Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 05 No. 01 (Desember 2. 35Ae47 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Kepemimpinan Pembapaan Dalam Penggembalaan Jemaat Modern Samuel Devianus Wijaya STTI Harvest Semarang, fire4revival@gmail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. Wijaya. AiKepemimpinan Pembapaan Dalam Penggembalaan Jemaat Modern. An Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 4, no. 1 (December 31, 2. : 35-47, accessed December 31, 2024, https://doi. org/10. 52489/juteolog. American Psychological Association 7th edition (Wijaya, et al. , 2024, p. Received: 04 Agustus 2025 Accepted: 08 Agustus 2025 Published: 31 Desember 2024 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact fire4revival@gmail. Samuel Devianus Wijaya Abstract Jesus came into the world with a special mission that has spiritual and eternal value, but since Jesus began to serve in His daily practice. He did not look exclusive by only circulating in the spiritual environment. The synagogue. The temple, the Pharisees and Sadducees, the priests and Levi only. In fact, the Bible records that Jesus spent time in the Temple conversing with the priests, only once when he was a child. But when his ministry began. He merged with people from all levels/strata, speaking a down-to-earth language but encouraged the values and quality of life of those who associated with Him. Fathering leadership moves based on divine mandates/calls, but has a symmetrical relationship with all levels/strata, associates straight forwardly with internalizing Biblical truth values in modern packaging that does not look spiritually but still moves with authority recognized and acknowledged by those around him, so that, his leadership effectiveness produces qualified congregations, children or followers, who continuously influence the world around them with greater power. Keywords: Fathering leadership. Pastoral. Services. Modern. Future leadership Abstrak Yesus datang ke dunia dengan misi penyelamatan yang bernilai rohani dan kekal, tetapi sejak Yesus mulai melayani di dalam pelaksanaan-Nya sehari-hari. Dia tidak terlihat eksklusif dengan hanya beredar di lingkungan rohani. Sinagoga. Bait Allah, para Farisi dan Saduki, para imam dan Lewi saja. Bahkan Alkitab mencatat bahwa Yesus menggunakan waktu yang cukup banyak di dalam Bait Allah berbincang-bincang dengan para imam hanya sekali pada saat dia masih kecil. Tetapi sejak pelayanannya dimulai. Dia menyatu dengan masyarakat dari semua tingkatan/strata berbincang dengan bahasa yang membumi tetapi mendorong keluar nilai-nilai dan kualitas kehidupan orang-orang yang bergaul dengan-Nya. Kepemimpinan pembapaan bergerak berdasarkan mandat/panggilan ilahi, tetapi memiliki relasi simetris dengan seluruh tingkatan/strata, bergaul dengan lugas menginternalisasikan nilai-nilai kebenaran Alkitabiah dalam kemasan modern yang tidak terlihat rohani tetapi tetap bergerak dengan otoritas yang dikenali dan diakui oleh orang-orang di sekitarnya, dengan demikian efektifitas kepemimpinannya menghasilkan jemaat, anak-anak atau pengikut-pengikut yang berkualitas, yang secara berkelanjutan mempengaruhi dunia sekelilingnya dengan kekuatan yang lebih besar. Kata kunci: Kepemimpinan pembapaan, penggembalaan, pelayanan, modern, pemimpin masa depan PENDAHULUAN Sebuah kepemimpinan memiliki salah satu peran yang terpenting di dalam mempengaruhi sebuah kelompok dalam segala hal. Pemimpin harus memiliki integritas (Hermawan, 2. Tetapi situasi dan kondisi tertentu di dalam sebuah komunitas, lingkungan, kelompok budaya, bahkan sebuah bangsa turut pula menentukan bentuk kepemimpinan yang diberlakukan untuk memperoleh keberhasilan kepemimpinan yang diharapkan. Artinya, kepemimpinan bukan hanya menjadi penentu pengaruh di dalam sebuah kelompok, tetapi juga dipengaruhi pula oleh lingkungan yang ada (Wino et al, 2. Sehingga, kepemimpinan beradaptasi sedemikian untuk memimpin kelompok tertentu mencapai keberhasilan secara korporat. Kepemimpinan pembapaan adalah salah satu gaya