Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Pengaruh Pembiasaan Shalat Dhuha Terhadap Kedisiplinan Peserta Didik Kelas Vi di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat Lia Fadlia. Dzakwan. Laela Sari Pendidikan Agama Islam. Fakultas Agama Islam. Universitas Ibnu Chaldun liafadliamiftah85@gmail. Submitted: 18-01-2. Reviewed: 19-01-2. Accepted: 23-01-2025 ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang Pengaruh Pembiasaan Shalat Dhuha Terhadap Kedisiplinan Peseta Didik Kelas Vi di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat. Pada dasarnya kedisiplinan peserta didik perlu ditingkatkan agar peserta didik memiliki rasa tanggung jawab di sekolah. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui besaran pengaruh Pembiasaan Shalat Dhuha Terhadap Kedisiplinan Peseta Didik. Jenis penelitian ini kuantitatif, fokus pada pengungkapan pengaruh antar variabel. Populasinya adalah kelas Vi C dan kelas Vi D Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat yang terdiri 58 peserta didik. Data diperoleh melalui angket. Selanjutnya penelitian ini dianalisis dengan statistic deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pembiasaan shalat dhuha (X) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan peserta didik (Y), besaran pengaruh pembiasaan shalat dhuha terhadap kedisiplinan peserta didik sebesar 25,8 %, berdasarkan temuan penelitian bahwa kebiasaan shalat dhuha memiliki pengaruh terhadap kedisiplinan berupa tertib, mematuhi norma, dan tanggung jawab. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Kata Kunci: Kedisiplinan. Pembiasaan Shalat Dhuha. Peserta Didik ABSTRACT This study discusses the Effect of Dhuha Prayer Habit on the Discipline of Grade Vi Students at Madrasah Tsanawiyah. Central Jakarta. Basically, student discipline needs to be improved so that students have a sense of responsibility at school. This study focuses on finding out the magnitude of the influence of Dhuha Prayer Habituation on the discipline of Peseta Didik. This type of research is quantitative, focusing on the disclosure of the influence between variables. The population is class Vi C and class Vi D Madrasah Tsanawiyah Central Jakarta consisting of 58 students. Data was obtained through a questionnaire. Furthermore, this study was analyzed with descriptive statistics. The results of this study show that: the habit of dhuha prayer (X) has a positive and significant influence on the discipline of students (Y), the amount of influence of the habit of dhuha prayer on the discipline of students is 25. Based on the findings of the study, the habit of praying dhuha has an influence on discipline in the form of order, compliance with norms, and responsibility. While the rest is explained by other variables that are not used in this study. Keywords: Discipline, habituation of dhuha prayer, and student PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha yang disengaja dan terstruktur untuk menciptakan lingkungan belajar serta proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk secara aktif mengembangkan potensinya, sehingga memiliki spiritualitas yang kuat, kemampuan mengendalikan diri, kepribadian yang baik, kecerdasan, moral yang luhur, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, dan negara (Ramayulis, 2. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Pendidikan nasional memiliki tujuan lebih sederhana seperti dalam perspektif Sutrisno. dinyatakan bahwa pemerintah berusaha dan mengelola sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, guna mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan ketentuan undang-undang. Fungsinya adalah: membangun manusia yang beriman, cerdas, unggul, bermartabat, bermotivasi tinggi, optimis, dan berkepribadian unggul. Kecerdasan intelektual terlihat dari kompetensi dan kemandirian dalam bidang IPTEK, serta kemampuan menjadi individu yang kritis, kreatif, dan inovatif (Tahuteru et al. , 2. Shalat dhuha adalah salah satu jenis shalat sunnah yang dianjurkan. Shalat ini dilakukan ketika matahari naik setinggi tombak, atau