Berkala Ilmiah Pendidikan scidac plus Volume 4 Nomor 1. Maret 2024 TEORI BELAJAR KOGNITIVISME ROBERT M. GAGNE DALAM PANDANGAN ISLAM Yoga Anjas Pratama Institut Teknologi Sumatera. Indonesia pratama@ki. Abstrak Teori belajar kognitivisme Robert M. Gagme dapat digunakan untuk membantu guru/pendidik dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran, akan tetapi hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana pandangan Islam terhadap teori belajar Robert M. Gagne, apakah sudah sesuai/sejalan dengan pandangan Islam atau bertentangan dengan akidah Islam dan hukum syaraAo, untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan Islam terhadap teori belajar Robert M. Gagne. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan sumber utamanya berupa: buku, artikel, dokumen dan sumber kepustakaan lainnya yang berkaitan dengan teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne. Dari data-data/sumber kepustakaan yang didapatkan kemudian dilakukan analisis konten dengan cara pemberian pemahaman dan penginterprestasian terhadap data-data yang didapatkan, sehingga ditemukan hasil penelitian berupa: teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne yang terdiri dari . fase pembelajaran . sembilan peristiwa pembelajaran, dan . taksonomi hasi belajar sudah sejalan dengan pandangan Islam, hal ini dibuktikan dengan adanya dalil-dalil dan kisah-kisah Islami yang sejalan dan memperkuat teori belajar kognitivisme, selain itu teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne tidak bertentangan dengan akidah Islam dan hukum syaraAo. Kata Kunci: Teori Belajar Kognitivisme. Robert M. Gagne. Islam Abstract Robert M. Gagne's cognitive learning theory can be used to assist teachers/educators and students in achieving learning goals, but this raises the question, how is the Islamic view of Robert M. Gagne's cognitive learning theory, is it already in line with doctrine/views of Islam or contrary to Islamic beliefs and Sharia law. For this reason, this research aims to know the Islamic view of Robert M. Gagne's learning theory. This research is library research with the main sources in the form of: : books, articles, documents and other literary sources related to Robert M. Gagne's cognitivist learning theory. from the data/library sources obtained then content analysis is carried out by providing understanding and interpretation of the data obtained, so the research results were found in the form of: Robert M. Gagne's cognitive learning theory which consists of . learning phase . Nine learning events, and . taxonomy of learning outcomes already in line with Islamic views, this is proven by the existence of Islamic propositions and stories which are in line with and strengthen cognitive learning theory. In addition. Robert M. Gagne cognitivism learning theory does not conflict with the Islamic faith and sharia law. Kata Kunci: Cognitivism Learning Theory. Robert M. Gagne. Islam PENDAHULUAN Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan oleh setiap individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai positif sebagai suatu pengalaman dari berbagai materi Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2024 Yoga Anjas Pratama yang telah dipelajari sebelumnya (Djamaludin & Wardana, 2019 : . Belajar dalam aktivitasnya melibatkan proses berpikir yang kompleks (Basyir. Dinana & Devi, 2022 : . , dimana dalam proses belajar terjadinya interaksi dua arah antara pendidik dan peserta didik yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Belajar dalam prosesnya tidak dapat dipisahkan dari teori-teori belajar, hal ini dikarenakan teori belajar dapat membantu pendidik dan peserta didik dalam mendesain pembelajaran yang pada akhirnya memudahkan pendidik dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan (Pratama, 2019 : . Teori belajar terdiri dari beberapa jenis, sebagai berikut: . teori belajar behaviorisme . sibernetik dan lain Teori belajar kognitivisme merupakan teori belajar yang menekankan pada aspek proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri (Nurhadi, 2020 : . Belajar menurut teori ini tidak sekadar hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, melainkan lebih dari itu, belajar merupakan proses berpikir yang kompleks (Basyir. Dinana & Devi, 2022 : . Selanjutnya ilmu pengetahuan dalam teori ini dibangun dari diri peserta didik melalui proses interaksi, sehingga peserta didik dituntut untuk selalu melakukan pengembangan diri, dimana dari pengembangan tersebut peserta didik akan mendapatkan pengalaman-pengalaman, ingatan, retensi, emosi dan lain sebagainya yang pada akhirnya peserta didik tersebut memperoleh perubahan dalam bentuk pemahaman, tingkah laku, keterampilan, nilai/sikap dan lain sebagainya (Rahmah, 2022 : . Dikutip dari Sri Devi dalam penelitiannya, bahwa teori belajar koginitivisme Robert M. Gagne dapat meningkatkan hasil belajar Matematika Siswa kelas XI Teknik Pengelasan SMK Negeri Palopo (Devi, 2017 : . Kemudian dari hasil penelitian Nurhadi dikatakan bahwa teori kognitivisme dapat menjadikan peserta didik menjadi lebih kreatif, mandiri dan memudahkan peserta didik dalam memahami bahan belajar (Nurhadi, 2020 : . Selain itu teori belajar kognitivisme juga dapat membantu peserta didik dalam mengidentifikasi hal-hal yang paling penting untuk peserta didik pelajari, memberikan pengalaman dan dapat membuat peserta didik berpikir secara aktif (Anidar: . Berdasarkan pemaparan di atas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam terkait teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne dalam pandangan Islam, hal ini dikarenakan teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne dapat membantu guru/pendidik dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaranya, sehingga teori belajar kognitivisme ini sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah/madrasah. