Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo Dan Sasak Di Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Lombok Timur Author Name: . Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun Universitas Islam Negeri Mataram. Indonesia Corresponding Author: fathurrahman305@uinmataram. ARTICLE HISTORY Received: 17 Maret 2025 Revised: 22 May 2025 Accepted: 29 Jun 2025 HOW TO CITE THIS ARTICLE (APA) Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun. Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo Dan Sasak Di Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Lombok Timur. Mudabbir : Jurnal Manajemen Dakwah, 6 . , 51Ae64. https://doi. org/10. 20414/mudabbir. The readers can link to article via https://doi. org/10. 20414/mudabbir. SCROOL DOWN TO READ THIS LICENCES Abstract: Local education and intercultural communication are two important aspects in building an inclusive and harmonious society. Local education such as nyelamak dialok focuses on the preservation and development of local cultural values in Tanjung Luar Village. Jerowaru District. East Lombok Regency, bridged by the role of intercultural communication that prioritizes understanding and appreciation of cultural differences. The integration of both can create an environment that supports diversity and tolerance. However, challenges such as lack of understanding of local culture, language differences, and the impact of globalization need to be faced together. This study focuses on the theory of Saundra Hybeels and Richard L. Wraver, namely intercultural communication is every process of exchanging information, ideas, and feelings. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through interviews, documentation and observation. Keywords: Education, local, communication, culture, nyelamak, dialok. Pendahuluan Indonesia adalah negara yang dikenal dengan multi kultural dan multi etnis terbesar di dunia. Indonesia memiliki ribuan pulau dari sabang sampai marauke dengan jumlah penduduk lebih dari dua ratus juta jiwa, terdiri dari ratusan suku yang menggunakan hampir ratusan bahasa yang berbeda-beda. Selain itu Indonesia juga dikenal multi Agama dan kepercayaan, terdapat beragam Agama dan kepercayaan yang dianut seperti Islam. Kristen. Protestan. Katolik. Hindu. Budha, khonghucu serta aliran kepercayaan lainnya. Ainul Yaqin. Pendidikan Multikultural. Jakarta: Pilar Media:2005. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo Indonesia juga merupakan negara yang luas dan dengan keragaman kompleks, dan memiliki beribu pulau yang luas. Indonesia juga memiliki keberagaman suku, bangsa dan etnis yang tersebar di beberapa bagian wilayah Indonesia, namun persebaran penduduk di Indonesia beragam daerah yang tentunya memiliki basis wilayah yang masih kosong seperti halnya Sulawesi. Kalimantan dan termasuk Nusa Tenggara Barat. Artinya bahwa kawasan atau daerah ini sangat berbeda dengan kawasan Jawa yang sudah padat penduduknya dengan lahan yang semakin sempit. Oleh karena itulah diadakan transmigrasi sebagai solusi untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yang kekurangan lahan tempat tinggal dan kekurangan mata Transmigrasi yakni perpindahan penduduk dari satu daerah yang padat penduduknya ke daerah lain yang masih sedikit penduduknya. Transmigrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduknya ke daerah yang masih jarang penduduknya untuk bertempat tinggal dan mencari nafkah di tempat lahan yang baru ditempati serta ditentukan oleh pemerintah di wilayah Indonesia guna kepentingan pembangunan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No. 3 tahun 1972 pada pasal 4 PP No. 42 tahun 1973 dinyatakan bahwa transmigrasi ada dua bentuknya yaitu: pertama transmigrasi umum oleh pemerintah, kedua transmigrasi swakarsa yaitu transmigrasi yang ditanggung sendidir atau oleh pihak lain. Pada tahun 1360-an dalam babat Negara