PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Volume 1 November 2023 . SIKAP BUDAYA MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP PENDIDIKAN ANAK PADA DESA GOLO MENI KECAMATAN KOTA KOMBA UTARA KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Fridolina Purnawati Universitas Muhammadiyah Kupang. Indonesia Corresponding Author: fridolinapurnawati@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk . mengetahui Sikap Masyarakat Nelayan Terhadap Pendidikan Anak Pada Desa Golo Meni Kecamatan Kota Komba Utara Kabupaten Manggarai Timur dan . Untuk mengetahui kendala sikap yang dihadapi masyarakat nelayan untuk menyekolahkan anak Pada Desa Golo Meni Kecamatan Kota Komba Utara Kabupaten Manggarai Timur. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi. Subjek penelitian dalam penelitian ini terdiri dari Kepala desa, masyarakat nelayan yang menyekolahkan anak, masyarakat nelayan yang tidak menyekolahkan anak, anak nelayan yang sekolah dan anak nelayan yang tidak sekolah. Keabsahan data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam melanjutkan pendidikan anak, masyarakat nelayan memiliki sikap yang sulit untuk diatur, sikap acuh tak acuh, dan prioritas pekerjaan. Hal tersebut disebabkan karena tidak percaya lagi kepada orang lain bahkan sering dikecewakan atau dikhianati oleh orang-orang yang disayangi. Kendala yang dihadapi masyarakat nelayan dalam menyekolahkan anak yang masyarakat nelayan perlu diperhatikan, kurangnya perhatian keluarga, keadaan ekonomi, pengaruh lingkungan sosial yang juga menghambat dalam proses melanjutkan pendidikan. Membuat mereka lebih memprioritaskan pekerjaan sebagai nelayan daripada melanjutkan pendidikan. Kata kunci: Sikap nelayan. Pendidikan anak ABSTRACT The objectives of this study were to discover the fisherman's attitude toward children's education, as well as the attitude constraints that fishing communities experience when sending their children to the The study is descriptive qualitative, with data collection through observation, interviews, and The headman and fishermen become the subject of research. The data's validity was determined by data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. According to the findings of this study, fishing communities are tough and open-minded, hard workers but apathetic. It is caused by the fact that they are frequently disappointed or fooled by loved ones. Challenges that fishing communities confront in sending their children to school must be examined, as well as children's attitudes toward education, familial relationships, and the effect of the social Another finding is that some fishermen think that they prioritize work as fishermen rather than continuing their children's education. Keywords: Fishermen's attitudes. Children's education PENDAHULUAN Masyarakat nelayan merupakan masyarakat yang hidup dengan mengelola sumber daya Pada umumnya mereka tinggal dipinggir pantai, dan memiliki mata pencaharian utama sebagai penangkap ikan (Syahrul. Zahrawati, & Nursaptini, 2. Untuk menggali potensi yang dimiliki oleh manusia maka diperlukan adanya pendidikan. Pelaksanaan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antar keluarga, sekolah dan masyarakat E-ISSN: P-ISSN: Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. (Julyyanti. Yusuf. Saldika. Syahrul, & Ramlah, 2022. Syahrul. Yusuf. Julyyanti. Nautu, & Arifin, 2. Kehidupan masyarakat nelayan bergantung pada hasil laut, baik yang dilakukan dengan penangkapan, pertambakan maupun melalui budidaya. Tidak menentunya hasil yang didapat menyebabkan keterbatasan keterbatasan pada masyarakat nelayan. Perbedaan strata ekonomi yang terjadi pada masyarakat nelayan menimbulkan adanya perbedaan kebutuhan masing-masing nelayan (Pujosuwarno, 2. Pada hakekatnya, nelayan adalah golongan masyarakat yang masih perlu diberdayakan dan harkat hidup mereka perlu diangkat (Keliat. Amirudin, & Luqman, 2021. Misrina. Rahardjo. Rusyidi, & Gunawan, 2022. Yatimah. Wasan, & Kustandi, 2. Kehidupan nelayan selalu diungkapkan dengan keterbelakangan baik dari sudut pandang pencaharian, maupun