Pengukuran Kinerja Rantai Pasok dengan Key Performance Indicator (KPI) pada Perusahaan Manufaktur Sepatu Menggunakan Konsep Green Supply Chain Management Fadilah Ikhsan Putra. Mohammad Agung Saryatmo. Andres PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK DENGAN KEY PERFORMANCE INDICATOR (KPI) PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEPATU MENGGUNAKAN KONSEP GREEN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT Fadilah Ikhsan Putra. Mohammad Agung Saryatmo. Andres. Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik. Universitas Tarumanagara e-mail: . 545210055@stu. id, . mohammads@ft. id, . andres@ft. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini untuk menyusun indikator yang akan menjadi prioritas perusahaan dengan melakukan perancangan pengukuran kinerja menggunakan metode Green Supply Chain Management (GSCM). Key Performance Indicator (KPI). Supply Chain Operation References (SCOR),Objective Matrix (OMAX), dan Traffic Light System untuk menganalisis strategi dan konsep logistik ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan dan efisiensi perusahaan. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur sepatu. Perancangan dan pengukuran kinerja menggunakan konsep green supply chain management yang disesuaikan dengan visi misi perusahaan diperoleh 45 key performance indikator yang telah disusun. Kemudian pihak perusahaan memilih 20 indikator kinerja dari 45 indikator kinerja yang diajukan, setelah itu dilakukan pemodelan menggunakan metode green score operation reference yang terdapat lima perspektif, yaitu plan, source, make, delivery, dan return. Kemudian memperoleh nilai menggunakan metode (OMAX) objective matrix, dan traffic light system diperoleh 12 indikator kinerja berwarna hijau, 6 berwarna kuning dan 2 berwarna merah. Masing-masing perspektif mempunyai nilai skor, skor yang diperoleh perspektif return 9,090, skor yang diperoleh perspektif delivery 8,402, skor yang diperoleh perspektif source 7,589, skor yang diperoleh perspektif make 7,333, dan yang terakhir yaitu perspektif plan dengan perolehan skor 6. Dari kelima perspektif, perspektif plan mendapatkan nilai terendah hal ini menunjukan bahwa perspektif plan sebaiknya segera dilakukan perbaikan terkait indikator yang tidak tercapai pada perspektif plan guna memenuhi target perusahaan. Kata kunci: Pengukuran Kinerja. Key Performance Indicator. Green Supply Chain Management. Objective Matrix. Traffic Light System ABSTRACT The objective of this research is to develop prioritized indicators for companies by designing performance measurement using the Green Supply Chain Management (GSCM) approach. Key Performance Indicators (KPI). Supply Chain Operations Reference (SCOR) model. Objective Matrix (OMAX), and Traffic Light System to analyze environmentally friendly logistics strategies and concepts in support of corporate sustainability and efficiency. This study was conducted on a footwear manufacturing company. The performance measurement design, based on the green supply chain management concept aligned with the company's vision and mission, resulted in the identification of 45 key performance indicators. The company then selected 20 indicators out of the 45 proposed for further modeling using the Green SCOR method, which includes five perspectives: plan, source, make, deliver, and return. Performance scores were then calculated using the Objective Matrix (OMAX) and the Traffic Light System. The results showed that 12 indicators were marked green, 6 were yellow, and 2 were red. Each perspective received a score as follows, return 9. 090, delivery 8. 402, source 7. 589, make 7. 333, and plan 6. The plan perspective received the lowest score, indicating that immediate improvements should be made in the plan perspective, particularly regarding unmet indicators, to achieve the companyAos performance targets. Keywords: Performance Measurment. Key Performance Indicator. Green Supply Chain Management. Objective Matrix. Traffic Light System PENDAHULUAN Dalam kemajuan teknologi, globalisasi, perdagangan dan distribusi yang meningkat di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan, permintaan untuk pelayanan bisnis logistik rantai pasokan meningkat. Hal ini diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya dikarenakan banyaknya pertumbuhan perusahaan yang ada di indonesia. Dengan meningkatnya jumlah perusahaan dan arus logistik yang terjadi diindonesia akan meningkatkan juga jumlah waste perusahaan dan gas CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan transportasi perusahaan akibat proses kegiatan rantai pasok yang ada di perusahaan. Berikut ini merupakan hasil gas CO2 Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 252 Ae 263 yang dihasilkan perusahaan dari bulan oktober 2024 sampai pada bulan maret 2025 disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. CO2 Yang Dihasilkan Perusahaan Bulan