Kertagama karya Mpu Prapanca Lombok telah berkembang menjadi salah satu bandar yang ramai di bagian timur yang banyak didatangi oleh para pedagang dari berbagai wilayah di nusantara maupun oleh para bandar dagang (Loj. dari negara lain. Keadaan inilah yang membuat Lombok memiliki hubungan dengan bandar-bandar . lain diseluruh Indonesia terutama dengan Makassar (Sulawesi Selata. Makassar dan Lombok (Ampenan saat it. pada akhir abad ke-16 hingga paruh pertama abad ke17 menjadi pusat niaga untuk pelaut dan pedagang di Asia dan Eropa dalam komoditas rempah-rempah dan kayu cendana. Perkembangannya inilah yang menempatkan pelabuhan Ampenan sebagai tempat yang strategis di tengah jalur Iriani Iriani. AuMEMPERTAHANKAN IDENTITAS ETNIS: KASUS ORANG JAWA DI DESA LESTARI. KECAMATAN TOMONI KABUPATEN LUWU TIMUR,Ay Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya 9, no. Juni 2. : hlm. 89Ae100, https://doi. org/10. 36869/wjsb. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun perdagangan panjang antara: Australia-Singapura-India, dan Australia-Manila-Cina. Dengan demikian hubungan interaksi dan komunikasi yang dibangun oleh masyarakat asli Sasak dengan para pendatang semakian baik hingga menciptakan akulturasi budaya yang cukup kuat. Intensitas komunikasi inilah yang menjadi kunci dasar mengapa masyarakat suku Sasak begitu terbuka dengan siapapun yang berlabuh di tanah yang biasa disebut dalam istilah gumi paer. Komunikasi tentunya akan berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berintraksi dengan manusia-manusia lainnya. Hampir setiap orang membutuhkan pertukaran pesan yang befungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan Menurut Saundra Hybeels dan Richard L. Wraver II, bahwa komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi fenomena yang disampaikan tidak hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan. Dalam proses komunikasi antar budaya, komunikasi memegang peran penting. Ketika dua budaya berbeda bersinggungan, komunikasi tidak sekedar mengandalkan bahasa lisan, melainkan juga memadukan unsur-unsur semacam simbol, tradisi, serta norma-norma yang mencerminkan nilai dari masing-masing budaya. Sebagai contoh menggabungkan elmen makanan, upacara, adat, dan bahasa, komunikasi bukan hanya terbatas pada kata-kata tetapi juga melibatkan simbol-simbol dan praktik yang mempersentasikan pertemuan antara dua budaya. Hal ini dapat dilihat dari proses komunikasi antar budaya masyarakat muslim suku bajo dan sasak studi kasus tradisi selametan segare. Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda ( bisa ras, etnis, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan in. Alo Liliweri mengatakan komunikasi Artikel Syahdan. NYELAMAK DILAOK : SEBUAH TRADISI SELAMETAN MASYARAKAT PESISIR TANJUNG LUAR LOMBOK TIMUR. AS-SABIQUN : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 3. Nomor 1. Maret 2021, hlm. Artikel. Dedy Wahyudin . IDENTITAS ORANG SASAK: STUDI EPISTEMOLOGIS TERHADAP MEKANISME PRODUKSI PENGETAHUAN MASYARAKAT SUKU SASAK DI PULAU LOMBOK NTB. Volume XVI. Nomor 2. Juli-Desember, 2015. Hlm. Saundra Hybels dan Richard L. Weaver II. Aucomunicating EffectiveleyAy . New York:McGraw Hill, 2007, hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo antarbudaya sebagai interaksi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Komunikasi antarbudaya terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya. Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan sebagaimana ET Hall menyebut budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Kebudayaan membentuk pikiran dan tingkah laku manusia dan melalui komunikasi kita menyampaikan pola perubahan budaya. Suku Bajo dan Suku Sasak sebagai contoh yang menarik terkait dengan gagasan komunikasi antar budaya. Suku Bajo, yang sebagian besar tinggal di area pesisir Indonesia, memiliki budaya yang sangat terkait dengan laut, sementara Suku Sasak, yang banyak bermukim di pulau Lombok, memiliki warisan budaya yang kental dan nilai-nilai tradisionalnya. Dalam interaksi atau komunikasi antara anggota-anggota Suku Bajo dan Suku Sasak, terjadi pertukaran informasi, tradisi, serta nilai-nilai budaya yang unik. Sebagai contoh dalam dinamika komunikasi antar budaya. Suku Bajo dapat membagikan pengetahuan tentang kehidupan laut, keterampilan menangkap ikan, dan cara mereka mengelola sumber daya laut kepada Suku Sasak, yang mungkin memiliki fokus yang lebih besar pada budaya darat dan pertanian. Pada saat ini banyak Suku Sasak yang tinggal di dekat pesisir pantai lebih memilih untuk menjadi seorang pelaut. Sebaliknya. Suku Sasak bisa membagikan nilai-nilai tradisional, cerita lokal, atau pengetahuan tentang pertanian yang khas dengan Suku Bajo, walaupun di daerah sana tidak terdapat sawah akan tetapi Suku Bajo tau bagaimana proses penanaman padi yang di lakukan di persawahan. Proses interaksi seperti ini merefleksikan konsep komunikasi antar budaya saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkaya pemahaman mereka satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari adanya tradisi selametan segare yang di istilahkan dengan . yelamak dilao. oleh masyarakat Suku Bajo yang di adakan setiap satu tahun Tradisi ini dilaksanakan di Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Lombok Timur pada bulan Rajab. Warga melakukan ritual nyelamak dilaok sebagai bentuk rasa syukur sekaligus sebagai upaya menolak balaq, kegiatan ini juga bisa ditandai dengan melakukan arak-arakan ratusan perahu diperairan pantai sekitar. Kajian Teori Tradisi Mochamad Rizak. AuPeran Komunikasi AntarbudayaAy Islamic Comunication Jurnal vol 3. Nomor 1. Juni 2018, hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun Tradisi secara umum di artikan sebagai kebiasaan yang dilakukan sejak lama dan terus menerus, dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok Masyarakat dalam satu negara, kebudayaan, waktu dan agama yang sama. Menurut KBBI, tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun . enek moyan. yang masih dijalankan oleh masyarakat. 7 Tradisi mencerminkan nilai-nilai, kepercayaan, dan Sejarah suatu kelompok Masyarakat. Tradisi mencakup beragam aspek dalam kehidupan manusia, seperti upacara adat, tarian, music, bahasa, pakaian, makanan, dan banyak lagi. Tradisi merupakan cara bagi sebuah kelompok Masyarakat untuk mengungkapkan nilai-nilai kepercayaan Sejarah, dan identitas, budaya mereka. Hal ini melibatkan berbagai praktik dan ritual yang di jalani dalam konteks tertentu dan memiliki makna khusus bagi kelompok tersebut. Selain itu tradisi memiliki karakteristik khas, seperti ketetapan waktu pelaksanaan dan prosedur tertentu yamg harus diikuti. Meskipun beberapa tradisi mungkin tampak kuno, mereka terus dijaga dan dihormati oleh generasi muda sebagai sarana untuk menjaga dan merayakan asal-susl dan nilai-nilai kelompok mereka. Budaya Kata kultur yang berasal dari kata latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan dan terutama berhubungan dengan pengolahan tanah, memiliki makna yang sama dengan kebudayaan. Arti culture berkembang sebagai segala daya dan usaha manusia untuk mengubah alam. Jika diingat sebagai konsep, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar serta keseluruhan budi dan karyanya. Kultur atau budaya adalah sebuah hasil karya seseorang atau sekelompok orang atau lembaga yang dijadikan tolak ukur atau pedoman dalam berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya sebuah kultur di dalam organisasi, lembaga, atau masyarakat maka akan ada sebuah nilai atau norma yang dijadikan batasan-batasan atau dijadikan aturan dalam melaksanakan semua aktiitas diri dan klompok tersbut. Kultur atau budaya ini diciptakan untuk dipelajari terlebih dahulu, yang kemudian dipahami dan dipraktikan secara langsung yang hasilnya akan melekat dalam diri dan menjadi kebiasaan semua Metode Penelitian I Wayan Sudirana. AuTradisi Versus Modern: Diskursus Pemahaman Istilah Tradisi dan Modern di IndonesiaAy. Jurnal Seni Budaya Vol 34. Nomor 1. Februari 2019 hlm 128. Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo Peneltian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini mengumpulkan data mengenai subjek yang diteliti. Penelitian ini mengumpulkan data dengan cara observasi lapangan. Observasi yang dilakukan ialah dengan cara mengamati dan mencermati serta merekam prilaku secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu. Penulis pola-pola, mengidentifikasi hal yang signifikan, serta menentukan hal-hal yang dapat disampaikan kepada pihak lain. Dalam rangkaian penelitian ini, fokus penulis adalah untuk memahami komunikasi antarbudaya terutama antara masyarakat muslim suku Bajo dan suku Sasak di desa Tanjung Luar, kecamatan Keruak. Lombok Timur, dengan tujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai temuan dalam penelitian Hasil dan Pembahasan Sejarah dan Budaya Nyelamak Dilaok Nyelamak Dilaok adalah salah satu tradisi adat yang dipegang teguh oleh masyarakat desa Tanjung Luar. 9 Upacara ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang melambangkan penghormatan kepada leluhur, penyucian diri, serta simbol dari siklus kehidupan. Meskipun berada di tengah tekanan modernisasi, masyarakat desa Tanjung Luar tetap melestarikan tradisi ini sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan secara turun Nyelamak Dilaok berasal dari bahasa sasak, yang merupakan bahasa asli masyarakat Lombok. AuNyelamakAy yang berarti mandi atau membersihkan diri, sementara AuDilaokAy berarti laut. Secara harafiah Nyelamak Dilaok dapat diartikan sebagai upacara mandi di laut. Tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat pesisir Tanjung Luar, yang sehari-harinya sangat bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. Sejarah Nyelamak DIlaok tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir yang memiliki hubungan erat dengan alam. Upacara ini siyakini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, sebagai bentuk syukur dan permohonan restu kepada dewa laut atau roh leluhur agar diberikan keselamatan dan keberkahan dalam mencari nafkah di laut. Nyelamak Dilaook juga dilakukan sebagai ritual tolak bala, yaitu untuk menolak segala macam bencana dan penyakit yang bisa mengganggu kehidupan masyarakat Upacara Nyelamak Dilaok biasanya Intan Dwi Lestari. AuMAKNA UPACARA NYELAMAK DILAOK SEBAGAI ASET BUDAYA (STUDI FENOMENOLOGI),Ay RISTANSI: Riset Akuntansi 5, no. Januari 2. : hlm. https://doi. org/10. 32815/ristansi. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral, seperti saat musim melaut tiba atau ketika ada kejadian luar biasa yang membutuhkan penyucian. Proses pelaksanaan upacara ini melibatkan seluruh anggota komunitas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Hal ini mencerminkan semangat gotongroyong dan kebersamaan yang masih kuat di masyarakat Tanjung Luar. Sebelum upacara dimulai, dilakukan persiapan yang matang, termasuk penyediaan sesajen yang terdiri dari berbagai makanan dan bahan alami seperti kelapa, beras, ayam, dan berbagai jenis bunga. Sesajen ini diletakkan di atas perahu kecil yang akan dihanyutkan ke laut sebagai simbol persembahan kepada roh leluhur dan dewa Ritual nyelamak dilaok ini mulai diselenggarakan di Desa Tanjung Luar sejak zaman Hindia-Belanda. Waktu itu, para pembesar Belanda begitu antusias dengan acara ini, terutama pada saat siraman air laut. Seiring berjalannya waktu, ritual ini sempat meredup pada zaman penjajahan jepang. Upacara mengumpulkan massa sangat dilarang waktu itu. Karena Jepang khawatir akan muncul pengerahan massa yang menentang kehadiran mereka. Namun nelayan Desa Tanjung Luar yang diantaranya merupakan masyarakat Suku