cara berpikir, dan sikap yang masih tradisional (Misrina et al. , 2022. Pagyn-Trinidad. Lopez, & Diaz, 2019. Paulus & Azmanajaya, 2. Dilihat dari lingkupnya, kemiskinan nelayan terdiri atas kemiskinan prasarana fisik yang pada umumnya masih sangat minim. Para nelayan masih mengalami keterbatasan teknologi penangkapan. Dengan alat tangkap yang sederhana, wilayah operasipun jadi terbatas. Kehidupan sehari-hari masyarakat nelayan sifatnya masih sederhana, dengan menggunakan perahu, sampan, dan dayung (Krishnamurthy & Kamala, 2015. Chaterina Agusta Paulus & Fauzi, 2. Mereka harus mendayung sampanya menuju tengah-tengah lautan yang tak terlepas benturan-benturan badai lautan yang hanya sekedar untuk mencari sesuap nasi agar bisa menghidupkan keluarganya. Dengan kondisi ini parah nelayan relatif masih mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya (Ahmad. Pendidikan merupakan faktor dasar kemajuan suatu bangsa. Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pemanusiaan yang diartikan sebagai usaha sadar bagi pengembangan manusia dan masyarakat yang mendasarkan pada landasan pemikiran tertentu sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarkat dan kebudayaan (Syahrul. Arifin, & Datuk, 2021. Syahrul. Zahrawati, & Nursaptini, 2022. Syahrul & Hajenang, 2021. Syahrul & Wardana. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pembentukan manusia seutuhnya berdasarkan pancasila dan meliputi pendidikan dalam lingkungan keluarga. Kebutuhan menjadi penting untuk diperhatiakan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan. Kebutuhan akan pendidikan sangat dirasakan sebagian besar masyarakat dalam memenuhi kebtuhan hidup yang lebih baik. Karena tingkat pendidikan yang dimiliki anak dalam satu keluarga dapat mempengarhi kehidupan soaila ekonomi keluarga. Pada anak-anak yang masih dalam perkembangan usia sekolah, pendidikan menjadi hal utama yang perlu mereka dapatkan (Mandut. Syahrul. Beni, & PEOSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Arifin, 2021. Maswi. Syahrul, & Datuk, 2022. Syahrul & Datuk, 2020. Syahrul & Kibtiyah. Berdasarkan observasi awal dilapangan penulis menemukan masalah yang terjadi . Anak nelayan tidak sekolah karena jika mereka ikut melaut ataupun bekerja dilaut maka mereka akan mendapatkan uang yang biasanya dipergunakan untuk berfoya-foya. Anak nelayan tidak sekolah disebabkan karena masyarakat nelayan memiliki sifat acuh tak acuh bahkan mereka tidak memiliki antusias terhadap apapun sehingga mereka menganggap bahwa sekolah bukanlah suatu hal yang menjanjikan untuk menjadikan hidup lebih baik, senada dengan pendapat Mulyadi . yang menyatakan bahwa pada dasarnya jika berbicara mengenai masalah pendidikan anak, maka alasan yang dilontarkan oleh orang tua mengapa anak mereka tidak sekolah alasannya: karena mereka menganggap bahwa sekolah bukanlah suatu hal yang menjanjikan untuk menjadikan hidup mereka lebih baik sehingga tidak pernah terpikirkan untuk menyekolahkan anak kejenjang yang lebih tinggi. Tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah di atas adalah penting pemerintah melakukan upaya yaitu membangun sarana pendidikan yang memadai, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan sumber daya manusia, serta membentuk organisasi masyarakat sebagai tempat berinteraksi (Ferreira & Serpa, 2017. Peterson, 2019. Sagalova. Nanama. Zagre, & Vollmer, 2. Kualitas pendidikan yang baik pada masyarakat nelayan berbanding lurus dengan sumber daya manusia yang akan dihasilkan. Pendidikan seharusnya menjadi perhatian penting pada masyarakat nelayan dan seharusnya diprioritaskan di masyarakat. Peningkatan kualitas pendidikan dimulai dengan membangun sarana pendidikan yang mencukupi bagi masyarakat serta tenaga penjual yang berkualitas. Hal ini sesuai dengan rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) 2005-2025 pada misi pembangunan nasional butir ke-7 yaitu mewujudkan Indonesia menjadi Negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat dan berbasis kepentingan nasiaonal. Penelitian ini perlu dilakukan karena berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Adihatul