sekitar pukul 8 atau 9 pagi hingga matahari tergelincir (Labib, 2. Hukum shalat Dhuha adalah sunnah muakad karena Nabi SAW selalu melaksanakannya, membimbing para sahabat untuk melakukannya, dan berpesan agar shalat ini selalu dikerjakan. Selain sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, shalat Dhuha juga dikenal sebagai shalat yang mendatangkan rezeki dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan shalat Dhuha di lingkungan sekolah atau institusi pendidikan memainkan peran penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Dalam konteks pendidikan Islam, pembiasaan shalat Dhuha tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas keagamaan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun disiplin, tanggung jawab, dan kebiasaan baik sejak dini. Praktik shalat Dhuha dapat diintegrasikan dalam rutinitas sekolah dengan menciptakan lingkungan yang mendukung dan membudayakan ibadah ini sebagai bagian dari aktivitas Sekolah dapat menetapkan waktu khusus setiap pagi, misalnya setelah upacara bendera atau sebelum jam pelajaran dimulai, untuk melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah. Dengan melibatkan semua peserta didik, termasuk guru, dalam kegiatan ini, shalat Dhuha tidak hanya menjadi ritual semata, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan tanggung jawab Selain itu, sosialisasi mengenai manfaat shalat Dhuha dalam meningkatkan disiplin dan karakter siswa perlu dilakukan secara rutin melalui seminar atau diskusi di kelas. Dengan cara ini, nilai-nilai kedisiplinan, seperti ketepatan waktu, kesadaran akan tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap norma akan lebih mudah diinternalisasi. Praktik ini juga dapat didukung dengan sistem penghargaan bagi kelas atau individu yang secara konsisten mengikuti shalat Dhuha, sehingga menciptakan motivasi tambahan. Dengan mengintegrasikan shalat Dhuha ke dalam budaya sekolah, siswa tidak hanya belajar menghargai waktu dan kewajiban mereka. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 tetapi juga mengembangkan sikap disiplin yang akan berpengaruh positif terhadap prestasi akademik dan perilaku mereka di lingkungan sekolah (Julaeha et al. , 2. Melalui kegiatan ini, diharapkan kedisiplinan siswa akan meningkat, menciptakan suasana belajar yang kondusif dan produktif. Dengan mempelajari praktik pembiasaan shalat Dhuha, diharapkan dapat ditemukan metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter melalui pendekatan Lebih jauh lagi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif terhadap pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam. Di sekolah-sekolah serta memberikan wawasan bagi para pendidik dalam menerapkan kegiatan keagamaan yang berdampak positif pada peserta didik. Membangun kedisiplinan yang baik memerlukan pembiasaan yang baik. Pembiasaan ini dapat dilakukan melalui kegiatan program tambahan di sekolah, salah satu contohnya adalah pembiasaan shalat dhuha berjamaah (Ahmad, 2. Kata "kedisiplinan" berakar dari "disiplin," yang bermakna mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku. Dengan imbuhan "ke-" dan "-an," kedisiplinan merujuk pada sikap mematuhi dan menaati aturan yang ada. Tanpa adanya peraturan, kedisiplinan tidak dapat Peraturan melatih seseorang untuk disiplin dalam segala hal, dan sikap disiplin yang konsisten membantu seseorang mencapai keberhasilan sesuai impian. Oleh karena itu, kedisiplinan merupakan modal utama dalam meraih keberhasilan. Kedisiplinan memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, terutama dalam kontribusinya terhadap keberhasilan akademik dan pengembangan karakter peserta didik. Kedisiplinan yang baik memungkinkan siswa untuk mengatur waktu mereka dengan efektif, mematuhi jadwal belajar, dan menyelesaikan tugas tepat waktu, yang semuanya merupakan faktor kunci dalam mencapai prestasi akademik yang tinggi. Sebuah studi yang dilakukan oleh Sri Mulyani & Hunainah . menunjukkan bahwa siswa yang memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi cenderung memiliki nilai akademik yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang kurang disiplin. Selain itu, kedisiplinan juga berkontribusi pada pengembangan karakter siswa, seperti tanggung jawab, ketekunan, dan kemampuan untuk bekerja sama. Siswa yang terbiasa disiplin dalam menjalani rutinitas belajar akan lebih mampu menghadapi tantangan dan tekanan dalam proses belajar, serta lebih siap untuk beradaptasi dengan berbagai situasi. Kedisiplinan mengajarkan siswa untuk menghargai usaha dan proses, yang pada gilirannya membentuk sikap positif terhadap pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kedisiplinan bukan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 hanya sekadar mematuhi aturan, tetapi juga merupakan fondasi yang mendukung keberhasilan akademik dan pengembangan karakter yang holistik, menjadikan siswa lebih siap untuk menghadapi tantangan di masa depan. Disiplin akan muncul jika terdapat keterbukaan, kerjasama, dan pematuhan terhadap norma dengan rasa tanggung jawab (Slameto, 2. Au Disiplin adalah bentuk ketaatan terhadap peraturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, yang telah ditetapkan. Terdapat dua jenis disiplin yang sangat penting sesuai dengan kebutuhan individu: yang pertama adalah disiplin waktu, yaitu kemampuan untuk mematuhi jadwal dan tenggat waktu. dan yang kedua adalah disiplin dalam pekerjaan atau tindakan, yaitu konsistensi dan kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Keduanya memainkan peran krusial dalam mencapai efektivitas dan kesuksesan dalam berbagai aspek Ay (Moenir, 2. Oleh karena itu, kedua jenis disiplin yang dijelaskan oleh (Moenir, 2. adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi. Misalnya, jika peserta didik datang ke sekolah tepat waktu dan tidak terlambat saat pelajaran dimulai, tetapi tidak segera menjalankan tugasnya sebagai pelajar di dalam kelas seperti tidak langsung membuka buku pelajaran dan malah mengobrol dengan teman ini tentu akan merugikan dirinya sendiri. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas pembiasaan shalat Dhuha terhadap kedisiplinan peserta didik. Salah satunya adalah penelitian Wulandari & Rafiq . , yang menemukan bahwa pembiasaan shalat Dhuha di sekolah menengah pertama dapat meningkatkan kedisiplinan siswa secara signifikan, terutama dalam hal ketepatan waktu dan kepatuhan terhadap aturan sekolah. Selain itu, studi oleh Dalimunthe & Syahfitri . juga menegaskan bahwa shalat Dhuha berperan penting dalam menumbuhkan sikap tanggung jawab dan disiplin di kalangan siswa, yang berdampak positif pada prestasi akademik mereka. Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa siswa yang rutin melaksanakan shalat Dhuha menunjukkan peningkatan dalam keteraturan dan fokus belajar, yang pada gilirannya mendukung pencapaian akademik yang lebih baik. Temuan ini memberikan landasan kuat untuk penelitian lebih lanjut mengenai pembiasaan shalat Dhuha sebagai salah satu metode untuk membangun kedisiplinan dan karakter positif di lingkungan pendidikan. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Dengan kata lain, disiplin mendorong peserta didik untuk belajar secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah. Disiplin penting tidak hanya di lembaga formal, tetapi juga sangat krusial di lembaga non-formal. Setiap lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, harus menegakkan dan membangun disiplin yang tinggi. Jika kegiatan pendidikan tidak mengutamakan disiplin, kemungkinan besar lembaga pendidikan tersebut tidak akan berfungsi dengan baik, sehingga proses belajar mengajar bisa terganggu. Berdasarkan pemaparan diatas maka dalam penelitian ini akan berfokus terhadap Apakah terdapat pengaruh kedisiplinan pada peserta didik terhadap pembiasaan sholat dhuha di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat yang nantinya akan di anylisis lebih lanut akan Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pembiasaan shalat Dhuha terhadap kedisiplinan peserta didik kelas Vi di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana pembiasaan shalat Dhuha dapat meningkatkan aspek-aspek kedisiplinan, seperti ketepatan waktu, kepatuhan terhadap norma, dan tanggung jawab dalam lingkungan sekolah. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memahami variabel-variabel lain yang mungkin mempengaruhi hubungan antara pembiasaan shalat Dhuha dan kedisiplinan siswa, serta memberikan rekomendasi yang berbasis data untuk implementasi kegiatan keagamaan yang lebih efektif di sekolah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan karakter dan perilaku disiplin siswa dalam konteks pendidikan Islam. Novelty dari penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik terhadap pengaruh pembiasaan shalat Dhuha terhadap kedisiplinan peserta didik di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat, yang belum banyak diteliti secara mendalam dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Penelitian ini tidak hanya mengkaji hubungan antara praktik ibadah dengan kedisiplinan, tetapi juga mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang dapat terbentuk melalui pembiasaan tersebut, seperti tanggung jawab dan kepatuhan terhadap norma. Selain itu, metode kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis data memberikan pendekatan yang sistematis dan objektif, sehingga hasil penelitian dapat diandalkan dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam dan praktik keagamaan di Dengan demikian, penelitian ini menawarkan wawasan baru tentang integrasi nilainilai religius dalam pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta didik. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 METODE PENELITIAN Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas Vi C yang berjumlah 35 peserta didik dan kelas Vi D yang berjumlah 23 peserta didik di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat. Objek penelitian adalah variabel atau faktor yang menjadi fokus utama dalam suatu penelitian. Menentukan objek penelitian yang tepat sangat penting karena dapat membantu melancarkan kegiatan penelitian dan menghasilkan hasil yang bermanfaat bagi pembaca. Dalam penelitian ini, objek yang dipilih adalah peserta didik kelas Vi di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat, sebagaimana dijelaskan (Arikunto, 2. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi atau menyebabkan perubahan pada variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang dapat diubah atau dimanipulasi oleh peneliti untuk melihat efeknya pada variabel terikat. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu pembiasaan shalat dhuha, sedangkan variabel terikatnya adalah kedisiplinan peserta didik. Peneliti akan mengeksplorasi apakah ada pengaruh signifikan antara pembiasaan shalat dhuha dengan tingkat kedisiplinan peserta didik kelas Vi. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami hubungan antara kebiasaan religius dan perilaku disiplin di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan proses penelitian yang memfokuskan pada pengumpulan data dalam bentuk angka sebagai sarana untuk memperoleh informasi yang jelas dan terukur mengenai berbagai aspek yang diteliti. Menurut Arikunto . , penelitian kuantitatif bertujuan untuk mendapatkan data yang terukur secara numerik, yang dapat memberikan penjelasan yang lebih terperinci tentang fenomena yang ingin diteliti. Penelitian kuantitatif korelasional adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh atau korelasi antara dua atau lebih variabel. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur variabel-variabel tersebut secara numerik dan menganalisis data menggunakan teknik statistik untuk menentukan apakah terdapat hubungan dan seberapa kuat hubungan tersebut. Dalam penelitian korelasional, peneliti hanya mengamati dan menganalisis data yang Hasilnya biasanya berupa koefisien korelasi, yang menunjukkan arah . ositif atau negati. dan kekuatan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Namun, penting untuk diingat JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 bahwa korelasi tidak berarti sebab-akibat, hanya menunjukkan bahwa ada pengaruh antara variabel, tetapi tidak menjelaskan