Bajo yang didukung langsung oleh masyarakat suku Sasak untuk tetap melaksanakannya dengan dipimpin oleh tokoh saat itu yang bernama Wak Nunok pada tahun 1943 dan sejak saat itu upacara ini tetap digelar rutin. Ritual ini digelar sebagai wujud rasa syukur manusia terhadap konstribusi alam ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa. Nyelamak dilaok ini adalah tardisi nelayan Suku Bajo yang telah beranak pinak di Desa Tanjung Luar. Sebelum memulai ritual, masyarakat setempat mengarak seekor kerbau keliling kampung selama 3 hari berturut-turut untuk kemudian disembelih. Kemudian kepala kerbau inilah yang kemudian dibuang ke tengah laut. Pembuangannya inilah yang kemudian disakralkan dalam ritual khusus masyarakat Desa Tanjung Luar. Mereka menyebutnya dengan isltilah nibak tikolok (Melarung Kepala Kerba. Kepala kerbau ini yang sering di sertai kalung berwarna kuning emas dilepas beramairamai. Bahkan, nyaris semua masyarakat Desa Tanjung Luar ikut melepas menggunakan sampan ke tengah laut digugusan sebuah batu yang ada di Lestari, hlm. Syahdan. Aunyelamak dilaok: sebuah tradisi selametan masyarakat pesisir tanjung luar. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo 12 Ritual Nyelamak Dilaok ini hingga saat ini mengakar menjadi sebuah tradisi budaya yang wajib dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tanjung Luar secara kolektif antara Suku Sasak dan Suku Bajo. Factor utama dalam penguatan dan pelestarian kultur ini adalah dengan adanya jalinan komunikasi yang bagus anatara kedua suku tersebut. Meminjam kalimat dari Charley H. Dood tentang komunikasi antar budaya menyebutkan bahwa kultur . berarti mengolah, mengerjakan dan terutama berhubungan dengan pengolahan tanah, memiliki makna yang sama dengan kebudayaan. Arti culture berkembang sebagai segala daya dan usaha manusia untuk mengubah alam. Jika diingat sebagai konsep, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar serta keseluruhan budi dan karyanya. 13 Kultur atau budaya adalah sebuah hasil karya seseorang atau sekelompok orang atau lembaga yang dijadikan tolak ukur atau pedoman dalam berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya sebuah kultur di dalam organisasi, lembaga, atau masyarakat maka akan ada sebuah nilai atau norma yang dijadikan batasan-batasan atau dijadikan aturan dalam melaksanakan semua aktiitas diri dan klompok tersbut. Kultur atau budaya ini diciptakan untuk dipelajari terlebih dahulu, yang kemudian dipahami dan dipraktikan secara langsung yang hasilnya akan melekat dalam diri dan menjadi kebiasaan semua pemerannya. Kemudian juga Charley H. Dood menyebutkan dimensi kedua dari factor yang dapat mempengaruhi penguatan budaya dalam perspektif komunikasi adalah terjadinya akulturasi antar manusia yang berbeda. Ia menegaskan bahwa akulturasi adalah proses di mana unsur-unsur kebudayaan asing bercampur dengan kebudayaan local, seperti saat islam masuk ke Nusantara. Meski terjadi intraksi budaya, kekuatan budaya lokal tetap terjaga. Akulturasi ini menghasilkan perpaduan antara budaya asli dan Indonesia dengan budaya islam, yang pada dasarnya adalah hasil interaksi sosial antara suatu kebudayaan dengan unsurunsur dari kebudayaan asing. Proses ini terjadi melalui asimilasi, dimana perubahan dan penyesuaian terjadi dalam interaksi antar-kelompok masyarakat yang berbeda budaya, sehingga nila-nilai baru menjadi bagian dari kebudayaan yang ada. Rozali. Wawancara. Tanjung Luar, 6 Februari 2025. Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000. Intan Dwi Lestari. AuMAKNA UPACARA NYELAMAK DILAOK SEBAGAI ASET BUDAYA (STUDI FENOMENOLOGI),Ay RISTANSI: Riset Akuntansi 5, no. Januari 2. : 142, https://doi. org/10. 32815/ristansi. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun Menelaah lebih dalam lagi bahwa sebelum dilaksanakannya proses nyelamak dilaok terlebih dahulu diadakan rapat tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa tanjung luar untuk membentuk kepanitiaan yang berugas mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam nyelamak dilaok. Setelah kepanitiaan terbentuk maka panitia tersebut akan mengadakan rapat kembali untuk menetapkan beberapa hal, antara lan: Menetapkan siapa yang akan menjadi Sandro . laki-laki dan Sandro perempuan, kemudian yang akan menjadi panglantiq . ukang pencak sila. , menjadi bone-bone, dimana sarapo . umah ada. akam didirikan tanggal berapa sarapo akan dibuat, kapan tanggal ngaririq kerbau . embawa kerbau keliling des. akan dilaksanakan, kemudian tanggal berapa pelaksanaan malanggaq tikoloq atau melarung kepala kerbau, dan siapa yang bertugas mengumpulkan benda-benda pusaka. Kerbau yang akan dibeli bukan sembarang kerbau, kerbau tersebut harus mau untuk dijadikan persembahan dalam acara nyelamak dilaok. Setelah melakukan komunikasi dengan Sandro dan kerbau tersebut tidak boleh ditawar dalam proses jual beli. Setelah proses jual beli selesai kerbau langsung dibawa ke sarapo untuk dimandikan kelaut kemudian di istirahatkan ditempat khusus sebelum kerbau Diririq . iarak kelilin. desa tanjung luar selama tiga hari berturut-turut. Sebelum proses ngiriq kerbau . engarak kerba. dilakukan, biasanya akan dipasang bendera empat warna . utih, kuning, hitam, dan mera. pada empat penjuru angin untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa acara nyelamak dilaok akan dilaksanakan. Setelah diririk selama 3 hari barulah kerbau akan disembelih di pinggir pantai, darahnya akan diambil sebagai campuran bantang . embeq dalam Bahasa sasa. untuk dipakaian kepada semua orang yang akan terlibat dalam proses Nibaq Tokoloq . elarung kepala kerba. pada besok Setelah kerbau mati, kepalanya akan dibawa ke sarapo untuk dibersihkan kemudian akan diberikan hiasan berupa benang emas pada gigi dan kedua tanduknya, selanjutnya kepala kerbau akan dibungkus dengan kain putih, diukup dengan menyan sambal dinyanyikan nyanyian asal usul pelaut sepanjang malam suara melengking gandah pencak dan sarone mengiring proses tersebut yang membuat suasana malam itu diselimuti aura mistik. Pada jam 03. 00 wita kepala kerbau yang telah diukup tersebut akan dimasukkan kedalam rakit kecil yang telah dipersiapkan sebagai tempat kepala kerbau untuk dilarung. Bersamaan dengan itu Rozali. Wawancara. Tanjung Luar, 6 Februari 2025. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo di dalam rakit tersebut juga diisi dengan jajanan berbetuk semua jenis ikan yang ada dilaut, setelah semua selesai dan siap sekitar jam 18. 00 wita atau setelah tamu undangan datang barulah proses nibaq tikoloq akan dilakukan. Pertama-tama kepala kerbau yang didalam rakit kecil tersebut akan dimainkan pencak silat setelah turun dari tangga sarapo, sebelum naik ke atas sampan yang akan dibawa kepala kerbau tersebut ke lokasi batu karang, kepala kerbau itu kembali dimainkan pencak silat, dan sepanjang perjalanan ke lokasi batu karang itu suara gandah pencak dan sarone akan tetap mengiring proses tersebut. Proses pelepasan kepala kerbau nyelamak dilaok ini tidak bisa ditunjukkan oleh orang biasa. Ada sejumlah masyarakat dalam kondisi kesurupan yang akan menunjukkan lokasi tempat batu tersebut berada. Tempat ini juga dipercayai sebagai lokasi menghilangnya salah satu tokoh Desa Tanjung Luar pada masa sebelum ritual ini dilakukan. Karena dinilai sebagai tempat yang sakral, gugusan batu karang tempat kepala kerbau dilarung tersebut tidak berani diganggu dan rusak oleh masarakat, satu orangpun tidak ada yang berani merusknya sehingga ikannya akan tetap utuh Artinya secara tidak langsung nyelamak dilaok berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem laut. Selain itu setelah niba tikoloq nelayan dilarang melaut dan menangkap ikan selama tiga hari tiga malam. Bagi masyarakat, budaya nyelamak dilaok berpengaruh besar dalam