Oktober 2024 Nov-24 Desember 2024 Januari 2025 Februari 2025 Maret 2025 Total emisi CO2 Konsumsi BBM/Liter Emisi CO2 yang dihasilkan/kg Hasil 9,46% 11,34% 23,18% 15,53% 19,31% 21,19% 16,67% Perihal ini mengartikan pentingnya tindakan guna meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan mulai dari kegiatan logistik. Perusahaan harus memperhatikan keberlanjutan (Sustainabilit. , guna menciptakan pengoptimalan kinerja perusahaan dan benefit perusahaan sehingga dapat menciptakan keberlanjutan dimasa mendatang, yang berkolaborasi dengan aktivitas perusahaan yang terfokus pada lingkungan dan sosial . Supaya dapat menjaga perkembangan kegiatan rantai pasok yang ada saat ini perusahaan harus mulai melakukan penerapan digitalisasi untuk membantu aktivitas operasional perusahaan dengan melakukan pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja merupakan kegiatan pengukuran aktivitas atau indikator apa saja yang ada dalam kegiatan rantai pasok perusahaan guna mengetahui bahwa indikator kinerja tersebut berada dibawah standar perusahaan atau diatas standar perusahaan . Selain melakukan pengukuran kinerja, perusahaan juga perlu memperhatikan terkait kegiatan logistik ramah lingkungan yang berkelanjutan. GSCM adalah metode pendekatan yang dapat mengurangi waste dan tetap memperhatikan faktor lingkungan kedalam lingkungan manajemen rantai pasok. Hal ini dilakukan guna menghasilkan perubahan yang signifikan untuk lingkungan dan sosial . Penelitian yang dilakukan menggunakan metode KPI sebagai bentuk pendekatan yang diterapkan untuk mengevaluasi kinerja sesuai dengan prosedur rantai pasok perusahaan . Selain menggunakan metode KPI. Penelitian ini menggunakan pendekatan Green Supply Chain Operation References (GSCOR) sebagai dasar analisis. Pendekatan GSCOR mempunyai aktivitas kegiatan diantaranya. Tahapan dalam pendekatan ini meliputi perencanaan . , pengadaan bahan . , proses produksi . , pengiriman produk ke pelanggan . , serta pengelolaan pengembalian barang . Kegiatan ini dikategorikan sebagai rangkaian kegiatan rantai pasok perusahaan yang dimulai dengan konsep Green Supply Chain Operation References (GSCOR). Pendekatan ini mengindikasikan bahwa rancangan yang mengintegrasikan prinsip ramah lingkungan pada setiap kegiatan rantai pasok . Kemudian analisis yang dilakukan akan menggunakan pendekatan OMAX. Pendekatan OMAX merupakan metode yang digunakan untuk menentukan nilai efisiensi kerja tertingi dan nilai efisiensi kerja terendah . dan Traffic Light System. Metode ini digunakan dengan cara memberikan warna dari hasil yang diperoleh dari KPI, metode ini memiliki tiga warna yang setiap warnanya memiliki arti yang berbeda, level 10-8 berwarna hijau menandakan bahwa indikator kinerja sudah baik sudah mencapai target perusahaan, level 7-4 berwarna kuning yang menandakan indikator mulai mendekati target perusahaan dan masih membutuhkan perbaikan kedepannya, level 3-0 berwarna merah yang menandakan bahwa indikator ini membutuhkan perhatian khusus dan harus segera diperbaiki . METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan dimulai dari observasi dilapangan guna memahami kondisi yang terjadi diperusahaan. Observasi yang dilakukan dapat membantu dan efektif dalam proses pengumpulan data yang dibutuhkan peneliti. Kemudian melakukan identifikasi masalah, hasil dari identifikasi masalah yang diperoleh adalah melakukan pengukuran kinerja perusahaan manufaktur secara menyeluruh. Perusahan ini merupakan perusahaan Pengukuran Kinerja Rantai Pasok dengan Key Performance Indicator (KPI) pada Perusahaan Manufaktur Sepatu Menggunakan Konsep Green Supply Chain Management Fadilah Ikhsan Putra. Mohammad Agung Saryatmo. Andres yang selalu berkembang dan selalu mengikuti perkembangan digitalisasi dalam kegiatan rantai pasok. Hal ini guna menunjang kegiatan operasional yang dampaknya bertambahnya jumlah pesanan produk. Selain pengukuran kinerja yang dilakukan, perusahaan juga perlu memperhatikan keberlanjutan kegiatan ramah lingkungan kesetiap proses rantai pasok mulai dari supplier sampai customer. Hal ini penting diperhatikan terhadap penggunaan energi dan pemahaman yang baik tentang rantai pasok dan praktik logistik ramah lingkungan guna mengurangi emisi gas CO2. Kemudian melakukan perumusahan masalah, setelah itu menentukan tujuan dan batasan penelitian. Tahap selanjutnya pengumpulan data, data yang didapatkan berupa hasil pengamatan dilingkungan perusahaan, wawancara, dan penyebaran kuisioner ke perusahaan, serta melakukan diskusi langsung dengan pihak perusahaan mengenai proses rantai pasok dari supplier hingga ke customer, melakukan identifikasi kebutuhan perusahaan, data penggunaan energi, dan data inventaris perusahaan dan juga berupa latar belakang perusahaan, gambaran umum perusahaan dan proses rantai pasok. Selanjutnya mengidentifikasi rantai pasok perusahaan guna mengetahui alur yang terjadi saat proses pengadaan material hingga