apa yang menyebabkan pengaruh tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti yang kuat dan valid mengenai pengaruh pembiasaan shalat dhuha terhadap kedisiplinan siswa. Melalui analisis statistik yang sistematis, peneliti dapat mengidentifikasi pola dan hubungan yang signifikan, serta memberikan rekomendasi yang berbasis data untuk meningkatkan praktik pembiasaan shalat dhuha dalam konteks pendidikan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama untuk mengukur variabel-variabel yang terkait dengan pembiasaan shalat Dhuha dan kedisiplinan peserta didik. Kuesioner dirancang dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang relevan, seperti frekuensi pelaksanaan shalat Dhuha, ketepatan waktu, kepatuhan terhadap norma-norma sekolah, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas. Untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen, peneliti melakukan uji validitas dengan membandingkan nilai r hitung dari setiap butir pertanyaan dengan nilai r tabel pada taraf signifikansi 5%. Hanya butir pertanyaan yang memenuhi kriteria validitas yang akan digunakan dalam analisis lebih lanjut. Selain itu, reliabilitas kuesioner diukur menggunakan metode Cronbach's Alpha, di mana nilai di atas 0,60 dianggap reliabel. Data akan dikumpulkan melalui distribusi kuesioner kepada siswa kelas Vi C dan Vi D di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat, dengan peneliti memberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian dan cara pengisian kuesioner untuk memastikan pemahaman yang baik dari responden. Dengan pendekatan ini, peneliti berharap dapat memperoleh data yang akurat dan representatif mengenai pengaruh pembiasaan shalat Dhuha terhadap kedisiplinan siswa. Aspek etika dalam penelitian ini diterapkan dengan sangat serius untuk memastikan bahwa hak dan privasi peserta didik dihormati sepanjang proses penelitian. Sebelum pengumpulan data dilakukan, peneliti memperoleh persetujuan dari peserta didik dan orang tua atau wali mereka, dengan memberikan informasi yang jelas mengenai tujuan penelitian, prosedur yang akan dilakukan, serta potensi manfaat dan risiko yang mungkin timbul. Peneliti juga menjelaskan bahwa partisipasi dalam penelitian ini bersifat sukarela dan bahwa peserta dapat mengundurkan diri kapan saja tanpa konsekuensi. Selain itu, untuk menjaga kerahasiaan data, semua informasi yang dikumpulkan akan disimpan dalam format yang aman dan hanya akan diakses oleh peneliti. Identitas peserta akan dilindungi dengan menggunakan kode atau JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 nomor identifikasi, sehingga data yang diperoleh tidak dapat dihubungkan kembali ke individu Dengan menerapkan prinsip-prinsip etika ini, penelitian tidak hanya berfokus pada hasil yang valid dan reliabel, tetapi juga menghormati martabat dan privasi semua peserta yang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan olahan data yang didapatkan, berikut pengelompokkan responden berdasarkan hasil uji validitas. Hasil uji validitas untuk variabel X, yaitu pembiasaan shalat dhuha, menunjukkan bahwa dari 24 butir pernyataan, terdapat 19 pernyataan yang valid. Validitas ini ditentukan dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel yang pada taraf signifikansi 5% memiliki nilai rtabel sebesar 0,334. Butir pernyataan yang valid adalah yang memiliki rhitung lebih besar dari rtabel. Sebaliknya, terdapat 5 butir pernyataan yang tidak valid, yaitu nomor 14, 41, 32, 8, dan 43, karena rhitung mereka kurang dari rtabel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kuesioner yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut telah terbukti valid dan dapat digunakan sebagai instrumen pengumpulan data yang akurat pembiasaan shalat dhuha secara keseluruhan valid, karena mayoritas pernyataan . memenuhi kriteria validitas dengan rhitung Ou rtabel . Namun, lima pernyataan yang tidak memenuhi kriteria tersebut tidak digunakan dalam analisis lebih lanjut. Hasil uji validitas untuk variabel Y, yaitu kedisiplinan peserta didik, menunjukkan bahwa dari 21 butir pernyataan