Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIME TOKEN Wardoyo SMP Negeri 2 Nguter. Kabupaten Sukoharjo Email: wardoyo1002@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan menerapkan model pembelajaran kooperatif Time Token untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris kelas Vi B SMP Negeri 2 Nguter tahun pelajaran 2017/ 2018. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di kelas Vi B semester I SMP Negeri 2 Nguter tahun pelajaran 2017/ 2018, sejumlah 32 siswa. Instrumen penelitian menggunakan tes, observasi, dan dokumentasi. Tahap-tahap analisis data dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar bahasa Inggris pada siswa kelas Vi B SMP Negeri 2 Nguter dapat ditingkatkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif Time Token. Persentase ketuntasan belajar siswa, yaitu: sebelum tindakan 20 siswa atau 62,5%, pada siklus I sebanyak 24 siswa atau 75% dan pada siklus II sebanyak 31 siswa atau 96,9%. Sedangkan rata-rata hasil belajar Bahasa Inggris siswa sebelum tindakan sebesar 70,9, pada siklus I sebesar 73,4, dan pada siklus II sebesar 81,7. Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif Time Token, hasil belajar bahasa Inggris. Abstrack The purpose of this classroom action research is to implemen time token cooperative learning model to improve students' learning achievement of English through in Vi B students of Semester I of SMP Negeri 2 Nguter in the 2017/ 2018 school year. This research was conducted in SMP Negeri 2 Nguterof class Vi B as many as 32 students. This research is a Classroom Action Research conducted in two cycles. Data collection techniques used documentation, observation, and written tests. Data collection tools are observation sheets, test items, and value list documents. Data analysis using comparative descriptive analysis followed by reflection on each cycle consists of four steps, namely: . Planning, . Action Implementation, . observation, and . The results of this study indicate an increase in learning achievement of English students. The percentage of students' learning mastery, example before the action of 62,5%, in the first cycle of 75% and in the second cycle of 96,9%. In addition, average score of learning achievement of English students also experienced an increase before the action of 70,9, in the first cycle of 73,4 and on the second cycle of 81,7. So it can be concluded that "The use of time token cooperative learning model can improve the learning achievement of English students of Vi B semester I SMP Negeri 2 Nguter 2017/ 2018 academic year". Keywords: Learning Achievement of English. Time Token Cooperative Learning Model. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 PENDAHULUAN Kerjasama antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar sangat penting karena seorang guru harus mampu menyajikan suatu materi pelajaran dengan maksimal dan mudah di mengerti oleh para siswa. Guru bukan sebagai pusat pembelajaran, melainkan sebagai pembimbing, motivator dan fasilitator. siswa tidak cepat bosan dalam menerima materi-materi baru dan menganggap mata pelajaran bahasa Inggris itu tidak susah. Berkaitan dengan hal tersebut, permasalahan yang sama terjadi di SMP Negeri 2 Nguter dimana kegiatan pembelajaran hanya berpusat pada guru sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi kurang menarik sehingga kurang diminati siswa. Hasil ulangan bahasa Inggris materi Ungkapan meminta, memberi barang atau jasa pada siswa kelas Vi A SMP Negeri 2 Nguter, diperoleh 67,5% siswa yang tuntas melebihi KKM dan rata-rata nilai 71,5. Jumlah siswa kelas Vi A sebanyak 32 siswa. KKM Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Nguter adalah 70,0. Hasil belajar adalah kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu tugas (Arifin dalam Media Pendidikan, 2012: . Berdasarkan pendapat Gunarso dalam Hengkiriawan . 2: . , usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar merupakan hasil belajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil dari usaha belajar maksimal yang sudah dilakukan oleh seseorang dalam menguasai suatu ilmu pengetahuan dan keterampilan berfikir yang menghasilkan perubahan dalam dirinya merupakan pengertian dari hasil belajar bahasa Inggris. Pembelajaran merupakan upaya guru untuk membantu siswa melakukan kegiatan belajar (Isjoni, 2007: . Sedangkan cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada peserta didik adalah model pembelajaran (Hamdani, 2011: . Karena penyampaian itu berlangsung dalam interaksi idukatif. Model pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya Dengan demikian, model pembelajaran merupakan alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Suatu strategi belajar mengajar yag menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama yang terdiri atas dua orang atau lebih dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, adalah pengertian model pembelajaran kooperatif (H. Karli dan Yuliariatiningsih dalam Hamdani, 2011: . Keterlibatan setiap anggota kelompok itu sendiri sangat mempengaruhi keberhasilan kerja. Suprijono . 