dengan judul Perilaku Masyarakat Nelayan Dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kebutuhan dasar nelayan terdiri dari kebutuhan fisiologi . akan, tempat tinggal dan barang mewa. , dan kebutuhan psikologi . endidikan/akulturasi diri, kebutuhan untuk dihargai, kesehatan, dan kebutuhan sosial lainnya. Penelitian kedua dilakukan oleh Kasmar dengan judul Pengaruh Penghasilan Nelayan Terhadap Minat Anak SD Dalam Melanjutkan Pendidikan di Turungan Beru Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba. PEOSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya untuk mewujudkan aspirasi bangsa yang diamanatkan dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 yaitu dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, demikian juga perkembangan suatu daerah, faktor prndidikan memang merupakan peran yang sangat menentukan, karena hanya dengan pendidikan tujuan pembangunan nasional dapat terealisasi dengan sebaik-baiknya. Pentingnya penelitian ini dilakukan karena, pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan, artinya setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Selain itu, terdapat kendala yang dihadapi masyarakat nelayan terhadap pendidikan anak, yaitu masyarakat nelayan mengagap bahwa sekolah bukanlah suatu hal yang menjanjikan untuk menjadikan hidup lebih baik, keadaan ekonomi yang rendah sehingga tidak pernah tepikirkan untuk menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi. Maka dari itu peneliti tertarik untuk mengetahui lebih mendalam tentang sikap masyarakat nelayan terhadap pendidikan anak. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena dalam konteks sosial secara alamiah dengan melakukan proses interaksi komunikasi mengenai fenomena yang sudah diteliti dengan menceritakan sebuah pristiwa baik individu maupun kelompok. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Golo Meni Kecamatan Kota Komba Utara Kabupaten Manggarai Timur dengan dasar mempertimbangkan memilih lokasi ini karena masyarakat nelayan menganggap bahwa sekolah bukanlah suatu hal yang menjanjikan untuk menjadikan hidup mereka lebih baik, dan keadaan ekonomi masih terbilang rendah sehingga tidak pernah terpikirkan untuk menyekolahkan Penentuan Subyek penelitian dengan cara purposive sampling. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek utama penelitian adalah kepala desa, masyarakat nelayan, dan anak Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut observasi, wawancara, dan dokumentasi. Aktifitas dalam analisis data yaitu tahap analisis model Miles dan Huberman, sebagai berikut. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan HASIL DAN PEMBAHASAN Sikap Masyarakat Nelayan Terhadap Pendidikan Anak PEOSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Masyarakat nelayan memiliki sikap yang sangat kuat untuk merebut dan meningkatkan kewibawaan atau status sosial. Mereka mengakui bahwa mereka mudah merasa marah, mudah tersinggung dan lekas menggunakan kekerasan. Perasan itu bersumber pada kesadaran mereka bahwa pendidikan anak itu sangat penting karena melalui pendidikan kehidupan mereka menjadi lebih baik dari yang sebelumnya dan bisa mengangkat derajat keluarga. Di sisi lain moralitas anak tidak hanya bergantung pada apakah mereka bersekolah atau tidak. Nilai moralitas sebagian besar dipengaruhi olah lingkungan dimana anak tersebut tumbuh, pengaruh dari keluarga, teman sebaya, masyarakat, dan nilai-nilai yang diajarkan oleh orangtua wali. Meskipun sekolah bisa memberikan pengajaran tentang etika dan moralitas melalui pendidikan agama, pendidikan karakter, atau program nilai-nilai, penting untuk diingat bahwa pendidikan moral tidak terbatas pada ruangan kelas. Pendidikan formal disekolah tidak menjadi satusatunya faktor penentu moralitas seseorang. Dalam membangun moralitas anak yang tidak sekolah peran orangtua dan lingkungan sosial sangat penting dengan memberikan teladan yang baik, komunikasi yang terbuka, dan lingkungan yang mendukung, orangtua dapat membantu membentuk moralitas yang positif pada anak-anak mereka. Selain itu, masalah