pengiriman produk jadi pada konsumen. Selanjutnya mengidentifikasi KPI untuk diberikan pada perusahaan dan sebagai bentuk pengukuran yang mempertimbangkan dalam pengambilan keputusan berdasarkan data, hal ini cukup fleksibel dalam penerapan dan membantu dalam meningkatkan sasaran dan efektivitas strategi yang akan diimplementasikan diberbagai perusahaan maupun organisasi. Serta tidak memerlukan data yang kompleks untuk melakukan penilaian kinerja. Metode KPI sendiri merupakan metode yang lebih sederhana, dan berfokus pada indikator penting sesuai dengan tujuan organisasi dan mudah dipahami. Dibandingkan dengan metode balanced scorecard yang seringkali melibatkan lebih banyak aspek strategis. Selanjutnya melakukan validasi terkait KPI yang telah diperoleh, guna memastikan indikator yang sudah dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis. Tahap selanjutnya melakukan pemodelan green supply chain operation references dengan memperhatikan 5 komponen yakni, plan, source, make, delivery, dan return. Tahap berikutnya melakukan validitas data guna menilai sejauh mana indikator yang dirancang sejalan dengan kebutuhan bisnis dan melakukan perhitungan persentase produktivitas. Tahap setelahnya menganalisis indikator yang digunakan menggunakan metode objective matrix (OMAX). Langkah selanjutnya, menentukan indikator kinerja yang membutuhkan perbaikan atau tidak menggunakan Traffic Light System. Selanjutnya membuat pembahasan dari hasil yang ditemukan, membuat ringkasan keseluruhan dan juga masukan. Alur dari metode penelitian disajikan dalam Gambar 1. Gambar 1. Alur Metode Penelitian Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 252 Ae 263 HASIL SERTA PEMBAHASAN Mengidentifikasi Rantai Pasok Perusahaan Berikut ini merupakan proses rantai pasok perusahaan yang disajikan dalam Gambar Gambar 2. Operasional Sistem Pasokan Perusahaan Alur kegiatan operasional rantai pasok pada perusahaan berawal dari pihak addidas yang mendapatkan order kemudian melakukan koordinasi dengan pihak departemen development dan bussines, selanjutnya melakukan koordinasi dengan pihak departemen planning guna menyusun rencana pengiriman dan proses produksi berlangsung setelah beberapa tahap dilakukan. Setelah itu pemasok dari raw material upper dan pemasok raw material bottom mengirimkan bahan baku ke gudang bahan baku. Selanjutnya dilakukan pengecekan terkait bahan baku yang dikirimkan oleh pemasok, langkah selanjutnya melakukan persiapan material dari gudang bahan baku untuk dikirim ke gedung produksi untuk memulai kegiatan operasional pembuatan sepatu, kegiatan operasional yang dilakukan diproduksi diantaranya. Proses pemotongan material mentah . , proses treatment printing, debos, emboss, proses deboss atau emboss merupakan proses penekanan komponen yang menggunakan suhu tinggi untuk mencapai efek timbul atau kedalam pada komponen Selanjutnya melakukan proses penjahitan untuk menyatukan komponen material hingga menjadi bentuk bagian atas atau upper pada sepatu, dan langkah berikutnya melakukan proses assembly atau penggabungan antara bagian atas atau upper pada sepatu dengan bagian bawah sepatu di proses ini meliputi kegiatan proses pengeleman, setelah proses penyatuan sepatu antara bagian atas dan bawah pada sepatu selanjutnya dilakukan packing untuk dikirim ke gudang barang jadi, selanjutnya mengirimkan barang jadi kepada Perancangan Key Performance Indicator (KPI) Dari 45 indikator yang diperoleh dari jurnal kemudian dibuatkan kuisioner terkait 45 indikator tersebut dan diberikan pada perusahan guna menentukan indikator apa saja yang dapat diukur. Hasil rancangan KPI perusahaan disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Hasil Perancangan KPI untuk Perusahaan KPI 1 Business promotion of warehouse First-in. First-out accuracy Perfect order fulfillment Planning cost Percentage suppliers with WMS Penjabaran Fungsi KPI Persentase ketepatan dalam mempromosikan bisnis pergudangan Persentase ketepatan pengelolaan barang yang disepakati oleh customer dan Persentase ketepatan produk yang berhasil dilayani menggunakan fullfilement Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan proses pemesanan Persentase pemilihan pemasok yang memiliki sistem manajemen pergudangan . Pengukuran Kinerja Rantai Pasok dengan Key Performance Indicator (KPI) pada Perusahaan Manufaktur Sepatu Menggunakan Konsep Green Supply Chain Management Fadilah Ikhsan Putra. Mohammad Agung Saryatmo. Andres Lanjutan Tabel 2. Hasil Perancangan KPI untuk Perusahaan KPI Penjabaran Fungsi KPI Timely delivery performance by Persentase kinerja pengiriman oleh pemasok sesuai dengan waktu yang telah Delivery document accuracy by Persentase ketepatan dokumen pengiriman produk oleh pemasok Delivery item accuracy by supplier Percentase ketepatan pengiriman item Delivery quantity accuracy by Persentase ketepatan kuantitas pengiriman produk oleh pemasok Order delivered faultless by supplier