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pandangan Islam terhadap teori belajar Robert M. Gagne apakah sudah sesuai/sejalan dengan padangan Islam atau bertentangan dengan akidah Islam dan hukum syaraAo Penelitian mengenai teori belajar Robert M. Gagne sebenarnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Rifqiyyatush Sholihah Al-Mahiroh dan Suyadi melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan psikologis dengan yang berfokus pada kontribusi teori kognitif Robert M. Gagne dalam pembelajaran pendidikan Islam (Riqiyyatush Sholihah AL-Mahiroh dan Suyadi, 2020: 117-. Selain itu penelitian Khoirotul NiAoamah dan Hafidzulloh S. M melalui penelitian kepustakaan dengan fokus kajian pada teori pembelajaran kognitivistik secara umum, yaitu: J. Bruner. David P. Ausubel dan Robert M. Gagne dan aplikasinya dalam pendidikan Islam (Khoirotul NiAoamah dan Hafidzulloh S. M, 2021: 204-. Adapun perbedaan penelitian penulis dengan penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu: penelitian ini hanya difokuskan pada kajian teori belajar kognitivisme Robert Gagne yang terdiri dari . fase pembelajaran . sembilan peristiwa pembelajaran, dan . taksonomi hasil belajar yang dikaji dengan pendekatan kepustakaan untuk melihat padangan Islam terhadap teori ini. Kajian ini menghadirkan ayat-ayat alquran, kisah-kisah Islami untuk melihat ketersinggungan teori belajar Robert M. Gagne dengan Islam sehingga ditemukannya padangan Islam terkait dengan teori ini. METODE Penelitian ini merupakan penelitian library reseacrh yang menjadikan bahan pustaka sebagai sumber data utamanya (Sapitri, 2017 : . , seperti: buku-buku, artikel/jurnal, dokumen dan sumber kepustakaan lainnya. Penelitian ini difokuskan pada kajian mengenai teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne dalam pandangan Islam. Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data-data melalui penelusuran/telaah terhadap sumber-sumber kepustakaan yang berhubungan dengan teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne, selain itu penulis juga menghadirkan ayat-ayat alquran, kisah-kisah Islami dan lain sebagainya untuk melihat pandangan Islam terhadap teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne. Dari data-data kepustakaan yang didapatkan kemudian dilakukan analisis konten untuk menarik kesimpulan melalui usaha untuk menemukan karakteristik pesan yang dilakukan secara obyektif dan sistematik (Moloeng, 2. Dalam analisis konten penulis melibatkan proses pemahaman dan peinterprestasian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne dalam pandangan Islam untuk kemudian diperoleh jawaban atas rumusan masalah yang ditetapkan . emuan penelitia. HASIL DAN PEMBAHASAN TEORI BELAJAR KOGNITIVISME ROBERT M. GAGNE Robert M. Gagne dilahirkan di Andover Utara. Massachusetts. Ia merupakan seorang professor dalam bidang psikologi dan psikologi pendidikan di Connecticut Colelege (Suyono & Hariyanto, 2012 : . Belajar menurut Robert M. Gagne merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil dari transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (Warsita, 2018 : . Robert M. Gagne mengatakan bahwa dalam belajar terjadi suatu proses penerimaan informasi untuk kemudian informasi tersebut diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam proses penerimaan informasi tersebut terjadi interaksi antara kondisi internal . eadaan dan proses kognitif yang terjadi di dalam individu anak/peserta didi. dan kondisi eksternal . angsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu anak/peserta didik dalam proses pembelajara. (Suyono & Hariyanto, 2012 : . Robert M. Gagne mengemukakan teori belajar yang terdiri dari tiga prinsip, yaitu: Pertama: Fase pembelajaran . onditions of learin. Kedua: Sembilan peristiwa pembelajaran . ine events of instruction. Ketiga: Taksonomi hasil belajar . axonomy of learing outcome. (Suyono & Hariyanto, 2012 : . Pertama: kondisi pembelajaran. Kondisi belajar/pembelajaran dalam teori kognitivisme dibagi menjadi delapan fase, yang terdiri dari fase motivasi, pengenalan, perolehan, retention, pemanggilan, generalisasi, penampilan dan fase umpan balik. Berikut penjelasannya: Fase motivasi merupakan kondisi awal dimana peserta didik/individu memulai pembelajaran dikarenakan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu (Irawan, 2013 : . Fase pengenalan atau pemahaman merupakan fase dimana peserta didik/individu menerima dan memahami rangsangan . yang diperoleh dari suatu pembelajaran (Surya, 2004 : . Fase perolehan merupakan fase dimana peserta didik/individu mempersepsi atau memberikan makna kepada informasi-informasi yang telah diperoleh (Irawan, 2013 : . Fase retention merupakan fase penahanan hasil belajar . untuk dapat dipakai dalam jangka waktu yang panjang (Irawan, 2013 : . Fase pemanggilan ialah fase dimana peserta didik/individu mengeluarkan kembali si-informasi yang telah diperoleh sebelumnya (Surya, 2004 : . Fase