Nubuat : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik Vol. No. 3 September 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 33-53 Perjuangan Seksual Calon Imam Katolik di Seminari Tinggi (Studi Fenomenologis Seksualitas Generasi Z) Thifaliani Mutiawati Putri Aldo Kasan Awali Abstract. This research focuses on a phenomenological study of the gender struggles of seminary candidates. Sexuality and celibacy have been the subject of ongoing debate and research in religious contexts, particularly in Catholicism, where celibacy is an important part of the spiritual life of priests and priesthood candidates. The aim of this research is to determine the perceptions and experiences of prospective pastors in developing their sexual lives. The methodology used in this research is a phenomenological study by interviewing college pastors. From these sources, their experiences in managing sexuality were explored. This research concludes that human and spiritual maturity makes the sexuality of prospective priests healthier. A healthy appreciation of sexuality causes prospective priests to grow in human, spiritual, intellectual, pastoral and communal intelligence. Keywords: struggle, sexual, prospective Catholic priests, generation Z, higher seminary, formation. Abstrak. Penelitian ini berfokus pada studi fenomenologis perjuangan gender calon seminari. Seksualitas dan selibat telah menjadi bahan perdebatan dan penelitian terus-menerus dalam konteks agama, khususnya dalam agama Katolik, di mana selibat merupakan bagian penting dari kehidupan spiritual para imam dan calon imam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi dan pengalaman calon pendeta dalam mengembangkan kehidupan seksualnya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi fenomenologis dengan cara mewawancarai para pendeta perguruan tinggi. Dari sumber-sumber tersebut digali pengalaman mereka dalam mengelola seksualitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedewasaan kemanusiaan dan spiritual membuat seksualitas calon imam menjadi lebih sehat. Apresiasi yang sehat terhadap seksualitas menyebabkan calon imam bertumbuh dalam kecerdasan kemanusiaan, spiritual, intelektual, pastoral, dan Kata kunci: perjuangan, seksual, calon imam katolik, generasi Z, seminari tinggi, formasi. LATAR BELAKANG Seminari terpenting adalah tempat pendidikan dan pelatihan calon imam Gereja Katolik Roma. Proses pembentukan calon imam merupakan langkah yang sangat penting untuk mempersiapkan mereka mengabdi pada komunitas dan umatnya (Galuh Wicaksono dan Antonius Denny Firmanto, 2. Dalam konteks ini, kedewasaan kemanusiaan dan spiritual memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter dan pemahaman seksualitas mereka. Seksualitas merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia dan merupakan bagian alami dari keberadaan manusia (Kwirinus, 2. Pemahaman yang sehat dan seimbang tentang seksualitas sangat penting bagi calon imam karena mereka diharapkan menjalani hidup selibat dan berkomitmen pada pelayanan pastoral yang bermoral (Ghunda dan Panda, 2. Oleh karena itu penting untuk mengkaji pengaruh kedewasaan kemanusiaan dan kerohanian terhadap penilaian seksualitas calon imam Seminari Tinggi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk lebih memahami bagaimana kedewasaan manusiawi dan spiritual mempengaruhi pemahaman dan apresiasi terhadap seksualitas calon imam. Dengan lebih memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan mereka tentang seksualitas. Gereja Katolik dapat mempertimbangkan metode pendidikan dan pelatihan yang lebih efektif untuk mempersiapkan mereka menghadapi tugas berat dalam merawat Selain itu, penelitian ini juga terkait dengan pertanyaan terkait krisis moral dan skandal seksual Gereja Katolik. Dengan memahami hubungan antara kedewasaan hidup rohani seseorang dan penilaian seksualitas pada calon imam. Gereja dapat melakukan tindakan pencegahan yang lebih efektif untuk menghindari masalah serupa di masa depan. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis untuk menggali pengalaman, pandangan dan pemahaman para calon pendeta tentang seksualitas. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berharga dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi seksualitas calon imam di seminari besar serta memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai persiapan mereka untuk mengabdi di masyarakat setempat. Gereja Katolik . KAJIAN TEORITIS Bagian ini memaparkan ulasan studi terdahulu tentang tema-tema seksualitas dan pembinaan calon imam. Tujuan literatur review ini adalah untuk mendapatkan pemahaman dan wawasan yang mendalam tentang topik seksualitas calon imam. Melalui literatur review, penulis dapat mendialogkan dan menginterpretasi temuan-temuan dari studi terdahulu dengan tema penelitian ini yaitu AuPengaruh Kematangan Manusiawi dan Rohani Terhadap Penghayatan Seksualitas Calon ImamAy. Dengan demikian penulis dapat membuat kesimpulan yang benar atas penelitian ini. Daniel Ngongo Ghunda dan Herman Punda Panda dalam Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. April 2023, halaman 929-942. Penelitian ini membahas tentang pengaruh kecerdasan spiritual terhadap penghayatan seksualitas yang sehat pada calon imam di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang. Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik kuantitatif deskriptif terhadap 30 mahasiswa di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang. Temuan dalam penelitian ini adalah bahwa kecerdasan spiritual berpengaruh secara signifikan terhadap penghayatan seksualitas calon imam di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang. Semakin tinggi kecerdasan spiritual seorang calon imam, semakin tinggi pula penghayatan kehidupan seksual yang sehat. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa lamanya masa pembinaan berpengaruh pula bagi kecerdasan spiritual dan penghayatan seksualitas calon Semakin lama masa pembinaan, semakin tinggi pula kecerdasan spiritual dan penghayatan seksualitas yang sehat. Dismas Kwirinus dalam Jurnal J-PSH) Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora Volume 13 Number 2 Oktober 2022, halaman 556-573. Pembahasan penelitian ini adalah tentang seksualitas psikoanalisa dan pendidikan. Peneliti menjelaskan teori seksualitas Freud dan mencari cara penerapannya dalam pendidikan seksualitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang menghasilkan data-data berupa kata-kata dan tulisan atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis, tahap-tahap, makna dan memberi tanggapan atas teori seksualitas psikoanalisa dan mewujudkannya lewat usaha penerapan dalam pendidikan Dijelaskan dalam penelitian ini bahwa pendidikan seksualitas pada anak-anak dan remaja penting karena dapat membantu mencegah penyalahgunaan kodrat seksual yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat, agama, hukum, dan moral. Dengan memberikan pendidikan seksualitas yang tepat dan efektif, anak-anak dan remaja dapat memahami dan menghargai peran seksualitas masing-masing, sehingga mereka dapat bertanggung jawab atas perilaku seksual mereka. Selain itu, pendidikan seksualitas juga dapat membantu anak-anak dan remaja memahami pentingnya kesehatan reproduksi dan cara-cara untuk mencegah penularan penyakit menular seksual serta kehamilan yang tidak diinginkan. Dengan demikian, pendidikan seksualitas dapat membantu mencegah penyalahgunaan kodrat seksual pada anak-anak dan Subandri Simbolon dalam jurnal Empirisma Vol. 27 No. 2 Juli 2018, halaman 113-124. Pembahasan penelitian ini mencakup beberapa hal. Pertama, penelitian membahas tentang tahapan pembinaan dan pendidikan bagi calon imam dan anggota ordo keagamaan dalam Gereja Katolik. Tahapan ini meliputi Tahun Orientasi Rohani (TOR) atau Novisiat. Seminari Tinggi, dan Tahbisan Imamat. Selanjutnya, penelitian juga membahas tentang karakteristik generasi Y, yang lahir antara tahun 1970-an hingga akhir 1990-an. Generasi Y cenderung mandiri, independen, dan menginginkan kebebasan dan fleksibilitas dalam pekerjaan mereka. Penelitian juga menyoroti persepsi negatif terhadap generasi Y, seperti dianggap tidak setia dalam pekerjaan, egois, dan manja. Namun, penelitian menunjukkan bahwa generasi Y sebenarnya peduli dengan orang lain dan memiliki kemampuan multitasking yang baik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi fenomenologi tentang pengaruh kematangan hidup manusiawi dan rohani terhadap penghayatan seksualitas calon imam di Seminari Tinggi. Studi ini menggunakan metode kualitatif yaitu wawancara. Wawancara dilakukan dengan cara dialog mendalam yaitu peneliti mengajukan pertanyaan dan subjek peneliti menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Wawancara dilakukan pada Senin 9 Oktober dan Selasa 10 Oktober . asing-masing selama 1,5 ja. Wawancara dilakukan dengan tiga orang calon imam atau frater di Seminari Tinggi Kongregasi Misi Jl. Raya Langsep No. 45 Malang. Hasil wawancara kami uraikan dengan mengelaborasinya dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik tentang pembinaan calon imam. HASIL DAN PEMBAHASAN Sekilas Pendidikan Seksualitas Calon Imam Seksualitas adalah suatu konsep yang mencakup berbagai aspek terkait dengan identitas, perasaan, perilaku, dan hubungan seksual seseorang. Ini adalah bagian penting dari kehidupan manusia dan merupakan aspek kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk budaya, nilai, agama, pengalaman pribadi, dan perkembangan individu. Beberapa elemen seksualitas adalah indetitas gender, orientasi seksual, prilaku seksual, identitas seksual, hubungan seksual, dan kesehatan seksual. Identitas gender merujuk pada bagaimana seseorang mengidentifikasi diri mereka sebagai pria, wanita, atau sebagai individu dengan identitas gender yang berbeda atau variasi di luar dua kategori tersebut. Identitas gender tidak selalu sesuai dengan jenis kelamin biologis Sementara itu, orientasi seksual mengacu pada jenis kelamin yang menarikkan secara romantis, emosional, dan seksual seseorang, seperti heteroseksual . enarikkan lawan jeni. , homoseksual . enarikkan sesama jeni. , biseksual . enarikkan kedua jenis kelami. , dan aseksual . idak memiliki ketertarikan seksual terhadap siapa pu. Perilaku seksual melibatkan tindakan fisik dalam konteks aktivitas seksual, sedangkan identitas seksual merujuk pada identifikasi diri seseorang dalam hal orientasi seksual dan identitas gender. Hubungan seksual melibatkan cara individu berinteraksi dengan orang lain dalam konteks seksual, dan kesehatan seksual adalah upaya untuk mencapai dan mempertahankan kesejahteraan fisik, emosional, dan sosial dalam konteks seksual, melibatkan pendidikan seksual, pencegahan penyakit menular seksual, perlindungan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, dan perawatan masalah seksual. Perkembangan seksualitas manusia adalah proses kompleks yang mencakup perubahan fisik, emosional, sosial, dan psikologis sepanjang hidup. Dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti biologis, budaya, lingkungan, dan pengalaman pribadi, perkembangan seksualitas dimulai dengan masa kanak-kanak, di mana anak-anak mulai memahami tubuh mereka dan pertumbuhan gender. Pada pra-pubertas, perubahan fisik awal dimulai, dan anak-anak mengembangkan pemahaman awal tentang pubertas. Pubertas membawa perubahan signifikan, hormon berperan dalam hasrat seksual, perasaan cinta, dan minat seksual. Masa remaja melibatkan eksplorasi seksual dan identitas gender lebih dalam. Dewasa muda dan masa dewasa berfokus pada hubungan yang lebih serius, sementara di masa tua, perkembangan seksualitas tetap relevan, dengan perubahan hasrat dan kemampuan fisik. Pendidikan seksual dan pemahaman yang sesuai penting dalam memastikan perkembangan seksualitas yang sehat dan positif sepanjang hidup. Seksualitas calon imam dalam tahap dewasa muda. Mereka berumur mulai dari 18 hingga 35 tahun. Mayoritas calon imam berumur 18 atau 19 tahun ketika pertama kali masuk ke seminari Tinggi, artinya mayoritas calon imam masuk ke seminari tinggi lulusan SMA. Pendidikan seksualitas calon imam Katolik di seminari tinggi adalah bagian integral dari pelatihan mereka sebagai pemimpin gereja. Ini mencakup pemahaman mendalam tentang ajaran dan etika Katolik terkait dengan seksualitas, pernikahan, dan kehidupan keluarga. Calon imam belajar mengenai pentingnya kesucian dalam hidup diberikan tumpah darah Kristus, tata cara dan sakramen pernikahan, serta tanggung jawab moral dalam konteks hubungan seksual. Mereka juga diajarkan mengenai etika seksual dan mengatasi isu-isu seperti selibasi dalam kehidupan imam, penyalahgunaan seksual, dan pekerjaan sosial dalam membantu umat mereka yang memiliki masalah-masalah seksual. Pendidikan seksualitas ini dimaksudkan untuk mempersiapkan calon imam untuk memberikan nasihat moral dan bimbingan rohani yang sesuai kepada umat Katolik yang mereka layani dalam konteks pernikahan, keluarga, dan Ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa mereka memahami dan menerapkan ajaran Katolik secara konsisten dalam pandangan mereka tentang seksualitas dan hubungan Secara umum pendidikan calon imam di seminati Tinggi di bagi dalam beberapa taha yaitu Postulat selama 1 tahun. Novisiat atau Tahun Rohani selama satu atau dua tahun, pendidikan strata satu (S. selama empat tahun, tahun