasil panen pala tersebut. 35 Dari apa yang disampaikan oleh pdt Lesly, maka sesunggunya ritus meritotra sesuatu hal yang adalah kekayaan budaya yang menampilkan nilai iman, melalui ungkapan Syukur dan berbagi. Demikian pun dengan yang disampaikan oleh Pdt Viona : AuBahwa Umat banyak yang terlibat dan respons mereka sangat baik, sesungguhnya perlu adanya pembinaan dan pendampingan dalam memberikan pemahaman , bahwa meritotora bukan hanya sekedar ritus adat tetapi juga sarana kesaksian iman dalam konteks budaya yang ada, supaya pemahaman mereka semakin utuh, bahwa sumber kehidupan dan yang diterima semua itu berasal dari Allah pencita semesta. 36 Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa , bahwa ritus meritotora mengandung banyak nilai poitif bagi kehidupan bergereja tetapi juga bermasyarakat dan boleh dikatakan relefan bagi kehidupan Bersama, dalam pelaksnaan ritus ini ada nilai kebersamaan, mempererat tali persaudaraan anatar adik dan kakak, saudara laki-laki dan saudara perempuannya, terutama dalam hal berbagi. Dari Pemaparan diatas dalam analisis konteks Keagamaan. Berdasarkan hasil wawancara, maka ritus meritotora sesungguhnya dapat dimengerti dan dipahami sebagai bentuk penghayatan dan ekspresi iman yang bersifat kultural yang tidak terlihat bertentangan langsung dengan ajaran iman Kristen, selama ritus ini tidak mengandung unsur penyembahan kepada roh lain atau praktik spiritual yang bertentangan dengan monoteisme Kristen, dan sebaliknya ritus meritotara ini dapat dilihat sebagai wadah budaya lokal yang sesungguhnya telah memperlihatkan bagaimana umat dalam jemaat GPI Papua Karmel Adora dan Jemaat GPI Howoh-tab harada kayuni kuagas menghayati nilai-nilai kehidupan kristiani dalam terang iman mereka masingmasing. Hasil wawancara dengan pdt Lesly Maitimu, pendeta jemaat Karmel Adora tanggal 11 juni 2025 Hasil wawancara dengan Pdt. Viona Ubiyaan. Th, tanggal 11 Juni 2025 Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . Selanjutnya dalam penulisan ini ada hal-hal mau ditemukan untuk menyeimbangkan nilai-nilai lokal dan praktek-pratek meritotora, dengan ajaran iman Kristen, dengan menyanyakan apakah ad acara-cara yang ditemukan ? dari pertanyaan ini kami mendapatkan beberapa jawaban sesuai yang disampaikan oleh Pdt Viona bahwa : AuDalam pelayanan Bersama dalam jemaat, kami berusaha untuk mengarahkan dan membingkai meritotora ini dalam terang Firman Tuhan, misalnya kami memberi pemahaman dan mengarahkan bahwa, memberi melalui hasil panen adalah bentuk tolong-menolong sesuai yang diajarkan kristus melalui wujud kasihNya. Dan dalam pelayanan ibadah melalui khotbahkhotbah kami kami kaitkan dengan nilai alkitabiah, seperti memberi itu sebuah kewajiban dan tidak dengan paksa. 37 Ada juga cara-cara lain yang ditemukan untuk menyeimbangkan nilai-nilai lokal dan praktek-praktek meritotora dengan ajaran iman Kristen, seperti yang disampaikan oleh Bpk Otniel Patiran, bahwa : AuKehidupan pelayanan gereja dulu dan sekarang berbeda, zaman sekarang adat atau budaya dan gereja saling menopang, zaman dulu kami berpikir budaya denga adat bertentangan dengan gereja, tetapi sekarang berbeda, kami duduk dan bicara Bersama, kami tidak lagi memaksakan sesuatu yang tidak relefan dengan kehidupan sekarang,kami tidak mau memaksakan nilai adat, tetapi kami memberi ruang biarlah dilaksanakan dan dijalakan dalam iman Kristen, sesuai dengan ajaran alkitab. 