kepemipinan yang berdasarkan pada dihapuskannya kesenjangan antara pemimpin dan pengikut karena di dalamnya sebuah kepemimpinan ditempatkan sebagai kawan atau sahabat sekaligus orangtua, dan sebaliknya Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya para pengikut ditempatkan pula sebagai kawan atau sahabat sekaligus anak-anaknya (Geisler. Kesenjangan itu dapat terhapus melalui proses waktu berjalannya kepemimpinan di suatu tempat. Dalam prakteknya, kepemimpinan pembapaan tidak selalu berbicara tentang seorang pemimpin yang harus berusia lebih tua dari seluruh pengikutnya. Tetapi secara prinsip, harus menjadi yang layak untuk dituakan di dalam kelompok kepemimpinan di suatu Jika kepemimpinan pembapaan di gereja mula-mula disebut merupakan kemanfaatan terbesar dari model kepemimpinan pembapaan rohani di era zaman para rasul, maka kepemimpinan pembapaan yang merupakan pencernaan dan rahim pelayanan rasuli semenjak pelayanan Yesus dan para rasul, tentunya relevan dengan situasi modern di dalam kepemimpinan gereja terutama penggembalaan jemaat (Wijaya, 2. Perbedaan terbesar adalah pada zamannya. Yesus disebut sebagai bapa dari para pemimpin di dalam pelayanan tiga setengah tahun yang berdampak dan mendunia. Scheidler dan Iverson menunjukkan halhal yang dikerjakan Yesus di dalam membapai para pemimpin yang dilatihnya, pertama. Yesus mendemonstrasikan keteladanan akan apa yang Dia harapkan pengikutnya juga Karena seorang pemimpin yang tidak bersedia menjadi teladan atau panutan tidak akan pernah berhasil mengembangkan para pengikutnya apalagi melahirkan pemimpinpemimpin. Pengikut butuh melihat AiPerkataan yang terbuat dari darah dan daging. An Kedua. Yesus menggunakan banyak waktu bersyafaat pribadi bagi para pengikut-Nya. Ketiga. Yesus mempunyai program pelatihan khusus bagi para pengikutnya. Pelatihan untuk melayani bukanlah satu-satunya yang akan ditangkap oleh para pengikut. Memang benar, berada di sekitar pelayanan yang diurapai adalah hal yang penting, tetapi pelajaran dan didikan yang sistematis tetaplah sangat penting. Keempat. Yesus mengajar para pengikut-Nya untuk berfungsi secara mandiri dari-Nya. Kelima. Yesus telah membukakan pintu-pintu kesempatan pelayanan bagi mereka (Scheidler and Iverson, 2. Dengan beberapa wawasan di atas, maka dapat ditemukan kembali bahwa pelayanan Yesus selama di dunia yang kemudian diadopsi oleh para murid, yang notabene adalah para rasul yang menerapkannya dalam pengembangan pelayanan gereja mula-mula, yang salah satu pengertiannya disebut sebagai pelayanan penggembalaan, terhadap jemaat-jemaat Tuhan yang tersebar hingga ke seluruh dunia. Secara otomatis kepemimpinan pembapaan dapat dikategorikan sebagai salah satu model kepemimpinan Alkitabiah yang seharusnya setiap pemimpin Kristen ada di dalamnya sebagai bagian dari pengalaman Alkitabiah-nya. HASIL DAN PEMBAHASAN Kepemimpinan pembapaan terlihat seperti sebuah bentuk, model, atau gaya kepemimpinan. Tetapi secara khusus berkaitan secara langsung sebagai sesuatu yang fungsional dalam kepemimpinan, bahkan secara Alkitabiah dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk dan model dalam pelayanan penggembalaan. Dengan difokuskannya pada kemampuan kepemimpinan pembapaan di dalam pelayanan penggembalaan modern, akan berhadapan dengan fakta-fakta modern sebagai tantangannya, terutama dalam praktek penggembalaan untuk mendapatkan kualitas jemaat dan calon-calon pemimpin baru yang akan datang. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya Tantangan Kekristenan Masa Kini Fakta modern menjadi tantangan di era modern atau masa kini, menurut Zaluchu, gereja perlu melakukan berbagai penyesuaian di dalam dua hal antara lain, pertama penyesuaian strategis, penyesuaian ini bertujuan untuk melakukan perubahan yang dipandang perlu dalam hal ajaran, tata cara, organisasi dan strategi pemberitaan Injil. Kedua, penyesuaian yang bersifat konsolidatif, yaitu sebuah usaha untuk merapatkan barisan dan memperkokoh ajaran gereja . akni Inji. di tengah dualisme situasi dan alam pikiran manusia yang secara