TEMATIK Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Januari 2026, pp. 112 Ae 121 e-ISSN: 2775-3360 https://journals. id/index. php/tematik npage 112 Implementasi Pembelajaran Model Shared & Model Berdiferensiasi Pada Kegiatan Praktik Mengajar Secara Peer Teaching Di Prodi PGMI Asep Ediana Latip*1. Sarah Nurrahmah2. Shabrina Luthfiyah Ahmad3 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ediana@uinjkt. id1 , sarah. nurrahmah23@mhs. id2 , shabrina. luthfiyah23@mhs. Informasi Artikel Abstrak Diterima : 22-11-2025 Direview : 03-12-2026 Disetujui : 30-01-2026 Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan praktik mengajar berbasis peer teaching pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Pendekatan penelitian menggunakan mixed methods dengan desain embedded, di mana data kualitatif menjadi fokus utama dan data kuantitatif berperan sebagai Data dikumpulkan melalui observasi praktik mengajar, wawancara, dan angket persepsi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memperoleh kategori sangat baik dengan nilai rata-rata 93,2, sedangkan model shared teaching berada pada kategori baik dengan nilai 84,4. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi lebih efektif dalam mengakomodasi keberagaman kesiapan dan kebutuhan belajar, sementara shared teaching berkontribusi dalam penguatan kolaborasi dan refleksi pedagogik. Integrasi kedua model dalam peer teaching terbukti mendukung peningkatan kompetensi pedagogik calon guru secara komprehensif. Kata Kunci Peer Teaching. Shared Teaching. Pembelajaran Berdiferensiasi. Kompetensi Pedagogik. PGMI. PENDAHULUAN Pendidikan guru madrasah ibtidaiyah (PGMI) sebagai bagian dari pendidikan profesi guru memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan calon pendidik yang tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga mampu menerapkan strategi pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan kontekstual. Pengembangan kompetensi pedagogik mahasiswa PGMI menuntut adanya pengalaman praktik mengajar yang dirancang secara sistematis, bertahap, dan reflektif. Dalam konteks ini, praktik mengajar melalui skema peer teaching menjadi salah satu wahana penting untuk mengembangkan kompetensi pedagogik mahasiswa secara bertahap dan reflekti. Peer teaching memungkinkan mahasiswa untuk saling belajar, memberikan umpan balik, serta mengasah keterampilan mengajar dalam lingkungan yang relatif aman dan suportif sebelum terjun ke kelas nyata. Meskipun demikian, efektivitas peer teaching sangat bergantung pada model pembelajaran yang digunakan dalam praktik tersebut. Tanpa pendekatan pedagogik yang tepat, kegiatan peer teaching berpotensi hanya menjadi simulasi teknis yang kurang e-ISSN: 2775-3360 memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan kompetensi pedagogik mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang mampu mengoptimalkan interaksi, refleksi, dan pengambilan peran pedagogik mahasiswa secara kolaboratif. Salah satu model yang relevan untuk dikembangkan dalam konteks ini adalah model shared teaching, yaitu model pembelajaran yang menekankan kolaborasi antara dua atau lebih guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Model shared teaching memiliki potensi besar untuk diadaptasi dalam konteks peer teaching mahasiswa PGMI karena tidak hanya memperkuat kerja sama, tetapi juga mendorong refleksi kritis serta pembagian peran yang setara dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, keberagaman karakteristik siswa menuntut calon guru memiliki sensitivitas pedagogik yang tinggi terhadap perbedaan kebutuhan, minat, dan kesiapan Dalam hal ini, model pembelajaran berdiferensiasi yang menyesuaikan strategi, konten, dan produk pembelajaran dengan kebutuhan, minat, dan kesiapan murid menjadi sangat relevan dalam menumbuhkan kompetensi tersebut (Jayanti. Suprijono, & Jacky, 2. Pembelajaran berdiferensiasi mendorong calon guru untuk tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada kemampuan membaca konteks belajar dan merancang pembelajaran yang berpihak pada murid. Namun demikian, implementasi model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi secara terintegrasi dalam praktik peer teaching di lingkungan PGMI belum banyak dikaji secara sistematis. Padahal, integrasi antara pendekatan kolaboratif dan diferensiatif berpotensi menjadi strategi efektif dalam membentuk calon guru yang reflektif, adaptif, dan responsif terhadap dinamika kelas. Selain itu, pendekatan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, otonomi guru, dan pembelajaran yang berpihak pada murid. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi dapat diimplementasikan secara sinergis dalam kegiatan praktik mengajar mahasiswa PGMI, khususnya melalui skema peer teaching. Sejumlah studi empiris menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dan pendekatan kolaboratif memberikan dampak positif dalam konteks pendidikan guru. Penelitian oleh Prihandini. Azizah, dan Atikah . menunjukkan bahwa sinergi antara pembelajaran berdiferensiasi dan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Selanjutnya. Barlian et al. menegaskan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk lebih inovatif dan reflektif dalam merancang pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam konteks pendidikan dasar. Nurwidiawati et al. juga menemukan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi secara sistematis dapat meningkatkan kualitas interaksi guru-siswa serta memperkuat pemahaman terhadap perbedaan gaya belajar. Implementasi model shared dan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan peer teaching pada Prodi PGMI menuntut kemampuan calon guru dalam merancang strategi instruksional yang kolaboratif serta adaptif terhadap kebutuhan belajar. Hal ini sejalan dengan temuan Maulana et al. yang menegaskan pentingnya desain pembelajaran yang memungkinkan kolaborasi dan pemanfaatan media secara efektif untuk meningkatkan kualitas proses belajar. Selain itu. Maulana et al. Juga menegaskan bahwa variasi pendekatan dan fleksibilitas dalam pemilihan metode merupakan faktor penting dalam menciptakan pembelajaran yang responsif terhadap karakteristik murid. Penerapan model shared dan TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 berdiferensiasi dalam peer teaching di PGMI memiliki relevansi teoretis dan praktis dalam mendorong kompetensi pedagogik calon pendidik (Maulana et al. , 2. Meskipun demikian, penerapan kedua model tersebut dalam skenario pelatihan calon guru, khususnya melalui praktik mengajar berbasis peer teaching di Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), masih relatif terbatas dan belum terdokumentasi secara sistematis. Permasalahan utama yang muncul adalah bagaimana integrasi model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi dapat mendukung pencapaian kompetensi pedagogik mahasiswa PGMI secara optimal dalam konteks praktik mengajar yang bersifat simulatif. Selain itu, belum diketahui secara pasti bagaimana persepsi mahasiswa terhadap efektivitas serta tantangan implementasi kedua model tersebut dalam kegiatan peer teaching. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji secara mendalam implementasi model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan praktik mengajar berbasis peer teaching di Prodi PGMI. Fokus penelitian ini mencakup proses penerapan kedua model, tantangan dan strategi adaptasi yang dihadapi mahasiswa selama pelaksanaan peer teaching, serta persepsi mahasiswa terhadap kontribusi model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi dalam meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, khususnya dalam aspek perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual dan praktis bagi pengembangan kurikulum serta strategi pelatihan calon guru di lingkungan PGMI, sekaligus memperkaya literatur mengenai inovasi pembelajaran dalam pendidikan profesi guru berbasis kolaborasi dan diferensiasi. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain embedded, di mana metode kualitatif menjadi dominan dan data kuantitatif digunakan sebagai pelengkap untuk memperkuat temuan deskriptif. Desain ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengeksplorasi secara mendalam implementasi model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi dalam praktik peer teaching mahasiswa PGMI, sekaligus memberikan dukungan data numerik terhadap persepsi mahasiswa. Pendekatan ini sejalan dengan panduan dari Creswell dan Plano Clark . , yang menyatakan bahwa desain embedded cocok digunakan ketika peneliti ingin menambahkan nilai empiris kuantitatif ringan dalam studi kualitatif yang kompleks. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester VI Program Studi PGMI yang mengikuti mata kuliah Praktik Mengajar. Penelitian dilaksanakan di laboratorium microteaching dan ruang kelas PGMI pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat selama semester genap tahun akademik 2024/2025. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap pelaksanaan peer teaching, dengan fokus pada dinamika kolaborasi, penerapan strategi diferensiasi, dan respons mahasiswa terhadap keberagaman gaya belajar. Selain itu, wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap mahasiswa dan dosen pembimbing untuk menggali persepsi, tantangan, dan strategi adaptasi dalam mengimplementasikan kedua model pembelajaran tersebut. Sementara itu, data kuantitatif dikumpulkan melalui angket skala Likert . Ae. yang dirancang untuk mengukur persepsi mahasiswa terhadap efektivitas model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi. Instrumen angket dikembangkan berdasarkan indikator TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 kompetensi pedagogik dan prinsip diferensiasi menurut Tomlinson . dan Marlina . Data kualitatif dianalisis menggunakan teknik Miles. Huberman, dan Saldaya, yaitu melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Sementara itu, data kuantitatif dianalisis secara deskriptif menggunakan statistik sederhana seperti rerata dan persentase untuk mengidentifikasi kecenderungan persepsi mahasiswa. Tingkat ketercapaian keberhasilan kegiatan pembelajaran diukur melalui tiga indikator utama. Pertama, kualitas implementasi model pembelajaran berdasarkan hasil observasi, yang mencakup aspek kolaborasi, adaptasi strategi, dan respons terhadap keberagaman siswa (Fitra, 2. Kedua, persepsi positif mahasiswa terhadap efektivitas pembelajaran, dengan skor rata-rata minimal 3,5 dari skala 5 (Marlina, 2. Ketiga, refleksi dosen pembimbing yang menunjukkan adanya peningkatan kompetensi pedagogik mahasiswa dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi secara Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh dan mendalam mengenai efektivitas implementasi model shared teaching dan pembelajaran berdiferensiasi dalam konteks pendidikan guru di PGMI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peer teaching dalam pendidikan calon guru dipahami sebagai strategi pembelajaran yang memberikan pengalaman pedagogik langsung kepada mahasiswa melalui praktik mengajar antar teman sejawat. Dalam konteks PGMI, peer teaching memungkinkan mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan teoritis dengan praktik pembelajaran secara Mahasiswa tidak hanya berlatih menyampaikan materi, tetapi juga mengelola kelas, berkomunikasi secara instruksional, serta merespons dinamika belajar yang muncul selama proses pembelajaran. Pendekatan ini relevan karena kompetensi pedagogik tidak dapat dibangun hanya melalui pembelajaran teoritis, melainkan membutuhkan pengalaman praktik yang berulang dan terstruktur. (Huda & Mutmainah, 2. Peer teaching berfungsi sebagai jembatan antara pembelajaran di kelas perkuliahan dan praktik mengajar di sekolah. Lingkungan peer teaching yang relatif aman secara psikologis memungkinkan mahasiswa melakukan kesalahan pedagogik tanpa konsekuensi langsung terhadap siswa nyata. Kesalahan tersebut kemudian menjadi bahan refleksi dan perbaikan praktik mengajar. Dengan demikian, peer teaching berkontribusi terhadap peningkatan kesiapan pedagogik mahasiswa sebelum mengikuti praktik lapangan atau profesi keguruan. (Siregar & Nasution, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas praktik mengajar melalui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi dan model pembelajaran Shared pada pembelajaran terpadu kelas tinggi. Pendekatan mixed methods dengan desain embedded digunakan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif, di mana data kuantitatif hasil penilaian praktik mengajar diperkuat oleh interpretasi kualitatif terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas. Hasil penilaian menunjukkan bahwa praktik mengajar dengan model pembelajaran berdiferensiasi memperoleh total skor 235 dari skor maksimal 250, yang dikonversikan menjadi nilai 93,2 dengan kategori sangat baik. Sementara itu, praktik mengajar dengan model pembelajaran Shared memperoleh total skor 211 dari 250 dengan nilai 84,4 dan berada pada kategori baik. Perbedaan capaian nilai tersebut menunjukkan adanya variasi TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 efektivitas implementasi kedua model, yang dipengaruhi oleh karakteristik pendekatan pembelajaran serta kompleksitas keterampilan pedagogik yang diperlukan. Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Penilaian Praktik Mengajar Berbasis Pembelajaran Berdiferensiasi Aspek Penilaian Jumlah Indikator Rentang Skor Dominan Kategori Pra pembelajaran Membuka pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran Penilaian proses dan hasil Penutup Total Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Penilaian Praktik Mengajar Model Pembelajaran Shared Aspek Penilaian Jumlah Indikator Pra pembelajaran Membuka pembelajaran Kegiatan Penilaian proses dan hasil Penutup Total Rentang Skor Dominan Kategori Baik Baik Baik Baik Baik Baik Secara kuantitatif, pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan capaian yang lebih tinggi dibandingkan model Shared, dan temuan tersebut diperkuat oleh data kualitatif embedded yang memperlihatkan kemampuan guru dalam menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kesiapan, minat, serta kebutuhan belajar murid. Konsistensi dalam menyiapkan kesiapan pra pembelajaran, variasi aktivitas, serta pemberian penguatan dan tindak lanjut berkontribusi signifikan terhadap keterlibatan aktif seluruh murid. Pada tahap membuka pembelajaran, kedua model menunjukkan kemampuan guru dalam melakukan apersepsi dan penyampaian tujuan pembelajaran secara jelas. Namun demikian, pada pembelajaran berdiferensiasi, apersepsi lebih diarahkan untuk menjangkau pengalaman awal siswa yang beragam, sedangkan pada model Shared, fokus apersepsi lebih berada pada keterkaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipadukan. Perbedaan paling mencolok terlihat pada kegiatan inti. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru memiliki fleksibilitas dalam mengelola konten dan proses belajar sehingga murid dapat belajar sesuai tingkat kemampuan masing-masing. Sebaliknya, pada model Shared, meskipun guru berhasil mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari, integrasi konsep lintas mata TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 pelajaran belum secara konsisten terimplementasi di seluruh tahapan pembelajaran, sehingga mempengaruhi variasi skor pada indikator kegiatan inti. Pada aspek pengelolaan kelas dan variasi mengajar, kedua model memperlihatkan kategori baik, namun pembelajaran berdiferensiasi memperoleh stabilitas lebih tinggi karena desain aktivitas yang fleksibel. Model Shared pun menunjukkan efektivitas dalam pengelolaan kelas, tetapi karakteristiknya yang menuntut diskusi lintas konsep memerlukan manajemen waktu dan dinamika kelas yang lebih intensif agar tujuan terpadu pembelajaran tetap terarah. Selanjutnya, keterampilan guru dalam bertanya, membimbing diskusi, dan menjelaskan materi pada kedua model tergolong baik hingga sangat baik. Pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan kemampuan guru dalam merespons perbedaan pemahaman siswa, sedangkan pada model Shared, walaupun diskusi berlangsung partisipatif, penguatan dalam pengelolaan waktu serta pendalaman argumentasi masih diperlukan untuk menghasilkan sintesis konsep yang lebih terintegrasi. Pada tahap penutup, kedua model melaksanakan rangkuman dan refleksi pembelajaran, namun pembelajaran berdiferensiasi memiliki keunggulan dalam pemberian tindak lanjut berupa pengayaan dan remedial yang disesuaikan dengan capaian murid. Sementara itu, pada model Shared, refleksi berperan penting dalam membantu siswa memahami keterkaitan konsep, meskipun refleksi tersebut masih memerlukan penegasan agar tidak hanya bersifat merangkum, tetapi juga mampu menajamkan pemahaman lintas mata pelajaran. Secara keseluruhan, baik pembelajaran berdiferensiasi maupun Shared memberikan kontribusi positif terhadap kualitas praktik mengajar, dengan karakteristik dan kekuatan yang berbeda. Pendekatan mixed methods dengan desain embedded memberikan landasan kuat bagi integrasi data kuantitatif dan kualitatif, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap efektivitas kedua model dalam konteks pembelajaran terpadu kelas tinggi. Dalam konteks pengembangan kompetensi calon guru, peer teaching memiliki dimensi reflektif yang signifikan melalui observasi dan umpan balik sejawat yang memungkinkan mahasiswa melakukan evaluasi kritis terhadap strategi pembelajaran, media, komunikasi instruksional, dan manajemen kelas (Rahmawati & Kurniawan, 2. Refleksi kolaboratif berfungsi memperkuat profesionalisme dan keterbukaan terhadap kritik, sekaligus meningkatkan efektivitas praktik mengajar (Lestari & Prasetyo, 2. Shared teaching sebagai model kolaboratif menuntut koordinasi, komunikasi, dan pembagian peran secara sistematis, sehingga mahasiswa dapat saling melengkapi dari sisi penguasaan materi hingga pengelolaan kelas (Putra & Wibowo, 2. Praktik ini relevan dalam konteks sekolah dasar dan madrasah yang menekankan kolaborasi profesional, serta mengembangkan keterampilan kerja tim (Nugraha & Sulastri, 2022. Susanti & Hakim, 2020. Rohman & Azizah, 2. Pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menyesuaikan strategi dengan kesiapan, minat, dan gaya belajar murid, sehingga menciptakan pembelajaran inklusif (Aulia & Ramadhan, 2021. Fauziah & Mulyani, 2. Integrasi peer teaching dan shared teaching memperkuat kompetensi tersebut karena memadukan praktik pedagogis langsung dengan kerja kolaboratif (Yuliana & Setiawan, 2021. Kusuma & Hartono, 2. Peer teaching mampu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa melalui praktik berulang dan umpan balik (Sari & Maulana, 2020. Pratama & Dewi, 2. , sedangkan diferensiasi memperluas sensitivitas pedagogik dalam menghadapi kelas heterogen (Wahyuni & Anwar, 2021. Utami et al. , 2024. Rahman & Lestari, 2022. Hidayat & TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Nuraini, 2. Proses tersebut turut membentuk orientasi mengajar yang tidak lagi berpusat pada materi, tetapi fokus pada kebutuhan belajar murid (Amalia & Yusuf, 2021. Kurniawan et al. , 2. Refleksi kolaboratif juga memperkuat keterkaitan teori dan praktik serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa (Fitriani & Zainal, 2021. Wulandari et al. , 2. Shared teaching memperkuat kompetensi sosial melalui komunikasi, empati, dan penyelesaian konflik dalam kerja tim (Nurhayati & Suryadi, 2020. Hakim & Prakoso, 2. Di sisi lain, pembelajaran berdiferensiasi menegaskan implementasi pembelajaran inklusif (Sulastri & Mardiana, 2021. Putri et al. , 2. Selain dampak pedagogik, shared teaching berkontribusi terhadap aspek psikologis seperti motivasi dan kepercayaan diri (Safitri & Hadi, 2020. Ramadhani dkk. , 2. , sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi praktik lapangan (Aziz & Laili, 2022. Firmansyah et al. , 2. Identitas profesional dan kepemimpinan pedagogik mahasiswa terbentuk melalui kerja kolaboratif (Sukmawati & Arifin, 2021. Rahman et al. , 2023. Yusran & Hamzah, 2020. Kamil et al. , 2. Pembelajaran berdiferensiasi memperkuat kompetensi adaptif (Nabila & Syahputra. Indrawati dkk. , 2. serta selaras dengan tuntutan Kurikulum Merdeka terkait fleksibilitas dan responsivitas (Salsabila & Hidayat, 2022. Wijaya et al. , 2. Lebih jauh, praktik kolaboratif mendukung keterampilan abad 21, seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas (Ananda & Putri, 2021. Prasetyo et al. , 2. Internalisasi nilai kolaborasi melalui peer teaching berbasis shared teaching memungkinkan pengambilan keputusan pedagogik secara kolektif (Putra & Lestari, 2021. Hakim et al. , 2. , sementara evaluasi berbasis tim meningkatkan profesionalisme berkelanjutan (Mulyani & Siregar. Wicaksono dkk. , 2. Dengan demikian, pengalaman peer teaching memberikan simulasi realistis terhadap kompleksitas kelas dan menguatkan adaptasi profesional mahasiswa sebelum praktik lapangan (Ardiansyah & Nurhadi, 2022. Sari et al. , 2. Integrasi peer teaching, shared teaching, dan diferensiasi secara sinergis mendukung pengembangan kompetensi pedagogik dan profesional calon guru (Lestari & Fauzan, 2021. Maulana et al. , 2. Oleh karena itu, ketiga pendekatan tersebut seyogianya diposisikan sebagai strategi utama dalam pendidikan calon guru agar lebih siap menghadapi realitas pembelajaran (Hidayah & Kurniawan, 2. KESIMPULAN Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam praktik peer teaching menunjukkan efektivitas tinggi dalam meningkatkan kualitas praktik mengajar mahasiswa PGMI, khususnya dalam menyesuaikan strategi dengan kebutuhan dan kesiapan belajar. Model shared teaching memberikan kontribusi positif terhadap penguatan kolaborasi, komunikasi, dan refleksi pedagogik mahasiswa, meskipun memerlukan pengelolaan waktu dan koordinasi yang lebih optimal. Pembelajaran berdiferensiasi memiliki capaian hasil yang lebih tinggi dibandingkan model shared teaching, terutama pada aspek kegiatan inti dan tindak lanjut pembelajaran. Integrasi peer teaching, shared teaching, dan pembelajaran berdiferensiasi mampu membentuk kompetensi pedagogik yang adaptif, reflektif, dan kolaboratif pada calon guru. Model ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai strategi utama dalam pendidikan calon guru PGMI untuk meningkatkan kesiapan menghadapi praktik pembelajaran nyata. TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 DAFTAR PUSTAKA