keadaan ekonomi juga berdampak negatif pada pendidikan anak. Masyarakat nelayan selalu bergantung pada pekerjaan mereka sebagai nelayan sehingga mereka selalu menuntut anak mereka bekerja sejak usia dini. Tuntutan pekerjaan ini dapat menghambat partisipasi mereka dalam pendidikan Adapun sikap masyarakat nelayan dalam menyekolahkan anaknya yakni sikap keras dan terbuka, sikap acuh tak acuh . , sikap toleransi dan empati, perioritas pekerjaan dan pola pikir generasi yang lama. Namun dalam penelitian ini peneliti hanya membahas 3 sikap masyarakat nelayan dalam menyekolahkan anak diantaranya: sikap perioritas pekerjaan dan pola pikir generasi yang lama, sikap acuh tak acuh. Berikut merupakan hasil temuan peneliti berdasarkan hasil wawancara dengan kepala desa, dan masyarakat nelayan dan anak nelayan Pola pikir generasi tertutup Pola pikir generasi tertutup dapat berfariasi tergantung pada faktor budaya, lingkungan, dan aksesibilitas pendidikan yang tersedia. Aspek yang relevan dengan pendidikan terbatas, lebih fokus pada tradisi, ketidaktauan tentang manfaat pendidikan dan prioritas ekonomi. Pola pikir generasi tertutup dapat berubah seiring waktu dengan perkembangan sosial, ekonomi, dan aksesibilitas pendidikan yang meningkat. Ada beberapa anggota generasi masih menghargai pentingnya pendidikan dan berusaha untuk memberikan kesempatan pendidikan terbaik bagi PEOSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. anak-anak mereka, terlepas dari latar belakang pekerjaan mereka sebagai nelayan. Budaya dan tradisi nelayan memiliki pengaruh kuat pada generasi lama. Mereka menganggap pentingnya untuk lebih melanjutkan tradisi dan keterampilan nelayan yang sudah di diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga pendidikan formal dianggap sebagai pengalihan dari warisan budaya mereka. Hasil wawancara dengan Rikardus Murjaya, mengatakan bahwa: Saya berpikir, karena dari pada mengeluarkan uang untuk menyekolahkan anak yang belum tentu bisa mengangangkat derajat keluarga, lebih baik saya mengajarkan mereka untuk lebih fokus mempelajari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi . awancara, 16 Februari 2. Hasil wawancara diatas didukung oleh hasil observasi yang peneliti dapatkan bahwa, masyarakat nelayan masih mengikuti pola pikir generasi tertutup yang lebih mengutamakan tradisi yang telah di wariskan dari generasi ke generasi dari pada Melanjutkan pendidikan anak Namun tidak semua masyarakat nelayan di Desa tersebut memiliki pola pikir generasi tertutup, karena ada beberapa masyarakat yang diantaranya memiliki pola pikir yang berbeda sehingga mereka lebih memprioritaskan pendidikan anaknya dibanding dengan mewariskan tradisi-tradisi yang ada. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa. Masyarakat nelayan cenderung tidak menegutamakan pendidikan formal sebagai prioritas bagi anak-anak mereka. Pandangan ini tidak merujuk pada semua individu atau keluarga yang ada dalam suatu komunitas. Setiap individu memiliki keunikan dan variasi dalam pandangan dan sikap mereka terhadap pendidikan dan perubahan. Pola pikir generasi tertutup dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman, peningkatan akses informasi dan perubahan sosial yang terjadi. Oleh sebab itu pola pikir generasi lama perlu dikurangi dengan tujuan agar masyarakat lebih memprioritaskan pendidikan karena dapat membantu individu memahami nilai-nilai, norma dan memiliki kesempatan yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi serta kemajuan karir. Hal ini sesuai dengan pendapat. Octaviani mengatakan bahwa, pola pikir generasi tertutup sering kali dipengaruhi oleh konteks sosial dan ekonomi yang berbeda. Setiap individu dan keluarga memiliki pandangan yang beragam dan tidak semua generasi memilii pola pikir yang sama terkait dengan pendidikan anak. Sikap dan polah pikir terhadap pendidikan anak nelayan juga dapat berubah seperti perubahan sosial dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Polah pikir generasi tertutup lebih memusatkan perhatian pada mencari nafkah dan meneydiakan kebutuhan kebutuhan dasar keluarga daripada