tegas menarik batas antara hal-hal dunia . ang nyata, dimengerti dan rea. dengan hal-hal rohani . ang dianggap abstrak dan tidak nala. Sehingga secara mendasar gereja lokal perlu menemukan dan meletakkan dasar teologi demi kepentingan gereja lokal (Zaluchu, 2. Hal ini sangat berguna di dalam gereja lokal untuk menciptakan relasi antara kepemimpinan rohani dengan jemaat, jemaat dengan kepemimpinan rohani, jemaat dengan jemaat dan antar kepemimpinan rohani di dalam gereja lokal. Salah satu tantangan modernisasi kekinian, adalah berkembangnya dunia internet, yang secara khusus telah membentuk ruang siber. Ruang siber adalah sebuah ruang publik dan bukan sebuah ruang halusinasi. Juhani memahami ruang publik sebagai ruang kopi . di mana orang atau kelompok orang dapat mendiskusikan secara kritis berbagai kebijakan Pemerintah atau Negara, bahkan lebih lanjut dapat dipergunakan untuk membicarakan hal-hal yang bersifat teologis sekalipun (Juhani, 2. Komunikasi yang berkembang di ruang publik lebih bercirikan pengabaian status satu sama lain, diskusi berdasarkan kesamaan gagasan dan cita-cita dan bersifat inklusif, sehingga dapat dikatakan relasi yang terbangun dalam ruang publik adalah relasi simetris. Seorang pendeta dan ahli strategi media sosial. Justin Wise, pendiri Think Digital Academy, memiliki pendapat yang menarik berkenaan dengan Rasul Paulus ketika menulis suratnya dalam Perjanjian Baru di zamannya, menggunakan sebuah pena dan kertas . yang keduanya adalah teknologi inovatif pada zaman itu, menjadi suatu contoh teknologi terapan di dalam praktek pelayanan rohani, khususnya dalam penggembalaan dan pengajaran (Cemerling, 2. Gereja lokal di era modern kekinian, sangat wajib untuk menggunakan fasilitas teknologi, seperti teknologi audio-visual terkini, demi pertumbuhan kualitas dan kuantas gereja tersebut. Sehingga, teknologi akan menjadi salah satu pendukung kekuatan gereja berteologi dengan hasilnya adalah kelangsungan dan kenyamanan hidup di antara hubungan Allah dengan manusia dan sebaliknya (GP, 2. Berbicara mengenai ibadah itu sendiri di era modern kekinian, ibadah bukan sekadar mencari kesenangan rohani belaka, melainkan juga proses penyusunan strategi kehidupan . ersama Yesu. untuk membangun dan mengembangkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan (Panjaitan and Lumingkewas, 2. Tetapi sebaliknya, ibadah kontemporer lebih sering dilakukan dalam rangka mencari kepuasan rohani belaka, sehingga melupakan tujuan awal beribadah untuk menyusun strategi bersama Yesus menemukan solusi masalah sosial yang dialaminya dan berujung pada hal-hal yang semata-mata hal rohani belaka, akan menyebabkan kekristenan tidak akan pernah menjadi berkat bagi kehidupan secara nyata (Panjaitan and Lumingkewas, 2. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya Jadi jika dapat disebutkan terdapat empat hal yang menjadi tantangan penggembalaan kekristenan modern yang harus dapat diselesaikan oleh kepemimpinan pembapaan sebagai tim kepemimpinan rohani di gereja. Pertama, penyesuaian dasar teologi gereja lokal yang relevan dalam membangun relasi personal di dalam Tubuh Kristus atau gereja lokal. Kedua, membentuk relasi dunia internet sebagai ruang siber dengan bentuk relasi simetris di dalamnya. Ketiga, penggunaan teknologi terapan dalam kekinian untuk memenuhi kebutuhan pengajaran dan penggembalaan di gereja lokal. Keempat, menempatkan fokus penyelesaian pembangunan jemaat Kristen yang berdampak, dengan menjadikan ibadah sebagai proses pribadi untuk menyusun strategi kehidupan bersama Yesus yang menhasilkan dampak pribadi, rohani, dan sosial. Mengacu pada fokus untuk menyelesaikan tantangan kekristenan modern masa kini seperti disebut di atas. Peran kepemimpinan rohani di gereja lokal merupakan hal yang sangat Bagaimana kepemimpinan pembapaan akan menghasilkan dampak terbaiknya bagi pertumbuhan jemaat yang berdampak sesuai dengan relevansinya di masa kini? Dikaitkan dengan tantangan pertama, kepemimpinan pembapaan di gereja lokal, secara struktural sangat berkompeten untuk menemukan kembali