generalisasi merupakan fase dimana peserta didik/individu menggunakan hasil belajar yang telah dimiliki sebelumnya untuk keperluan tertentu (Purwoko : Fase penampilan merupakan fase perwujudan perubahan perilaku peserta didik/individu sebagai hasil dari pembelajaran yang telah didapat sebelumnya (Purwoko : . Fase umpan balik ialah fase dimana peserta didik/individu mendapatkan umpan balik dari perilaku yang telah dilakukannya (Purwoko : . Kedua: Peristiwa pembelajaran. Peristiwa pembelajaran merupakan cara-cara yang diciptakan guru/pendidik untuk mendukung proses belajar di dalam diri peserta didik/individu (Agustina et al. , 2. Persitiwa pembelajaran disebut juga sebagai instructional event dengan urutan-urutan sebagai berikut : . Memberi atau membangkitkan perhatian . ain attetion . Menyampaikan tujuan pembelajaran bagi peserta didik . nform leaner of objective. Merangsang ingatan pada materi prasyarat atau mengingat kembali apa yang telah dipelajari . Menyampaikan materi ajar/pembelajaran . Memberi bimbingan belajar . Menampilkan unjuk kerja . Memberikan umpan balik . Menilai unjuk kerja . Meningkatkan ritensi (Tarihoran dkk, 2021 : . Ketiga: Taksonomi hasil belajar . axonomy of learing outcome. Taksonomi hasil belajar merupakan pengelompokan hasil belajar yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam satu kategori. Dikutip dari Wowo Sunaryo Kuswana bahwa taksonomi hasil belajar Robert M. Gagne, sebagai berikut: . Informasi verbal . Keterampilan intelektual . Strategi kognitif, dan . Sikap (Kuswana, 2012 : 79-. TEORI BELAJAR KOGNITIVISME ROBERT M GAGNE DALAM PANDANGAN ISLAM Fase Pembelajaran (Conditions of Learnin. Robert M. Gagne mengartikan belajar sebagai perubahan tingkah laku/kemampuan manusia yang terjadi setelah adanya proses belajar secara terus menerus (Tarihoran dkk, 2021 : . Teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne dalam hal ini mempunyai peranan yang penting, yaitu: dapat membantu/mempermudah pendidik/peserta didik dalam mencapai tujuan belajar/pembelajaran yang Teori belajar kognitivisme Robert M Gagne terdiri dari tiga prinsip, yaitu: Pertama: fase pembelajaran . onditions of learin. , yang terdiri dari: . Fase motivasi, pada fase ini pendidik dapat terlebih dahulu membangkikan motivasi belajar peserta didik. Pemberian motivasi belajar ini dapat dilakukan dengan cara . Memperjelas tujuan yang ingin dicapai . Membangkitkan minat peserta didik . Menciptakan suasana yang meyenangkan . Memberi pujian terhadap keberhasilan peserta didik . Memberikan penilaian . Memberi komentar terhadap hasil kerja peserta didik, dan . Menciptakan persaingan dan kerjasama (Emda, 2017 : 179-. Berkaitan dengan pemberian motivasi . ase motivas. hal ini telah dijelaskan di dalam Qs. Al-Imran ayat 159, sebagai berikut: n a a AI EaNa nI aOEa IO aEIa Aa Uc a aEOa EICaEI a aEIac O e aI II a IOA AE Aa aIA aII a II aO I a I aA I EaN IaI aOa O Ia IaN a IEaI n a Aa a aaI a Aa a aO N IA AacEA a a a aI a I a n aI aI N aacEE EA u Aa aaE N oa aacEE NI N aacEE aaO ac EI aIa aO a aE aIOA AuMaka berkat rahmat Allah engkau (Muhamma. berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berlaku kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam hal itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakalAy. (Qs. Al-Imran ayat . (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . Ayat di atas menjelaskan tentang interaksi nabi Muhammad Saw dengan para sahabat dengan berlemah lembut, tidak bersikap kasar, memaafkan dan bermusyawarah (Zuhail. Kemudian dalam kehidupan dengan individu berbeda agama nabi Muhammad Saw juga selalu berlemah lembut meskipun banyak dari orang-orang non Islam mengejek dan berniat mencelakai Nabi Muhammad Saw. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa dalam pemberian motivasi belajar hendaklah dilakukan dengan sikap lemah lembut, memberikan pujian, melakukan musyawarah dan lain sebagainya sehingga dapat terciptanya proses belajar yang menyenangkan yang pada akhirnya berdampak pada tercapainya hasil belajar yang diharapkan. Fase pengenalan/pemahaman. Pada fase ini peserta didik mendapatkan pengenalan/pemahaman terkait materi-materi yang disampaikan oleh guru/pendidik di dalam kelas, baik itu disampaikan melalui metode cerita dan lain sebagainya. Hal ini sejalan dengan Qs. Al-Baqarah ayat 31-33 dan Qs. Al-MaAoidah ayat 67, sebagai berikut: A CaEaO e a I a aI aE aE a I aacE Ea aI e NaE aI aENIa aIne I aNEA AIa aA a aC aIOA AaOa N aacE a a aI IEa I a e a aENNa aN a NaI aaE EI aIEa eaEa a AaCa aE aI a aOaI a a I a e a aN e aaEe a aI aE IA aa a a a Aa IA AA AOI aO aIA a aA Ca aE O a eAa a aI aIaI aI a a I aeaa I naI AaEa NI e aIa a aaN a a I aeaa IaI Ca aE aEa II aCaE E N a IaE a eaI aI a aacE a IO a NE aI aO aOE I aOI aacE aI a IA AaIa EI a aE aIO EI a aE aIOA AOIA a AIa a IEa aIA AaE IA AuDan Dia ajarkan kepada adam nama-nama . semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman. AuSebutkan kepada-Ku nama semua . ini, jika kamu yang benarAy. Mereka menjawab AuMaha suci engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh. Engkaulah yang Maha Mengetahui. Maha BijaksanaAy . Dia (Alla. berfirman AuWahai Adam. Beritahukanlah kepada merekaAy. (Qs. Al-Baqarah ayat 31-. (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . AO a e aacOac a NE aO aE a aE I aI e I a aE Ea IO aE aII N a naE aOI ENI a IA a IE Aa aI aENIa aaEa a aN oau aO N aacEE O a I aA aI aE aI aI EIN a a NI N aacEE aaE acOa I aO EICa IO aI EIEa aA aaOIA AuWahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan . pa yang diperintahkan it. berarti engkau tidak menyampaikan amanat-amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari . Sungguh. Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang kafirAy. (Qs. Al-MaAoidah ayat . (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah Swt melalui malaikat jibril mengenalkan dan mengajarkan kepada nabi Muhammad Saw mengenai wahyu Allah Swt yang pertama (Qs. Al-Alaq ayat 1-. Allah Swt melalui malaikat Jibril mengajarkan dan memerintahkan nabi Muhammad Saw untuk membaca (Ummah, 2017 : . , meskipun pada saat itu nabi Muhammad Saw menjawab tidak bisa membaca. Kemudian dalam Qs. Al-Maidah ayat 67. Allah Swt memerintahkan kepada nabi Muhammad Saw agar apa yang telah wahyukan Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw dapat disampaikan kepada umat manusia agar mereka . Fase retention. Pada fase ini peserta didik menahan/menyimpan informasiinformasi/pengetahuan yang telah ia dapatkan dari guru/pendidik untuk kemudian peserta didik dapat gunakan dalam waktu tertentu, contoh: peserta didik mempelajari materi Matematika tentang penjumlahan dan materi jenis-jenis mata uang untuk kemudian peserta didik aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari . etika peserta didik melakukan transaksi jual beli dan lain sebagainy. Fase pemanggilan. Pada fase ini peserta didik mengeluarkan/menyampaikan informasiinformasi/pengetahuan yang telah ia dapatkan sebelumnya, contoh: peserta didik menggali dan menghubungkan kembali informasi/materi pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang sedang ia Hal ini sejalan dengan Qs. Ar-Rahman yang meyebutkan kata Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban secara berulang-ulang sebanyak tiga puluh satu kali, hal ini dimaksudkan agar manusia senantiasa mengingat/menggali kembali nikmat-nikmat Allah Swt yang telah diberikan. Sama halnya seperti dalam proses pembelajaran dibutuhkan proses penggalian informasi-informasi/pengetahuan oleh peserta didik untuk memperkuat informasi-informasi/pengetahuan yang sedang ia pelajari. Fase generalisasi. Pada fase ini peserta didik menggunakan hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya untuk keperluan tertentu. Hal ini sejalan dengan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw yang mengajarkan kepada Abdullah bin Umar tentang cara berbisnis yang baik dan nilai-nilai etika dalam Abdulullah bin Umar pun menerapakan apa yang sudah diajarkan nabi Muhammad Saw dalam berdangan dan beliau menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yang meraih kesuksesan dalam Dilain kisah diceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah berkata kepada Abu Hurairah yang pada saat itu sedang menjual satu kain dengan harga seribu dirham untuk kemudian ia beli kembali dengan harga lima ratus dirham, nabi Muhammad Saw kemudian berkata kepada Abu Hurairah bahwa: Auitu adalah bisnis yang bagus, tetapi jangan lakukan itu karena hal itu bisa menyesatkan. Ay Kemudian Abu Hurairah menerapkan apa yang telah dikatakan oleh nabi Muhammad Saw untuk berbisnis dengan cara yang baik, yang didasarkan pada prinsip kejujuran dan tidak merugikan pihak lain. Dari kisah di atas dapat dipahami bahwa nabi Muhammad Saw memberikan materi/informasi/pengetahuan tentang cara berdagang yang baik kepada para sahabat-sahabatnya untuk kemudian sahabat-sahabat tersebut menerapkannya dalam berdagang . ehidupan sehari-hari dan meraih kesuksesan dari hal tersebut. Begitu juga pada fase generalisasi ini, peserta didik dituntut untuk dapat menerapkan/mengaplikasikan informasi-informasi/pengetahuan yang telah ia peroleh dari pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Fase penampilan merupakan fase dimana peserta didik berubah perilakunya sebagai hasil dari pembelajaran yang telah didapatkan, contoh: peserta didik dapat mengukur besaran sudut sebagai hasil dari pembelajaran Matematika yang ia pelajari dengan menggunakan busur derajat atau setelah mempelajari bilangan bulat, peserta didik dapat menjumlahkan dua bilangan yang disebutkan oleh teman satu kelasnya (Devi, 2017 : . Fase umpan balik merupakan fase dimana peserta didik/peserta didik mendapatkan umpan balik dari perilaku yang telah dilakukannya (Devi, 2017 : . , umpan balik tersebut dapat berupa nilai . , pujian dan lain sebagainya. Hal ini sejalan dengan Qs. Al-Zalzalah ayat 6-8, sebagai berikut: A aO aII O a I aIEI aIICa aE a Nn a aO a aNuA A Aa aII O a I aI IE aIICa aE a N s IaaO aO a aNuA AO a IO aIan O a IAa a EIN a a I a EaaO IaO e a I aEaNaIA Au. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan terpencar untuk diperlihatkan kepada mereka balasan semua perbuatan mereka . Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscahaya dia akan melihat balasannya . Dan barang siapa mengerjakkan kejahatan seberat dzarrah pun niscahaya dia akan melihatnyaAy. (Qs. Al-Zalzalah ayat 6-. ) (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa manusia akan mendapatkan balasan/umpan balik dari apa yang sudah dikerjakan di kehidupan dunia . aik atau burukny. Manusia akan dikumpulkan dalam keadaan yang bermacam-macam sesuai dengan amal perbuatan dan akan dimasukan ke dalam surga atau neraka sesuai dengan amal perbuatannya juga. Dari hal ini berkaitan dengan fase umpan balik maka peserta didik dalam pembelajaran akan mendapatkan umpan balik sesuai sejauh mana usaha yang ia lakukan dalam pembelajaran. Sembilan Persitiwa Pembelajaran (Nine Event of Intructio. Kedua: Sembilan persitiwa pembelajaran. Sembilan persitiwa pembelajaran . ine event of intructio. merupakan peristiwa pembelajaran yang dirancang oleh pendidik/peserta didik dengan tujuan untuk membantu proses belajar peserta didik itu sendiri (Warsita, 2018 : . Berikut sembilan persitiwa pembelajaran menurut Robert M. Gagne (Tarihoran, 2021 : . : . Memberi atau membangkitkan perhatian . ain attetio. , dalam hal ini guru/pendidik dituntut untuk dapat menimbulkan perhatian dan minat peserta didik melalui penyampaian pembelajaran yang menarik, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknik/metode terbaru, penyampaian materi ajar yang bersifat kontradiksi atau mengajukan pertanyaan yang menantang (Milka, 2013 : . Hal ini sejalan dengan Qs. Al-AAoraf ayat 172 dan Qs. Al-Ankabut ayat 61 yang memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menantang kepada orang-orang beriman, agar mereka berpikir/merenung dan mendapat hikmah dari apa yang dipikirkan/renungkan. Berikut Qs. Al-AAoraf ayat 172 dan Qs. Al-Ankabut ayat 61: AaE aI aA aN IaI aEa I a aa a IaaE n CaEaO e a a OaE a NaI Ia oae aI aCaOEaO e O a IO aI EI aCOa aI a IN aEIN IaI aN aA e AaO I a a a a ac aE aI I a a eaI a a aI aII aNaOa a IaN a aONaa a II aOaI Naa IaN a a OA a aA aE aIOA AuDan ingatlah ketika tuhanmu mengeluarkan dari sulbi . ulang belakan. anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka . eraya berfirma. AuBukankah aku ini Tuhanmu?Ay Mereka menjawab. AuBetul (Engkau Tuhan kam. kami bersaksiAy. (Kami lakukan yang demikian it. , agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan. AuSesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap iniAy. (Qs. Al-AAoraf ayat . ) (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . n a AaOEa aa a aEIaa aI NI II aEa aC NE aI aO a aO IEa I a aOa aN EN I a aOEICa aI a Ea aOCaOEa NI NA AOIA a AacEE Aa a N OacI Oa IAa aEA AuDan jika engkau bertanya kepada mereka. AuSiapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?Ay Pasti mereka akan menjawab AuAllahAy. Maka mengapa mereka bisa dipalingkan . ari kebenara. Ay. Qs. Al-Ankabut ayat . (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . Menyampaikan tujuan pembelajaran . nform leaner of objective. , hal ini dilakukan agar peserta didik mempunyai tujuan/targetan dari suatu proses pembelajaran yang dilakukan serta mempermudah peserta didik dalam memenuhi penguasaan pengetahuan, keterampilan dan lain sebagainya. Merangsang ingatan pada materi prasyarat, dalam hal ini guru/pendidik perlu memberikan rangsangan-rangsangan yang memungkinkan peserta didik untuk mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, hal ini bertujuan untuk memudahkan peserta didik dalam belajar, mengingat materi pembelajaran sebelumnya dan menghubungkannya dengan apa yang akan dipelajari selanjutnya. Rangsanganrangsangan ini dapat berupa: pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, mengamati gambar/video, mendengarkan cerita, diskusi dan lain sebagainya (Milka, 2014: . Sejalan dengan hal ini alquran telah banyak menjelaskan mengenai kisah/cerita-cerita orang-orang terdahulu dengan tujuan untuk merangsang ingatan serta menjadi pedoman/pembelajaran bagi orang-orang yang beriman, sebagai contoh : Qs. Al-Luqman ayat 12-19 menjelaskan tentang dasar-dasar penanaman filosofi pendidikan Luqman kepada anak-anaknya. Qs. Al-Anam ayat 76-79 menjelaskan tentang kisah nabi Ibrahim yang memiliki keperibadian ketuhanan yang tangguh meskipun ia tinggal ditengah lingkungan yang menyembah berhala . dan kisah/cerita-cerita lainnya. Menyampaikan materi ajar/pembelajaran, dalam hal ini guru/pendidik menyampaikan materi ajar/pemblajaran kepada peserta didiknya, hal ini sejalan dengan Qs. Al-Baqarah ayat 129 dan Qs. Al-JumuAoah ayat 2, yang artinya, sebagai berikut: Aa N aI aOI a I aA aNO II a a OaE ai aI O a IEaO e aEaNOI a II aO a a aE aOOa a aE aINa aI EI aE a a aOEI a IEa a aO aO a aE aNO I nI I aNE aIa EI a aaO EI a aE aIOA AuYa Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka. Sungguh Engkaulah Yang Mahaperkasa. MahabijakasanaAy. (Qs. Al-Baqarah Ayat . (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . AN aaO N aacEO a a a a IE aI a O aI a a OaE ai aI O a IEaO e aEaNOI a I aO a a aN aO aO a aE aNOI aOOa a aE aINa aI EI aE a a aOEI a IEa a aOI aEIaO e aII Ca I aE Ea aAO a Ea nE acI naIOA AuDialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan . mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah . meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyataAy. (Qs. Al-JumuAoah ayat . (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw diutus untuk menyampaikan risalah Allah Swt melalui jalan dakwah yang mengajarkan keimanan, kitab, hikmah dan lain sebagainya. Berkaitan dengan hal ini dalam teori belajar kognitivisme materi ajar yang disampaikan merupakan materi ajar yang sesuai dan mendukung tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Memberi bimbingan belajar, dalam hal ini guru/pendidik memberikan bimbingan belajar kepada peserta didik dengan tujuan agar peserta didik tidak lost control dalam mempelajari materi yang diberikan guru/pendidik. Pemberian bimbingan belajar ini dapat dilakukan melalui pemberian pertanyaanpertanyaan yang membimbing proses/alur berpikir