yang diuji, hanya 14 pernyataan yang memenuhi kriteria Validitas ini ditentukan dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel, yang pada taraf signifikansi 5% memiliki nilai rtabel sebesar 0,334. Peryataan-pernyataan yang dinyatakan valid adalah yang memiliki nilai rhitung lebih besar dari rtabel. Sebaliknya, terdapat 7 pernyataan yang tidak valid, yaitu nomor 20, 24, 25, 30, 36, 45, dan 29, karena nilai rhitung mereka kurang dari rtabel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kuesioner untuk variabel kedisiplinan peserta didik menunjukkan validitas pada 14 dari 21 pernyataan yang diuji. Peryataanpernyataan yang tidak memenuhi kriteria validitas tidak digunakan dalam analisis lebih lanjut. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 sedangkan pernyataan yang valid dianggap memenuhi syarat untuk mengukur variabel yang Tabel 1 Hasil Uji Reliabilitas Variabel X Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,833 Variabel Y Reliability Statistics Cronbach's Alpha ,722 N of Items Berdasarkan tabel hasil pengolahan data uji reliabilitas terhadap item pernyataan yang dinyatakan valid, instrumen penelitian menunjukkan hasil yang positif. Untuk variabel Pembiasaan shalat dhuha, nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,833 menunjukkan bahwa instrumen ini sangat reliabel dengan kategori tinggi. Sementara itu, untuk variabel kedisiplinan, nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,722 juga menunjukkan tingkat reliabilitas yang baik, meskipun berada dalam kategori sedang. Karena kedua nilai Cronbach's Alpha untuk variabel pembiasaan shalat dhuha dan kedisiplinan lebih besar dari nilai ambang batas yang ditetapkan, yaitu 0,60. Dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini telah terbukti valid dan reliabel, sehingga hasil penelitian yang diperoleh dapat diandalkan dan memiliki kredibilitas yang tinggi memenuhi syarat reliabilitas. Dengan demikian, instrumen tersebut dapat dipercaya untuk mengukur variabel-variabel yang diteliti secara konsisten dan akurat. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Gambar 1 Histogram Analisis Deskriptif Pembiasaan Shalat Dhuha Grafik Frekuensi Pembiasaan Shalat Dhuha Responden Sumber : Data Diolah Gambar diatas menunjukkan bahwa interval nilai 65-69 itu sebanyak 3 orang peserta didik, interval 70-74 itu sebanyak 4 orang peserta didik, interval 75-79 itu sebanyak 9 orang peserta didik, interval 80-84 itu sebanyak 7 orang peserta didik, interval 85-89 itu sebanyak 16 orang peserta didik, interval 9094 itu sebanyak 12 orang peserta didik, dan interval 95-98 itu sebanyak 7 orang. Gambar 2 Histogram Analisis Deskriptif Kedisiplinan Grafik Frekuensi Kedisiplinan Responden Sumber : Data Diolah JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Gambar diatas menunjukkan bahwa interval nilai 54-61 itu sebanyak 2 orang peserta didik, interval 62-68 itu sebanyak 1 orang peserta didik, interval 69-75 itu sebanyak 6 orang peserta didik, interval 76-82 itu sebanyak 16 orang peserta didik, interval 83-89 itu sebanyak 15 orang peserta didik, interval 90-96 itu sebanyak 14 orang peserta didik, dan interval 97-100 itu sebanyak 4 orang. Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. ,0000000 Deviation 4,51713173 Absolute Positive ,090 ,066 Negative -,090 Kolmogorov-Smirnov Z ,686 Asymp. Sig. -taile. ,735 Test distribution is Normal. Calculated from data. Sumber : Data Diolah Berdasarkan tabel yang disajikan, hasil uji normalitas menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan nilai signifikansi dua arah sebesar 0,735. Nilai ini lebih besar dari 0,05, yang menunjukkan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal. Dengan kata lain, karena nilai signifikansi lebih tinggi dari batas yang ditentukan, dapat disimpulkan bahwa distribusi data penelitian mengikuti distribusi normal. Ini mengindikasikan bahwa data yang dikumpulkan memenuhi asumsi normalitas yang diperlukan untuk analisis statistik lebih lanjut. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Tabel 4. 