Presentase jumlah produk bebas cacat yang berhasil dikirim oleh pemasok. Waste management warehouse Management limbah pergudangan dengan cara pemusnahan produk yang rusak Loading time accuracy of products Waktu yang diperlukan untuk memasukkan barang ke gudang Put away accuracy of product Persentase ketepatan peletakan barang ke area inventory Delivery cost by supplier Biaya yang diperlukan untuk mengirim produk dari pemasok Timely delivery performance by the Seberapa sering perusahaan berhasil mengirimkan produk sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan Inventory accuracy of products Tingkat akurasi data stok gudang dibandingkan dengan catatan persediaan Picking accuracy of product Tingkat akurasi pengambilan barang yang akan dikirim ke konsumen Delivery document accuracy by the Tingkat Ketepatan dokumen pengiriman produk dari perusahaan Delivery item accuracy by the Tingkat Ketepatan pengiriman barang dari perusahaan Delivery quantity accuracy by the Tingkat Ketepatan pengiriman kuantitas barang dari perusahaan Order delivered faultless by the Tingkat keberhasilan perusahaan dalam mengirimkan produk yang bebas dari Delivery on time by the company Waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman produk ke konsumen Delivery cost by the company Biaya yang dibutuhkan untuk pengiriman produk ke konsumen Return damaged product from Persentase pengembalian produk rusak dari konsumen Lama proses penyelesaian administrasi terkait klaim atas produk yang Claim closure days mengalami cacat. Durasi waktu yang diperlukan oleh perusahaan untuk melakukan penggantian Product replacement time terhadap produk yang rusak atau cacat. Product replacement accuracy Persentase ketepatan dalam penggantian produk cacat Defective product recyclable Persentase produk retur yang dapat didaur ulang kembali Implementasi 5r and ESG mission Melakukan implementasi kegiatan 5r for sustainability CO2 emission from transportation Jumlah limbah gas CO2 yang dihasilkan dari konsumsi BBM Improvement skill matrix staff Menambah skill setiap staff dengan mengerjakan kegiatan yang berbeda. Waste cost Biaya yang dibutuhkan untuk pengolahan limbah Distribution cost in product return Biaya yang dibutuhkan untuk pengembalian produk cacat Effect of waste Dampak limbah / polusi terhadap pekerja Percentage of solid waste recycling Tingkat Ketepatan jumlah limbah padat yang dapat didaur ulang Percentage of waste water recycling Persentase jumlah limbah cair yang dapat didaur ulang Forecast accuracy Percentase dalam meramalkan penjualan bisnis Defect from production process Produk rusak akibat proses pembuatan Adherence to production schedule Ketepatan proses pembuatan dengan jadwal yang ditetapkan Jumlah Penggunaan bahan bakar yang digunakan pada saat melakukan Fuel used at delivery Labelling time accuracy of product Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penglabelan produk Checking and packing time Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengecekan dan pengemasan produk accuracy of product Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengelompokan produk yang akan Routing time accuracy of product Process cycle time Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memproses satu barang Material efficiency Efisiensi penggunaan material saat produksi Validasi Key Performance Indicator (KPI) Setelah dilakukan penyebaran kuisioner diperoleh 20 indikator kinerja yang telah ditentukan oleh perusahaan terkait indikator apa saja yang dapat diukur. Hasil indikator KPI disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Indikator KPI Disetujui Perusahaan KPI 1 Delivery item accuracy by supplier 2 Delivery quantity accuracy by supplier 3 Order delivered faultless by supplier Waste management warehouse Put away accuracy of product Penjabaran Fungsi KPI Percentase ketepatan pengiriman item Ketepatan Distribusi kuantitas barang dari pemasok Presentase jumlah produk bebas cacat yang berhasil dikirim oleh pemasok Management limbah pergudangan dengan cara pemusnahan produk yang Persentase ketepatan peletakan barang ke area inventory Satuan Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 252 Ae 263 Lanjutan Tabel 3. Indikator KPI Disetujui Perusahaan KPI Timely delivery performance by the Inventory accuracy of products Delivery quantity accuracy by the company Delivery on time by the company Return damaged product from customer Product replacement time CO2 emission from transportation Implementasi 5r and ESG mission for Improvement skill matrix staff 15 First-in. First-out accuracy 16 Loading time accuracy of product Checking and packing time accuracy of 18 Defect from production process 19 Process cycle time 20 Adherence to production schedule Penjabaran Fungsi KPI Satuan Seberapa sering perusahaan berhasil mengirimkan produk sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan Tingkat akurasi data stok gudang dibandingkan dengan catatan