sendisendi kehidupan mereka. Karena sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat, posisi nyelamak dilaok lebih utama dan lebih tinggi dari apapun bahkan melebihi dari ilmu kesehatan . , dan mengalahkan ilmu agama . Menurut mereka, daging kerbau yang dipersembahkan untuk nyelamak dilaok mempunyai kekuatan magis dan khasiat untuk menyembuhkan semua penyakit bagi yang Beberapa tokoh agama pernah berusaha untuk menghentikan acara nyelamak dilaok karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama karena di tinjau dari aspek agama islam menurut pandangan sebagaian masyarakat Tanjung Luar bahwa dibalik nilai-nila positif yang terselubung dalam acara nyelamak dilaok jika ditinjau dari sudut pandang agama banyak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Seperti Pada ritual nyelamak dilaok yakni Sandro meminta izin kepada makhluk penunggu laut untuk melakukan acara nyelamak dilaok, padahal langit dan bumi beserta isinya termasuk laut adalah ciptaan dan kepunyaan Allah SWT, tidak seharusnya kita meminta apapun kepada selain daripada-Nya. Perbuatan ini JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun menurut sebagaian masyarakat Tanjung Luar melanggar hak Allah SWT sebagai pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta16. Disinilah terjadinya enkulturasi sebagai konsep, secara harfiah dapat diartikan dengan proses pembudayaan. Enculturation . adalah suatu proses bagi seorang baik secara sadar maupun tidak sadar, mempelajari seluruh kebudayaan masyarakat. 17 Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur . ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Enkulturasi adalah suatu proses sosial melalui mana manusia sebagai makhluk yang bernalar, punya daya refleksi inteligensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola pikir, pengetahuan dan kebudayaan sekelompok manusia lain. Kemudian factor subcultural atau bisa di sebut sub-budaya dimana sekumpulan orang yang memiliki tingkah laku dan kepercayaan yang tidak sama dengan kebudayaan pada umumnya di tempat mereka berdomisili atau bisa dikatakan juga mereka memiliki perbedaan perilaku dari budaya induk mereka. Sub budaya dilatar belakangi oleh adanya perbedaan ras, suku, kelas sosial, gender, dan kadang kala terjadi karena perbedaan estetika, kepercayaan atau agama yang di anut, politik, serta orang-orang yang tidak Nyelamak Dilaok dalam Konteks Pendidikan Lokal dan Komunikasi Antar Budaya Budaya Nyelamak Dilaok bukan hanya sekedar tradisi yang diwariskan secara turun temurun, tetapi juga memiliki ikatan dengan makna nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi masyarakat di Desa Tanjung Luar. Salah satu nilai utama yang terkandung dalam tradisi ini adalah rasa syukur kepada Allah SWT dan penghormatan kepada leluhur. Melalui upacara ini masyarakat menyadari bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada alam dan kekuatan yang lebih besar, sehingga mereka selalu berusaha menjaga bubungan harmonis dengan alam. Selain itu. Nyelamak Dilaok juga mencerminkan nilai gotong royong dan Pelaksanaan upacara yang melibatkan seluruh anggota komunitas menunjukkan bahwa masyarakat Tanjung Luar memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Mereka bekerja sama dalam mempersiapkan segala kebutuhan upacara dan saling mendukung selama prosesi berlangsung. Hal ini menjadi salah satu kekuatan yang Abu Hafizah Irfan. Au Aqidah IslamAy, (Pasuruan: Pustaka Al Bayyinah, 2. Rido Dominggus Latuheru dan Marleen Muskita. AuENKULTURASI BUDAYA PAMANA,Ay BADATI 2, 1 . April 2. : 107Ae13, https://doi. org/10. 38012/jb. Andrean Satriawan, dkk. AuSubkultural dalam konsep diriAy. Vol: 1 Nomor:1. Oktober 2022. Wawancara. Rozali warga Tanjung Luar, 15 Februari 2025. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Tradisi Nyelamak Dialok Sebagai Dakwah Pemersatu Muslim Bajo mampu mempererat hubungan antarwarga dan menjaga keharmonisan sosial. Tradisi Nyelamak Dilaok juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dan spiritual meskipun dengan latar belakang budaya yang Konteks ini menekankan adanya proses komunikasi antar manusia yang berbeda budayanya untuk menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Meminjam teorinya Deddy Mulyana mendefinisikan komunikasi antar budaya sebagai komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang berbeda agama, bangsa, ras, bahasa, tingkat pendidikan, status sosial, bahkan jenis kelamin. 20 Proses komunikasi juga terjadi dalam konteks fisik dan konteks sosial, karena komunikasi bersifat interaktif sehingga tidak mungkin proses komunikasi terjadi dalam kondisi terisolasi. Konteks fisik dan konteks sosial inilah yang kemudian merefleksikan bagaimana seseorang hidup dan berinteraksi dengan orang lainnya sehingga terciptalah polapola interaksi dalam masyarakat yang kemudian berkembang menjadi suatu Dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk dengan aktivitas mencari nafkah, upacara ini menjadi momen refleksi dan penyucian diri. Masyarakat diajak untuk tidak hanya fokus pada urusan duniawi, tetapi juga memberikan perhatian pada aspek-aspek spiritual dan moral. Kaitannya dalam konteks pendidikan lokal merujuk pada sistem pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai, norma, dan kearifan lokal dalam proses pembelajaran. Tujuannya adalah untuk membentuk karakter peserta didik yang menghargai dan melestarikan budaya daerahnya. Pendidikan lokal juga berfungsi sebagai media untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Masyarakat Tanjung Luar melaksanakan acara adat ini setahun sekali sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Selama 3 hari 3 malam Warga di Desa Tanjung Luar melaksanakan ritual-ritual tertentu. Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya. Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , h. Lihat juga Deddy Mulyana. Komunikasi Efektif. Suatu Pendekatan Lintas Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , h. Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya. Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , h. Sephiana Diva Sari dan Dena Rizky Relawaty. AuIntegrasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Siswa,Ay t. , 354. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Fathurrahman. Muhammad Saleh. Ahmad Sulhan. Maimun Sebanyak satu ekor yang dijadikan sebagai persembahan dan kepala kerbau akan dilepaskan di tengah laut. Budaya ini juga dalam kajian Intan menyebutkan nyelamak dilauk adalah upaya untuk mempertahankan, pengembangan kebijakan yang mendukung, dan integrasi upacara tersebut ke dalam perencanaan strategis dan pembangunan Pengelolaan yang efektif memastikan bahwa nilai budaya dari upacara tersebut tetap terjaga dan dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya. 24 Bahkan setelah menelaah lebih jauh tentang acara nyelamak dilaok ini ternyata terdapat hal yang sama yang dilakukan oleh masyarakat di pulau Sumbawa. Budaya nyelamak dilaok dilaksanakan oleh suku pendatang di Desa Labuan Lalar. Kecamatan Taliwang, yakni suku Bajo. Mandar. Bugis, dan Banjar Bersama suku Samawan di Pulau Sumbawa. Kesimpulan Pendidikan lokal memiliki peran vital dalam membentuk komunikasi antar budaya yang efektif dan harmonis. Melalui integrasi nilai-nilai budaya lokal dalam tradisi nyelamak dilaok menempatkan persamaan visi sebagai warna yang menyatukan, dan menghilangkan kesukuan untuk masyarakat Bajo dan Sasak di Desa Tanjung Luar. Kecamatan Jerowaru. Kabupaten Lombok Timur. Penggunaan budaya lokal akan melatih masyarakat untuk terus membangun komunikasi yang baik dengan Kajian budaya nyelamak dialok ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, perbedaan budaya dapat menjadi sumber kekuatan dalam membangun masyarakat yang inklusif dan toleran. Daftar Pustaka