9 : . menyatakan bahwa pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tutorial merupakan pengertian dari model pembelajaran. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan Merujuk pemikiran Joyce, fungsi model adalah Aueach model guides us as we design instruction to help students achieve various objectivesAy. Siswa terbantu model pembelajaran yang diterapkan guru dalam mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, dan mengekpresikan ide. Perancang pembelajaran dan para guru dapat menggunakan model pembelajaran sebagai pedoman dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Model pembelajaran Time Token merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif . ooperative learnin. atau biasa disebut pembelajaran berbasis sosial. Pesert didik harus bertanggung jawab terhadap belajar yang dilakukannya dan berusaha menemukan informasi sehingga dalam model pembelajaran Time Token, guru hanya bertin dak sebagai fasilitator, memberikan motivasi tetapi tidak mengarahkan suatu kelompok ke arah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Pemikiran peserta didik yang berupa pengalaman dalam konteks sosial dan mekanisme penting untuk perkembangan bisa diperoleh dengan model pembelajaran Time Token ini. Model pembelajaran Time Token mempunyai keunggulan yaitu kerja sama antar siswa dalam tiap kelompok dapat terbngun, siswa bertanggung jawab terhadap Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 penguasaan materi yang sudah diberikan baik secara individu maupun kelompok, setiap siswa dapat merasakan hasil kerja kelompok bersama sehingga dapat bekerja secara aktif dalam kelompoknya masing-masing mendiskusikan jawaban yang benar dari soal yang diberikan oleh guru sehingga hasil prestasi bahasa Inggris dapat ditingkatkan. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif Time Token menurut Arends . 8: . adalah: . Mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi . ooperative learning/CL). kupon berbicara dengan waktu sekitar 30 detik dan sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan diberikan kepada setiap . bila telah selesai bicara, kupon yang dipegang siswa diserahkan. berbicara satu kupon. Jika waktu telah habis, tiap siswa yang diberi kupon tak boleh bicara lagi. dan seterusnya. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif Time Token untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris kelas Vi B SMP Negeri 2 Nguter tahun pelajaran 2017/ 2018. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), atau disebut juga Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas (Arikunto, 2010: . Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Nguter. Tahap-tahap pelaksanaan kegiatan dilakukan selama kurang lebih selama 5 . bulan yaitu bulan Juli s. d Nopember 2017. Peneliti sebagai guru bahasa Inggris SMP Negeri 2 Nguter bertindak sebagai subjek yang melakukan tindakan Kepala Sekolah bertindak sebagai subjek yang membantu dalam perencanaan dan pengumpulan data. Subjek yang menerima tindakan adalah siswa kelas Vi B SMP Negeri 2 Nguter tahun pelajaran 2017/ 2018 sebanyak 32 siswa. Langkah-langkah penelitian untuk setiap siklus pembelajaran bahasa Inggris adalah sebagai berikut: Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Perencanaan Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan Pengamatan Perencanaan Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan Pengamatan Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan (Arikunto, 2010:. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: . Tes, observasi, dan Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu dan kelompok (Arikunto, 2010 : . Metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar bahasa Inggris siswa sebelum penelitian, selama penelitian dan setelah penelitian dilaksanakan. Observasi yang digunakan adalah observasi sistematis, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: lembar observasi, dan Lembar observasi digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi setiap tindakan agar kegiatan observasi tidak terlepas dari konteks permasalahan dan tujuan penelitian. Tes digunakan untuk melihat seberapa besar prestasi dan aktivitas belajar siswa terhadap materi yang diajarkan. Hasil tes dianalisis guna mengetahui hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran kooperatif Time Token. Indikator keberhasilan kinerja dalam penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya persentase ketuntasan siswa minimal 90% dan meningkatnya nilai rata-rata kelas minimal menjadi 80,00. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi awal dapat diketahui dengan melakukan kegiatan observasi di kelas Vi B SMP Negeri 2 Nguter. Kegiatan observasi awal ini dilakukan untuk mengetahui keadaan sebenarnya pada proses pembelajaran bahasa Inggris yang ada di lapangan. Berdasarkan observasi awal dengan teman sejawat diketahui bahwa siswa kelas Vi B memiliki hasil belajar rendah yang disebabkan karena kurangnya perhatian dan keaktifan dari siswa saat pembelajaran dengan model ceramah. Berdasarkan hasil pretest materi Ungkapan meminta, memberi barang atau jasa pada siswa kelas Vi B SMP Negeri 2 Nguter, dari 32 siswa yang mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70 sebanyak 20 siswa . ,5%) dan siswa yang tidak mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 12 siswa . ,5%) dengan nilai rata-rata kelas sebesar 71,5. Guru hanya menerapkan model ceramah dan siswa hanya disuruh mendengarkan dan mencatat apa yang Hasil ini dapat ditampilkan pada grafik berikut. Hasil belajar Prasiklus Rata-rata Ketuntasan Gambar 2. Hasil belajar Bahasa Inggris Siswa pada Prasiklus Salah satu solusi yang dikembangkan adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif Time Token. Dengan penggunaan model pembelajaran tersebut diharapkan akan menciptakan suasana belajar yang berbeda, bervariasi dan menyenangkan sehingga dapat menarik perhatian siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Tindakan Siklus I Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama 2 jam pelajaran . x 40 meni. Materi yang disampaikan pada siklus I adalah Ungkapan meminta barang atau jasa. Model pembelajaran Time Token dilaksanakan dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: . Pendahuluan berisi kegiatan guru memberi salam, mengkondisikan kelas, dan mengecek presensi siswa. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberi motivasi belajar. Kegiatan inti tentang pelaksanaan kegiatan model pembelajaran kooperatif Time Token, adapun langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut: . guru membagi siswa menjadi 5 kelompok, tiap kelompok beranggotakan 6-7 siswa. tiap siswa diberi kupon berbicara dengan waktu sekitar 30 detik, tiap siswa diberikan sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan. bila telah selesai bicara, kupon yang dipegang siswa setiap berbicara satu kupon. siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi, yang masih pegang kupon harus berbicara sampai kuponnya . Penutup, berisi kegiatan guru memberikan kesempatan siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. Kemudian guru memberikan postest, dan memberikan tugas rumah. Dalam tahap pengamatan tindakan ini, ternyata masih banyak siswa yang kurang aktif dan masing kurang bisa beradaptasi dengan model pembelajaran yang Semuanya dapat dilihat pada saat pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Time Token. Siswa yang kurang aktif cenderung hanya mengikuti arahan dari guru. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan cukup baik, yaitu guru mengajar dengan arah dan tujuan yang Namun ketika guru menyampaikan materi dengan model pembelajaran kooperatif Time Token, beberapa siswa tampak masih kurang memperhatikan, dan beraktivitas sendiri. Selain itu tidak semua kelompok dapat berdiskusi dengan baik. Setelah guru melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris dengan model pembelajaran kooperatif Time Token, guru melaksanakan evaluasi kepada siswa untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam mempelajari materi. Berdasarkan hasil Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 evaluasi pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Ratarata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 73,4, sebanyak 24 siswa . %) mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), dan sebanyak 8 siswa . %) tidak mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa proses pembelajaran pada siklus pertama sudah