persediaan Tingkat Ketepatan pengiriman kuantitas barang dari perusahaan Tenggat yang diperlukan guna mengirimkan produk pada konsumen Persentase pengembalian produk rusak dari konsumen Waktu yang diperlukan perusahaan untuk penggantian produk rusak Jumlah limbah gas CO2 yang dihasilkan dari konsumsi BBM Melakukan implementasi kegiatan 5R dan ESG (Enviromental. Sosial, and Governmen. Menambah skill setiap staff dengan mengerjakan kegiatan yang berbeda. Persentase ketepatan pengelolahan barang yang akan disepakati oleh customer dan owner Waktu yang diperlukan untuk bongkar - muat barang ke gudang Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengecekan dan pengemasan Menit Produk cacat akibat proses produksi Waktu yang diperlukan untuk memproses satu produk Detik Produksi tepat waktu sesuai jadwal Permodelan Green Supply Chain Operation References (GSCOR) Setelah mendapatkan 20 indikator selanjutnya dilakukan permodelan Green Supply Chain References (GSCOR). Disesuaikan dengan rangka model Green Supply Chain References (GSCOR). GSCOR dibagi menjadi lima perspektif yaitu Perencanaan, pengadaan, pembuatan, pengiriman, pengembalian dan terdapat aspek diantaranya reliability, responsiveness, flexibility, cost, juga assets. Pada setiap aspek tersebut disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, dan diperoleh indikator KPi yang mencakup lima perspektif dan dua aspek, yakni aspek reliability, juga responsiveness. Permodelan metode green score disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4. Permodelan Metode Green Supply Chain Operation Reference (GSCOR) Perspektif Plan Source Dimensi Reliability Responsiveness Reliability Responsiveness Make Reliability Responsiveness Delivery Return Reliability Responsiveness Reliability Responsiveness KPI First-in. First-out accuracy Improvement Skill Matrix staff Waste Management Warehouse Implementasi 5r and ESG mission for sustainability Delivery Item accuracy by supplier Delivery quantity accuracy by supplier Order delivered faultless by supplier Putaway accuracy of product Inventory accuracy of product Loading time accuracy of product Checking and packing time accuracy of product Defect from production proceess Adherence to production schedule Process cycle time Delivery quantity accuracy by the company CO2 emission from transportasion Timely delivery performance by the company Delivery ontime by the company Product Replacement time Return damaged product from customer Kode PR-1 PS-1 PS-2 PS-3 SR-1 SR-2 SR-3 SR-4 SR-5 SS-1 SS-2 MR-1 MR-2 MS-1 DR-1 DR-2 DR-3 DS-1 RR-1 RS-1 Setelah melakukan permodelan indikator kinerja dengan metode GSCOR, selanjutnya pembuatan model kerangka kerja Green Supply Chain Operation Reference (GSCOR). Hasil dari 20 KPI yang diperoleh dibagi menjadi 5 perspektif, yaitu persepektif plan, terdapat 4 KPI, yaitu 1 dimensi reliability, dan 3 dimensi responsiveness. Pada perspektif source terdapat 7 KPI, yaitu 5 dimensi reliability, dan 2 dimensi responsiveness. Pada perspektif make terdapat 3 KPI, yaitu 2 dimensi reliability, dan 1 dimensi responsiveness Pada perspektif delivery terdapat 4 KPI, yaitu 3 dimensi reliability, dan 1 dimensi responsiveness. Pada perspektif return terdapat 2 KPI, yaitu 1 dimensi reability, dan 1 pada diemensi Pengukuran Kinerja Rantai Pasok dengan Key Performance Indicator (KPI) pada Perusahaan Manufaktur Sepatu Menggunakan Konsep Green Supply Chain Management Fadilah Ikhsan Putra. Mohammad Agung Saryatmo. Andres Kerangka green supply chain operation references disajikan dalam Gambar Gambar 3. Pembentukan Rangka Green Supply Chain Operation References (GSCOR) Perhitungan Akhir Nilai Aktual Setelah mendapatkan perhitungan aktual, terkait 20 KPI diperoleh hasil perhitungan performance kemudian melakukan pengolahan data menggunakan metode Objective Matrix (OMAX). Hasil akhir perhitungan disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Perhitungan Aktual Target Perusahaan Perspektif Plan Source Make Delivery Return Kode PR-1 PS-1 PS-2 PS-3 SR-1 SR-2 SR-3 SR-4 SR-5 SS-1 SS-2 MR-1 MR-2 MS-1 DR-1 DR-2 DR-3 DS-1 RR-1 RS-1 Okto2024 88,69% 0,48% 96,80% 94,10% 69,11% Nove2024 79,77% 0,42% 95,60% 95,56% 77,92% 0,48% 97,43% 0,42% 98,66% 99,95% 9,46% 99,37% 99,37% 0,047% 99,94% 11,34% 97,38% 97,38% 0,059% Nilai Akhir DeseJanu2024 86,33% 80,28% 0,17% 0,15% 95,60% 93,80% 93,96% 91,92% 93,29% 88,40% 98,63% 98,41% 1 menit 0,17% 0,15% 97,44% 97,54% 4114,93 detik 99,96% 99,96% 23,18% 15,53% 99,92% 98,82% 99,92% 98,82% 0,039% 0,039% Febr2025 71,04% 93,75% 0,25% 97,20% 96,80% 87,85% 96,92% Mare2025 74,37% 0,09% 96,00% 90,01% 84,96% 99,36% 96,77% 0,25% 97,55% 0,09% 98,99% 99,95% 19,31% 99,88% 99,88% 0,053% 99,95% 21,19% 98,62% 98,62% 0,047% Target Realistis Target Minimum Performance 95,50% 95,50% 0,25% 84,55% 98,50% 90,00% 90,00% 99,50% 99,50% 94,50% 1 menit 0,20% 90,45% 3600,00 detik 15,25% 85,90% 85,90% 99,50% 0,010% 78,00% 0,10% 90,05% 