pendidikan. Mereka berpendapat bahwa menghabiskan waktu dan sumber daya untuk pendidikan formal tidak memberikan hasil ekonomi yang sebanding. PEOSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Sikap Acuh Tak Acuh (Apati. Masyarakat nelayan memiliki sikap yang cenderung tidak peduli, tidak tertarik, tidak memiliki antusias terhadap apapun, bahkan mereka tidak memprioritaskan pendidikan maupun tidak terlibat dalam kegiatan pendidikan. Masyarakat nelayan tidak melihat pendidikan sebagai prioritas utama dalam kehidupan anak, tidak mempunyai keinginan memotivasi anak untuk belajar atau tidak memberikan dukungan finansial yang cukup untuk mendukung pendidikan anak serta tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap perkembangan akademik anak. Munculnya sikap acuh tak acuh pada diri masyarakat nelayan karena tidak percaya lagi kepada orang lain, hal tersebut disebabkan karena sering dikecewakan atau dihianati oleh orang yang disayangi atau orang atau orang yang dipercaya. Masyarakat nelayan kurang memberikan respon pada peristiwa terhadap perubahan hidup yang terjadi baik positif maupun negatif dan kurangnya motivasi untuk mencapai tujuan dan membuat perubahan dalam hidup. Hasil wawancara dengan Rikardus Murjaya menyatakan bahwa AuSaya tidak mempunyai keinginan untuk menyekolahkan anak, karena besarnya biaya pendidikan yang meningkat dalam setiap tahunnya, serta ekonomi keluarga yang rendahAy . awancara 16 Februari 2. Selanjutnya hasil wawancara dengan Lasarus Ndaur menyatakan bahwa. AuMenurut saya pendidikan tidak lagi penting karena, karena bekerja sebagai nelayanpun sudah bisa menghasilkan uang. Oleh karena itu saya tidak mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan anak sayaAy . awancara 16 Februari 2. Berikut wawancara dengan Laurensius Usman menyatakan bahwa AuSebenarnya saya mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan, namun karena orang tua tidak pernah peduli tentang pentingnya pendidikan, sehingga saya tidak melanjutkan pendidikan dan ikut melaut untuk membantu perekonomian keluargaAy . awancara 16 Februari 2. Hasil wawancara diatas didukung oleh hasil observasi yang peneliti dapatkan bahwa masyarakat nelayan memiliki sikap aptis terutama dalam proses pendidikan anaknya. Sikap tersebut muncul karena banyak orang tua yang sering dikecewakan oleh anaknya sendiri, sehingga mereka tidak mempunyai kepercayaan maupun keinginan memotivasi anaknya untuk melanjutkan pendidikan anknya. Namun, masih ada sebagian masyarakat nelayan yang mempunyai niat dan keinginan untuk menyekolahkan anaknya agar kehidupan anak mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Dari uaraian diatas dapat dikatakan bahwa permasalahan pendidikan anak nelayan diantaranya biaya pendidikan yang meningakat setiap tahunnya, kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan, ekonomi orang tua yang rendah, serta pergaulan bebas yang menjadi penyebab permasalahan pendidikan bagi ana nelayan, serta PEOSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. kurang perhatian orang tua terhadap pendidikan anak karena sibuk mencari nafkah sehingga pendidikan anak terabaikan. Anak memilki keinginan yang sangat besar untuk melanjutkan pendidikan, namun karena keadaan sebagian besar terpaksa untuk berhenti sekolah, dan memutuskan untuk ikut membantu perekonomian keluarga. Hal ini sesuai dengan pendapat Alfiah menyatakan bahwa permasalahan anak nelayan tidak sekolah yaitu perekonomian keluarga, penghasilan yang tidak menentu, biaya pendidikan yang tinggi, rendahnya pendidikan orang tua serta kurangnya kesadaran dari orang tua untuk pendidikan anak. Masyarakat nelayan juga memilki sikap acuh tak acuh karena tidak percaya lagi kepada orang lain, hal tersebut disebabkan krena sering dikecewakan atau dihianati oleh orang yang disayangi atau orang atau orang yang dipercaya sehingga mereka memprioritaskan pekerjaan mereka untuk mencari ikan da pendidikan anak dikesampingakan. Perioritas pekerjaan Nelayan seringkali memilki pekerjaan yang sangat menuntut, membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Nelayan