7 Hasil Uji Hipotesis Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients 1 (Constan. Std. Error 35,970 10,866 ,560 ,127 Standardized Coefficients Sig. Beta ,508 3,310 ,002 4,415 ,000 Dependent Variable: Y Sumber : Data Diolah Berdasarkan hasil uji parsial . , diperoleh nilai Thitung sebesar 4,415 dan nilai Ttabel yang menunjukkan bahwa Thitung > Ttabel. Selain itu, nilai signifikansi untuk variabel pembiasaan shalat dhuha adalah 0,000, yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian. H0 . ipotesis no. ditolak dan H1 . ipotesis alternati. Hal ini menunjukkan bahwa variabel pembiasaan shalat dhuha memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kedisiplinan peserta didik. Dengan kata lain, pembiasaan shalat dhuha secara signifikan mempengaruhi peningkatan kedisiplinan di kalangan peserta didik. Pembahasan Kedisiplinan peserta didik dapat diartikan sebagai kemampuan mereka untuk mematuhi dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh sekolah dan guru dalam proses pembelajaran, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang teratur dan efektif. Menurut Slameto . kedisiplinan merupakan salah satu faktor kunci dalam mencapai keberhasilan akademik, dan sikap disiplin yang baik akan mencerminkan tanggung jawab siswa dalam menjalani proses belajar. Dalam penerapannya, sikap disiplin menjadi tolak ukur seseorang agar terlihat bertanggung jawab, dan seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap disiplin seharusnya menjadi kebiasaan yang dilakukan secara rutin, karena sikap ini dapat memudahkan siswa dalam kehidupan serta bertanggung jawab terhadap kegiatan yang akan dilakukannya. Misalnya, disiplin datang tepat waktu ke sekolah sebelum bel sekolah berbunyi, disiplin untuk tidak membuat keributan pada saat jam pelajaran, dan disiplin menggunakan seragam yang telah dijadwalkan dari sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Raharja . yang menyatakan bahwa disiplin yang baik dalam rutinitas sehari-hari akan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 membentuk karakter yang kuat dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan di masa Adapun implementasi pembiasaan shalat Dhuha yang sudah dilaksanakan oleh peserta didik di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat yaitu apabila sudah pukul 06. 30, peserta didik diwajibkan untuk segera berwudhu dan berkumpul di lapangan. Pembiasaan ini, sebagaimana diungkapkan oleh Ariyani & Mutia . , merupakan langkah penting dalam membangun karakter dan kedisiplinan siswa. Kemudian, peserta didik diwajibkan untuk membawa sandal dan memakainya dari tempat wudhu sampai ke tempat shalat Dhuha, serta bagi peserta didik laki-laki diwajibkan untuk menggunakan kopeah dan setiap peserta didik diwajibkan membawa Al-QurAoan. Pembiasaan pagi shalat Dhuha ini merupakan salah satu program madrasah, sehingga semua warga madrasah berkewajiban untuk mensukseskannya. Maka dari itu. Ibu/Bapak guru diwajibkan untuk membersamai peserta didik pada pembiasaan pagi shalat Dhuha di lapangan. Meskipun tidak diwajibkan untuk melaksanakan shalat Dhuha, keberadaan guru sangat penting untuk mendampingi siswa dan menciptakan suasana yang kondusif. Menurut Wahid et al. , peran guru dalam mendampingi siswa dalam kegiatan keagamaan dapat meningkatkan motivasi dan kedisiplinan siswa. Peserta didik juga diwajibkan mengikuti pembiasaan shalat Dhuha, bahkan untuk peserta didik perempuan yang sedang berhalangan diwajibkan untuk berada di lapangan dan menyimak pembiasaan shalat Dhuha. Penerapan pembiasaan shalat Dhuha di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat menghadapi beberapa tantangan, antara lain kurangnya kesadaran dan pemahaman peserta didik tentang pentingnya ibadah ini dalam membentuk kedisiplinan. Menurut Sari et al. kesadaran spiritual dan pemahaman siswa tentang ibadah sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan di sekolah. Selain itu, beberapa siswa mungkin memiliki kendala pribadi, seperti masalah kesehatan atau keterlambatan dalam persiapan, yang dapat mengganggu pelaksanaan shalat Dhuha secara rutin. Untuk