TAAoDIB: Jurnal Pemikiran Pendidikan Vol. No. September 2025 p-ISSN 2089-4422 e-ISSN 2808-3784 https://journal. id/index. php/tdb/index Konsep Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu Dalam Manajemen Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Gayo Indra1*. Ismet Nur2. Harlinawati2 Pascasarjana IAIN Takengon, indragayo1@gmail. Pascasarjana IAIN Takengon, ismailnur38@gmail. Mahasiswa Pascasarjana IAIN Takengon, harlinawati147@gmail. DOI: 10. 54604/tdb. Diajukan: 12/08/2025 Diterima: 19/09/2025 Copyright A 2023 Diterbitkan: 22/09/2025 ABSTRAK Bagi masyarakat Gayo. Peri Mestike merupakan AuSelpah MuripAy (Pandangan Hidu. baik pribadi, keluarga, juga Pada kajian ini dikhusukan pada PM atau falsafah "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu," yang merupakan pedoman dalam interaksi sosial dan organisasi. Dalam konteks modernisasi, terdapat tantangan yang dihadapi masyarakat Gayo dalam mempertahankan nilai-nilai budaya mereka, terutama di kalangan generasi muda yang semakin homogen dengan budaya luar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis falsafah "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu" serta implikasinya dalam manajemen organisasi berbasis kearifan lokal Gayo. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnopedagogik, pengumpulan data menggunakan metode wawancara dengan strategi AuTengkah Bengkuang GewatAy, . etode perumpaan dan kia. Kajian ini menunjukkan bahwa lebaga pendidikan dan manajemen organisasi harus bersinergis dengan local wisdom dalam membangun pendidikan, karena budaya merupakan identitas mereka. Subjek penelitian melibatkan tokoh adat, masyarakat, dan budayawan Gayo di Aceh Tengah. Hasil analisis menunjukkan bahwa filosofi "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu" mencerminkan pentingnya hierarki sosial dan kerja sama dalam masyarakat dan Penelitian mengungkapkan bahwa penerapan falsafah ini dalam kehidupan sehari-hari terlihat dalam musyawarah, interaksi keluarga, pengambilan keputusan kolektif, dan pembagian tugas diberbagai lembaga termasuk sekolah. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi, nilai-nilai ini tetap relevan dan dapat diintegrasikan ke dalam praktik manajemen organisasi modern. Falsafah atau PM "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu" memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja dalam organisasi modern. Oleh karena itu, penting untuk diinternalisasi melalui pendidikan dan program pelatihan yang relevan. Kata Kunci: Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu. Manajemen Organisasi, local wisdom ABSTRACT For the Gayo people. Peri Mestike constitutes a "Selpah Murip" (Worldvie. that guides personal, family, and community life. This study focuses specifically on PM or the philosophy of "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu," which serves as a guideline for social and organizational interaction. In the context of modernization, the Gayo community faces challenges in preserving their cultural values, particularly among the younger generation, which is becoming increasingly homogenized with external cultures. The purpose of this research is to describe and analyze the philosophy of "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu" and its implications for organizational management based on Gayo local wisdom. The method used is a qualitative method with an ethnopedagogical approach. Data was collected through interviews using the "Tengkah Bengkuang Gewat" strategy . method of analogy and This study indicates that educational institutions and organizational management must synergize with local wisdom in building education, as culture is their identity. The research subjects involved traditional leaders, community members, and cultural figures of the Gayo people in Central Aceh. The analysis results show that the [AUTHOR NAME] Konsep Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu Dalam Manajemen Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Gayo philosophy "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu" reflects the importance of social hierarchy and cooperation within society and organizations. The research reveals that the application of this philosophy in daily life is evident in deliberations, family interactions, collective decision-making, and the division of tasks in various institutions, including schools. Although facing the challenges of modernization, these values remain relevant and can be integrated into modern organizational management practices. The philosophy or PM "Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu" has