pastoral selama satu atau dua tahun, pendidikan strata dua selama dua tahun, dan masa diakonat selama kurang lebih 6 bulan. Materi dan model pendidikan seksualitas di berikan sesuai dengan tahap pendidkan tersebut. Pada tahap postulat, para calon imam akan diajak untuk mengenal tahap perkembangan seksualitas manusia, mengenal diri . elemahan dan kekuata. , latar blakang keluarga, sejarah panggilan, dan mengenal anggota komunitasnya untuk mengembangkan seksualitasnya. Pada tahap Novisiat atau Tahun Rohani pendidikan seksualitas diperoleh melalui pelajaran pengolahan hidup, pendalaman hidup rohani, bacaan rohani, dan bimbingan rohani. Pada tahap pendidikan S1, pendidikan seksualitas diperdalam melalui bimbingan rohani, rekoleksi, bacaan rohani, pendalaman hidup rohani, pastoral, dan berbagai pelajaran di tempat kuliah. Pada tahap tahun pastoral pendidikan seksualitas dikembangkan oleh calon imam dengan membangun relasi yang baik dengan pastor dan umat di paroki. Pada tahap S2 pendidikan seksualitas diperoleh melalui rekoleksi, bimbingan rohnai, pendalaman hidup rohani, bacaan rohani, dan sebagainya. Pendidikan seksualitas calon imam tidak hanya berhenti di formation, namun tetap berlanjut seumur hidup. Perlunya Pendidikan Seksualitas Calon Imam Kehidupan seksualitas dalam kehidupan manusia adalah bagian dari sisi manusiawi itu Pendidikan calon imam memerlukan pemahaman seksualitas dengan baik agar dapat mengatasi dorongan seksualitas dengan bijak tanpa hanyut pada perbuatan yang keliru. Pendidikan seksualitas adalah bagian Pendidikan yang penting bagi semua orang, termasukn bagi calon imam. Calon imam berperan penting dalam melayani umat, termasuk dalam memberikan bimbingan dan konseling tentang seksualitas. Oleh karena itu, calon imam perlu memiliki kemampuan memahami seksualitas secara tepat tentang seksualitas manusia agar dapat menjalani panggilan tanpa mengingkari seksualitasnya melainkan mengarahkan itu kepada pelayanannya sebagai abdi Gereja Pendidikan seksualitas bagi calon imam yang lahir sebagai generasi Z memiliki tantangannya tersendiri dalam menyikapi realitas seksual di antara muda Ae mudi. Kehidupan seksualitas dalam generasi Z yang mempengaruhi gaya hidup menghadapkan calon imam pada pergumulan tentang seksualitas. Seks bebas menghantui kehidupan muda Ae mudi karena sudah dianggap sebagai hal yang wajar dan lumrah di kalangan anak muda. Dekadensi moral tidak hanya melanda kalangan dewasa saja melainkan juga kalangan generasi muda penerus bangsa. Dengan pendidikan karakter generasi yang akan datang akan memiliki karakter yang kuat untuk menghadapi kerasnya perkembangan jaman (Ajeng Casika. Alen Lidia, dan Masduki Asbari, 2. Pendidikan seksualitas bagi calon imam memainkan peran yang sangat penting di dalam diri para calon imam. Seksualitas yang dipahami dengan baik akan menghindarkan calon imam dari pelarian Ae pelarian yang salah di dalam masa pembinaan mengenai seksualitas. Seksualitas harus dilihat sebagai anugerah yang berasal dari Allah yang tidak semestinya ditepikan oleh manusia. Oleh sebab itu seksualitas dalam kontek calon imam diarahkan kepada pengembangan diri untuk membaktikan diri kepada Allah lewat Gereja-Nya. Seksualitas diekspresikan dengan bijaksana dalam panggilan calon imam yang diharapkan dapat menumbuhkan mereka ke arah yang lebih positif dan terarah kepada pelayanan Gereja. Pendidikan merupakan salah satu sarana bagi keberlangsungan hidup manusia. Manusia tanpa pendidikan akan mengalami jalan kebuntuhan yang menyebabkan ketidakbaikan kehidupan manusia ke depan (Farid Wajdi & Asmani Arif, 2. pendidikan seksualitas bagi calon imam membantu calon imam untuk memahami seksualitas manusia secara lebih dalam. Pendidikan seksualitas dapat membantu calon imam Katolik memahami aspek-aspek fisik, emosional, dan spiritual dari seksualitas manusia. Berangkat dari pemahaman yang mendalam tentang seksualitas manusia, calon imam dapat bertumbuh menjadi pribadi yang semakin mencintai panggilannya. Ekspresi dari seksualitas calon imam diarahkan untuk semakin bertumbuh ke arah yang tepat guna melayani Allah lewat Gereja-Nya Gereja Katolik memiliki ajaran yang jelas tentang seksualitas. Ajaran tersebut berfokus pada pentingnya seksualitas yang sakral dan kudus. Pendidikan seksualitas dapat membantu calon imam untuk memahami ajaran Katolik tentang seksualitas secara lebih utuh dan Pendidikan seksualitas membantu calon imam untuk mengembangkan keterampilannya dalam mengatur diri guna menimba makna kekudusan di setiap dorongan seksualitas manusiawinya. Kekudusan itu yang akan mengantar calon imam kepada pembaktian diri secara total kepada Gereja karena memandang seksualitas tidak sebatas pada hubungan badan tapi anugerah Allah yang diarahkan kepada kebaikan bagi sesama dan alam Kehidupan seksualitas yang dialami oleh generasi Z berada dalam tantang zaman yang mendambakan kemodernitas. Pendambaan yang berlebihan akan menjatuhkan manusia pada orientasi konsumerisme yang kehilangan makna. nilai Ae nilai positif lebih sulit disadari daripada dorongan nafsu yang mencoba menguasai fisik. Nasfu yang tidak dikendalikan akan mengantar manusia kepada kehancuran satu sama lain. Pendidikan seksualitas penting dialami oleh calon imam untuk membawa calon imam masuk kepada pemahaman seksualitas secara dalam agar terhindar dari kedangkalan berpikir. Oleh karena itu, rencana formasi yang dibuat ini bukan bertujuan untuk melarang atau mengontrol seminaris tetapi untuk untuk mempelajari seni berelasi. membuat disekrasi dalam kejujuran pada diri sendiri di tingkat moral, intelektual dan emosional. serta untuk mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dengan jelas dan transparan (Dwiadityo, 2. Kedangkalan berpikir banyak diorientasikan pada nafsu belaka. Akibatnya seksualitas hanya memperoleh tempatnya sebatas hubungan badan padahal ada banyak aspek yang perlu dipahami dalam hidup seksualitas. Kehidupan seksual calon imam yang diwarnai dengan Pendidikan yang tepat dalam formatio akan menjembatani para calon imam untuk memahami seskualitas sebagai sarana untuk mengembangkan diri ke arah pelayanan kepada Gereja. Pemahaman seksualitas yang dangkal akan mengantar calon imam kepada pelarian yang tidak sehat dan itu dapat mengakibatkan hal yang fatal di dalam pembinaan. Kehidupan seksualitas disadari dengan dewasa sebagai anugerah dari Allah. Apa yang ada pada diri calon imam termasuk dorongan seksualitasnya disadari dan diarahkan kepada tindakan Ae tindakan yang positif. Dunia generasi Z menawarkan banyak kenikmatan duniawi termasuk kenikmatan seksual yang marak dilakukan oleh kaum muda Ae mudi secara bebas. Tentu hal ini mendatangkan kerusakan