mengatasi tantangan ini, sekolah telah menerapkan berbagai solusi, seperti mengadakan sosialisasi dan pelatihan bagi siswa dan orang tua mengenai manfaat shalat Dhuha, serta menyusun jadwal kegiatan yang fleksibel untuk memastikan semua siswa dapat berpartisipasi. Selain itu, guru juga berperan aktif dalam mendampingi siswa selama pelaksanaan shalat Dhuha, menciptakan suasana yang mendukung dan memperkuat motivasi siswa. Dengan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 langkah-langkah ini, diharapkan pembiasaan shalat Dhuha dapat berjalan dengan lebih efektif dan berkontribusi positif terhadap kedisiplinan peserta didik. Penelitian Ibrahim et al. menunjukkan bahwa dukungan dari guru dan sekolah sangat penting dalam mendorong partisipasi siswa dalam kegiatan keagamaan, sehingga dapat meningkatkan kedisiplinan dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Keterbatasan dalam penelitian ini meliputi ukuran sampel yang digunakan terbatas pada 58 peserta didik dari kelas Vi C dan Vi D di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat, yang mungkin tidak cukup representatif untuk menggambarkan seluruh populasi siswa di sekolah tersebut atau di institusi pendidikan lain. Selain itu, metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yang berarti bahwa pemilihan peserta didik dilakukan berdasarkan kriteria tertentu, sehingga dapat mempengaruhi keberagaman karakteristik yang ada dalam sampel. Faktor eksternal lainnya, seperti lingkungan sosial, dukungan keluarga, dan kondisi psikologis siswa, juga dapat mempengaruhi kedisiplinan dan pelaksanaan shalat Dhuha, namun tidak diukur dalam penelitian ini. KESIMPULAN Pembiasaan shalat dhuha ternyata memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kedisiplinan peserta didik di Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat, khususnya pada kelas Vi C dan Vi D. Dalam penelitian ini, hasil analisis data menunjukkan bahwa besaran pengaruh pembiasaan shalat dhuha terhadap kedisiplinan siswa mencapai 25,8%. Angka ini berasal dari nilai R Square sebesar 0,258, yang mengindikasikan bahwa hampir seperempat dari variasi kedisiplinan peserta didik dapat dijelaskan oleh kebiasaan melaksanakan shalat dhuha. Kedisiplinan dalam konteks ini mencakup berbagai aspek, seperti datang tepat waktu ke sekolah, mengikuti pelajaran dengan tenang, dan mematuhi peraturan penggunaan seragam. Pembiasaan shalat dhuha membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai kedisiplinan ini karena shalat dhuha sendiri merupakan kegiatan yang memerlukan konsistensi, kesabaran, dan Dengan melaksanakan shalat dhuha secara rutin, siswa belajar untuk menghargai waktu dan kewajiban mereka, yang pada gilirannya tercermin dalam sikap mereka di sekolah. Pentingnya kedisiplinan dalam lingkungan pendidikan tidak dapat diabaikan. Disiplin membantu menciptakan suasana belajar yang kondusif, memungkinkan proses pembelajaran berjalan dengan lancar, dan mendorong siswa untuk mencapai hasil akademik yang lebih baik. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 125-140 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai religius seperti pembiasaan shalat dhuha dalam kehidupan sehari-hari siswa menjadi salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan kedisiplinan dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Untuk penelitian lebih lanjut, disarankan agar peneliti memperluas cakupan sampel dengan melibatkan lebih banyak sekolah dan kelas dari berbagai jenjang pendidikan untuk mendapatkan hasil yang lebih representatif. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi kedisiplinan, seperti peran orang tua, lingkungan sosial, dan kegiatan ekstrakurikuler. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti ucapkan terima kasih kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan sehingga penelitian ini bisa terselesaikan. Terima kasih juga kepada sekolah Madrasah Tsanawiyah Jakarta Pusat yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian dan juga terimakasih kepada kepala sekolah dan guru-guru yang terlibat. DAFTAR PUSTAKA