meningkatkan hasil belajar tetapi belum berjalan dengan cukup baik serta belum mencapai indikator kinerja yang diharapkan. Hasil ini dapat ditampilkan pada grafik berikut. Hasil belajar Siklus I Rata-rata Ketuntasan Gambar 3. Hasil belajar bahasa Inggris Siswa pada Siklus I Keberhasilan yang dicapai setelah siklus I hanya sebagian siswa yang menunjukkan partisipasi yang meningkat sementara siswa lainnya masih pasif. Refleksi terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab kurangnya partisipasi siswa adalah: . Sebagian siswa belum bisa mengikuti langkah-langkah pembelajaran model pembelajaran kooperatif Time Token. Kerjasama dalam kelompok berdiskusi belum maksimal. Hanya siswa tertentu saja yang dapat memahami materi dan soal yang diberikan kepada setiap kelompok. Solusi yang diambil untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah perlu dilakukan tindakan berikutnya untuk meningkatkan perhatian dan keaktifan belajar siswa dengan meningkatkan antusias siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif Time Token, guru memantau siswa pada saat Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 pemberian materi sehingga guru dapat menegur siswa yang kurang memperhatikan dan mendorong keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat ketika siswa belum mengerti tentang materi yang disampaikan oleh guru. Tindakan Siklus II Pembelajaran dilaksanakan dengan pedoman Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama 2 jam pelajaran . x 40 meni. Materi yang disampaikan pada siklus II adalah Ungkapan menerima barang atau jasa. Model pembelajaran Time Token dilaksanakan dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: . Pendahuluan berisi kegiatan guru memberi salam, mengkondisikan kelas, dan mengecek presensi siswa. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberi motivasi belajar. Kegiatan inti tentang pelaksanaan kegiatan model pembelajaran kooperatif Time Token, adapun langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut: . guru membagi siswa menjadi 8 kelompok, tiap kelompok beranggotakan 4 siswa. tiap siswa diberi kupon berbicara dengan waktu sekitar 30 detik, tiap siswa diberikan sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan. bila telah selesai bicara, kupon yang dipegang siswa setiap berbicara satu kupon. siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi, yang masih pegang kupon harus berbicara sampai kuponnya . Penutup, berisi kegiatan guru memberikan kesempatan siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. Kemudian guru memberikan postest, dan memberikan tugas rumah. Berdasarkan kegiatan observasi, secara garis besar diperoleh gambaran pelaksanaan tindakan siklus II ada peningkatan hasil belajar siswa. Dalam pertemuan ini banyak siswa mampu menjawab soal-soal yang diberikan dengan benar dan baik. Sebagian siswa aktif dalam bertanya dan mengemukakan ide Siswa juga dapat memahami materi yang telah diajarkan hal ini terlihat dari cara siswa menyelesaikan soal-soal. Setelah guru melaksanakan pembelajaran bahasa Inggrisdengan model pembelajaran kooperatif Time Token pada materi cara mengoperasikan sesuatu maka guru melaksanakan evaluasi kepada siswa untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam mempelajari materi. Berdasarkan hasil evaluasi pada siklus II Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II adalah 81,7 sebanyak 31 siswa . ,9%) mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), dan sebanyak 1 siswa . ,1%) tidak mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Hasil ini dapat ditampilkan pada grafik Rata-rata Ketuntasan Gambar 4. Hasil belajar bahasa Inggris Siswa pada Siklus II Sebagian siswa menunjukkan partisipasinya meningkat dari siklus I. Keberhasilan yang dicapai setelah siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian ini, sehingga tindakan ini tidak diteruskan atau dihentikan pada siklus II. Berdasarkan pengolahan dan analisis data di atas, maka diperoleh interpretasi bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Time Token terhadap peningkatan hasil belajar Bahasa Inggris siswa menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada sebelum tindakan ke siklus I, pada siklus I ke siklus II. Peningkatan hasil belajar Bahasa Inggris siswa sebagai efek dari meningkatnya kepercayaan diri siswa, kerjasama dalam tiap pasangan kelompok dan kemandirian dalam mengerjakan soal serta perhatiaan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian dari siklus pertama sampai dengan siklus kedua dapat