lebih memprioritaskan pekerjaan mereka daripada pendidikan anak-anak mereka. Mereka berpikir bahwa membantu dalam pekerjaan nelayan atau berkontribusi dalam pengahsilan keluarga lebih penting daripada menghabiskan waktu di Sekolah. Kehidupan masyarakat nelayan sangat keras, dimana mereka harus bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya maka mereka harus memilki kekuatan fisik yang tak kenal lelah, tak kenal menyerah sehingga hal tersebut yang membuat mereka tetap bertahan dan menekuni profesinya bahkan mereka menganggap bahwa sekolah bukanlah suatu hal yang menjanjikan untuk menjadikan anak mereka menjadi lebih baik. Hasil wawancara dengan Rikardus Murjaya mengatakan bahwa AuMenurut saya bekerja sebagai nelayan lebih penting daripada melanjutkan pendidikan anak. Bekerja sebagai nelayanpun sudah bisa mendapatkan uang tanpa harus bersekolahAy . awancara 16 Februari 2. Selanjutnya hasil wawancara dengan Lasarus Ndaur mengatakan bahwa AuSaya sebagai orang tua lebih memproritaskan anak saya bekerja sebagai nelayan daripada mengahabiskan waktu di sekolah, karena tanpa bersekolah saja anak saya sudah mendapatkan uangAy . awancara 16 Februari 2. Hasil wawancara diatas didukung oleh hasil observasi yang peneliti dapatkan bahwa dengan memprioritaskan pekerjaan sebagai seorang nelayan, maka pendidikan anak jadi terabaikan bahkan lebih mementingkan perekonomian kelauarga daripada membiayai pendidikan anaknya. Namun masih ada sebagian masyarakat nelayan yang walupun pekerjaan pokok mereka sebagai seorang nelayan tetapi mereka lebih memprioritaskan pendidikan anak karena dengan pendidikan anak mereka bisa menjadi lebih baik daripada orang tuanya serta PEOSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. bisa mengangkat derajat keluarga. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa masyarakat nelayan lebih memprioritaskan pekerjaan sebagai nelayan daripada melanjutkan pendidikan Dengan berprofesi sebagai nelayan mereka sudah mendapatkan uang tanpa harus melanjutkan pendidikan, mereka lebih memilih untuk memenuhi perekonomian keluarga daripada menyekolahkan anak karena mereka menganggap bahwa sekolah bukanlah suatu hal yang menjanjikan untuk menjadikan anak mereka menjadi lebih baik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nurul Hasanah menyatakan bahwa masyarakat nelayan lebih memprioritaskan pekerjaan mereka mencari ikan di laut daripada melanjutkan pendidikan anak mereka. Hal tersebut terjadi karena rendahnya kesadaran orang tua nelayan tentang pendidikan, bahkan meraka lebih memilih untuk memenuhi perekonomian keluarga daripada menyekolahkan anak. Menurut mereka untuk menjadi orang yang sukses tidak harus bersekolah, berprofesi sebagai nelayan saja sudah bisa mendapatkan uang. Masyarakat nelayan juga memiliki keterampilan dan pengetahuan dalam menentukan waktu yang tepat untuk berlayar serta memilki pengetahuan dan keterampilan mengenai teknik berenang dan menyelamatkan diri. Dengan keterampilan dan pengetahuan yang ada membuat mereka untuk tidak melanjutkan pendidikan anak dan lebih memprioritaskan pekerjaan meraka karena sudah mendapatkan berbagai macam ilmu dan pengalaman. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dipaparkan di atas tentang sikap masyarakat nelayan terhadap pendidikan anak pada Desa Golo Meni Kecamatan Kota Komba Utara Kabupaten Manggarai Timur peneliti menyimpulkan: Sikap Masyarakat nelayan terhadap pendidikan anak pada Desa Golo Meni Kabupaten Manggarai Timur. Dalam menyekolahkan anak masyarakat nelayan memilki pola pikir generasi yang lama, sikap acuh tak acuh dan prioritas pekerjaan, karena tidak percaya lagi kepada orang lain. Hal tersebut memprioritaskan pekerjaannya daripada melanjutkan pendidikan anaknya. Kendala masyarakat nelayan dalam menyekolahkan anak pada Desa Golo Meni Keacamatan Kota Komba Utara Kabupaten Manggarai Timur. Kendala yang dihadapi masyarakat nelayan dalam menyekolahkan anak seperti kurangnya perhatian keluarga, keadaan ekonomi dan pengaruh lingkungan sosial. Semua kendala sudah diupayakan namun belum sepenuhnya efektif. DAFTAR PUSTAKA