moral anak muda dalam mengerti seksualitas. Kerusakan moral itu terletak pada cara pikir tentang seksualitas yang berhenti pada kenikmatan tanpa nilai luhur di dalamnya. Calon imam ditantang untuk menyikapi realitas seksualitas di zaman mereka yang cenderung berorientasi pada kenikmatan tanpa nilai. Pendidikan seksualitas yang tepat di kalangan calon imam akan membekali para calon imam dengan cara pikir yang tepat dan dalam terhadap kehidupan seksualitas. Kedalaman itu mengantar calon imam kepada keluhuran di balik seksualitas yang terkandung di dalam diri Berangkat dari Pendidikan seksualitas yang baik, calon imam akan didorong berekspresi secara positif perihal seksualitasnya dengan menumbuhkan kepedulian dengan orang lain dan pada lingkungan yang ia tinggali. Pendidikan karakter Ae karakter adalah nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang diwujudkan dalam pikiran, sikap, emosi, perilaku yang tentunya sesuai dengan norma yang berlaku (Ajeng Casika. Alen Lidia, dan Masduki Asbari, 2. Seksualitas berperan besar dalam kehidupan manusia. Maka dari itu pendidikan seksualitas tidak bisa dilepaskan dari pembinaan calon imam. Perjalanan formatio para calon imam dihiasi dengan banyak dinamika di masing Ae masing aspek pembinaan. Aspek seksualitas menjadi bagian dari proses pembinaan yang perlu dibina agar tidak terjadi penyelewengan moral di dalam diri para calon imam. Calon imam diminta untuk menyadari kemanusiawian mereka termasuk seksualitas yang melekat di dalam diri calon imam. Kesadaran itu ditumbuhkan pada diri calon imam untuk memperoleh kendali atas dorongan seksualitasnya sehingga dapat dihindarkan dari tindakan Ae tindakan yang keliru sebagai calon imam. Gereja Katolik memberi perhatian khusus terhadap pembinaan seksualitas calon imam, sebagaimana dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II melalui anjuran Apostolik Pastores Dabo Vobis (Danie Ngongo Ghunda & Herman Punda Panda, 2. Calon imam di generasi Z telah mengenal banyak budaya instan yang menantang mereka dalam menyikapi setiap kenikmatan dunia. Mereka diajak untuk melihat dunia di generasi Z secara dewasa tanpa larut oleh kenikmatan yang membawa dampak negatif. Pembinaan di seminari menjadi bagian penting dalam mendewasakan calon imam gunan memahami seksualitasnya secara bijaksana. Pemahaman seksualitas yang bijaksana di kalangan calon imam akan melahirkan nilai Ae nilai positif dalam mempersiapkan mereka menjadi imam. Pendidikan calon imam di Seminari Tinggi bertujuan untuk menghasilkan imam Ae imam yang berkualitas sesuai harapan Gereja, yaitu melayani Tuhan dan sesame dalam pengabdian diri yang total. Untuk itu imam secara sukarela menganut hidup selibat (Danie Ngongo Ghunda & Herman Punda Panda, 2. Peran formator dalam proses pembinaan berperan besar dalam membentuk calon imam menjadi pribadi yang matang secara seksualitas. Proses pendidikan sesksualitas juga menjadi sarana untuk memurnikan motivasi para calon imam dalam mempersiapkan diri menjadi imam Allah bagi Gereja. Mereka dididik dalam seminari guna menjadi gembala bagi umat Allah. Kehidupan seksualitas yang dibina dengan baik akan mendatangkan potensi Ae potensi untuk mengembangkan umat lewat pelayanan mereka kelak. Para calon imam dalam masa pembinaan adalah perjuangan untuk selalu menanggapi panggilan Allah dengan tetap menyadari dorongan kemanusiawian mereka dan diarahkan kepada sesuatu yang positif serta searah dengan cita Ae cita panggilan. Para calon imam perlu menyadari bahwa Tuhan selalu ada bersama dengan Tuhan mengerti dan memahami apa yang dihadapinya dan sungguh sangat mengasihi dirinya (Okris Pitay & Yonatan Alex Arifianto, 2. Tujuan Pembinaan Calon Imam Pembinaan calon imam di Seminari Tinggi amatlah penting. Setiap calon imam wajib mengikuti tahap ini. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang calon imam, antara lain: masa postulant 1 tahun . husus biarawa. , novisiat 1 tahun . husus biarawa. Tahun Orientasi Rohani 1 tahun . husus diosesa. , pendidikan filsafat-teologi selama 4 tahun, masa pastoral (TOP) selama 2 tahun atau 1 tahun tergantung kebijakan pimpinan tarekat/konggregasi dan atau keuskupan, pendidikan magister filsafat-teologi selama 2 tahun, diakonat selamat 6 bulan atau 1 tahun dan kemudian ditahbiskan menjadi imam. Semua tahapan ini dijalani oleh seroang calon imam dalam kerangka pembinaan. Dalam proses pembinaan, setiap calon imam didampingi untuk lebih mengenal, menerima, dan mencintai diri sendiri dan orang lain serta berkembang secara sehat sesuai dengan perkembangan kepribadiannya. Dengan cara ini, mereka akan lebih mengenal, menerima dan mencintai umatnya di masa depan dalam tugas pastoralnya. Pembinaan calon imam yang diselenggarakan merupakan bentuk ujian untuk mengetahui keikhlasan niat dan kehendak bebas calon imam melalui bidang pembinaan kemanusiaan, spiritual, dan intelektual (Optatam Totius, art. Mateus Seto Dwiadityo . , mengutip Ashley Alphonso, menjelaskan bahwa dalam rangka menghasilkan imam berkualitas, ada empat bidang penting yang harus sungguhsungguh diperhatikan oleh pembina: manusiawi, spritual, intelektual dan pastoral. Pada aspek manusiawi, para calon imam dihantar untuk mengenal dirinya. Paling kurang calon imam diarahkan memiliki kesadaran akan kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan yang ada padanya. Selain itu, mereka dituntut mengolah unsur afeksi (PDV, art. , membina suara hati (PDV, art. dan membangun relasi sosia yang baik dengan semua orang. Dengan demikian ia akan mampu mengembangkan diri demi menjadi pribadi yang bertanggung jawab, inisiatif, kreatif, eksploratif, jujur, tekun dan dapat menjadi pemimpin yang baik. Pada aspek spiritual, ditekankan pentingnya membangun kesadaran akan relasi dengan Tuhan yang merupakan kerinduan mendasar yang sudah ada dalam hati manusia (Kan. 244, bdk. KGK . Dengan dan melalui kematangan spiritual mengantar para calon imam pada penyempurnaan dan persekutuan yang mesra dengan Bapa, melalui Putra-Nya Yesus Kristus, dalam Roh Kudus (OT . Pada sapek intelektual, lebih calon imam diarahkan memiliki daya pikir yang kritis dan logis dalam menanggapi perkembangan dinamika sosial, budaya, agama, dan sebagainya, yang terjadi di tengah realita pastoralnya. Mengenai hal ini. Konsili Vatikan II menegaskan Aukalau Kristen siap-siaga mempertanggungjawabkan harapan yang ada pada kita . 1 Ptr 3:. Apalagi calon calon imam dan imam harus sungguh-sungguh memelihara mutu pembinaan intelek mereka dalam pendidikan maupun kegiatan pastoral merekaAy (PDV, art. Pada aspek pastoral, para calon imam diarahkan mempu mengaktualisasikan diri. Pengaktualisasian diri dalam rangka menunjang karya-karya pastoral di kemudian hari. Fokus pastoral diarahkan pada bidang pelayanan Sabda Allah. Ibadat dan bidang sosial. Dalam hal ini. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa. AuSeluruh pendidikan seminaris harus bertujuan supaya seturut teladan Tuhan kita Yesus Kristus. Guru. Imam dan Gembala, mereka dibina untuk menjadi Gembala jiwa-jiwa yang sejatiAy (OT, art. Setiap proses pembinaan yang dialami setiap calon imam bertujuan untuk menghasilkan imam-imam yang berkualitas sesuai harapan Gereja. Kematangan, entah menyangkut kepribadian, spiritual, intelektual, dan pastoral yang diperoleh selama pembinaan, menghantar seorang calon imam kelak melayani Tuhan dan sesama dalam pengabdian diri yang total. Pergulatan Seksualitas Generasi Z (Calon Ima. Di Seminari Tinggi Kematangan hidup seseorang berawal dari proses relasi dan lingkungan di mana ia Tidak bisa dipungkiri bahwa pembinaan di Seminari Tinggi mengantar para calon imam kepada pergulatan seksualitas. Pergulatan itu sangat berpengaruh besar di dalam proses pembinaan calon imam dalam mempersiapkan diri sebagai imam di masa depan. Dunia generasi Z yang diwarnai dengan aneka modernitas hingga budaya instan melahirkan kebebasan yang mengancam kehidupan moral anak muda di jaman sekarang. Hidup selibat merupakan suatu pilihan hidup yang tidak mudah untuk dijalani dalam situasi dunia saat ini (Wibowo, 2. Kehidupan yang terlalu didasarkan pada kebebasan akan mengundang banyak kekacauan terutama dalam hidup seksualitas. Kekacauan itu bisa berupa seks bebas yang bukan lagi menjadi hal yang tabu di kalangan anak muda sekarang. Realitas semacam itu menjatuhkan moral anak muda pada kebebasan yang tidak bermoral. Akibat dari kebebasan terutama dalam hidup seksualitas membuat seseorang kesulitan melihat keluhuran di balik hidup seksualitas dalam tubuh manusia. Pemahaman seksualitas hanya didasarkan pada hubungan badan dengan Pada saat ini dengan derasnya arus globalisasi memudahkan budaya luar masuk ke Indonesia. Hal ini mengahwatirkan terhadap perkembangan generasi muda yaitu terutama generasi Z yang hidupnya sudah sangat dimanjakan oleh teknologi (Dianisa Wahyuni. Yayang Furi Furnamasari, dan Dinie Anggraeni Dewi, 2. Kemajuan teknologi memproduksi banyak distraksi yang mengundang sensasi seksualitas dijangkau lewat media sosial. Terlebih lagi di media sosial tidak ada filter informasi negatif yang dapat dengan mudah dikonsumsi penggunanya (Sarah Zeva. Inayatul Rizqiana. Dewiana Novitasari, dan Fatrilia Rasyi Radita. Generasi Z terancam kehilangan makna di dalam hidup seksualitasnya. maka dari itu perlu adanya pendampingan terutama bagi calon imam yang berusaha melawan derasnya arus jaman di generasinya dengan tetap melihat nilai Ae nilai luhur di balik seksualitas mereka. Pergulatan itu seringkali dijumpai di kalangan calon imam yang sedang menempah diri untuk menjadi seorang imam. Pergulatan seksualitas yang dialami oleh calon imam berangkat dari relasi dan lingkungan di mana dia alami. Beberapa calon imam yang telah kami wawancarai memberikan jawaban terkait tanggapan dan pergulatannya sebagai generasi Z yang menjadi calon imam di Seminari Tinggi. Narasumber yang kami wawancarai tidak kami cantumkan nama asli guna memberikan rasa aman dan nyaman dalam proses wawancara tentang pergulatan seksualitas calon imam. Wawancara akan dimulai dengan calon imam A Ae C. Berikut transkrip wawancara bersama dengan calon imam tentang pergulatan seksualitas generasi Z. Transkrip Wawancara Calon Imam A Penulis: Selamat pagi frater, terima kasih sudah berkenan diwawancarai. Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang diri Anda? Calon Imam A: Halo, selamat pagi juga, saya adalah calon imam yang sudah menempuh pembinaan kurang lebih 5 tahun. Saya berasal dari sidoarjo dan memiliki dua saudara Penulis: baik mari kita mulai saja wawancaranya. Bagaimana menurut frater tentang pergulatan seksualitas di generasi Z? Calon Imam A: Menurut saya, pergulatan seksualitas di generasi Z begitu kompleks. Generasi Z lahir dan dewasa di era media sosial yang sangat menjunjung kehidupan modern dan kebebasan, sehingga mereka terpapar dengan berbagai macam konten seksual yang memberikan pengaruh negative bagi mereka yang tidak bisa mengendalikan diri. Pesan-pesan tersebut terkadang bertentangan dengan nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama, keluarga, dan masyarakat. Penulis: Tantangan apa saja yang dihadapi generasi Z dalam hal seksualitas? Calon Imam A: Ada beberapa tantangan yang dihadapi generasi Z dalam hal seksualitas, antara lain bingung terhadap identitas seksual. Generasi Z dihadapkan dengan berbagai macam identitas seksual, seperti heteroseksual, homoseksual, biseksual, dan transgender. Mereka kerapkali dibungungkan dengan identitas mereka sendiri. Tekanan untuk melakukan hubungan Tidak jarang generasi Z merasa tertekan untuk menahan melakukan hubungan seksual, terutama karena mereka terpapar dengan berbagai macam pesan tentang seks di media Pikiran mereka seakan terkontaminasi dengan banyak konten dewasa yang mengandung Akibatnya mereka kesulitan mengendalikan diri terhadap dorongan seksualitas. Perilaku seks yang tidak terkendali. Generasi Z juga lebih rentan melakukan perilaku seks tidak terkendali, seperti seks bebas dan seks tanpa kontrasepsi. Penulis: frater adalah generasi Z yang rela untuk menjadi calon imam, lalu bagaimana frater menanggapi dorongan seksualitas dan realitas di jaman frater saat ini sebagai generasi Z? Calon Imam A: Dorongan seksualitas memang ada dan terkadang membuat saya kesulitan dalam mengendalikan. Di balik kesulitan itu saya berusaha untuk mengalihkan perhatian saya pada kegiatan Ae kegiatan yang lebih positif seperti berkebun, membaca, dll sehingga pikiran yang dikendalikan oleh dorongan seksual itu menjadi teralihkan. Saya sadar bahwa saya adalah generasi Z yang banyak sekali melihat kebebasan, kenikmatan yang ditawarkan dari luar. Pergulatan saya terletak pada menghidupi selibat yang tidak muda dan butuh perjuangan seumur hidup. Dalam proses pembinaan saya berusaha menerima kenormalan saya sebagai manusia tapi juga menyadari peran Tuhan yang memanggil saya. Saya percaya Ia akan melengkapi segala kelemahan saya. Penulis: Terima kasih frater atas jawabannya. Ada hal lain yang ingin frater sampaikan? Calon Imam A: Saya ingin mengajak generasi Z untuk tidak takut menghadapi tantangantantangan dalam hal seksualitas. Kita mesti sadar akan kenormalan kita tapi juga tidak lupa kebaikan yang harus kita junjung yaitu hidup yang tidak liar, tidak merusak sesama, dan selalu ingat Tuhan Penulis: Baiklah frater, luar biasa sekali, sekian wawancara ini. Terima kasih atas