38 Melalui hasil pemahaman yang disampaikan, itu berarti melalui ajaran gereja melalui cara-cara yang dilakukan dalam pelayanan dalam hal ini pelayanan yang kontekstual melalui pembaharuan pemahaman teologis, maka ritus meritotora akan dapat dan terus menjadi alat kesaksian iman dan pelayanan dalam konteks GPI Papua. Refleksi Teologis Terhadap Budaya Meritotora Budaya Meritotora sebagaimana disampaikan dalam penjelasan sebelumnya merupakan bagian dari tradisi Masyarakat asli Fakfak yang memiliki nilai sosial dan spiritual yang kuat. Dalam Pratinya, terdapat unsur pemberian sesajen yang dipersembahkan kepada meritotora atau pohon pala sebagai bentuk penghormatan dan permohonan. Kajian teologis ini bertujuan untuk melihat bagaimana praktik tersebut dapat dipahami dalam terang Injil dan bagaimana gereja dapat memberikan respons teologis terhadapnya. Teologi Kontekstual berupaya memahami Injil dalam budaya lokal dengan prinsip bahwa Injil tetap menjadi dasar kebenaran tanpa menghilangkan nilai-nilai baik dalam budaya. Disamping itu Inkulturasi dalam gereja juga bertujuan untuk menyaring dan menafsirkan budaya lokal dalam terang Injil, bukan hanya sekedar menerima atau menolaknya secara langsung. Dalam konteks Meritotora, sangat penting untuk membedakan antara nilai budaya yang bersifat social dan yang memiliki dimensi spiritual yang bertentangan dengan iman Kristen. Jika pemberian sesajen Hasil wawancara dengan Pdt Viona Ubyaa. tanggal 11 Juni 2025 Hasil Wawancara dengan Bpk Otniel Patiran. Tokoh adat dan pelaku ritus meritotora, tanggal 11 Juni Eirene Jurnal Ilmiah Teologi atau persembahan memiliki unsur penyembahan kepada allah lain atau roh yang lain atau entitas selain Tuhan Allah dam diri Yesus Kristus, maka ini menjadi Tantangan teologis bagi gereja yang perlu direspons dengan baik Robert J. Schreiter, dalam karya-karyanya tentang teologi kontekstual dan inkulturasi, menekankan pentingnya pemahaman iman Kristen yang tumbuh dari dalam konteks budaya lokal. Menurut Schreiter, teologi harus menjadi refleksi iman yang muncul dari pengalaman umat dalam situasi konkret mereka, yang dalam kasus ini adalah masyarakat Fakfak dengan ritual Meritotora sebagai bagian integral budaya mereka. Dalam perspektif Schreiter. Meritotora bukan sekadar ritual adat, melainkan sebuah AutandaAy yang mengungkapkan identitas dan eksistensi Oleh karena itu, teologi kontekstual harus mampu menafsirkan makna-makna simbolik ini dalam terang Injil, sehingga iman Kristen dapat terwujud secara otentik dan relevan. Selain itu. Schreiter menekankan pentingnya AupembebasanAy dalam teologi kontekstual. Ritual Meritotora, yang mengandung unsur sosial dan spiritual, harus direfleksikan secara kritis agar tidak menjadi alat penindasan budaya atau praktik yang menyesatkan iman. Gereja berperan dalam membebaskan umat dari praktik-praktik yang berpotensi Allah, mempertahankan dan merayakan aspek-aspek budaya yang membangun dan memberdayakan komunitas. Pendekatan ini menuntut gereja untuk tidak hanya menolak atau menerima secara mentah-mentah ritual Meritotora, tetapi mengajak umat pada proses refleksi dan dialog yang mendalam. Dengan demikian, kajian teologi kontekstual atas Ritus Meritotora dari perspektif Schreiter menegaskan pentingnya dialog dan refleksi kritis dalam membangun iman yang hidup dan kontekstual. Gereja dan masyarakat adat diajak bersama-sama merawat harmoni antara tradisi budaya dan iman Kristen untuk menciptakan kehidupan rohani yang