peserta didik (Warsita, 2018 : . , dapat juga berupa pemberian pedoman/petunjuk belajar yang praktis dan lain sebagainya (Yusuf & Anwar, 1995 : . Hal ini sejalan dengan apa yang Rasulullah Saw contohkan, yaitu: pada saat Rasulullah Saw mengutus sahabat Muadz bin Jabal untuk menjadi hakim di negeri Yaman. Rasulullah Saw bersabda (Yusuf & Anwar, 1995 : . AuBagaimana (Muad. engkau memutuskan apabila datang kepada dirimu suatu perkara? Muadz menjawab: aku putuskan berdasarkan kitabulloh. Jika aku tidak temukan hukumnya dalam alquran maka berdasarkan sunah Rasulullah Saw, maka aku berijtihad dengan pendapatku dan aku tidak mengabaikan . erkara it. Lalu Rasulullah Saw mengusap-usap pundak Muadz seraya bersabda: segala puji bagi Allah yang memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah kepada sesuatu yang diridhoi AllahAy . Menampilkan unjuk kerja, dalam hal ini peserta didik dituntut untuk menampilkan tugas-tugas, project atau apa-apa yang telah ia pelajari sebelumnya, sebagai contoh: peserta didik menampilkan kolase hewan yang terbuat dari daun kering dalam pembelajaran seni budaya dan prakarya . Memberikan umpan balik, dalam hal ini guru/pendidik memberikan umpan balik kepada peserta didik dengan tujuan untuk membantu peserta didik mengetahui sejauh mana kebenaran atau unjuk kerja yang dihasilkan (Warsita, 2018 : . , umpan balik tersebut dapat berupa: pemberian pertanyaan dan ujian singkat/quis pada akhir pembelajaran, (Suardi, 2021 : . atau dapat berupa pujian seperti: bagus, pintar, menarik dan lain sebagainya (Budiman : . Menilai unjuk kerja, dalam hal ini guru/pendidik dapat menilai unjuk kerja peserta didik melalui tes-tes . ertulis/lisa. dan tugas belajar. Dalam pemberian tes/tugas guru/pendidik perlu memperhatikan dan mempertimbangkan berkaitan dengan validitas dan reliabilitas dari tes yang diberikan. Meningkatkan ritensi. Menurut Ratna Wilis Dahar ritensi merupakan bertahannya materi yang dipelajari dalam memori dan tidak dilupakan (Dahar, 2011 : . atau penyimpanan pemahaman/perilaku baru peserta didik setelah adanya pembelajaran yang dilakukan. Ritensi dalam hal ini dapat ditingkatkan melalui latihan berulang-ulang dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dipelajari dalam konteks berbeda (Basyir. Dinana & Devi, 2022 : . Dari beberapa pemaparan di atas dapat dipahami bahwa Robert M. Gagne mengemukakan sembilan peristiwa pembelajaran . ine event of instruction. dimana dari setiap peristiwa pembelajaran merupakan komponen-komponen pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru/pendidik dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif sehingga mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sembilan peristiwa pembelajaran tersebut sebaiknya dapat dilakukan sesuai dengan urutan yang telah dikemukakan di atas, hal ini dimaksudkan agar mempermudah guru/pendidik dalam melakukan pembelajaran di kelas. Taksnonomi Hasil Belajar (Taxonomy of Learning Outcome. Ketiga: Taksonomi hasil belajar merupakan pengelompokan hasil belajar yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam satu kategori. Dikutip dari Wowo Sunaryo Kuswana bahwa taksonomi hasil belajar Robert Gagne, sebagai berikut (Kuswana, 2012 : 79-. : . Informasi verbal merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan pengetahuan peserta didik tentang fakta-fakta (Anam & Dwiyogo : . , konsep, prinsip dan prosedur yang baru ia pelajari, seperti: peserta didik/individu dapat menuliskan gejala-gejala orang yang terkena DBD (Kuswana, 2012 : 79 :. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan untuk dapat membedakan, menguasai konsep aturan dan memecahkan masalah, sebagai contoh: peserta didik dapat membedakan objek, fitur atau simbol, seperti: mendengarkan permainan instrumen musik yang pitchnya berbeda (Kuswana, 2012 : 79 :. Dalam Islam hal ini dapat dilihat dari kemampuan sesorang dalam melakukan perbuatan makruf dan mencegah perbuatan mungkar, membedakan antara yang haq dan yang batil sebagai bentuk dari keimanan seseorang, hal ini sebagaimana yang dijelaskan Qs. Al-Imran ayat 104, sebagai berikut: AI a a aIA a AOI aEI aI I aA AOIA AaOEaEI IA a AOA aOOaII a IO aI aaI EI aIIEa oa a aO eOEa ea aE a aaN EI aI IA aE aA a AaOI aaE EI I aO aOO a I aI aA a AIaE NI OaI A AuDan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh . yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntungAy. (Qs. Al-Imran ayat . (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . Strategi kognitif merupakan kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan proses berpikir dengan cara merekam, membuat analisis dan sintesis (Anam & Dwiyogo : . , sebagai contoh: peserta didik membuat rencana pembelajaran harian untuk meningkatkan hasil belajarnya atau penyusunan langkah-langkah penyelesaian masalah dari suatu pembelajaran/mata pelajaran. Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar penilaian terhadap stimulus tersebut. Sikap dalam Islam dapat dimaknai sebagai ahlak yang merupakan wujud keimanan seseorang yang didapat dari proses belajar dan lain sebagainya. Sejalan dengan hal ini Qs. Al-Baqarah ayat 83 menjelaskan tentang ahlak seorang muslim, sebagai berikut: AOI NaE N aacEE aOaEI aO aaE IO aI I aI aO aO EICa I a O aOEI aO a aI OO aOEI aI a aEIOa aOCaOEaO e EaEIN a a I I aOa aCIOaO e NEAEa OO aA a aAe aO aE aE a IA a AO I a IaIa aIOa aC a aaI IA a a a e a a N e a N aa a a IA AOIA a aO aaO NEE OO a aN aaOE IO Ia aE CEOE IIaE aOIa acI IaA AuDan . ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil. AuJanganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakatAy. Tetapi kemudian kamu berpaling . , kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu . asih menjadi pembangkan. Ay. (Qs. Al-Baqarah ayat . (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014 : . Keterampilan motorik merupakan gerakan tubuh/bagian tubuh yang disengaja, otomatis, cepat dan akurat (Hasanah, 2016 : . yang terdiri dari motorik halus dan kasar (Nasirun & Derefi D, 2018 : . , sebagai contoh: menulis, melukis . otorik halu. , berenang, berlari . otorik kasa. dan lain sebagainya. Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa taksonomi hasil belajar menurut Robert M. Gagne dapat dijadikan sebagai rujukan indikator dari ketercapain pembelajaran yang dilakukan, hal ini dikarenakan taksonomi hasil belajar Robert M. Gagne meliputi hasil belajar . spek kognitif, afektif dan psikomotor. berupa informasi verbal . engkomunikasikan pengetahuannya: peserta didik/individ. , keterampilan intelektual . emampuan pemecahan masala. , strategi kognitif . emampuan analisis dan pengembangan proses berpiki. , sikap . dan keterampilan motorik. Pandangan Islam Terhadap Teori Belajar Kognitivisme Robert M. Gagne Teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne terdiri dari . fase pembelajaran . sembilan peristiwa pembelajaran . taksonomi hasil belajar. Berdasarkan penjelasan sebelumnya diketahui bahwa teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne sudah sejalan dengan pandangan Islam, hal ini dikarenakan adanya dalil-dalil alquran dan kisah-kisah Islami yang berkaitan langsung dengan teori belajar tersebut, berikut Pertama: fase pembelajaran . onditions of learnin. merupakan tahapan yang dialami oleh peserta didik ketika mereka sedang belajar atau mengembangkan keterampilan baru. Fase pembelajaran menurut Robert M. Gagne terdiri dari tujuh fase dimana ketujuh fase ini sudah sejalan dengan pandangan Islam : . fase motivasi, pendidik dapat memberikan motivasi kepada peserta didik dengan berupa pemberian nilai, pujian dengan cara lemah lembut dan tidak bersikap kasar, hal ini sebagaimana yang dijelaskan Qs. Al-Imran ayat 159 bahwa Rasulullah Saw berinteraksi dengan para sahabat dengan berlembah lembut, tidak bersikap kasar, memaafkan dan bermusyawarah. fase pengenalan/pemahaman yang dalam hal ini berupa pemaparan/penyampaian materi ajar oleh pendidik kepada peserta didik, hal ini sejalan dengan Qs. Al-Baqarah ayat 31-33 dam Qs. Al-Ma. ayat 67 yang bercerita tentang malaikat Jibril yang menyampaikan, mengenalkan dan mengajarkan wahyu Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw, dan perintah kepada nabi Muhammad Saw untuk menyampaikan, mengenalkan dan mengajarkan wahyu Allah Swt yang sudah diterima kepada ummatnya . fase retention . fase pemanggilan . fase generalisasi dimana peserta didik dapat menggunakan hasil belajar yang sudah ia dapatkan untuk kebutuhan/keperluan tertentu, seperti halnya kisah kesuksesan Abu Hurairah yang berbisinis dengan cara yang baik, jujur, tidak merugikan orang lain atas dasar apa yang telah diajarkan Rasulullah Saw. Fase penampilan, dimana peserta didik yang sudah mendapatkan pengetahuan akan berubah perilakunya sebagai hasil pembelajaran, sepertinya halnya pada kisah Abu Huraiah yang baik dan konsisten perilakunya dalam berbisnis dengan mengedepankan kejujuran dan tidak merugikan orang lain . kemudian fase umpan balik, dimana peserta didik akan mendapatkan respon/umpan balik dari perilaku yang dilakukannya, dapat berupa: nilai . oint-poin. atau berupa sikap, seperti: perilaku yang baik akan mendapatkan umpan balik yang baik . egitupun sebalikny. , hal ini diperkuat oleh Qs. Al-Zalzalah ayat 6-8 yang menjelaskan tentang balasan/umpan balik atas perilaku manusia yang sudah dikerjakan selama kehidupan di dunia (Hajrah et al. , 2. Kedua : sembilan peristiwa pembelajaran . ine event of instructio. ialah persitiwa pembelajaran yang dirancang oleh pendidik untuk memudahkan peserta didik dalam belajar, dalam Islam Allah Swt memberikan balasan yang luarbiasa bagi orang-orang yang memudahkan urusan orang lain yang sedang dalam kesulitan hal ini terdapat dalam hadits Ar-BaiAoin No 36, hadits tentang tolong menolong . ttps://w. com/50. dengan begitu maka sudah kewajiban bagi seorang guru untuk melakukan pembelajaran yang baik dan memudahkan peserta didik dalam proses pembelajarannya Sembilan persitiwa pembelajaran yang dikemukakan Robert M. Gagne terdiri dari : . memberi atau membangkitkan perhatian . ain attentio. , dalam hal ini pendidik melakukan pembelajaran yang menarik melalui pertanyaan pemantik pada awal pembelajaran, media, metode ajar dan lain sebagainya untuk membangkitkan perhatian dan minat belajar peserta didik selama proses pembelajaran, hal ini sebagaimana yang diajarkan dan dijelaskan dalam Qs. Al-Araf ayat 172 dan Qs. Al-Ankabut ayat 61 dimana Allah Swt memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menantang agar orang-orang beriman dapat berpikir/merenung dan mendapat hikmah dari apa yang dipikirkan/renungkan . Selanjutnya pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran . nform leaner of objective. untuk memudahkan peserta didik dalam memenuhi penguasaan pengetahuan yang diharapkan, dalam Islam tujuan pembelajaran diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai Islami pada diri peserta didik dengan begitu maka tujuan dari tiap-tiap pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik dapat mengarahkan peserta didik pada terwujudnya peserta didik yang bertakwa kepada Allah Swt, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negera yang bertanggung jawab dan demokratis (Undang-Undang RI No. Tahun 2003 dan UU RI No. Tahun 2015 tentang Guru dan Dose. , hal ini kemudian diperkuat oleh Qs. AlAnAoam ayat 12 yang memberikan isyarat bahwa segala bentuk aktifitas manusia diarahkan hanyalah untuk Allah Swt . Kemudian pendidik merangsang ingatan pada materi prasyarat dengan tujuan agar peserta didik mengingat materi-materi yang telah dipelajari sebelumnya dan memudahkan perserta didik dalam menghubungkannya dengan materi yang akan dipelajari selanjutnya . Setelah itu pendidik menyampaikan materi pembelajaran di dalam kelas, hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam Qs. Al-Baqarah ayat 129 dan Qs. Al-JumuAoah ayat 2 yang menggambarkan tentang Rasulullah Saw sebagai utusan Allah Swt yang membacakan kepada ummat manusia ayat-ayat Allah Swt, mengajarkan kitab, hikmah dan menyucikan mereka. Dalam posisi ini maka tugas pendidik adalah menyampaikan materi pembelajaran di dalam kelas dengan menggunakan cara-cara yang memudahkan pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran . kemudian pendidik juga memberikan bimbingan belajar yang dapat dilakukan melalui pemberian pertanyaan yang membimbing atapun pemberian petunjuk belajar yang praktis, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan mengutus Muadz bin Jabal untuk menjadi hakim di Yaman dan bertanya bagaimana cara Muadz bin Jabal dalam menyelesaikan suatu perkara yang datang . selanjutnya peserta didik menampilkan unjuk kerja atau tugas/project yang telah diberikan dan dipelajari sebelumnya . kemudian pendidik memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran ataupun tugas/project yang dikerjakan oleh peserta didik, hal ini sebagaimana Rasulullah Saw yang memberikan pujian kepada Muadz bin Jabal dikarenakan Muadz bin Jabal telah bijak dalam memutuskan suatu perkara yang dating kepadanya . Pendidik memberikan penilaian untuk unjuk kerja yang dilakukan peserta didik . serta pemberian ritensi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Ketiga: Taksonomi hasil belajar Robert M. Gagne merupakan pengelompokkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik sebagai hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan, terdiri dari . informasi verbal, berupa: konsep, prinsip atau hal-hal yang sudah dipelajari . keterampilan intelektual, dapat berupa: keterampilan dalam membedakan, memecahkan masalah dan lain sebagainya, dalam Islam seorang yang berilmu dan beriman mempunyai kemampuan dalam membedakan dan melakukan perbuatan makruf dan mencegah perbuatan munkar . Strategi kognitif . Sikap/perilaku, dalam Islam sikap dimaknai dengan ahlak sebagai wujud keimanan seseorang dan ketundukan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil pembelajaran, hal ini digambarkan dalam Qs. Al-Baqarah ayat 83 dimana Allah Swt menyeru ummat manusia untuk berbuat dan bertutur kata yang baik kepada orang tua, sesama, mendirikan dan menunaikan zakat, selain itu ahlak juga dapat berupa: sopan santun, adab dan tindakan yang dilakukan oleh seseorangm (Imtihanatul MaAoisyatuts Tsaliysah, 2020 : . keterampilan motorik, dapat berupa kemampuan menulis dan lain sebagainya. Dari pemaparan di atas didapati bahwa teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne yang terdiri dari fase pembelajaran, sembilan peristiwa pembelajaran dan taksonomi pembelajaran sudah sejalan dengan padangan Islam hal ini dibuktikan dengan adanya dalil-dalil dan kisah-kisah Islami yang bersinggungan dan memperkuat teori belajar tersebut. Kemudian di dalam Qs. Al-Baqarah ayat 195 dijelaskan bahwa Allah Swt menyukai orang-orang yang berbuat baik dengan kata lain Allah Swt juga menyukai perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan. Teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne merupakan teori belajar yang baik dikarenakan dalam teori belajar ini tidak ditemukan hal-hal yang bertentangan dengan akidah ataupun hukum syaraAo, selain itu teori ini membawa kemaslahatan yang memudahkan pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran dan pecapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. KESIMPULAN Teori belajar kognitivisme merupakan teori belajar yang menekankan pada aspek proses belajar dan proses berpikir yang kompleks. Robert M. Gagne dalam teorinya menjelaskan bahwa teori belajar kognitivisme terdiri dari . Fase pembelajaran . ontitions of learnin. Sembilan peristiwa pembelajaran . ine events of instruction. , dan . Taksonomi hasil belajar . axonomy of learning outcome. Dari analisis konten yang dilakukan penulis terhadap datadata/sumber-sumber yang berkaitan dengan teori belajar Robert M. Gagne ditemukan bahwa teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne yang terdiri dari . fase pembelajaran . Sembilan peristiwa pembelajaran, dan . taksonomi hasi belajar, sudah sejalan dengan pandangan Islam hal ini dibuktikan dengan adanya dalil-dalil dan kisah-kisah Islami yang sejalan dan memperkuat teori belajar kognitivisme, selain itu teori belajar kognitivisme Robert M. Gagne tidak bertentangan dengan akidah Islam dan hukum syaraAo. DAFTAR PUSTAKA