80,50% 80,50% 98,90% 97,50% 85,53% 0 menit 0,10% 85,53% 3600,00 detik 95,75% 80,55% 80,55% 99,00% 0,015% 80,08% 98,96% 0,26% 95,83% 93,72% 83,59% 99,89% 98,46% 1 menit 0,26% 97,94% 4114,93 detik 99,95% 16,67% 99,00% 99,00% 0,047% Analisis Nilai Produktivitas Dengan Metode OMAX dan Traffic Light System Setelah melakukan identifikasi terhadap key performance indicator (KPI), berikutnya melakukan validasi secara menyeluruh guna memastikan bahwa setiap indikator yang telah ditentukan sesuai, dapat diukur, realistis, dan sesuai dengan tujuan yang di prioritaskan organisasi, sehingga hasil pengamatan yang dilakukan kedepannya dapat memberikan gambaran yang sesuai mengenai kinerja dan menjadi dasar untuk perencanaan perbaikan di masa mendatang. Dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX), dapat Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 252 Ae 263 membantu memprioritaskan bagian-bagian yang paling penting berdasarkan bobot atau skala penilaian yang ditentukan sebelumnya. Traffic Light System memiliki fungsi memberikan bentuk visual guna mengindikasi indikator KPI membutuhkan perbaikan atau sudah berjalan dengan baik. Dalam sistem Traffic Light, digunakan tiga warna, di mana warna hijau berfungsi sebagai indikator menentukan level 8-10, mengartikan kegiatan aktivitas perusahaan sudah bagus. Kuning sebagai indikator menentukan level 4-7, yang mengartikan keberhasilan dari suatu aktivitas perusahaan yang diharapkan belum tergapai,akan tetapi sudah mendekati target dari Merah merupakan indikator yang menentukan level 3-0 yang mengartikan aktivitas yang sangat buruk dikarenakan target perusahaan tidak tercapai dan segera cepat Output analisis yang dihasilkan dengan menggunakan Objective Matrix dan sistem penilaian berbasis warna (Traffic Light Syste. perspektif perencanaan, pengadaan, pembuatan, dan pengembalian disajikan dalam Tabel 6 sampai pada Tabel 8. Tabel 6. Hasil Analisa Perhitungan OMAX Serta Traffic Light System Perspektif Plan. Serta Source Plan Kode KPI Perfor Skor PR-1 Source PS-1 PS-2 PS-3 SR-1 80,08% 98,96% 100,00% 99,36% 98,71% 98,07% 97,43% 96,79% 96,14% 95,50% 89,67% 83,83% 78,00% 0,357 100,00% 99,36% 98,71% 98,07% 97,43% 96,79% 96,14% 95,50% 90,33% 85,17% 80,00% 8,382 SR-2 0,26% 95,83% 100,00% 0,35% 0,34% 0,32% 0,31% 0,29% 0,28% 0,26% 0,25% 0,20% 0,15% 0,10% 100,00% 97,79% 95,59% 93,38% 91,17% 88,96% 86,76% 84,55% 83,03% 81,52% 80,00% 8,111 100,00% 99,79% 99,57% 99,36% 99,14% 98,93% 98,71% 98,50% 95,33% 92,17% 90,05% SR-3 SR-4 93,72% 83,59% 100,00% 100,00% 98,57% 97,14% 95,71% 94,29% 92,86% 91,43% 90,00% 86,83% 83,67% 80,50% 5,604 100,00% 98,57% 97,14% 95,71% 94,29% 92,86% 91,43% 90,00% 86,83% 83,67% 80,50% 1,024 100,00% 99,93% 99,86% 99,79% 99,71% 99,64% 99,57% 99,50% 99,30% 99,10% 98,90% SR-5 SS-1 SS-2 99,89% 98,46% 1,00 100,00% 99,93% 99,86% 99,79% 99,71% 99,64% 99,57% 99,50% 98,83% 98,17% 97,50% 8,460 100,00% 99,21% 98,43% 97,64% 96,86% 96,07% 95,29% 94,50% 91,51% 88,52% 85,53% 8,040 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,33 1,67 0,00 Tabel 7. Hasil Analisa Perhitungan OMAX Serta Traffic Light System Perspektif Make. Delivery Serta Return Make Kode KPI Perfor Skor Delivery Return MR-1 MR-2 MS-1 DR-1 DR-2 DR-3 DS-1 RR-1 0,26% 97,94% 4114,94 99,95% 16,67% 99,00% 99,00% 100,00% 0,30% 0,29% 0,27% 0,26% 0,24% 0,23% 0,21% 0,20% 0,17% 0,13% 0,10% 100,00% 99,21% 98,43% 97,64% 96,86% 96,07% 95,29% 94,50% 91,51% 88,52% 85,53% 7,378 4380,20 4268,74 4157,29 4045,83 3934,37 3822,91 3711,46 3600,00 3600,00 3600,00 3600,00 7,620 100,00% 99,82% 99,64% 99,46% 99,29% 99,11% 98,93% 98,75% 97,75% 96,75% 95,75% 9,720 20,00% 19,32% 18,64% 17,96% 17,29% 16,61% 15,93% 15,25% 17,03% 18,82% 20,00% 5,093 100,00% 98,59% 97,18% 95,77% 94,36% 92,95% 91,54% 85,90% 84,12% 82,33% 80,55% 9,291 100,00% 97,99% 95,97% 93,96% 91,94% 89,93% 87,91% 85,90% 84,12% 82,33% 80,55% 9,504 100,00% 99,93% 99,86% 99,79% 99,71% 99,64% 99,57% 99,50% 99,33% 99,17% 99,00% RS-1 0,047% 0,060% 0,053% 0,046% 0,039% 0,031% 0,024% 0,017% 0,010% 0,012% 0,013% 0,015% 8,180 Tabel 8. Hasil Analisa Perhitungan Pencapaian Kinerja Perspektif Hasil Skor Kinerja Plan Source 7,589 Make 7,333 Delivery 8,402 Return 9,090 Pada hasil perhitungan di Tabel 8, menunjukan skor terkait nilai yang diperoleh dari berbagai perspektif dimana perpektif plan mendapatkan nilai 6 termasuk dalam kategori yang sudah baik namun masih harus membutuhkan perbaikan guna mencapai target dari perusahaan, perpektif source memperoleh nilai 7,589 hal ini menandakan bahwa pencapaian Pengukuran Kinerja Rantai Pasok dengan Key Performance Indicator (KPI) pada Perusahaan Manufaktur Sepatu Menggunakan Konsep Green Supply Chain Management Fadilah Ikhsan Putra. Mohammad Agung Saryatmo. Andres ini hampir memenuhi target perusahaan, perspektif make memperoleh nilai 7,333 termasuk dalam kategori nilai yang sudah baik namun masih membutuhkan perbaikan guna mencapai target perusahaan. Perspektif