significant potential for enhancing work efficiency and effectiveness in modern organizations. Therefore, it is crucial to internalize it through relevant education and training programs Keywords: Philosophy of Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu. Organizational Management * Korespondensi Author: Indra. Pascasarjana IAIN Takengon PENDAHULUAN Pendekatan budaya dalam suatu lembaga merupakan pengetahuan lokal yang sudah diyakini sejak lama dan menjadi tradisi di masyarakat. Hal ini menyatu dengan sistem kepercayaan, budaya, dan norma-norma adat yang ada di suatu daerah, sehingga patut untuk dijadikan kajian yang dapat ditelaah sebagai ilmu pengetahuan karena falsafah norma-norma adat yang dipegang oleh masyarakat bersifat kekal dan berkualifikasi setua dengan usia masyarakat setempat (Abidah et al. , 2. Tuturan PM rues ku ines, tungku ku pelu secara harfiah merupakan ajakan untuk menjaga hubungan baik antar individu dan komunitas. Dalam budaya Gayo, hal ini mencerminkan pentingnya nilai-nilai sosial dan norma adat yang menjadi pedoman dalam berinteraksi. Kajian tentang norma adat Gayo menunjukkan bahwa setiap tindakan harus dilakukan dengan sentuhan nilai dan norma yang ada, sehingga tercapai kehidupan yang damai dan harmonis (Darmawan, 2. Lebih jauh lagi Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu dapat dipahami sebagai sebuah sistem yang mengatur hubungan sosial, politik, budaya, ekonomi, dan hubungan antarpribadi. Kualitas unik yang membentuk kearifan lokal berakar pada masyarakat, dinamis, dan berkelanjutan (Mazid et , 2. Konsep "rues ku ines tungku ku pelu", yang berarti menyerahkan sesuatu kepada ahlinya . roporsi dan professiona. , dapat diterapkan dalam struktur organisasi modern untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Dalam penelitian mengenai penerapan konsep rues ku ines tungku ku pelu. dalam organisasi berbasis kearifan lokal Gayo, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi. Masalah-masalah ini mencakup tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam implementasi prinsip tersebut. Berikut adalah beberapa masalah yang terjadi saat ini diantaranya. ketidakpahaman pimpinan organisasi mengenai keahlian dan kompetensi pegawai. Hal ini mengakibatkan penempatan individu pada posisi yang tidak sesuai dengan keahlian mereka, yang dapat menghambat efisiensi dan efektivitas kerja. Konsep Pemberdayaan dan pengayaan dalam dunia kerja sangat sangat dibutuhkan, karena karyawan yang bekerja adalah manusia yang memiliki akal, kreatifitas dan inisiatif sebagai perwujudan unsur kemanusiaannya, sehingga ada karyawan yang sangat ambisius, totalitas (Abidah et al. , 2. Permasalahan yang kedua adalah kurangnya sistem penilaian yang jelas dalam organisasi. Tanpa adanya sistem penilaian yang transparan dan objektif, sulit untuk menentukan siapa yang paling cocok untuk mengambil keputusan dalam suatu proyek atau tugas tertentu (Rismawati & Mattalata. , 2. Hal ini dapat menyebabkan keputusan diambil oleh individu yang tidak memiliki keahlian yang diperlukan, sehingga mengurangi kualitas hasil. Ketiga bahwa budaya organisasi tidak mendukung akan mematikan kreativitas dan potensi karyawan itu sendiri. Budaya organisasi yang tidak menghargai atau mengakui keahlian individu dapat menghambat penerapan prinsip "rues ku ines tungku ku pelu". Jika organisasi tidak menciptakan lingkungan di mana keahlian dihargai dan dimanfaatkan, maka potensi karyawan tidak akan teroptimalkan. Masalah yang keempat adalah adanya resitensi terhadap perubahan. Ada kemungkinan adanya resistensi dari anggota organisasi terhadap penerapan prinsip ini, terutama jika mereka sudah terbiasa dengan cara kerja lama. Perubahan dalam struktur pengambilan keputusan dan penempatan peran dapat menimbulkan Konsep Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu Dalam Manajemen Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Gayo ketidaknyamanan dan konflik internal. Kemudian masalah lain adalah katerbatasan Sumber Daya. Keterbatasan sumber daya, baik dalam hal pelatihan maupun dukungan untuk pengembangan keahlian, dapat menjadi hambatan dalam menerapkan prinsip ini secara efektif. Tanpa investasi dalam pengembangan karyawan, sulit untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mengambil keputusan yang tepat. Bagian terakhir adalah tantangan dalam internaliasi kearifan lokal. Meskipun kearifan lokal memiliki potensi besar untuk memperkuat struktur organisasi, tantangan muncul ketika mencoba menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam praktik sehari-hari. Ada kebutuhan untuk menciptakan program