dan meletakkan dasar teologis Alkitabiah lalu menerapkannya dalam kehidupan bergereja sehari-hari, seperti seorang bapa menerapkan prinsip-prinsip dasar di dalam sebuah keluarga Allah. Terhadap tantangan kedua, kepemimpinan pembapaan secara prinsip berkewajiban untuk menginisiasi terbentuknya ruang publik di dalam gereja lokalnya yang bericirikan relasi simetris, bukan hanya di ruang siber tetapi juga di ruang fisik. Semuanya bertujuan membangun komunikasi yang lebih alami di dalam hubungan bergereja lokal. Tantangan ketiga merupakan wilayah otoritas kepemimpinan pembapaan di dalam gereja lokal untuk membangun infrastruktur fisik berbasis teknologi terapan yang ada sehingga memberikan kenyamanan dan kesempatan yang lebih luas bagi pertumbuhan jemaat di gereja lokal. Kepemimpinan pembapaan di gereja lokal memiliki tanggung jawab untuk mendorong jemaat lokal untuk mengalami Yesus sendiri dengan menjadikan setiap kegiatan kerohanian secara pribadi dan ibadah gereja lokal secara korporat menjadi ajang untuk menyusun strategi kehidupan bersama Yesus. Kepemimpinan pembapaan jika dikaitkan dengan pengertiannya adalah yang memiliki kesempatan, kewenangan, dan tanggung jawab untuk melakukan hal-hal tersebut di atas, dikarenakan relasinya dengan jemaat, anak-anaknya, atau para pengikutnya benar-benar seperti sebuah keluarga besar Allah secara jasmani. Kekristenan dan Kerohanian Modern Kekristenan, utamanya teologi secara praktis, bertumbuh dengan dipengaruhi tren yang berkaitan dengan respon akal budi manusia terhadap perubahan yang terjadi, dari situasi sosial hingga kemajuan teknologi yang ada. Keberagaman dan perbedaan kebudayaan di dalam suatu kelompok sosial juga sangat mempengaruhi bagaimana teologi dan pribadipribadi Kristen bertumbuh. Di tingkat lokal yang memiliki keberagaman budaya yang tinggi, diperlukan adaptasi yang komunikatif dengan berbagai kebudayaan dan agama yang terdapat di sekitar kekristenan atau gereja lokal untuk mencapai keharmonisan relasi satu dengan lainnya, yang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya oleh Siagian disebut sebagai AiTeologi HarmoniAn (Siagian, 2. Secara khusus harmoni harus didorong dan dikembangkan secara aktif hingga tercapainya keadilan sosial. Teologi harmoni, menyimpulkan jika keberagaman menjadi kesatuan anggota tubuh, maka masalah sekompleks apapun pasti bisa diatasi. Sangat mirip dengan konsep kesatuan Tubuh Kristus, yang tidak harus seragam tetapi setiap bagiannya mengerjakan bagiannya dengan bertanggung jawab dengan didukung anggota tubuh lainnya. Bagi manusia modern, teologi mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar doktrin yang dibakukan dan dibukukan. Pada saat orang modern berbicara mengenai teologi, seringkali tidak terbatas hanya pada hal-hal yang berbau ayat-ayat Alkitab saja, tetapi secara otomatis akan menyasar pada topik-topik politik, pendidikan, ekonomi, persatuan buruh, revolusi, dan lain-lain (Conn, 2. Hal ini sangat mungkin terjadi dikarenakan spektrum singularitas bahwa hal teologi bukan hanya pantas berada di lingkungan rohani atau gereja saja tetapi juga di segala sektor kehidupan. Yang memperkuat penalaran ini adalah, penggunaan pendekatan ilmiah dan logika menjadi satu-satunya cara manusia merespon hidupnya, bahkan sekelilingnya. Secara otomatis kehadiran proses berteologi manusia, khususnya orang Kristen modern dimulai dengan sebuah Ankebebasan,An dalam menghubungkan suatu dasar pemahaman terhadap ayat-ayat tertentu dalam Alkitab dengan pemikiran, untuk mengintegrasikannya dengan kehidupan nyata di sekitarnya sehingga orang Kristen dapat merespon secara positif dan dewasa situasi yang sedang terjadi (Wijaya, 2. Secara logis, dalam pandangan subjectivism-existencialist, manusia modern yang hidup dalam dunia sekular harus berani berhadapan dan mengatasi ketakutan terhadap diri sendiri, orang lain, maupun ketakutan terhadap kematian. Selain itu manusia juga didorong untuk berani menghadapi setiap jenis keterbatasan, perasaan bersalah, kekuatiran, yang kesemuanya itu hanyalah merupakan