diringkaskan seperti terlihat pada tabel sebagai berikut: Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Siswa yang mencapai KKM pada saat sebelum tindakan . sebanyak 20 siswa, setelah dilakukan tindakan siklus I sebanyak 24 siswa, setelah tidakan siklus II sebanyak 31 siswa sehingga meningkat 11 siswa. Tabel 1. Perkembangan Siswa yang Mencapai KKM Sebelum Tindakan/Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Prasiklus Siklus I Siklus II Hasil Siswa SisSiswa mencapai KKM Kondisi Prasiklus Kondisi Siklus I Kondisi Siklus II Gambar 5. Perkembangan Siswa yang Mencapai KKM Sebelum Tindakan/Prasiklus. SiklusI dan Siklus II Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar Bahasa Inggris siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Time Token, di setiap pelaksanaan tindakan, baik siklus I dan siklus II mengalami peningkatan, yaitu: siswa yang mencapai KKM Sebelum dilakukan tindakan atau prasiklus 20 siswa, setelah tidakan siklus I sebanyak 24 siswa dan setelah tindakan siklus II tindakan/prasiklus sampai dengan siklus II sebesar 11 siswa. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 Tabel 2. P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Perkembangan Persentase Siswa Mencapai KKM Sebelum Tindakan/Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Hasil Siswa Prasiklus Siklus I Siklus II PerPersentase Siswa Mencapai KKM 62,5% 96,9% 100,00% 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% Kondisi Prasiklus Kondisi Siklus I Kondisi Siklus II Gambar 6. Perkembangan Persentase Siswa Mencapai KKM Sebelum Tindakan/Prasiklus,Siklus I dan Siklus II Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar Bahasa Inggris siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Time Token, pada setiap pelaksanaan tindakan mengalami peningkatan, yaitu: persentase siswa yang mencapai KKM Sebelum dilakukan tindakan atau prasiklus 62,5%, setelah tidakan siklus I sebanyak 7% dan setelah tindakan siklus II sebanya 96,9%, sehingga terjadi peningkatan prasiklus sampai dengan siklus II. Nilai rata-rata kelas sebelum tindakan adalah 70,97, setelah tidakan siklus I adalah 73,4 dan setelah tindakan siklus II adalah 81,7 sehingga terjadi peningkatan. Tabel 3. Perkembangan Nilai Rata-rata Kelas Sebelum Tindakan/Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Hasil Siswa Prasiklus Siklus I Siklus II Nil Nilai rata-rata Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 Kondisi Prasiklus Kondisi Siklus I Kondisi Siklus II Gambar 7. Perkembangan Nilai Rata-rata Kelas Sebelum Tindakan/Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar bahasa Inggris siswa dengan menerapkan modelpembelajaran kooperatif Time Token pada setiap pelaksanaan tindakan mengalami peningkatan, yaitu: nilai rata-rata kelas sebelum dilakukan tindakan atau prasiklus adalah 70,9, setelah tidakan siklus I adalah 73,4 dan setelah tindakan siklus II adalah 81,7 sehingga dari kondisi awal sebelum tindakan/prasiklus sampai dengan tidakan pada siklus II terjadi Tabel 4. Perkembangan Siswa yang Mencapai KKM dan Nilai Rata-rata Kelas Sebelum Tindakan/Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Hasil Siswa Siklus Siklus II Prasiklus Siswa Mencapai KKM Pe Persentase 62,5% 96,9% Ni Nilai rata-rata kelas Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif Time Token dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris materi Ungkapan meminta. Jurnal DIKDAS BANTARA Volume 3. Nomor 1 Februari 2021 P-ISSN : 2615-4285 E-ISSN : 2615-5508 memberi barang atau jasa pada siswa kelas Vi B semester I SMP Negeri 2 Nguter tahun pelajaran 2017/ 2018. SIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif Time Token model pembelajaran kooperatif Time Token dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas Vi B semester I SMP Negeri 2 Nguter tahun ajaran 2017/ 2018. Hal ini dapat dilihat dari persentase ketuntasan belajar siswa, yaitu: sebelum tindakan 20 siswa atau 62,5%, pada siklus I sebanyak 24 siswa atau 75% dan pada siklus II sebanyak 31 siswa atau 96,9%. Sedangkan rata-rata hasil belajar Bahasa Inggris siswa sebelum tindakan sebesar 70,9, pada siklus I sebesar 73,4, dan pada siklus II sebesar 81,7. Pada siklus II nilai siswa yang telah mencapai KKM yaitu 96,9% dan rata-rata hasil belajar Bahasa Inggris siswa 81,7, angka ini menunjukkan bahwa penelitian telah berhasil, karena ketuntasan belajar siswa telah melampaui indikator kinerja yaitu 90% dan rata-rata hasil belajar Bahasa Inggris siswa telah melampaui indikator kinerja yaitu 80,0. REFERENSI