waktunya Tuhan memberkati. Calon Imam A: Sama-sama C Calon Imam B Penulis: Selamat siang frater, terima kasih sudah menyediakan waktu untuk diwawancarai. Bisakah frater ceritakan sedikit tentang diri frater? Calon Imam B: Halo, selamat siang juga, saya adalah calon imam yang lahir di generasi Z, berasal dari Jakarta dan dua bersaudara Penulis: baik mari kita mulai saja wawancaranya. Bagaimana menurut frater tentang pergulatan seksualitas di generasi Z? Calon Imam B: Menurut saya pribadi, pergulatan seksualitas di generasi Z itu berat sekali karena terus dihadapkan pada kebebasan dan panorama yang membuat mata merekam dan mendefinisikan itu sebagai seksualitas. Misalnya ketika saya melihat Perempuan canti berpakaian modis atau seksi di jalan, di mall, atau di toko secara tidak langsung pikiran saya langsung kebayang seksualitas. Dunia yang semakin maju ini mengundang semua orang khususnya kaum muda untuk berpakaian secara bebas, mengekspresikan diri secara bebas tapi ya gitu kalau tidak disikapi bisa bahaya buat diri sendiri dan orang lain. Penulis: Tantangan apa saja yang dihadapi generasi Z dalam hal seksualitas menurut frater? Calon Imam B: Tantangannya ialah terletak bagaimana kita memanajemen diri dari dorongan Ae dorongan seksualitas. Karena banyak tawaran di media sosial yang menyajikan situs Ae situs dewasa bahkan iklan Ae iklan sekarang udah tidak ragu mempromosikan sesuatu dengan sifatnya vulgar untuk menarik perhatian banyak orang. Penulis: Frater adalah generasi Z yang rela untuk menjadi calon imam, lalu bagaimana frater menanggapi dorongan seksualitas dan realitas di jaman frater saat ini sebagai generasi Z? Calon Imam B: Cara saya untuk menanggapi dorongan seksualitas ini pertama dengan sadar diri sendiri bahwa saya juga manusia normal. Kemudian saya berusaha menyadari apa yang sedang saya jalani sekarang yaitu pembinaan sebagai calon imam. Lewat kesadaran itu, saya mencoba menyadari kehadiran Tuhan yang terus meneamani saya di dalam panggilan ini Penulis: Terima kasih frater atas jawabannya. Ada hal lain yang ingin frater sampaikan? Calon Imam B: Saya rasa tidak ada Penulis: Baiklah frater sekian wawancara ini. Terima kasih atas waktunya frater. Tuhan Calon Imam B: Sama-sama C Calon Imam C Penulis: Selamat siang frater, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk diwawancarai. Bisakah frater ceritakan sedikit tentang diri frater? Calon Imam C: Halo, selamat siang juga, saya adalah calon imam yang hidup di generasi Z, saya anak ketiga dari 5 bersaudara. Saya dari Jombang dan sudah menjalani pembinaan di Seminari Tinggi kurang lebih 3 tahun Penulis: Baik frater mari kita mulai saja wawancaranya. Bagaimana menurut frater tentang pergulatan seksualitas di generasi Z? Calon Imam C: Menurut saya sendiri, pergulatan seksualitas bagi generasi Z terasa rawan karena melihat berita tindakan seksualitas itu seringkali terjadi di banyak anak muda. Saya merasakan prihatin melihatnya. Seks bebas seakan juga menjadi bumming di kalangan anak muda sehingga itu menjadi kerusakan moral. Dalam komunikasi pun setiap orang bisa saling mengangkat gairah seksualitas lewat percakapan baik itu lewat pesan, telepon, atau video call. Dari peristiwa ini pergulatan yang dialami oleh generasi Z dihadapkan pada situasi yang berat. Penulis: Tantangan apa saja yang dihadapi generasi Z dalam hal seksualitas menurut frater? Calon Imam C: Tantangan bagi generasi Z adalah pengendalian diri. Generasi Z yang dapat mengendalikan dirinya akan terhindar dari pengaruh Ae pengaruh buruk dari media sosial, relasi, dll yang berhubungan dengan kemrosotan moral. Penulis: Frater adalah generasi Z yang rela untuk menjadi calon imam, lalu bagaimana frater menanggapi dorongan seksualitas dan realitas di jaman frater saat ini sebagai generasi Z? Calon Imam C: Saya selalu berusaha untuk kembali dan sadar ketika saya jatuh pada dorongan seksualitas yang besar. Cara saya kembali yaitu dengan menanamkan nilai bahwa panggilan yang saya jalani adalah bersifat luhur dan apa yang saya alami adalah bagian dari kemanusiawian saya yang harus diterima dan diarahkan kepada cinta kepada Allah sendiri. Saya percaya bahwa dorongan ini tidak akan hilang sampai kapan pun, saya hanya berusaha mengendalikan serta mengintegerasikannya pada tindakan yang lebih mendukung panggilan Penulis: Terima kasih frater atas jawabannya. Ada hal lain yang ingin frater sampaikan? Calon Imam C: tidak ada, terima kasih Penulis: Baiklah frater sekian wawancara ini. Terima kasih atas waktunya frater. Tuhan Calon Imam C: Sama-sama Berangkat dari transkrip wawancara di atas telah menunjukkan bagaimana pergulatan dan pandangan calon imam generasi Z tentang hidup seksualitas di jamannya serta bagi diri mereka sendiri. Dunia kaum generasi Z dipenuhi dengan banyak tantangan yang kompleks dari hidup seksualitas. Tantangan itu dapat melalui media sosial yang dengan bebas menampilkan sesuatu yang berifat seksualitas. Peristiwa yang semacam itu menghadapkan generasi Z pada dunia yang bebas di dalam diri mereka yang sedang dibina menjadi calon imam. Pergulatan yang dialami oleh calon imam memperoleh tantangannya dalam kehidupan di jaman modern ini. Setiap calon imam yang memperoleh pendidikan seksualitas diharapkan bisa mengendalikan diri terhadap distraksi Ae distraksi liar yang mengundang disorientasi mereka dalam menjalani panggilan. Pembinaan di Seminari Tinggi berperan besar dalam menanggapi jaman generasi Z bagi calon imam. Hal itu dimaksudkan agar calon imam dapat bertindak bijaksana ketika menghadapi dorongan seksualitas sebagai sisi kemanusiawian Kehidupan seksualitas di jaman generasi Z manantang para calon imam dalam kesetiaan terhadap kemurnian atau hidup selibat. Selibat di jaman sekarang bukanlah hal mudah karena banyak tawaran dari luar yang mengandung kenikmatan yang kadang kala membuat orang menjadi buta akan hidup moralitas yang baik. Kenikmatan lebih ditonjolkan demi mendapatkan banyak perhatian dan keuntungan. Hal itu menjadi kehidupan generasi Z diwarnai dengan pergulatan seksualitas yang memperoleh tantangannya secara kompleks. Hidup selibat itu akan melawan kehendak personal yang sangat kuat. Ini adalah jalan cinta dan pelayanan sehingga akan bertentangan dengan keinginan Ae keinginan personal yang seringkali muncul dalam kehidupan (Katino, 2. Hidup selibat dalam hal ini memerlukan pembatinan yang kuat sebagai karunia dari Allah untuk menghadapi derasnya tantangan jaman generasi Z yang semakin kompleks. Dalam kehidupan generasi Z, seksualitas juga dihadapkan pada kekrisisan tentang jati Banyak kaum muda masih mengalami kebingungan dengan jati dirinya sehingga terjerumus pada orientasi seskusal yang