delivery memperoleh nilai 8,402 hal ini menandakan bahwa perspektif delivery sudah hampir memenuhi target perusahaan, dan perspektif return perspektif ini memperoleh nilai pencapaian kinerja yang baik yaitu 9,090 dikarenakan perspektif ini berisikan terkait pengembalian produk rusak yang harus di pertanggung jawabkan perusahaan. Pemberian Usulan Terkait Indikator yang Tidak Mencapai Target Berdasarkan analasis perhitungan dengan pendekatan metode OMAX serta traffic light system dari setiap perspektif didapatkan 12 indikator berwarna hijau yang menandakan indikator ini sudah mencapat target perusahaan dan 6 indikator berwarna kuning yang menandakan indikator ini hampir mencapai target perusahaan dan terdapat 2 indikator berwarna merah yang mengartikan indikator ini harus memiliki perhatian khusus untuk segera atau secepatnya dilakukan perbaikan agar mendekati target dari perusahaan. Berikut penjelasan mengenai KPI yang belum mencapai target perusahaan dan pemberian usulan perbaikan pada KPI disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Usulan Perbaikan KPI yang Tidak Mencapai Target Kode KPI Indikator Usulan Perbaikan Waste Management Warehouse Penyebab indikator kinerja ini tidak Dengan melakukan strategi 3R (Reduce. Reuse. Recycl. dimana tercapai yaitu banyaknya jumlah kegiatan atau prinsip ini dapat membantu dalam meminimalisir produk yang reject sehingga harus limbah yang dihasilkan dengan cara. Reduce (Penguranga. , pihak perusahaan dapat melakukan pengelolaan bahan industrinya, dengan mengurangi jumlah bahan yang digunakan dengan sedemikian rupa supaya meminimalisir limbah yang dihasilkan. Kemudian melakukan tahap Reuse (Penggunaan Kembal. , penggunaan kembali bahan baku industri jika masih bisa digunakan untuk pembentukan produk. Melakukan tahap Recycle (Daur ulan. , melakukan kegiatan daur ulang limbah yang dihasilkan menjadi produk baru yang memiliki harga jual . Delivery Quantity Accuracy by Supplier Masih banyaknya material yang Perusahaan perlu rutin menilai kinerja supplier berdasarkan kualitas tidak lolos quality control yang barang yang diperoleh dan ketepatan pengirimannya. Jika ada dikirimkan dari supplier kepada supplier yang terus-menerus mengirimkan material dibawah standar, perusahaan menyebabkan indikator maka perusahaan harus melakukan tindakan peringatan tegas kepada kinerja ini tidak tercapai. Selain itu, pernjanjian kerja sama dengan supplier juga perlu diperkuat, termasuk aturan dan saksi jelas apabila melanggar standar kualitas yang sudah disepakati. Dengan melakukan evaluasi kinerja supplier guna membantu mengatasi ketepatan kualitas material yang dikirimkan supplier, sehingga perusahaan dapat menentukan kinerja yang baik dari supplier dan dapat mempertahankan kerja sama yang dilakukan sebagai rekanan yang mendukung proses kegiatan produksi di perusahaan . Defect from Production Proceess Penyebab dari indikator ini tidak Memperketat proses pengendalian bahan baku. Bisa dengan tercapai adalah dari kualitas bahan melakukan seleksi pemasok material yang lebih ketat sehingga baku yang digunakan kurang baik, menurunkan jumlah defect yang terjadi saat proses produksi. dan juga disebabkan oleh human Kemudian melakukan kegiatan source proses yang meliputi beberapa error sehingga menyebabkan defect proses pengadaan material utama merupakan penyiapan kulit sintetis produk yang cukup banyak. dan pengadaan material yang dibutuhkan untuk aktivitas produksi yang melibatkan penggunaan bahan pendukung seperti benang jahit, perlengkapan perawatan mesin dan komponen lainnya. Kemudian melakukan pelatihan pada tenaga kerja yang bertanggung jawab terhadap proses produksi dan pengecekan produk atau quality control, guna menurunkan tingkat defect yang disebabkan pada saat melakukan proses produksi . Adherence to Penyebab dari indikator ini tidak Dengan meningkatkan kepatuhan terhadap jadwal proses produksi, kurangnya perusahaan harus menyusun rencana yang lebih realistis sesuai perencanaan produksi yang efektif dengan yang terjadi dilapangan. Melakukan pertimbangan terkait mulai dari penjadwalan produksi, waktu yang dibutuhkan untuk set-up mesin, dan waktu yang dan kurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk proses produksi. Kurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan dapat dilakukan perekrutan secara cepat dan tepat sasaran melalui media sosial guna menutupi kebutuhan tenaga kerja. Dengan usulan yang diberikan diharapkan dapat menambah produktivitas perusahaan terkait penjadwalan dan kebutuhan tenaga kerja . PS-2 SR-2 MR-1 MR-2 Penyebab Jurnal Mitra Teknik Industri . Vol. 4 No. 3, 252 Ae 263 Lanjutan Tabel 9. Usulan Perbaikan KPI yang Tidak Mencapai Target Kode KPI Indikator Penyebab Usulan Perbaikan Process cycle Masih banyak tenaga kerja baru Usulan yang diberikan yaitu, perusahaan perlu melakukan pelatihan pada lini produksi sehingga target terkait tenaga kerja yang baru guna menambah