pelatihan dan sosialisasi yang efektif agar semua anggota organisasi memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut secara konsisten Banyak antropolog dan sosiolog telah mencatat adanya tren generasi muda, terutama remaja, yang terputus dari warisan budaya lokal dan praktik- praktik tradisional mereka. Studi lintas budaya menunjukkan bahwa tingkat keterikatan remaja terhadap nilai-nilai keluarga dan sosial mengalami variasi signifikan di berbagai negara, dengan sebagian remaja menunjukkan keterikatan yang lemah terhadap identitas budaya tradisional (Kapetanovic et al. , 2. Kurangnya transmisi antargenerasi telah disebut sebagai alasan utama erosi budaya, karena semakin sedikit orang tua yang mewariskan bahasa, seni, dan ritual lokal kepada kaum Di beberapa masyarakat adat, kekhawatiran telah dikemukakan tentang hilangnya pengetahuan ekologi tradisional dikalangan anak muda yang terputus dari praktik-praktik berbasis lahan. Namun, beberapa aktivis pemuda telah menggunakan media sosial untuk merevitalisasi dan mempromosikan kesadaran akan warisan budaya lokal mereka di antara teman sebaya. Di Indonesia, studi-terkait menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu oleh kaum muda semakin Misalnya, berdasarkan data sensus 2020, persentase penutur bahasa daerah . ahasa ib. pada kelompok usia muda jauh lebih rendah dibanding usia lanjut (Samuel, 2. Temuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menyoroti pergeseran linguistik di kalangan remaja Indonesia. Fitriati et al. , . mencatat bahwa sikap bahasa kaum muda terhadap bahasa daerah seperti Jawa menunjukkan kecenderungan penurunan penggunaan aktif akibat dominasi bahasa Indonesia di ranah pendidikan dan media sosial. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pilihan bahasa bukan sekadar persoalan komunikasi, tetapi juga refleksi orientasi identitas budaya generasi muda yang semakin mengarah pada nilai-nilai nasional dan global. Perubahan preferensi bahasa ini dapat dibaca sebagai indikator melemahnya transmisi budaya lokal melalui bahasa ibu di lingkungan keluarga dan komunitas. Hal ini juga dialami oleh masyarakat Gayo bahwa budaya mereka tergerus oleh budaya-budaya asing terutama budaya K-Pop atau korea. Para peneliti mengamati bahwa erosi budaya ini berdampak langsung pada dinamika kelas dan perilaku siswa. Banyak siswa menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap figur otoritas, mengabaikan nilainilai tradisional seperti disiplin dan kerja sama, dan berjuang untuk menemukan makna dalam kegiatan di kelas yang tidak sesuai dengan pandangan dunia mereka yang semakin kebarat- baratan. Hasil ini memperkuat pandangan bahwa faktor pendidikan formal, urbanisasi, dan mobilitas sosial berperan dalam mereduksi praktik intergenerasional bahasa daerah. Senada dengan itu, analisis media oleh Mulia . menunjukkan bahwa representasi bahasa ibu dalam wacana publik relatif rendah, yang semakin mempercepat proses Aupenghilangan simbolikAy bahasa daerah dari ruang komunikasi kontemporer. Untuk mengatasi masalah ini, para pendidik dan peneliti menekankan pentingnya menghidupkan kembali dan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam budaya organisasi Dengan menghubungkan kembali siswa dengan warisan budaya mereka dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih bermakna dan menarik yang sesuai dengan identitas siswa dan mendorong perilaku positif. Salah satu kearifan lokal masyarakat Gayo adalah tuturan bijak atau Peri Mestike. Peri Mestike merupakan tutur yang digunakan oleh masyarakat Gayo untuk mengindentifikasi suatu persoalan dan menetapkan suatu pilihan dengan cara yang tepat dan bijaksana dengan memperhatikan setiap nasehat yang ada dalam Peri Konsep Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu Dalam Manajemen Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Gayo Mestike itu sendiri (Indra, 2. Mengenali asal-usul suku Gayo merupakan tugas yang menantang, karena tidak banyak literatur yang menjelaskan tentang suku Gayo. Hal ini disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk terbatasnya jumlah antropolog yang meneliti asal-usul suku ini. Isu-isu budaya dan perubahan sosial dalam masyarakat Gayo mendominasi penelitian tentang suku Gayo. Dengan demikian, potensi positif dari integrasi kearifan lokal Gayo Rues ku Ines Tungku Ku Pelu dalam organisasi dan memberikan dasar yang kuat untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian ini diharapkan akan mengembangkan strategi yang lebih komprehensif untuk menerapkan kearifan lokal dalam manajemen organisasi, sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat, pemerintah dan sebagai upaya pelestarian budaya di Aceh, khususnya Aceh Tengah II. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini tergolong pada jenis penelitian kualitatif yang dilaksakan di Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian Kualiatatif merupakan studi mendalam yang menggunakan teknik berhadapan langsung dengan orang-orang yang latar ilmiah mereka dalam mengumpulkan data. Dalam hal ini, peneliti berupaya menemukan dinamika tentang Adat dan kebudayaan masyarakat Gayo terutama mengenai falsafah Peri Mestike terkhusus pada konsep Falsafah Rues ku ines tungku ku pelu dan integrasinya dalam manajemen organisasi di Takengon Kabupaten Aceh Tengah sebagai bahagian dari upaya membangun berbasis organisasi atau lembaga pada nilainilai kearifan lokal. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnopedagogik. Bungin . menyatakan etnopedagogi yakni sebuah pendekatan pada praktek pendidikan berbasis local widom dalam berbagai ranah seperti Pendidikan, pengobatan, seni bela diri, lingkungan hidup, pertanian, ekonomi, pemerintahan, sistem penanggalan, dan lain-lain. Etnopedagogi memandang pengetahuan atau kearifan lokal sebagai sumber inovasi dan keterampilan yang dapat diberdayakan demi kesejahteraan masyarakat. Kearifan lokal adalah bagaimana pengetahuan dihasilkan, disimpan, diterapkan, dikelola, dan diwariskan. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi kelompok sosial mengenai adat dan budaya masyarakat Gayo dengan fokus pada memahami falsafah budaya Gayo berwujud Peri Mestike (PM) yang di realisasikan dalam kehidupan mereka serta integrasinya dalam dunia pendidikan dan organisasi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara interaktif kepada para informan yakni kepala sekolah, guru, akademisi, pelaku adat dan tokoh adat Gayo yang dianggap memiliki kapasitas terkait penelitian ini, dan bahasa yang digunakan dalam wawancara kebanyakan menggunakan bahasa Gayo. Dalam wawancara ini peneliti juga menggunakan strategi Autengkah bengkuang gewatAy . idak langsung menayakan persoalan yakni dengan perumpamaan dan kia. dan menggunakan dua teknik, yakni. teknik personal experience . , dan teknik pancing. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data yang valid, karena bagi orang tua atau tokoh adat di Gayo yang memiliki budaya tinggi jika ditanya langsung kebanyakan mereka tidak memberikan informasi yang valid . Disamping itu teknik tersebut dilakukan untuk menghindari bias makna, rasa gugup atau canggung informan dalam menjawab pertanyaan dari peneliti. Selanjatunya, observasi dan dokumentasi juga dilakukan untuk mendapatkan data penting lainnya. Sebagai pisau analisis, peneliti menggunakan analisis penelitian etnografi yakni: analisis domain yakni untuk menentukan domain dan simbul-simbul PM, taksonomi untuk menentukan klasifikasi PM, analisis komponen untuk menemukan komponen-komponen makna PM, dan analisis tema, yakni menemukan sisitematik PM pada pendidikan. Konsep Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu Dalam Manajemen Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Gayo i. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan pendekatan etnopedagogik dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk memahami penerapan falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu dalam kehidupan sosial masyarakat Gayo serta relevansinya terhadap praktik manajemen organisasi modern. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami makna simbolik dan praktik keseharian masyarakat sebagai sumber pembelajaran nilai-nilai kepemimpinan, profesionalisme, dan kolaborasi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu memiliki makna Aumenempatkan sesuatu pada tempatnyaAy atau Aubertindak sesuai aturan dan peran yang semestinya. Ay Menurut Ama Ibnu Hajar Lut Tawar, falsafah ini tercermin dalam praktik musyawarah desa di mana setiap orang diberi ruang untuk berpendapat, dan keputusan diambil secara mufakat. Dalam konteks keluarga, anak-anak diajarkan menghormati orang tua dan memahami tanggung jawab sosialnya. Prinsip ini menggambarkan keseimbangan antara struktur hierarkis dan nilai kolektif masyarakat Gayo. Selanjutnya. Reje Kemili menegaskan bahwa falsafah ini diterapkan dalam sistem sosial Sarak Opat, yang menekankan kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam pengambilan keputusan, pemimpin wajib mendengar pandangan seluruh anggota, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangannya. Konsep ini menunjukkan keseimbangan antara Rues Ku Ines . enegasan struktur dan tanggung jawa. dan Tungku Ku Pelu . emangat kebersamaan dan kerja