salah. Orientasi seksual yang salah akan menjerumuskan seseorang pada hubungan relasi homoseksual atau be seksual yang bertentangan dengan kodrat manusia. Pendidikan seksualitas bagi calon imam penting dilakukan untuk menanggapi jaman yang semakin memiliki tantangannya yang kompleks. Pendidikan seksualitas bagi calon imam akan membantu mereka di dalam pergulatan hidup tentang seksualitas. Seksualitas yang diapahami dengan baik akan mengantar calon imam kepada nilai luhur di dalamnya. Nilai luhur itu yang akan membimbing calon imam kepada pemurnian diri sebagai kaum selibater yang akan menghidupi kemurnian seumur hidup. Seksualitas adalah bagian dari manusia yang tidak bisa dihindari atau dihilangkan. Seksualitas dalam calon imam dipandang sebagai anugerah Allah yang dimaksudkan untuk pengabdian diri yang total kepada Allah dan menumbuhkan cinta universal kepada sesama seperti Tuhan Cinta universal itu diarahkan demi kebaikan bukan demi pemuasan nafsu pribadi yang menghasilkan kerusakan moral. Perlu adanya pengolahan emosi untuk tetap berada dalam orientasi yang tepat sebagai calon imam. Aspek ini menggambarkan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, yang berarti bukan untuk menekan maupun menyembunyikan gejolak perasaan, namun bukan pula langsung mengungkapkan apa yang dirasakan (Yan, 2. Kecerdasan emosional melatih para calon imam dalam menerima dan mengendalikan hidup seksualitas. Pengaruh Kematangan Hidup Seksual terhapat Lima Dimensi Pembinaan Calon Imam Pembinaan calon imam Katolik melibatkan lima aspek penting yang merupakan bagian integral dari persiapan mereka untuk melayani Gereja dan umat Katolik. Ini mencakup pembinaan rohani, yang mengarah pada pertumbuhan spiritual dan pemahaman ajaran Gereja, pembinaan kepribadian yang melibatkan pengembangan karakter dan keterampilan interpersonal, pembinaan intelektual untuk pemahaman yang mendalam tentang ajaran Katolik, pembinaan komunitas yang menekankan pelayanan masyarakat dan keadilan sosial, serta pembinaan pastoral yang memberikan pengalaman praktis dalam pelayanan gerejawi (Galuh Wicaksono & Antonius Denny Firmanto, 2. Semua aspek ini bersatu untuk membentuk calon imam yang siap memimpin komunitas dan memberikan pelayanan pastoral sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Kematangan hidup seksual memiliki dampak yang signifikan pada lim dimensi pembinaan calon imam . ohani, kepribadian, intelektual, komunitas, dan pastora. dalam persiapan mereka untuk melayani Gereja Katolik (Ghunda & Panda, 2. Secara rohani, kematangan seksual memungkinkan calon imam untuk fokus pada pertumbuhan spiritual dan pemahaman ajaran Gereja. Kepribadian mereka dipengaruhi positif dengan pengembangan etika moral dan disiplin diri. Di dimensi intelektual, mereka dapat memahami dengan lebih baik ajaran Katolik tentang seksualitas dan pernikahan. Dalam dimensi komunitas, mereka menjadi teladan positif yang mempromosikan etika seksual dalam komunitas. Dalam pembinaan pastoral, kematangan seksual membantu mereka memberikan bimbingan moral yang sesuai dalam konteks pelayanan pastoral. Dengan demikian, kematangan hidup seksual adalah pondasi yang kuat dalam pembinaan calon imam untuk menjadi pemimpin rohani yang utuh dan berkomitmen pada ajaran Gereja. Kematangan Hidup Rohani Dimensi Rohani dalam pembinaan calon imam Katolik sangat penting karena mencakup pertumbuhan spiritual dan pemahaman mendalam tentang iman dan ajaran Gereja. Kematangan hidup seksual yang baik memungkinkan calon imam untuk mengalokasikan energi dan perhatian mereka pada hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan rohani. Mereka dapat mengembangkan hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan melalui doa, meditasi, dan praktik spiritual lainnya. Kematangan seksual membantu mereka untuk hidup dengan keyakinan dan kepatuhan terhadap ajaran Gereja Katolik terkait selibasi. Mereka memahami arti penting selibasi dalam pelayanan pastoral dan hidup sebagai teladan yang konsisten dengan nilai-nilai Gereja dalam konteks rohani. Keselarasan antara kematangan hidup seksual dan dimensi rohani adalah esensial dalam membentuk calon imam yang siap untuk mengabdi sebagai pemimpin rohani dalam Gereja Katolik. Kematangan Kepribadian Dimensi Kepribadian dalam pembinaan calon imam Katolik mencakup pengembangan karakter dan moralitas pribadi yang kuat. Kematangan hidup seksual yang baik memiliki dampak positif pada karakter dan kepribadian mereka (Kwirinus, 2. Calon imam diajarkan untuk memiliki disiplin diri yang tinggi dalam mengelola hasrat seksual mereka sesuai dengan Mereka mengembangkan pengendalian diri yang kuat untuk mengatasi godaan dan tantangan moral yang mungkin muncul dalam hidup mereka. Etika moral yang kuat membantu mereka menjaga integritas dan kejujuran dalam tindakan dan keputusan mereka. Kematangan seksual juga membantu mereka menghadapi berbagai aspek kehidupan dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Dengan demikian, dimensi kepribadian calon imam tercermin dalam kemampuan mereka untuk menjalani hidup dengan integritas, disiplin diri, dan moralitas yang c. Kematangan Intelektual Dimensi Intelektual dalam pembinaan calon imam Katolik menekankan pengembangan pemahaman teologis yang mendalam, termasuk pemahaman tentang ajaran Gereja Katolik tentang seksualitas dan pernikahan. Kematangan hidup seksual yang matang memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada pendidikan intelektual mereka. Mereka dapat dengan lebih baik menggali dan memahami ajaran Gereja terkait seksualitas dengan lebih mendalam. Ini mencakup pemahaman tentang selibasi, moralitas seksual, dan peran seksualitas dalam pelayanan pastoral. Dengan pengetahuan teologis yang kuat, calon imam siap untuk memberikan ajaran Gereja dengan tepat dan memberikan bimbingan rohani yang sesuai kepada umat Katolik yang mereka layani. Dengan demikian, dimensi intelektual yang matang tercermin dalam kemampuan mereka untuk memahami dan mengajarkan ajaran Gereja dengan benar dalam konteks seksualitas. Kematangan Komunitas Dimensi Komunitas dalam pembinaan calon imam Katolik melibatkan kemampuan mereka untuk membangun hubungan yang sehat dan menjadi teladan positif dalam komunitas seminari dan masyarakat gerejawi. Kematangan hidup seksual memungkinkan mereka untuk menjadi teladan positif dalam hal etika seksual, membantu mempromosikan norma-norma etika seksual yang sesuai dengan ajaran Gereja. Selain itu, mereka dapat membangun hubungan yang sehat dengan sesama calon imam, yang penting untuk mendukung dan memperkuat komunitas seminari. Kemampuan ini juga berdampak positif pada pelayanan sosial dan komitmen calon imam pada keadilan