bentuk dari inauthentic existence. dengan nilai akhir dari perjalanan kehidupannya yang telah terintegrasi dengan pemahaman teologis yang Alkitabiah, sehingga disebut sebagai orang Kristen yang dewasa (Lukito, 2. Secara faktual, dengan dukungan perubahan zaman dan teknologi yang semakin maju, maka kualitas pertumbuhan kerohanian, dalam prosesnya dapat semakin cepat, bersifat individual, atau pribadi demi pribadi. Hingga tidak mungkin lagi disebutkan pertumbuhan kedewasaan rohani secara korporat. Oleh karena itu, kekristenan dan kerohanian modern pada kenyataannya tetap harus memiliki pertumbuhan kualitas yang dapat terjadi jika kepemimpinan di gereja lokal, atau kelompok-kelompok organisasi kekristenan secara sensitif dan adaptif menjalankan gaya kepemimpinan yang mumpuni dan relevan untuk merespon situasi sosial sekelilingnya dengan jemaat atau para pengikutnya. Salah satu yang menjadi kenyataan lapangan dari pengaruh modernisasi secara umum adalah proses pertumbuhan rohani yang disentuh dengan kemasan yang tidak terlihat rohani sama sekali. Yaitu, manusia butuh untuk dapat mengatasi perkara paranoia tertentu atau ketakutan terhadap sesuatu secara wajar, logis, dan umum tetapi mendukung keberhasilan pencapaian mental dan rohani secara signifikan. Seperti kepemimpinan pembapaan diterapkan secara umum dan terlihat sekuler, tetapi pertumbuhan kualitas kerohanian anak-anaknya atau para pengikutnya ikut tersentuh dan bertumbuh dengan baik. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya Kepemimpinan Pembapaan untuk Pertumbuhan Jemaat Kepemimpinan pembapaan merupakan perwujudan dari model pelayanan Yesus yang diadopsi oleh para rasul khususnya Rasul Paulus di era gereja mula-mula untuk mencapai pertumbuhan dan ekspansi gereja. Dalam hal ini. Scheidler dan Iverson menunjukkan lima hal yang menjadi langkah-langkah utama Yesus dalam kepemimpinan pembapaan yang dikerjakan, yaitu penginjilan, pemuridan, pengembangan kepemimpinan, pendelegasian otoritas dan menindaklanjuti dengan pengutusan. Oleh karena itu kepemimpinan pembapaan di dalam mengembangkan teologi gereja lokalnya, perlu membangun relasi simetris di dalam gereja lokalnya, penggunaan teknologi terapan semaksimal mungkin untuk pertumbuhan jemaatnya, dan pembangunan ibadah yang berbasis pada pengalaman membangun relasi yang intim dengan Yesus, harus mengacu pada kelima hal yang dikerjakan Yesus, yaitu penginjilan, pemuridan, pengembangan kepemimpinan, pendelegasian otoritas dan menindaklanjuti dengan pengutusan. Yang secara khusus dan menyeluruh dikerjakan dengan intensif dan komprehensif akan menghasilkan pertumbuhan secara kuantitas dan kualitas dari jemaat atau para pengikut untuk mencapai kualitas kepribadian seorang pemimpin. Nilai-nilai Alkitabiah ini yang akhirnya menjadi doktrin dalam mencapai kualitas dan kuantitas pertumbuhan gereja di masa yang akan datang. Sementara terus mempersiapkan diri untuk perkembangan globalisasi selanjutnya, secara sosiologis, budaya, maupun teknologi yang dapat dimasuki setiap saat oleh gereja lokal ke depannya. Bagaimanapun hal ini perlu dipersiapkan sejak dini, dikarenakan perkembangan dan kekuatan globalisasi seolaholah menekan model teologi sebuah gereja untuk terus bertransformasi menjadi lebih baik lagi (GP, 2. Oleh karena itu, gereja lokal yang berhadapan dengan hal-hal tersebut di atas, menurut Lukito . Maka yang terpenting sekarang adalah gereja dan orang Kristen harus sungguh-sungguh menjelang millennium yang baru, berusaha mengerti kecenderungan yang berkembang pada zaman ini, menyadari arah berubahnya teologi dan menyiapkan caracara untuk menghadapinya agar iman Kristen yang unik itu tetap dapat disampaikan secara efektif dan produktif bagi zaman ini. Dalam hal-hal ini hanya jemaat atau pengikut yang dewasa yang dapat mengatasi secara positif. Penggembalaan Modern dalam Kepemimpinan Pembapaan Penggembalaan kepemimpinan pembapaan, sesuai dengan uraian di atas berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan akan pertumbuhan jemaat gereja lokal, terutama secara kualitas. Oleh karena itu, jika gereja lokal hendak menerapkan kepemimpinan pembapaan di dalam gaya kepemimpinan di gereja lokalnya, perlu memperhatikan dan memastikan bahwa meneladani langkah-langkah utama yang Yesus pergunakan di dalam mengembangkan pengikut-Nya dapat memberi dampak secara positif. Yesus dengan penginjilan. Melalui Kis. 10:38. Aiyaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa. Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. An Merupakan model paling sederhana dan gamblang dari apa yang Yesus lakukan untuk menginjil atau menyampaikan AiKabar Baik. An Banyak orang yang tidak Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya terlatih merasa terbebani saat dituntut untuk menginjil, dikarenakan tidak memiliki kemampuan spesifik untuk menginjil seperti yang acapkali didengar mengenai penginjilan. Tetapi cara yang Yesus terapkan sangat relevan dengan berbagai situasi dan kemampuan hampir semua orang Kristen masa kini. Dengan catatan pentingnya adalah disertai, dipenuhi dan diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus. Roh Kudus-lah yang menghidupkan kehidupan Yesus di dunia dengan kuasa-Nya (Porter, 2. Sehingga dapat dikatakan bahwa pelayanan penginjilan Yesus dapat dikerjakan karena kuasa Roh Kudus di dalam-Nya. Yesus memiliki Roh Kudus di dalam-Nya (Keener, 2019. McKnight, 2. Yesus menyembuhkan karena Allah menyertai-Nya (Mayhue, 2. Roh Kudus akan menyatakan kehendak Allah, kuasaNya, dan penyertaan-Nya melalui tanda-tanda yang akan menyertai dan menggugah seseorang untuk menyadari kehadiran Yesus sang juruselamat. Kepemimpinan pembapaan menekankan pada para pengikutnya, bahwa Yesus telah mengerjakan-Nya, karena itu sekarang umat-Nya akan mengerjakan dengan cara yang sama pula. Yesus dan pemuridan. Ajaran utama Yesus dalam pemuridan yang dikerjakan-Nya berawal dan berpusat dari Mat. 10:22-10:52 dan yang menjadi inti utamanya adalah meletakkan standar baru pemuridan dengan memperkenalkan etika baru dalam menggenapi gaya baru pemuridan secara radikal untuk menjadi murid-Nya (Cox, 2. Salah satu hati yang harus dimiliki oleh seorang pemurid seperti Yesus adalah hati sebagai orangtua atas murid-muridnya. Dengan karakteristik yang Yesus lakukan jika orangtua dalam kepemimpinan dikaitkan dengan kepemimpinan pembapaan, pertama, kepemimpinan pembapaan akan mengasihi anak-anaknya (Yoh. 13:35. Kis. 20:20,32. 1 Tes. 2:8. 2 Kor. 12:15. 1 Yoh. Kedua, kepemimpinan pembapaan akan memberi makan atau menafkahi anak-anaknya (Kis 20:20,27. Yoh. 21:15-. Ketiga, kepemimpinan pembapaan akan melindungi anak-anaknya (Luk. 22:31,. Keempat, kepemimpinan pembapaan akan melatih anak-anaknya . Kor. Oleh karena itu, salah satu esensi pasti sebuah pembapaan adalah pemuridan, dan sebuah pemuridan harus dilakukan dengan hati Yesus dan pengembangan kepemimpinan. Kepemimpinan melibatkan diri untuk mengangkat orang lain ke puncak potensinya dalam Kristus. Dan itu membutuhkan visi, kesediaan hati, hati hamba, dan bertumbuhnya sisi-sisi kasih akan Kristus dan dunia yang Yesus percaya bahwa potensi setiap orang harus selalu dipertimbangkan dan bukan kelemahan atau kesalahan-kesalahannya. Walaupun di dalam pelatihan kepemimpinan, seorang bapa sebagai pemimpin berkewajiban melakukan evaluasi terhadap kelasnya, survei menunjukkan bahwa setiap pelajaran yang diajarkan pasti berpengaruh signifikan dan mendukung perkembangan yang komprehensif atas anak-anaknya atau pengikutnya dan dirinya sebagai bapa dalam kepemimpinan (Littlejohn, 2. Yesus dan pendelegasian otoritas. Pendelegasian otoritas Kekristenan yang pertama di Alkitab, adalah dari Allah Bapa kepada Yesus Kristus (Ibr. 1:1-2a. Yoh. 12:49, 14:6. Matius 28:. Kemudian dilanjutkan oleh Yesus yang mendelegasikan otoritas-Nya kepada para rasul (Yoh. melalui beberapa pernyataan sebagai berikut. Allah memberikan Anak kuasa atas segala yang hidup, dan kuasa ini diberikan agar Dia dapat memberikan hidup yang kekal kepada semua manusia. Dan hidup yang kekal itu diberikan melalui pengenalan Allah Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya yang sejati dan Yesus Kristus yang telah diutus-Nya, yaitu murid-murid-Nya dari dunia, yang telah diberikan Bapa kepada-Nya, agar Yesus mengajar mereka segala yang Bapa telah berikan kepada-Nya, yaitu semua orang yang percaya pada-Nya melalui pemberitaan muridmurid-Nya. Dalam pendelegasian otoritas dari Bapa kepada Yesus, sudah jelas di dalam keilahian-Nya. Yesus tidak akan salah menafsirkan kehendak Allah, tetapi dari Yesus kepada murid-murid-Nya yang adalah manusia sangat mungkin terjadi kesalahan dalam memahami kehendak Allah untuk menerapkan otoritas tersebut. Oleh karena itu Kristus menjanjikan Roh Kudus untuk menuntun mereka ke dalam segala kebenaran . Kor. 2:9-. , tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. " Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkatakata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. An Keteladanan ini perlu untuk dicontoh oleh setiap bapa di dalam kepemimpinan pembapaan, bahwa apapun yang terjadi pendelegasian otoritas adalah suatu keniscayaan, tetapi itu bukanlah suatu yang menakutkan, tetapi sebaliknya, sebagai seorang bapa dalam kepemimpinan, akan selalu mempercayai anak-anaknya sambil mempersiapkan dan memperlengkapi anak-anaknya dengan segala hal yang mendukung penggunaan otoritas tersebut sekaligus memperkecil kesalahan dalam menerapkan dan menggunakan otoritasnya. Hal ini juga sebagai sarana transformasi nilai-nilai dan otoritas kepemimpinan atau kepemimpinan yang transformatif (Darsana, 2. Yesus dan penindaklanjutan pengutusan. Para pengikut direkrut untuk menemukan dan hidup sesuai dengan panggilan. Panggilan untuk memutuskan, menentukan, membuang kebiasaan rutin. Lalu panggilan untuk dengan berani menaklukkan ide-ide yang sekedar berburu gaya hidup. Untuk meninggalkan segala sesuatu (Fil. 3:3-. Agar terbangun hubungan terbaik Tuhan-nya. Murid sejati akan meneladani Tuhan-nya sampai hidup bersama dengan Kristus. Hingga menemukan karakteristik misinya yang khas (Faraoanu. Segalanya akan berakhir dengan pengutusan mereka untuk mengabarkan Injil dan menyatakan kesaksian hidup melalui perbuatan-perbuatannya, berdasarkan ketaatan dan kasih kepada Kristus di dalam gaya hidup yang radikal. Kepemimpinan pembapaan perlu untuk memperhatikan hal terakhir ini sebagai bagian yang harus dilakukannya terhadap para Mulai dari penguatan para pengikutnya hingga menemukan panggilan mereka yang khas hingga pengutusan mereka untuk mulai mengerjakan pemberitaan Injil kebenaran melalui segala aspek perlengkapan yang mereka telah peroleh selama berada di bawah kepemimpinan pembapaan yang di atasnya. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya Dengan beberapa teladan langkah tersebut di atas, dapat ditemukan langkah-langkah praktis dalam kemasan yang tidak semata-mata terlihat rohani tetapi memberikan pengaruh kerohanian yang positif kepada para pengikut dan orang-orang di sekeliling pengikut yang menjadi obyek praktek pendewasaan dan kedewasaan anak-anaknya atau para para Dalam konteks pemuridan, relasi spiritual . yang terjalin dengan baik antara yang memuridkan dan yang dimuridkan akan menghasilkan kedewasaan rohani orang-orang yang dimuridkan tersebut (Sitepu, 2. Anak Merepresentasikan Bapa Pengikut Merepresentasikan Pemimpin Manusia menurut gambar dan rupa Allah, identik dengan anak-anak akan merepresentasikan bapanya dalam kepemimpinan. Visi dan rencana Allah dalam penciptaan adalah manusia mengemban mandatnya dengan bertanggung jawab sehingga dengan itu dpat mempermuliakan Allah. Selaras dengan visi ini, wajah dan kehadiran seorang bapa dalam kepemimpinan, atau kepemimpinan pembapaan sesungguhnya direpresentasikan oleh anakanaknya atau para pengikutnya atau gereja lokal yang dipimpinnya. Hal tersebut dapat disebut sebagai transmisi nilai-nilai. Nilai-nilai sosial yang dianut orangtua dan diterapkan dalam keluarga memberikan efek pengaruh yang kuat yang mempengaruhi perilaku pro-sosial anak-anaknya di masa depan (Hellstrom et al, 2. Jadi dapat dikatakan, bahwa nilai-nilai pro-sosial individu mempengaruhi perilaku masa depan