sam. Tokoh masyarakat lainnya. Ama Joni, menambahkan bahwa dalam konteks organisasi modern, falsafah ini dapat dipahami sebagai prinsip pembagian fungsi dan tanggung jawab yang jelas. Rues Ku Ines merepresentasikan tugas pokok dan fungsi . individu dalam organisasi, sedangkan Tungku Ku Pelu menekankan pentingnya koordinasi dan sinergi antaranggotanya. Interpretasi yang lebih akademik menjelaskan bahwa Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu bermakna profesionalisme dan proporsionalitas dalam bekerja. Falsafah ini mengajarkan agar setiap tugas diserahkan kepada orang yang ahli di bidangnya. Dalam konteks organisasi modern, nilai ini berfungsi untuk menjaga efektivitas kerja, menghindari penyalahgunaan wewenang, serta menegakkan prinsip kompetensi dan tanggung jawab moral. Selain melalui wawancara, hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam falsafah ini benar-benar dihidupi masyarakat Gayo melalui praktik sosial berikut: Tabel 1 Implementasi Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Gayo Aspek Kehidupan Sosial Struktur Sosial Temuan Lapangan Setiap individu memahami peran dan kedudukannya dalam komunitas adat. Musyawarah Adat (Sarak Opa. Gotong Royong Pengambilan keputusan dilakukan secara mufakat dengan menghargai arahan pemimpin. Pembagian kerja dilakukan sesuai kemampuan individu, pria bertugas membawa bahan, wanita menyiapkan konsumsi. Nilai adat diajarkan melalui kegiatan beguru dan cerita rakyat. Pendidikan Nilai Budaya Hubungan Kekerabatan Solidaritas tinggi antar keluarga dalam upacara pernikahan atau kematian. Temuan Lapangan Mencerminkan prinsip Rues Ku Ines Ae keseimbangan antara posisi, wewenang, dan tanggung jawab. Mewakili Tungku Ku Pelu Ae kolaborasi dan musyawarah sebagai dasar legitimasi sosial. Implementasi pembagian peran yang proporsional dan saling mendukung. Proses pendidikan etnopedagogik yang mentransmisikan nilai tanggung jawab sosial dan moral. Penguatan nilai kohesi sosial dan tanggung jawab kolektif. Konsep Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu Dalam Manajemen Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Gayo Berdasarkan Tabel 1, tampak bahwa falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan simbolik, melainkan telah melembaga dalam perilaku sosial masyarakat Gayo. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terimplementasi dalam setiap dimensi kehidupan, mulai dari struktur sosial hingga sistem pendidikan informal. Kegiatan musyawarah adat, gotong royong, dan praktik beguru berfungsi sebagai ruang etnopedagogik tempat nilai-nilai kearifan lokal ditransmisikan dan diinternalisasi oleh anggota Pola tersebut menunjukkan adanya keseimbangan antara prinsip Rues Ku Ines yang menekankan kejelasan peran dan tanggung jawab individu dengan prinsip Tungku Ku Pelu yang menegaskan pentingnya solidaritas dan kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, sistem sosial masyarakat Gayo mencerminkan model organisasi tradisional yang berorientasi pada profesionalisme, proporsionalitas, dan harmoni kolektif, yang relevan untuk diterapkan dalam manajemen organisasi modern. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa penerapan kearifan lokal dalam manajemen organisasi tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen strategis dalam memperkuat identitas kelembagaan dan meningkatkan efektivitas pengelolaan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Chairani et al. , . yang menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi dasar manajemen kreatif dan inovatif, khususnya dalam merespons dinamika global. Dalam konteks tersebut, kearifan lokal berfungsi sebagai Austrategi yang mampu menjadikan daya saing organisasi lebih baik dalam menghadapi tantangan globalAy dengan cara menginternalisasikan nilai budaya ke dalam proses inovasi dan pengambilan keputusan organisasi. Dengan demikian, pengelolaan organisasi yang berorientasi pada nilai budaya daerah bukan hanya mempertahankan eksistensi tradisi, tetapi juga mengadaptasikannya sebagai kekuatan kreatif dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi. Lebih lanjut, hasil penelitian ini juga diperkuat oleh temuan Juwandi et al. , . yang menyoroti pentingnya manajemen berbasis nilai lokal dalam pendidikan karakter di Aceh Tengah. Mereka menunjukkan bahwa proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan berbasis kearifan lokal Suku Gayo berperan penting dalam membentuk budaya organisasi sekolah yang berintegritas dan beridentitas Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan konsep manajemen berbasis budaya lokal . ocal wisdom-based managemen. Melalui