sosial. Mereka dapat lebih baik melayani masyarakat dengan integritas dan komitmen moral yang kokoh, mempromosikan nilai-nilai Gereja dalam konteks komunitas mereka. Dengan demikian, dimensi komunitas calon imam tercermin dalam peran positif mereka dalam membangun hubungan yang sehat, mempromosikan etika seksual, dan berkontribusi pada pelayanan sosial dan komitmen pada keadilan sosial. Kematangan Pastoral Dimensi Pastoral dalam pembinaan calon imam Katolik mencakup kemampuan mereka untuk memahami dan merespons tantangan moral dan etika seksual yang dihadapi umat Katolik yang mereka layani dalam konteks praktis pelayanan pastoral. Kematangan hidup seksual membantu mereka untuk lebih baik memahami permasalahan seksual yang mungkin dihadapi oleh umat Katolik dan memberikan bimbingan serta nasihat rohani yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Gereja. Dengan pemahaman yang matang tentang masalah seksual, calon imam dapat memberikan dukungan dan bimbingan yang relevan kepada umat Katolik dalam menghadapi situasi kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, dimensi pastoral calon imam tercermin dalam kemampuan mereka untuk memberikan bimbingan rohani yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Gereja dalam konteks praktis pelayanan pastoral (Galuh Wicaksono. Antonius Denny Firmanto, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Pendidikan seksualitas calon imam adalah bagian integral dari pembinaan mereka sebagai pemimpin gereja. Pendidikan ini mencakup pemahaman mendalam tentang ajaran dan etika Katolik terkait dengan seksualitas, pernikahan, dan kehidupan keluarga. Calon imam belajar mengenai pentingnya kesucian dalam hidup diberikan tumpah darah Kristus, tata cara dan sakramen pernikahan, serta tanggung jawab moral dalam konteks hubungan seksual. Mereka juga diajarkan mengenai etika seksual dan mengatasi isu-isu seperti selibasi dalam kehidupan imam, penyalahgunaan seksual, dan pekerjaan sosial dalam membantu umat mereka yang memiliki masalah-masalah seksual. Pendidikan seksualitas ini dimaksudkan untuk mempersiapkan calon imam untuk memberikan nasihat moral dan bimbingan rohani yang sesuai kepada umat Katolik yang mereka layani dalam konteks pernikahan, keluarga, dan Ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa mereka memahami dan menerapkan ajaran Katolik secara konsisten dalam pandangan mereka tentang seksualitas dan hubungan Proses pembinaan calon imam di Seminari Tinggi mencakup lima aspek kematangan: spiritual, moral, intelektual, komunitas, dan pastoral. Kematangan seksual adalah bagian yang penting dari semua dimensi ini, membantu calon imam dalam pengembangan karakter, moral, pengetahuan, komitmen terhadap komunitas, dan kemampuan memberikan bimbingan pastoral yang sesuai. Seiring dengan pendidikan spiritual, moral, dan intelektual mereka, pendidikan seksualitas memastikan bahwa calon imam adalah teladan yang kuat dan pelayan moral yang setia dalam Gereja Katolik. Gereja Katolik memberikan pedoman dan kerangka kerja yang jelas untuk pendidikan seksualitas calon imam, dengan penekanan pada kesucian, pernikahan, selibat, dan tanggung jawab moral. Ini mengacu pada ajaran dan etika Gereja Katolik yang berkembang dari ajaran Kitab Suci, tradisi gerejawi, dan pengajaran Magisterium. Dalam proses pendidikan ini, para calon imam diajarkan untuk menghormati martabat manusia, menilai situasi moral secara obyektif, dan memberikan panduan bimbingan moral yang sesuai. Pendidikan seksualitas ini tidak hanya berfokus pada aspek teoretis, tetapi juga memasukkan elemen praktis, seperti pengembangan keterampilan interpersonal, pelayanan pastoral, dan hubungan dengan umat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa calon imam siap untuk menghadapi tantangan dan permasalahan konkret yang mungkin timbul dalam pelayanan pastoral mereka. Dalam proses pembinaan calon imam, juga diberikan dukungan psikologis dan spiritual yang dibutuhkan untuk membantu mereka mengatasi ketegangan dan perjuangan pribadi dalam menjalani selibat dan integritas moral. Gereja juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara para calon imam dan para pembimbing mereka dalam masalah seksualitas dan moral. Pendidikan seksualitas ini merupakan komponen integral dari pembinaan calon imam dalam Gereja Katolik dan dimaksudkan untuk membantu mereka menjadi pemimpin rohani yang kuat dan moral dalam melayani Gereja dan umat Katolik secara keseluruhan. Sebagai catatan, pendekatan ini adalah pandangan Gereja Katolik dalam pembinaan calon imam dan mungkin berbeda dengan pendekatan agama dan lembaga pendidikan lainnya. Setiap agama atau lembaga pendidikan memiliki pandangan dan pedoman tersendiri terkait dengan pendidikan seksualitas dan pembinaan calon pemimpin rohani. DAFTAR REFERENSI Ajeng Casika. Alen Lidia, dan Masduki Asbari. Pendidikan Karakter dan Dekadensi Moral Kaum Milenial. Literaksi, 13-19. Danie Ngongo Ghunda & Herman Punda Panda. Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Penghayatan Seksualitas Mahasiswa Calon Imam di Seminari Tinggi. Dunamis, 929-942. Dwiadityo. Mengupayakan Pendampingan yang Personal dan Integral dalam Formasi Calon Imam di Era Digital. Fides et Ratio, 1-18. Farid Wajdi & Asmani Arif. Pentingnya Pendidikan Seks bagi Anak sebagai Upaya Pemahaman dan Menghindari Pencegahan Kekerasan Maupun Kejahatan Seksual. Jurnal Abdimas Indonesia, 129-137. Galuh Wicaksono, & Antonius Denny Firmanto. Formatio Calon Imam Seminari Tinggi San Giovanni XXi Di Masa Pandemi Covid-19. Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese Dan Pastoral, 1. , 52Ae66. https://doi. org/10. 55606/lumen. Ghunda. , & Panda. Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Penghayatan Seksualitas Mahasiswa Calon Imam di Seminari Tinggi. DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 7. , 929Ae942. https://doi. org/10. 30648/dun. Konsili Vatikan II. "Optatam Totius: Dekrit tentang Pembinaan Imam. " Dalam "Dokumen Konsili Vatikan II," disunting oleh Austin Flannery, 671-681. New York: Costello Publishing Company, 1996. Gereja Katolik. "Kompendium Gereja Katolik. " Diterjemahkan oleh Terjemahan Resmi Ibu Kota Vatican. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2005. Kwirinus. Menyingkap Teori Seksualitas Psikoanalisa Sigmund Freud Dan Usaha Penerapannya Dalam Pendidikan Seksualitas. Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora, 13. , 556Ae573. https://doi. org/10. 26418/j-psh. Okris Pitay & Yonatan Alex Arifianto. Peran Gereja terhadap Pendidikan Seksualitas pada Remaja Kristen. Manthano, 1-11. Paus Yohanes Paulus II, 1992. Seri Dokumen Gereja. Pastores Dabo Vobis. Jakarta: KWIDopken, 1992.