skill dan meningkatkan produktivitas kinerja dari tenaga kerja tersebut. Perusahaan memiliki target produksi Sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan tercapainya target untuk menghasilkan 55 pasang perusahaan tanpa mengurangi kualitas produk yang dihasilkan. Dan sepatu yaitu 69 menit. melakukan pencarian akar dari permasalahan yang terjadi mengapa indikator kinerja ini tidak tercapai dan melakukan continous improvement guna meningkatkan produktivitas di lini produksi . CO2 Emission From Transportasion DR-2 Masih seringnya penggunaan alat Alangkah baiknya perusahaan melakukan pertimbangan terkait, transportasi barang yang bermesin penambahan unit terkait alat transportasi yang dibutuhkan untuk diesel yang menggunakan bahan mendistribusikan barang atau produk dengan menggunakan alat bakar solar. Sehingga menyebabkan transportasi berbahan bakar listrik sehingga dapat membantu indikator kinerja ini masih belum mengurangi CO2 yang dihasilkan oleh perusahaan. Bisa juga dengan melakukan perawatan rutin alat transportasi yang digunakan perusahaan guna mengurangi gas CO2 yang dihasilkan. Karena dengan perawatan yang rutin alat transportasi yang digunakan akan lebih meminimalisir atau mengurangi dampak emisi yang berlebih. PR-1 First-in. First-out Kualitas material yang dikirimkan Melakukan penerapan sistem audit kinerja supplier secara berkala supplier yang tidak konsisten guna memastikan supplier konsisten dalam penjagaan kualitas bahan menyebabkan indikator kinerja ini baku yang dikirimkan supplier ke perusahaan, atau bisa dengan cara tidak tercapai. perusahaan mengirimkan tenaga kerja berpengalaman ke pihak Penumpukan material yang cukup supplier guna mengatur dan membantu dalam menangani lama digudang bisa menyebabkan permasalahan kualitas material bahan baku yang akan dikirimkan ke warna dari material kulit berubah. Melakukan perbaikan pada kualitas warna kulit, dan membuat kebijakan sistem rotasi selaras dengan pendekatan FIFO dalam pengelolaan barang untuk memastikan material lama digunakan terlebih dahulu . MS-1 Order delivered faultless by SR-3 Banyaknya kuantitas item cacat yang Melakukan peringatan keras untuk pengiriman yang tidak memenuhi dikirimkan supplier yang menjadi standar kualitas, serta melakukan audit rutin terhadap proses produksi faktor utama mengapa indikator ini supplier dengan mengirimkan tenaga kerja ahli yang dimiliki tidak tercapai. perusahaan ke supplier untuk menangani permasalahan yang terjadi Ketergantungan pada pemasok terkait standar kualitas bahan baku. Supaya dapat meningkatkan menyebabkan kualitas bahan baku yang dikirimkan ke perusahaan kedepannya. pembelian material dilakukan Jika memungkinkan dengan membangun hubungan atau kerja sama perusahaan dengan sistem pre buy, dengan beberapa pemasok alternatif guna mengurangi risiko pasokan dikarenakan material yang sulit terganggu . KESIMPULAN Penelitian merancang model pengukuran produktivitas kinerja rantai pasok diindustri manufaktur sepatu dengan menggunakan metode GSCOR. Dari 45 indikator yang diusulkan, 20 indikator dipilih dan divalidasi untuk diukur menggunakan data aktual dari bulan oktober 2024 sampai pada bulan maret 2025. Hasil analisis dengan metode OMAX Traffic Light System menunjukkan 12 indikator kinerja berada pada kategori baik . , 6 indikator kinerja memerlukan perbaikan . , dan 2 indikator kinerja memerlukan perhatian khusus . Perpektif return memiliki skor tertinggi yaitu 9,682, sedangkan perspektif plan memiliki nilai 6, menandakan bahwa perlunya perbaikan pada perspektif tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan wawasan bagi perusahaan guna meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam pengelolaan rantai pasok. Model yang dirancang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam perbaikan indikator kinerja yang belum tercapai, seperti penerapan sistem audit pemasok berkala yang belum sukses dijalankan dan pelatihan tenaga kerja. Selain itu, pendekatan ramah lingkungan yang digunakan dapat mendukung perusahaan dalam meminimalkan pengaruh buruk yang ditimbulkan terhadap lingkungan, khususnya emisi CO2 dari kegiatan logistik. Saran lanjutan yang diberikan melakukan pengembangan terhap model ini dengan mempertimbangkan integrasi teknologi digital, atau dengan melakukan pengembangan sistem pemantauan berbasis teknologi yang dapat memberikan pembaruan kinerja secara otomatis serta membantu mempercepat proses pengambilan pilihan yang diambil secara Pengukuran Kinerja Rantai Pasok dengan Key Performance Indicator (KPI) pada Perusahaan Manufaktur Sepatu Menggunakan Konsep Green Supply Chain Management Fadilah Ikhsan Putra. Mohammad Agung Saryatmo. Andres tepat dan benar-benar menjawab kebutuhan yang ada. Dan perlu dilakukan perkembangan lebih lanjut untuk menambah indikator kinerja yang lebih spesifik, terutama pada perspektif yang memiliki nilai skor terendah seperti perspektif plan. DAFTAR PUSTAKA