sebuah generasi dan ini terjadi sejak awal kehidupannya bersama dengan orangtuanya yang menjadi pengaruh penting dalam proses perjalanan kehidupan seorang anak menuju masa Tentunya kualitas relasi di dalam kepemimpinan pembapaan terhadap anak-anaknya atau para pengikutnya dan anta para pemimpin di dalam sebuah organisasi menimbulkan efek tidak langsung yang sangat penting terhadap pertumbuhan anak-anaknya atau para pengikutnya secara kualitatif (Rosenberg and Wilcox, 2. Dikarenakan generasi baru memiliki daya serap yang sangat besar terhadap nilai-nilai individualis generasi sebelumnya, dalam hal ini para orangtua atau bapa dalam kepemimpinan (Prioste, 2. Oleh karena itu secara konklusif, dapat disebutkan bahwa wajah anak merepresentasikan wajah bapanya, wajah para pengikut merepresentasikan wajah bapanya dalam kepemimpinan. Oleh karena itulah, kepemimpinan pembapaan memikul tanggung jawab besar dalam kehidupan generasi yang selanjutnya. KESIMPULAN Secara faktual gereja sepertinya belum siap menghadapi laju perkembangan modernisasi dunia yang semakin jauh dari kehendak Tuhan dan firman-Nya. Sebagian orang Kristen justru terlihat terlalu sibuk dengan urusan sekular atau segala aktifitas yang tidak ada kaitannya dengan kerohanian sama sekali, bahkan beberapa gereja lokal dan kelompokkelompok kerohanian larut dan menjadi serupa dengan dunia ini, salah satunya sikap menimbang untung-rugi dalam menjalankan pelayanannya sedangkan yang lain telah memiliki pola berpikir yang jauh berbeda dengan pola pikir kerajaan Allah. Terdapat banyak model dan gaya kepemimpinan yang dipergunakan dalam sebuah organisasi sekuler maupun Semuanya berusaha mempengaruhi para pengikut untuk menuju pada tujuan yang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 Desember 2024 Samuel Devianus Wijaya telah ditetapkan oleh pemimpin. Kepemimpinan pembapaan di dalam relasi simetris antara bapa dalam kepemimpinan dan anak-anaknya atau pengikutnya mengerjakan hal yang serupa di dalam nilai-nilai kekristenan yang berdasarkan pada teknik dan teladan kepemimpinan Yesus Kristus, pola berpikir kerajaan Allah yang dibawa Yesus ke dunia, secara langsung diterapkan ke dalam dunia sekuler di sekelilingnya. Memberi dampak perubahan kualitas kepada dunia modern dengan kemasan yang mungkin tidak terlihat rohani sama sekali, sambil mendorong keluar nilai-nilai yang jamak bagi dunia, seperti pertimbangan untungrugi, gagal-berhasil, dan transaksional dan menggantinya dengan ketulusan seorang bapa kepada anak-anaknya di lingkungan domestik, ke dalam lingkungan yang lebih luas yaitu lingkungan sekuler atau dunia yang modern. Dalam hal inilah, kepemimpinan pembapaan yang bertanggung jawab tentunya akan melakukan segala usaha yang terbaik agar anakanaknya atau para pengikutnya tergembalakan dengan baik dan mampu mengatasi segala tantangan duniawi dengan usaha dan hasil yang terbaik pula, lewat meneladani kepemimpinan Yesus dengan cara-cara yang membumi. Menyampaikan pesan moral dan rohani lewat kemasan yang tidak terlihat rohani. Melakukan penggembalaan modern ke semua lini kehidupan, lewat kemasan kepemimpinan pembapaan yang tidak terlihat rohani. Mengatasi tantangan modernisasi dengan penyesuaian-penyesuaian strategis, konsolidatif, membangun transformasi replika dunia siber yang simetris ke dalam relasi bapa dengan anakanaknya atau para pengikutnya. Mengkonstruksi penggunaan teknologi terapan modern untuk mengajar, menggembalakan, dan mendewasakan para pengikutnya. Dan berakhir dengan menjadikan segala bentuk ibadah dalam kehidupan atau kehidupan dengan ibadah yang menjadi proses penyusunan strategi kehidupan bersama Yesus. Kepemimpinan pembapaan yang baik akan menemukan teknik, strategi, dan metodologi penginjilan, pemuridan, pengembangan kepemimpinan, pendelegasian otoritas dan pengutusan yang diterapkan ke semua lihi kehidupan secara modern dengan kemasan yang mungkin tidak terlihat rohani tetapi efektif untuk mencapai keberhasilan transformasi rohani secara optimal di antara anakanaknya atau para pengikutnya. DAFTAR PUSTAKA