dinamis dan bermakna. Dalam Alkitab, ditemukan bahwa pemberian persembahan adalah bagian dari iabdah kepada Allah atau Tuhan, seperti dikutip dari kitab perjanjian lama dimana bangsa Israel memberikan korban kepada Allah Yahwe (Imamat 1-. Namun dalam Alkitab juga menyaksikan dengan tegas bahwa persembahan kepada dewa atau alah lain sangak ditentang dan ditolak dengan tegas (Ulangan 18:9-12. Yesaya 44:9-. Yesus sendiri menegaskan bahwa persembahan yang baik dan benar adalah persembahan kepada Allah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-. Dalam Alkitab perjanjian baru, peresembahan yang benar dan dikehendaki Tuhan adalah hidup yang berkenaan dan kudus dihadapan Tuhan atau yang berkenan kepadaNya (Roma 12:. Dari perspektif ini, jikakalau praktik pemberian persembahan berupa sesajen kepada Meritotora atau pohon pala perlu dikaji dan ditinjau lebih dalam dan jauh lagi. Jika pemberian persembahan berupa sesajen yang diberikan sebagai bagian untuk menghormati budaya dan Risakotta at. al : Meritotora Suatu Kajian Teologi . bukan dalam konteks pemberian persembahan atau penyembahan kepada alah atau roh lain, maka dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi sosial. Namun jika ada unsur spiritual yang berlawanan dengan iman dan ajaran Kristen, maka perlu adanya pembaharuan dalam terang Injil Kristus. PENUTUP Dari hasil penelitian dan setiap paparan dari berbagai informasi yang diperoleh dan yang dilakukan terhadap budaya atau ritus Meritotora, yang dilakukan pada Jemaat GPI Papua Karmel Adora dan pada Jemaat GPI Papua Howoh-tab Harada Kayuni-Kuagas. Klasis Hiren Kokah Fakfak, maka dapat disimpulkan bahwa : Ritus Meritotora adalah bagian yang sangat penting dari identitas budaya masyarakat lokal yang telah ada dan melekat secara turun-temurun dalam kehidupan Masyarakat lokal, budaya lokal ini lebih menekankan menekankan nilai-nilai kebersamaan, penghargaan atau penghormatan dalam kehidupan keluarga, gereja dan Masyarakat. Terhadap konteks kehidupan dan pelayanan gereja, sesunggunya ritus Meritotora memiliki beberapa dampak : di satu sisi menanamakan kebersamaan dan rasa saling memiliki, menepong dan berbagi, namun di sisi lain dapat menjadi sumber diskriminasi dalam struktur kepemimpinan dan pelayanan gereja ketika tidak dikaji secara kritis dan teologis. Teologi kontekstual, perlu mengakui dan megkritisi ritus atau budaya meritotora dalam terang injil Kristus serta memberikan suatu pendekatan yang relevan untuk memahami dan menilai budaya lokal secara konstruktif. Dengan menggunakan pendekatan teologi kontekstual, gereja dapat memurnikan pemahaman tentang budaya atau ritus meritotora dan injil serta memotifasikan umat dalam praktek sosial keagamaan agar benar-benar menjadi bagian dari berkat Tuhan bagi jemaat, serta mengafirmasi nilai-nilai positif dari budaya atau ritus Meritotora, sekaligus melakukan transformasi terhadap nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Kristiani. Terhadap jemaat GPI Papua Karmel Adora tetapi juga Jemaat Howo-Tab Harada Kayuni-kuagas, perlu meningkatkan dan mengembangkan spriritualitas gereja dalam membangun dialog-dialog teologis dengan berbagai budaya setempat atau kearifan lokal tetapi juga menunjukkan hal-hal yang dibutuhkan demi pendampingan teologis dan pastoral dalam menyikapi budaya atau ritus Meritotora, agar budaya meritotora ini tidak menjadi alat kekuasaan dalam kehidupan bergereja dan berjemaat. DAFTAR PUSTAKA