ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Peran Guru dalam Mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia di Kelas IV SD Negeri 46 Banda Aceh Salma Ara1. Helminsyah2. Raziska Ibrahimi3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1,2,3 Universitas Bina Bangsa Getsempena1,2,3 salmaara136@gmail. com1, helminsyah@bbg. id2, raziska@bbg. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran guru serta faktor pendukung dan penghambat dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia pada siswa kelas IV SD Negeri 46 Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru kelas, dan siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting dalam mengembangkan kebiasaan positif siswa melalui pembiasaan kegiatan rutin, pemberian contoh, motivasi, serta integrasi nilai karakter dalam pembelajaran. Tujuh kebiasaan yang dikembangkan meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Faktor pendukung meliputi kerja sama antara sekolah dan orang tua, dukungan guru, serta ketersediaan sarana prasarana. Sementara itu, faktor penghambat meliputi penggunaan gawai, perbedaan kebiasaan di rumah, dan keterbatasan waktu Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan 7 Kebiasaan Anak Indonesia memerlukan peran aktif guru serta dukungan sinergis antara sekolah dan keluarga agar dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Kata kunci: Peran guru, pendidikan karakter, 7 Kebiasaan Anak Indonesia, sekolah dasar Abstract This study aims to identify the roles of teachers, as well as the supporting and inhibiting factors, in developing the Au7 Habits of Indonesian ChildrenAy among fourth-grade students at SD Negeri 46 Banda Aceh. The study employed a qualitative approach with a descriptive design. The research subjects consisted of the principal, classroom teachers, and students. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The results show that teachers play an important role in fostering studentsAo positive habits through routine activities, role modeling, motivation, and the integration of character values into the learning The seven habits include waking up early, engaging in worship, exercising regularly, eating healthy and nutritious food, developing a strong interest in learning, socializing, and going to bed early. Supporting factors include collaboration between the school and parents, teacher support, and adequate facilities. Inhibiting factors include excessive use of gadgets, differences in habits at home, and limited instructional time. This study concludes that developing the Au7 Habits of Indonesian ChildrenAy requires active teacher involvement and strong collaboration between schools and families to ensure effective and sustainable Keywords: TeacherAos role, character education, 7 Habits of Indonesian Children, elementary ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam pembentukan kepribadian peserta didik di sekolah dasar. Pada tahap ini, anak berada pada fase perkembangan yang sangat menentukan dalam pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai kehidupan. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari akan membentuk karakter yang melekat dan berpengaruh terhadap perilaku anak di masa depan (Sulle & Tulak, 2021. Tulak et al. , 2. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah dasar tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku positif (Sui-Ni, 2. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanamkan karakter adalah melalui pembiasaan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari siswa. Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat menjadi salah satu pendekatan yang menekankan pembentukan kebiasaan seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta istirahat yang cukup. Kebiasaan-kebiasaan tersebut diharapkan dapat membentuk karakter disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab pada diri siswa (Fitri, 2. Dalam implementasinya, peran guru menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pembentukan kebiasaan tersebut. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan dalam membentuk perilaku siswa. Melalui pembiasaan, motivasi, dan penguatan dalam proses pembelajaran, guru dapat membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari (Jainiyah et al. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan kebiasaan positif pada siswa belum berjalan optimal. Masih ditemukan siswa yang kurang disiplin, seperti datang terlambat ke sekolah, kurang semangat dalam belajar, serta rendahnya minat untuk bersosialisasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembentukan kebiasaan positif tidak hanya dipengaruhi oleh sekolah, tetapi juga oleh lingkungan keluarga dan kebiasaan siswa di rumah (Anshori et al. , 2. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter dipengaruhi oleh peran guru dan dukungan lingkungan (T. Tulak, 2. Namun, kajian yang secara khusus mengkaji peran guru dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di tingkat sekolah dasar masih terbatas, khususnya pada konteks lokal di Banda Aceh. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji secara lebih mendalam peran guru serta faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi program tersebut (Kemendikbud, 2. Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: . bagaimana peran guru dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di kelas IV sekolah dasar, dan . apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran guru serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di kelas IV sekolah dasar. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai fenomena yang diteliti melalui data deskriptif berupa kata-kata, baik lisan maupun tertulis, yang bersumber dari subjek penelitian dan hasil pengamatan terhadap perilaku yang tampak (Koyan, 2022. Pahleviannur et al. , 2. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai kondisi atau peristiwa yang terjadi pada saat penelitian dilakukan (Rukin, 2. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mendeskripsikan peran guru dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di kelas IV Sekolah Dasar tanpa melakukan perlakuan atau manipulasi terhadap objek penelitian (Kemendikbud. Pemilihan pendekatan kualitatif deskriptif didasarkan pada karakteristik penelitian yang menekankan pada pemaparan fenomena secara mendalam melalui uraian naratif, bukan dalam bentuk data kuantitatif. Pendekatan ini dinilai relevan untuk mengkaji peran guru serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pengembangan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di lingkungan sekolah dasar. Dalam penelitian kualitatif, pihak yang memberikan informasi disebut sebagai informan atau subjek penelitian. Informan merupakan individu yang memiliki keterlibatan dan pengetahuan terkait fokus penelitian sehingga mampu memberikan data yang dibutuhkan secara mendalam. (Sutopo, 2. menyatakan bahwa informan adalah pihak yang berperan penting dalam mendukung proses penelitian melalui pemberian tanggapan dan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Sejalan dengan pendapat tersebut, (L. J Moleong, 2. menjelaskan bahwa informan penelitian adalah subjek yang menjadi sasaran peneliti untuk memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Informan dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Kriteria informan dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pengembangan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di kelas IV Sekolah Dasar. Adapun informan yang terlibat dalam penelitian ini terdiri atas kepala sekolah, guru wali kelas, dan peserta didik. Rincian jumlah informan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. 1 Informan Penelitian Informan Kepala Sekolah Guru Wali Kelas Peserta didik Total Jumlah 1 orang 4 orang 28 orang 33 orang ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer dan data Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari sumber utama melalui proses pengumpulan data di lapangan. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dengan kepala sekolah, guru wali kelas, serta pihak sekolah yang terlibat dalam pelaksanaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (Tyan, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penggunaan beberapa teknik pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data yang komprehensif dan saling melengkapi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan model analisis interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman . alam (Qomaruddin & SaAodiyah, 2. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Guru dalam Mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di Kelas IV SD Peran guru dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di kelas IV SD Negeri 46 Banda Aceh dianalisis berdasarkan tujuh indikator kebiasaan yang telah ditetapkan. Setiap indikator menggambarkan bentuk peran guru dalam membangun pembiasaan karakter peserta didik secara berkelanjutan. Salah satu indikator yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini adalah kebiasaan bangun pagi. Peran Guru dalam Menerapkan Kebiasaan Bangun Pagi Kebiasaan bangun pagi merupakan indikator awal dalam pengembangan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Pada aspek ini, guru berperan dalam menanamkan kedisiplinan waktu, kesiapan mengikuti