pendekatan etnopedagogik, penelitian ini menunjukkan bahwa falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu merepresentasikan prinsip-prinsip fundamental dalam manajemen organisasi, yaitu profesionalisme, proporsionalitas, dan harmoni sosial. Nilai-nilai tersebut memiliki kesepadanan dengan konsep manajemen modern seperti role clarity, participative leadership, dan collective decision-making, namun memiliki akar filosofis yang lebih dalam karena berlandaskan nilai budaya dan spiritualitas masyarakat Gayo. Dengan demikian, temuan ini memperkaya teori manajemen kontemporer melalui integrasi kearifan lokal yang berorientasi pada keseimbangan antara hierarki dan kolektivitas. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi organisasi baik lembaga pemerintahan, pendidikan, maupun komunitas social untuk mengembangkan sistem manajemen yang adaptif terhadap konteks budaya lokal. Penerapan prinsip Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu mendorong terciptanya budaya organisasi yang menempatkan individu sesuai kompetensi dan tanggung jawabnya (Rues Ku Ine. , sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan solidaritas kerja (Tungku Ku Pel. Dimana kearifan lokal mampu menjadi fondasi manajemen kreatif dan inovatif dalam menghadapi perubahan global serta menegaskan pentingnya integrasi nilai budaya lokal dalam sistem manajemen pendidikan untuk memperkuat karakter dan identitas kelembagaan. Oleh karena itu, pengembangan model manajemen organisasi yang berlandaskan kearifan lokal dapat meningkatkan efektivitas kinerja, memperkuat etika profesional, dan memperluas partisipasi sosial di lingkungan kerja. Dari perspektif sosial dan pendidikan, penelitian ini menegaskan pentingnya revitalisasi nilai-nilai budaya dalam membentuk perilaku sosial dan profesional masyarakat. Pendekatan etnopedagogik yang Konsep Falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu Dalam Manajemen Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Gayo diterapkan menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter dan moral sosial. Melalui integrasi falsafah Rues Ku Ines Tungku Ku Pelu ke dalam sistem pembelajaran dan pelatihan organisasi, diharapkan generasi muda tidak hanya memahami nilai budaya leluhur, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik manajerial yang berorientasi pada tanggung jawab, kolaborasi, dan keadilan sosial. Dengan demikian, kearifan lokal masyarakat Gayo berpotensi menjadi paradigma alternatif dalam membangun model manajemen yang humanistik, kontekstual, dan IV. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa falsafah Rues Ku Ines. Tungku Ku Pelu merupakan sistem nilai yang berakar kuat dalam kebudayaan masyarakat Gayo dan berfungsi sebagai fondasi manajemen sosial yang menekankan keseimbangan antara struktur, tanggung jawab, dan solidaritas kolektif. Falsafah ini tidak hanya berperan dalam kehidupan sosial sehari-hari, tetapi juga dapat diadaptasi sebagai model manajemen organisasi modern yang berorientasi pada harmoni dan profesionalisme. Nilai-nilai seperti genap mupakat . , sumang . tika dan larangan mora. , serta alang tulung . otong royon. menjadi panduan normatif yang memperkuat integritas, kerja sama, dan kejelasan peran dalam organisasi. Dalam konteks manajemen organisasi, falsafah ini memiliki relevansi langsung dengan lima aspek utama pengelolaan: . struktur organisasi yang jelas sesuai fungsi dan peran (Rues Ku Ine. , . kerja tim yang didasarkan pada semangat saling mendukung (Tungku Ku Pel. , . pengambilan keputusan yang partisipatif dan berimbang, . budaya organisasi yang menghargai keberagaman pendapat namun tetap menjunjung efisiensi, dan . manajemen konflik yang berlandaskan saling menghormati dan pemahaman peran. Nilai-nilai ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal Gayo mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembentukan sistem manajemen berbasis budaya yang efektif dan berkeadilan. Meski demikian, penelitian ini juga menemukan tantangan dalam pelestarian dan implementasi nilainilai tersebut, terutama di kalangan generasi muda yang mulai terpengaruh oleh arus modernisasi dan Oleh karena itu, diperlukan strategi adaptif melalui pendidikan berbasis kearifan lokal, revitalisasi lembaga adat seperti Sarak Opat, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai media sosialisasi nilai-nilai Upaya ini penting untuk memastikan keberlanjutan falsafah Rues Ku Ines. Tungku Ku Pelu tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai paradigma manajemen kontemporer yang humanistik, etis, dan kontekstual dengan jati diri bangsa. REFERENSI