pembelajaran, serta pembentukan rutinitas positif pada peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik kelas IV SD Negeri 46 Banda Aceh telah memiliki kebiasaan bangun pagi tepat Berdasarkan data yang diperoleh selama empat minggu pengamatan, terlihat adanya peningkatan konsistensi peserta didik dalam membiasakan diri bangun pagi, meskipun terjadi fluktuasi pada awal pengamatan. Pada minggu pertama, sebanyak 27 peserta didik telah bangun pagi tepat waktu, sedangkan satu peserta didik belum Pada minggu kedua, jumlah tersebut sedikit menurun menjadi 26 peserta didik, sementara dua peserta didik masih mengalami keterlambatan. Namun, pada minggu ketiga dan keempat, seluruh peserta didik telah terbiasa bangun pagi tepat Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat penurunan sementara pada minggu kedua, secara keseluruhan pembiasaan bangun pagi mengalami peningkatan dan mencapai konsistensi pada minggu-minggu berikutnya. Peran guru dalam membangun kebiasaan bangun pagi ditunjukkan melalui keteladanan dan motivasi yang diberikan kepada peserta didik. Guru berupaya menjadi contoh dengan datang lebih awal ke sekolah, menunjukkan sikap disiplin, serta ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 menciptakan suasana pagi yang positif dan energik. Selain itu, guru juga memberikan pemahaman mengenai manfaat bangun pagi bagi kesehatan, konsentrasi belajar, dan pembentukan kedisiplinan melalui penjelasan sederhana, diskusi interaktif, serta pemberian apresiasi kepada peserta didik yang konsisten menerapkan kebiasaan Selain sebagai teladan dan motivator, guru juga berperan sebagai fasilitator dalam membangun kebiasaan bangun pagi. Guru menciptakan lingkungan kelas yang nyaman dan menyenangkan pada pagi hari, menyediakan aktivitas pembuka yang menarik, serta mengadakan kegiatan rutin seperti senam pagi bersama. Upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dan semangat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sejak awal hari. Peran guru dalam membiasakan peserta didik bangun pagi tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga melalui kerja sama dengan orang tua. Guru secara aktif menjalin komunikasi dengan orang tua peserta didik untuk menyampaikan pentingnya kebiasaan bangun pagi di rumah serta memantau perkembangan dan kendala yang dihadapi peserta didik. Kolaborasi ini bertujuan untuk menjaga konsistensi pembiasaan antara lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga. Berdasarkan hasil temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kebiasaan bangun pagi peserta didik melalui peran sebagai teladan, motivator, fasilitator, dan kolaborator. Upaya tersebut berkontribusi dalam membentuk karakter disiplin dan kesiapan belajar peserta didik di SD Negeri 46 Banda Aceh. Meskipun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak seluruh peserta didik mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan bangun pagi secara optimal. Beberapa peserta didik masih terlihat kurang fokus dan pasif pada jam pelajaran awal. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kebiasaan tidur larut malam, penggunaan gawai yang berlebihan, serta kurangnya pengawasan dari orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembiasaan bangun pagi tidak hanya bergantung pada peran guru di sekolah, tetapi juga memerlukan dukungan dan keterlibatan keluarga secara berkelanjutan. Peran Guru dalam Mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia pada siswa kelas IV SD Negeri 46 Banda Aceh. Peran tersebut tercermin melalui fungsi guru sebagai teladan, pembimbing, fasilitator, dan penghubung antara sekolah dan keluarga. Implementasi kebiasaan ini dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan pembiasaan harian di Kebiasaan Beribadah Guru membiasakan siswa melaksanakan kegiatan ibadah melalui pembiasaan rutin, khususnya pelaksanaan salat dhuha berjamaah setiap hari Selasa. Berdasarkan data angket siswa, hampir seluruh siswa secara konsisten mengikuti kegiatan ibadah ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 selama periode penelitian. Ketidakhadiran sebagian kecil siswa disebabkan oleh faktor kesehatan dan ketidakhadiran di sekolah. Peran guru dalam kebiasaan beribadah diwujudkan melalui keteladanan, bimbingan, serta penyediaan sarana ibadah yang memadai. Guru tidak hanya mengarahkan pelaksanaan ibadah, tetapi juga menanamkan pemahaman mengenai makna dan nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian siswa masih belum melaksanakan ibadah secara khusyuk, yang dipengaruhi oleh kebiasaan beribadah di lingkungan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan kebiasaan beribadah memerlukan sinergi antara sekolah dan orang tua. Kebiasaan Berolahraga Penerapan kebiasaan berolahraga dilakukan melalui kegiatan senam pagi dan pembelajaran PJOK secara terjadwal. Seluruh siswa terlibat aktif dalam kegiatan olahraga selama penelitian berlangsung. Guru berperan sebagai motivator dan fasilitator dengan menciptakan suasana olahraga yang menyenangkan serta memberikan pemahaman mengenai manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan dan konsentrasi belajar. Meskipun partisipasi siswa tergolong tinggi, ditemukan perbedaan tingkat antusiasme dan kebugaran antar siswa. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya kebiasaan berolahraga di rumah serta gaya hidup sedentari. Oleh karena itu, pembiasaan olahraga di sekolah perlu didukung oleh keterlibatan orang tua agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh siswa. Kebiasaan Makan Sehat dan Bergizi Guru berperan dalam menanamkan kebiasaan makan sehat dan bergizi melalui edukasi sederhana serta pengawasan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa di Implementasi kebiasaan ini didukung oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi siswa serta mendukung kesiapan Hasil angket menunjukkan bahwa seluruh siswa memperoleh pembelajaran terkait pentingnya pola makan sehat. Namun, masih ditemukan siswa yang mengonsumsi jajanan kurang sehat. Faktor kebiasaan makan di rumah dan lingkungan sekitar sekolah menjadi kendala utama. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembiasaan makan sehat memerlukan kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua. Kebiasaan Gemar Belajar Guru menumbuhkan kebiasaan gemar belajar melalui penciptaan suasana pembelajaran yang kondusif, penggunaan metode yang bervariasi, serta pemberian motivasi dan apresiasi kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa secara umum menunjukkan antusiasme belajar yang tinggi, baik di dalam kelas maupun melalui kegiatan membaca di perpustakaan. Namun demikian, masih terdapat siswa yang kurang aktif dan mudah terdistraksi selama pembelajaran. Faktor internal dan eksternal, seperti rendahnya minat belajar dan penggunaan gawai yang berlebihan, memengaruhi kondisi tersebut. Oleh karena itu. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 penguatan kebiasaan belajar perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama guru dan orang tua. Kebiasaan Bermasyarakat Pengembangan kebiasaan bermasyarakat dilakukan melalui pembiasaan sikap sosial positif, kerja kelompok, dan kegiatan gotong royong. Guru berperan sebagai teladan dalam menanamkan nilai kerja sama, toleransi, dan kepedulian sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa aktif berinteraksi dengan teman sebaya. Namun, masih terdapat siswa yang menunjukkan sikap individualis dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Perbedaan latar belakang keluarga dan pengalaman sosial menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Oleh karena itu, pembiasaan sosial perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan lingkungan keluarga. Kebiasaan Tidur Cepat Guru memberikan edukasi mengenai pentingnya waktu tidur yang cukup melalui arahan dan pembiasaan rutinitas sebelum tidur. Sebagian besar siswa mulai menunjukkan perubahan positif dengan tidur lebih awal dan bangun pagi dalam kondisi lebih segar. Namun, penerapan kebiasaan tidur cepat sulit dikontrol sepenuhnya oleh sekolah karena sangat bergantung pada pengawasan orang tua di rumah. Temuan ini menunjukkan bahwa pembiasaan tidur sehat memerlukan peran aktif keluarga agar dapat diterapkan secara konsisten. Faktor Pendukung dan Penghambat Faktor pendukung utama dalam pengembangan 7 Kebiasaan Anak Indonesia meliputi dukungan orang tua, kerja sama antar guru, ketersediaan sarana dan prasarana, serta integrasi program karakter dalam kurikulum sekolah. Komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga menjadi faktor kunci keberhasilan program. Adapun faktor penghambat meliputi penggunaan gawai yang berlebihan, keterbatasan waktu pembelajaran, serta perbedaan latar belakang keluarga siswa. Faktor-faktor tersebut memerlukan penanganan kolaboratif agar implementasi program dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia pada siswa kelas IV SD Negeri 46 Banda Aceh. Peran tersebut tercermin melalui fungsi guru sebagai teladan, pembimbing, fasilitator, dan kolaborator yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran maupun pembiasaan harian di sekolah. Temuan ini sejalan dengan pandangan (Lakuana & Laeh, 2. yang menyatakan bahwa guru merupakan agen utama dalam pendidikan karakter melalui keteladanan, pembiasaan, dan penguatan nilai moral dalam lingkungan Dengan demikian, penguatan karakter peserta didik tidak dapat dilepaskan dari peran aktif guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang konsisten dan bermakna. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Pada aspek kebiasaan beribadah, guru berperan melalui pembiasaan rutin, keteladanan, serta pemberian pemahaman tentang makna ibadah. Pembiasaan salat dhuha berjamaah dan doa harian menunjukkan bahwa praktik langsung lebih efektif dibandingkan pendekatan teoritis. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial dari (Shalihah et al. , 2. yang menekankan bahwa individu belajar melalui observasi dan imitasi terhadap model di lingkungannya. Namun, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kedisiplinan siswa belum merata, yang dipengaruhi oleh kebiasaan di lingkungan keluarga. Temuan ini menguatkan bahwa pendidikan karakter religius memerlukan kesinambungan antara sekolah dan keluarga. Pada kebiasaan berolahraga, keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan senam pagi dan pembelajaran PJOK menunjukkan bahwa pembiasaan aktivitas fisik dapat diterima dengan baik apabila dikemas secara menyenangkan dan terstruktur. Hal ini didukung oleh konsep pendidikan jasmani yang menekankan pentingnya aktivitas fisik dalam perkembangan fisik dan sosial anak, sebagaimana dijelaskan oleh (Ruqayah et al. Namun, adanya perbedaan tingkat partisipasi siswa menunjukkan bahwa faktor lingkungan keluarga dan gaya hidup turut memengaruhi kebiasaan tersebut. Pada aspek kebiasaan makan sehat dan bergizi, peran guru terlihat melalui edukasi, pengawasan, serta dukungan terhadap program sekolah. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku melalui pembiasaan. Hal ini sejalan dengan penelitian dalam pendidikan kesehatan yang menyatakan bahwa pembiasaan dan lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku konsumsi anak. Namun demikian, pengaruh lingkungan keluarga masih menjadi faktor dominan dalam menentukan pola makan siswa. Dalam kebiasaan gemar belajar, guru berperan dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan memotivasi siswa. Tingginya antusiasme siswa menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang variatif dapat meningkatkan minat Hal ini sejalan dengan teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh (Jainiyah et al. , 2. (Suryadhianto & Mujianto, 2. yang menyatakan bahwa lingkungan belajar yang mendukung akan meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa. Namun, faktor eksternal seperti penggunaan gawai juga menjadi tantangan dalam mempertahankan fokus belajar siswa. Pada kebiasaan bermasyarakat, guru berperan dalam menanamkan nilai kerja sama dan kepedulian sosial melalui interaksi kelompok. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial dari (Handayani & Adnyana, 2. yang menekankan bahwa perkembangan sosial dan kognitif terjadi melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Namun, adanya sikap individualis pada sebagian siswa menunjukkan bahwa pengalaman di luar sekolah juga memengaruhi kemampuan sosial mereka. Sementara itu, pada kebiasaan tidur cepat, peran guru lebih bersifat edukatif melalui pemberian pemahaman tentang pentingnya istirahat yang cukup. Namun, keberhasilan pembiasaan ini sangat bergantung pada pengawasan orang tua di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan yang berada di luar kontrol sekolah memerlukan keterlibatan keluarga secara aktif. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperkuat bahwa keberhasilan pengembangan 7 Kebiasaan Anak Indonesia tidak hanya ditentukan oleh program sekolah, tetapi juga oleh konsistensi peran guru dan dukungan lingkungan keluarga. Temuan ini konsisten dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam pendidikan karakter. Oleh karena itu, sinergi antara guru dan orang tua menjadi faktor strategis dalam memastikan keberlanjutan dan efektivitas pembentukan karakter siswa. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa guru kelas IV SD Negeri 46 Banda Aceh berperan sebagai teladan, fasilitator, dan motivator dalam mengembangkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia melalui pembiasaan sikap disiplin, kolaboratif, dan bertanggung jawab yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari. Keberhasilan penerapan kebiasaan tersebut didukung oleh kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter siswa secara Secara keseluruhan, penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter dan kesiapan belajar siswa, sehingga guru perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai agar penguatan kebiasaan tersebut dapat diterapkan secara konsisten dan efektif di kelas. DAFTAR PUSTAKA